Anda di halaman 1dari 13

STRUKTUR RUANG KOTA

Struktur kota dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu struktur ekonomi kota dan struktur intern
kota. Struktur ekonomi kota berkaitan dengan kegiatan ekonomi penduduk kota, sedang
struktur intern kota berkaitan dengan struktur bangunan dan demografis
a. Struktur Ekonomi Kota
Wilayah kota menjadi tempat kegiatan ekonomi penduduknya di bidang jasa, perdagangan, industri, dan
administrasi. Selain itu, wilayah kota menjadi tempat tinggal dan pusat pemerintahan. Kegiatan
ekonomi kota dapat dibedakan menjadi dua sebagai berikut.
1) Kegiatan Ekonomi Dasar
Kegiatan ini meliputi pembuatan dan penyaluran barang dan jasa untuk keperluan luar kota atau dikirim
ke daerah sekitar kota. Produk yang dikirim dan disalurkan berasal dari industri, perdagangan, hiburan,
dan lainnya.
2) Kegiatan Ekonomi Bukan Dasar
Kegiatan ini meliputi pembuatan dan penyaluran barang dan jasa untuk keperluan sendiri. Kegiatan ini
disebut juga dengan kegiatan residensial dan kegiatan pelayanan. Kegiatan ekonomi kota dapat berupa
industri dan kegiatan jasa atau fasilitas yang tidak memerlukan lahan yang luas. Kegiatan ini
menyebabkan kota berpenduduk padat, jarak bangunan rapat, dan bentuk kota kompak.

Struktur kota dipengaruhi oleh jenis mata pencaharian penduduknya. Mata pencaharian penduduk kota
bergerak di bidang nonagraris, seperti perdagangan, perkantoran, industri, dan bidang jasa lain. Dengan
demikian, struktur kota akan mengikuti fungsi kota. Sebagai contoh, suatu wilayah direncanakan
sebagai kota industri, maka struktur penduduk kota akan mengarah atau cenderung ke jenis kegiatan
industri.

Pada kenyataan, jarang sekali suatu kota mempunyai fungsi tunggal. Kebanyakan kota juga merangkap
fungsi lain, seperti kota perdagangan, kota pemerintahan, atau kota kebudayaan. Contoh: Yogyakarta
selain disebut kota budaya tetapi juga disebut sebagai kota pendidikan dan kota wisata.

Di daerah kota terdapat banyak kompleks, seperti apartemen, perumahan pegawai bank, perumahan
tentara, pertokoan, pusat perbelanjaan (shopping center), pecinan, dan kompleks suku tertentu.
Kompleks tersebut merupakan kelompok-kelompok (clusters) yang timbul akibat pemisahan lokasi
(segregasi).

Segregasi dapat terbentuk karena perbedaan pekerjaan, strata sosial, tingkat pendidikan, suku, harga
sewa tanah, dan lainnya. Segregasi tidak akan menimbulkan masalah apabila ada pengertian dan
toleransi antara pihak-pihak yang bersangkutan. Munculnya segregasi di kota dapat direncanakan
ataupun tidak direncanakan. Kompleks perumahan dan kompleks pertokoan adalah contoh segregasi
yang direncanakan pemerintah kota.

Bentuk segregasi yang lain adalah perkampungan kumuh/slum yang sering tumbuh di kota-kota besar
seperti Jakarta. Rendahnya pendapatan menyebabkan tidak adanya kemampuan mendirikan rumah
tinggal sehingga terpaksa tinggal di sembarang tempat. Kompleks seperti ini biasanya ditempati oleh
kaum miskin perkotaan. Permasalahan seperti ini memerlukan penanganan yang bijaksana dari
pemerintah.


b. Struktur Intern Kota

Pertumbuhan kota-kota di dunia termasuk di Indonesia cukup pesat. Pertumbuhan suatu kota dapat
disebabkan oleh pertambahan penduduk kota, urbanisasi, dan kemajuan teknologi yang membantu
kehidupan penduduk di kota. Wilayah kota atau urban bersifat heterogen ditinjau dari aspek struktur
bangunan dan demografis. Susunan, bentuk, ketinggian, fungsi, dan usia bangunan berbeda-beda.

