Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perusahaan selalu menginginkan hasil produksinya dalam keadaan baik,
begitu pula dengan perusahaan surat kabar. Agar tidak mengecewakan konsumen
atau pembacanya, perusahaan surat kabar akan memberikan berita terbaik dengan
gaya bahasa yang menarik. Namun terkadang karena minimnya space dan alasan
lain, ditemukan beberapa kesalahan dalam pengetikan dalam surat kabar yang
membuat pembaca kurang nyaman. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh
perusahaan agar surat kabar yang dihasilkan berada pada kondisi yang standar
yaitu perusahaan harus melakukan pengendalian kualitas.
Pengendalian kualitas statistik yang mempelajari sebab-sebab terduga
sedemikian hingga penyelidikan terhadap proses tersebut dan tindakan
pembetulan dapat dilakukan sebelum terlalu banyak unit yang tidak sesuai.
Pengendalian kualitas sebuah produk ataupun jasa adalah hal yang harus
dilakukan oleh para produsen agar nantinya produk atau jasa yang digunakan oleh
konsumen memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan oleh konsumen dan
tentunya sebagai alat ukur para produsen untuk melihat ataupun mengawasi
produknya maupun jasa yang diberikan.
Praktikum ini akan menguji kecacatan penulisan dan kliping pengamatan
pada 3 koran Nasional, yaitu Kompas, Jawa Pos, dan Surya dengan menggunakan
peta kendali U. Penelitian mengenai kecacatan penulisan ini dibuat dengan
mengacu pada 4 standar, yaitu salah penulisan, antara kata tidak ada blank,
Pemenggalan suku kata diujung margin tidak benar dan pengulangan kata yang
sama dalam satu kalimat. Sedangkan kecacatan pada kliping adalah hasil
guntingan tidak rapi, hasil tempelan tidak rapi, tidak ada kode pada setiap artikel
dan kertas kusut atau salah penulisan kode. Kedua pengujian kecacatan tersebut
akan diuji dengan peta kendali U, dimana sebelumnnya harus diuji keacakan dan
harus mengikuti distribusi Poisson.
1.2 Permasalahan
Adapun permasalahan-permasalah pada penelitian ini yang nantinya akan
dibahas lebih lanjut adalah sebagai berikut:
2

1. Bagaimana hasil uji keacakan dari data kecacatan penulisan berita dan
kliping pada koran Kompas, Jawa Pos, dan Surya?
2. Bagaimana hasil uji Poisson dari data kecacatan penulisan berita dan kliping
pada koran Kompas, Jawa Pos, dan Surya?
3. Bagaimana hasil analisis data kecacatan penulisan berita dan kliping pada
koran Kompas, Jawa Pos, dan Surya dengan menggunakan peta kendali U?
4. Bagaimana kapabilitas proses kecacatan penulisan berita pada koran Kompas,
Jawa Pos, dan Surya?
5. Bagaimana diagram pareto dari data kecacatan surat kabar?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah menjawab dari permasalahan-permasalahan
yang diungkapkan pada sub-bab sebelumnya, antara lain:
1. Mengetahui hasil uji keacakan dari data kecacatan penulisan berita dan
kliping pada koran Kompas, Jawa Pos, dan Surya.
2. Mengetahui hasil uji Poisson dari data kecacatan penulisan berita dan kliping
pada koran Kompas, Jawa Pos, dan Surya.
3. Mengetahui hasil analisis data kecacatan penulisan berita dan kliping pada
koran Kompas, Jawa Pos, dan Surya dengan menggunakan peta kendali U.
4. Mengetahui kapabilitas proses kecacatan penulisan berita pada koran
Kompas, Jawa Pos, dan Surya.
5. Mengetahui diagram pareto dari data kecacatan surat kabar.
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari kegiatan ini adalah:
1. Dapat mengaplikasikan peta kendali U.
2. Dapat menjelaskan dan mengevaluasi segala permasalahan yang berhubungan
dengan kualitas berdasarkan peta kendali atribut.
3. Dapat memberikan informasi statistik berdasarkan data yang diperoleh.
4. Sebagai sarana aplikasi ilmu-ilmu statistik pada bidang industri, bisnis, dan
Sosial



