Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam ilmu farmasetika, emulsi adalah salah satu bentuk sediaan yang
terdiri dari dua komponen penting yakni fase terdispersi dan fase kontinu.
Dimana, fase terdispersi merupakan tetesan-tetesan kecil (fase dalam) yang
tersebar di dalam fase kontinu nya (fase luar). Suatu emulsi terdiri dari
campuran air dan minyak atau lemak.
Emulsi dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki rasa dan bau dari
bahan berkhasiat yang kurang menyenangkan, dan untuk mengatasi masalah
solubilitas obat. Misalnya minyak ikan. Pada dasarnya, minyak ikan memiliki
rasa dan bau yang kurang menyenangkan, namun memiliki khasiat yang
sangat baik bagi tubuh,. Dengan pertimbangan ini maka dilakukan formulasi
minyak dalam air seperti scotts emulsion.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
I.2.2 Tujuan Percobaan
I.3 Prinsip Percobaan



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan
obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi
atau surfaktan yang cocok.
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak
bercampur, biasanya air dan minyak, dimana cairan yang terdispersi menjadi
butir-butir kecil dalam cairan yang lain.
Terdapat dua tipe emulsi, yakni emulsi jenis air dalam minyak (w/o
atau a/m) dan jenis emulsi minyak dalam air (o/w atau m/a). Keduanya
memiliki karakter yang berbeda.
Tipe emulsi o/w atau m/a
Emulsi jenis ini, terdiri dari fase dalam berupa tetesan minyak
yang terdispersi dan fase luar berupa air. Untuk membuat emulsi jenis ini,
maka pemilihan emulgator dengan nilai HLB hidrofilik sangat penting
untuk dipertimbangkan. Untuk membuat emulsi jenis o/w pilihlah
emulgator dengan rentang nilai HLB 8-18. Contoh emulgator yang
memiliki nilai HLB dalam rentang ini adalah gelatin, Gom, Tween, dan
tragakan. (Ansel,2005).
Jika jenis emulsi ini diuji dengan daya hantar listrik, maka akan
memberikan nilai pada multitester, sebab fase luarnya terdiri dari air.
Dimana, air memiliki kemampuan dalam menghantarkan listrik. Emulsi
jenis ini banyak diaplikasikan dalam pembuatan sediaan parentral, oral,
dan topikal seperti lotion, krim, salep, dan gel. Jenis emulsi o/w mudah
dicuci dan tidak terasa lengket saat digunakan di kulit sehingga
memberikan kesan ringan. Fenomena ini banyak dimanfaatkan untuk
pembuatan sediaan kosmetik. Namun, karena sifatnya yang mudah
tercuci, emulsi jenis ini tidak bertahan lama di kulit, sehingga jika
diformulasikan untuk tujuan terapi, lama kontak sediaan dengan kulit
relatif lebih singkat daripada emulsi w/o. Akibatnya, obat tidak lama
berkontak dengan kulit dan efektivitasnya menjadi lebih kecil.
Emulsi tipe w/o atau a/m
Jika pada emulsi tipe o/w fase terdispersinya adalah minyak, maka
pada jenis emulsi w/o fase terdispersinya adalah air dan minyak sebagai
fase kontinu. Pada dasarnya, jika air dicampurkan dengan minyak, maka
akan terjadi pemisahan antara keduanya. Lalu bagaimana mungkin
minyak dan air bisa berada dalam suatu campuran yang tampak homogen?
Ada beberapa teori yang dapat menjelaskan hal ini. Yaitu teori tegangan-
permukaan, oriented wedge theory, dan teori lapisan antarmuka.
Selanjutnya, air didispersikan menjadi tetesan2 kecil di dalam fase
kontinu berupa minyak. Sehingga jadilah tetesan air dalam minyak. Untuk
membuat emulsi tipe ini, maka pilihlah jenis emulgator yang bersifat
lipofilik dengan nilai HLB 3-8. Contoh emulgator dengan nilai HLB
dalam rentang ini adalah propilen glikol monostearat, etilan glikol
distearat, dan sorbitan monooleat. Emulsi jenis ini bersifat lipofilik atau
larut dalam lemak. Sehingga, tidak mudah tercuci. Untuk preparat
kosmetik, emulsi jenis ini jarang dipilih karena akan memberikan rasa
berat bagi pemakainya. Namun untuk tujuan terapi, emulsi jenis ini
lebih baik daripada jenis emulsi o/w. (Paye et al, 2001) Sebab, jika
sediaan tidak mudah tercuci, artinya waktu kontak sediaan dengan kulit
akan relatif lebih lama. Sehingga diharapkan waktu kontak obat juga akan
lebih lama. Maka untuk terapi, hal ini akan lebih efektif. Jika diuji dengan
alat uji konduktivitas listrik, maka emulsi jenis ini tidak memberikan nilai
pada multimeter sebab minyak -sebagai fase luar- bukanlah zat yang
bersifat menghantarkan listrik.

