Anda di halaman 1dari 13

BAB IV.

Analisa Data Inti Batuan (core)-21



BAB IV
ANALISA DATA INTI BATUAN (CORE)

PENDAHULUAN
Pengukuran karakteristik suatu formasi dapat dilakukan dengan metode langsung
maupun tidak langsung.
Secara langsung dilakukan dengan pengukuran data serbuk dan inti batuan di
laboratorium.
Secara tidak langsung dengan bantuan alat logging : log listrik (LLS, LLD, MSFL),
sonik, radioaktif (gamma ray, densitas, netron), log kecepatan pemboran,
pengamatan mikroskopis, dan hilangnya inti batuan.

PENGAMBILAN DATA INTI BATUAN
Untuk dapat mengambil sampel batuan diperlukan operasi pegambilan inti batuan
(coring).
Coring dapat dilakukan pada saat pemboran berlangsung atau sesudah pemboran
dilakukan.
Metode yang dilakukan dalam pengambilan inti batuan (Gatlin, 1960), yaitu :
1. Bottomhole coring
2. Sidewall coring
Bottomhole coring
Metode pengambilan inti batuan yang dilakukan saat pemboran berlangsung dengan
arah tegak lurus ke bawah. Berdasarkan peralatan yang digunakan metode coring ini
dibedakan menjadi 2, yaitu :
Conventional coring, pengambilan inti batuan dilakukan dengan cara menarik drill
string dan menggunakan jenis bit tertentu.
Wireline retrieveable coring, pengambilan inti batuan menyerupai conventional
coring namun inti batuan yang diperoleh dapat diangkat ke permukaan tanpa
melakukan pencabutan pipa bor (round trip).
Sidewall coring
Metode ini dilakukan setelah pemboran selesai atau pada saat pemboran
berhenti dan arahnya menuju dinding sumur. Dilakukan setelah analisa pada rekaman
log listrik atau radioaktif.
BAB IV. Analisa Data Inti Batuan (core)-22

PEMELIHARAAN SAMPEL INTI BATUAN
Sampel inti batuan yang didapat di lapangan diusahakan dapat mewakili keadaan
aslinya sehingga hasil analisis akan menghasilkan keterangan yang mendekati
keadaan sesunggguhnya dari batuan formasi tersebut.
Inti batuan dipindahkan secara hati-hati dari barrel, benturan yang keras akan
menyebabkan hancuran dari rekahan pada inti batuan.
Kemudian inti batuan dibersihkan dengan kain basah untuk menghilangkan mud
cake lunak.
Total panjang inti batuan dicatat dari tiap kaki inti batuan, diberi tanda, lalu diberi
laporan deskripsi litologi dari inti batuan ini.
Inti batuan memerlukan perawatan untuk mempertahankan kondisi selama
pengepakan dan sebelum melakukan pengukuran di laboratorium. Teknik
perawatan yang biasa dilakukan, yaitu :
1. ditutup rapat dengan logam
2. ditutup dengan baja, aluminium, atau pipa plastik
3. diawetkan dengan es kering
4. dibungkus dengan kertas timah
5. dilapisi dengan plastik
Untuk melindungi inti batuan, khusus untuk analisis inti batuan dipakai prosedur
sebagai berikut:
a) Pindahkan inti batuan dari barrel dan dibersihkan dengan kain basah.
b) Bungkus dengan cling film, kertas timah yang dapat menurunkan temperatur inti
batuan
c) Bungkus inti batuan dengan pipa PVC dan bersihkan dengan nitrogen.
Suatu data sampel inti batuan, sebaiknya memenuhi persyaratan berikut :
a) Sampel yang diambil pada interval kedalaman tertentu, diharapkan dapat
diperoleh dalam keadaan utuh.
b) Kedalaman pada kotak penyimpanan harus sesuai dengan urutan kedlaman
batuannya
c) Letak bagian atas dan bagian bawah contoh inti bor tidak boleh terbalik atau
tertukar letaknya.
d) Nama sumur pemboran, interval kedalaman serta pemberian nomor urut perlu
dicantumkan pada setiap kotak penyimpanan sampel inti batuan.
PEMBERSIHAN SAMPEL
Dilakukan sebelum pengukuran porositas dan permeabilitas di laboratoriium.
BAB IV. Analisa Data Inti Batuan (core)-23