3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian kecacatan artikel koran, baik penulisan beita dan kliping
menggunakan beberapa asumsi dan analisis. Asumsi dan analisis itu antara lain
asumsi random, asumsi Poisson, analisis dengan peta kendali, dan kapabilitas
proses.
2.1 Uji Keacakan
Uji keacakan atau run test merupakan uji deret untuk melihat keacakan.
Tujuan dari uji deret adalah untuk menentukan apakah dalam suatu data terdapat
pola tertentu atau apakah data tersebut merupakan sampel yang acak.
Run Test (Uji Run = Uji Randomness) merupakan metode analisis yang digunakan
untuk menguji hipotesis deskriptif satu sampel, datanya mempunyai skala
pengukuran ordinal. Metode analisis Run Test ini untuk mengukur keacakan
populasi yang didasarkan atas data sampel.
Prosedur-prosedur untuk menyelidiki keacakan biasanya didasarkan pada
banyaknya dan sifat rangkaian yang terdapat dalam data yang diminati. Keacakan
suatu rangkaian umumnya diragukan apabila rangkaian di situ terlalu banyak atau
terlalu sedikit.
Asumsi untuk analisis inia adalah data yang tersedia untuk analisis terdiri
dari serangkaian pengamatan, yang dicatat berdasarkan urut-urutan perolehannya,
dan dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok yang saling eksklusif. Kita
mengandaikan bahwa n = ukuran sampel total, n
1
= banyaknya pengamatan
kelompok satu, dan n
2
= banyaknya pengamatan kelompok lain. Hipotesis yang
digunakan dalam pengujian keacakan adalah.
H
0
: Data pengamatan telah diambil secara acak dari suatu populasi.
H
1
: Data pengamatan telah diambil secara tidak acak dari suatu populasi.
Atau
H
0
: Sampel yang diambil dari suatu populasi adalah acak.
H
1
: Sampel yang diambil dari suatu populasi adalah tidak acak.
Statistik uji adalah r, total banyaknya rangkaian. Bila n
1
maupun n
2
> 20 maka
gunakan perumusan
4


(2.1)

Nilai z ini kemudian dibandingkan dengan nilai
2
o
z

dari distribusi normal
baku. (Wayne W. Daniel. 1989)
2.2 Uji Poisson
Salah satu asumsi statistik yang digunakan dalam diagram konrol c dan u
adalah data yang digunakan berdistribusi Poisson. Penerapan yang khas distribusi
Poisson dalam pengendalian kualitas adalah sebagai model untuk banyak cacat
atau tak sesuai yang terdapat dalam suatu unit produk. Distribusi Poisson sering
digunakan untuk menentukan peluang sebuah peristiwa yang dalam kesempatan
tertentu diharapkan terjadinya sangat jarang. Langkah-langkah uji Poisson adalah
sebagai berikut:
Hipotesis :
H
0
: Data pengamatan berdistribusi Poisson.
H
1
: Data pengamatan tidak berdistribusi Poisson.
o = 0.05
Statistik Uji adalah
( ) ( )
.
X X
F S D = (2.2)
H
0
akan ditolak pada taraf nyata o jika P-value < o .
Kesimpulan :
Jika H
0
ditolak pada taraf nyata maka data berdistribusi pengamatan Poisson.
(Wayne W. Daniel. 1989)
2.3 Peta kendali U
Peta kendali u merupakan peta kendali berdasarkan banyak ketidaksesuaian
rata-rata per unit pemeriksaan. Unit pemeriksaan dipilih untuk kesederhanaan
operasional atau pengumpulan data. Ukuran sampel harus dipilih menurut
pertimbangan statistik, seperti menentukan ukuran sampel cukup besar untuk
menjamin batas kendali bawah positif atau guna memperoleh probabilitas tertentu
akan menyidik suatu pergeseran proses.
Jika diperoleh c jumlah ketidaksesuaian rata-rata per unit pemeriksaan,
maka banyak ketidaksesuaian rata-rata per unit pemeriksaan adalah
{ } | |
.
) 1 ( ) (
) 2 ( 2
1 /( ) 2 (
2 1
2
2 1
2 1 2 1 2 1
2 1 2 1
+ +

+ +
=
n n n n
n n n n n n
n n n n r
z
5


(2.3)
Dimana u adalah variabel random Poisson karena ini merupakan kombinasi linear
n variabel random Poisson independen. Dengan demikian, parameter diagram
kendali itu adalah
UCL =
n
u
u 3 +
Center Line = u
(2.4)