Mata pencaharian, status sosial, suku bangsa, budaya, dan kepadatan penduduk juga bermacam-
macam. Selain aspek bangunan dan demografis, karakteristik kota dipengaruhi oleh berbagai faktor
seperti topografi, sejarah, ekonomi, budaya, dan kesempatan usaha. Karakteristik kota selalu dinamis
dalam rentang ruang dan waktu.





Apabila dilihat sekilas wajah suatu kota, maka akan banyak susunan yang tidak beraturan. Akan tetapi,
apabila diamati dengan cermat maka akan dijumpai bentuk dan susunan khas yang mirip dengan kota-
kota lain.

Misalnya, kota A berbentuk persegi empat, kota B berbentuk persegi panjang, dan kota C berbentuk
bulat. Begitu juga dalam susunan bangunan kota terjadi pengelompokan berdasarkan tata guna lahan
kota.

Jadi, suatu kota memiliki bentuk dan susunan yang khas. Apabila kamu mengamati kota berdasarkan
peta penggunaan lahan, maka kamu akan mendapatkan berbagai jenis zona, seperti zona perkantoran,
perumahan, pusat pemerintahan, pertokoan, industri, dan perdagangan. Zona-zona tersebut menempati
daerah kota, baik di bagian pusat, tengah, dan pinggirannya.

Zona perkantoran, pusat pemerintahan, dan pertokoan menempati kota bagian pusat atau tengah. Zona
perumahan elite cenderung memiliki lokasi di pinggiran kota. Sedang zona perumahan karyawan dan
buruh umumnya berdekatan dengan jalan penghubung ke pabrik atau perusahaan tempat mereka
bekerja.

Para geograf dan sosiolog telah melakukan penelitian berkaitan dengan persebaran zona-zona suatu
kota. Penelitian itu bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan persebaran spasial kota.

TEORI - TEORI STRUKTUR KOTA
04.46 No comments
1) Teori Konsentris (Concentric Theory)
Teori konsentris dari Ernest W. Burgess, seorang sosiolog beraliran human ecology, merupakan hasil
penelitian Kota Chicago pada tahun 1923. Menurut pengamatan Burgess, Kota Chicago ternyata telah
berkembang sedemikian rupa dan menunjukkan pola penggunaan lahan yang konsentris yang
mencerminkan penggunaan lahan yang berbeda-beda.

Burgess berpendapat bahwa kota-kota mengalami perkembangan atau pemekaran dimulai dari
pusatnya, kemudian seiring pertambahan penduduk kota meluas ke daerah pinggiran atau menjauhi
pusat. Zona-zona baru yang timbul berbentuk konsentris dengan struktur bergelang atau melingkar.

Berdasarkan teori konsentris, wilayah kota dibagi menjadi lima zona sebagai berikut.



Teori Burgess sesuai dengan keadaan negara-negara Barat (Eropa) yang telah maju penduduknya. Teori
ini mensyaratkan kondisi topografi lokal yang memudahkan rute transportasi dan komunikasi.

2) Teori Sektoral (Sector Theory)
Teori sektoral dikemukakan oleh Hommer Hoyt. Teori ini muncul berdasarkan penelitiannya pada tahun
1930-an. Hoyt berkesimpulan bahwa proses pertumbuhan kota lebih berdasarkan sektorsektor daripada
sistem gelang atau melingkar sebagaimana yang dikemukakan dalam teori Burgess. Hoyt juga meneliti
Kota Chicago untuk mendalami Daerah Pusat Kegiatan (Central Business District) yang terletak di pusat
kota.

Ia berpendapat bahwa pengelompokan penggunaan lahan kota menjulur seperti irisan kue tar. Mengapa
struktur kota menurut teori sektoral dapat terbentuk? Para geograf menghubungkannya dengan kondisi
geografis kota dan rute transportasinya. Pada daerah datar memungkinkan pembuatan jalan, rel kereta
api, dan kanal yang murah, sehingga penggunaan lahan tertentu, misalnya perindustrian meluas secara
memanjang. Kota yang berlereng menyebabkan pembangunan perumahan cenderung meluas sesuai
bujuran lereng.



3) Teori Inti Ganda (Multiple Nucleus Theory)
Teori ini dikemukakan oleh Harris dan Ullman pada tahun 1945. Kedua geograf ini berpendapat,
meskipun pola konsentris dan sektoral terdapat dalam wilayah kota, kenyataannya lebih kompleks dari
apa yang dikemukakan dalam teori Burgess dan Hoyt.