Cairan yang ada dalam sampel harus dibersihkan.
Ekstraksi antara hidrokarbon dengan larutan organik seperti toluena atau benzene
terjadi ketika garam diangkat dari air formasi dengan methanol atau air.
Metode yang digunakan untuk membersihkan sampel inti batuan :
1. Pembilasan langsung dengan tekanan larutan.
2. Pembilasan dengan sentrifuge
3. Ekstraksi larutan gas
4. Distilasi ekstraksi
Penanganan di laboratorium
Penanganan di laboratorium dititik beratkan untuk kepentingan penelitian
sedimentologi yang dapat menunjang penafsiran lingkungan pengendapan formasi
batuan tertentu.
Inti batuan meskipun telah dibersihkan dari lumpur pemboran yang menyelimutinya
umumnya belum secara teliti memperlihatkan tekstur dan struktur sedimen batuan
yang terbentuk. Untuk itu perlu dilakukan pembelahan berupa sayatan tengah
berbentuk pipih (slabbed) sepanjang contoh inti batuan.

DESKRIPSI SAMPEL INTI BATUAN
Beberapa cara untuk deskripsi sampel batuan sedimen dari inti batuan :
1. Pendekatan megaskopis
2. Kesebandinagn dengan pola log
3. Pemerian struktur sedimen
i) Pendekatan megaskopis berkaitan dengan 2 unsur utama :
a. Sususnan atau bangun dari suatu sketsa litologi terinci yang menerus
b. Penggunaan check list dari sifat-sifat litologi yang khas
Beberapa aspek litologi penting yang perlu diamati dalam megaskopis terdiri
dari:
- Komposisi primer
- Komposisi semen sekunder
- Tekstur batuan
- Struktur sedimen biogenik
- Struktur sedimen sekunder
2 unsur penunjang yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Distribusi vertikal dan variasi daripada semua sifat tersebut.
2. Hubungan kontak natra unti-unti litologi dibawah dan diatasnya secara vertikal
BAB IV. Analisa Data Inti Batuan (core)-24

Sketsa litologi menggambarkan aspek-aspek penting dari urutan sampel batuan dari
inti batuan akan memudahkan pengenalan awal sifat-sifat litologi yang mencolok,
dimana batas-batas dari unit genetik akan lebih jelas.
ii) Kesebandingan dengan pola log
Sampel inti batuan yang telah melalui pengamatan megakopis disebandingkan
dengan pola log yang sesuai dengan interval kedalamannya sehingga sesuai dengan
letak sebenarnya.
iii) Pemerian struktur sedimen
Pola-pola aliran sangat berperan dalam mewujudkan konfigurasi serta geometri
bidang perlapisan. Bentuk-bentuk struktur sedimen akan menggambarkan
kecepatan aliran, kedalaman dan ukuran butir.

ANALISA INTI BATUAN
Untuk analisa inti batuan lebih lanjut di laboratorium, inti batuan dipotong potong
sesuai dengan kebutuhan dan dirawat menurut keprluan dalam analisa dapat
dibedakan atas hasil atau data yaitu :
1. Analisa inti batuan secara kualitatif
2. Analisa inti batuan secara kuantitatif
Analisa Inti Batuan Secara Kualitatif
Analisa ini dapat dengan cepat mendeterminasikan jenis dari litologi, kedalaman
yang diteliti dari litologi, zona hidrokarbon, komposisi formasi, serta paleontologi.
Karena pada inti batuan dapat terlihat jenis litologi, kumpulan fauna, struktur
sedimen, tekstur sedimen, indikator hidrokarbon, juga kedalaman sampel inti
batuan.
Informasi dari inti batuan yang pentng diantaranya :
a. Pemerian batuan secara lengkap (tekstur, struktur dan komposisi)
b. Fosil yang terkandung dalam inti batuan dapat dipakai sebagai petunjuk didalam
pemboran selanjutnya apabila dikprelasikan dengan data dari sumur lain.
c. Menunjukkan sifat-sifat fasies dalam batuan sedimen klastik, selanjtnya dapat
diketahui fasies sedimenter pada sumur bor yang bersangkutan.
d. Untuk batuan yang mempunyai perlapisan, inti batuan dapat diukur jurus dan
kemiringannya, disamping data dari log dipmeter.

BAB IV. Analisa Data Inti Batuan (core)-25

Analisa Inti Batuan Secara Kuantitatif
Hasil dari analisa ini adalah harga porositas, permeabilitas dan kejenuhan cairan
yang terkandung dalam inti batuan dari batuan reservoar yang akan ditentukan
cadangan hidrokarbonnya.
Pemilihan inti batuan yang akan dianalisa terutam pada daerah kontak baik
kontak minyak dan gas, maupun kontak air dan gas, biasanya kontak-kontak tersebut
mempunyai jenis batuan yang sifatnya lempungan, terutama kontak antara minyak dan
gas. Disamping pada daerah kontak inti batuan juga dianalisa pada daerah yang
kejenuhan hidrokarbonnya relatif tinggi, terutama pada daerah minyak.

