Anda di halaman 1dari 13

Kimia analitik modern dikategorisasikan melalui dua pendekatan, target dan

metode. Berdasarkan targetnya, kimia analitik dapat dibagi menjadi kimia bioanalitik,

analisis material, analisis kimia, analisis lingkungan, dan forensik. Berdasarkan

metodenya, kimia analitik dapat dibagi menjadi gravimetri, spektroskopi,

spektrometri massa, kromatografi dan elektroforesis, kristalografi, mikroskopi, dan

elektrokimia (Anonim, 2004 dalam Utami, 2008).

Teknik analisis gravimetri merupakan salah satu bagian utama dari kimia analitik dan

menjadi alternatif metode analisis yang mempunyai ketertelusuran tinggi, karena

metode tersebut mempunyai ketertelusuran yang terdekat ke standar nasional maupun

standar international. Untuk dapat melakukan analisis secara gravimetri yang baik

dan benar diperlukan pengetahuan yang cukup, karena metode ini dapat menjadi

metode acuan untuk metode pengukuran lainnya (Anonim, 2006 dalam Utami, 2008).

Analisis bobot atau gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat

suatu unsur atau senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penentuan secara analisis

gravimetri meliputi transformasi unsur atau radikal kesenyawa murni stabil yang

dapat segera diubah menjadi bentuk yang dapat ditimbang secara teliti. Pemisahan

unsur-unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan beberapa cara, seperti

metode pengendapan, metode penguapan, metode elektroanalisis, atau berbagai

metode yang lain. Metode gravimetri memakan waktu yang cukup lama, adanya

pengotor pada konstituen dapat di uji dan bila perlu faktor-faktor koreksi dapat

digunakan (Khopkar, 1990).


Metode Pengendapan

Pengendapan dilakukan sedemikian rupa sehingga memudahkan proses

pemisahan, misalnya: Ag diendapkan dengan AgCl. Aspek yang penting dan perlu

diperhatikan pada metode tersebut adalah endapannya mempunyai kelarutan yang

kecil sekali dan dapat dipisahkan secara filtrasi. Pada temperatur tertentu, kelarutan

zat pada pelarut tertentu didefinisikan sebagai jumlahnya jika dilarutkan pada pelarut

yang diketahui beratnya dan zat tersebut mencapai kesetimbangan dengan pelarut itu.

Hal ini tergantung pada ukuran partikel. Larutan lewat jenuh adalah larutan dengan

konsentrasi zat terlarut lebih besar dibandingkan dengan keadaan kesetimbangan pada

suhu tertentu. Contoh reaksi pengendapan dengan pereaksi AgNO3:

NaCl(aq) + AgNO3 → AgCl(s) + NaNO3 (Utami, 2008).

Kemurnian Endapan

Pemisahan endapan dari larutan tidak selalu menghasilkan zat murni (Utami,

2008). Ada dua jenis kontaminasi yang telah ditetapkan, yaitu (1) kopresipitasi yang

artinya endapan dan kotoran mengendap secara bersamaan, (2) Post-presipitasi

(pasca-pengendapan) dimana awalnya endapannya murni, namun terkontaminasi

karena adanya substansi atau zat yang berikutnya. Post-presipitasi biasanya terjadi

pada larutan yang lewat jenuh (Laitinen dan Harris, tanpa tahun). Dengan kata lain,

Post-presipitasi adalah pengotoran pada pengendapan yang terjadi pada permukaan

endapan pertama (Utami, 2008).

Secara garis besarnya ada dua bagian kopresipitasi yang diakui (1) adsorpsi

kotoran yang mengendap di permukaan partikel (adsorpsi permukaan) (Laitinen dan


Harris, tanpa tahun). Namun demikian, partikel tersebut tidak tumbuh di luar dimensi

koloid dan akhirnya akan mengendap sebagai koloid yang berkoagulasi (Dat dan

Underwood, 1999). (2) Oklusi dimana partikel-partikel asing terkepung sewaktu

proses pertumbuhan Kristal (Svehla, 1990). Jadi dengan bertumbuhnya ukuran

partikel, maka pengotor tersebut bisa tertutup dalam Kristal (Day dan Underwood,

2002).

Adsorpsi

Beberapa tipe proses penyerapan telah diklasifikasikan oleh Kolthoff (Laitinen dan

Harris, tanpa tahun).

Adsorpsi ion penentu potensial

Kisi ion terperangkap pada permukaan endapan yang mengandung ion yang

sama yang terserap menurut persamaan

dXm=k d ln Ci

Atau bentuk integrasinya adalah

Xm=k ln CiCi0 (9-

1)

Dimana X merupakan jumlah yang terserap (dalam milligram, gram atau mol), m

berat endapan, Ci konsentrasi kisi ion dalam larutan, Ci0 merupakan konsentrasi

isoelektrik (hubungan X = 0 jika Ci = Ci0), dan k adalah tetapan.


