Anda di halaman 1dari 10

2.

Bagaimana mekanisme dan hubungan empiris untuk perpindahan kalor konveksi paksa
pada aliran di dalam pipa? Bagaimana pada aliran yang menyilang silinder dan bola?
Jawab:
Aliran di dalam pipa
Aliran turbulen di dalam pipa ; Re > 10000
1. Umum
a. Jika aliran di dalam pipa penuh dan telah tercapai keadaan steady untuk L/D pipa > 60 maka
koefisien perpindahan panas konveksi paksaan dapat dihitung dengan persamaan:
n
Rb Db Db
P Nu
8 . 0
Re 023 . 0 = (50)
dengan : n = 0,4 untuk pemanasan dan n = 0,3 untuk pendinginan
Persamaan (50) juga berlaku untuk aliran turbulen yang tidak berkembang sepenuhnya di
dalam tabung licin, dengan fluida yang angka Prandtl-nya berkisar antara 0,6 sampai 100,
dan dengan beda-suhu moderat antara dinding dan fluida.
b. Jika suhu dinding sangat berbeda dengan suhu cairan lebih baik dipakai persamaan:
( )3
2
Pr
f tb
S = ( )
2 . 0
Df
Re 023 . 0

(51) dengan :
2
w b
f
t t
t
+
= ;
b
p
tb
C
h
S
|
|
.
|

\
|
=
u

c. Jika viskositas fluida sangat dipengaruhi suhu :
( ) ( )
2 . 0
Db
14 . 0
b
w 3 / 2
rb
Re 023 . 0 P St

=
|
|
.
|

\
|

(52) atau
14 , 0
3 / 1 8 , 0
Pr Re 027 , 0
|
|
.
|

\
|
=
w
D D
Nu


(53)
Atau untuk pipa 10 < L/D < 400 dipakai persamaan:
( ) ( )
055 . 0
3 / 1 8 . 0
D D
L
D
Pr Re 036 . 0 Nu |
.
|

\
|
= (54)
d. Persamaan untuk aliran turbulen dalam tabung licin yang lebih teliti, namun lebih rumit:
n
w
d
d
f
f
Nu
|
|
.
|

\
|
+
=

) 1 (Pr ) 8 / ( 7 , 12 07 , 1
Pr Re ) 8 / (
3 / 2 2 / 1
(55)
di mana n = 0,11 untuk T
w
> T
b
, n = 0,25 untuk T
w
< T
b
, dan n = 0 untuk fluks-kalor tetap dan
untuk gas. Semua sifat ditentukan pada T
f
= (T
w
+ T
b
)/2, kecuali untuk
b
dan
w
. Faktor
gesek (friction factor) didapatkan dari Gambar 7 (di lampiran) atau, untuk tabung licin, dari
persamaan berikut:

2
10
) 64 , 1 Re log 82 , 1 (

=
d
f (56)
Persamaan (55) berlaku untuk rentang:
% 10 ketelitian dengan 2000 Pr 200
% 6 ketelitian dengan 200 Pr 5 , 0
< <
<

40 0
10 5 Re 10
6 4
< <
< <
w b
d


e. Korelasi empiris di atas, kecuali persamaan (55), berlaku untuk tabung licin. Korelasi untuk
tabung-tabung kasar lebih tepat jika menggunakan analogi Reynolds antara gesekan fluida
dan perpindahan-kalor. Dengan angka Stanton:
8
Pr St
3 / 2
f
f b
=
(57)
Koefisien gesek (friction coefficient) didefinisikan oleh:
c
m
g
u
d
L
f p
2
2
= A
(58)
di mana u
m
ialah kecepatan aliran rata-rata. Nilai koefisien gesek untuk berbagai kondisi
kekasaran-permukaan diberikan pada Gambar 7 (di lampiran).
2. Untuk gas yang harga bilangan Pr nya tidak begitu dipengaruhi suhu yaitu Pr ~ 0.78 dan
b
~
0.0455 lb/j.ft maka persamaan (50) dapat disederhanakan menjadi:
2 , 0
8 , 0
0144 , 0
D
G
C h
P L
=
(59)
Dan persamaan perpindahan panasnya : ( ) ( )
L l 1 2
2
t DL h t t GCp D
4
A t =
t

