Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Parasit adalah organisme yang hidup dari makhluk hidup lainnya. Manusia adalah tuan rumah
bagi banyak parasit, yang dapat hidup di dalam tubuh atau pada kulit. Parasit ini
menggunakan tubuh manusia untuk mendapatkan makanan dan untuk mereproduksi, dan
dalam tawar-menawar menyebabkan masalah kesehatan manusia yang terinfeksi. Parasit
terdapat di seluruh dunia dan banyak orang menderita infeksi parasit kulit. Sebagai contoh,
sekitar 6 untuk 12 juta orang di seluruh dunia mendapatkan kutu setiap tahun dan di Amerika
Serikat. Banyak penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit contohnya yaitu scabies.
Skabies adalah penyakit pada kulit yang disebabkan oleh kuman Sarcotes scabie yaitu seperti
tungau yang memparasitkan diri pada kulit manusia yang mengakibatkan rasa gatal pada
kulit dan menimbulkan papul, vesikel bahkan menyebabkan ulkus dan erosi pada kulit.
Insidensnya di Indonesia masih cukup tinggi, terendah di Sulawesi Utara dan tertinggi di
Jawa Barat. Amiruddin dkk., dalam penelitian skabies di Rumah Sakir Dr. Soetomo
Surabaya, menunjukkan insidens penderita skabies selama 2008-2010 adalah 2,7%. Abu A
dalam penelitiannya di RSU Dadi Ujung Pandang mendapatkan insidens skabies 0,6% pada
tahun 1995-1998.
Perawat merupakan bagian dari tim kesehatan yang memiliki lebih banyak kesempatan untuk
melakukan intervensi kepada pasien, sehingga fungsi dan peran perawat dapat
dimaksimalkan dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap penderita seperti memenuhi
kebutuhan dasar dan meningkatkan kesehatan fisik, perawat juga dapat melakukan
pendekatan spiritual, psikologis dan mengaplikasikan fungsi edukatornya dengan
memberikan penyuluhan kesehatan terhadap penderita sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan pengetahuan penderita dan keluarga yang nantinya diharapkan dapat
meminimalisir resiko maupun komplikasi yang mungkin muncul dari skabies tersebut.
Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengangkat materi skabies dalam penulisan makalah
ilmiah.




1.2 Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami konsep dasar penyakit dan asuhan keperawatan pada pasien
dengan scabies.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penulisan makalah ini, yaitu :
1. Menjelaskan anatomi fisiologi kulit.
2. Menjelaskan pengertian Skabies.
3. Menjelaskan etiologi Skabies.
4. Menjelaskan manifestasi klinis Skabies.
5. Menjelaskan patofisiologi Skabies.
6. Menjelaskan penatalaksanaan medis dan keperawatan Skabies.
7. Menjelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan Skabies.




















