Anda di halaman 1dari 10

BAB 4

Peradaban Perekonomian pada Masa Bani Umayyah (41 H-/661-750 M)



A. Wilayah Pemerintah Bani Umayyah
Pemerintah Bani Umayyah lahir pasca kepemerintahan Khulafa Rasyidin,
sebuah pemerintahan yang diraih dengan berbagai cara kudeta dan menuai
kontroversi hebat antara Ali dan Muawiyah. Dikalangan sejarawan membagi
dinasti Umayyah menjadi dua yaitu: pertama, dinasti yang dirintis dan didirikan
olehMuawiyah InAbi Sufyan yang berpusat di Damaskus (Syiria). Pemerintahhan
ini berlangsung sekitar satu abad dan mengubah sistem pemerintahan dari sistem
khilafah menjadi sistem mamlakat (kerajaan atau monarki), kedua, di nasti
Umayyah Diandalusia (Liberia) yang awalnya adalah wilayah taklukan Umayyah
yang dipimpin oleh seorang gubernur pada Zaman Walid ibn Abd Al-Malik; dan
di ubah menjadi kerajaan yang terpisah dari kekuasaan dinasti bani Abbas setelah
berhasil menaklukan dinasti Umayyah di Damaskus.
Pemerintah bani Umawiyah dinisbatkan kepada Umayyah bin Abd Syams bin
Abdi Manaf, dia adalah salah seorang tokoh penting di tengah Quraisy pada masa
Jahiliyah. Akan tetapi pemerintahan Bani Umayyahmelakukan perlawannan
terhadap Rasulullah SAW. Dan dakwahnya, sedangkan bani Hasyim mendukung
Rasulullah SAW. Dan mengikutinya. Bani Umayyah tidak masuk islam, kecuali
setelah tidak ada jalan lain, mereka harus masuk islam, ini terjadi setelah
penaklukan kota Mekah.

1. Pola Administratif Pemerintah Umayyah
Muawiyyah merupakan orang pertama di islam yang mendirikan suatu
departemen pencatatan (diwanul-khatam). Dimana setiap peraturan yang
dikeluarkan oleh Khalifah harus disalin didalam suatu register, kemudian yang
asli harus disegel dan dikirimkan kealamat yang dituju. Dan tiap-tiap provinsi dia
mengankat seorang pejabat khusus dengan gelar sahibul-kharaj. Yang dimana
pejabat ini tidak terikat dengan gubernur, dan di angkat langsung oleh khalifah.
Muawiyyah meninggal dunia pada April 680M setelah memerintah imperium
islam selama kira-kira 20 tahun, dan masa pemerintah muawiyyah merupakan
masa kemakmuran dan kedamaian di dalam negri serta keberhasilan di luar negri.

2. Ekspansi pada Masa Umayyah
Ekspansi bani Umayyah dalam rangka memperluas wilayah kekuasaan, dilakukan
sebagai lanjutan dari ekspansi yang dilakukan oleh pemimpin islam sebelumnya.
Muawiyyah berhasil menaklukan Tunis, Khurasan sampai ke sungai Oxus dan
Afganistan sampai Kbul, angkatan laut Muawiyyah menyerang Konnstantinopel
(ibukota Bizantium). Ekspansi ini kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Abd Al-
Malik. Ia berhasil menundukan Balkh, Bukhara, Khawarizim, Fergana,
Samarkand, dan bahkan sampai ke india dengan menguasai Balukhistan, Sind,
dan daerah Punjab sampai sampai ke Mekah. Selain itu Walid ibn Abd Al-Malik
adalah khalifah yang berhasil mendundukan Maroko dan Al-Jazair.

