Anda di halaman 1dari 22

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

GEOFISIKA EKSPLORASI

METODE SEISMIK REFRAKSI



OLEH :
KELOMPOK III
RESKI IRIANTO SREM (D611 08 255)
BADARUDDIN (D611 10 009)
RAYON (D611 11 002)
SARI MALIKU (D611 11 006)





MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Sejarah Metode Seismik Refraksi.
Eksperimen seismik aktif pertama kali dilakukan pada tahun 1845 oleh
Robert Mallet, yang oleh kebanyakan orang dikenal sebagai bapak seismologi
instrumentasi. Mallet mengukur waktu transmisi gelombang seismik, yang dikenal
sebagai gelombang permukaan, yang dibangkitkan oleh sebuah ledakan. Mallet
meletakkan sebuah wadah kecil berisi merkuri pada beberapa jarak dari sumber
ledakan dan mencatat waktu yang diperlukan oleh merkuri untuk be-riak. Pada
tahun 1909, Andrija Mohorovicic menggunakan waktu jalar dari sumber gempa
bumi untuk eksperimennya dan menemukan keberadaan bidang batas antara
mantel dan kerak bumi yang sekarang disebut sebagai Moho.
Pemakaian awal observasi seismik untuk eksplorasi minyak dan mineral
dimulai pada tahun 1920an. Teknik seismik refraksi digunakan secara intensif di
Iran untuk membatasi struktur yang mengandung minyak. Tetapi, sekarang
seismik refleksi merupakan metode terbaik yang digunakan di dalam eksplorasi
minyak bumi. Metode ini pertama kali didemonstrasikan di Oklahoma pada tahun
1921.
Pelaksanaan survey seismik melibatkan beberapa departemen yang
bekerja secara dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Departemen-
departemen yang terlibat antara lain: Topografi, Seismologist, Processing, Field
Quality Control (QC) dan departemen pendukung lainya. Dept. Topografi
bertugas untuk memplotkan koordinat teoretik hasil desain. Dept Seismologist
bertugas mulai dari pembentangan kabel, penempatan Shot point (proses drilling
dan preloading) dan selanjutnya dilakukan penembakan dan recording yang teknis
pelaksanaanya dikerjakan di LABO. Data hasil recording diolah oleh departemen
processing untuk mendapatkan output data akhir pelaksanaan survey. Untuk
mengontrol serta meningkatkan kualitas dalam kegiatan akuisisi data seismik
maka dilakukan juga Field QC.
1.2. Kelebihan dan Kekurangan dibandingkan metode lainnya.
Dalam seismik refleksi, analisis dikonsentrasikan pada energi yang
diterima setelah getaran awal diterapkan. Secara umum, sinyal yang dicari adalah
gelombang-gelombang yang terpantulkan dari semua interface antar lapisan di
bawah permukaan. Analisis yang dipergunakan dapat disamakan dengan echo
sounding pada teknologi bawah air, kapal, dan sistem radar. Informasi tentang
medium juga dapat diekstrak dari bentuk dan amplitudo gelombang refleksi yang
direkam. Struktur bawah permukaan dapat cukup kompleks, tetapi analisis yang
dilakukan masih sama dengan seismik refraksi, yaitu analisis berdasar kontras
parameter elastisitas medium
Berdasarkan perbedaan-perbedaan tersebut, teknik refleksi lebih
mampu menghasilkan data pengamatan yang dapat diinterpretasikan
(interpretable). Seperti telah dinyatakan sebelumnya, bagaimanapun juga teknik
refleksi membutuhkan biaya yang lebih besar. Biaya tersebut biasanya sangat
signifikan secara ekonomis. Karena survey refleksi membutuhkan biaya lebih
besar daripada survey refraksi, maka sebagai konsekuensinya survey refraksi lebih
senang digunakan untuk lingkup sempit/kecil. Misalnya digunakan dalam
mendukung analisis lingkungan atau geologi teknik. Sedangkan survey refleksi
digunakan dalam eksplorasi minyak bumi.
Perbandingan Seismik Refraksi Seismik Refleksi
Metode Seismik Refraksi (Bias) Metode Seismik Refleksi (Pantul)
Keunggulan

