Anda di halaman 1dari 61

Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 13 Tahun 2007
tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah menyebutkan bahwa standar
kompetensi kepala sekolah mencakup standar kompetensi kepribadian,
kompetensi manajerial, kompetensi supervisi, kompetensi sosial, dan
Kewirausahaan. Kelima kompetensi tersebut harus dimiliki setiap kepala
sekolah profesional. Dari kelima kompetensi tersebut, berdasarkan fakta yang
ada di lapangan pada kompetensi kepribadian, diperoleh data bahwa guru-
guru dalam melaksanakan tugas masih belum optimal hal ini dibuktikan
dengan kurangnya tanggung jawab, kurangnya disiplin, kurangnya
komunikasi antara guru dengan kepala sekolah dalam melaksanakan tugas
yang menjadi tugas pokoknya.
Menyongsong visi Kementrian Pendidikan Nasional tahun 2014 yakni
Terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan Nasional untuk Membentuk
Insan Indonesia Cerdas Komprehensif. Tentu sangat diperlukan adanya
insan pendidik yang cerdas, profesional dan bertanggung jawab dengan
semangat etos kerjaa yang tinggi.
Hal ini selaras dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor
63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP), bahwa
Satuan Pendidikan bertanggung jawab atas mutu pendidikan. Kenyataan
yang ada, tanggung jawab dan etos kerja guru yang menjadi tanggung
jawabnya masih sangat rendah. kemampuan dalam mengembangkan inovasi
pembelajaran juga masih rendah. Hal ini merupakan masalah yang harus
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 2

segera diatasi. Karena kalau tidak segera diatasi akan berdampak pada
menurunnya prestasi di sekolah.
Kenyataan yang ada khususnya di SDN Pekunden sejak tahun 2005
hingga tahun 2010 pemberdayaan guru belum dilaksanakan secara optimal.
Akibatnya dampak prestasi akademik maupun non akademik belum diperoleh
hasil yang lebih baik. Adapun prestasi lima tahun sebelum penulis bertugas di
SDN Pekunden tertera dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 1 : Perolehan Prestasi Sekolah

NO

Tahun
Tingkat Kejuaraan
Kecamatan Kota Propinsi Nasional
1 2005 1 - - -
2 2006 - - - -
3 2007 - 1 - -
4 2008 2 - - -
5 2009 3 1 - -

Belum optimalnya prestasi yang diraih disebabkan kurangnya diberdayakan
potensi guru lebih optimal.
Komunikasi antara guru dengan kepala sekolah yang terlalu formal
juga menjadi hambatan bagi guru jika akan berkonsultasi dalam memajukan
sekolah. Jarak komunikasi yang terlalu jauh antara kepala sekolah dengan
guru-guru terkesan adanya pola kerja antara atasan dan bawahan,
antara bos dan anak buah, antara majikan dan buruh, hal inilah yang
menjadikan hubungan dalam menunjang tugas-tugas rutin untuk mencapai
tujuan sekolah makin jauh dari harapan. Karena hakekatnya keberhasilan
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 3

seorang pimpinan itu juga keberhasilan dari seluruh staf dan karyawan yang
ada. Jika semua staf dan karyawan di sekolah tidak bisa bekerja secara
maksimal dan sesuai dengan tugas pokok fungsinya, sudah dapat dipastikan
sistem dan mekanisme kerja dipastikan tidak akan bisa berjalan dengan baik.
Keadaan inilah sangat dibutuhkan adanya manajemen komunikasi internal
yang baik.
Kurangnya komunikasi dari kepala sekolah pada semua staf, dan
kurangnya transparansi dalam mengelola manajemen sekolah, juga menjadi
pemicu makin kurang harmonisnya hubungan antara kepala sekolah dengan
guru dan karyawan.
Berangkat dari beberapa peristiwa di atas, maka kami coba
kembangkan konsep pengembangan sekolah melalui supervisi klinis untuk
meningkatkan etos kerja di SDN Pekunden Semarang dalam upaya
pencapaian visi dan misi sekolah.
Permasalahan lain dalam Proses Pembelajaran, masih banyak
pembelajaran tradisional menitik beratkan pada metode imposisi, yakni
pengajaran dengan cara hanya menuangkan hal-hal yang dianggap penting
oleh guru bagi murid saja. Cara ini tidak mempertimbangkan apakah bahan
pelajaran yang diberikan itu sesuai datau tidak dengan
kesanggupan,kebutuhan,minat, dan tingkat kesanggupan/perkembangan,
serta pemahaman siswa. Tidak pula diperhatikan apakah bahan-bahan yang
diberikan itu didasarkan atas motif-motif dan tujuan yang ada pada siswa.
Tugas penting guru adalah merencanakan bagaimana guru mendukung
motivasi siswa (Muhamad Nur, 2001: 3).
Dari latar belakang di atas, penulis mengambil judul Supervisi
Klinis Berbasis Kearifan Lokal Untuk Meningkatkan Etos Kerja Guru
SDN Pekunden Kota Semarang.
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 4

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan suatu
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pelaksanaan supervisi klinis untuk meningkatkan
etos kerja bagi guru-guru SDN Pekunden?
2. Bagaimana hasil peningkatan etos kerja guru setelah dilakukan
supervisi klinis berbasis kearifan lokal?
3. Bagaimana perubahan perilaku guru-guru SDN Pekunden setelah
dilakukan supervisi klinis berbasis kearifan lokal?
C. Tujuan Penulisan
Dari permasalahan di atas, penulisan ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui proses supervisi klinis berbasis kearifan lokal yang
dilakukan kepala sekolah dalam upaya meningkatkan etos kerja guru-
guru SDN Pekunden Semarang Tengah.
2. Memaparkan hasil supervisi klinis berbasis kearifan lokal bagi guru-
guru SDN Pekunden.
3. Memaparkan perubahan perilaku guru-guru di SDN Pekunden
Semarang Tengah setelah dilakukan supervisi klinis berbasis kearifan
lokal.








Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 5

D. Manfaat Penulisan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi dunia
pendidikan, baik manfaat secara teoretis maupun manfaat secara praktis,
khususnya adanya perubahan perilaku bagi guru-guru di SDN Pekunden.

1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi
kepala sekolah, atau pun pengawas dalam melakukan supervisi klinis
di sekolah. Selain itu, penelitian ini juga menambah khasanah
penelitian dibidang pendidikan dan memberikan sumbangan ide untuk
mengembangkan teori supervisi, khususnya upaya meningkatkan etos
kerja guru-guru melalui supervisi klinis berbasis kearifan.

2. Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi guru adalah sebagai bahan untuk lebih memotivasi
diri sendiri dalam memperbaiki perilaku dan meningkatkan
kompetensi kepribadiannya.
b. Bagi sekolah, penelitian ini bermanfaat untuk (1) meningkatkan
kualitas pendidikan di sekolah karena salah satu tujuan PTS adalah
menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah
sehingga tercipta sikap kreatif, inovatif, pemecah masalah, berpikir
kritis di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan, (2)
memberikan gambaran bagi kepala sekolah dalam melakukan
supervisi klinis berbasis kearifan lokal di sekolah.




Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 6

BAB II
LANDASAN TEORETIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Landasan Teoretis
1. Supervisi Klinis
Secara umum supervisi klinis diartikan sebagai bentuk bimbingan profesional
yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannnya melalui siklus yang
sistematis. Siklus sistematis ini meliputi: perencanaan, observasi yang
cermat atas pelaksanaan dan pengkajian hasil observasi dengan segera dan
obyektif tentang penampilan mengajarnya yang nyata, (Sulu Lipu:1998).
Jika dikaji berdasarkan istilah klinis, mengandung makna: (1) Pengobatan
(klinis) Oleh karena itu makna yang terkandung dalam istilah klinis merujuk
pada unsur-unsur khusus, sebagai berikut:
1. Adanya hubungan tatap muka antara pengawas dan guru didalam
proses supervisi.
2. Terfokus pada tingkah laku yang sebenarnya di dalam kelas.
3. Adanya observasi secara cermat.
4. Deskripsi pada observasi secara rinci.
5. Pengawas dan guru bersama-sama menilai penampilan guru.
6. Fokus observasi sesuai dengan permintaan kebutuhan guru.
Ada beberapa karakteristik supervisi klinis, yaitu:
1. Perbaikan dalam mengajar mengharuskan guru mempelajari
keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan
tersebut.
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 7

2.Fungsi utama supervisor adalah mengajar keterampilan-keterampilan
kepada guru.
a. Fokus supervisi klinis adalah:
1. Perbaikan cara mengajar dan metode pembelajaran.
2. Dalam perencanaan pengajaran dan analisisnya merupakan
pegangan supervisor dalam memperkirakan perilaku mengajar
guru.
3. Pada sejumlah keterampilan mengajar yang mempunyai arti
penting bagi pendidikan dan berada dalam jangkauan guru.
4. Pada analisis yang konstruktif dan memberi penguatan
(reinforcement) pada pola-pola atau tingkah laku yang berhasil
daripada mencela dan menghukum pola-pola tingkah laku yang
belum sukses.
Supervisi klinis merupakan suatu proses memberi dan menerima
informasi yang dinamis dimana supervisor dan guru merupakan teman
sejawat di dalam mencari pengertian bersama mengenai proses pendidikan.
Proses supervisi klinis terutama berpusat pada interaksi verbal mengenai
analisis jalannya pelajaran. Setiap guru mempunyai kebebasan maupun
tanggung jawab untuk mengemukakan pokok-pokok persoalan, menganalisis
cara mengajarnya sendiri dan mengembangkan gaya mengajarnya.
Supervisor mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis
dan mengevaluasi cara supervisi yang dilakukannya dengan cara yang sama
seperti ketika ia menganalisis dan mengevaluasi cara mengajar guru.

Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 8

Secara skematik, perbedaan antara supervisi kelas dengan supervisi klinis
sebagai berikut (La Sulo, 1988 : 9):
No. Aspek Supervisi Kelas Supervisi Klinis
1. Prakarsa dan
Tanggung Jawab
Terutama oleh
supervisor
Diutamakan oleh guru
2. Hubungan Supervisor-
Guru
Realisasi guru-
siswa/atasan-bawahan
Realisasi kolegial yang
sederajat dan interaktif
3. Sifat Supervisi Cenderung direktif atau
otokratif
Bantuan yang demokratis
4. Sasaran Supervisi Samar-samar atau
sesuai keinginan
supervisor
Diajukan oleh guru sesuai
kebutuhannya, dikaji
bersama menjadi kontrak
5. Ruang Lingkup Umum dan luas Terbatas sesuai kontrak
6. Tujuan Supervisi Cenderung evaluatif Bimbingan yang analitik
dan deskriptif
7. Peran Supervisor
dalam Pertemuan
Banyak memberi tahu
dan mengarahkan
Bertanya untuk analisis
diri
8. Balikan Samar-samar atau atas
kesimpulan supervisor
Dengan analisis dan
interpretasi bersama atas
data observasi sesuai
kontrak

2. Kearifan Lokal
Pengertian Kearifan Lokal dilihat dari kamus Inggris Indonesia, terdiri
dari 2 kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti setempat
dan wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain maka local
wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai-nilai,
pandangan-pandangan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh
kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota
masyarakatnya. Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius. Local
genius ini merupakan istilah yang mula pertama dikenalkan oleh Quaritch
Wales. Para antropolog membahas secara panjang lebar pengertian local
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 9

genius ini (Ayatrohaedi, 1986). Antara lain Haryati Soebadio mengatakan
bahwa local genius adalah juga cultural identity, identitas/kepribadian budaya
bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah
kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi,
1986:18-19).
Sementara Moendardjito (dalam Ayatrohaedi, 1986:40-41) mengatakan
bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai local genius karena telah teruji
kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang.
Ciri-cirinya adalah:
1. mampu bertahan terhadap budaya luar,
2. memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar,
3. memunyai kemampuan mengintegrasikan budaya luar dalam budaya asli,
4. memunyai kemampuan mengendalikan,
5. mampu memberi arah pada perkembangan budaya.
I Ketut Gobyah dalam Berpijak pada Kearifan Lokal dalam http://www.
balipos.co.id, didownload 17/9/2003, mengatakan bahwa kearifan lokal (local
genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu
daerah.
Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan
berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya
masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan
lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus
dijadikan pegangan hidup. Meski pun bernilai lokal tetapi nilai yang
terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.
Kearifan lokal adalah budaya adiluhung bangsa Indonesia yang sudah
ada secara turun temurun dari pendahulu nenek moyang bangsa Indonesia.
Dalam kitab Rangga Warsito, kearifan yang dimaksud di sini adalah kultur
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 10

budaya yang ada di daerah setempat dan digunakan sebagai alat dalam
mempengaruhi seseorang secara halus dan bijaksana.
Kultur budaya yang ada dan turun temurun menjadi sebuah value dan dan
dijadikan sebagai sindiran atau ungkapan kata untuk mempengaruhi
seseorang agar dapat berubah dari perilaku kurang baik menjadi lebih baik.
Dalam kontek penelitian ini strategi yang digunakan untuk mempengaruhi
orang dewasa dengan pendekatan filosofi Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono
maksudnya kalau kita melakukan sesuatu itu hendaknya secara wajar,
jangan melebihi dan berlebihan. Artinya sederhana dan seperlunya saja. Hal
ini sejalan dengan konsep keseimbangan. Konsep keseimbangan dalam
segala hal ini sebenarnya mampu memberi landasan yang kuat dalam setiap
aktivitas kita dalam mengelola sekolah. Konsep ini merujuk kearifan lokal
yang sudah ada seperti konsep Ki Hajar Dewantoro Ing ngarso sung
tuladha ing madyo mangun karso tut wuri handayani.

3. Etos Kerja
Dalam wikipedia menyebutkan bahwa etos berasal dari bahasa Yunani,
dari akar katanya ethikos, yang berarti moral atau menunjukkan karakter
moral. Dalam bahasa Yunani kuno dan modern, etos mempunyai arti sebagai
keberadaan diri, jiwa, dan pikiran yang membentuk kepribadian seseorang.
Pada Webster's New Word Dictionary, 3rd College Edition, etos
didefinisikan sebagai kecenderungan atau karakter, sikap,
kebiasaan, keyakinan yang berbeda dari individu atau kelompok.
Bahkan dapat dikatakan bahwa etos pada dasarnya adalah tentang etika.
Etika tentu bukan hanya dimiliki bangsa tertentu. Masyarakat dan bangsa
apapun mempunyai etika, ini merupakan nilai-nilai universal. Nilai-nilai etika
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 11

yang dikaitkan dengan etos kerja seperti rajin, bekerja, keras, berdisiplin
tinggi, menahan diri, ulet, tekun dan nilai-nilai etika lainnya bisa juga
ditemukan pada masyarakat dan bangsa lain.
Kerajinan, gotong royong, saling membantu, bersikap sopan misalnya masih
ditemukan dalam masyarakat kita. Perbedaannya adalah bahwa pada bangsa
tertentu nilai-nilai etis tertentu menonjol sedangkan pada bangsa lain tidak.
Etos kerja adalah kemampuan diri dan semangat untuk bekerja yang
dilakukan dengan sepenuh hati, (Muhibin, 1995).
Keberhasilan suatu program sangat ditentukan adanya semangat kerja yang
optimal. Semangat kerja dengan memusatkan segala potensi diri yang ada
secara sungguh sungguh akan membuahkan hasil yang lebih baik. Dorongan
dari dalam untuk melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh merupakan
kunci utama dalam meraih sukses. Budaya kerja dengan tertib, budaya kerja
dengan ikhlas dan bersemangat dalam melakukan segala aktivitas akan
sangat mempengaruhi hasil yang dicapai. Hakekatnya etos kerja adalah
semangat dan kemauan diri dalam melakukan aktivitas dengan sungguh-
sungguh, (Sardiman, 1996).
Pengembangan sekolah diartikan sebagai proses yang berkelanjutan
dengan mengandalkan kepala sekolah sebagai manajer untuk menyediakan
fasilitas komunikasi yang terbuka, membuat keputusan bersama, dan menilai
lingkungan yang berubah untuk mencapai tujuan sekolah (Costa, 2000).

B. Hasil Penelitian Yang Relevan
Optimalisasi kinerja guru pernah dilakukan oleh Sri Nuryanah (2011)
bahwa optimalisasi kinerja guru-guru di SD Koalisi Ngaliyan Semarang sudah
dilakukan namun hasilnya belum bisa optimal. Sejalan juga dengan penilitian
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 12

yang dilakukan oleh Zamroni,S.Pd (2010) upaya untuk meningkatkan kinerja
guru dan prestasi siswa sudah pernah dilakukan akan tetapi juga hasil yang
diraih belum optimal dan memenuhi harapan. Mendasari hal itu peneliti ingin
mengembangkan etos kerja guru dengan supervisi klinis berbasis kearifan
lokal melalui pendekatan Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono (Begitu ya
begitu tetapi jangan begitu) dalam upaya menghasilkan kinerja guru yang
lebih baik dan prestasi siswa berkembang secara lebih optimal.

C. Kerangka Berpikir
Untuk meningkatkan etos kerja guru diperlukan adanya supervisi klinis
berbasis kearifan lokal dengan pendekatan manajemen ngono yo ngono ning
ojo ngono yang dapat mempengaruhi dan mengubah perilaku negatif guru
menjadi positif, semangat kerja yang belum optimal agar menjadi lebih
optimal. Maka untuk memperoleh proses pembelajaran yang baik diperlukan
semangat kinerja guru-guru di SDN Pekunden Semarang Tengah. Salah
satunya dengan menggunakan supervisi klinis berbasis kearifan lokal, dengan
pola pendekatan humanis andragogis Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono.
Artinya pendekatan yang lebih mengutamakan keseimbangan antara urusan
pribadi dengan urusan tugas kedinasan.

D. Hipotesis Tindakan
Dari kerangka berfikir di atas dalam penelitian tindakan sekolah ini
disusun hipotesis sebagai berikut, bahwa melalui supervisi klinis berbasis
kearifan lokal dengan pendekatan Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono (Begitu
ya begitu tetapi jangan begitu), akan dapat meningkatkan etos kinerja,
prestasi, guru, dan mengubah perilaku guru di SDN Pekunden Semarang.


Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 13

E. Penyelesaian Masalah
Dalam melakukan penelitian tindakan sekolah ini peneliti melakukan dua
kali siklus. Tindakan persiapan :
1. Menyusun rencana penelitian tindakan sekolah
2. Menyusun pelaksanaan supervisi klinis
3. Membuat lembar pengamatan dan evaluasi supervisi klinis
4. Melaksanakan refleksi untuk melaksanakan siklus berikutnya
Siklus berikutnya :
1. Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan peneliti saat akan
memulai tindakan. Kali ini peneliti sudah memulai:
a. Mempersiapkan lembar-lembar identifikasi permasalahan yang sudah
terjadi dalam kegiatan pembelajaran yang sudah berlalu
b. Mempersiapkan lembar pengamatan proses pelaksanaan kegiatan

2. Kegiatan Menyusun Pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah Siklus I
a. Mengadakan koordinasi dengan semua guru, bahwa team work SDN
Pekunden akan merapatkan diri dalam mengembangkan kegiatan
ekstra kurikuler
b. Menyusun program kerja bersama guru, staf, guru ekstrakurikuler,
kepala sekolah dan komite sekolah.
c. Menyusun pembagian tugas untuk melancarkan jalannya pelaksanaan
kegiatan ekstra kurikuler supaya lebih intensif
d. Melakukan pengamatan dan monitoring dalam pelaksanaan kegiatan
pembelajaran dan ekstra kurikuler.

3. Kegiatan Pengamatan / Observasi Pelaksanaan Kegiatan PBM dan ekstra
ekstra kurikuler, dalam kegiatan ini peneliti mengadakan pengamatan /
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 14

observasi dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dengan mengisi
format yang disediakan.
4. Melaksanakan Kegiatan refleksi untuk melaksanakan siklus II
Refleksi dilakukan dengan berfikir, menganalisis, dan mengevaluasi dari
hasil siklus I, sebgai dasar dalam melakukan tindakan pada siklus II.






















Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 15

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama empat bulan yaitu bulan April, Mei, Juni,
Juli tahun 2011.
Adapun pelaksanaan penelitian dapat diuraikan sebagai berikut
a. Bulan Maret tahun 2011 penyusunan proposal penelitian dan
penyusunan instrumen penelitian
b. Bulan April- Juli tahun 2011 pelaksanan tindakan sekolah.
c. Bulan Agustus tahun 2011 menganalisa data pembahasan data
d. September penyusunan laporan
Untuk lebih mempermudah ingatan dalam pelaksanaan penelitian maka
dapat dilihat di tabel di bawah ini
Tabel: 1. Schedule Penelitian
No Kegiatan
Bulan
Keterangan
April Mei
Apr-
Juli
Agst Sep Okt
1.
Penyusunan
proposal penelitian

2.
Penyusunan
instrument

3.
Pelaksanaan
tindakan sekolah

4.
Menganalisa data
penelitian

5.
Pembahasan data
penelitian

6.
Penyusunan
laporan penelitian

Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 16


Pelaksanaan tindakan sekolah dilakukan pada bulan April sampai
dengan bulan Juli 2011 mengingat pada bulan bulan inilah efektifitas guru-
guru dalam melakukan tugas pokoknya dalam kegiatan PBM. Artinya dalam
kegiatan ini peneliti dapat melakukan pengamatan langsung tugas dan
tanggung jawab yang telah diberikan dari kepala sekolah pada masing-
masing guru dan staf. Dengan seting waktu yang tepat diharapkan
kegiatan optimalisasi kegiatan ini dapat terlaksana dengan sempurna,
sehingga apa yang diinginkan oleh peneliti yakni peningkatkan kemampuan
kinerja guru, staf, karyawan di SDN Pekunden Semarang Tengah dapat
dicapai.
Peneliti sebagai kepala sekolah juga ingin mencoba mencari
terobosan untuk meningkatkan kualitas SDN Pekunden. Adapun salah satu
cara yang dilakukan peneliti, diantaranya dengan memberdayakan guru
dan siswa dengan memberikan tugas tanggung jawab pada guru-guru,
mengadakan kegiatan outbond, mengadakan pertemuan keluarga, dan
kegiatan kunjungan sosial. Jika hal ini mendapatkan hasil sesuai harapan
maka dapat menjadi pertimbangan untuk diterapkan pada kegiatan-
kegiatan lainnya yang relevan.

2. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SDN Pekunden Kecamatan Semarang Tengah
tahun pelajaran 2010 / 2011
3. Subyek penelitian
Penelitian dilakukan terhadap 13) Guru kelas, satu (2) staf, dan 3
karyawan SDN Pekunden Semarang. Kegiatan yang menjadi setting
Penelitian Tindakan Sekolah adalah kegiatan yang belum dilaksanakan
secara optimal yang hasilnya belum memenuhi harapan sekolah, namun
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 17

punya nilai strategis untuk mewujudkan salah satu visi sekolah yaitu
mewujudkan peserta didik yang taqwa, cerdas, dan berbudi pekerti
luhur.
Subyek-subyek diatas belum dapat mengembangkan potensinya karena
belum diterapkannya kiat-kiat yang tepat untuk pengembangan potensi
prestasi tersebut, peneliti mencoba menerapkan kegiatan Optimalisasi
melalui supervisi klinis berbasi kearifan lokal untuk meningkatkan etos
kerja bagi guru di SDN Pekunden dengan pendekatan Ngono Yo
Ngono Ning Ojo Ngono (Begitu ya begitu tetapi jangan begitu), untuk
meningkatkan kemampuan dan kinerjanya supaya subyek-subyek
diatas bisa mengembangkan potensinya.

B. Sumber Data
Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini dilakukan dengan
dua pengelompokan yaitu data primer dan data sekunder. Sumber data
primer, yaitu sumber data yang berasal dari pengamatan dan
pemantauan kegiatan.
Sumber data sekunder, sumber data ini diperoleh dari teman sejawat
atau teman guru.
Faktor yang diteliti dalam penelitian tindakan sekolah ini proses
PBM kegiatan yang meliputi : kedisiplinan, etos kerja, tanggung jawab,
kekeluargaan, pemberdayaan guru, staf dan karyawan dijadikan bahan
kajian untuk diteliti peneliti.

C. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
a. Teknik observasi, peneliti menyiapkan instrumen observasi.
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 18

(Baik observasi mengenai perilaku dan observasi mengenai
kwalitas kinerja)
2. Alat Pengumpulan Data
a. Instrumen observasi siklus I, dan siklus II.
b. Dokumentasi, kegiatan guru pada siklus I dan siklus II.

D. Validasi Data
Validitas hasil kegiatan diambil dan ditentukan berdasarkan hasil
pemantauan observasi sikap, perilaku guru, staf dalam keseharian dan
pelaksanaan tugas.

E. Analisis Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
diskriptif. Hasil kegiatan dianalisis dengan analisis deskriptif komparatif
yaitu membandingkan hasil kegiatan antar siklus maupun dengan
indikator kinerja. Datanya dibandingkan dengan kriteria yang telah
ditetapkan pada waktu penyusunan desain, yaitu kriteria dalam
indikator kinerja.
Apabila data yang diperoleh dalam satu siklus belum memenuhi
indikator kinerja, maka diadakan modifikasi terhadap model atau
pelaksanaan siklus berikutnya (Arikunto, 1996).

F. Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan sekolah ini
adalah adanya perubahan hasil capaian akhir dalam target event lomba.
yaitu meningkatnya kinerja, prestasi sekolah dan guru, menuju sekolah
yang bermutu dan guru yang profesional.
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 19

Perubahan perilaku Guru, staf, dari kurang baik menjadi baik dari
malas menjadi rajin, dari kurang disiplin menjadi disiplin, dari kurang
serius menjadi serius dari kurang tertib menjadi tertib dan
meningkatnya budaya prestasi siswa dan guru serta semangat dalam
melakukan kegiatan keagamaan, dan kemenangan setiap event lomba
adalah hasil tolok ukur keberhasilan kegiatan ini.

G. Prosedur Penelitian
Penelitian dilakukan menggunakan metode penelitian tindakan
sekolah yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari
perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Adapun prosedur umum yang digunakan dalam penelitian tindakan
sekolah menggunakan daur ulang / siklus yang digambarkan sebagai
berikut:






Gambar 2.
Siklus Penelitian Kelas


Hasil refleksi pada setiap siklus digunakan untuk menyempurnakan
tindakan serupa juga dilakukan pada siklus selanjutnya. Jika
indikator yang diinginkan sudah tercapai dalam penelitian ini, maka
penelitian akan diakhiri.

PERENCANAAN TINDAKAN OBSERVASI
REFLEKSI PERENCANAAN (Perbaikan Perencanaan
TINDAKAN OBSERVASI REFLEKSI
Seterusnya hingga mencapai tujuan akhir atau memperoleh hasil
yang memuaskan (Suyanto, 1997).


Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 20

Adapun langkah-langkah siklus penelitian tindakan sekolah sbb:
1. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah :
a. Melakukan observasi awal untuk mengidentifikasi masalah dan
analisis penyebab masalah melalui pemberian angket,
wawancara dengan guru kelas dan staf.
b. Menentukan bentuk solusi pemecahan masalah berupa
Optimalisasi pemberdayaan dan pemberian tugas
2. Menyusun perencanaan terpadu dari guru kelas, staf, karyawan,
dan melaksanakan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
3. Observasi dan pemantauan mengamati guru dan staf selama
pemberian tugas-tugas dari kepala sekolah.
4. Refleksi, mengungkapkan kembali apa yang dilakukan dan sebagai
dasar untuk melakukan tindakan selanjutnya, baik yang berkaitan
dengan perencanaan, pelaksanaan, dan observasi.









Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 21

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kondisi Awal
Keadaan awal kinerja guru, staf, karyawan SDN Pekunden belum
optimal memenuhi harapan sebagaimana yang diinginkan, tujuan pendidikan
yang diharapkan belum memenuhi target, terutama dibidang akademik dan
non akademiknya. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya capaian hasil lomba
baik di tingkat kecamatan, kota, propinsi hingga nasional. Di samping itu juga
ditandainya tingkat kemalasan guru, staf, dalam melaksanakan tugas rutin
dinas. Dalam hal akademik juga jarang meraih gelar sebagai juara.
Saat peneliti menempati tugas baru selama tiga bulan peneliti amati,
kinerja PBM (Proses Belajar Mengajar) dan kegiatan ekstra kurikuler berjalan
seadanya. Program kurang diperhatikan, bahkan sepertinya kegiatan PBM
dan Ekstra Kurikuler dan potensi peserta didik belum dioptimalkan, dan
belum terprogram, pemantauan jarang dilakukan, hasil latihan tidak pernah
ditampilkan. Akibat dari hal tersebut di atas kegiatan ekstra kurikuler tidak
berdampak sama sekali dalam kegiatan sekolah. Guru pasif, kurang disiplin,
kordinator ekstra belum memiliki tanggung jawab tugasnya. Sikap acuh tak
acuh masih mendominasi pada guru-guru dan staf. Padahal jika peneliti
perhatikan para guru staf dan karyawan mempunyai kemampuan/ potensi
yang bagus jika diberdayakan dengan konsep manajemen Ngono Yo Ngono
Ning Ojo Ngono (Begitu ya begitu tetapi jangan begitu). Sikap acuh tak acuh
dan masa bodoh sudah tertanam sejak dulu, dan kurangnya para guru
diberdayakan dengan pemberian tugas dan tanggung jawab, akibatnya
semua guru merasa tidak memiliki tanggung jawab dan tidak memiliki rasa
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 22

untuk memajukan sekolah. sehingga hasil yang diharapkan jauh dari
memuaskan. Berangkat dari problematika tersebut maka peneliti memulai
melakukan penelitian tindakan sekolah dengan mengembangkan supervisi
berbasis klinis dengan pendekatan humanis andragogis Ngono Yo Ngono
Ning Ojo Ngono (Begitu ya begitu tetapi jangan begitu) dapat dilakukan
dengan beberapa cara diantaranya: membentuk tim work kerja sekolah,
mengadakan kegiatan outbond untuk memperkuat tim work, mengadakan
kegiatan anjangsana silaturahim setiap perayaan hari-hari besar secara saling
kunjung bergantian, dan menjalin komunikasi hubungan dengan pihak luar.