(60)
sehingga:
( )
( )
2 , 0
1 2
0576 , 0 ) (
DG
D L
t
t t
L
=
A


(61)
3. Untuk aliran dalam pipa lengkung atau berbentuk coil, maka nilai h untuk pipa lurus tadi
harus dikorelasikan dengan persamaan : | | ) ( 5 , 3 1
HK lurus pipa coil
D D h h + =
(62)
dengan D = diameter pipa lurus dan D
Hc
= diameter coil
4. Untuk air yang mengalir dalam pipa pada tekanan sedang dan suhu sekitar 40-220F maka
persamaan yang lebih sederhana:
- Bila ( )
2 , 0
8 , 0
) ' (
) ' (
011 , 0 1 150 :
D
v
t h t t
b L b W
+ = >>
(63)
- Bila ( )
2 , 0
8 , 0
) ' (
) ' (
013 , 0 1 120 :
D
v
t h t t
f L b W
+ = <<
(64)
dengan: v = kecepatan alir air (ft/s), D = diameter dalam pipa (in), dan H
L
= koefisien
perpindahan konveksi paksa air.

Aliran laminer di dalam pipa, Re
D
< 2100

Untuk aliran laminar yang berkembang penuh dalam tabung dengan suhu dinding dianggap tetap
berlaku persamaan:
| |
3 / 2
Re ) / ( 04 . 0 1
Re ) / ( 0668 . 0
66 . 3
R D
R D
D
P L D
P L D
Nu
+
+ = (65)
h yang diperoleh dari rumus ini sudah merupakan h
rata-rata
sepanjang pipa, jadi dapat dimasukkan
ke dalam persamaan:
( ) ( )
1 2 b b P b W
t t C W t t A h q = = (66)
dengan: t
b
= (t
b2
t
b1
)/2 W = kecepatan massa, lb/jam = G.A = vA
A = luas penampang pipa G = kecepatan massa linier, lb/ft
2
.jam
Atau dipakai rumus yang sederhana untuk At kecil :
14 , 0
3 / 1
3 / 1
) (Re 86 , 1
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w
R D D
L
D
P Nu

(67)
Persamaan di atas berlaku untuk: 10 Pr Re >
L
D
d
; Pr Re Pe
d
p
k
c du
= =



Aliran di daerah transisi di dalam pipa: 2100 < Re
D
< 10
4

Untuk kondisi di atas, berlaku persamaan: ( )
14 , 0
3
1
Pr

|
|
.
|

\
|
=
W
H
Nu J


(68)
dengan J
H
dibaca dari Fig. 24 dengan parameter Re (buku Kern hal. 834).
Selanjutnya h dapat dihitung dari persamaan:
14 , 0
3
1
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
W
P
H i
k
C
D
k
J h



(69)

Aliran dalam anulus yaitu ruang antara dua pipa konsentris
Untuk menghitung h dari aliran dalam anulus, dapat dipakai rumus dan gambar untuk aliran
dalam pipa, hanya berlaku ketentuan sebagai berikut :
- D harus diganti De ; De = diameter ekivalen
( )
2
1
2
1
2
2
1
2
1
2
2
4
4
4
D
D D
D
D D x
pipa keliling
pipa penampang luas x
De

=

= =
t
t

(70)
- G harus diganti Ge ;
( ) ( )
) . / (
.
4
.
4
2
2
1
2
2
2
1
2
2
f t j lb
D D
W
D D
W
Ge

=
t
t

(71)

D
i
= diameter dalam pipa kecil
D
1
= Do = diameter luar pipa kecil
D
2
= diameter dalam pipa besar
D = diameter luar pipa besar