Pertumbuhan kota yang berawal dari suatu pusat menjadi bentuk yang kompleks. Bentuk yang
kompleks ini disebabkan oleh munculnya nukleus-nukleus baru yang berfungsi sebagai kutub
pertumbuhan. Nukleus-nukleus baru akan berkembang sesuai dengan penggunaan lahannya yang
fungsional dan membentuk struktur kota yang memiliki sel-sel pertumbuhan.

Nukleus kota dapat berupa kampus perguruan tinggi, Bandar udara, kompleks industri, pelabuhan laut,
dan terminal bus. Keuntungan ekonomi menjadi dasar pertimbangan dalam penggunaan lahan secara
mengelompok sehingga berbentuk nukleus. Misalnya, kompleks industri mencari lokasi yang berdekatan
dengan sarana transportasi. Perumahan baru mencari lokasi yang berdekatan dengan pusat
perbelanjaan dan tempat pendidikan.

Harris dan Ullman berpendapat bahwa karakteristik persebaran penggunaan lahan ditentukan oleh
faktor-faktor yang unik seperti situs kota dan sejarahnya yang khas, sehingga tidak ada urut-urutan
yang teratur dari zona-zona kota seperti pada teori konsentris dan sektoral. Teori dari Burgess dan Hoyt
dianggap hanya menunjukkan contoh-contoh dari kenampakan nyata suatu kota.

4) Teori Konsektoral (Tipe Eropa)
Teori konsektoral tipe Eropa dikemukakan oleh Peter Mann pada tahun 1965 dengan mengambil lokasi
penelitian di Inggris. Teori ini mencoba menggabungkan teori konsentris dan sektoral, namun
penekanan konsentris lebih ditonjolkan.


5) Teori Konsektoral (Tipe Amerika Latin)
Teori konsektoral tipe Amerika Latin dikemukakan oleh Ernest Griffin dan Larry Ford pada tahun 1980
berdasarkan penelitian di Amerika Latin. Teori ini dapat digambarkan sebagai berikut.



6) Teori Poros
Teori poros dikemukakan oleh Babcock (1932), yang menekankan pada peranan transportasi dalam
memengaruhi struktur keruangan kota. Teori poros ditunjukkan pada gambar sebagai berikut.



7) Teori Historis
Dalam teori historis, Alonso mendasarkan analisisnya pada kenyataan historis yang berkaitan dengan perubahan
tempat tinggal penduduk di dalam kota. Teori historis dari Alonso dapat digambarkan sebagai berikut.



Dari model gambar di depan menunjukkan bahwa dengan meningkatnya standar hidup masyarakat yang semula
tinggal di dekat CBD disertai penurunan kualitas lingkungan, mendorong penduduk untuk pindah ke daerah
pinggiran (a). Perbaikan daerah CBD menjadi menarik karena dekat dengan pusat segala fasilitas kota (b).
Program perbaikan yang semula hanya difokuskan di zona 1 dan 2, melebar ke zona 3 yang menarik para
pendatang baru khususnya dari zona 2 (c).