LCL = . 3
n
u
u
Dengan u menunjukkan banyak ketidaksesuaian rata-rata per unit yang
diamati dalam himpunan data permulaan. (Suyadi Prawirosentono. 2004)
2.4 Kapabilitas Proses
Kendali proses statistik berarti menjaga agar suatu proses tetap berada
dalam kendali. Ini berarti variasi alami dari suatu proses harus stabil. Namun,
proses yang berada dalam kendali statistik bisa saja menghasilkan barang atau jasa
yang tidak memenuhi spesifikasi rancangan (toleransi). Kemampuan suatu proses
untuk memenuhi spesifikasi rancangan yang ditetapkan oleh rancangan teknik
atau keinginan pelanggan dinamakan kapabilitas proses. Terdapat dua pengukuran
yang lazim digunakan untuk menentukan kapabilitas dari suatu proses secara
kualitatif yaitu rasio kapabilitas proses (

dan indeks kapabilitas proses (

.
(Jay, Heizer dan Barry Render. 2005)
2.4.1 Rasio Kapabilitas Proses (

adalah rasio untuk menentukan apakah suatu proses memenuhi


spesifikasi rancangan atau rasio antara spesifikasi terhadap variasi proses. Agar
suatu proses dianggap memiliki kapabilitas, nilai-nilainya harus berada dalam
spesifikasi atas dan bawahnya.

dapat dihitung sebagai berikut


(2.5)
Suatu proses dikatakan kapabilitasnya baik apabila nilai

dari proses
tersebut setidaknya 1,0. Semakin besar nilai

dari suatu proses maka


.
n
c
u =
6

kapabilitasnya makin baik. Apabila

kurang dari 1,0, maka proses tersebut


menghasilkan produk atau jasa yang berada diluar toleransi yang dibolehkan.
(Jay, Heizer dan Barry Render. 2005)
2.4.2 Indeks Kapabilitas Proses (


Indeks kapabilitas proses mengukur selisih antara dimensi yang diinginkan
dan dimensi sebenarnya dari barang atau jasa yang dihasilkan. Rumusnya

] (2.6)
di mana:
rata-rata
standar deviasi dari populasi proses
Nilai

senilai 1,0 atau lebih dari 1,0 baik untuk batas kendali atas dan
batas kendali bawah menunjukkan variasi proses berada dalam batas kendali atas
dan bawah. Semakin besar nilai

maka prosesnya semakin terarah pada


sasarannya dengan berkurangnya cacat. Apabila

kurang dari 1,0, prosesnya


tidak akan memproduksi barang dalam toleransi yang telah ditentukan.
Dibutuhkan angka

diatas 1,0 agar prosesnya tetap terpusat dan tidak bergeser.


(Jay, Heizer dan Barry Render. 2005)
2.5 Diagram Pareto
Diagram Pareto merupakan metode standar dalam pengendalian mutu
untuk mendapatkan hasil maksimal atau memilih masalah-masalah utama dan lagi
pula dianggap sebagai suatu pendekatan sederhana yang dapat dipahami oleh
pekerja tidak terlalu terdidik, serta sebagai perangkat pemecahan dalam bidang
yang cukup kompleks. Diagram Pareto merupakan suatu gambar yang
mengurutkan klasifikasi data dari kiri ke kanan menurut urutan ranking tertinggi
hingga terendah. Hal ini dapat membantu menemukan permasalahan yang
terpenting untuk segera diselesaikan (ranking tertinggi) sampai dengan yang tidak
harus segera diselesaikan (ranking terendah). Selain itu, Diagram Pareto juga
dapat digunakan untuk membandingkan kondisi proses, misalnya ketidaksesuaian
proses, sebelum dan setelah diambil tindakan perbaikan terhadap proses.
Umumnya Diagram Pareto merupakan diagram batang tempat batang
tersebut diurutkan mulai dari yang terbanyak sampai terkecil. Diagram Pareto
7

memiliki banyak aplikasi dalam bisnis dan pekerjaan. Demikian halnya Diagram
Pareto dapat diaplikasikan dalam kontrol kualitas. Ini adalah dasar bagi diagram
Pareto, dan salah satu alat utama yang digunakan dalam pengendalian kualitas
total dan Six Sigma. (Jay, Heizer dan Barry Render. 2005)