3. Pendirian Umayyah di Andalusia (705-1031 M)
Andalusia adalah nama bagi Semenanjung Iberia pada zaman kejayaan Umayyah,
dan berasal dari Vandal yang berarti negri bangsa Vandal; karena Semenanjung
Iberia pernah di kuasai oleh bangsa Vandal sebelum terusir oleh bangsa Ghotia
Barat (abad V M), Umat islam pun mulai menaklukan Semenanjung Ibera pada
zaman Khalifah al-Wlid ibn Abd al-Malik (86-96 H/ 705-715 M.)
Ekspansi pasukan muslim ke semenanjung Ibera (Andalusia), gerbang barat dan
Daya Erofa, merupakan serangan terakhir dan paling dramatis dari seluruh oprasi
militer penting yang dijalankan orang-orang Arab. Dari sisi oprasional,
pengintaian pertama di lakukan pada bulan juli 710vketika Tharif, orang
kepercayaan Musa ibn Nushair, gubernur periode umayyah mendarat di
semenanjung kecil. Semenanjung ini sekarang di sebut Tarifa, sejak itu
menyandang namanya Jazirah (kepulauan) Tharif. Musa yang telah menguasai ke
gubernurankira-kira sejak 700, berhasil memukul mundur pasukan Bizantium
selamanya dari wilayah Katargo dan perlahan-lahan meluaskan penaklukannya
samapai ke At-lantik, sehingga memeberikan batu loncatan kepada islam untuk
menyerang Eropa. Akhirnya, Musa ibn Nushai mendeklarasikan Smenanjung
Ibera sebagai bagian dari kekuasaan Umayyah yang berpusat di Damaskus. Ketika
daulah Umayyah di Damaskus di Hancurkan oleh Bani Abbas, Abd-Rahman ibn
Muawiyah berhasil meloloskan diri dan menginjakan kakinya di Andalusia Pada
tahun132 H/750 M. Ia di beri gelar ad-Dakhil karena ia dalah pangeran yang
pertama menginjakan kakinya di Semenanjung Ibera. Dan ia juga berhasil
menyingkirkan Yusuf ibn Abd Ar-Rahman Al-Fihri yang menyatakan diri tunduk
kepada dinasti bani Abbas pada tahun 138 H/756 M. Dinasti yang didirikan oleh
Abd Ar-Rahman I, yang di juluki Ad-Dakhil (pendatang baru) oleh para penulis
Kronik Arab, dan bertahan selama dua tiga per empat abad (756-1031). Dinasti ini
mencapai puncaknya di bawah pemerintah amir kedelapan.

B. SEKILAS TENTANG Muawiyah bin Abi Sufyan
Muawiyah bin Abi Sufyan (602-680; umur 77-78 tahun; bahas Arab; bergelar
Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayya. Dan di akui oleh
kalangan sunni sebagai salah seorang sahabat nabi, walaupun ke islamannya baru
dilakukan setelah mekah di taklukan. Akan tetapi kalangan Syiah tidak mengakui
Muawiyyah sebagai sahabat nabi, karena di anggap telah menyimpang setelah
meninggalnya Rasulullah SAW. Dia menjabat khalifahmulai tahun 661-680.
Muawiyyah melakukan kudeta dengan pihak Alisehingga terjadi perang Shiffin
yang memperkokoh posisi Muawiyyah dan nelemahkan kekhalifahan Ali bin Abi
Thalib, dan Muawiyyah juga adalag seorang administrator dan negarawan ulung
dan juga memiliki andil besar dalam pemerintahan selanjutnya. Bahkan
Muawiyyah juga mampu mendirikan istana yang megah bernama Al-Khadra
(yang hijau). Arsitekturnya adalah Muawiyyah sendiri, istana itu berdiri
berdampingan dengan Masjid Umayyah yang kemudian di hiasi dan di renovasi
oleh Al-Walid dan hingga kini tetap menarik minat para pecinta ke indahan.

C. Kebijakan Umum padfa masa Kekhalifahan Bani Umayyah
Pemerintah memiliki tugas utama yang meliputi pengaturan administrasi publik,
pengumpulan pajak, dan pengatura urusan-urusan keagamaan. Kebijakan
pemerintahan Muawiyyah itu terletak pada penarikan zakat yang di mana
penarikan zakat ini hanya berkisar 25%, dari pendapatan tahunan orang islam,
nilainya sama dengan pajak penghasilan di sebuah negara modern dewasa ini.

