Anda di halaman 1dari 9

4

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Sesuai dengan judul penulisan pada bab ini penulis akan mengemukakan
beberapa landasan teori, rumus-rumus dan variabel-variabel yang berkaitan serta
berhubungan dengan tujuan penulisan yang diperlukan dalam melaksanakan
penelitian untuk membentuk kerangka teori dan kerangka konsepsi sebagai dasar.
2.1 Kontraktor Kelas Menengah
Menurut Ervianto (2005), kontraktor adalah orang atau badan usaha yang
menerima pekerjaan dan melaksanakan pekerjaan sesuai yang ditetapkan gambar
rencana, peraturan dan syarat - syarat yang ditetapkan. Kontraktor dapat berupa
perusahaan perorangan yang berbadan hukum atau atau sebuah badan hukum yang
bergerak dalam bidang pelaksanaan pekerjaan.
Dalam Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nomor 2
Tahun 2013 Penggolongan kualifikasi badan usaha jasa pelaksana konstruksi
didasarkan pada kriteria tingkat kompetensi dan potensi kemampuan usaha terdiri
dari kelas kecil (grade 2,3,dan 4), menengah (grade 5) dan besar (grade 6 dan 7).
Kemampuan melaksanakan pekerjaan berdasarkan kriteria resiko dan kriteria
penggunaan teknologi. Adapun untuk karakteristik kontraktor dengan kualifikasi
usaha jasa konstruksi kelas menengah (grade 5) yaitu:
a. Dapat mengerjakan 5 (lima) paket pekerjaan
b. Dapat mengerjakan proyek dengan nilai 4,2 miliar 42 miliar
c. Mempunyai kekayaan bersih 1 miliar 10 miliar
d. Memiliki penanggung jawab badan usaha 1 orang
e. Memiliki penanggung jawab teknik 1 orang , berpendidikan S1, bersertifikat
keahlian kerja dan pengalaman kerja minimal 2 tahun
f. Penanggung jawab bidang 1 orang, berpendidikan S1, bersertifikat keahlian
kerja dan pengalaman kerja minimal 2 tahun
5
g. Sistem pemilihan penyedia jasa dengan pelelangan umum, pelelangan
terbatas, pemilihan langsung atau penunjukkan langsung
h. Kriteria resiko sedang dan teknologi madya, mencakup pekerjaan konstruksi
yang pelaksanaannya dapat membahayakan keselamatan umum, harta benda,
menggunakan sedikit peralatan berat serta memerlukan sedikit tenaga ahli
i. Pengalaman kerja pernah melaksanakan pekerjaan kualifikasi usaha kecil
minimum 3 paket pekerjaan dalam 7 tahun terakhir
2.2 Kinerja Perusahaan
Menurut Veizhal (2008), kinerja perusahaan adalah kemampuan sebuah
perusahaan mengelola sumber daya yang ada sehingga dapat memberikan nilai
kepada perusahaan tersebut. Dengan mengetahui kinerja suatu perusahaan kita dapat
mengukur tingkat efisisensi dan produktifitas perusahaan tersebut. Dengan demikian
kinerja perusahaan merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan
dalam periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan.
Menurut Anggita (2012), ukuran keberhasilan kinerja suatu perusahaan dapat
dilihat dari :
a. Profil atau Riwayat perusahaan
Ringkasan deskripsi informasi perusahaan, mencakup sejarah perusahaan,
jumlah dan kualitas SDM, finansial, investasi dan permodalan suatu
perusahaan, sumber daya, struktur organisasi serta manajemen perusahaan
secara general, tentang kinerja perusahaan, reputasi perusahaan atas
perdagangan barang atau layanan jasa yang ditawarkan.
b. Ukuran perusahaan
Ukuran perusahaan juga berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan sebuah
perusahaan, semakin besar sebuah perusahaan maka semakin baik pula
kinerja dari perusahaan itu, hal ini akan berbanding lurus dengan keberhasilan
yang didapatkan perusahaan tersebut.
c. Profitabilitas (keuntungan) perusahaan
Semakin besar keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan itu tiap
6
tahunnya, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan kinerja dari
perusahaan tersebut.
d. Pengaruh perusahaan
Suatu perusahaan mampu memberi pengaruh terhadap perusahaan
perusahaan lain, dengan kata lain perusahaan tersebut menjadi role model
bagi perusahaan lain. Biasanya Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki
kekuatan finansial dan aset yang besar sehingga dapat melakukan kontrol
bisnis di lebih dari satu daerah.
e. Pertumbuhan perusahaan
Semakin berkembangnya suatu perusahaan di segala lini, baik itu internal
maupun eksternal perusahaan, dan kemampuan perusahaan untuk bertahan,
menindikasikan keberhasilan dari kinerja perusahaan tersebut.
2.3 Strategi Bersaing
Michael Porter (1985) strategi adalah alat yang sangat baik untuk mencapai
keunggulan bersaing, sedangkan strategi bersaing adalah strategi yang mengarah
