Anda di halaman 1dari 48

KELOMPOK DAN INDIVIDU:

KONSEKUENSI DARI RASA


KEPEMILIKAN
Disusun Oleh:
Andriani (1224090074)
Alfi Nursyamsiah (1224090078)
Alan Reno Muttoha (1224090073)
Mevrina Girsang (1224070044)
Rizkya Amanda P. (1224090086)
Rizky Widi A.N. (1224090193)
Yunia Widyastutik (1224090083)

Kelompok: Karakter Kelompok dan
Bagaimana Fungsi Kelompok
Kelompok adalah sekumpulan orang
yang dipersepsikan terikat satu sama lain
dalam sebuah unit yang koheren pada derajat
tertentu.
Psikolog sosial menyebut karakteristik
kelompok yang seperti ini sebagai entiativity-
derajat dimana suatu kelompok dipersepsikan
sebagai suatu kesatuan koheren.
Entiativity sangat berfariasi ada entiativity yang
tinggi dan entiativity yang rendah
Entiativity tinggi:
anggota kelompok ini
berinteraksi satu sama
lain dan memiliki
tujuan serta hasil akhir
yang sama.
Entiativity rendah:
mereka hanya
sekumpulan orang
yang kebetulan
berada pada tempat
yang sama dalam satu
waktu.
Fungsi Kelompok: Peran, Status, Norma, dan
Kohesivitasnnya
PERAN: DIFERENSIASI FUNGSI DIDALAM KELOMPOK
Peran adalah suatu set perilaku yang diharapkan
dilakukan oleh individu yang memiliki posisi spesifik
dalam suatu kelompok.
Orang-orang yang berbeda melakukan tugas-tugas
yang berbeda dan diharapkan dapat mencapai hal-hal
yang berbeda demi kelompok. Singkat kata, mereka
memainkan peran yang berbeda.
Orang-orang sering kali menginternalisasikannya,
mereka menghubungkan peran mereka dengan aspek
kunci dari konsep self mereka. Ketika ini terjadi, sebuah
peran dapat memunculkan efek mendasar terhadap
perilaku seseorang, bahkan ketika ia sedang tidak
berada dalam kelompok.

STATUS: HIERARKI DALAM KELOMPOK
Status adalah posisi atau tingkatan dalam sebuah
kelompok.
Orang orang sering kali sangat sensitif pada status karna
status terkait dengan begitu banyak hasil akhir yang
diharapkan.
Secara spesifik, orang dengan status tinggi memiliki lebih
banyak akses dibandingkan orang dengan status rendah
ke sumber-sumber daya kunci yang terkait dengan
pertahanan hidup dan reproduksi seperti makanan dan
pasangan
NORMA: PERATURAN PERMAINAN
Norma adalah peraturan didalam suatu kelompok yang
mengindikasikan bagaimana anggota-anggota
seharusnya atau tidak seharusnya bertingkah laku.
Kepatuhan pada norma sering kali merupakan kondisi
yang diperlukan untuk mendapatkan status dan
penghargaan yang di kontrol oleh kelompok.
KOHESIVITAS: KEKUATAN YANG MENGIKAT

Kohesivitas adalah semua kekuatan (faktor-faktor) yang
menyebabkan anggota kelompok bertahan dalam kelompok.
Beberapa faktor mempengaruhi kohesivitas
1. Status didalam kelompok- kohesivitas biasanya lebih
tinggi pada diri anggota dengan status yang tinggi
daripada yang rendah
2. Usaha yang dibutuhkan untuk masuk kedalam kelompok-
makin besar usaha makin besar kohesivitasnya
3. Keberadaan ancaman eksternal atau kompetisi yang kuat-
ancaman seperti itu meningkatkan ketertarikan dan
komitmen anggota kelompok