Kelemahan
Pengamatan refraksi membutuhkan
lokasi sumber dan penerima yang
kecil, sehingga relatif murah dalam
pengambilan datanya

Karena lokasi sumber dan penerima yang
cukup lebar untuk memberikan citra
bawah permukaan yang lebih baik, maka
biaya akuisisi menjadi lebih mahal.
Prosesing refraksi relatif simpel
dilakukan kecuali proses filtering
untuk memperkuat sinyal first berak
yang dibaca.

Prosesing seismik refleksi memerluakn
komputer yang lebih mahal, dan sistem
data base yang jauh lebih handal.
Karena pengambilan data dan lokasi
yang cukup kecil, maka
pengembangan model untuk
interpretasi tidak terlalu sulit
dilakukan seperti metode geofisika
lainnya.

Karena banyaknya data yang direkam,
pengetahuan terhadap database harus
kuat, diperlukan juga beberapa asumsi
tentang model yang kompleks dan
interpretasi membutuhkan personal yang
cukup ahli.
Kelemahan

Keunggulan
Dalam pengukuran yang regional ,
Seismik refraksi membutuhkan offset
yang lebih lebar.

Pengukuran seismik pantul menggunakan
offset yang lebih kecil
Seismik bias hanya bekerja jika
kecepatan gelombang meningkat
sebagai fungsi kedalaman.
Seismik pantul dapat bekerja
bagaimanapun perubahan kecepatan
sebagai fungsi kedalaman
Seismik bias biasanya
diinterpretasikan dalam bentuk
lapisan-lapisan. Masing-masing
lapisan memiliki dip dan topografi.

Seismik pantul lebih mampu melihat
struktur yang lebih kompleks
Seismik bias hanya menggunakan
waktu tiba sebagai fungsi jarak
(offset)

Seismik pantul merekan dan
menggunakan semua medan gelombang
yang terekam.
Model yang dibuat didesain untuk
menghasilkan waktu jalar teramati.
Bawah permukaan dapat tergambar
secara langsung dari data terukur

Perbandingan Metode Seismik Dengan Metode Geofisika Lainnya
Keunggulan atau Kelebihan Kelemahan (Kekurangan)
Dapat mendeteksi variasi baik lateral maupun
kedalaman dalam parameter fisis yang relevan,
yaitu kecepatan seismik.
Banyaknya data yang
dikumpulkan dalam sebuah
survei akan sangat besar jika
diinginkan data yang baik
Dapat menghasilkan citra kenampakan struktur di
bawah permukaan
Perolehan data sangat mahal
baik akuisisi dan logistik
dibandingkan dengan metode
geofisika lainnya.
Dapat dipergunakan untuk membatasi
kenampakan stratigrafi dan beberapa kenampakan
pengendapan.
Reduksi dan prosesing
membutuhkan banyak waktu,
membutuhkan komputer
mahal dan ahli-ahli yang
banyak.
Respon pada penjalaran gelombang seismik
bergantung dari densitas batuan dan konstanta
elastisitas lainnya. Sehingga, setiap perubahan
konstanta tersebut (porositas, permeabilitas,
kompaksi, dll) pada prinsipnya dapat diketahui
dari metode seismik.
Peralatan yang diperlukan
dalam akuisisi umumnya lebih
mahal dari metode geofisika
lainnya.
Memungkinkan untuk deteksi langsung terhadap
keberadaan hidrokarbon
Deteksi langsung terhadap
kontaminan, misalnya
pembuangan limbah, tidak
dapat dilakukan.









BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Metode Pengambilan data
Gelombang seismik merupakan gelombang mekanis yang terjadi di
bumi baik yang disebabkan secara alami maupun buatan manusia. Adapun
pengertian refraksi secara harfiah adalah pembiasan. Sehingga seismik refraksi
adalah pembiasan gelombang seismik. Selain refraksi dikenal pula seismik
refleksi atau pantulan, namun dalam laporan ini hanya dibahas tentang seismik
refraksi.
Dasar teknik seismik dapat digambarkan sebagai suatu sumber
gelombang dibangkitkan di permukaan bumi. Karena material bumi bersifat
elastik maka gelombang seismik yang terjadi akan dijalarkan ke dalam bumi
dalam berbagai arah. Pada bidang batas antar lapisan, gelombang ini sebagian
dipantulkan dan sebagian lain dibiaskan untuk diteruskan ke permukaan bumi.
Dipermukaan bumi gelombang tersebut diterima oleh serangkaian detektor
(geophone) yang umumnya disusun membentuk garis lurus dengan sumber
ledakan (profil line), kemudian dicatat atau direkam oleh suatu alat seismogram.
Dengan mengetahui waktu tempuh gelombang dan jarak antar geophone dan
sumber ledakan, struktur lapisan geologi di bawah permukaan bumi dapat
diperkirakan berdasarkan besar kecepatannya. (Susilawati, 2004)
2.1.1. Asumsi Dasar
Berbagai anggapan yang dipakai untuk medium bawah permukaan
bumi antara lain medium bumi dianggap berlapis-lapis dan tiap lapisan
menjalarkan gelombang seismik dengan kecepatan yang berbeda, makin
bertambahnya kedalaman batuan lapisan bumi makin kompak. Sedangkan
anggapan yang dipakai untuk penjalaran gelombang seismik antara lain panjang
gelombang seismik sangat kecil dibandingkan ketebalan lapisan bumi. Hal ini
memungkinkan setiap lapisan bumi akan terdeteksi. Gelombang seismik
dipandang sebagai sinar seismik yang memenuhi hukum Snellius dan prinsip
Huygens. Pada bidang batas antar lapisan, gelombang seismik menjalar dengan
kecepatan gelombang pada lapisan dibawahnya. Kecepatan gelombang bertambah
dengan bertambahnya kedalaman.
Seismik refraksi dihitung berdasarkan waktu jalar gelombang pada
tanah atau batuan dari posisi sumber ke penerima pada berbagai jarak tertentu.
Pada metode ini, gelombang yang terjadi setelah gangguan pertama (first break)
diabaikan, sehingga sebenarnya hanya data first break saja yang dibutuhkan.
Parameter jarak (offset) dan waktu jalar dihubungkan oleh cepat rambat
gelombang dalam medium. Kecepatan tersebut dikontrol oleh sekelompok
konstanta fisis yang ada di dalam material dan dikenal sebagai parameter
elastisitas batuan.
2.1.2. Metode Seismik Refraksi
Metode seismik refraksi merupakan teknik umum yang digunakan
dalam survai geofisika untuk menentukan kedalaman batuan dasar, litologi batuan
dasar (bed rock), sesar, dan kekerasan batuan. Pada prinsipnya, metode seismik
refraksi memanfaatkan perambatan gelombang seismik yang merambat kedalam
bumi. Pada dasarnya dalam metoda ini diberikan suatu gangguan berupa
gelombang seismik pada suatu sistem kemudian gejala fisisnya diamati dengan
menangkap gelombang tersebut melalui geophone. Waktu tempuh gelombang
antara sumber getaran dan penerima akan menghasilkan gambaran tentang
kecepatan dan kedalaman lapisan.
Hal tersebut akan menghasilkan gambaran tentang kecepatan dan
kedalaman lapisan berdasarkan penghitungan waktu tempuh gelombang antara
sumber getaran (shot) dan penerima (geophone). Waktu yang diperlukan oleh
gelombang seismik untuk merambat pada lapisan batuan bergantung pada besar
kecepatan yang dimiliki oleh medium yang dilaluinya tersebut. Data yang
diperoleh berupa travel time dari gelombang pada tiap-tiap geophone.Untuk
mendapatkan kualitas rekaman seismik refraksi yang tinggi dan mengandung
bentuk first break yang tajam, dilakukan teknik stacking, gain dan filtering.
Pada survei seismik refraksi hukum dasar yang digunakan yaitu dasar
pemantulan dan pembiasan diantaranya: hukum Snellius, azas Fermat, dan hukum
Huygens seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Menurut hukum Snellius
menjelaskan hubungan antara sinus sudut datang dan sudut bias terhadap
kecepatan gelombang dalam medium. Azas Fermat yang menyatakan dalam
penjalaran gelombang dari satu titik ke titik selanjutnya yang melewati suatu
medium tertentu akan mencari suatu lintasan dengan waktu tempuh yang paling
sedikit. Sedangkan untuk hukum Huygens menyatakan bahwa suatu gelombang
yang melewati suatu titik akan membuat titik tersebut menjadi sumber gelombang
baru dan akan begitu seterusnya. (Telford, 1976)
Gelombang seismik refraksi yang dapat terekam oleh penerima pada
permukaan bumi hanyalah gelombang seismik refraksi yang merambat pada batas
antar lapisan batuan. Hal ini hanya dapat terjadi jika sudut datang merupakan
sudut kritis atau ketika sudut bias tegak lurus dengan garis normal (r = 90
sehingga sin r = 1). Hal ini sesuai dengan asumsi awal bahwa kecepatan lapisan
dibawah interface lebih besar dibandingkan dengan kecepatan diatas interface.
Gelombang seismik berasal dari sumber seismik merambat dengan
kecepatan V1 menuju bidang batas (A), kemudian gelombang dibiaskan dengan
sudut datang kritis sepanjang interface dengan kecepatan V2. Dengan
menggunakan prinsip Huygens pada interface, gelombang ini kembali ke
permukaan sehingga dapat diterima oleh penerima yang ada di permukaan.