Kenyataannya, adsorpsi kisi ion sangat jauh dari ideal, menunjukkan tidak

ekuivalennya permukaan Kristal yang sempurna dan tak sempurna dan gangguan dari

kisi ion yang bisa juga menjadi potential-determining.

Adsorpsi oleh penukar ion

Adsorpsi penukar ion mengambil tempat pada konsentrasi dan kisi ion.

Contohnya penukaran kisi ion adalah

BaSO4 + Pb2+ ⇌ PbSO4 + Ba2+ (9-2)

Tetapan kesetinbangannya adalah

Keq= [Ba2+]soln

[PbSO4]surf[BaSO4]surf[Pb2+]soln (9-3)

Karenanya X/m merupakan proporsi untuk [Pb++]/[Ba++]. Contoh dari pertukaran ion

lawan adalah

AgI I- ⋮ Na+ + NH4+ ⇌ AgI ٠I- ⋮ NH4+ + Na+

Yang mana digambarkan melalui tetapan kesetimbangan yang sama dengan

persamaan (9-3).

Aturan dapat diformulasikan untuk memprediksi beberapa ion dalam larutan yang

akan diserap sebagai ion lawan.

1. Kedua ion yang berada dalam konsentrasi yang sama, ion dengan muatan

yang besar terserap.

2. Kedua ion dengan muatan yang sama, Ion dengan konsentrasi tinggi terserap.
3. Kedua ion yang muatannya sama pada konsentrasi yang sama, Ion secara kuat

tertarik oleh kisi ion yang terserap (aturan penyerapan Paneth-Fajans-Hahn).

Daya tarik interionik yang kuat antara ion kisi yang terserap dan ion lawan

diindikasikan melalui (1) kelarutan kecil, (2) derajat disosiasi yang kurang, (3)

kovalen yang kuat, (4) Kemampuan polarisasi yang kuat oleh kation dan

anion.

Sehingga, ion kalsium yang terserap melebihi ion magnesium pada muatan

negative barium sulfat, seperti yang diharapkan bahwa kalsium sulfat kurang larut

dibanding magnesium sulfat. Perak asetat lebih kuat terserap pada perak iodide

dibanding perak nitrat, observasi yang konsisten dengan kelarutan yang kecil dan

kovalen yang kuat dari perak asetat. Anion yang tercelup secara kuat terserap pada

muatan positif perak halide, dengan kovalen dari garam perak yang tercelup.

Hidrogen sulfide secara kuat terserap pada logam sulfide sebagai hasil dari sifat

ionisasi yang lemah. Dalam hal ini, aturan Paneth-Fajans-Hahn sering diaplikasikan

secara keliru pada larutan padat dibandingkan adsorpsi.

Adsorpsi pasangan ion atau molekul

Proses penyerapan molekul, mengikuti persamaan empiris yang diketahui

sebagai isothermal penyerapan Freundlich:

Xm=kC1n (9-4)
dimana k dan n adalah konstan. Tetapan n biasanya sekitar 2-4. Persamaan (9-4)

mewakili parabola n order dan tentunya tidak menggambarkan proses kejenuhan

dimana X/m mendekati nilai batas pada konsentrasi tinggi.

Adsorpsi monolayer

Jika zat yang terserap dapat menempati sisi permukaan yang terbatas, dan jika

prosesnya tidak berlanjut cukup jauh untuk membentuk beberapa lapisan molekul,

kondisi kejenuhan permukaan mendekati konsentrasi tinggi dari zat yang terserap.

Proses ini digambarkan melalui isothermal penyerapan Langmuir.

Xm= k1C1+k2C (9-

5)

dimana X/m mendekati nilai jenuh k1/k2 sebagai C yang tak terbatas. Untuk nilai kecil

C (k2C << 1), X/m ≈ k1C, jumlah yang terserap merupakan proporsional pada

konsentrasi. Untuk nilai intermediate C, isothermal Langmuir menunjukkan variasi

X/m dengan kekuatan fraksi konsentrasi, dan melebihi batas kisaran adsorpsi yang

dapat digambarkan dengan baik melalui isothermal Freundlich. Contoh adsorpsi

monolayer adalah adsorpsi bahan pencelup, yang mendekati nilai kejenuhan pada

konsentrasi rendah dan berguna dalam pengukuran permukaan spesifik dari endapan.