kepada suatu posisi yang mampu-laba dan mampu-dukung berhadapan dengan
kekuatan yang menentukan persaingan industri.
Menurut Porter (1985) strategi bersaing (competitive strategy) suatu
perusahaan, dibagi 3 jenis strategi, yaitu:
a. Keunggulan biaya (cost leadership)
Perusahaan berusaha untuk mencapai kemampuan biaya produksi dan
distribusi yang paling rendah, sehingga dapat memberikan harga produk yang
lebih rendah dari pesaing dan memenangkan persaingan dalam pangsa pasar
yang besar.
b. Pembedaan produk (differentiation)
Perusahaan lebih memusatkan pada usahanya dalam menciptakan ciri produk
yang khas serta dalam program pemasaran, sehingga datat memenangkan
persaingan dengan membuat citra yang khas pada konsumen.
c. Fokus ( focus )
7
Perusahaan memusatkan usahanya untuk melayani sebagian kecil segmen
pasar dan tidak melayani pasar secara luas. Usaha ini dilakukan dengan
mengenali secara detail pasar yang dituju dan menerapkan keunggulan biaya
menyeluruh atau diferensiasi pada segmen kecil tersebut.
Warszawski (1996) menganalisis penerapan tiga strategi bersaing Porter
dalam industri konstruksi dan memperkenalkan strategi pertumbuhan (growth
strategy) yang khas untuk industri konstruksi. Salah satu strategi pertumbuhan
terlibat dalam jenis baru kegiatan konstruksi yaitu pengembangan real estate, desain,
operasi, pemeliharaan, dan lain-lain.
Penelitian ini dilanjutkan oleh Tan Yongtao pada tahun 2009 tentang strategi
kompetitif kontraktor, maka dapat diidentifikasi indikator-indikator strategi bersaing
seperti yang ditunjukkan pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Strategi Bersaing Kontraktor (Sumber: Porter (1980),Warzawski (1996) &
Tan (2009)
No. Keunggulan Biaya Diferensiasi Fokus
Strategi
Pertumbuhan
1.
Menggunakan produk/jasa
yang terstandarisasi
Membangun
reputasi
perusahaan
Hanya
melakukan jenis
proyek tertentu
saja
Meluaskan usaha di
lokasi atau daerah
baru
2.
Memperbanyak pelatihan
untuk personil perusahaan
Menawarkan
produk/jasa yang
berkualitas lebih
baik
Hanya bekerja
di daerah
tertentu
Meluaskan usaha ke
bidang usaha
konstruksi lain
(jalan, terowongan
dll)
3.
Pengendalian tenaga kerja
dan material dengan baik
Mempercepat
penyelesaian
proyek
Hanya bekerja
dengan
klien/owner
tertentu
Menambahkan
bisnis baru ( real
estate, perencanaan,
pemeliharaan dll)
4.
Memilih
supplier/subkontraktor
secara teliti
Melakukan inovasi
pendanaan
(financing) proyek
Meluaskan usaha
dengan melakukan
penggabungan
perusahaan (merger)
atau mengambil alih
perusahaan lain
8
(akuisisi)
5.
Peningkatan teknonologi
(pembaharuan metode
konstruksi, material baru
atau penerapan teknologi
informasi)
Melakukan inovasi
manajemen proyek
6.
Membuat program insentif
untuk mendorong
perbaikan produktivitas
atau penghematan sumber
daya
Melakukan upaya
berkelanjutan
untuk mengurangi
dampak terhadap
lingkungan dan
masyarakat
7.
Menawarkan jasa
tambahan kepada
owner / klien
2.4 Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel adalah berapa jumlah sampel yang dibutuhkan
dalam penelitian. Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan jumlah
sampel adalah menggunakan rumus Slovin (1960:182), sebagai berikut:
......(2.1)
dimana
n : jumlah sampel
N : jumlah populasi
e : batas toleransi kesalahan (error tolerance)
2.5 Instrumen Survei
Menurut Arikunto (2002:128) Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis
yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. kuesioner merupakan
daftar pertanyaan yang akan digunakan oleh periset untuk memperoleh data dari
sumbernya secara langsung melalui proses komunikasi atau dengan mengajukan
pertanyaan.
9
2.5.1 Uji validitas kuesioner
Arikunto (2002:144) uji validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan
tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrument. Rumus yang digunakan
dalam uji validasi adalah sebagai berikut (Arikunto,2002:252):
r =
( )( )
( ) ( ) ( )
... (2.3)
2.5.2 Analisa reliabilitas
Menurut Arikunto (2002:154) uji reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian
bahwa suatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat
pengumpul data. Uji reliabilitas yang umum digunakan adalah analisa Cornbach
Alpha. Adapun pengujian dengan menggunakan koefisien Cornbach Alpha harus
lebih besar atau sama degan 0,6 yaitu nilai yang dianggap dapat menguji valid
tidaknya kuesioner yang digunakan. Rumus-rumus yang digunakan adalah sebagai
berikut:
= 1