8

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Sumber Data
Data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data primer yang diperoleh
langsung melalui inspeksi koran. Koran yang diinspeksi adalah Kompas, Jawa
Pos, dan Surya. Data yang diambil meliputi ada tidaknya cacat yang terjadi pada
ketiga koran tersebut. Data hasil inspeksi koran dibagi menjadi 2 jenis, yaitu
inspeksi penulisan berita dan kliping. Data diambil dengan pencatatan langsung
dan menggunakan check list. Data diambil dari koran pada minggu ketiga dan
minggu keempat bulan April 2014.
3.2 Variabel Penelitian
Data yang diambil merupakan data inspeksi pada 3 inspeksi koran. Data
hasil inspeksi koran dibagi menjadi 2 jenis, yaitu inspeksi penulisan berita dan
kliping. Pada masing-masing inspeksi dibagi beberapa subgrup berdasarkan
halaman artikel.
Inspeksi penulisan berita pada Kompas, Jawa Pos, dan Surya mengacu pada
4 kriteria kecacatan. Kriteria kecacatan tersebut adalah
a. Salah penulisan kata (C1)
b. Antar kata tidak terdapat blank (C2)
c. Pemenggalan kata tidak tepat (C3)
d. Pengulangan kata yang sama (C4)
Inspeksi kliping pada Kompas, Jawa Pos, dan Surya mengacu pada 3 kriteria
kecacatan. Kriteria kecacatan tersebut adalah
a. Hasil guntingan tidak rapi (C5)
b. Hasil tempelan tidak rapi (C6)
c. Tidak ada kode pada setiap artikel (C7)
d. Hasil kliping kusut dan penulisan kode salah (C8)
3.3 Langkah Analisis
Dalam menganalisis data pada penelitian inspeksi koran, digunakan
langkah-langkah berikut :
9

1. Memulai mengumpulkan data dengan membuat kliping artikel koran
Kompas, Jawa Pos, dan Surya
2. Mengelompokkan hasil kliping berdasarkan sub grup yang telah ditentukan,
yaitu mengacu pada hari terbit koran Kompas, Jawa Pos, dan Surya
3. Melakukan inspeksi terhadap hasil kliping koran Kompas, Jawa Pos, dan
Surya. Inspeksi meliputi kecacatan berdasarkan penulisan berita dan kliping.
4. Menguji keacakan data inspeksi berdasarkan penulisan berita dan hasil
kliping dengan Run Test
5. Menguji distribusi Poisson data kecacatan inspeksi berdasarkan penulisan
berita dan hasil kliping dengan Poisson Test
6. Menganalisis kontrol kecacatan inspeksi koran berdasarkan penulisan berita
dan hasil kliping dengan peta kendali u
7. Menguji kapabilitas masing-masing inpeksi koran berdasarkan penulisan
berita
8. Membuat diagram pareto dari data kecacatan surat kabar
9. Mengambil kesimpulan
10

3.4 Diagram Alir (Flow Chart) Penelitian
























Gambar 3.1. Diagram Alir Pelaksanaan Praktikum
Pemeriksaan dan pencacatan data sesuai kriteria
Data kecacatan
inspeksi ketiga
koran
Diagram Pareto
Uji
Asumsi
Peta
Kendali
Kapabilitas proses
terkendali
tidak
diasumsikan
memenuhi memenuhi
Kesimpulan
11

BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Uji Keacakan Data Kecacatan
Uji keacakan data kecacatan berdasarkan penulisan berita dan hasil kliping
masing-masing dibagi menjadi enam tahap, yaitu uji pada koran Kompas, Jawa
Pos, dan Surya pada masing-masing minggu. Uji keacakan data menggunakan
Run Test.
4.1.1 Uji Keacakan Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita pada
Minggu Ketiga
Sebelum melakukan analisis dengan membuat peta kendali U dan
kapabilitas proses, data kecacatan penulisan berita harus diuji terlebih dahulu. Uji
pertama adalah uji keacakan data. Hipotesis awal adalah data kecacatan
berdasarkan penulisan berita diambil secara random, sedangkan hipotesis
tandingannya adalah data kecacatan berdasarkan penulisan berita tidak diambil
secara random. Berikut ini adalah hasil uji keacakan data pada kecacatan
berdasarkan penulisan berita pada minggu ketiga
Tabel 4.1 Run Test Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita pada Minggu Ketiga

Surat Kabar P-value
Surya 0.628
Kompas 0.157
Jawa Pos 0.225
Pada tabel 4.1 dapat dilihat p-value pengujian data kecacatan penulisan
berita untuk Surya, Kompas dan Jawa Pos berturut-turut adalah 0.628, 0.157 dan
0.225. P-value dari ketiganya tersebut lebih besar dari , maka kesimpulan dari
pengujian ini adalah gagal tolak H0. Jadi, data defects pada kecacatan
berdasarkan penulisan berita pada masing-masing surat kabar pada minggu ketiga
diambil secara random.
4.1.2 Uji Keacakan Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita pada
Minggu Keempat
Hipotesis awal dari uji keacakan data kecacatan berdasarkan penulisan
berita koran Jawa Pos adalah data kecacatan berdasarkan penulisan berita diambil
secara random, sedangkan hipotesis tandingannya adalah data kecacatan
12

berdasarkan penulisan berita tidak diambil secara random. Berikut ini adalah hasil
uji keacakan data pada kecacatan berdasarkan penulisan berita minggu keempat.