PERHITUNGAN SATURASI AIR (Sw) DAN SATURASI MINYAK (So) CARA
LANGSUNG DARI DATA CORE

I. PENDAHULUAN
Penentuan sifat petrofisik (petrophysics properties) rservoar dapat dilakukan
dengan dua macam cara :
a) cara langsung mennganalisis langsung dari contoh beda aslinya, berupa inti
bor (core) dan serbuk bor (cutting).
b) cara tak langsung data yang diperoleh berasal dari catatan sifat fisik reservoar
yang penting dengan menggunakan alat antara lain well log.

Analisiis core dapat digunakan untuk menghitung secara kuantitatif sifat fisik
reservoar berikut : porositas, permeabilitas dan saturasi, disamping untuk mengetahui
geometri reservoar tersebut.

II. TINJAUAN SINGKAT MENGENAI CORE
Core adalah suatu contoh batuan yang diambil dari lubang bor dimana
kedudukan dan posisinya masih asli, artinya belum terubah atau terganggu.
Secara garis besar ada dua macam coring, yaitu :
1. Bottomhole coring, terdiri dari Conventional coring danWireline coring
2. Sidewall coring
Core analysis adalah studi yang mempelajari core di laboratorium untuk
menentukan sifat-sifat formasi dimana core tersebut diambil, seperti porositas,
permeabilitas dan saturasi. Analisis core dapat dibagi menjadi dua berdasarkan atas
hasil yang diperlukan, yaitu :
BAB IV. Analisa Data Inti Batuan (core)-26

a. Analisis core secara kualitatif
b. Analisis core secara kuantitatif

III. SATURASI RESERVOAR
Saturasi (%) perbandingan antara volume cairan yang terdapat didalam suatu
rongga batuan dengan volume dari rongga batuan dalam satu batuan.
Saturasi/kejenuhan didalam batuan reservoar: > 0 s/d 100 %.
Rumus Saturasi :
S = (Vf/Vp).100 %
Dimana : S = Kejenuhan (saturation), Vf = Volume cairan (fluida) pada rongga
batuan,
Vp = Volume rongga batuan
Jumlah cairan yang terdapat dalam batuan reservoarnya tergantung dari
perbandingan cairan yang menempatinya dan sangat ditentukan oleh:
- Sifat batuan reservoar.
- Sifat cairan yang menempatinya

Sifat fluida dalam reservoar:
Air akan lebih bersifat menyelimuti atau menyelubungi butiran-butiran batuan dan
pori-pori batuan yang relatif kecil serta pada celah-celah yang lebih besar.
Minyak dan gas bumi akan lebih bersifat menempati pori-pori yang lebih besar,
semuaini tergantung dari tekanan kapiler yang ada pada batuan reservoar.
Kejenuhan dari satu cairan yang ada dalam batuan tergantung dari perbandingan
masing-masing cairan.

IV. PERHITUNGAN Sw DAN So CARA LANGSUNG DARI DATA CORE
Perhitungan nilai Sw dan So dari data core secara kuantitatif.
Untuk menganalisis saturasi/kejenuhan, sampel core harus cepat-cepat dibawa ke
laboratorium, sebab cairannya akan keluar atau hilang, sehingga harga saturasi akan
jauh lebih rendah daripada keadaan aslinya di reservoar.
Sebaiknya sampel core harus dimasukkan dalam kantong dan disimpan dalam
pendingin, supaya cairannya tidak hilang dan saturasi dapat dianalisis dengan baik.
Penentuan harga saturasi dari core dapat dilakukan dengan beberapa cara/metode,
antara lain:
1) Metode Ekstraksi
BAB IV. Analisa Data Inti Batuan (core)-27

Untuk menghitung harga saturasi dari core dengan metode ekstraksi digunakan
larutan gasoline toluene dan menggunakan alat ekstraksi (lihat gambar)





















Gambar 6.1. Modified ASTM extraction aparatus
Cara Kerja:
Sampel core dimasukkan dalam tabung timbal, kemudian larutan/solvent dipanasi
dengan suhu 120
0
150
0
C, larutan akan menguap dan mendesak serta menguapkan
cairan yang ada dalam sampel core, uap akan naik dan masuk ke dalam tabung
pendingin (condenser), terjadilah embun.
Karena gaya berat, embun akan turun atau menetes dan ditampung dalam tabung
ukur. Proses ini akan berjalan menerus sampai jumlah air tetap, maka pekerjaan
ekstraksi dihentikan. Biasanya proses ini berjalan antara 2 24 jam.
BAB IV. Analisa Data Inti Batuan (core)-28