Jika penampang saluran tempat fluida itu mengalir tidak berbentuk lingkaran, maka
korelasi perpindahan-kalor didasarkan atas diameter hidraulik D
H
, yang didefinisikan oleh:
P
A
D
H
4
= (72)
di mana A ialah luas penampang aliran, dan P perimeter yang basah. Diameter hidraulik harus
digunakan dalam menghitung angka Nusselt dan angka Reynolds, dan dalam menentukan
Anulus
Di D1 = Do D D2
Gambar 8. Anlulus
koefisien gesek yang akan dipergunakan dalam analogi Reynolds. Informasi tentang gesekan-
fluida dan perpindahan-kalor untuk aliran laminar yang berkembang penuh di dalam saluran
dengan berbagai bentuk penampang, seperti terlihat pada Daftar 1 (di lampiran).
Hasil analisis untuk perhitungan angka-angka Nusselt lokal dan rata-rata untuk bagian
pintu-masuk yang laminar pada tabung-tabung bundar untuk kasus profil-kecepatan yang
berkembang-penuh ditunjukkan pada Gambar 9 (di lampiran) dengan menggunakan inversi
angka Graetz.
x
a
Gz Graetz Angka Pr Re = = (73)
Efek pintu-masuk untuk aliran turbulen dalam tabung lebih rumit dari pada aliran laminar, dan
tidak dapat dinyatakan dengan fungsi sederhana dan angka Graetz. Hasil perhitungan
menunjukkan pengaruh beberapa nilai angka Re dan Pr yang diringkas dalam Gambar 10 (di
lampiran).

Aliran yang menyilang silinder dan bola
Perpindahan kalor juga dapat terjadi pada silinder yang mengalami aliran melintang.
Profil perpindahan kalor pada arah fluida yang melintang ini sedikit berbeda dari profil
perpindahan kalor yang biasanya. Adapun pada arah fluida yang melintas sebuah silinder seperti
terlihat pada gambar 11 di lampiran, mempunyai fenomena pemisahan lapisan batas seperti
terlihat pada gambar 12. Sesuai dengan teori lapisan batas, tekanan sepanjang lapisan batas itu
sama pada tiap posisi x benda itu. Dalam hal silinder, posisi x ini dapat diukur dari titik stagnasi
depan silinder itu.
Jadi, tekanan dalam lapisan batas harus mengikuti tekanan aliran bebas untuk aliran
potensial di sekeliling silinder itu, sejauh tingkah laku ini tidak berlawanan dengan sesuatu
prinsip dasar yang harus berlaku pada setiap lapisan batas. Selama aliran itu bergerak sepanjang
bagian depan silinder, tekanan akan berkurang, untuk kemudian meningkat lagi pada bagian
belakang silinder. Hal ini menyebabkan bertambahnya kecepatan aliran bebas pada bagian depan
silinder, dan dan berkurangnya kecepatan itu di belakang silinder. Kecepatan lintang (transverse
celocity, yaitu yang sejajar dengan permukaan) akan berkurang dari nilai

u pada tepi luar


lapisan batas hingga menjadi nol pada permukaan. Sambil aliran itu terus bergerak ke belakang
silinder, peningkatan tekanan mengakibatkan berkurangnya kecepatan pada aliran bebas dan
seluruh lapisan batas. Kenaikan tekanan dan penurunan kecepatan dihubungkan oleh persamaan
bernoulli, yang bila ditulis sepanjang garis aliran:

(74)
Karena tekanan di seluruh lapisan batas dianggap tetap, maka terlihat bahwa aliran balik
akan bermula pada lapisan batas permukaan, artinya, momentum lapisan-lapisan fluida dekat
permukaan tidak cukup tinggi untuk dapat mengatasi peningkatan tekanan. Apabila gradien
kecepatan pada permukaan menjadi nol, maka aliran itu dikatakan mencapai titil pisah
(separation point):
(75)
Sambil aliran itu terus bergerak melewati titik pisah, maka mungkin terjadi fenomena
aliran balik. Akhirnya daerah aliran terpisah pada bagian belakang silinder menjadi turbulen dan
bergerak secara rambang (random), dan karena itu proses perpindahan kalor dan perhitungannya
berbeda dengan aliran fluida di dalam tabung/silinder.
Tidaklah mungkin bagi kita untuk menghitung koefisien perpindahan-kalor rata-rata
dalam aliran silang itu secara analitis. Koefisien perpindahan-kalor rata-rata dapat dihitung dari:
(76)
Nilai C dan n dapat dilihat pada gambar 13 (di lampiran). Sedangkan data perpindahan
kalor untuk udara digambarkan pada grafik Gambar 6-12 dari Holam et. al. halaman 267.
Koefisien perpindahan kalor dari zat cair ke silinder dalam aliran-silang diberikan dengan rumus
yang lebih baik:
(77)
Persamaan ini berlaku untuk 10
-1
< Re
f
<10
5
sejauh tidak terdapat keturbulenan yang
berlebihan pada aliran bebas. Terdapat juga persamaan-persamaan lain yaitu:

(78)

(79)
Persamaan yang lebih komprehensif yang berlaku untuk seluruh rentang data yang ada adalah:

(80)
Tetapi untuk angka Reynolds 20.000 400.000 lebih baik digunakan rumus:

(81)
Sebuah persamaan korelasi lain diberikan oleh Whitaker:

(82)
Untuk 40 < Re < 10
5
, 0.65 < Pr < 300, dan 0.25 < <5.2, semua sifat dievaluasi pada
suhu udara bebas kecuali
w
pada suhu dinding. Untuk nilai di bawah Pe
d
= 0.2, Nakai dan
Okazaki memberikan rumus berikut:

(83)
Untuk silinder tak bundar dapat digunakan persamaan (74) dengan nilai-nilai
konstantanya dapat dilihat dalam daftar 2. Sedang perpindahan kalor dari bola ke gas yang
mengalir:

(84)
Persamaan yang berlaku untuk udara dengan Pr = 0.71 dan rentang angka Reynolds yang
lebih luas lagi dinyatakan dengan rumus:

(85)

(86)
dengan a = 5 x 10
-3
b = 0.25 x 10
-9
c = -3.1 x 10
-17
Persamaan (84) dievaluasi pada suhu aliran bebas.
Untuk aliran zat cair yang melewati bola dapat digunakan korelasi:

(87)
Persamaan untuk perpindahan kalor dari bola ke minyak dan air dengan rentang angka
Reynolds yang cukup luas, yaitu dari 1 sampai 200000:

(88)
di mana semua sifat dievaluasi pada kondisi aliran bebas, kecuali
w
, yang ditentukan pada suhu
permukaan bola. Persamaan tunggal untuk gas dan zat cair mengalir melintasi bola:

(89)
Persamaan tersebut berlaku untuk rentang 3.5 < Re
d
< 8 x 10
4
dan 0.7 < Pr < 380.

3.Jelaskan mekanisme dan hubungan empiris untuk perpindahan kalor pada aliran yang
menyilang rangkunan tabung dengan susunan tertentu? Bagaimana anda menjelaskan
bahwa ternyata susunan (layout) dari tabung mempengaruhi besarnya kalor yang
dipertukarkan?
Jawab:

Karakteristik perpindahan kalor pada rangkunan tabung yang segaris atau selang-seling
disajikan dalam persamaan berikut:
3 / 1
Pr
n
f f
v
d u
C
k
hd
|
|
.
|

