Anda di halaman 1dari 4

INI DIA KISAH TENTANG JIN YANG MENGASYIKAN

DAN MENDEBARKAN !!!


Moeflich HasbullahA

Ini kisah nyata dialami sahabat saya. Atas izinnya, saya menuliskannya
untuk berbagi cerita dengan Anda yang mudah-mudahan bisa meningkatkan keimanan. Demi
kenyamanannya, tentu saya tidak akan menyebutkan namanya (rahasia perusahaan dong!).
Sebutlah namanya Ahmad. Ia seorang yang istimewa. Mudah keluar air matanya bila mengingat
Allah dan merasakan hal-hal yang menyentuh hatinya, sering basah matanya dalam shalatnya,
sudah tidak mencintai dunia (uang, materi dan selera). Bila pun punya uang, selalu bukan buat
dirinya, tapi untuk orang lain yang lebih memerlukannnya. Hatinya bersih. Kuat tidak tidur dan
tidak makan berhari-hari. Tidak takut oleh manusia, siapapun, bila menyangkut kebenaran yang
ia bela. Ia orang yang tauhidnya terjaga dan, saya lihat, sangat dekat dengan Allah SWT melebihi
kita pada umumnya. Ia sudah kasyaf dan sebagai seorang mukasyafah, ia diberi anugrah oleh
Allah bisa melihat alam ruh. Karena itu, ia pun bisa bertemu dengan ruh mursyidnya yang
sudah wafat. Tentu, kemampuannya pun banyak dan luar biasa (saya tidak perlu
menceritakannya disini). Ia orang yang sudah sangat spiritual. Dalam cerita ini, semua nama
yang saya sebutkan, bukan nama aslinya.
Ahmad sahabat saya ini, sudah hampir setahun, sejak mengalami kasyaf (tersibaknya alam
ruhani atau tabir spiritual) biasa berdialog dengan gurunya bernama Syekh Habib Syarwani,
yang sudah wafat 10 tahun yang lalu. Syekh Habib semasa hidupnya adalah seorang ulama
hikmah, dikenal sebagai guru spiritual, seorang mukasyafah, seorang penasehat agama dan
kebenaran yang terpercaya. Syekh Habib dipercaya sebagai wali dengan kehebatan karomah-
keromahnya. Ia tidak suka meramal-ramal seperti dukun-dukun atau ahli hikmah lainnya.
Tauhidnya lurus kepada Allah SWT. Semua kalangan dari orang biasa hingga orang-orang
pentingnya mengakuinya sebagai guru, penasehat yang lurus dan menyentuh. Syekh Habib
memiliki ilmu hikmah yang luar biasa.
Ditawari Menikah dengan Jin
Sejak Ahmad menjadi kasyaf, ruh gurunya terus membimbing hidupnya secara ruhani. Menurut
Ahmad, suatu malam, ruh gurunya didampingi beberapa muridnya di alam sana, menawarinya
sesuatu: Ahmad, ini ada Jin Muslim diantara kita, namanya Syekh Maulawi. Ia berumur 400
tahun. Ia mempunyai putri namanya Fatimah, umurnya 200 tahun. Fatimah masih gadis. Syekh
Maulawi tertarik padamu, pada keshalehanmu dan kekuatanmu dalam memeluk agama. Kami
semua disini menawarkan padamu untuk menikahi Fatimah binti Maulawi. Bagaimana
pendapatmu? Silahkan fikirkan dan pertimbangkan.
Tentu Ahmad kaget luar biasa. Menikah dengan jin? Tidak pernah terbayang sedikitpun dalam
hidupnya akan menikah dengan jin. Ini sangat mengagetkan dan baru mengalami tawaran seperti
ini. Mendengar pun, pernikahan antar manusia dan jin, belum pernah. Mau menolak, ia sangat
takzim pada Syekh sebagai gurunya lahir batin sejak hidupnya. Menyatakan mau juga tidak
terbayang bagaimana jadinya nanti. Wajar ia sangat bingung. Anda juga akan bingung ditawari
sesuatu yang kurang berkenan oleh seseorang yang sangat Anda hormati. Ya kan?? Mau ditolak,
Anda sangat hormat padanya. Syusyah .!! Demikian pula yang terjadi pada Ahmad. Dalam
kebingungannya, ia mendesah:
Menurut Syekh bagaimana?
Ini hanya tawaran. Bersedia syukur, tidak pun tidak apa-apa.
Menurut Islam bagaimana? Saya kan manusia. Tanya Ahmad lagi ingin tahu bagaimana dari
sudut hukum agama.