Tabel 4.2 Run Test Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita pada Minggu Keempat

Surat Kabar P-value
Surya 0.225
Kompas 0.628
Jawa Pos 0,224
Pada tabel 4.2 dapat dilihat p-value pengujian data kecacatan penulisan
berita untuk Surya, Kompas dan Jawa Pos berturut-turut adalah 0.225, 0.628 dan
0.224. P-value dari ketiganya tersebut lebih besar dari , maka kesimpulan dari
pengujian ini adalah gagal tolak H0. Jadi, data defects pada kecacatan
berdasarkan penulisan berita pada masing-masing surat kabar pada minggu
keempat diambil secara random.
4.1.3 Uji Keacakan Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping pada Minggu
Ketiga
Sebelum melakukan analisis dengan membuat peta kendali U dan
kapabilitas proses, data kecacatan hasil kliping harus diuji terlebih dahulu. Uji
pertama adalah uji keacakan data. Hipotesis awal adalah data kecacatan
berdasarkan hasil kliping diambil secara random, sedangkan hipotesis
tandingannya adalah data kecacatan berdasarkan hasil kliping tidak diambil secara
random. Berikut ini adalah hasil uji keacakan data pada kecacatan berdasarkan
hasil kliping minggu ketiga
Tabel 4.3 Run Test Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping pada Minggu Ketiga

Surat Kabar P-value
Surya 0.224
Kompas 1.000
Jawa Pos 0.716
Pada tabel 4.3 dapat dilihat p-value pengujian data kecacatan penulisan
berita untuk Surya, Kompas dan Jawa Pos berturut-turut adalah 0.224, 1.000 dan
0.716. P-value dari ketiganya tersebut lebih besar dari , maka kesimpulan dari
pengujian ini adalah gagal tolak H0. Jadi, data defects pada kecacatan
berdasarkan hasil kliping pada masing-masing surat kabar pada minggu ketiga
diambil secara random.
13

4.1.4 Uji Keacakan Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping pada
Minggu Keempat
Hipotesis awal dari uji keacakan data kecacatan berdasarkan hasil kliping
koran Jawa Pos adalah data kecacatan berdasarkan hasil kliping diambil secara
random, sedangkan hipotesis tandingannya adalah data kecacatan berdasarkan
hasil kliping tidak diambil secara random.
Tabel 4.4 Run Test Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping pada Minggu Keempat

Surat Kabar P-value
Surya 0.182
Kompas 0.716
Jawa Pos 0,879
Pada tabel 4.4 dapat dilihat p-value pengujian data kecacatan penulisan
berita untuk Surya, Kompas dan Jawa Pos berturut-turut adalah 0.182, 0.716 dan
0.879. P-value dari ketiganya tersebut lebih besar dari , maka kesimpulan dari
pengujian ini adalah gagal tolak H0. Jadi data defects pada kecacatan berdasarkan
hasil kliping pada masing-masing surat kabar pada minggu keempat diambil
secara random.
4.2 Uji Poisson Data Kecacatan
Uji distribusi Poisson data kecacatan berdasarkan penulisan berita dan hasil
kliping masing-masing dibagi menjadi enam tahap, yaitu uji pada koran Kompas,
Jawa Pos, dan Surya terbitan minggu ketiga dan minggu keempat. Uji keacakan
data menggunakan Kolmogorov Smirnov Test.
4.2.1 Uji Poisson Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita pada
Minggu Ketiga
Uji ini merupakan uji untuk mengetahui apakah data kecacatan penulisan
berita koran Kompas sudah berdistribusi Poisson atau belum. Hipotesis awal
adalah data kecacatan berdasarkan penulisan berita pada minggu ketiga mengikuti
distribusi Poisson, sedangkan hipotesis tandingannya adalah data tersebut tidak
mengikuti distribusi Poisson. Berikut ini merupakan pengujian distribusi Poisson:

Tabel 4.5 Kolmogorov Smirnov Test Berdasarkan Penulisan Berita pada Minggu Ketiga