Sumber: http://ssbelajar.blogspot.com/2012/12/struktur-ruang-kota.html


Teori Konsentris
Teori Konsentris
Menurut Teori Konsentris (Burgess,1925) DPK atau CBD adalah pusat kota yang letaknya tepat di
tengah kota dan berbentuk bundar yang merupakan pusat kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan
politik, serta merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tinggi dalam suatu kota. DPK atau CBD
tersebut terbagi atas dua bagian, yaitu: pertama, bagian paling inti atau RBD (Retail Business District)
dengan kegiatan dominan pertokoan, perkantoran dan jasa; kedua, bagian di luarnya atau WBD
(Wholesale Business District) yang ditempati oleh bangunan dengan peruntukan kegiatan ekonomi
skala besar, seperti pasar, pergudangan (warehouse), dan gedung penyimpanan barang supaya
tahan lama (storage buildings).
Model zona konsentrik atau Teori konsentris adalah teori mengenai perencanaan perkotaan yang
dikembangkan oleh seorang sosiolog asal Amerika Serikat bernama Ernest Burgess berdasarkan
hasil penelitiannya terhadap kota Chicago yang dilakukan pada tahun 1925.Burgess menyimpulkan
bahwa wilayah perkotaan dapat dibagi menjadi enam zona
Model yang paling terkenal dari area sosial urban ini direncanakan oleh E.W Burgess di tahun 1923
dan telah dikenal sebagai Zona l atau Teori Konsentris. Model ini didasarkan pada konsep bahwa
perkembangan sebuah kota terjadi ke arah luar dari area sentralnya, untuk membentuk serangkaian
zona-zona konsentris. Zona ini dimulai dengan Central Business District, yang dikelilingi dengan area
transisi. Kemudian zona transisi ini dikelilingi oleh zona perumahan pekerja. Lebih jauh dari pusat
kota adalah hunian yang lebih luas, ditempati oleh kelompok-kelompok kelas menengah. Terakhir
adalah zona komuter yang terletak di luar area built up kota, batas terluarnya merupakan satu jam
perjalanan dari pusat kota, dimana sejumlah besar populasi zona ini bekerja. Pada prakteknya,
banyak kota-kota menunjukkan sebuah bentuk bintang (star-shaped) daripada konsentris, dengan
perkembangan urban didorong untuk terjadi di sepanjang highway (jalan tol) yang menyebar dari
pusat kotanya dan tipe berlawanan atau pemanfaatan lahan urban yang ditemukan diantara jalan-
jalan utama. Teori ini juga telah dimodifikasi oleh pernyataan bahwa wilayah urban yang identik tidak
diharapkan berada dalam zona konsentris, tapi jenis tipe pemanfaatan lahan tersebut cenderung
terjadi pada jarak yang sama dari pusat, seringkali dalam bentuk tambal sulam (patches) daripada
membentuk ring yang kontinyuKota Multi-Pusat Teori konsentris dan teori sektor memiliki kelebihan
dalam kesederhanaannya yang atraktif, tapi situasi dalam kebanyakan kota mungkin terlalu rumit
untuk dicakup dalam sebuah generalisasi yang mudah dipahami. Sebagai akibatnya, teori-teori
tersebut telah dirancang dengan rumit, memberikan hasil yang lebih mirip dengan realitas, tapi pada
waktu yang sama menjadi kurang jelas daripada pernyataan sebelumnya. Salah satu contoh dari
perancangan ini adalah Teori Multi Nuclei , yang dikembangkan oleh dua ahli geografi, C.D Harris
dan E. Ullman, di tahun 1945. Teori ini menyatakan bahwa kota-kota memiliki struktur seluler, dimana
tipe pemanfaatan lahan telah dikembangkan disekeliling titik pertumbuhan tertentu, atau nuclei, di
dalam area urban. Pengelompokan pemanfaatan lahan khusus di sekeliling nuclei ini telah didorong
oleh empat faktor, yang mempengaruhi distribusi aktivitas-aktivimanusia di dalam sebuah kota dalam
berbagai cara. Untuk memulainya, aktivitas-aktivitas tertentu membutuhkan fasilitas-fasilitas tertentu
pula, baik yang ditemukan secara alami atau dibuktikan di kemudian hari oleh usaha manusia. Lokasi
Central Business District pada titik aksesibilitas maksimal memberikan sebuah ilustrasi faktor ini. Atau
sekali lagi, aktivitas-aktivitas tertentu mengelompok bersama karena mereka mendapatkan profit dari
kohesi, sebuah contoh mengelompokkan industri pakaian jadi dalam distrik dalam (inner district) di
beberapa kota besar. Aktivitas-aktivitas lain saling mengganggu satu sama lain dan normalnya tidak
ditemukan dalam penyejajaran yang dekat: sebagai contoh, industri berat dan area residensial kelas-
atas jarang ditempatkan saling berdekatan. Terakhir, aktivitas-aktivitas tertentu tidak dapat
menjangkau sewa di lokasi-lokasi yang paling diinginkan: lokasi area perumahan yang lebih murah
atau fasilitas penyimpanan besar memberikan contoh faktor ini dalam sebuah operasional. Ide multi
nuclei mengakui fakta bahwa geografi internal kota memberikan pengaruh yang besar terhadap
keganjilan lokasi-lokasi individualnya, serta operasi dari kekuatan ekonomi dan sosial yang lebih
umum. Di dalam teori Multi Nuclei pula, sejarah kota-kota individual juga dilihat sebagai sebuah faktor
yang penting dalam membentuk perkembangan urban. Apapun alasan kemunculannya, setelah
nuclei untuk berbagai tipe aktivitas telah dikembangkan, faktor umum akan mendorong aktivitas
urban tersebut menjadi pemanfaatan lahan yang mengkonfirmasikan dan mengembangkan pola yang
sudah ada. Baik teori Konsentris maupun teori Sektor berasumsi bahwa sebuah kota yang khas akan
tumbuh di sekeliling satu pusat tunggal; dan bahkan diagram dimana Harris dan Ullman
mengilustrasikan teori Multiple Nuclei mereka membuat asumsi yang sama, meski jelasnya ide
mereka dapat diaplikasikan pada contoh-contoh yang lebih kompleks