1. Tim Work Sekolah
Ketahanan sekolah dalam menghadapi berbagai masalah yang ada
diperlukan adanya kekuatan internal dari para guru, staf, karyawan.
Manajemen sekolah dengan konsep pemberdayaan dan membangun jejaring
sosial yang kuat akan sangat efektif dalam rangka memperlancar tugas dinas
keseharian. Aktifitas dan jejaring sosial sangat diperlukan dalam membangun
ketahanan sekolah khususnya di SDN Pekunden. Untuk membangun
ketahanan sekolah tersebut diperlukan proses dan berbagai indikator strategi
dalam membangun ketahanan dan kebersamaan. Kegiatan untuk
memperkokoh ketahanan sekolah sebagai tim work yang solid diantaranya,
melalui kegiatan pembiasaan doa bersama di awal sebelum memulai
pelajaran di kelas, kegiatan outbound guru staf dan karyawan,
kunjungan teman yang sakit, silaturahmi idul fitri/natal,
anjangsana mantan kepala sekolah, dan kegiatan lain yang
memperkokoh pilar-pilar ketahanan sekolah. Sehingga ketahanan sekolah
dan kebersamaan dapat terjaga dengan baik, imbasnya tentu akan makin
meningkatnya etos kerja seluruh staf, karyawan di sekolah.
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 23



1.1 Doa Bersama seluruh staf.
Kegiatan doa bersama
dilakukan setiap hari senin
sehabis upacara bendera hari
Senin, sebagai upaya
memperkokoh ketahanan
kebersamaan antar guru staf
dan karyawan.
Doa bersama sebagai wahana informasi-informasi kegiatan akademik
maupun non akademik serta informasi kedinasan yang diserap bagi guru
dalam seminggu yang akan datang. Kegiatan ini ternyata lebih efektif
informasi terseraf pada guru-guru, karena hanya informasi-informasi pokok
kedinasan penting yang harus dilakukan oleh sekolah maupun oleh para
guru. Hanya dengan waktu 10 menit doa bersama dilanjutkan dengan
informasi kedinasan ternyata mampu meningkatkan komunikasi dan
kelancaran dalam kerja sekolah.
1.2. Outbond
Kegiatan outbond dilakukan setiap akhir
tahun pelajaran yang dilaksanakan
dengan tujuan untuk meningkatkan
kebersamaan, meningkatkan tanggung
jawab, semangat kerja, dan mempererat
kebersamaan, kekeluargaan.
Kegiatan outbond ini ternyata sangat
efektif sekali dalam upaya meningkatkan kinerja guru,staf, dan karyawan.


Gbr. 1
Doa bersama seluruh guru,staf karyawan
Gbr.2
Tim Orang Tua dalam TPG
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 24

Bagaikan batu setelah law bat kemudian di chas dan di isi ulang lagi arus
listriknya, begitu pula kepenatan dan kejenuhan yang ada selama setahun,
maka diperlukan suasana baru yang lebih segar dan mampu menumbuhkan
semangat yang lebih baik lagi untuk masa yang akan datang.

1.3 Anjangsana / silaturahim
Kegiatan saling mengunjungi dan bersilaturahim dilakukan secara
insidental manakala ada teman guru yang sakit maupun mempunyai hajat
keperluan, maka secara spontan kita bersama-sama mengunjungi kerumah
teman setelah jam mengajar berakhir. Hal ini dilakukan dalam upaya
membina dan memperkokoh pilar-pilar sekolah khususnya di SDN Pekunden
Semarang. Begitu pula jika ada teman guru yang sakit segera kita menengok
di rumah, maupun di rumah sakit untuk memberikan suport dan motivasi
agar cepat sembuh.








Gbr.3 selesai senam mendoakan kesembuhan teman yang sakit

Semua kegiatan yang dilakukan sebenarnya merupakan pilar-pilar kekuatan
penyangga sekolah dalam upaya meningkatkan semangat dan etos kerja
dalam kesehari-harian agar lebih produktif dan lebih efektif.

Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 25

Di samping itu kegiatan eksternal yang dilakukan dalam upaya memperkokoh
ketahanan sekolah, dilakukan koordinasi dengan pihak kelurahan,
puskesmas, dan tokoh agama di sekitar lingkungan sekolah. Tidak kalah
pentingnya kemitraan dengan pihak dunia usaha dengan menggandeng
PT.Pegadaian, PT.Astra Finance dan pihak lain untuk memberikan kontribusi
secara simbiosis, sehingga semakin memperkokoh jalinan kebersamaan dan
kekeluargaan.
1.4. Hubungan dengan pihak luar
Hubungan dengan pihak luar sangat penting sekali, karena untuk
mengembangkan hubungan antar lembaga dan lebih mengenalkan sekolah
dengan pihak dunia luar dan masyarakat yang ada. Kegiatan ini dapat
dilakukan melalui program kemitraan berupa bantuan bea siswa miskin,
maupun bantuan untuk sekolah dalam upaya mengembangkan sarana
prasarana dalam upaya meningkatkan
mutu sekolah.
Kegiatan yang sudah dijalin dengan pihak
luar diantaranya dengan PT.Astra Finance
dengan pemberian bantuan kebutuhan
sekolah berupa perlengkapan pribadi
(tas, buku, sepatu, baju sekolah)
sebanyak 15 siswa yang diberikan
bantuan dari pihak PT. Astra Finanance
Cabang Semarang.
Untuk menggalakkan pola hidup
sederhana, hemat dan bersahaja, sekolah
berupaya menggandeng dengan pihak perbankan khususnya dengan bank
Permata, untuk memberikan layanan tabungan jemput ke sekolah. Masing-

Gbr.4
Pimpinan PT.Astra Finance
menyerahkan bantuan pada siswa
SDN Pekunden
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 26

masing siswa memiliki buku tabungan pribadi dan pihak bank datang
kesekolah memberikan layanan pada siswa pada jam istirahat pertama dan
ke dua.









Gbr.5
Bank Permata memberikan layanan jemput tabungan sekolah

B. Pendekatan Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono (Begitu Ya
Begitu Tetapi Jangan Begitu).
Perlakuan sentuhan hati dan perasaan seorang pendidik para
guru-guru akan lebih mengena dengan perkataan yang santun dan
penuh makna dalam hal mengingatkan sesuatu baik dalam forum
pembinaan maupun dalam rapat dinas. Rasa penghargaan dan
motivasi sangat diperlukan bagi para guru dalam upaya meningkatkan
semangat kerja.
Pesan-pesan moral dan sindiran yang halus jika para guru melakukan
penyimpangan dan pelanggaran disiplin maupun pelanggaran normatif
lainnya, akan sangat membantu bagi seorang kepala sekolah sebagai
seorang yang dituakan dalam satuan pendidikan. Tua buka berarti

Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 27

dilihat lebih banyak umurnya, akan tetapi tua disini yang dimaksud
memiliki kematangan dalam pola berfikir dan bertindak dengan cermat
dan bijaksana. Sebagaimana yang dikatakan oleh Morgan Stellar,
Never see who he said, but what, what he said, that is
getting old getting douwn to earth and getting know verry
much we will be stupid. Jangan melihat siapa yang berbicara,
tetapi lihatlah apa isi yang dibicarakan. Seperti ilmu padi makin tua
makin merunduk. Semakin kita tahu hakekatnya semakin banyak yang
kita tidak ketahui. Jadi tua yang dimaksudkan disini buka berati tua
dalam hal usia saja, akan tetapi benar-benar tua dalam segala hal,
baik bersikap, bertindak, dan berbuat.
Seseorang yang dituakan oleh anggotanya tentunya tidak akan
alergi dan tidak akan emosional manakala para guru, staf dan
karyawan memberikan masukan dan kritikan pada kepala sekolah.
Karena dengan kematangan emosi yang lebih baik dan stabil. Seorang
kepala sekolah akan mampu mengendalikan dan memanajemen
masalah yang ada disekolah dengan baik. Jika hal ini dapat dilakukan
tentunya akan berdampak positif bagi kepala sekolah dalam
mengendalikan perilaku para guru, staf dan karyawan yang
menyimpang. Hal serupa juga dikatakan oleh Ngalim Purwanto,
bahwa kematangan berfikir dan bertindak sangat dipengaruhi oleh
faktor psikis emosional diri seseorang (Ngalim Purwanto: 1990).
Makna yang terkandung dalam manajemen Ngono yo ngono ning ojo
ngono (Begitu ya begitu tetapi jangan begitu) meski terkesan sepele
kalimatnya dan sangat sederhana, namun kalau kita renungkan
dengan seksama sungguh memiliki nilai yang sangat dalam. Seorang
yang dituakan dalam satuan pendidikan di sekolah dalam hal ini
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 28

seorang kepala sekolah jika benar-benar memahami akan makna
tersebut, tentunya apa yang akan dilakukan dan akan dikerjakan akan
bermakna bagi diri dan bagi lingkungan di sekolah berada.
Karakteristik yang berbeda, sikap, watak, kebiasaan para guru
tentunya menjadikan dasar bagi kepala sekolah dalam memanajemen
sifat, karakter, perilaku yang beraneka macam. Dengan pola
pendekatan Begitu ya begitu tetapi jangan begitu dalam
segala hal baik dalam pembinaan maupun dalam penugasan akan
sangat tepat dan lebih baik. Bolehlah kita terkadang lalai melakukan
kesalahan,akan tetapi sebaiknya kita jangan sering dan keterlaluan
melakukan kesalahan. Sesekali kita datang terlambat, akan tetapi
janganlah kita keterlaluan sering datang terlambat. Konsep
pendekatan secara seimbang ini yang penulis namakan Begitu ya
begitu tetapi jangan begitu merupakan salah satu alternatif pola
manajemen seorang kepala sekolah dalam melaksanakan tugas kerja
sehari-hari, hal ini telah peneliti lakukan dalam mengelola dan
membina para guru, staf, dan karyawan di SDN Pekunden Semarang
Tengah. Pendekatan Begitu ya begitu tetapi jangan begitu
dilakukan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi baik guru, staf,
maupun karyawan. Bagi kepala sekolah tentunya sesuai dengan tugas
pokok dan fungsinya sebagai seorang edukator, motivator,
administrator, leader, inisiator, dan interpreneur.
Secara signifikan pola pendekatan motivasi Ngono yo ngono ning ojo
ngono (Begitu ya begitu tetapi jangan begitu). Ini sangat
berpengaruh dan mempengaruhi adanya perubahan dalam hal sikap,
perilaku para guru dan karyawan.

Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 29


C. Memberdayakan Guru
Castetter telah memberikan konsep yang lengkap tentang
pengembangan sumber daya manusia (SDM), khususnya SDM
pendidikan. Konsep-konsep tersebut telah memberikan gambaran
yang jelas mengenai pengembangan sumber daya manusia, mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi dan tindak lanjut.
Konsep Castetter juga sejalan dengan konsep POAC, perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating),
dan pengawasan (controlling) dalam kaitannya dengan pengembangan
sumber daya manusia, terutama dalam bidang pendidikan.
Meskipun konsep-konsep yang diajukan itu lebih ditekankan pada
masalah manajemen pendidikan, namun Castetter tidak menggunakan
pendekatan monolitik, tetapi menggunakan pendekatan mutidisipliner.
Konsep pengembangan sumber daya manusia yang ditawarkan itu
dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini, digunakan pendekatan
interdisiplin dan pendekatan sistem, yakni melihat permasalahan
dalam hubungannya dengan disiplin ilmu lain berdasarkan aspek input-
proses-output.
Dalam berbagai kegiatan pengembangan sumber daya manusia
(PSDM) bisa saja terjadi pendekatan interdisiplin atau bahkan
monodisiplin, terutama pada tahap perencanaan. Namun demikian,
pendekatan tersebut tidak akan tuntas memecahkan berbagai
permasalahan yang dihadapi, karena banyak permasalahan yang
mengemuka sekarang ini menuntut penanganan dari berbagai
keahlian, baik secara interdisiplin maupun multidisiplin. Dalam PSDM,
perencanaan nasional, regional dan lintas sektoral memerlukan
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 30

penanganan interdisiplin, sementara perencanaan sektoral dan sub
sektoral memerlukan penanganan multidisiplin.
Mengingat pentingnya berbagai sektor pembangunan, SDM
perlu ditata sedemikian rupa agar diperoleh hasil yang optimal.
Castetter telah menyadarkan, bahwa kompleksnya permasalahan SDM
tidak mungkin lagi dikelola dengan prinsip-prinsip manajemen
konvensional seperti yang dikembangkan oleh Henri Fayol dan
Frederik Taylor. Pada saat ini orang telah menyadari adanya
interdepedensi aktivitas, bukan hanya interdepedensi unsur.
Sementara dimensi interdepedensi itu sendiri bukan hanya tunggal,
melainkan ganda, yaitu interdepedensi dalam arti aktivitas, urutan,
waktu, dan hasil. Aktivitas yang terlambat, urutan yang salah, hasil
yang tidak tepat seringkali menjadi tidak berguna, atau menghambat,
bahkan mungkin dapat menggagalkan seluruh perencanaan. Hal
tersebut pula yang mendorong Castetter menyajikan gagasannya tidak
hanya berorientasi pada masa kini, tetapi telah memperkirakan
kejadian-kejadian yang akan muncul di masa depan. Dalam hal ini,
tampak juga penggunaan future action research dalam
mengembangkan kajiannya.
Pengembangan sumber daya manusia menyangkut berbagai
lembaga, seperti lembaga sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan.
Demikian halnya dalam SDM di bidang pendidikan (tenaga
kependidikan). Sejalan dengan konsep yang ditawarkan Castetter,
maka SDM perlu selalu dipirkan dalam kaitannya dengan perencanaan
dan kebijakan pembangunan secara utuh (kaffah). Kemampuan
melihat interdepedensi berbagai kegiatan dari berbagai lembaga
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 31

menjadi sangat perlu bagi seorang perencana dan pengambil
kebijakan.
Konsep-konsep yang ditawarkan Castetter memberikan gambaran
yang utuh tentang SDM, khususnya dalam manajemen tenaga
kependidikan. Dengan kata lain, Castetter telah memberikan wawasan
sistemik. Masalahnya, bagaimana menerapkannya dalam konteks
sejalan dengan upaya peningkatan pengelolaan tenaga kependidikan
yang efektif khususnya di SDN Pekunden Semarang.
Berdasarkan konsep tersebut, pengelolaan tenaga kependidikan yang
efektif di Indonesia harus dipandang bahwa pembangunan tenaga
kependidikan merupakan bagian dari pembangunan nasional. Suatu
pembangunan SDM secara keseluruhan, serta melihat hubungan antar
berbagai komponen yang saling berpengaruh. Dalam hal ini,
pembangunan nasional sebagai sistemnya, dan pembangunan bidang
pendidikan harus didudukan sebagai subsistemnya yang sejajar
dengan pembangunan-pembangunan di bidang lainnya, seperti
ekonomi,keuangan, industri, kesra, dan sosial politik. Pada saat
sekarang ini pembangunan pendidikan selalu dinomorduakan, bahkan
sering dijadikan alat untuk kepentingan-kepentingan politik. Dengan
demikian apa yang telah dilakukan selama ini dalam SDM kependidikan
masih sangat tidak efektif, dan tidak efisien. Dalam pendidikan, makna
efisiensi harus dilihat secara internal dan eksternal, sehingga analisis
pengembangan sumber daya manusia kependidikan harus senantiasa
menggunakan teknik biaya efektifitas (cost effectiveness), dan teknik
biaya manfaat (cost benefit).

Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 32

Dampak dari diberberdayakan para guru di SDN Pekunden Semarang
diantaranya,
1. Prestasi meningkat
Memberdayakan potensi yang ada pada guru sebenarnya
merupakan peluang bagi kepala sekolah dalam upaya untuk
memajukan prestasi sekolah. Kemampuan para guru jika secara terus
menerus dilakukan pembinaan dan pemberian tanggung jawab pada
bidang tugasnya, tentunya akan makin menumbuhkan motivasi
intrinsik dari diri untuk maju dan berbuat positif. Motovasi dari dalam
(inner component), dan komponen luar (outer component). Motivasi
dari dalam ialah perubahan dalam diri seseorang, keadaan merasa
tidak puas, dan ketegangan psikologis. Sedangkan komponen dari luar
ialah apa yang diinginkan oleh seseorang, tujuan yang menjadi arah
perilakunya. Jadi, komponen dalam inilah yang sangat penting karena
menyangkut kebutuhan-kebutuhan kepuasan, sedangkan motivasi luar
berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapainya. Tujuan adalah
sesuatu yang hendak dicapai oleh suatu perbuatan yang apabila
tercapai akan memuaskan individu. Adanya tujuan yang jelas dan
disadari akan mempengaruhi kebutuhan dan ini akan mendorong
timbulnya motivasi. Jadi, suatu tujuan dapat juga membangkitkan
timbulnya motivasi dalam diri maupun institusi di satuan pendidikan.
Jika para guru dan semua komponen yang ada dalam satuan
pendidikan tersebut secara bersama-sama dan bersinergi dalam
mendukung program-program sekolah, maka harapan visi dan misi
sekolah yang kita dambakan insya Allah dapat tercapai.
Dampak dari pemberdayaan para guru sangat luar biasa.
Kompetensi personal makin meningkat, hal ini dibuktikan adanya
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 33

pengembangan kompetensi diri dengan berhasilnya prestasi yang
diraih oleh guru-guru dalam even lomba, baik lomba yang
diselenggarakan dinas maupun non dinas. Prestasi yang diraih oleh
para guru sangat mamacu bagi teman-teman lain untuk lebih
berprestasi di masa yang akan datang. Sekolah memberikan
penghargaan dan motivasi bagi guru-guru yang berprestasi dan
berhasil meraih kejuaraan baik di tingkat kecamatan, kota, maupun
ditingkat propinsi dan nasional. Pemberian reward bagi para guru yang
meraih prestasi diberikan secara berjenjang dari level terendah di
kecamatan sebesar Rp 150.000 sampai Rp 750.000 untuk tingkat
nasional. Bagi siswa pun sekolah memberikan reward atas prestasi
yang diraihnya sebagai motivasi dan penyemangat dalam berpestasi.









Dampak adanya pemberian hadiah dari sekolah, prestasi siswa dan guru
samakin meningkat. Hal ini bisa dilihat dari prestasi dari waktu kewaktu terus
diraih oleh guru dan siswa, begitu pula untuk sekolah makin meningkat
prestasinya. Kejuaraan yang diraih siswa dari tingkat kecamatan, kota,
propinsi hingga nasional terus di raihnya. Kegiatan ekstra sekolah sangat
berdampak dalam pengembangan kreativitas dan kompetensi diri siswa.

Gbr.7
Siswa menerima reward dari sekolah
Gbr.6
Pemberian reward setiap Hardiknas
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 34

Prestasi yang lebih membanggakan bagi sekolah baru-baru ini di tahun 2013
SDN Pekunden berhasil meraih juara 1 Tingkat Nasional lomba School
Health Initiative Programe (SHIP) yang diselenggarakan oleh Nestle
Health Kids (NHK) Jakarta. Juara I Lomba Kantin Sekolah Tahun 2012, Juara
II Lomba Sekolah Sehat 2012, Juara II Mading Tingkat Kota Semarang,
begitu pula tidak kalah ketinggalan ananda Mayshita berhasil merah Juara 2
melukis Tingkat Nasional 2013 yang diselengarakan oleh Kementrian
Pekerjaan Umum Pusat Jakarta.