Tahapan akhir dalam metode seismik refraksi adalah membuat atau
melakukan interpretasi hasil dari survei menjadi data bawah permukaan yang
akurat. Data-data waktu dan jarak dari kurva travel time diterjemahkan menjadi
suatu penampang seismik dan akhirnya dijadikan menjadi penampang geologi.
Survey geofisika dengan metode seismik refraksi adalah bertujuan untuk
mendeteksi struktur geologi di bawah permukaan dangkal, misalnya patahan.
Untuk menentukan kedalaman di bawah sumber pada medium dua lapis atau lebih
yang horizontal maupun miring serta menentukan jenis batuan berdasarkan
kecepatan gelombang yang merambat dalam batuan tersebut.
2.1.3. Akuisisi pada Metode Seismik Refraksi
Dalam pengambilan data seismic refraksi agar menghasilkan kualitas
data yang bagus dan mengandung bentuk first break yang tajam dapat dilakukan
beberapa cara antara lain : stacking, memperbesar kekuatan shoting, dan filtering.
Dalam pengambilan data yang menggunakan dinamit sebagai sumber getaran
maka perlu diperhatikan tempat yang tepat sehingga energy dinamit dapat
terkonversi menjedi energy seismic secara efektif.
Tujuan utama akuisisi data seismik adalah untuk memperoleh
pengukuran travel time dari sumber energi ke penerima. Keberhasilan akusisi data
bisa bergantung pada jenis sumber energi yang dipilih. Sumber energi seismik
dapat dibagi menjadi dua yaitu sumber impulsif dan vibrator. Sumber impulsif
adalah sumber energi seismik dengan transfer energinya terjadi secara sangat
cepat dan suara yang dihasilkan sangat kuat, singkat dan tajam. Sumber energi
impulsif untuk akuisisi data seismik yang digunakan untuk akusisi data seismik di
laut adalah air gun. Sumber energi vibrator merupakan sumber energi dengan
durasi beberapa detik. Panjang sinyal input dapat bervariasi. Gelombang
outputnya berupa gelombang sinusoidal. Seismik refleksi resolusi tinggi
menggunakan vibrator dengan frekuensi 125 Hz atau lebih.
Perekaman data seismik melibatkan detektor dan amplifier yang sangat
sensistif serta magnetic tape recorder. Alat untuk menerima gelombang-
gelombang refleksi untuk survei seismik di laut adalah hidropon. Hidropon
merespon perubahan tekanan. Hidropon terdiri atas kristal piezoelektrik yang
terdeformasi oleh perubahan tekanan air. Hal ini akan menghasilkan beda
potensial output. Elemen piezoelektrik ditempatkan dalam suatu kabel streamer
yang terisi oleh kerosin untuk mengapungkan dan insulasi.
Hampir semua data seismik direkam secara digital. Karena output dari
hidropon sangat lemah dan output amplitude decay dalam waktu yang sangat
singkat, maka sinyal ini harus diperkuat. Amplifier bisa juga dilengkapi dengan
filter untuk meredam frekuensi yang tidak diinginkan.