Karakteristik masing-masing zona dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Zona 1 Daerah Pusat Kegiatan (DPK) atau Central Business District (CBD)
Daerah ini merupakan pusat dari segala kegiatan kota antara lain sebagai pusat kehidupan sosial,
ekonomi, budaya dan politik, serta merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tinggi dalam suatu
kota. CBD tersebut terbagi atas dua bagian, yaitu: pertama, bagian paling inti atau RBD (Retail
Business District) dengan kegiatan dominan pertokoan, perkantoran dan jasa; kedua, bagian di
luarnya atau WBD (Wholesale Business District) yang ditempati oleh bangunan dengan peruntukan
kegiatan ekonomi skala besar, seperti pasar, pergudangan (warehouse), dan gedung penyimpanan
barang supaya tahan lebih lama (storage buildings).

2. Zone 2: Daerah Peralihan (DP) atau Transition Zone (TZ)
Zona ini merupakan daerah yang mengalami penurunan kualitas lingkungan permukiman yang terus-
menerus dan makin lama makin hebat. Penyebabnya antara lain karena adanya intrusi fungsi yang
berasal dari zona pertama sehingga perbauran permukiman dengan bangunan bukan untuk
permukiman seperti gudang kantor dan lain-lain sangat mempercepat terjadinya deteriorisasi
lingkungan permukiman. Perdagangan dan industri ringan dari zona pertama, banyak mengambil
daerah permukiman. Proses subdivisi yang terus-menerus, intrusi fungsi-fungsi dari zona pertama
mengakibatkan terbentuknya slums area (daerah permukiman kumuh) yang semakin cepat dan
biasanya berasosiasi dengan areas of poverty, degradation and crime. Disamping menjalarnya
bridgeheaders ke zona ini nampak pula outflow dari penduduk yang sudah mampu ekonominya
(consolidator) atau yang tidak puas dengan kondisi lingkungan keluar daerah.
3. Zone 3: Zona perumahan para pekerja yang bebas (ZPPB) atau Zone of independent
workingmens homes
Zona ini paling banyak ditempati oleh perumahan pekerja-pekerja baik pekerja pabrik, industri dan
lain sebagainya. Di antaranya adalah pendatang-pendatang baru dari zona kedua, namun masih
menginginkan tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerjanya. Belum terjadi invasi dari fungsi
industri dan perdagangan ke daerah ini karena letaknya masih dihalangi oleh zona peralihan. Kondisi
permukimannya lebih baik dibandingkan dengan zona kedua walaupun sebagian besar penduduknya
masuk dalam kategori low-medium status.
4. Zone 4: Zona permukiman yang lebih baik (ZPB) atau Zone of Better
Residences (ZBR)
Zona ini dihuni oleh penduduk yang berstatus ekonomi menengah-tinggi, walaupun tidak berstatus
ekonomi sangat baik, namun mereka kebanyakan mengusahakan sendiri business kecil-kecilan,
para profesional, para pegawai, dan lain sebagainya. Kondisi ekonomi umumnya stabil sehingga
lingkungan permukimannya menunjukan derajad keteraturan yang cukup tinggi. Fasilitas permukiman
terencana dengan baik sehingga kenyamanan tempat tinggal dapat dirasakan pada zona ini.
5. Zone 5: Zona para penglaju (ZP) atau Commuters Zone (CZ)
Timbulnya penglaju merupakan suatu akibat adanya proses desentralisasi permukiman sebagai
dampak sekunder dari aplikasi teknologi di bidang transportasi dan komunikasi. Di daerah pinggiran
kota mulai bermunculan perkembangan permukiman baru yang berkualitas tinggi sampai luxurious.
Kecenderungan penduduk yang oleh Turner (1970) disebut sebagai status seekers ini memang
didorong oleh kondisi lingkungan daerah asal yang dianggap tidak nyaman dan tertarik oleh kondisi
lingkungan zone 5 yang menjanjikan kenyamanan hidup. Oleh karena zona-zona tercipta ini sebagai
akibat interaksi-interaksi dan interrelasi elemen-elemen sistem kehidupan perkotaan dan mengenai
kehidupan manusia, maka sifatnyapun sangat dinamis dan tidak stabil.
Pembagian zone menurut Teori Konsentris :
Daerah pusat kegiatan
Zona peralihan
Zona perumahan para pekerja
Zona permukiman yang lebih baik
Zona para penglaju
Kelompok yang menolak Teori Konsentris :
Davie
Hatt
Alasan penolakan terhadap Teori Konsentris :
Ada pertentangan antara gradeints dengan zonal boundaries
Homogenitas internal yang tidak sesuai dengan kenyataan
Skema yang anakronistik/out of date
Teorinya kurang bersifat universal