2. Prestasi sekolah
Pemberian kepercayaan pada guru dalam pendelegasian tugas-
tugas dan memberikan pujian atas kinerja yang dilakukan, mampu
meningkatkan semangat dan gairah dalam bekerja. Kebersamaan
dan tanggung jawab terhadap bidang tugasnya mampu
memberikan sumbangsih yang sangat besar pengaruhnya dalam
hal maraih prestasi sekolah. Beberapa prestasi sekolah yang diraih
berkat tim work yang solid diantaranya,


Gbr.8
Usai Lomba di Jakarta bersama piala dan
hadiah lomba tahun 2013
Gbr.9
Piagam dan plakat Juara 2 melukis TK
Nasional tahun 2012
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 35

a. Juara 1 tingkat nasional lomba School Health Initiative
Programe (SHIP) Nestle Health Kids bulan Januari tahun 2013.
b. Juara 2 Lomba Sekolah Sehat Tingkat Kota Semarang Tahun
2012
c. Juara 1 sekolah Adiwiyata Tingkat Kota Semarang 2010
d. Juara 1 Lomba Kantin Sehat Tingkat Kota Semarang, Tahun
2012
e. Juara 2 Lomba Mading Tingkat Kota Semarang Tahun, 2013.
f. Juara Umum Scouting Intelegent Tingkat Kota Semarang, 2013.
g. Juara 1 Siswa berprestasi tingkat kota Semarang, 2012
h. Juara 1 Guru berprestasi tingkat Propinsi Jawa Tengah, 2013
i. Juara 1 Kepala Sekolah berprestasi Tingkat Propinsi, 2013
Masih banyak prestasi lainnya yang diberikan pada SDN Pekunden Semarang
Tengah, termasuk diantaranya pemberian penghargaan bintang 1 kantin
sehat dari BPOM Kota Semarang.
Konsep Pendekatan Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono (Begitu ya begitu
tetapi jangan begitu) merupakan upaya memanusiakan manusia dengan
pendekatan humanis andragogis dengan memberdayakan dan menghormati
hak-haknya ternyata mampu memberikan hasil nyata yang lebih efektif dan
optimal.
Paradigma baru kepala sekolah profesional dalam konteks MBS dan
KBK berimplikasi terhadap budaya mutu, yang memiliki elemen-elemen
sebagai berikut: (1) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan; (2)
kewenangan harus sebatas tanggung jawab; (3) hasil harus diikuti hadiah
dan hukuman; (4) kolaborasi, sinergi, bukan kompetisi, harus merupakan
basis kerjasama; (5) tenaga kependidikan harus merasa aman dalam
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 36

melakukan pekerjaannya; (6) suasana keadilan harus ditanamkan; dan (7)
imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaan.
Belum tumbuhnya budaya mutu, baik dari segi input, proses, maupun
output pendidikan merupakan faktor penghambat tumbuhnya kepala sekolah
profesional dalam paradigma baru manajemen pendidikan.

D. Kekeluargaan
Gotong-royong dan kekeluargaan dapat menghasilkan dampak positif
(synergistic effect) dalam suatu pekerjaan. Gotong-royong dan
kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat khususnya
di SDN Pekunden Semarang dan masyarakat pada umumnya, masih dapat
dikembangkan dalam mewujudkan kepala sekolah professional, menuju
terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di sekolah. Kondisi ini
dapat ditumbuh kembangkan oleh para pengawas dengan menjalin
kerjasama dan mempererat hubungan sekolah dengan masyarakat dan
dunia kerja, terutama yang berada di lingkungan sekolah. Kepala sekolah
sebagai pemimpin formal memiliki karisma yang cukup kuat, serta dapat
menjadi teladan dan panutan masyarakat. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh
kepala sekolah untuk memperkenalkan program-program sekolah kepada
masyarakat dan dunia kerja, terutama dalam kaitannya dengan
peningkatan kinerja sekolah dan peningkatan kualitas pendidikan.
Jalinan tugas kerja kedinasan yang dilakukan dengan pendekatan
kekeluargaan lebih menambah efektifitas dan semangat kerja yang lebih
baik. Hubungan antara kepala sekolah dengan guru, staf, dan
karyawan, secara kekeluargaan dan tidak terlalu kaku, otoriter,
tidak ada kastanisasi, tidak ada kesan bos dan bawahan, akan
membuat iklim kerja lebih nyaman dan lebih harmonis. Suasana
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 37

kerja yang menggunakan pola pendekatan kastanisasi meski terkesan
loyal pada atasan, akan tetapi sebenarnya kesetiaan pada atasan hanya
semu dan tidak tulus dari hati yang paling dalam. Loyalitas semu inilah
yang sebenarnya sangat berbahaya dalam tugas dan kedinasan.
Sedangkan pola pendekatan kekeluargaan yang didasarkan pada prinsip
Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono (Begitu ya begitu tetapi jangan
begitu) akan sangat lebih berbeda, karena kesetiaan dan loyalitas
kedinasan dalam pendekatan ini benar-benar muncul dari kesadaran diri
yang tidak dipaksakan dan tidak hanya menginginkan pujian, sanjungan,
atau ingin mendapat penghargaan, akan tetapi semuanya hanya karena
Allah semata. Kesadaran dari dalam interbeauty inilah yang akhirnya
mampu memancarkan dalam segala aspek tindakan, ucapan, perbuatan,
dan hubungan sosial yang lebih baik. Munculnya kesadaran dari dalam
pribadi guru, staf, karyawan yang dengan sendirinya tentunya melalui
proses dan interaksi yang tidak mudah. Proses interaksi yang dibangun
dengan pola pendekatan Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono (Begitu
ya begitu tetapi jangan begitu) ternyata mampu membangun
kebersamaan dan kekuatan sekolah dalam mengadapi masalah-masalah
internal maupun eksternal. Kebersamaan dan kekeluargaan inilah menjadi
modal utama dalam upaya menciptakan suasana kerja yang sejuk, damai,
dan kondusif.
Kegiatan untuk memperkokoh ketahanan sekolah sebagai tim work
yang solid diantaranya dengan pembiasaan doa bersama di awal sebelum
memulai pelajaran di kelas, kegiatan outbound guru staf dan karyawan,
kunjungan teman yang sakit, silaturahmi idul fitri/natal, anjangsana
mantan kepala sekolah, dan kegiatan lain yang memperkokoh pilar-pilar
ketahanan sekolah.
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 38

Keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan dinas men
jadi ruhnya dalam prinsip manajemen Begitu ya begitu tetapi jangan
begitu. Dengan aplikasi konsep Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono (begitu
ya begitu tetapi jangan begitu) dalam penerapannya sangat
memungkinkan tercapainya tujuan dari sekolah khususnya di SDN
Pekunden Kecamatan Semarang Tengah. Hal ini dapat dilihat kondisi
pribadi guru-guru SDN Pekunden dalam tabel 2 di bawah ini:
Tabel 2. Kondisi Awal Kinerja Guru dan Staf

Staf Guru Karyawan
Manajemen
Ngono Yo
Ngono Ning Ojo
Ngono
Perilaku C C C C
Kehadiran C C C C
Keseriusan D D D D
Kekeluargaan D D D D
Kedisiplinan D D D D
Tim Work D D E E
PBM D D D D
Penggunaan
alat peraga
C - - D
Tanggung
Jawab
C C C C
pemberdayaan D D D D






Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 39

E. Catatan :
Kondisi dalam % Kategori Keterangan
0-20 E Kurang sekali
21-40 D Kurang
41-60 C Cukup
61-80 B Baik
81-100 A Amat baik

Berdasarkan hasil pemantauan pada kondisi awal, data yang didapat dari
kelompok Staf adalah perilaku disiplin masih dalam kategori D artinya
kedisiplinan, kehadiran dihadiri kurang dari 41 %, peneliti masih sering
mendengar guru terlambat mengajar, kurang disiplin, atau berbicara
kurang tepat pada tempatnya, sopan santun juga dirasa kurang, guru
yang melakukan PBM dengan baik seputar 50 %, yang lain segera pulang,
guru meninggalkan sekolah pada jam kerja tanpa pamit dianggap hal
biasa, sementara sistem pemantauan dari kepala sekolah yang lalu sangat
lemah, Sementara kehadiran guru tepat waktu hanya kira-kira 30 %, staf
karyawan 50 %. Keseriusanpun dari semua pihak tak tampak sama sekali.
Dalam hal ketertiban juga belum tampak, artinya guru,staf, karyawan
masih belum bekerja dengan baik.

F. Diskripsi Hasil Siklus I
1. Perencanaan
a. Rapat koordinasi dengan semua pihak yang terkait, yang isinya
sekolah berkeinginan menjadikan SDN Pekunden menjadi
institusi yang penuh prestasi dengan meningkatan kemampuan
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 40

potensi guru dan prestasi siswa melalui manajemen Begitu ya
begitu tetapi jangan begitu.
b. Membuat perencanaan bersama guru kelas, staf, karyawan
bersama komite sekolah.
c. Menyusun jadwal latihan
d. Menyusun jadwal pemantauan
e. Meneliti hasil penelitian perubahan perilaku pada guru, staf, dan
karyawan.
f. Menyusun angket dalam kegiatan optimalisasi kinerja dan
prestasi ini
2. Tindakan ( dilakukan selama 3 bulan, seminggu 2 x )
Peneliti melakukan tindakan seperti yang telah direncanakan
dalam penetian tindakan sekolah ini, sedangkan tindakannya
adalah :
a. Optimalisasi kinerja guru,staf dan karyawan dilaksanakan pada
saat-sat jam efektif kedinasan.
b. Kepala sekolah selalu hadir untuk memimpin pembiasaan doa
bersama setelah apel upacara hari senin, memberi pengarahan
tentang pentingnya sikap disiplin, kekompakan, kebersamaan,
empati. Selain memberi arahan kapala sekolah hadir untuk
kegiatan pemantauan, meneliti jalannya PBM di kelas, memberi
masukan perbaikan ketika selesai pembelajaran di kelas.
c. 13 guru kelas selalu hadir untuk menyiapkan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menggunakan alat peraga
dalam PBM, mengikuti kegiatan sosial anjangsana, saling
membantu dengan teman sebaya dalam proses pembelajaran.
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 41

d. Guru senior sudah mau memulai memberi pengarahan dahulu
tentang tugas pokok sebagai guru, arti tupoksi (tugas pokok
dan fungsi) sudah mulai di pahami oleh guru-guru.
e. Di akhir siklus melaksanakan dan mengisi lembar angket
tanggapan dari staf, guru, karyawan dalam optimalisasi
kegiatan peingkatan kinerja guru melalui manajemen Begitu ya
begitu tetapi jangan begitu.
3. Observasi (Hasil pengamatan)
Setelah dilakukan tindakan sekolah selama tiga bulan maka dalam
pelaksanaannya menghasilkan sebagai berikut:
Tabel 3. Hasil Nilai Siklus I

Staf Guru pembimbing
Sistem
Pemantauan KS
Perilaku B B B B
Kehadiran B B B B
Keseriusan C B B B
Kekeluargaan C B B B
Kedisiplinan C B B B
Tim Work C B B B
P.Alat Peraga B B B B
Tanggung jwb B C B C
Pemberdayaan B C B C
Kemitraan B B B B



Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 42

Agar lebih jelas lagi maka dapat dibuat dalam bentuk diagram batang sebagai
berikut.
Tabel 4
Diagram Batang siklus I













Seperti yang tampak pada tabel 3 diatas bahwa pada siklus I hasil
kinerja staf, guru, karyawan, sudah banyak menunjukkan perubahan kearah
perbaikan. Hasil kinerja ini dapat dilihat dari prestasi yang diraih guru dan
siswa dalam lomba-lomba di tingkat kecamatan dan kota semarang.
Termasuk diantaranya mampu merai siswa berprestasi di tingkat kecamatan
tahun 2012.