D. Kegiatan Perekonomian pada Masa Kekahalifahan Bani Umayyah
Reformasi Administrasi Keuangan negara
Dalam kaitannya dengan perubahan mata uang, kita perlu memperhatikan
pembaruan sistem keuangan dan administrasi yang terjadi pada masa ini. Pada
dasarnya, tidak ada seorang muslim pun, dari bangsa manapun yang dibebani
membayar pajak, selain zakat atau santunan untuk orang miskin, meskipun pada
perakteknya hak-hak istimewa sering diberikan pada segelintir orang Islam-Arab.
Berdasarkan teori itu, banyak orang yang baru masuk islam, terutama orang Irak
dan Khurasan, mulai meninggalkan desa tempatmereka bekerja sebagai petani dan
pergi ke kota-kota dengan harapan bisa bergabung menjadi prajurit mawali
(klien). Fenomena ini akhirnya menyebabkan kerugian ganda bagi
pembendaharaan kerajaan, hal tersebut karena setelah masuk islam pendapatan
pajak sangat berkurang, dan setelah menjadi prajurit mereka berhak mendapatkan
subsidi. Al-hajjaj kemudian membuatkebijakan penting untuk mengembalikan
orang-orang itu keladang-ladang mereka, dan kembali mewajibkan mereka
membayar pajak seperti yang mereka lakukan sebelum masuk islam, termasuk
pajak tanah (kharaj) dan pajak kapala (jizyah). Ia bahkan mengharuskan orang-
orang Arab yang menguasai tanah di wilayah wajib pajak untuk membayar pajak
tanah.

BAB 5
Peradaban Pemikiran Ekonomi Islam pada Masa Abassiyah (750-857 M/132-
232 H)

A. Pendirian Bani Abasiyyah
Pemerintahan Abbasiyah di bagi menjadi lima periode:
1. (132 H/ 750 M s/d 232 H/847 M) disebut periode Persia pertama
2. (232 H/847 M s/d 447 H/945 M) di sebut periode pengaruh Turki pertama
3. (334 H/945 M s/d 447 H/ 1105 M) masa kekuasaan dinasti Buwaihi dalam
pemerintahan Khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut pengaruh persia
kedua
4. (447 H/ 1105 M s/d 590 H/1195 M) masa kekuasaan dinasti Saljuk yang
biasa disebut dengan masa pengaruhTurki kedua.
5. (590 H/ 1194 M s/d 656 H/1258 M) masa khalifah bebas dari pengaruh
dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di Bagdad
Dalam tulisan Philip K. Hitti, Abbasiyah merupakan babak ketiga dalam drama
besar politik Islam yang dibuka oleh Abu al-Abbas (750 M-754 M) sebagai
pelopor kerajaan. Dalam khotbah penobatannya, yang disampaikan setahun
sebelumnya di Masjid Kufah, Khalifah Abbasiyah pertama itu menyebut dirinya
as-ssafiih, penumpah darah, yang kemudian menjadi julukannya. Julukan itu
merupakan pertanda buruk karena dinasti yang baru muncul ini mengisyaratkan
bahwa mereka lebih mengutamakan kekuatan dalam menjalankan kewajibannya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, disisi singgasana khalifah tergelar
karpet yang digunakan sebagai tempat eksekusi.
. Dari 750 M hingga 1258 M, penerus Abu al-Abbas memegang pemerintahan
meskipun mereka tidak selalu berkuasa. Orang Abbasiyah mengklaim dirinya
sebagai pengusung konsep sejati kekhalifahan, yaitu gagasan negara teokrasi,
yang menggatikan pemerintahan sekuler (mulk) dinasti Umayyah. Sebagai ciri
khas keagamaan dalam istana kerajaannya, dalam berbagai kesempatan
seremonial, seperti ketika dinobatkan sebagai khalifah dan pada shalat Jumat,
khalifah menggenakan jubah (burdah) yang pernah dikenakan oleh saudara
sepupunya, nabi Muhammad saw. Akan tetapi, masa pemerintahannya begitu
singkat. As-Saffah meninggal (754 M- 775 M) karena penyakit cacar air ketika
berusia 30-an. Masa kejayaan Abbasiyah terletak pada khalifah setelah As-
Saffah.Philip K. Hitti, bahwa masa keemasan (Golden Prime) Abbasiyah terletak
pada 10 Khalifah. Kesepuluh khalifah tersebut yaitu: As-Saffah (750 M); al-
Manshur (754 M); al-Mahdi (775 M); al-Hadi (785 M); ar-Rasyid (786 M); al-
Amin (809 M); al-Mamun (813 M); al-Mutashim (833 M); al-Watsiq (842 M);
dan al-Mutawakkil (847 M).