Pada rekaman seismik (shot gathers), first break merupakan sinyal yang
pertama kali terekam oleh penerima. Sinyal tersebut berasal dari direct wave dan
head wave. Direct wave adalah gelombang yang merambat dari sumber langsung
ke penerima melewati lapisan pertama, Sedangkan head wave adalah gelombang
yang melewati lapisan pertama lalu merambat disepanjang lapisan kedua. Syarat
terjadinya head wave adalah sudut tembak gelombang harus melewati critical
angle dan lapisan kecepatan lapisan tersebut harus lebih cepat dari lapisan
sebelumnya.
Berikut adalah ilustrasi jejak sinar, kurva serta persamaan waktu
tempuh dari direct wave (merah), head wave (biru) dan refleksi (hijau).

Gambar di bawah ini menunjukkan rekaman (shot gather) serta
interpretasi first break untuk direct wave (merah), head wave yang merambat
melewati lapisan pertama dan disepanjang lapisan kedua (biru), serta head wave
yang melewati lapisan pertama, kedua dan disepanjang lapisan ketiga (hijau).
Kedalaman dan kecepatan lapisan pertama dapat dianalisis dari kurva warna
merah, lapisan kedua dari kurva warna biru dan lapisan ketiga dari kurva warna
hijau. Perhatikan, banyaknya perlapisan ditunjukkan dengan berapa banyak kurva
tersebut saling memotong (crossover).