Membuat emulsi dengan minyak lemak
Dalam Farmakope Belanda ed.V diterangkan bahwa untuk emulsi dari
minyak-minyak lemak harus dibuat dengan gom arab. Untuk semua minyak-
minyak lemak dipakai setengah berat gom arab kecuali minyak jarak (Ol.
Ricini). Di dalam farmakope tersebut juga diterangkan bahwa kecuali
dinyatakan lain, maka digunakan 10 bagian minyak lemak untuk 100 bagian
emulsi seperti yang diterangkan pada mikstura oleosa atau emulsum oleosa
harus menggunakan 10% ol amygdalarum.
Ada dua cara dalam membuat emulsi dengan Gom arab yaitu
1. Cara gom kering dimana gom dalam keadaan kering dicampur dengan
minyak diaduk (jangan terlalu lama) lalu kemudian ditambahkan air
sebanyak 1,5 kali berat gom sekaligus lalu diaduk hingga membentuk
corpus.
2. Cara gom basah dimana gom dibasahkan terlebih dahulu dengan air (1,5
kali berat gom) lalu ditambahkan minyak lemaknya lalu diaduk hingga
membentuk corpus.
II.2 Farmakologi
a. Resep No.X.1
Indikasi

b. Resep No.X.2
Indikasi
Kamfer berkhasiat sebagai antiiritan yang cocok untuk mengatasi masalah
kulit yang teriritasi.
c. Resep No.X.3
Indikasi
Bic. Natrii sebagai bahan aktif dalam mengatasi masalah penyakit pada
telinga.
d. Resep No.X.4
Indikasi
Erythromicin berkhasiat sebagai antibiotik. Mebnidrolin Napadisilat
(Histapan) memiliki daya kerja yang lebih cepat serta kurang efek
sedasinya dibandingkan dengan prometazin. Histapan menghambat reaksi
histamin pada otot polos. Histapan mengurangi bahkan menghilangkan
efek utama hisiamin dalam tubuh, sehingga sel-sel efektor tidak ditempati
histamin. Histapan digunakan untuk pengobatan terhadap penyakit alergi.
Luminal/Fenobarbital digunakan untuk perawatan semua jenis serangan
pada epilepsy sebagai alternatif. Dextromethorphan Hydrobromidi (DMP
HBr) meringankan batuk tidak berdahak/batuk kering atau yang
menimbulkan rasa sakit.

Kontra Indikasi
Penderita yang hipersensitif (terhadap dextromethorphan), wanita hamil.
Efek Samping
Efek samping dari luminal yakni sedatif, hipnotik, Bisa terjadi withdrawal
syndrom bisa terjadi akibat penghentian mendadak atau jika dosis
obat dikurangi secara tajam. Gejala-gejala withdrawal antara lain:
anxiety, increased heart rate, sweating, c o n f u s i o n , s e i z u r e s ,
k e ma t i a n . E f e k p a d a s i s t e m s a r a f y a i t u
a t a x i a , nystagmus, dan pusing. Pada orang tua dapat
menimbulkan rasa gembira dan rasa bingung, sedang pada anak dapat
menyebabkan hiperaktif. Sedangkan efek samping dari DMP yaitu jarang
menyebabkan kantuk, mual, pusing, konstipasi.
Perhatian
Selama minum obat ini dilarang mengendarai kendaraan bermotor atau
menjalankan mesin.
Peringatan
Tidak dianjurkan untuk batuk berdahak dan untuk anak usia kurang dari 2
tahun. Hati-hati untuk penderita dalam keadaan mengantuk, debil dan
hipoksia (kekurangan oksigen). Hati-hati bila digunakan pada penderita
dengan gangguan fungsi hati.