Kontaminasi melalui adsorpsi

Adsorpsi merupakan sumber utama kontaminasi endapan yang mempunyai

permukaan yang besar, contohnya, flokulasi koloid (logam sulfida, perak halida,

hidrous oksida) (Laitinen dan Harris, tanpa tahun). Koagulasi (atau flokulasi) dimana
partikel-partikel menyatu dan membentuk gumpalan-gumpalan yang lebih besar dari

material yang akan terpisah dari larutan, melalui penghilangan muatan yang

dikontribusikan oleh lapisan primer (Day dan Underwood, 2002).

Endapan perak halida mengendap dengan alkil halida berlebih dan akan

mengendapkan ion halida yang terserap sebagai kisi ion dan ion logam alkali sebagai

ion lawan. Pencucian dengan asam nitrat encer dapat secara besar menggantikan ion

logam alkali melalui penukaran ion lawan. Hydrogen halide yang teradsorpsi

menguap di atas pembakaran endapan. Jika ion perak diserap pada kisi ion, pencucian

tidaklah efektif untuk menghilangkan garam perak yang terserap, yang mana tidak

akan menguap pada saat pembakaran. Jumlah material yang terserap dapat secara

signifikan berkurang dengan menyimpannya selama pencernaan, ketika rekristalisasi

menyebabkan berkurangnya nilai dari total permukaan dan juga menimbulkan

struktur permukaan yang mendekati sempurna yang memiliki tendensi yang kecil

untuk menyerap kisi ion (Laitinen dan Harris, tanpa tahun).

Kopresipitasi dengan hidrous oksida, seperti besi(III) dan aluminium, terjadi

melalui adsorpsi dan mungkin juga melalui pembentukan senyawa. Endapannya,

mengendap dalam amorphous (tak berbentuk) atau bentuk Kristal yang rapi dengan

permukaan ekstensif, adsorpsi jumlah besar dari air dan adsorpsi ion hidroksida

sebagai ion penentu potensial (potential-determining).

Pembelajaran baru-baru ini mengenai kopresipitasi dengan hidrous oksida

memberikan bukti lebih lanjut untuk bentuk senyawa 1:1 antara Zn2+ atau Cu2+ dan

besi(III) hidroksida. Informasi sinar-X mengindikasikan senyawa kimia dengan Cu2+


dan timah(IV) hidrous oksida, sekiranya dengan formula Cu3SnO5.nH2O. Dalam tiap

kasus langkah pertama adalah adsorpsi, diikuti reaksi.

Adsorpsi reversible spesifik di atas 0,28 mol Pb2+ per mol besi dalam koloid

besi(III) oksida hidrous telah ditemukan disertai pelepasan 1,6 ion hydrogen per mol

Pb2+ yang terserap pada pH 6.

Buktinya konsentrasi ammonia yang rendah (0,003 M) dan konsentrasi

ammonium klorida yang tinggi (1,5 ke 2 M) lebih disukai untuk pemisahan yang

efisien dari ion logam yang tidak membentuk kompleks amin (Ca++ , Mg++).

Kenyataannya, endapan tunggal, ditemukan secara efektif di bawah kondisi ini.

Untuk memisahkan besi(III) dari tembaga, seng dan nikel, konsentrasi yang tinggi

dari ammonia dan ammonium klorida memberikan hasil yang baik dalam endapan

tunggal.

Oklusi oleh adsorpsi

Kolthoff memberikan konsep entrapment ion asing, meliputi bertambahnya

endapan di sekitar ion yang terserap, merupakan sumber kontaminasi penting,

terutama endapan kristalin seperti barium sulfat dan kalsium oksalat. Dasar dari

konsep ini adalah oklusi bukanlah proses kesetimbangan dan rekristalisasi selama

penyimpanan dapat berpengaruh pada kemurnian. Ion asing berada pada kisi yang

cacat kecuali kalau terikat pada larutan padat.


Permukaan dimana adsorpsi zat dalam larutan terjadi termasuk pembentukan

Kristal. Jika hasil dari pembentukan berlanjut, material yang terserap tidak terlepas

(desorbed), akan tertahan dalam Kristal pada posisi dimana tidak akan berada pada

permukaan. Tipe dari kopresipitasi ini secara umum lebih penting dibandingkan

adsorpsi yang berpengaruh pada semua endapan, tidak hanya dengan permukaan yang

besar. Sejak beberapa oklusi terjadi melalui mekanisme adsorpsi, dapat secara

kualitatif diprediksi dengan aturan yang sama. Terdapat faktor tambahan, order

dimana reagen bercampur diharapkan berpengaruh pada perluasan oklusi dari tipe

particular ion. Ketika endapan kation garam ditambahkan perlahan-lahan dalam

larutan garam anion, kopresipitasi kation asing adalah predominan. Sementara itu,

oklusi anion asing diminimalisir, karena di bawah keadaan sekitar konsentrasi

endapan anion selama pembentukan Kristal secara relative tinggi. Dengan demikian,

oklusi kation asing dapat diminimalisir jika order penambahan terseleksi sehingga

endapan kation dalam larutan berlebih selama presipitasi dan pembentukan Kristal.