BAGAIMANA KELOMPOK MEMPENGARUHI
KINERJA INDIVIDUAL : Dari fasilitas sosial
sampai social loafing
Fasilitas sosial : Kinerja dengan adanya orang
lain .
Fasilitas sosial adalah dampak terhadap
kinerja yang berasal dari kehadiran orang lain.
Peneliti saat ini kadang menyebut dampak
tersebut sebagai fasilitas hambatan sosial,
suatu fase yang lebih akurat dalam
menggambarkan dampak kompleks dari
hadirnya orang lain.
Teori dorongan Zanoch atas fasilitas sosial :
Orang lain sebagai sumber keterangsangan
Suatu teori yang menyatakan bahwa dengan
kehadiran orang lain saja dapat menimbulkan
keterangsangan dan meningkatkan kecenderungan
untuk menunjukkan respon dominan.
kehadiran orang lain akan memperbaiki kinerja
seseorang bila ia memiliki keterampilan tinggi dalam
tugas yang sedang dilakukan , tetapi akan
mengganggu kinerja bila ia tidak memiliki
keterampilan tersebut .
Teori Distraksi-Konflik
Menyatakan bahwa kehadiran orang
lain memunculkan kecenderungan yang
saling bertentangan antara berfokus
pada tugas yang sedang dilakukan dan
pada penonton atau rekan. Hal ini dapat
menyebabkan baik peningkatan
keterangsangan maupun fokus
perhatian yang menyempit.
Social Loafing : Membiarkan orang lain
melakukan pekerjaan ketika menjadi
bagian dari kelompok
Pola ini cukup umum terjadi dalam situasi di
mana kelompok melakukan apa yang disebut
Additive task atau tugas dimana kontribusi dari
setiap anggota digabungkan menjadi salah satu
hasil akhir kelompok . Munculnya social loafing
telah diuji dibanyak percobaan , contoh :
sekelompok pelajar pria diminta untuk bertepuk
tangan dan berteriak sekencang-kencangnya di
waktu tertentu,sehingga dapat menentukan
seberapa banyak suara yang dikeluarkan dalam
setting social.
Model usaha kolektif ( Collective Effort
Model ) : Teori Pengharapan atas
Social Loafing
Social loafing dapat dipahami dengan cara
memperluas teori dasar atas motivasi
nindividual Expectance-Valence Theory (
individu akan bekerja keras pada waktu
tertentu ) : Expectancy (pengharapan),
Instrumentality (instrumentalitas), Valence
( Valensi) .
Mengurangi Social Loafing :
Beberapa teknik yang berguna
Meliputi upaya membuat hasil akhir atau usaha
dari masing-masing partisipasi dapat
diidentifikasi (Williams, Harkins, & Latane ,
1981). Orang-orang tidak dapat bersantai dan
membiarkan orang lain bekerja , kedua dengan
cara meningkatkan komitmen anggota
kelompok pada kinerja tugas yang sukses,
ketiga meningkatkan kejelasan akan arti
penting atau nilai dari suatu tugas, keempat
ketika individu memandang bahwa kontribusi
mereka pada tugas tersebut unik dan bukan
sekedar meramaikan kontribusi orang lain .
Koordinasi dalam Kelompok : Kerja Sama
atau Konflik ?
Kerja Sama (cooperation) : Perilaku di mana
kelompok bekerja secara bersama-sama untuk
mendapatkan tujuan yang sama.

Konflik : Suara proses di mana individu atau
kelompok mempersepsikan bahwa orang lain
telah atau akan segera mengambil tindakan
yang tidak sejalan dengan kepentingan pribadi
mereka.
Kerja Sama : Bekerja dengan Orang Lain untuk
Mencapai Tujuan Bersama.
Dilema Sosial : Situasi di mana setiap orang dapat
meningkatkan perolehan individual mereka dengan
bertindak menang sendiri/egois, tetapi jika semua
(atau sebagian besar) orang melakukan hal yang
sama, hasil akhir yang terima oleh semua orang akan
berkurang.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kerja Sama

Timbal Balik : Aturan mendasar dari kehidupan
sosial bahwa individu cenderung memperlakukan
orang lain sebagaimana orang-orang tersebut telah
memperlakukan mereka.
Orientasi Pribadi