Dalam survei seismik refraksi dilakukan desain survei konfigurasi
peralatan yang disusun. Geophone dan sumber gelombang ditempatkan pada suatu
garis lurus (line seismik). Near offset, far offset, dan jarak antar geophone
ditentukan berdasarkan kondisi lapangan tempat melakukan survei. Pengambilan
data dilakukan dengan memberikan sumber getar yang dalam penelitian ini
menggunakan weightdrop seberat 50 kg untuk jarak 10 meter dari geophone yang
pertama. Sistem perekaman dilakukan oleh 12 geophone dalam satu garis lurus
dengan sumber getar. Pasangan geophone ditempatkan dengan masing-masing
spasi geophone yang telah ditentukan yaitu 2 meter.
Pengukuran dilakukan dengan memberikan impuls vertikal pada
permukaan tanah dan merekam sinyal yang terjadi, sensor diletakkan sepanjang
garis lurus dari sumber impuls. Sensor yang digunakan adalah seismometer darat
yaitu geophone. Akuisisi dalam pengambilan data seismik menggunakan cara
end-on (Common Shot). Dari akusisi data ini akan didapatkan data mentah
seismik, berupa trace-trace seismik dari geophone yang merekam waktu tempuh
gelombang seismik.
Peralatan yang digunakan dalam survei seismik refraksi antara lain
geophone, seismograph, baterai, kabel, radio dan portabel drill. Sumber energi
yang biasa digunakan dalam survei ini antara lain Buffalo gun(energi lebih
banyak), Sledge hammer (mudah digunakan dan murah), bahan peledak (lebih
banyak energi yang dihasilkan), drop weight (membutuhkan daerah yang datar),
serta air gun yang biasanya digunakan untuk survei di danau atau laut. Dinamit
yang digunakan bermerk Power Gel ini terbungkus dalam tabung plastik dan
dapat disambung-sambung sesuai dengan berat yang diinginkan untuk ditanam. Di
dalam tabung ini dinamit diisi dengan detenator atau cap sebagai sumber
ledakan pertama, serta dipasang pula anchor agar dinamit tertancap kuat di dalam
tanah.
Pemasangan dinamit (preloading) dilakukan langsung setelah pemboran
selesai, dengan tujuan untuk menghindari efek pendangkalan dan runtuhan di
dalam lubang. Pengisian dinamit dilakukan oleh regu loader yang dipimpin oleh
seorang shooter yang telah mempunyai pengetahuan keamanan yang berhubungan
dengan bahan peledak dan telah memiliki lisensi tertulis dari migas.
Dalam membuat desain survei seismik terdapat beberapa parameter
lapangan yang harus diperhatikan. Trace adalah point untuk data seismic yang
terekam oleh satu perekam (geophone), sedangkan trace interval sendiri adalah
jarak antar trace. Station unit adalah alat yang di gunakan sebagai pengubah sinyal
yang di terima yaitu sinyal analog ke dalam sinyal digital. Far Offset adalah jarak
antara sumber seismik dengan trace terjauh terjauh. Near Offset adalah jarak
antara sumber seismik dengan trace terdekat. Jumlah shot point adalah banyaknya
SP yang digunakan dalam satu lintasan. Jumlah Trace banyaknya trace yang
digunakan dalam satu SP. Record length dalah lamanya merekam gelombang
seismic. Fold coverage adalah Jumlah atau seringnya suatu titik di subsurfece
terekam oleh geophone di permukaan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam akuisisi yaitu:
1. Mencari informasi literatur mengenai daerah tersebut, diantaranya apakah
sudah pernah dilakukan penelitian dengan metode geofisika tertentu. Agar
diperoleh point survey.
2. Mencari informasi mengenai kondisi/struktur geologi area, misalnya peta
geologi.
3. Tentukan tujuan/main goal dari akuisisi
4. Dibuat design survey dengan menyesuaikan kondisi lapangan.design
survey dibuat serapat/seideal mungkin agar didapat data yang diinginkan.
5. Ditentukan konfigurasi yang akan diterapkan di lapangan, serta Source
yang akan digunakan
6. Chek list kelengkapan sebagai berikut :
Kalibrasi alat
Akomodasi transportasi
Job description masing-masing peserta survei
Form data akuisisi
Dalam survey seismik refraksi pada umumnya dilakukan prosedur
sebagai Berikut :
1. Menyusun konfigurasi peralatan (sesuai kondisi lapangan), pada umumnya
geophone dan sumber gelombang dipasang dalam satu garis lurus (line
seismic). Jarak pisah antara geophone adalah jarak horizontal dan
ditentukan oleh kondisi lapangan.
2. Penempatan sumber gelombang dilakukan untuk mendapatkan sumber
imformasi struktur bawah permukaan bumi secara detail. Sumber
gelombang yang berada di tengah spread (satu rangkaian geophone)
diharapkan dapat mendeteksi lapisan paling atas, dan sumber gelombang
yang berada di luar spread diharapkan dapat mendeteksi lapisan paling
bawah yang dapat dicapai (lapisan bed rock).
3. Data yang diperoleh dari survey seismik refraksi adalah waktu tempuh
jalar gelombang dari sumber ke tiap geophone yang disebut travel time.
4. Untuk survei yang efisien, minimal harus ada 2 offset shots, 2 end shots,
dan 2 center shot. (Jenny, 2013)
Atau bisa juga seperti metode berikut ini :