Kelompok yang mengembangkan Teori Konsentris :
Teori ketinggian bangunan (Bergel)
Teori Ketinggian Bangunan (Bergel, 1955). Teori ini menyatakan bahwa perkembangan struktur kota
dapat dilihat dari variabel ketinggian bangunan. DPK atau CBD secara garis besar merupakan daerah
dengan harga lahan yang tinggi, aksesibilitas sangat tinggi dan ada kecenderungan membangun
struktur perkotaan secara vertikal. Dalam hal ini, maka di DPK atau CBD paling sesuai dengan
kegiatan perdagangan (retail activities), karena semakin tinggi aksesibilitas suatu ruang maka ruang
tersebut akan ditempati oleh fungsi yang paling kuat ekonominya.

Teori sektor ( Hommer Hoyt)
Teori Konsektoral (Griffin dan Ford, 1980). Teori Konsektoral dilandasi oleh strutur ruang kota di
Amerika Latin. Dalam teori ini disebutkan bahwa DPK atau CBD merupakan tempat utama dari
perdagangan, hiburan dan lapangan pekerjaan. Di daerah ini terjadi proses perubahan yang cepat
sehingga mengancam nilai historis dari daerah tersebut. Pada daerah daerah yang berbatasan
dengan DPK atau CBD di kota-kota Amerika Latin masih banyak tempat yang digunakan untuk
kegiatan ekonomi, antara lain pasar lokal, daerah-daerah pertokoan untuk golongan ekonomi lemah
dan sebagian lain dipergunakan untuk tempat tinggal sementara para imigran.
Teori poros (Babcock)
Menitikberatkanpada peranan transportasidalam mempengaruhistruktur keruangan kota.Asumsi:
mobilitas fungsi-fungsi dan penduduk mempunyaiintensitasyang sama dan topografi kota
seragam.Faktorutama yang mempengaruhimobilitas adalah porostransportasiyang
menghubungkanCBD dengan daerah bagianluarnya.Aksesibilitas memperhatikanbiaya waktu dalam
sistem transportasiyang ada.Sepanjangporos transportasiakan mengalami perkembanganlebihbesar
dibanding zone diantaranya.Zone yang tidak terlayani dengan fasilitas transport yang cepat,akan
bersaing dalam

Teori pusat kegiatan banyak (Harris dan Ullman)
Menurut Harris dan Ullman dalam Daldjoeni (1992:158) menilai bahwa kota tidak seteratur
penggambaran Burgess karena antar kawasan kota seolah berdiri sendiri. Sruktur ruang kota tidaklah
sesederhana dalam teori konsentris. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya urutan-urutan yang teratur
yang dapat terjadi dalam suatu kota terdapat tempattempat tertentu yang befungsi sebagai inti kota
dan pusat pertumbuhan baru.