Secara spesifik, individu dapat memiliki satu dari
dari tiga orientasi yang berbeda terhadap situasi
yang meliputi dilema sosial :
1. Orientasi Kooperatif ,dimana mereka
memilih untuk memaksimalkan hasil akhir bersama
yang diterima oleh semua orang yang terlibat.
2. Orientasi Individualistik, di mana fokus
utamanya adalah untuk memaksimalkan hasil
mereka sendiri, atau
3. Orientasi Kompetitif, di mana fokus
utamanya adalah untuk mengalahkan orang lain.

Komunikasi

Efek Diskontinuitas : Mengapa Kelompok
Lebih Kompetitif daripada Individual ???
Efek Diskontinuitas merujuk pada fakta
bahwa kelompok lebih cenderung untuk
berkompetisi satu sama lain daripada
individu. Singkat kata, kerja sama antar
kelompok lebih sulit diperoleh daripada kerja
sama antar anggota kelompok.
Konflik: Sifat, Penyebab dan Dampaknya
Konflik


Suatu proses dimana individu atau
kelompok mempersepsikan bahwa orang
lain telah atau akan segera melakukan
tindakan yang tidak sejalan dengan
kepentingan pribadi mereka.
Dengan kata lain kepentingan orang lain
tidak sejalan dengan kepentingan mereka.


Elemen kunci pada konflik:
1. Kepentingan yang bertentangan di
antara individu dan kelompok
2. Kesadaran akan adanya
kepentingan yang bertentangan
tersebut
3. Belief dari setiap pihak bahwa pihak
yang lain akan melakukan tindakan
yang mengintervensi kepentingan-
kepentingan mereka
4. Tindakan yang menghasilkan
intervensi
Penyebab Utama Konflik
Faktor sosial
Satu faktor sosial yang memainkan peran
adalah apa yang disebut atribusi yang salah.
Kesalahan yang berhubungan dengan latar
belakang perilaku orang lain.

Atribusi yang salah mengenai penyebab dari
hasil akhir negatif dapat dan sering kali
memainkan peran penting dalam konflik, dan
kadang-kadang menyebabkan terjadinya konflik
ketika sebenarnya dapat dihindari.
Faktor sosial lain yang memainkan peran
penting dalam konflik adalah komunikasi yang
salah.
Individu kadang-kadang berkomunikasi dengan
orang lain dengan cara yang membuat mereka
terganggu atau marah, bahkan meski ia tidak
bermaksud demikian
Penyebab sosial yang ketiga melibatkan
kecenderungan untuk mempersepsikan
pandangan diri sendiri sebagai objektif dan
merefleksikan realitas, tetapi pandangan orang
lain dipengaruhi oleh ideologi mereka.

Sebagai hasil dari kecenderungan ini, kita cederung
untuk memperbesar perbedaan antara pandangan
kita dengan pandangan orang lain, dan juga melebih-
lebihkan konflik kepentingan kepentingan di antara
kita.
Jadi kesimpulannya dalah konflik tidak hanya muncul
dari kepentingan yang bertentangan. Sebaliknya,
konflik sering muncul dari faktor-faktor sosial, keluhan
atau amarah yang berkepanjangan, keinginan
membalas dendam, persepsi sosial yang tidak tepat,
komunikasi yang buruk, dan dan faktor-faktor lain yang
serupa.
Menyelesaikan Konflik:
Beberapa Teknik yang Berguna
TAWAR-MENAWAR (Proses uiversal)
Sejauh ini strategi paling umum untuk
menyelesaikan konflik adalah tawar-
menawar atau negosiasi.
Dalam proses ini, pihak-pihak yang
berlawanan saling bertukar penawaran,
penawaran balasan, dan konsesi, baik
secara langsung maupun melalui
perwakilan. Proses tawar- menawar ini
bisa berhasil, namun bisa juga tidak
berhasil.
Faktor-faktor apa yang menentukan hasil
apa yang akan terjadi?