Berat jenis dari masing-masing cairan berbeda, maka iar akan berada dibawah
minyak atau larutan ekstraktor, dengan demikian harga saturasi dapat dihitung.
Harga saturasi air dapat dihitung secara langsung dengan cara membandingkan
volume air yang tertampung tabung ukur dengan volume pori-pori contoh inti bor
yang terekstraksi dengan rumus sebagai berikut:
volume dalam tabung ukur (cc)
Sw = x 100 %
volume pori-pori core (cc)
Harga saturasi minyak dihitung secara tidak langsung dengan cara menimbang
contoh core sebelum dan sesudah diadakan ekstraksi, serta berat bersih atau kering,
dengan demikian saturasi minyak dapat dihitung dengan rumus :
berat contoh basah berat contoh kering berat air (gram)
So =
volume pori- pori x berat jenis minyak (cc.gr/cc)
Jika harga saturasi air dan saturasi minyak sudah diketahui maka saturasi gas dapat
dihitung.
Hubungan ketiga saturasi ini adalah :
Sw + So + Sg = 100 %
Dengan, Sw = saturasi air
So = saturasi minyak
Sg = saturasi gas

2) Metode Retort
Harga saturasi air dan saturasi minyak langsung dapat diketahui berdasarkan
volume air dan minyak yang tertampung dalam tabung ukur.
BAB IV. Analisa Data Inti Batuan (core)-29

Secara garis besar cara kerjanya hampir sama dengan cara ekstraksi; perbedaannya
terletak pada pemakaian larutan untuk cara ekstraksi, sedangkan pada cara retort
tidak menggunakan larutan atau zat pelarut.
Alat yang digunakan yaitu distilasi retort .
Kekurangan metode ini:
a Karena suhu pemanasan tinggi (1000
0
1100
0
F), maka akan terjadi proses
hidrasidari contoh inti bor danakibatnya harga saturasi air bertambah besar,
untuk itu diperlukan koreksi.
b Pemanasan yang tinggi mengakibatkan harga saturasi minyak menjadi kecil atau
relatif kurang, disebabkan minyak yang mengalami pergerakan di dinding
bagian dalam dari tempat contoh inti bor.










Gambar 6.2. Peralatan distilasi Retort (Amyx, 1960)

3) Metode Sentrifugal
Dasar : mengeluarkan cairan yang ada dalam contoh inti bor dengan bntuan gaya
sentrifugal dan larutan yang disemprotkan dke contoh inti bor melalui sumbu putar
yang ada pada alat pemutar. Karena larutan dan gaya sentrifugal, cairan dalam inti bor
akan keluar atau terdesak oleh zat pelarut yang ada. Cairan yang keluar ditampung
dalam tabung ukur, dengan demikian harga maisng-masing dapat diukur dengan mudah
karena sudah etrpisah-pisah antara minyak dan air dikarenakan perbedaan berat
jenisnya.













Gambar 6.3. Alat pemutar dalam analisa kejenuhan contoh inti bor cara sentrifugal
(Amyx, 1960)


4) Analisa saturasi cara pembagian
Contoh inti bor yang akan dianalisa dipotong atau dibagi menjadi 2, satu
dimasukkan dalam Piknometer untuk mneghitung kandungan gas, yang lainnya
dianalisa saturasi dengan pensaturasian larutan merkuri, sebelum dan sesudahnya
contoh inti bor ditimbang, hitung volume total dan berat jenus.















DAFTAR PUSTAKA

Dickey, P.A., 1986, Petroleum Development Geology, 3 rd edition, PenWell Publishing
Company, 1421, Tulsa, Oklohama, USA
Friedman, Gerald M., 1978, Principles Of Sedimentology, John Willey & Sons, Inc.,
New York, USA
Gatlin, C., 1960, Petroleum Engineering Drilling and Well Completion, Prentice Hall
Inc., Englewood Cliff, New Jersey, USA
Western Atlas International, 1992, Aplications of Core Data In Petroleum Reservoir
Studies, Western Atlas International, Inc., Jakarta
Whittaker, A., 1985, Sample and Core Handling and Analysis, IHDRC Video Library
for Exploration and Production Specialist, 137 Newbury street, Boston.