II.3 Uraian Bahan
a. Resep No.X.1
MIXTURA OLEOSA
Komposisi:
Tiap 100 ml mengandung:
1. Oleum Amygdalarum 10 gram
2. PGA 5 gram
3. Air suling ad 100 ml

1) Oleum Amygdalarum
2) PGA (Gom Akasia)
Nama resmi : Gummi Acaciae
Nama lain : Gom Akasia, Gomarab
Pemerian : Hampir tidak berbau; rasa tawar seperti lendir.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, menghasilkan larutan yang
kental dan tembus cahaya. Praktis tidak larut dalam
etanol (95%) P.
K/P : Zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

3) Air Suling
Nama resmi : Aqua Destillata
Nama lain : Air Suling
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
b. Resep No.X.2
1) Kamfer
Nama resmi : Camphora
Nama lain : Kamper
Pemerian : Hablur butir atau massa hablur; tidak berwarna atau
putih; bau khas, tajam; rasa pedas dan aromatik.
Kelarutan : Larut dalam 700 bagian air, dalam 1 bagian etanol
(95%) P, dalam 0,25 bagian kloroform P; sangat
mudah larut dalam eter P; mudah larut dalam minyak
lemak.
K/P : Antiiritan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk.

2) Glycerol
Nama Resmi : Glycerolum
Nama Lain : Gliserol, gliserin
Pemerian : Cairan seperi sirop, jernih, tidak berwarna, tidak
berbau, manis diikuti rasa hangat, higroskopik.
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dan dengan etanol
(95%), praktis tidak larut dalam kloroform.
Khasiat : Zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
3) Oleum Sesami
Nama resmi : Oleum Sesami
Nama lain : Minyak Wijen
Pemerian : Cairan; kuning pucat; bau lemah; rasa tawar; tidak
membeku pada suhu 0.
Kelarutan : Sukar larut dalam etanol (95%) P; mudah larut dalam
kloroform P, dalam eter P dan dalam eter minyak
tanah P.
4) Amonia liq.
Nama resmi : Ammonia Liquida
Nama lain : Amonia encer
K/P : Zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat; di tempat sejuk.
c. Resep No.X.3
1) Bic. Natrii
Nama resmi : Sodium Hydrogen Carbonate
Pemerian : Serbuk hablur, putih.
Kelarutan : Larut dalam air, tidak larut dalam etanol.
2) Gliserin
Nama Resmi : Glycerolum
Nama Lain : Gliserol, gliserin
Pemerian : Cairan seperi sirop, jernih, tidak berwarna, tidak
berbau, manis diikuti rasa hangat, higroskopik.
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dan dengan etanol
(95%), praktis tidak larut dalam kloroform.
Khasiat : Zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
3) Aquadest
Nama resmi : Aqua Destillata
Nama lain : Air Suling
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
d. Resep No.X.4
1) Erythromicin Dulcet
Nama resmi : Erythromycinum
Nama lain : Eritromisina
Pemerian : Serbuk atau hablur; putih atau agak kuning; tidak
berbau atau hampir tidak berbau; rasa pahit; agak
higroskopik.
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 1000 bagian air; larut dalam
etanol (95%) P, dalam kloroform P dan dalam eter P.
K/P : Antibiotikum
DM : Sekali 500 mg, sehari 4 g.
Penandaan : Pada etiket harus juga tertera : 1. Jumlah UI tiap mg.
2. Daluwarsa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
2) Histapan
Nama lain : Biolergi, Buvelergi, Insidan, Flu sitin, Kalergi, Sulin,
tralgi.
Nama generik : Mebhidrolin Napadisilat
K/P : Antihistaminikum/anti alergi.
3) Luminal
Nama resmi : Phenobarbitalum
Nama lain : Fenobarbital, Luminal
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur; putih tidak berbau; rasa
agak pahit.
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air; larut dalam etanol (95%)
P, dalam eter P, dalam larutan alkali hidroksida dan
dalam larutan alkali karbonat.
K/P : Hipnotikum, sedativum.
DM : Sekali 300 mg, sehari 600 mg.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
4) DMP
Nama resmi : Dextrometorphani Hydrobromidum
Nama lain : Dekstrometorfan Hidrobromida
Pemerian : Serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa pahit.
Kelarutan : Larut dalam 60 bagian air dan dalam 10 bagian etanol
(95%) P; mudah larut dalam kloroform P disertai
pemisahan air