Teori ukuran kota (Taylor)
Model Burgess menurut Short (1984) adalah suatu model untuk kota yang mengalami migrasi besar-
besaran dan pasar perumahan didominasi oleh Private sector.
Ciri khas utama teori ini adalah adanya kecenderungan, dalam perkembangan tiap daerah dalam
cenderung memperluas dan masuk daerah berikutnya (sebelah luarnya). Prosesnya mengikuti
sebuah urutan-urutan yang dikenal sebagai rangkaian invasi (invasion succesion). Cepatnya proses
ini tergantung pada laju pertumbuhan ekonomi kota dan perkembangan penduduk. Sedangkan di
pihak lain, jika jumlah penduduk sebuah kota besar cenderung menurun, maka daerah disebelah luar
cenderung tetap sama sedangkan daerah transisi menyusut kedalam daerah pusat bisnis.
Penyusutan daerah pusat bisnis ini akan menciptakan daerah kumuh komersial dan perkampungan.
Sedangkan interprestasi ekonomi dari teori konsentrik menekankan bahwa semakin dekat dengan
pusat kota semakin mahal harga tanah.
Pusat kota adalah suatu titik/tempat/daerah pada suatu kota yang memiliki peran sebagai pusat dari
segala kegiatan kota antara lain politik, sosial budaya, ekonomi dan teknologi (Yunus 2002;107).
Peran tersebut dijalankan melalui jasa pelayanan yang diberikan oleh fasilitas-fasilitas umum maupun
sosial yang ada didalamnya. Oleh karena itu, suatu pusat kota harus memiliki kelengkapan fasilitas
yang baik dan memadai. Dalam kaitannya dengan peran dari sebuah pusat kota, maka teori
Christaller tentang ambang penduduk (Threshold Population) wilayah cakupan layanan (Market
Range) mengambil peranan penting. Fasilitas-fasilitas tersebut harus dapat melayani seluruh
penduduk kota, dan juga mencakup seluruh bagian wilayah kota.
Pertumbuhan maupun perkembangan yang terjadi pada suatu kota akan sangat mempengaruhi
kinerja dari pusat kota. Semakin luas suatu kota, maka akan semakin menambah beban yang
ditanggung oleh pusat kota. Hal tersebut berdampak langsung terhadap perkembangan pemanfaatan
lahan yang semakin terbatas di pusat kota, maka dari itu perlu diketahuinya mengenai pusat
pertumbuhan kota.
Pembentukan struktur kota merupakan imbas pertumbuhan besar-besaran dari populasi kota, yang
mana merupakan pengaruh dari munculnya arus transportasi, pejalan kaki, menggambarkan bahwa
ada 3 model struktur kota. Yang pertama adalah teori konsentris oleh Burgess, Teori Sektor oleh
Hoyt, dan Teori Pusat Kegiatan Banyak oleh C.D Harris dan F.L Ullmann. (Yunus 2002;124).

Pusat kota adalah suatu titik/tempat/daerah pada suatu kota yang memiliki peran
sebagai pusat dari segala kegiatan kota antara lain politik, sosial budaya, ekonomi dan
teknologi (Yunus 2002;107). Peran tersebut dijalankan melalui jasa pelayanan yang
diberikan oleh fasilitas-fasilitas umum maupun sosial yang ada didalamnya. Oleh karena
itu, suatu pusat kota harus memiliki kelengkapan fasilitas yang baik dan memadai.
Dalam kaitannya dengan peran dari sebuah pusat kota, maka teori Christaller tentang
ambang penduduk (Threshold Population) wilayah cakupan layanan (Market Range)
mengambil peranan penting. Fasilitas-fasilitas tersebut harus dapat melayani seluruh
penduduk kota, dan juga mencakup seluruh bagian wilayah kota.
Pertumbuhan maupun perkembangan yang terjadi pada suatu kota akan sangat
mempengaruhi kinerja dari pusat kota. Semakin luas suatu kota, maka akan semakin
menambah beban yang ditanggung oleh pusat kota. Hal tersebut berdampak langsung
terhadap perkembangan pemanfaatan lahan yang semakin terbatas di pusat kota, maka
dari itu perlu diketahuinya mengenai pusat pertumbuhan kota.
Pembentukan struktur kota merupakan imbas pertumbuhan besar-besaran dari populasi
kota, yang mana merupakan pengaruh dari munculnya arus transportasi, pejalan kaki,
menggambarkan bahwa ada 3 model struktur kota. Yang pertama adalah teori
konsentris oleh Burgess, Teori Sektor oleh Hoyt, dan Teori Pusat Kegiatan Banyak oleh
C.D Harris dan F.L Ullmann. (Yunus 2002;124).
A. Teori Konsentris
Daerah pusat kegiatan merupakan pusat kegiatan sosial, ekonomi, budaya dan politik
dalam sesuatu kota sehingga pada zona ini terdapat bangunan utama untuk kegiatan
sosial ekonomi budaya dan politik. Rute-rute transportasi dari segala penjuru memusat
ke zona ini sehingga zona ini merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tinggi. Zona
ini oleh Burgess 1925 dianggap sebagai The Area of Dominance. (Yunus 2002;5).