0
20
40
60
80
100
Diagram Batang Siklus I
B
A
C
D
E
p
r
l
k
u
k
h
d
r
n
k
s
r
u
s
k

l
g
a
n
k
d
s
p
l
n
T
.
o
r
k
A
.
p
r
g
t
g
j
w
b
p
b
r
d
y
n
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 43

Hasil observasi kinerja staf, guru, karyawan tentang perubahan perilaku,
prosentase kehadiran, keseriusan, kekeluargaan, kedisiplinan, tim work,
pengunaan alat peraga, tanggung jawab, pemberdayaan, dan kemitraan di
SDN Pekunden berdasarkan check list diperoleh hasil sbb:
Tabel 5
Hasil Observasi Optimalisasi Kegiatan Kinerja Guru
No Kriteria Siklus I
1 Baik 60 %
2 Tidak 40 %

4. Refleksi
Berdasarkan data yang diperoleh pada akhir siklus I, dengan
perubahan seperti yang tampak pada tabel diatas, maka peneliti
merefleksi diri. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengadakan
perbaikan yang lebih signifikan, diharapkan dengan refleksi dan
pelaksanaan siklus II indikator dari pelaksanaan penelitian tindakan
sekolah ini dapat dicapai.
Pada akhir siklus I perubahan perilaku, prosentase kehadiran,
keseriusan, kekeluargaan, kedisiplinan, tim work, penggunaan alat
peraga, tanggung jawab, pemberdayaan, dan kemitraan SDN
Pekunden sudah mengalami perubahan kearah predikat baik.
Tentunya berdampak pada guru-guru staf, dan karyawan dalam
suasana kebersamaan meski tampak belum sempurna.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahwa untuk siklus I
ada penigkatan hasil jika dibandingkan dengan kondisi awal tersebut.
Karena yang dikehendaki dalam penelitian tindakan sekolah ini
terlaksana dengan maksimal, maka perlu dilanjutkan pada siklus yang
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 44

ke II dan menyusun perencanaan yang harus ditindak lanjuti. Untuk
itu disusun rencana perbaikan dan perencanaan untuk siklus II
berdasarkan refleksi pembelajaran pada siklus I sebagai berikut :
a. Kepala sekolah perlu meningkatkan keterlibatannya baik
dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan ini
b. 13 guru kelas 2 staf dan 3 karyawan perlu meningkatkan
peranannya dalam kegiatan ini
c. Guru senior perlu meningkatkan kompetensinya dalam
segala hal yang terkait dengan kompetensi personal.
d. Guru perlu diketuk hatinya dalam mengabdikan diri untuk
bangsa dan negara.

G. Diskripsi Hasil Siklus II
1. Perencanaan
a. Rapat koordinasi dengan semua pihak yang terkait, yang isinya
peneliti berkeinginan melanjutkan penelitian ke siklus II, peneliti
memohon pada semua guru untuk ikut mendukung dengan
baik, pihak-pihak yang terlibat dimohon lebih serius
menanganinya, sehingga tujuan akhir dari penelitian ini
tercapai.
b. Membuat perencanaan bersama guru, staf, karyawan, komite.
Dengan target capaian pada kemenangan lomba.
c. Menyusun jadwal latihan
d. Menyusun jadwal pemantauan
e. Meneliti hasil latihan dan perubahan perilaku pada guru dan
siswa
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 45

f. Menyusun angket tanggapan dari staf, guru, karyawan dalam
kegiatan optimalisasi melalui konsep Ngono Yo Ngono Ning Ojo
Ngono (Begitu ya begitu tetapi jangan begitu).
2. Tindakan dilakukan selama satu bulan, seminggu 2 x
Peneliti melakukan tindakan seperti yang telah direncanakan
dalam penetian tindakan sekolah ini, sedangkan tindakannya
adalah :
a. Optimalisasi kegiatan kinerja guru, staf, dan karyawan di SDN
Pekunden Semarang.
b. Kepala sekolah selalu hadir untuk memimpin doa, memberi
pengarahan tentang pentingnya kekompakan dalam tim. Selain
memberi arahan kapala sekolah hadir untuk kegiatan
pemantauan, PBM,dan aktivitas tugas dari kepala sekolah.
c. 13 guru kelas, 2 staf, dan 3 karyawan selalu hadir untuk
melaksanakan tugas rutin kedinasan setiap harinya.
d. Guru senior harus selalu memberi pengarahan dahulu tentang
tujuan,visi, dan misi sekolah dalam upaya mencapai tujuan yang
akan dicapai sekolah dalam satu tahun ke depan.
e. Melakukan pembinaan dan mengetuk empati dengan
kesungguhan dan keikhlasan hati.
f. Di akhir siklus melaksanakan dan mengisi lembar angket
tanggapan dari staf, guru, dan karyawan melalui manajemen
Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono dalam kegiatan ini
diperoleh hasil seperti dalam tabel 6 di bawah ini.


Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 46

Tabel 6.
Hasil Kegiatan Siklus II
Staf Guru Karyawan Manajemen
GITU
Perilaku B B B B
Kehadiran A A A A
Keseriusan A A A A
Kekeluargaan A A A A
Kedisiplinan A A A A
Tim Work A A A A
Peng. Alat prg A A A A
T. Jawab B B B B
Pemberdayaan A A A A
Kemitraan A A A A

Agar lebih jelas lagi maka dapat dibuat dalam bentuk diagram batang di bawah ini.










Diagram Batang Siklus II
B
A
C
D
E
p
r
l
k
u
k
h
d
r
n
k
s
r
u
s
k

l
g
a
n
k
d
s
p
l
n
T
.
o
r
k
A
.
p
r
g
t
g
j
w
b
p
b
r
d
y
n
Staf
Guru
Karyawan
Kepala sekolah
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 47


Dari data diatas dapat dilihat perubahan kearah yang lebih baik lagi
dari kegiatan siklus I, bahkan indikator keberhasilan yang diinginkan dapat
dicapai, yakni meraih juara 1 Lomba Siswa Berprestasi Tingkat Kecamatan
Semarang Tengah putra dan putri. Adapun secara peningkatan kinerja staf,
guru, dan karyawan umum dapat dilihat dalam tabel 7 di bawah ini.

Tabel 7. Hasil kinerja staf, guru, karyawan
No Kriteria Siklus II
1 Baik 87,5 %
2 Tidak 12,5 %

3. Refleksi
Berdasarkan data yang diperoleh pada akhir siklus I berupa perubahan
perilaku dengan sebagian besar kategori B dan hasil observasi pada siklus
II dengan perubahan perilaku dengan sebagian besar kategori A, dapat
disimpulkan bahwa penelitian tindakan sekolah kali ini membawa
keberhasilan sesuai yang diharapkan oleh peneliti, karena itu peneliti tidak
perlu melanjutkan ke siklus berikutnya, cukup pada siklus ke II saja. Dan
selanjutnya dapat dikembangkan pada kegiatan kegiatan lainnya yang
sekiranya memungkinkan dan cocok untuk menerapkan optimalisasi
manajemen Ngono yo ngono ning ono ngono dalam kegiatan ini.
Optimalisasi ini selain dapat meningkatkan kemampuan profesional guru
juga dapat berpengaruh pada meningkatnya prestasi siswa baik secara
akademik maupun non akademik dan meningkatnya peran serta masyarakat
dan orang tua siswa di SDN Pekuden. Keberhasilan ini tentunya sangat
dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah:
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 48

a. Kepala Sekolah mengadakan perbaikan dengan sistem
pemrograman terpadu dan pemantauan dan pengawasan melekat
b. Guru senior mengadakan perbaikan diri dalam perilaku dan
termotivasi untuk terus maju kearah perbaikan
c. Guru- guru mulai menyadari untuk terus berusaha meningkatkan
kemampuannya.

H. Pembahasan Antar Siklus
Memperhatikan data yang diperoleh (Tabel 3 dan Tabel 5), tampak
bahwa dalam penelitian tindakan sekolah di SD Pekunden Kecamatan
Semarang tengah Kota Semarang dengan pola manajemen Ngono yo
ngono ning ojo ngono sesuai dengan harapan. Hal ini terbukti dengan
indikator kinerja yang telah ditetapkan pada akhir siklus tercapai. Selama
pelaksanaan penelitian, dari siklus pertama ke siklus berikutnya selalu
terjadi peningkatan, baik dalam hal perubahan perilaku, prosentase
kehadiran, keseriusan, kekeluargaan, kedisiplinan, tim work, penggunaan
alat peraga, tanggung jawab, Pemberdayaan staf, guru. Karyawan di
SDN Pekunden, adapun dampak dari supervisi klinis berbasis kearifan
lokal dapat dilihat pada tabel 8 siklus I ke siklus II dibawah ini :








Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 49

Tabel 8. Hasil perubahan dari Siklus I ke Siklus II


No

Hasil
Siklus I Siklus II
Staf Guru Karya
wan
KS Staf Guru Karya
wan
KS
1 Perilaku B B B B B B B B
2 Kehadiran B B B B A A A A
3 Keseriusan C B B B B A A A
4 Kekeluarga
an
C B B B B A A A
5 Kedisiplina
n
C B B B A A A A
6 Tim Work C B B B A A A A
7 P.Alat
peraga
B B B B A A A A
8 T.Jawab B B B B A A A A
9 Pemberdaya
an
B B B B A A A A
10 Kemitraan B B B B A A A A










Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 50

I. Hasil Penelitian
Hasil pelaksanaan supervisi klinis berbasis kearifan lokal dapat
mengoptimalisasikan kinerja guru,staf, karyawan, di SDN Pekunden
Semarang. Hasil supervisi berdampak pada perubahan perilaku berupa
tanggung jawab, etos kerja, kedisiplinan, prosentase kehadiran,
keseriusan, kekeluargaan, tim work, penggunaan alat peraga,
kemitraan, menunjukkan adanya peningkatan hasil yang cukup nyata
selama tindakan dilaksanakan, apalagi kemenangan lomba sekolah
sehat sebagai juara II Tingkat Kota, juara I Pesta siaga Tingkat Kota,
Juara II Macapat tingkat Kota, dan Juara menggambar dinding Tingkat
Nasional tahun 2011, menunjukkan adanya perubahan setelah di
lakukan supervisi klinis pada guru-guru di SDN Pekunden Semarang,
serta Juara I Nasional lomba School Healt Initiative Program 2013 dan
berbagai hasil prestasi kejuaraan lainnya menunjukkan makin kuatnya
prngaruh supervisi klinis berbasis kearifal lokal bagi guru-guru di SDN
Pekunden.











Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 51


BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Upaya yang dilakukan kepala sekolah untuk menumbuhkan etos
kerja bagi guru-guru SDN Pekunden diantaranya dengan membentuk
tim work sekolah, membentuk Tim Pemantau Gizi, mengadakan
kegiatan outbond, kegiatan silaturahmi dan anjangsana, untuk
membangun komitmen dan kinerja.
Hasil supervisi klinis berbasis kearifan lokal yaitu munculnya
inovasi-inovasi baru bagi guru-guru SDN Pekunden dalam
pembelajaran di kelas. Prestasi sekolah makin meningkat. Supervisi
klinis berbasis kearifan lokal dengan Pendekatan humanis andragogis
Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono (Begitu ya begitu tetapi jangan
begitu) mampu menggerakkan motivasi bagi guru-guru SDN Pekunden
Semarang.
Supervisi klinis berbasis kearifan lokal mampu merubah perilaku
guru-guru SDN Pekunden secara signifikan, yang akhirnya berdampak
pada perubahan sikap dan perilaku dalam proses pembelajaran di
kelas serta berdampak pada prestasi sekolah.

B. Saran
1. Guru
Guru harus memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan
tugas agar dapat mencapai prestasi yang lebih optimal

Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 52

2. Kepala Sekolah
Hendaknya kepala sekolah dapat menjadikan dirinya sebagai
panutan dan teladan bagi para guru-gurunya, khususnya dalam
pembelajaran di kelas, hubungan sosial, dan perilaku perbuatan
sehari-hari.
3. Dinas
Dapat menyebarluaskan hasil supervisi berbasi kearifan lokal bagi
guru-guru disetiap satuan pendidikan, agar hasil belajar dan prestasi
semua sekolah semakin meningkat. Supervisi klinis berbasis kearifan
lokal dapat di rekomendasikan bagi asesor atau penyelia dalam
melaksanakan tugan supervisi di sekolah. Harapan ke depan nantinya
semua sekolah mampu meningkatkan budaya prestasi dan semangat
kerja bagi semua warga sekolah.











Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 53

ABSTRAK

Agus Sutrisno.2013.Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal untuk
Meningkatkan Etos Kerja Guru SDN Pekunden Semarang
(Solusi menuju sekolah bermutu, suatu pendekatan humanis andragogis)

Kata Kunci :Supervisi,Kearifan Lokal,Etos Kerja

Kurangnya tanggung jawab, menurunnya semangat kerja sangat
berpengaruh terhadap prestasi siswa dan sekolah. Fakta yang ada
menunjukkan masih lemahnya kinerja guru dan menurunnya prestasi siswa
dan sekolah.
Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut di atas
adalah dengan supervisi klinis dengan berbasi kearifan lokal secara indep
dengan pendekatan klinis humanis andragogis Ngono Yo Ngono Ning Ojo
Ngono.
Hasil setelah dilakukan dengan supervisi klinis berbasis kearifan
lokal diperoleh perubahan sikap para guru di SDN Pekunden. Hasil
signifikan diperoleh adanya perubahan perilaku dari 60% menjadi 80%.
Perubahan sikap dari guru sebagai seseorang yang mampu mengambil
prakarsa untuk menganalisis dan mengembangkan dirinya.
Dampak dari pelaksanaan supervisi klinis berbasis kearifan lokal adalah: (1)
terbentuknya perubahan perilaku guru. (2) meningkatnya etos kerja. (3)
terwujudnya kepuasan kerja guru dan karyawan sebagai dampak
peningkatan prestasi sekolah.
Kendala dalam supervisi klinis berbasis kearifan lokal adalah belum
terbukanya jawaban-jawaban yang diberikan secara tulis ataupun lesan.
Kemauan dan semangat dari para guru untuk mau merubah merupakan daya
dukung yang sangat membantu dalam kegiatan supervisi klinis ini.
Berdasarkan hasil penelitian ini direkomendasikan agar : (1) sekolah
perlu membentuk tim work sekolah. (2) guru perlu melakukan kegiatan
pengembangan keprofesian berkelanjutan untuk mengoptimalkan
pencapaian ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dalam kerangka
pembentukan karakter, (3) diseminasi konsep supervisi berbasis kearifan
lokal dengan pendekatan Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono dapat di
tindak lanjuti lewat kelompok kerja kepala sekolah sehingga
pengembangan sekolah bermutu dapat dilakukan secara holistik.

Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 54

DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta:
Rineksa Cipta.

Daniel Goelman. 2006. Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi.
Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa
Cipta.

Fakri Husein, Muhamad. 2006. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta:UPP
STIM YKPN.

Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.

Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Surabaya. University
Press. Universitas Negeri Surabaya.

Nuryanah,Sri. Supervisi Akademik meningkatkan Kinerja Guru.Bandung:
PT.Rinai Jaya.

Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina
Aksara.

Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru.
Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mc.Donald. 1986. Motivasi Internal. (terjemahan) Bandung: Jemmars.








Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 55


LEMBAR PENGESAHAN



Penelitian Tindakan Sekolah ini benar-benar karya sendiri dan belum pernah
dipublikasikan, serta telah disetujui dan disyahkan sebagai syarat untuk
mengikuti seleksi kepala sekolah berprestasi Tingkat Propinsi Jawa Tengah
Tahun 2013.


Semarang, 24 Mei 2013
Pengawas TK/SD Penulis



Dra.Heny Titik Lestari,M.Pd H.Agus Sutrisno,S.Pd.M.Pd
NIP 196401021984052006 NIP 196608031991031011

Kepala UPTD Pendidikan
Kecamatan Semarang Tengah




Drs.Taryono,M.Pd
NIP 195905051979111006




Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 56

PRAKATA


Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya
dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan
laporan hasil penelitian yang berjudul Supervisi Klinis Berbasis Kearifan
Lokal Untuk Meningkatkan Etos Kerja Guru SDN Pekunden Semarang, solusi
menuju sekolah bermutu, dengan pendekatan humanis andragogis di SDN
Pekunden Semarang Tengah).
Sari dalam hasil penelitian ini memberikan gambaran manajemen
pengelolaan sekolah yang sangat sederhana sekali tetapi syarat dengan
makna filosofi. Prinsip filosofi orang Jawa Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono,
(begitu ya begitu tetapi jangan begitu) berisikan penuh dengan makna
filsafat yang dijadikan sebagai landasan dalam melakukan tugas pekerjaan
kedinasan kepala sekolah.
Penulis menyadari bahwa laporan hasil penelitian tindakan sekolah ini
masih jauh dari sempurna, untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan.

Penulis

Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 57

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul .............................................................................. i
Lembar Pengesahan ...................................................................... ii
Kata Pengantar ............................................................................. iii
Abstrak ....................................................................................... iv
Daftar Isi ...................................................................................... iv
Daftar Tabel ................................................................................ v
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................ 4
C. Tujuan Penelitian ................................................. 4
D. Manfaat Penelitian ............................................... 4
1 Teoritis ........................................................... 5
2 Praktis ............................................................ 5
BAB II KAJIAN PUSTAKAN DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori..................................................... 6
1 Supervisi Klinis ................................................ 7
2 Kearifan Lokal .................................................. 8
3 Etos Kerja......................................................... 10
B. Hasil Penelitian yang relevan ................................ 11
C. Kerangka Berpikir ................................................ 12
D. Hipotesisi Tindakan ............................................ 12
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 58

E. Penyelesaian Masalah ......................................... 13
BAB III METODE PENELITIAN
A. 1. Setting Penelitian............................................. 15
2. Tempat .......................................................... 15
3. Subyek Penelitian ........................................... 16
B. Sumber Data ...................................................... 17
C. Teknik Pengumpulan Data .................................. 18
D. Validasi data ..................................................... 18
E. Analisis Data ..................................................... 18
F. Indikator Kinerja ................................................ 19
G. Prosedur Penelitian ............................................ 19
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A Deskripsi Awal ................................................. 19
4. Tim Work ........................................... 22
1.1 Doa Bersama ............................... 23
1.2 Outbound .................................... 23
1.3 Anjangsana .................................. 24
1.4 Hubungan Pihak Luar .................... 25
B. Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono............... 26
C. Memberdayakan Guru................................ 29
Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 59

D. Kekeluargaan .................... ........................ 36
E. Catatan ...................................................... 38
F Deskripsi Siklus I.......................................... 39
G Deskripsi Siklus II ....................................... 44
H Hambatan Antar Siklus ................................ 48
G Hasil Penelitian ........................................... 49
BAB V PENUTUP ................................................................. 50
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 53
























Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 60


DAFTAR TABEL


Tabel Halaman

1. Tabel 1 Scedul Penelitian .......................................................... 13
2. Tabel 2 Kondisi awal ................................................................ 50
3. Tabel 3 Hasil Nilai siklus I .......................................................... 53
4. Tabel 4 Hasil Siklus I ................................................................. 54
5. Tabel 5 Hasil Observasi ............................................................. 55
6. Tabel 6 Hasil Kegiatan siklus II .................................................. 58
7. Tabel 7 Hasil kinerja Staf, Guru, Karyawan siklus II...................... 59
8. Tabel 8 hasil perubahan siklus I dan II ....................................... 61






















Supervisi Klinis Berbasis Kearifan Lokal/2013 Page 61




SUPERVISI KLINIS BERBASIS
KEARIFAN LOKAL UNTUK
MENINGKATKAN ETOS KERJA GURU
SDN PEKUNDEN SEMARANG

disajikan untuk mengikuti seleksi kepala sekolah berprestasi Tingkat
Nasional Tahun 2013




ol eh
Agus Sutrisno
Kepala SDN Pekunden Semarang Tengah




PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH
DINAS PENDIDIKAN