BAB III
METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
a. Botol obat ukuran
100 ml
b. Botol obat ukuran
60 ml
c. Botol tetes telinga
ukuran 10 ml
d. Timbangan
e. Lumpang dan alu
f. Gelas ukur 100 ml
g. Gelas ukur 10 ml
h. Sendok tanduk
i. Pengorek
III.1.2 Bahan
a. Oleum
Amygdalarum
b. PGA (Gummi
Acasia)
c. Air suling
(Aquadest)
d. Kamfer
e. Gliserol
f. Oleum Sesami
g. Amonia liq.
h. Bic. Natrii
i. Erythromicin dulcet
j. Histapan tab
k. Luminal
l. DMP tab
III.2 Perhitungan Bahan, Perhitungan DM, dan Cara Kerja
a. Resep No.X.1







Dr Yulinty Kadir SpPD
JL Lembu No 33 Makassar
SIP 64/Kandep/2001
No.X.1 Makassar
R/ Mixture Oleosa s.f. N.P.V
da 100 ml
m.d.s. t.dd.C.I


Nama : mihi ipsi
Umur :
Alamat :

Istilah Latin
R/ = recipe = ambilah
s.f. = sequndum satis = menurut resep yang diuraikan
N.P.V = Netherlands Pharmacopoeia Quinque = Farmakope Belanda Ed.V
da = berikan
m. = misce
d.s. = da signa = beri aturan pakai
t.dd. = ter de die = tiga kali sehari
C. = cochlear = sendok makan
I = unum = satu
Perhitungan Bahan
1. Oleum Amygdalarum = 10 gram
2. PGA (Gummi Acasia) = 5 gram
3. Air untuk PGA = 1,5 5 = 7,5 ml
4. Air suling ad 100 ml
Cara Kerja
1. Dikalibrasi botol obat.
2. Ditimbang PGA, kemudian dimasukkan ke dalam lumpang.
3. Ditambahkan air untuk PGA sebanyak 1,5 kali berat PGA.
4. Ditambahkan oleum amygdalarum sedikit demi sedikit, kemudian
diencerkan dengan air suling.
5. Dimasukkan ke dalam botol obat. Lalu dicukupkan dengan air suling
sampai 100 ml. Dikocok.
6. Diberi etiket putih dan label kocok dahulu.



b. Resep No.X.2








Istilah Latin
R/ = recipe = ambilah
m = misce = campur
f. = fac = buat
lotio = obat cuci / pembasuh
S. = signa = tandailah
Dr Fena Melinda SpKK
JL Buru No 16 Makassar
SIP 63/Kandep/2001
No.X.2 Makassar
R/ Kamfer
Glycerol
Ol. Sesami
Amonia liq.
m.f. lotio
S.u.e
Nama : Piet
Umur :
Alamat :

u.e. = usus externus = pemakaian luar
Perhitungan Bahan
1. Kamfer = 1 gram
2. Glycerol = 1 gram
3. Ol. Sesami = 79 gram
4. Amonia liq. = 20 gram
Cara Kerja
1. Dilarutkan kamfer dengan oleum sesame sampai larut. Dimasukkan ke
dalam botol obat.
2. Ditimbang glycerol, kemudian dimasukkan ke dalam botol obat.
3. Ditimbang amonia liq. Lalu dimasukkan ke dalam botol obat.
4. Dikocok sampai terjadi penyabunan.
5. Diberi etiket biru dan label kocok dahulu.
c. Resep No.X.3