Tidak ada larangan. Jawab gurunya pendek.
Pikiran Ahmad masih terus diliputi kebingungan. Selama berbulan-bulan sejak ia bisa berdialog
dengan gurunya tersebut secara ruhani, Ahmad sudah terbiasa melihat jin. Oleh jin-jin kafir yang
buruk rupa, yang wajahnya semrawut, tidak beraturan, sering sekali menggoda perjalanannya
agar niatnya menemui dan berguru kepada Syekh Syarwani mundur, batal dan tidak jadi. Ini
adalah ujian beratnya. Ia harus mengalahkan godaan-godaan makhlus halus itu. Awalnya, kaget
luar biasa dan sangat takut ketika ia mampu melihat sosok jin-jin itu. Ada yang menertawakan
perjalannya sambil bergelantungan di sebuah pohon di tengah malam, ada yang menghalangi
jalan kakinya, ada yang menumpangi motor yang dikendarainya di jok belakang, ada yang
menebarkan bau busuk, ada yang menyerupai wanita cantik dan telanjang bulat mengajaknya
bersetubuh, ada yang menirukan suara ibunya atau istrinya memanggil-manggilnya ketika
sedang berjalan. Semua itu terjadi antara jam 11.30 malam hingga jam 04.00 subuh ketika ia
sering berjalan kaki ke sebuah tempat pertemuan dengan gurunya.
Lama-kelamaan matanya jadi biasa dan tidak kaget melihat jin-jin penggoda itu. Mereka selalu
muncul setiap malam di tengah perjalanan ketika Ahmad menemui gurunya di tempat tersebut.
Mereka menggoda dan menakut-nakutinya. Oleh keyakinannya kepada Allah, bahwa mereka
lebih rendah dari manusia, Ahmad tidak takut bahkan semakin berani mengusirnya dan bahkan
sering menantangnya untuk tarung karena kesal. Kebanyakan jin-jin penggoda itu kabur,
mangpret, ngacir ketakutan setelah dibacakan ayat-ayat Quran seperti ayat kursi.
Tetapi, bukan hanya jin kafir yang buruk-buruk rupa itu yang dia lihat. Sering juga jin-jin
Muslim menyapanya. Mereka ini sosoknya lain. Tubuhnya ada yang wangi, bersih, tampan dan
cantik, tapi ukurannya tinggi-tinggi dan besar-besar. Umurnya ratusan tahun. Ada yang sedang
memegang tasbih berdzikir kepada Allah, ada yang sedang khusyu beribadah dan sebagainya.
Melihat mereka, Ahmad sudah biasa. Tetapi, ditawari menikahi dengan jin yang berbeda jasad,
beda dunia, beda alam, sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya.
Akhirnya bakti dan hormat pada gurunya mengalahkan keraguan dirinya. Bagi Ahmad, Syekh
Habib Syawani di alam ruh, atas izin Allah, masih mengajarkan ilmu dan telah membukakan
kasyafnya, yang membuatnya bisa melihat dan berdialog langsung dengannya. Ahmad akhirnya
menyatakan siap dengan hati bulat, ikhlas dan pasrah. Singkat cerita, proses pernikahan pun
dilangsungkan. Disaksikan gurunya dan ruh-ruh yang hadir, dengan suasana sangat khidmat,
Ahmad dinikahkan dengan Fatimah binti Maulawi, seorang gadis jin Muslimah, berumur 200
tahun. Mas kawinnya? Cukup hanya membaca surat Al-Fatihah. Mertuanya bernama Syekh
Maulawi adalah jin yang sangat dihormati di kalangan jin Muslim di alamnya. Resmilah mereka
sebagai pasangan suami istri.
Bagaimana gambaran dan kesan Ahmad tentang Fatimah, istrinya di alam jin itu? Ia
menceritakannya kepada saya. Ia memakai kerudung dan masya Allaah cantiknya luar biasa.
Tubuhnya harum. Tingginya sekitar 4 meter. Setelah nikah, saya memangilnya ummi, dia
memanggil abi. Sikapnya tawadhu luar biasa kepada suami, bahasanya santun, sifatnya halus dan
kecantikannya belum pernah saya lihat pada manusia. Saya belum pernah melihat wajah secantik
itu.