Taktik spesifik yang diterapkan pihak-
pihak terkait.

Taktik untuk mendapatkan tujuan ini termasuk:

1. Memulai dengan penawaran awal yang ekstrim,
yang sangat menguntungkan bagi pihak yang
menawarkan
2. Teknik bohong besar, meyakinkan pihak lawan
bahwa titik impasnya lebih daripada yang
sebenarnya sehingga mereka menawarkan lebih
daripada yang diinginkan.
3. Meyakinkan pihak lawan bahwa aneda memiliki
jalan keluar sendiri, jika mereka tidak mau
menerima kesepakatan dengan anda, anda dapat
peri ke tempat lain dan mendapatkan penawaran
yang lebih baik.



Faktor kedua yang sangat penting dalam
menentukan hasil dari negosiasi adalah
orientasi menyeluruh dari negosiator
menyangkut keseluruhan proses.
TUJUAN SUPERORDINAT (kita ada
dalam hal ini bersama-sama)

Ketika pihak yang berlawanan dapat dibuat
melihat bahwa mereka mempunyai tujuan
utama yang sama, konflik dapat dikurangi
secara drastis dan mungkin bahkan, dapat
digantikan oleh kerjasama nyata.

Konflik Antaretnis dan Batasan
Budaya
Ketika individu terlibat dalam konflik, mereka sering
memandang pada hasil yang mereka peroleh.
Apakah mereka menang atau kalah.

Dan ada pandangan yang dikenal sebagai model
hubungan.

Dalam beberapa dekade terakhir, imigrasi telah
meningkat. Ini berarti sejumah besar orang dari latar
belakang etnis dan budaya yang berbeda sekarang
dapat berhubungan satu sama lain dan tanpa bisa
dielakkan mengalami konflik.
Apakah kepedulian terhadap hubungan
akan menguat atau melemah dalam
konteks lintas budaya ini?




1. Bagaimana kita diperlakukan oleh
anggota kelompok kita sendiri
2. Kita tidak terlalu percaya pda kemampuan
kita dalam membaca orang dari budaya
lain secara tepat
Model
Hubungan
Melemah Dua Alasan
Kesimpulannya, ketika individu mengalami
konflik dengan anggota dan kelompok
budaya atau etnisnya sendiri, ia sering
berfokus pada kepedulian terhadap
hubungan.

Dalam konflik dengan orang dari kelompok
budaya lain, ia cenderung untuk berfokus
pada kepedulian terhadap hasil akhir.
Keadilan yang
Dipersepsikan dalam
Kelompok : Sifat Dasar dan
Efeknya
Keadilan yang Dipersepsikan
Ketika orang merasa bahwa mereka
mendapatkan lebih sedikit daripada yang
layak mereka dapatkan dari kelompok-
kelompok tertentu. Contohnya,
organisasi yang mempekerjakan mereka
Mereka sering mengambil langkah untuk
mengurangi ketidakadilan yang
dipersepsikan tersebut.
Menilai Keadilan : Hasil Akhir, Prosedur
dan Sikap Baik.
Keadilan Distributif (Kesetaraan)
Mengacu pada penilaian individual
mengenai apakah mereka menerima bagian
yang adil dari hasil akhir yang ada-bagian
yang proporsional dengan kontribusi mereka
pada kelompok (atau pada hubungan sosial
manapun.)
Kondisi dimana hasil-hasil akhir yang ada
dibagi secara adil diantara anggota kelompok
menurut apa yang telah dikontribusikan oleh
setiap orang pada kelompok.
Contoh Spesifik Keadilan Distributif