Istilah Latin
Dr Sumirland SpTHT
JL Somba opu No 16 Makassar
SIP 52/Kandep/2001
No.X.3 Makassar
R/ Bic. Natrii 0,5
Gliserin 3
Aqua ad 10 ml
m.f. obat tetes telinga
S.u.e
Nama : Made
Umur :
Alamat :

R/ = recipe = ambilah
ad = sampai
m = misce = campur
f = fac = buatlah
S. = signa = tandai
u.e. = usus externus = pemakaian luar
Perhitungan Bahan
1. Bic. Natrii = 0,5 gram
2. Gliserin = 3 gram
3. Aqua ad 10 ml
Cara Kerja
1. Dikalibrasi botol obat.
2. Ditimbang bic. natrii. Lalu dilarutkan dengan aquadest secukupnya di
dalam erlenmeyer.
3. Ditimbang gliserin dalam botol obat.
4. Dimasukkan bic. natrii yang telah dilarutkan tadi ke dalam botol obat.
Lalu dikocok.
5. Diberi etiket biru dan label kocok dahulu.
d. Resep No.X.4



Dr Sinton Pangabean, SpPD
JL Rajawali No 13 Makassar
SIP 02/kandep/2000
No.X.4 Makassar
R/ Erythromicin dulcet 0,04
Histapan tab 5 mg
Luminal 6 mg
DMP tab 1/5





Istilah Latin
R/ = recipe = ambilah
m = misce = campur
f = fac = buatlah
pulv. = pulveres = serbuk bagi
dtd. = da tales doses = berikan dalam dosis sedemikian
No. = numero = sebanyak
X = decem = sepuluh
S. = signa = tandai
t.dd. = ter de die = tiga kali sehari
I = unum = satu
Perhitungan Bahan
1. Erythromicin dulcet = 0,04 g 10 = 0,4 g = 400 mg



1 tab = 2 tab
2. Histapan tab = 5 mg 10 = 50 mg



1 tab = 1 tab
3. Luminal = 6 mg 10 = 60 mg



1 tab = 2 tab
4. DMP tab = 1/5 10 = 2 tab
Perhitungan DM
1. Erythromicin dulcet
DM untuk dewasa =


DM untuk 3 tahun = 1 pakai =

0,5 g = 0,1 g
sehari =

4 g = 0,8 g

Berdasarkan resep =
1 pakai = 1 40 mg = 40 mg < 100 mg



100% = 40%
sehari = 3 40 mg = 120 mg < 800 mg



100% = 15%
2. Luminal tab
DM untuk dewasa =



DM untuk 3 tahun = 1 pakai =

300 mg = 60 mg
sehari =

600 mg = 120 mg

Berdasarkan resep =
1 pakai = 1 6 mg = 6 mg < 60 mg



100% = 10%
sehari = 3 6 mg = 18 mg < 120 mg



100% = 15%

Cara Kerja
1. Diambil erythromycin dulcet sebanyak 2 tablet. Dimasukkan ke dalam
lumpang. Digerus sampai halus, lalu dikeluarkan.
2. Diambil histapan sebanyak 1 tablet. Dimasukkan ke dalam lumpang.
Digerus sampai halus, lalu dikeluarkan.
3. Diambil luminal sebanyak 2 tablet. Dimasukkan ke dalam lumpang.
Digerus sampai halus, lalu dikeluarkan.
4. Diambil DMP sebanyak 2 tablet. Dimasukkan ke dalam lumpang.
Digerus sampai halus.
5. Dimasukkan erythromycin yang telah digerus tadi sedikit demi sedikit
ke dalam lumpang. Lalu digerus bersama DMP hingga semua
homogen.
6. Dimasukkan lagi luminal dan histapan sedikit demi sedikit hingga
homogen.
7. Dibagi rata menjadi 10 bagian yang sama. Lalu dibungkus.
8. Diberi etiket putih dan dimasukkan ke dalam sak obat.











BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Resep No.X.1
Pada pembuatan Mixtura Oleosa sebanyak 100 ml, digunakan 10 gram oleum
amygdalarum dan 5 gram PGA. Hal ini sesuai dengan yang diterangkan dalam
Farmakope Belanda Ed.V bahwa kecuali dinyatakan lain, maka digunakan 10
bagian minyak lemak untuk 100 bagian emulsi. Pada praktikum ini, Mixtura
Oleosa digunakan cara gom basah yaitu dimana gom dibasahkan terlebih dahulu
dengan air (1,5 kali berat gom) lalu ditambahkan minyak lemaknya (oleum
amygdalarum) lalu diaduk hingga membentuk corpus.
b. Resep No.X.2
Pada resep kedua dalam praktikum ini, kamfer dilarutkan dengan oleum sesami
karena kamfer mudah larut dengan minyak lemak. Gliserol dan Amonia liq.
dikocok bersamaan dalam botol. Lalu campuran kamfer + oleum sesami
dimasukkan juga ke dalam botol. Setelah itu, dikocok sampai terjadi penyabunan.
c. Resep No.X.3
Pada resep ini, bic. natrii dilarutkan dengan air suling secukupnya (sampai larut)
karena bic. natrii larut dalam air. Sedangkan gliserin ditimbang langsung dalam
botol obat. Kemudian dikocok.

d. Resep No.X.4
Erythromicin dulcet, histapan tab, luminal, dan DMP tab digerus satu per satu di
dalam lumpang. Kemudian dicampur dan diaduk bersamaan satu sama lain
sampai homogen. Kemudian dibagi rata ke dalam 10 bungkus.

















BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan kegiatan praktikum X meracik obat, dapat
disimpulkan bahwa:
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak
bercampur, biasanya air dan minyak, dimana cairan yang terdispersi menjadi
butir-butir kecil dalam cairan yang lain yang distabilkan dengan zat
pengemulsi atau surfaktan yang cocok.
V.2 Saran
1. Sebaiknya setiap praktikan tidak berebut bahan obat pada saat melakukan
kegiatan praktikum meracik obat.
2. Sebaiknya setiap praktikan yang telah menggunakan atau menimbang bahan
obat agar bahan obat tersebut dikembalikan ke lemari obat.






DAFTAR PUSTAKA
Jumain dkk.2012.Penuntun Praktikum Farmaseutika I.Makassar: Politeknik
Kesehatan Kemenkes Makassar.
Dirjen POM.1994.Farmakope Indonesia ed.IV.Jakarta:Depkes RI.
Dirjen POM.1979.Farmakope Indonesia ed.III.Jakarta:Depkes RI.
Anonim._____.Emulsi.http://mbaqcitie.wordpress.com/tag/tipe-emulsi-wo/.
(Diakses pada 22 Juni 2012)
Dinkes Kota Tasikmalaya._____.Informasi Obat:NaBikarbonat.http://dinkes.
tasikmalayakota.go.id/index.php/informasi-obat/322-na-bikarbonat.html.
(Diakses pada 22 Juni 2012)
Anonim._____._____.http://www.farmasiku.com/index.php?target=products
&product_id=32477.
(Diakses pada 22 Juni 2012)
Anonim._____.Tugas Farmakologi Fenobarbital Ed50. http://www.scribd.com/doc/

14868235/Tugas-Farmakologi-Fenobarbital-Ed50.

(Diakses pada 22 Juni 2012)

Anonim._____._____.http://bayer.co.id/ina/hc_cc_products.php?g_id=2&p_id=46.
(Diakses pada 22 Juni 2012)