Pengaruh order pencampuran oklusi anion digambarkan melalui data Weiser dan

Sherrick, yang menemukan bahwa oklusi klorida berkurang dari 15,8 ke 1,25 milimol

per mol barium sulfat dengan menambahkan barium ke sulfat dibanding sebaliknya.

Rieman dan Hagen membuat perbandingan variasi metode dari endapan barium

sulfat; mereka menyimpulkan bahwa metode Hintz han Weber, meliputi penambahan

barium klorida dengan cepat ke dalam larutan sulfat, memberikan hasil yang sangat

baik untuk sulfat, terutama dengan adanya natrium klorida. Hasil yang baik diperoleh

dengan metode ini mengambil tempat kompensasi eror, hasil yang tinggi dari

beberapa tipe oklusi dan hasil yang rendah dari yang lainnya.
Oklusi melalui pembentukan larutan padat.

Satu dari endapan ion dapat diganti oleh ion asing yang bermuatan sama,

memberikan ion yang tidak berbeda dalam bentuk sekitar lebih dari 5% dan

memberikan dua Kristal garam dalam system yang sama. Sehingga, perak klorida dan

perak bromide membentuk series yang lengkap dari larutan padat melalui penukaran

tempat isomorphous bromida oleh klorida.

Meminimalkan kopresipitasi

1. Metode penambah dari kedua reagen. Jika diketahui bahwa baik sampel

maupun endapan mengandung suatu ion yang mengotori, larutan yang

mengandung ion ini dapat ditambahkan ke larutan lain. Dengan cara ini,

konsentrasi pengotor dijaga serendah mungkin selama tahap-tahap awal

pengendapan. Dalam kasus hidrous oksida, mjatan yang dibawa oleh partikel-

partikel utama dapat dikendalikan.

2. Pencucian. Pengotor-pengotor yang teradsorpsi dapat dihilangkan dengan

mencuci kecuali mereka terkepung. Dengan endapan-endapan mirip dadih dan

yang bersifat gelatin, seseorang harus mempunyai suatu elektrolit dalam

larutan pencuci untuk menghindari peptisasi.

3. Pencernaan. Teknik ini bermanfaat sekali bagi endapan kristalin, cukup

bermanfaat bagi endapan mirip dadih, tetapi tidak digunakan bagi endapan

yang bersifat gelatin.

4. Pengendapa kembali. Jika zatnya bisa dilarutkan kembali (sepeti garam dari

asam lemah dalam asam kuat), ia dapat disaring, dilarutkan kembali dan
diendapkan kembali. Ion pengotor akan berada dalam suatu konsentrasi yang

rendah selama pengendapan kedua, dan karenanya jumlah yang lebih kecil

akan dikopresipitasi.

5. Pemisahan. Pengotor itu bisa dipisahkan atau sifat kimiawinya diubah dengan

suatu reaksi tertentu sebelum endapan terbentuk.

(Day dan Underwood, 2002).

Pasca pengendapan

Proses dimana suatu pengotor diendapkan setelah pengendapan zat yang

diinginkan disebut pasca pengendapan (post-precipitation). Proses ini berbeda

dari kopresipitasi pada hakikatnya dalam fakta bahwa banyaknya pengotoran

meningkat dengan makin lamanya endapan yang diinginkan dibiarkan

bersentuhan dengan larutan induk. Bila ada kemungkinan terjadi pasca

pengendapan, disarankan untuk segera menyaring setelah endapan yang

diinginkan itu terbentuk (Day dan Underwood, 2002).


Daftar Pustaka

Day, R. A. dan Underwood, A. L., 2002, Anilisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam,
Erlangga, Jakarta

Khopkar, 1994, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI.Press, Jakarta

Laitinen, H. A. dan Harris, W. E., tanpa tahun, Chemical Analysis An Advanced Text
and Reference, McGraw-Hill Book Company, New York

Svehla, G., 1990, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro
Edisi Kelima, PT. Kalman Media Pustaka, Jakarta

Utami, T. F. Y., 2008, Analisis Kuantitatif Secara Gravimetri (online, diakses tanggal
20 Oktober 2009)
.