Keadilan Prosedural dan
Interpersonal: mengapa prosedur
dan Sikap Baik juga Penting?
Keadilan Prosedural
Keadilan dari prosedur yang digunakan
untuk mendistribusikan hasil-hasil akhir
yang ada di antara anggota kelompok.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian
sehubungan dengan keadilan Prosedur
1. Konsistensi Prosedur
2. Ketepatan
3. Kesempatan untuk melakukan koreksi
4. pencegahan terhadap penyimpangan
5. Etikalitas
Semakin jelas keberadaan faktor-faktor ini,
semakin orang mempersepsikan bahwa
proses memberikan hasil akhir(dalam hal ini
gaji misalnya) adalah sebagai hal yang adil.
Keadilan Interaksional
(Interpersonal)
Derajat sejauh mana kita diberikan
alasan yang jelas dan rasional
mengenai mengapa hasil dibagi
dengan cara yang demikian, serta
sikap baik dan sensitivitas yang
menyertai informasi mengenai
pembagian ini.
Reaksi pada Ketidakadilan yang
dipersepsikan: Taktik untuk Mengatasi
Ketidakadilan
Dengan cara mengganti persepsi mereka, dan
pemahaman mereka.
Mereka dapat menyimpulkan misalnya bahwa orang
yang menerima hasil lebih besar daripada mereka,
memang layak menerima perlakuan istimewa
karena mereka juga memiliki sesuatu yang
istimewa bakat lebih, pengalaman lebih, reputasi
yang baik, dan beberapa kualitas istimewa lainnya.
Individu yang merasa bahwa mereka tidak dapat
menghilangkan ketidakadilan setidaknya dapat
menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut dan
mengurangi rasa tidak nyaman yang dihasilkannya.

Pengambilan keputusan oleh kelompok:
Bagaimana Terjadinya Jurang-Jurang yang
Dihadapi
Kelompok berfungsi untuk melakukan banyak
tugas mulai dari melakukan operasi pembedahan
sampai pada menghibur kerumunana orang.Salah
satu aktivitas paling penting adalah pengambilan
keputusan (decision making) menggabungakan
dan mengintegrasikan informasi yang ada untuk
memilih satu dari beberapa kemungkinana tindakan.
Faktor yang memainkan peran ,alas an yang
paling penting tampaknya adalah: kebanyakan orang
percaya bahwa kelompok biasanya mencapai
keputusan yang lebih baik daripada individu
.Bagaimanapun,kelompok dapat menggabungkan
pengetahuan dari semua anggotanya dan
menghindari keputusan ekstrem.
Proses pengambilan keputusan : bagaimana
kelompok mencapai consensus
Skema keputusan social
1. Keputusan akhir yang diambil oleh kelompok
sering dapat di prediksikan secara cukup akurat
oleh suatu peraturan sederhana yang dikenal
sebagai skema keputusan sosial ( social decision
schema) atau peraturan mayoritas yang menang.
2. Peraturan yang benar yang menang
3. Peraturan pendapat pertama

Pengaruh informative dan normative dalam
kelompok : BAGAIMANA ANGGOTA KELOMPOK
MEMPENGARUHI PANDANGAN SATU SAMA
LAIN
Banyak penelitian mengindikasikan bahwa secara
umum ,kelompok pengambilan keputusan akan
bergerang mencari consensus .Bahkan
kecendrungan kuat mencari keserangaman atau
kesepakatan ini adalah salah satu bahaya potensial
dari pengambilan keputusan oleh kelompok.
Pengaruh social normative dan pengaruh social
informasional.Pegaruh social normative didasarkan
pada keinginan kita untuk disukai atau diterima ,dan
kelompok pastinya menggunakan taktik ini dalam
mempengaruhi anggotanya yang tidak setuju
menjadi setuju.Pengaruh social informasional yang
didasarkan pada keinginan kita untuk menjadi
benar untuk memegang pendapat yang benar.
Sifat Dasar dari Keputusan Kelompok: Jalan Tengah atau
Polarisasi.
Keputusan-keputusan yang benar-benar penting jarang di berikan
pada individu.Sebaliknya ,keputusan tersebut biasannya di limpahkan
pada kelompok dan kelompok yang sangat berkualitas sesuai dengan
permasalahannya.
Alasan utama dibalik strategi ini adalah belief bahwa kwlompok lebih
sedikit kemungkinannya di banding individu untuk membuat kesalahan
serius,untuk membabi buta dalam mengambil keputusan.
Banyak bukti yang menunjukan bahwa kelompok sebenarnya lebih
mungkin untuk mengambil keputusan yang ektrem daripada
individu,bila ia mengambil keputusan sendiri ,dalam banyak jenis
keputusan yang berada dalam banyak konteks yang
berbeda,kelompok menunjukan kecendrungan yang jelas untuk
beralih ke pandangan yang lebih ektrem di bandingan pandangan di
awal diskusi dan ini disebut polarisasi kelompok( group polarization)
Polarization kelompok tidak mengacu pada kecendrungan kelompok
untuk terbagi menjadi dua kutub yang berlawanan ,sebaliknya
mengacu pada penguatan atas preferensi awal
Perbandingan social (social comparison) suatu proses yang telah kita
telaah lebih dulu memainkan peran penting.
Bahaya Potensial dari Pengambilan Keputusan
Kelompok : Groupthink,Proses yang Bias dan
Kecendrungan Anggota Kelompok untuk member Tahu
Satu Sama Lain Apa yang Telah Mereka Ketahui.

