Anda di halaman 1dari 1

Kebudayaan Eropa Modern umpamanya menjadikan kebebasan sebagai inti perkembangan dari

kehidupan kebudayaan eropa. Ethik Kristen, menurut Max Weber sosiolog yang kenamaan itu
dalam wujud Shame Cultural menjadi inti dorongan lahirnya kemajuan peradapan dunia barat.
Maka apabila mengamati dengan seksama setiap dambaan hati nurani orang Bugis
Makassar, yang memahami sirik sebagai sebagai motif yang amat dalam dari segenap gerak
hidupnya berpikir, merasa dan berprakarsa, maka pada hemat kita sirik itu, tidak lain daripada
inti, ethos atau alat integrasi dan pangngadereng mereka. Sirik itulah inti kebudayaan orang
Bugis Makassar. Sebagai inti kebudayaan, niscaya dari sirik itulah berkembang segenap isi
kebudayaan berupa lima anasir yang disebut diatas.
Sebagai isi kebudayaan, sirik itu dengan sendirinya tidak semata mata mengandung
perasaan. Didalamnya juga terkandung dua potensi rohaniah lainnya yang menjadi potensi tiap
tiap kebudayaan, yaitu pikiran dan kemauan, disamping perasaanitu tadi. Sejarah kebudayaan
orang Bugis Makassar dalam arti sejerah keutuhan pangngadereng, sudah berakhir sejak negeri
ini mengalami keruntuhan dan kehilangan kemerdekannya.
Demikianlah, maka dalam keadaan perjalanan unsur Warik yang sudah amat pincang itu
Pangngadereng yang disebut sirik menyatakan diri dengan amat intensif.
Dalam hal kawin-mawinlah selama kurang lebih seabad berselang, sirik itu menyakan
diri. Sirik diberi batasan semata mata kepada perbuatan perbuatan yang bersangkut paut
dengan urusan perkawinan,lari kawin,tomasirik dan pembunuhan yang membawa dendam
berkelanjutan. Sirik diberi arti sebagai peluapan perasaan yang tidak terkendali yang dapat
membawa akibat akibat perbuatan yang merendahkan martabat kemanusiaan.