1. Membuat bentangan berupa garis lurus
2. Menentukan jarak antar geophone dan menentukan titik tembak dengan
memperhatikan kondisi lingkungan
3. Memasang geophone dengan interval 3 meter
4. Menentukan arah bentangan dengan menggunakan kompas dan mengukur
posisi tiap geophone
5. Menghubungkan semua geophone dengan utama (seismograf) unit
menggunakan kabel konektor
6. Mengoperasikan alat Pasi
7. Memberi gangguan pada shoot point pada enset 1 dan enset 2. Dimana
ensed 1 berada pada 1,5 meter sebelum geophone pertama dan ensed 2
berada 1,5 meter setelah geophone 24
8. Merekam data berupa respon yang diperoleh berupa penjalaran gelombang
di bawah permukaan yang akan terekam otomatis pada alat pasif.
9. Selanjutnya lintasan pengukuran dipindahkan lagi ke lintasan berikutnya
dan mengikuti urutan kerja seperti pada point 1 8 (N.K. Adnyawati, et al.
2012)
Hal yang perlu diperhatikan pada saat pengukuran di lapangan adalah
nois yang sifatnya mengganggu. Ada beberapa hal penyebab nois antara lain
adalah angin, pohon, aliran sungai (parit), benda-benda lain yang bergerak dekat
dengan geophone (orang berjalan, sepeda motor, dan sebagainya). Untuk
mendapatkan hasil yang diharapkan, nois ini harus ditekan sekecil mungkin. Ada
dua macam nois yang dapat dibedakan,
1. Nois yang timbul sesaat kemudian lenyap. Nois ini diakibatkan oleh orang
berjalan, motor atau mobil, dan sebagainya. Untuk menghindari nois
semacam ini, pada saat sumber gelombang (source) ditimbulkan, diusahakan
agar tidak ada sesuatu yang bergerak disekitar geophone.
2. Nois yang timbul terus menerus. Nois ini biasanya ditimbulkan oleh angin,
pohon (bergoyang), aliran air sungai, dan sebagainya. Untuk menghindari
keadaan semacam ini sebaiknya setiap kali mengadakan pengukuran seismik,
diadakan terlebih dahulu nois tes. Jika nois yang timbul cukup kecil
dibanding dengan sinyal yang dihasilkan maka pengukuran dapat
dilaksanakan. Tetapi jika nois cukup besar dibanding sinyal, pengukuran
perlu ditunda beberapa saat sampai nois menjadi kecil.
Untuk menghindari nois, signal yang masuk dapat ditumpuk (di-stack)
beberapa kali, sehingga data yang diperoleh lebih baik dan jelas. Dilakukan
demikian karena dengan stacking, sinyal dijumlahkan sedang nois ditiadakan
(nois bersifat random dan acak). Sebelum melakukan pengukuran ditentukan
terlebih dahulu garis lintasan pengukuran, lintasan pengukuran diusahakan datar
dan mewakili daerah seismik penelitian atau dengan kata lain penempatan lintasan
penelitian didasarkan pada pertimbangan teknis dan kaitannya dengan usaha untuk
mendapatkan gambaran keadaan bawah permukaan yang memadai.
Ada beberapa metode interpretasi dasar yang bisa digunakan dalam
metode seismik refraksi, antara lain metode waktu tunda, metode Intercept Time,
dan metode rekonstruksi muka gelombang (Raharjo, 2002). Pada perkembangan
lebih lanjut, dikenal beberapa metode lain yang digunakan untuk
menginterpretasikanbentuk topografi dari suatu bidang batas, antara lain metode
Time Plus Minus, metode Hagiwara dan Matsuda, dan metode Reciprocal
Hawkins. Untuk sistem perlapisan yang cukup homogen dan relatif rata, metode
Intercept Time mampu memberikan hasil yang memadai atau yang dapat diartikan
dengan kesalahan relatif kecil (Sismanto, 1999). Dalam penelitian ini, pemodelan
struktur lapisan bawah permukaan dilakukan dengan menggunakan metode
Intercept Time
2.2. Analisis dan Interpretasi.
Interpretasi merupakan suatu cara analisis menafsirkan keadaan bawah
permukaan dari data geofisika. Interpretasi geofisika merupakan cara menafsirkan
dan menyimpulkan sebaran data geofisika yang dikaitkan dengan cara analisis
serta batasan fisis yang digunakan, sedangkan interpretasi geologi adalah cara
menafsirkan data hasil interpretasi geofisika menjadi model geologi bawah
permukaan. Interpretasi seismik refraksi memiliki keterbatasan yang berarti
banyak alternatif model yang dibuat untuk satu set data tertentu yang tergantung
asumsi, parameter, serta cara pendekatan yang dipakai. Analisis kuantitatif
diturunkan dari kurva
Travel time untuk mendapatkan parameter bawah permukaan. Metode ini
menggunakan analisis gelombang pandu yang umumnya disebut first break dan
akan berhasil dengan baik jika kecepatan gelombangnya semakin ke bawah
semakin besar. Analisis data meliputi proses pengolahan data seismik refraksi
dengan menggunakan metode Reciprocal Hawkins dan menggunakan software
SRIM sehingga akan didapatkan kecepatan rambat gelombang seismik dan
kedalaman masing-masing lapisan serta penampang strutur bawah permukaan.
Hasil perhitungan dari masing-masing metode Reciprocal Hawkins dan software
SRIM akan dianalisis dan untuk menafsirkan batuan penyusun bawah permukaan
hasilnya akan dicocokkan dengan data geologi daerah penelitian dan data sumur
bor.


BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan diatas mengenai Seismik Refraksi maka dapat
kami simpulkan bahwa metode seismik dapat mendeteksi variasi baik literal
maupun kedalaman dalam parameter fisis yang relevan, yaitu kecepatan seismik.
Metode ini juga dapat menghasilkan citra kenampakan struktur di bawah
permukaan dan dapat dipergunakan untuk membatasi kenampakan stragrafi dan
beberapa kenampakan pengendapan. Respon pada penjalaran gelombang seismik
bergantung dari densitas batuan dan konstanta elastisitas lainnya. Sehingga setiap
perubahan konstanta tersebut pada prinsipnya dapat diketahui dari metode
seismic. Metode ini memungkinkan untuk deteksi langsung terhadap keberadaan
hidrokarbon. Namun tidak dapat dilakukan deteksi langsung terhadap kontaminan,
misalnya pembuangan limbah.
Metode seismik dilakukan dengan menggunakan sumber seismik yang
berupa ledakan yang akan memicu timbulnya gelombang kesegala arah dan
mengalami pemantulan ataupun pembiasan. Pada gelombang seismik pembiasan
(refraksi), gambar yang dihasilkan belum terlalu detail yakni masih dalam bentuk
lapisan-lapisan yang memiliki topografi. Sedangkan pada gelombang seismik
pemantulan (refleksi), gambar bawah permukaan dapat tergambar secara langsung
dari data terukur karena seismik ini mampu melihat struktur yang lebih kompleks
dibanding seismik refraksi.


DAFTAR PUSTAKA
N. K. Adnyawati, et. Al. 2012. Analisis Struktur Bawah Permukaan dengan
Menggunakan Metode Seismik Refraksi di Universitas Tadulako.
Nurdiyanto, Boko dkk. 2011. Penentuan Tingkat Kekerasan Batuan
Menggunakan Metode Seismik Refraksi. Jurnal Meteorologi dan geofisika.
Priyantari, Nurul. 2009. Penentuan Kedalaman Bedrock Menggunakan Metode
Seismik Refraksi di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
Jurnal Ilmu Alam.
Susilawati. 2004. Seismik Refraksi (Dasar Teori dan Akuisisi Data). Sumatera
Utara : USU Digital Library
Telford, M.W., Geldart, L.P., Sheriff, R.E, & Keys, D.A. 1976. Applied
geophysics, New York: Cambridge University Press.