\
|
=


(90)
di mana nilai konstanta C dan eksponen n diberikan dalam Daftar 3 (di lampiran) menurut
parameter geometri yang digunakan untuk menggambarkan susunan berkas tabung. Angka
Reynolds didasarkan atas kecepatan maksimum yang terjadi pada rangkunan tabung, yaitu
kecepatan melalui bidang aliran yang minimum. Luas bidang ini tergantung dari susunan
geometri tabung. Nomenklatur yang ditunjukkan dalam Daftar 2 ditunjukkan dalam Gambar 14
(di lampiran). Data pada Daftar 3 menyangkut rangkunan tabung yang mempunyai 10 baris atau
lebih pada arah aliran. Jika jumlah tabung dalam baris lebih sedikit, maka perbandingan nilai h
untuk baris N tabung terhadap baris 10 tabung diberikan pada Daftar 4 (di lampiran).
Penurunan tekanan untuk aliran gas melintas rangkunan tabung dapat dihitung dari
persamaan berikut (dalam Pascal):
14 , 0
2
' 2
|
|
.
|

\
|
= A
b
w
maksN G f
p


(91)
di mana : G
maks
= kecepatan massa pada luas bidang aliran minimum (kg/m
2
.s)
= densitas ditentukan pada kondisi aliran-bebas (kg/m
3
)
N = jumlah baris melintang

b
= viskositas aliran-bebas rata-rata
Faktor gesek empiris f diberikan sebagai persamaan (oleh Jakob) :
- Untuk baris selang-seling :
16 , 0
maks
08 , 1
Re
] / ) [(
118 , 0
25 , 0 '

)
`

+ =
d d S
f
n

(92)
- Untuk baris segaris:
0,15 -
mak
/ 13 , 1 43 , 0
Re
] / ) [(
/ 08 , 0
044 , 0 '
s
S d
n
p
p
d d S
d S
f

+ =
+

(93)
Berikut informasi tambahan untuk berkas tabung, dengan memperhitungkan korelasi
antara angka Reynolds dan angka Prandtl sebagai angka Nusselt:

4 / 1
36 , 0
,
Pr
Pr
Pr Re
|
|
.
|

\
|
= =
w
n
maks d
C
k
d h
Nu (94)
di mana semua sifat, kecuali Pr
w
, dievaluasi pada T

dan nilai konstanta yang diberikan dalam


Daftar 4 (di lampiran) untuk tabung yang lebih besar dari 20 baris. Persamaan ini berlaku untuk
0,7 < Pr < 500 dan 10 < Re
d,maks
< 10
6
. Untuk gas, rasio angka Pradtl tidak berpengaruh banyak
dan dapat diabaikan. Harap diperhatikan bahwa angka Re didasarkan atas kecepatan maksimum
di dalam rangkunan tabung. Untuk tabung kurang dari 20 baris pada arah aliran, faktor koreksi
pada Daftar 6 (di lampiran) harus diterapkan.
Berdasarkan penjelasan di atas, terlihat bahwa susunan (layout) dari tabung
mempengaruhi besarnya kalor yang dipertukarkan. Berikut adalah penjelasannya: Besarnya kalor
yang dipertukarkan (q) dipengaruhi oleh suatu nilai h, dengan persamaan sebagai berikut:
q = h A AT (95)
di mana nilai h untuk rangkunan tabung dapat dicari dengan persamaan (90) yang merupakan
persamaan umum untuk aliran dalam rangkunan tabung. Pada persamaan tersebut terlihat bahwa
nilai h dipengaruhi oleh nilai konstanta C dan eksponen n yang ditentukan menurut parameter
geometri yang digunakan untuk menggambarkan susunan berkas tabung. Data daftar 3
menyangkut rangkunan tabung yang mempunyai 10 baris atau lebih pada arah aliran. Jika jumlah
tabung dalam baris lebih sedikit, maka perbandingan nilai h untuk baris N tabung terhadap baris
10 tabung diberikan pada Daftar 4. Untuk tabung yang kurang dari 20 baris pada arah aliran,
faktor koreksi dalam daftar 6 (lampiran) harus diterapkan. Dengan demikian, susunan berkas
tabung yang berbeda akan mempunyai nilai konstanta C dan eksponen n yang berbeda sehingga
akan mempengaruhi nilai h dan besarnya kalor yang dipertukarkan (q).