B. Kebijakan Administrasi Keuangan Negara Abbasiyah
1. Sumber Pemasukan Negara
Pemungutan pajak merupakan sumber utama pendapatan negara Abbasiyah,
sedangkan sumber pendapatan lainnya adalah zakat yang diwajibkan atas setiap
orang Islam. Sumber utama pendapatan lainnya adalah; pajak dari bangsa lain,
uang tebusan, pajak perlindungan dari rakyat nonmuslim (jizyah), pajak tanah
(kharaj), dan pajak yang di ambil dari barang dagangan nonmuslim yang masuk
wilayah Islam.
2. Anggaran Pengeluaran Negara
Besarnya pendapatan negara seiring pula dengan pengeluaran negara yang
mencakup berbagai divisi pemerintahan yang telah dibentuk pemerintahan
Abbasiyah, yaitu:
1) Administratif pemerintahan dengan biro-bironya;
2) Sistem organisasi militer;
3) Administrasi wilayah pemerintahan;
4) Pertanian, perdagangan, dan industri;
5) Islaminasi pemerintahan;
6) Kajian dalam bidang kedokteran, astronomi, matematika, geografi,
hitoriografi, filsafat Islam, teologi, hukum (fiqh) dan etika Islam, sastra,
seni, dan penerjemahan.
7) Pendidikan, kesenian, arsitektur meliputi pendidikan dasar (kuttab),
menengah, dan perguruan tinggi; perpustakaan dan toko buku, media tulis,
seni rupa, seni musik, dan arsitek.
Rincian berbagai kemajuan tersebut dapat dilihat dari tulisan Philip K. Hitti, yaitu:
a. Biro-biro pemerintahan Abbasiyah
b. Sistem militer
c. Wilayah pemerintahan
d. Perkembangan bidang pertanian
e. Bidang kedokteran
f. Pendidikan, perpustakaan, dan toko buku

