Anda di halaman 1dari 4

Rotasi tanaman adalah praktek penanaman berbagai jenis tanaman secara bergiliran di

satu lahan. Rotasi tanaman diketahui memberikan manfaat bagi tanah. Elemen utama dari rotasi
tanaman adalah pengembalian nutrisi nitrogen melalui tanaman legum setelah penanaman
serealia dan sejenisnya. Rotasi tanaman mencegah terakumulasinya patogen dan hama yang
sering menyerang satu spesies saja. Rotasi tanaman juga meningkatkan kualitas struktur tanah
dan mempertahankan kesuburan dengan melakukan pergantian antara tanaman berakar dalam
dengan tanaman berakar dangkal. Rotasi tanaman merupakan bagian dari polikultur. Rotasi
tanaman juga mempengaruhi bahan organic pada tanah. Bahan organik merupakan bahan-bahan
yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang
dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan
penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan
pembentukan kembali. Sisa tanaman yang masih tersisa pada tanah pada saat rotasi tanaman
akan melapuk dan secara tidak langsung juga dapat menjadi bahan organic tanah.
Namun dari hari kehari terjadi penurunan bahan organic tanah yang di sebabkan karena
adanya perlakuan manusia yang keliru dalam mengelolanya, kerusakan ini bisa di sebabkan
karena adanya perlakuan secara fisik dan kimia yang keliru seperti pada saat pengolahan
tanahnya. Beberapa sebab turunnya bahan organik tanah yaitu pengolahan tanah yang terlalu
sering dan terus menerus, cara mengolah tanah yang keliru, penggunaan bahan kimia dalam
jangka waktu yang lama, panen yang tidak di sertai pengembalian BO ke tanah. Pengolahan
tanah yang terlalu sering dan terus menerus dapat merusak struktur dalam tanah, terutama pada
lahan ringan jenis tanah pasir, seperti kita ketahui tanah tersusun dari 4 unsur yaitu padat, air,
udara dan bahan organik, pengolahan tanah yang terus menerus pada tanah terutama pada tanah
pasir menyebabkan keseimbangan unsur penyusun tanah menjadi terganggu. Pengolahan tanah
yang keliru juga menyebabkan tanah menjadi cepat miskin, hal ini terutama pada pengetahuan
dalam pemilihan alat pengolah tanah, dimana penggunaan alat pertanian yang tidak disertai
pengetahuan tentang fungsi dari alat pertanian bisa menjadi bumerang dan mesin penghancur
kesuburan tanah.
Rotasi tanaman serta bahan organic tanah ini dapat diterapkan untuk mendukung satu
atau lebih hal berikut yaitu mengurangi lapisan tanah yang tererosi akibat angin, meningkatkan
kualitas tanah, mengelola keseimbangan nutrisi tanaman. , memasok nitrogen melalui fiksasi
nitrogen biologis untuk mengurangi penggunaan energy, penghematan air, mengelola hama
tanaman (gulma, serangga, dan penyakit), memberikan pakan ternak dalam negeri, memberikan
tanaman tahunan untuk simpanan energi, memberikan makanan dan penutup untuk satwa liar.
Rotasi tanaman merupakan salah satu praktek yang paling penting dalam pertanian
berkelanjutan. Karena hal ini melibatkan menanam tanaman yang berbeda di daerah yang sama
pada waktu yang berbeda tahun atau di tahun yang berbeda . Metode ini dapat mengurangi
pestisida dan herbisida digunakan. Penggunaan pestisida terbatas karena hama tidak bisa
membangun populasi karena mereka tidak memiliki sumber makanan yang stabil ketika panen
berubah dari tahun ke tahun. Siklus reproduksi hama juga terganggu dengan perubahan dalam
tanaman , mencegah jumlah hama berkembang pesat.
Berikut ini merupakan pola pergiliran tanaman pada daerah surutan waduk. Dimana pada
saat bulan April sampai Juli disaat terjadi penurunan curah hujan ditanami padi gogo. Kemudian
pada bulan Juli sampai Oktober ditanami jagung, dan pada saat curah hujan tinggi yaitu pada
bulan November- Maret lahan tersebut tergenang dan tidak dapat dilakukan penanaman.