Disini terjadi proses persaingan dimana yang kuat akan mengalahkan yang
lemah yang kemudian mendominasi ruangnya. Kegiatan atau penduduk pada zona
tertentu akan mengekspansi pengaruhnya ke zona yang lain dan makin lama akan
terjadi proses dominasi dan akhirnya akan sampai pada tahap suksesi dimana seluruh
bentuk kehidupan sebelumnya secara sempurna telah tergantikan oleh bentuk-bentuk
baru.

B. Teori Sektor
Dengan menuangkan hasil penelitiannya pada pola konsentris sebagaimana
dikemukakan Burgess, ternyata pola sewa tempat tinggal di Amerika cenderung
terbentuk sebagai Pattern Of Sector dan bukannya pola zona konsentris.
Kecenderungan pembentukan sektor ini memang bukannya terjadi secara kebetulan
tetapi terlihat adanya asosiasi keruangan yang kuat dengan beberapa variabel.
Menurut Hoyt kunci terhadap peletakan sektor ini terlihat pada lokasi High Qualit
y Area. Kecenderungan penduduk untuk bertempat tinggal adalah daerah-
daerah yang dianggap nyaman dalam arti yang luas.
Nyaman dapat diartikan dengan kemudahan-
kemudahan terhadap fasilitas, kondisi lingkungan baik alami
maupun non alami yang bersih dari polusi baik fisikal
maupun non fisikal, prestise yang tinggi karena dekat dengan tempat tinggal orang-
orang terpandang dan sebagainya. (Yunus 2002;20).
Dalam teori ini terjadi proses filterisasi dari penduduk yang tinggal pada sektor-sektor
yang ada dan Filtering Process sendiri hanya berjalan dengan baik bila Private Housing
Market berperan besar dalam proses pengadaan rumah bagi warga kota atau
dengan kata lain dapat diungkapkan bila Public Housing Market berperanan besar
dalam pengadaan rumah maka proses penyaringan tidak relevan lagi. Untuk lebih
jelasnya mengenai teori sektoral dapat dilihat pada gambar dibawah ini.


Walaupun Better Housing tersebar mengikuti sektor-sektor tertentu namun ternyata
distribusi umur bangunan cenderung menunjukkan pola penyebaran konsentris.
Hal ini wajar karena pembangunan-
pembangunan baru, baik untuk perumahan atau
bukan perumahan pada umumnya berkembang kearah luar. Dengan demikian dap
at
dikatakan bahwa disatu sisi penyebaran bangunan rumah berdasarkan umur masi
h
terlihat konsentris, namun disisi lain penyebaran rumah berdasarkan kualitas fisik
mengikuti pola sektoral. Sejalan dengan kenyataan ini, teori Hoyt merupakan kar
ya
yang memperbaiki dan melengkapi teori Burgess dan bukannya berupa pengubaha
n
radikal dari teori konsentris. Dalam model diagram yang dikemukakan jelas sekali
terlihat adanya dua unsur diatas, yaitu persebaran penggunaan lahan secara sekt
oral disatu pihak dan persebaran penggunaan lahan secara konsentris dilain pihak.

C. Teori Pusat Kegiatan Banyak (Multiple Nuclei)
Teori ini menggambarkan bahwa kota-kota besar akan mempunyai struktur yang
terbentuk atas sel-sel, dimana penggunaan lahan yang berbeda-beda akan
berkembang disekitar titik-titik pertumbuhan atau Nuclei didalam daerah perkotaan.
Perumusan ide
ini pertamakali diusulkan oleh C.D Harris dan F.L Ullmann tahun 1945. (Yunus
2002;44)
Disamping menggabungkan ide-ide yang dikemukakan teori konsentris dan teori
sektor, teori pusat kegiatan banyak ini masih menambahkan unsur-
unsur lain. Yang
perlu diperhatikan adalah Nuclei yang mengandung pengertian semua unsur yang
menarik fungsi-fungsi antara lain pemukiman, perdagangan, industri, dll. Oleh
karenanya teori ini mempunyai struktur keruangan yang berbeda dengan teori
konsentris dan teori sektoral.



Sumber : Yunus, Hadi. 2002.Struktur Tata Ruang Kota. Penerbit Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.
Yunus, Hadi. 2005.Manajemen Kota. Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.