Bnyaknya kelompok mengambil keputusan yang pengarah
pada polarisasi adalah suatu masalah serius ,masalah
yang dapat mengintervensi kemampuan mereka untuk
membuat keputusan yang akurat.
Beberapa proses lain juga muncul selama diskusi
kelompok dan dapat menyebabkan kelompok membuat
keputusan yang merugikan ,bahkan mematikan .
Yang paling penting adalah
Groupthink
Pemerosesan informasi secara bias oleh anggota
kelompok
Ketidak mampuan kelompok untuk berbagi dan
menggunakan informasi yang dimiliki oleh beberapa
anggota ,namun tidak dimiliki oleh semua anggotannya.

GROUPTHINK : KETIKA KOHESIVITAS YANG
TERLALU TINGGI MENJADI HAL YANG
BERBAHAYA.
Kecendrungan kuat dari kelompok pengambil
keputusan untuk mengambil posisi ,secara kognitif
,pada suatu keputusan ,mengasumsikan bahwa
kelompok tidak mungkin salah ,bahwa semua anggota
harus mendukung keputusan secara kuat dan bahwa
informasi apapun yang berlawanan dengannya harus di
tolak.
PEMEROSESAN INFORMASI SECARA BIAS DALAM
KELOMPOK
Kecendrungan kelompok untuk memproses informasi
yang ada secara bias.Kelompok ,seperti halnya individu
,tidak selalu termotivasi untuk memaksimalkan
keakuratan,sebaliknya mereka sering kali termotivasi
untuk mencari dukungan bagi pandangan yang telah
pilih dari awal.

MENGAPA KELOMPOK SERING GAGAL UNTUK
MEMBAGI INFORMASI YANG UNIK PADA
SETIAP ANGGOTA .
Fakta yang berlawanan dengan akal sehat yaitu
bahwa kelompok tidak selalu menggabungkan
sumberinformasi yang mereka miliki dan membagi
informasi serta ide yang unik pada setiap
anggotannya.
MEMPERBAIKI KEPUTUSAN KELOMPOK
Devils advocate technique yaitu dimana satu
anggota kelompok diberi tugas untuk menjadi tidak
setuju dengan dan mengkritik apapun rencana atau
keputusan yang sedang dipertimbangkan .Taktik ini
sering kali efektif karena mambuat anggota berpikir
secara hati-hati mengenai keputusan yang sedang
mereka tuju.
Pendekatan yang lain adalah dengan memanggil
ahli dari luar yang menawarkan rekomendasi dan
pendapat pada rencana kelompok.

Perselisihan paham secara alami (
authentic dissent) satuan atau lebih
anggota kelompok secara aktif tidak setuju
dengan preferensi awal kelompok tanpa
secara sengaja diberikan peran ini.