sistem budidaya pertanian terdapat dua jenis pola tanam yaitu
1. Monokultur
Monokultur merupakan pola tanam denan membudidayakan hanya satu jenis
tanaman dalam satu lahan pertanian selama satu tahun. Misalnya pada suatu lahan hanya
ditanami padi, dan penanaman tersebut dilakukan sampai tiga musim tanam (satu tahun).
Pola monokultur merupakan suatu pola tanam yang bertentangan dengan aspek ekologis.
Penanaman suatu komoditas seragam dalam suatu lahan dalam jangka waktu yang lama
telah membuat lingkungan pertanian yang tidak mantap. Ketidak mantapan ekosistem
pada pertanaman monokultur dapat dilihat dari masukan-masukan yang harus diberikan
agar pertanian dapat terus berlangsung. Masukan-masukan yang dimaksud adalah pupuk
ataupun obat-obatan kimia untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman.
Ketidakmantapan ekosistem juga dapat dilihat dari meledaknya poulasi suatu jenis hama
yang sulit dikendalikan karena musuh alami untuk setiap jenis hama yang menyerang
terbatas jumlahnya.

2. Polikultur
Pola tanam polikultur adalah penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada suatu
lahan pertanian dalam waktu satu tahun. Penanaman lebih dari satu jenis tanaman ini bisa
dalam satu waktu atau juga bisa dalam beberapa waktu tetapi dalam satu tahun. Dalam
satu waktu contohnya adalah penanaman jagung bersamaan dengan kacang tanah dalam
satu lahan dalam satu waktu tanam. Berikut ini merupakan macam-macam pola tanam
polikultur:
1. Tumpangsari (Intercropping)
Tumpang sari (intercropping) adalah teknik budidaya tanaman yang
membudidayakan lebih dari satu tanaman pada satu lahan yang sama pada periode
tanam yang sama.
2. Tumpang gilir (multiple cropping)
Tumpang gilir (multiple cropping) adalah teknik budidaya tanaman dengan
menanam lebih dari satu tanaman pada satu musim, kemudian dilanjutkan menanam
lebih dari satu jenis tanaman pada musim berikutnya dengan lahan yang sama dalam
waktu satu tahun. Tumpang gilir adalah tumpang sari yang dilakukan secara
berurutan dan lebih dari satu periode tanam.
3. Tanaman Bersisipan (relay cropping)
Tanaman bersisipan (relay cropping) adalah pola tanam dengan menyisipkan
satu atau beberapa jenis tanaman, selain tanaman pokok. Tanaman bersisipan hampir
sama dengan tumpang sari, tetapi pada tanaman bersisipan penanaman bisa
dilakukan tidak serentak asal daur hidup tanaman pertama belum habis sebelum
tanaman yang lain ditanam.
4. Tanaman Campuran (mixed cropping)
Tanaman campuran (mixed cropping) adalah teknik budidaya tanaman yang
membudidayakan lebih dari satu tanaman pada satu lahan yang sama pada periode
tanam yang sama tetapi jarak tanam dan barisan antar tanaman tidak diperhatikan.
Tanaman campuran adalah tumpang sari yang tidak memperhatikan jarak tanam.
5. Tanaman Bergiliran (sequential planting)
Tanaman bergiliran (sequential planting) adalah menanam lebih dari satu
jenis komoditas yang dilakukukan pada satu lahan pertanian dalam waktu yang tidak
bersamaan (bergiliran). Komoditas lain baru ditanam setelah satu komoditas
dipanen. Jadi, dalam satu periode tanam hanya menanam satu jenis komoditas.