BAB II
TINJAUAN TEORI
1. A. ANATOMI FISIOLOGI
Kulit
1. Epidermis (Kutilkula) Epidermis merupakan lapisan terluar dari kulit, yang memiliki
struktur tipis dengan ketebalan sekitar 0,07 mm terdiri atas beberapa lapisan, antara
lain seperti berikut :
1. Stratum korneum yang disebut juga lapisan zat tanduk. Letak lapisan ini
berada paling luar dan merupakan kulit mati. Jaringan epidermis ini disusun
oleh 50 lapisan sel-sel mati, dan akan mengalami pengelupasansecara
perlahan-lahan, digantikan dengan sel telur yang baru.
2. Stratum lusidum, yang berfungsi melakukan pengecatan terhadap kulit dan
rambut. Semakin banyak melanin yang dihasilkan dari sel-sel ini, maka warna
kulit akan menjadi semakin gelap. Jika dikaitkan dengan hal ini apa yang
terjadi pada kulit dari kedua suku tersebut? Selain memberikan warna pada
kulit, melanin ini juga berfungsi untuk melindungi sel-sel kulit dari sinar
ultraviolet matahari yang dapat membahayakan kulit. Walaupun sebenarnya
dalam jumlah yang tepat sinar ultraviolet ini bermanfaat untuk mengubah
lemaktertentu di kulit menjadi vitamin D, tetapi dalam jumlah yang berlebihan
sangat berbahaya bagi kulit. Kadang-kadang seseorang menghindari sinar
matahari di siang hari yang terik, karena ingin menghindari sinar ultraviolet
ini. Hal ini disebabkan karena ternyata sinar ultraviolet ini dapat membuat
kulit semakin hitam. Berdasarkan riset, sinar ultraviolet dapat merangsang
pembentukan melanosit menjadi lebih banyak untuk tujuan perlindungan
terhadap kulit. Sedangkan jika kita lihat seseorang mempunyai kulit kuning
langsat, ini disebabkan orang tersebut memiliki pigmen karoten.
3. Stratum granulosum, yang menghasilkan pigmen warna kulit, yang disebut
melamin. Lapisan ini terdiri atas sel-sel hidup dan terletak pada bagian paling
bawah dari jaringan epidermis.
4. Stratum germinativum, sering dikatakan sebagai sel hidup karena lapisan ini
merupakan lapisan yang aktif membelah. Sel-selnya membelah ke arah luar
untuk membentuk sel-sel kulit teluar. Sel-sel yang baru terbentuk akan
mendorong sel-sel yang ada di atasnya selanjutnya sel ini juga akan didorong
dari bawah oleh sel yang lebih baru lagi. Pada saat yang sama sel-sel lapisan
paling luar mengelupas dan gugur.

1. Jaringan dermis memiliki struktur yang lebih rumit daripada epidermis, yang terdiri
atas banyak lapisan. Jaringan ini lebih tebal daripada epidermis yaitu sekitar 2,5 mm.
Dermis dibentuk oleh serabut-serabut khusus yang membuatnya lentur, yang terdiri
atas kolagen, yaitu suatu jenis protein yang membentuk sekitar 30% dari protein
tubuh. Kolagen akan berangsur-angsur berkurang seiring dengan bertambahnya usia.
Itulah sebabnya seorang yang sudah tua tekstur kulitnya kasar dan keriput. Lapisan
dermis terletak di bawah lapisan epidermis. Lapisan dermis terdiri atas bagian-bagian
berikut.
1. Akar Rambut
Di sekitar akar rambut terdapat otot polos penegak rambut (Musculus arektor pili), dan ujung
saraf indera perasa nyeri. Udara dingin akan membuat otot-otot ini berkontraksi dan
mengakibatkan rambut akan berdiri. Adanya saraf-saraf perasa mengakibatkan rasa nyeri
apabila rambut dicabut.
1. Pembuluh Darah
Pembuluh darah banyak terdapat di sekitar akar rambut. Melalui pembuluh darah ini akar-
akar rambut mendapatkan makanan, sehingga rambut dapat tumbuh.
1. Kelenjar Minyak (glandula sebasea)
Kelenjar minyak terdapat di sekitar akar rambut. Adanya kelenjar minyak ini dapat menjaga
agar rambut tidak kering.
1. Kelenjar Keringat (glandula sudorifera)
Kelenjar keringat dapat menghasilkan keringat. Kelenjar keringat berbentuk botol dan
bermuara di dalam folikel rambut. Bagian tubuh yang banyak terdapat kelenjar keringat
adalah bagian kepala, muka, sekitar hidung, dan lain-lain. Kelenjar keringat tidak terdapat
dalam kulit tapak tangan dan telapak kaki.
1. Serabut Saraf
Pada lapisan dermis terdapat puting peraba yang merupakan ujung akhir saraf sensoris.
Ujung-ujung saraf tersebut merupakan indera perasa panas, dingin, nyeri, dan sebagainya.
Jaringan dermis juga dapat menghasilkan zat feromon, yaitu suatu zat yang memiliki bau
khas pada seorang wanita maupun laki-laki. Feromon ini dapat memikat lawan jenisDermis
(Kulit Jangat).