C. Perekonomian dan Perdagangan Pada Masa Abbasiyah
Pada masa Abbasiyah, orang-orang justru mampu mengimpor barang dagangan,
seperti rempah-rempah, kapur barus, dan sutra dari kawasan Asia yang lebih jauh,
serta gading, kayu eboni, dan budak kulit hitam dari afrika. Daerah Asia Barat
menjadi pusat industri karpet, sutra, kapas, dan kain wol, satin dan brokat (diba),
sofa (suffah) dan kain pembungkus bantal, juga perlengkapan dapur dan rumah
tangga lainnya. Sebuah pusat industri di Bhagdad yang namanya di ambil dari
nama seorang pangeran Umayyah, Attab, memberi merk kain buatannya dengan
attabi yang pertama kali dibuat pada abad ke-12. Kain tersebut ditiru oleh perajin
Arab di Spanyol, dan terkenal di Perancis, Italia, dan negara Eropa lainnya dengan
nama tabi. Khurasan dan Amerika dikenal dengan dagangannya berupa tilam
meja, hiasan dinding, serta kain pembungkus sofa dan bantal.
Kaca dari Sidon, Tyre dan kota-kota Syria lainnya, yang merupakan sisa-sisa
industri Phoenisia kuno yang masih bertahan dan merupakan industri kaca tertua
kedua dalam sejarah setelah Mesir, terkenal karena kejernihan dan ketipisannya.
Dengan keragaman warna dan hiasannya, pada masa Perang Salib kaca Syiria
menjadi pilihan utama untuk menghiasi katedral-katedral Eropa. Industri lainnnya
seperti pembuatan kertas tulis, yang diperkenalkan pada abad ke-8 dari Cina ke
Samarkand.
Seni menolah perhiasan juga mengalami masa kejayaannya. Mutiara, safir, rubi,
emerald, dan permata sangat disukai para bangsawan, sedangkan batu zamrud
yang berwarna biru kehijauan, batu carnelius yang kemerahan dan onyx (semacam
batu akik) yang berwarna putih, cokelat, atau hitam disukai oleh kalangan bawah.
Salah satu batu berharga paling terkenal didalam sejarah Arab adalah rubi besar,
yang pernah dimiliki oleh beberapa raja Persia, yang diatasnya diukirkan nama
Harun ketika ia memperolehnya dengan harga 40 ribu dinar. Yahya ibn Khalid,
dari keluarga Barmak pernah menawarkan uang sebesar 7 juta dinar kepada
seorang saudagar Bhagdad untuk sebuah kotak perhiasan yang terbuat dari batu-
batu berharga, tetapi tawaran itu ditolak. Al-Muktafi diriwayatkan telah
mewariskan perhiasan dan parfum yang seluruhnya bernilai 20 juta dinar.
Sumber tambang utama kerajaan yang memungkinkan tumbuhnya industri
perhiasan adalah emas dan perak yang diambil dari khurasan, yang juga
menghasilkan marmer dan air raksa, rubi, lapis lazuli, dan azuri dari
Transoxiana;tembaga dan perak dari Karman, mutiara di Bahrain; turquise dari
Naisabur, yang pada paruh terakhir aba ke-10, penambangannya telah
menghasilkan 758.720 dirham per tahun, Carnelius dari Shana; dan baja dari
perbukitan Lebanon. Sumber tambang lainnya adalah tanah liat dan marmer dati
Tibriz, antimonis dari daerah sekitar Isfahan serta air raksa, aspal dan ter dari
Fargana.
PERKEMBANGAN EKONOMI ISLAM PADA MASA KHULAFAUR
RASYIDIN (11 60 H/ 632 666 M)
A. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq
Faktor keberhasilan khalifah Abu Bakar dalam membangun pranata sosial di
bidang ekonomi tidak lepas dari faktor politik dan pertahanan keamanan. Untuk
mejalankan tugas-tugas di Madinah ia mengangkat Ali bin Abi Thalib, Utsman
bin Affan, dan Zaid bin Tsabit sebagai katib (sekertaris) dan Abu Ubaidah sebagai
bendaharawan untuk mengurus Baitul mal. Dalam usahanya meningkatkan
kesejahteraan umat Islam, Khalifah Abu Bakar melaksanakan berbagai kebijakan
ekonomi seperti yang telah dipraktikan Rasulullah saw. Selama masa
pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, harta baitul mal tidak pernah menumpuk
dalam jangka waktu lama karena langsung didistribusikan kepada seluruh kaum
muslim, bahkan ketika beliau wafat hanya ditemukan satu dirham dalam
pembendaharaan negara.
B. Khalifah Umar ibn Al-Khaththab
Pada masa pemerintahannya yang berlangsung selama sepuluh tahun, Umar ibn
al-Khaththab banyak melakukan ekspansi hingga wilayah Islam meliputi jazirah
Arab. Karena perluasan daerah terjadi dengan cepat, beliau segera mengatur
administrasi negara dengan mencontoh Persia. Administrasi pemerintah diatur
menjadi delapan wilayah provinsi: Mekah, Madinah, Syiria, jazirah, Bashrah,
Kufah, Palestina, dan Mesir. Ia juga membentuk jawatan kepolisian dan jawatan
tenaga kerja.Sama seperti Abu Bakar, pada masa pemerintahan Umar ibn al-
Khaththab pendapatan negara mengalami peningkatan yang sangat signifikan
maka diberdayakan kembali Baitul mal.
C. Khalifah Utsman bin Affan
Sama seperti dua khalifah sebelumnya, khalifah Utsman bin Affan tetap
mempertahankan sistem pemerintahan bantuan dan santunan serta memberikan
sejumlah uang kepada masyarakat yang berbeda-beda. Dalam hal pengelolaan
zakat, khalifah Utsman mendelegasikan kewenangan menaksir harta yang dizakati
kepada para pemiliknya. Khalifah Utsman menerapkan kebijakan membagi-
bagikan tanah negara kepada individu-individu untuk tujuan reklamasi.
D. Khalifah Ali bin Abi Thalib
Hal pertama dilakukan Khalifah Ali setelah dibaiat menjadi khalifah adalah
menarik kembali semua tanah yang telah dibagikan khalifah Utsman kepada kaum
kerabatnya kepada kepemilikan negara dan mengganti semua gubernur yang tidak
disenangi rakyat. Setelah diangkat beliau langsung mengambil beberapa tindakan,
seperti memberhentikan para pejabat yang korupsi, membuka kembali lahan
perkebunan yang telah diberikan kepada orang-orang terdekat Utsman, dan
mendistribusikan pendapatan pajak tahunan sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan Umar ibn al-Khaththab.