Beberapa hari dari itu, Ahmad bercerita tentang bulan madunya. Walaupun tinggi Fatimah
sekitar 4 meter, tapi ketika berfungsi sebagai istri dan menemui suaminya, ia merubah ukurannya
menjadi ukuran manusia biasa, normal. Suatu saat, Ahmad memulai ceritanya, ia diajak Fatimah
berjalan-jalan, berkeliling ke alamnya. Alam jin tidak jauh berbeda dengan alam manusia. Ada
pengajian, ada sekolah, kampus, masjid dan bangunan-bangunan lain. Sama dengan manusia,
mereka memiliki peradaban. Tapi, itu peradaban jin. Bedanya, bentuknya aneh-aneh, berbeda
dengan di alam manusia. Ahmad sangat sadar alias bukan mimpi. Selama berkeliling,
perasaannya dipenuhi aneh dan aneh, takjub dan takjub, heran dan heran atas apa yang
dialaminya di alam yang berbeda. Akhirnya ia tiba di sebuah rumah, ternyata rumahnya Fatimah.
Tinggi, luas, bentuknya aneh, tidak seperti rumah yang ada di alam manusia. Kamar Fatimah
harum dan bersih. Barang-barang tertata rapih. Di atas tempat tidur, mereka ngobrol dan
bercumbu. Selain sangat cantik, tubuh Fatimah tercium harum dan bercahaya. Maklum ia jin
yang taat ibadah. Singkatnya, aneh juga, Ahmad merasakan kepuasan persis seperti dengan
manusia, bahkan lebih. Kata Ahmad, Fatimah tidak akan pernah hamil. Persenggamaan jin dan
manusia tidak akan mengasilkan kehamilan, karena perbedaan zat makhluk. Manusia makhluk
fisik, sedangkan jin makhluk non fisik alias makhluk ghaib.
Sejak itu, kata Ahmad, Fatimah selalu datang dimana Ahmad memerlukannya. Ngobrol berdua
dengan penuh santun dan etika sebagai istri yang shaleh, sun tangan, menunduk dan tidak pernah
bersuara keras. Saling mengingatkan beribadah kepada Allah. Saling menasehati untuk sabar
dalam menghadapi masalah masing-masing. Tidak ada suasana sedikit pun dari Fatimah
mendominasi Ahmad dari istri aslinya yang manusia, yaitu istri pertamanya. Bahkan, dalam
banyak kesempatan, Fatimah selalu mendorong Ahmad untuk harmonis dengan istrinya dan
anak-anaknya, menyayangi dan memperhatikan keluarga. Kehadiran Fatimah, tidak sedikitpun
menggangu keberadaan keluarga Ahmad karena tidak ada nafkah yang harus dikeluarkan, tidak
ada waktu yang terambil. Nafkahnya paling doa. Perhatiannya bukan bentuk fisik, tapi ruhani.
Kemana Ahmad pergi, Fatimah bisa dipanggil dan datang, atau ia yang datang sendiri. Makanan
Fatimah sebagai jin Muslim dan makhluk adalah saripati-saripati makanan. Pernikahan itu kini
sudah berumur empat tahun lebih. Hingga sekarang tetap saja rukun dan damai. Ahmad merasa
sangat bahagia, demikian juga Fatimah. Kepada istri pertamanya, Ahmad tidak pernah
menceritakan peristiwa poligaminya ini karena tidak perlu dan tidak mengerti. Apalagi
menurut Ahmad, pandangan istrinya normatif, hitam putih. Menceritakannya pasti hanya akan
menimbulkan gangguan hubungan keduanya. Ahmad memilih merahasiakannya. Toh keluarga
tidak terganggu sedikitpun. Ahmad dan Fatimah hingga saat ini, keduanya adalah murid Syekh
Habib yang sampai sekarang sering hadir dalam pengajian yang berisi nasehat-nasehat gurunya
tersebut, tentu pengajian secara ruhani, yang orang awam seperti kita tidak akan bisa
memahaminya.
Penutup dan Pesan
Demikianlah, menikah dengan jin bisa terjadi, tapi bukan syariat dan tidak dianjurkan oleh
agama. Tidak perlu dicontoh, apalagi menikahnya dengan tujuan-tujuan sesat seperti dilakukan
sebagian orang yang menginginkan kekayaan, kesaktian, kekebalan dll. Ahmad maupun Fatimah
dalam peristiwa di atas, keduanya tidak menginginkan, merencanakan dan membayangkannya
sama sekali. Ahmad bersedia karena ditawari gurunya, Fatimah karena tawaran Bapaknya yaitu
Syekh Habib Maulawi. Pernikahan mereka dilandasi agama dan tauhid kepada Allah SWT.
Tidak ada kemusyrikan didalamnya, tidak atas dasar lain-lain. Itu takdir saja dari Allah SWT.
Tanpa izin-Nya, segala sesuatu tidak akan terjadi. Wallahualam[] (Moef)