(2.4)
Keterangan:
r = reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
= jumlah varians butir
= varians total
10
Sebelum menghitung reliabilitas sebuah instrument, perlu diketahui varians
butir dan varians total dari sebuah data penelitian. Rumus varians butir dan varians
total (Arikunto,2002:171) :
=

( )

... (2.5)
=

.. (2.6)
Keterangan:
= jumlah kuadrat seluruh butir
= jumlah kuadrat subjek
= jumlah butir
= jumlah kuadrat butir
2.6 Analisa Deskriptif
Analisa deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan
pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, dan juga menyajikan
data, menganalisis dan menginterpretasi (Narbuko dan Achmadi, 2010:65). Analisis
deskriptif memberikan mean dan peringkat masing-masing parameter yang dibahas,
dan disajikan dalam bentuk tabel.
Rumus yang digunakan adalah:
X =
n
xi
..................................................................................... (2.4)
Keterangan :
X = rata-rata
xi = data yang diambil
n = jumlah data
Cara menkonversi skor mentah dari kuesioner menjadi skor stndar dengan normal
relative skala lima sebagai berikut :
11
a. Mencari nilai mean masing-masing skor subvariabel dan indikator yang
diperoleh dari responden melalui jawaban pada kuesioner.
b. Pada mean skor idela dan mean skor terendah tersebut, dibuat pedoman
kriteria interpretasi skor seperti table berikut :
Tabel 2.2 Kriteria Interpretasi Skor
No Rentang Persentase Skor Rentang Skor Mean Kualifikasi
1. Angka 81%- 100% 4,05 5,00 Sangat setuju
2. Angka 61%- 80% 3,05 4,04 Setuju
3. Angka 41%- 60% 2,05 3,04 Cukup
4. Angka 21%- 40% 1,05 2,04 Kurang
5. Angka 0%- 20% 0,00 1,04 Sangat Kurang
2.7 Uji Koefisien Korelasi Pearson Product Moment
Menurut Riduwan (2004:227) kegunaan uji korelasi Pearson Product
Moment atau analisis korelasi adalah untuk mencari hubungan variabel bebas (X)
dengan variabel terikat (Y). Berikut rumus korelasi Pearson Product Moment :
r =
(
)
( ) ( )
( ( )) ( ( )) )
............................................ (2.7)
Dimana:
r = koefisien korelasi
N = banyaknya sampel
X = variabel bebas
Y = variabel terikat
Korelasi Pearson Product Moment dilambangkan (r) dengan ketentuan r tidak
lebih dari harga ( -1 r +1 ). Apabila Nilai r = 1 berarti bahwa korelasi antara
12
variabel Y dan X adalah positif (meningkatnya nilai X akan mengakibatkan
meningkatnya nilai Y). Sebaliknya, jika nilai r = -1, berarti korelasi antara variabel Y
dan X adalah negatif (meningkatnya nilai Xakan mengakibatkan menurunnya nilai
Y). Nilai r = 0 menyatakan tidak ada korelasi antar variabel. Harga r akan
dikonsultasikan dengan tabel interpretasi nilai r pada Tabel 2.3 berikut ini :
Tabel 2.3. Interprestasi Nilai Koefisien Korelasi (r)
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00-0,19 Sangat Rendah
0,20-0,39 Randah
0,40-0,59 Cukup
0,60-0,79 Kuat
0,80-1,00 Sangat Kuat
Sumber: Riduwan (2004:227)