Anda di halaman 1dari 3

1

BAB I
PENDAHULUAN
Kegiatan konstruksi dilihat dari perkembangannya saat ini merupakan suatu
kegiatan dengan permasalahan yang sangat komplek. Hal ini terjadi karena adanya
perkembangan dari karakteristik kegiatan konstruksi saat ini, yakni semakin
meningkatnya ukuran nilai dari suatu proyek dan kompleksitas dari kegiatannya
sehingga dalam setiap proses dari kegiatan konstruksi tersebut diperlukan suatu
perencanaan yang baik, agar tujuan yang hendak dicapai dari kegiatan konstruksi
dapat diwujudkan.
Situasi bisnis jasa konstruksi saat ini diwarnai dengan persaingan yang
semakin ketat. Oleh karena itu, setiap perusahaan konstruksi harus memiliki strategi
bersaing yang unik dan berkualitas agar mampu menjaga eksistensi dalam arena
persaingan dan membangun kinerja perusahaan yang berkelanjutan. Hal tersebut
dapat mempengaruhi perusahaan konstruksi dalam mencapai tujuan perusahaan, baik
itu kinerja, profit perusahaan serta kelangsungan hidup perusahaan konstruksi itu
sendiri.
Menurut Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Aceh, jumlah
perusahaan konstruksi yang aktif di Aceh terus berkurang, disebabkan sulitnya
bersaing antar sesama perusahaan konstruksi dan susah mendapatkan peluang paket
proyek di sejumlah instansi pemerintah. LPJK menegaskan tidak mungkin
perusahaan konstruksi dapat bertahan apabila tidak mendapatkan proyek atau paket
pekerjaan dari pemerintah dan pihak swasta. Hal ini harus ditanggapi serius oleh
pemerintah agar jumlah perusahaan konstruksi tidak terus berkurang.
Menurut data yang diperoleh dari Badan Pimpinan Daerah Gabungan
Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI) Aceh, jumlah perusahaan
konstruksi kelas menengah di Banda Aceh terus berkurang selama 5 tahun terakhir.
Tercatat sejak tahun 2009 perusahaan konstruksi kelas menengah berjumlah 120
perusahaan, dan pada tahun 2010 berkurang menjadi 99 perusahaan, kemudian pada
tahun 2011 berkurang lagi menjadi 62 perusahaan, dan pada tahun 2012 kembali
2
berkurang menjadi 61 perusahaan, dan terakhir pada tahun 2013 berkurang lagi
menjadi 44 perusahaan. Hal ini terjadi dikarenakan banyaknya perusahaan konstruksi
kelas menengah tidak mampu bersaing dalam mendapatkan proyek konstruksi.
Kondisi ini menyebabkan perusahaan tersebut tidak memiliki pekerjaan konstruksi
dan tidak bisa mempertahankan kelangsungan hidup perusahaannya.
Salah satu penyebab perusahaan konstruksi kelas menengah di kota Banda
Aceh tidak mampu bersaing adalah tidak memiliki strategi bersaing perusahaan.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka diperlukan kajian tentang identifikasi
strategi bersaing yang dilakukan oleh perusahaan konstruksi kelas menengah di
Banda Aceh dan bagaimana hubungan terhadap kinerja perusahaan tersebut. Tujuan
penelitian ini untuk mengindentifikasi strategi bersaing yang digunakan oleh
kontraktor kelas menengah dan bagaimana hubungan antara strategi bersaing dengan
kinerja perusahaan.
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada perusahaan konstruksi kelas
menengah di Banda Aceh seperti yang terlihat pada Lampiran A.1.1 Halaman 36.
Alasan dipilihnya perusahaan konstruksi kelas menengah dikarenakan perusahaan
konstruksi kelas menengah dilihat dari kualifikasi grednya sudah termasuk kategori
mapan dalam pelaksanaan proyek konstruksi, karena perusahaan konstruksi kelas
menengah sudah memiliki modal, aset, dan sumber daya manusia yang memadai.
Oleh karena itu penelitian ini di fokuskan pada perusahaan konstruksi kelas
menengah di Banda Aceh.
Pengumpulan data yang diperlukan untuk identifikasi ini berupa data primer
dan data sekunder. Data primer diperoleh dari jawaban responden setelah mengisi
kuisioner yang berisikan pertanyaan pertanyaan yang disusun dari berbagai hasil
penelitian (Tan Yangtao,2009) dengan strategi bersaing perusahaan konstruksi
berupa strategi keunggulan biaya (X
1
), strategi pembedaan produk (X
2
), strategi
fokus (X
3
), dan strategi pertumbuhan (X
4
). Sedangkan data sekunder berupa data
perusahaan konstruksi kelas menengah tahun 2013 diperoleh dari BPD GAPENSI
Aceh. Perusahaan konstruksi kelas menengah yang menjadi responden sebanyak 31
perusahaan yang ada di Banda Aceh yang terdaftar pada BPD GAPENSI Aceh.
3
Pengolahan data dilakukan dengan analisis korelasi untuk melihat hubungan
antara variabel terikat dengan variabel bebas yakni hubungan antara strategi bersaing
terhadap kinerja perusahaan konstruksi.
Hasil analisa deskripsi dengan mencari mean tertinggi menunjukkan bahwa
pada subvariabel strategi bersaing kontraktor didapat mean tertinggi pada strategi
dengan biaya yang rendah, dan untuk mean tertinggi dari setiap indikator pada
mempercepat penyelesaian proyek. Hasil analisis korelasi didapatkan nilai korelasi
tetinggi pada nilai kinerja perusahaan dengan strategi dengan biaya rendah dan
memiliki tingkat hubungan yang kuat dan nilai koefisien korelasi bertanda positif
menunjukkan arah hubungan yang searah (nilai variabel akan meningkat, apabila
variabel pasangannya meningkat, demikian pula sebaliknya).
Hasil yang telah diperoleh ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak
yang terlibat dalam dunia konstruksi khususnya kontraktor kelas menengah untuk
dapat menerapkan strategi bersaing karena akan lebih bermanfaat dan berpengaruh
dalam peningkatan kinerja perusahaan. Selain itu hasil ini dapat bermanfaat dalam
menambah pengetahuan dan wawasan bagi yang membaca.