Surat Kabar P-value
Surya 0.985
Kompas 0.292
Jawa Pos 0.531
14

Pada tabel 4.5 dapat dilihat bahwa berdasarkan hasil One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test diperoleh p-value sebesar 0.985 untuk Surya, 0.292
untuk Kompas dan 0.531 untuk Jawa Pos dengan = 0.05. Dapat dilihat bahwa
nilai P-value > 0.05, maka keputusannya adalah terima H0, sehingga dapat
disimpulkan bahwa data defects berdasarkan penulisan berita pada masing-masing
surat kabar pada minggu ketiga berdistribusi Poisson.
4.2.2 Uji Poisson Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita pada
Minggu Keempat
Uji ini merupakan uji untuk mengetahui apakah data kecacatan penulisan
berita koran Jawa Pos sudah berdistribusi Poisson atau belum. Hipotesis awal
adalah data kecacatan berdasarkan penulisan berita pada koran Jawa Pos
mengikuti distribusi Poisson, sedangkan hipotesis tandingannya adalah data
tersebut tidak mengikuti distribusi Poisson. Berikut ini merupakan pengujian
distribusi Poisson:

Tabel 4.6 Kolmogorov Smirnov Test Berdasarkan Penulisan Berita pada Minggu Keempat
Surat Kabar P-value
Surya 0.592
Kompas 0.997
Jawa Pos 0.998
Pada tabel 4.5 dapat dilihat bahwa berdasarkan hasil One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test diperoleh p-value sebesar 0.592 untuk Surya, 0.997
untuk Kompas dan 0.998 untuk Jawa Pos dengan = 0.05. Dapat dilihat bahwa
nilai P-value > 0.05, maka keputusannya adalah terima H0, sehingga dapat
disimpulkan bahwa data defects berdasarkan penulisan berita pada masing-masing
surat kabar pada minggu keempat berdistribusi Poisson.
4.2.3 Uji Poisson Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping pada Minggu
Ketiga
Uji ini merupakan uji untuk mengetahui apakah data kecacatan hasil kliping
koran Kompas sudah berdistribusi Poisson atau belum. Hipotesis awal adalah data
kecacatan berdasarkan hasil kliping pada koran Kompas mengikuti distribusi
Poisson, sedangkan hipotesis tandingannya adalah data tersebut tidak mengikuti
distribusi Poisson. Berikut ini merupakan pengujian distribusi Poisson:



15

Tabel 4.7 Kolmogorov Smirnov Test Berdasarkan Hasil Kliping pada Minggu Ketiga

Surat Kabar P-value
Surya 0.325
Kompas 0.402
Jawa Pos 1.000
Pada tabel 4.5 dapat dilihat bahwa berdasarkan hasil One-Sample Kolmogorov-
Smirnov Test diperoleh p-value sebesar 0.325 untuk Surya, 0.402 untuk Kompas
dan 1.000 untuk Jawa Pos dengan = 0.05. Dapat dilihat bahwa nilai P-value >
0.05, maka keputusannya adalah terima H0, sehingga dapat disimpulkan bahwa
data defects berdasarkan hasil kliping pada masing-masing surat kabar pada
minggu ketiga berdistribusi Poisson.
4.2.4 Uji Poisson Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping pada Minggu
Keempat
Uji ini merupakan uji untuk mengetahui apakah data kecacatan hasil kliping
koran Jawa Pos sudah berdistribusi Poisson atau belum. Hipotesis awal adalah
data kecacatan berdasarkan hasil kliping pada koran Jawa Pos mengikuti distribusi
Poisson, sedangkan hipotesis tandingannya adalah data tersebut tidak mengikuti
distribusi Poisson. Berikut ini merupakan pengujian distribusi Poisson:

Tabel 4.8 Kolmogorov Smirnov Test Berdasarkan Hasil Kliping pada Minggu Keempat

Surat Kabar P-value
Surya 0.998
Kompas 1.000
Jawa Pos 0.961
Pada tabel 4.5 dapat dilihat bahwa berdasarkan hasil One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test diperoleh p-value sebesar 0.998 untuk Surya, 1.000
untuk Kompas dan 0.961 untuk Jawa Pos dengan = 0.05. Dapat dilihat bahwa
nilai P-value > 0.05, maka keputusannya adalah terima H0, sehingga dapat
disimpulkan bahwa data defects berdasarkan penulisan berita pada masing-masing
surat kabar pada minggu keempat berdistribusi Poisson.
4.3 Analisis dengan Peta Kendali U untuk Data Kecacatan
Berdasarkan pada analisis sebelumnya telah diketahui bahwa data
kecacatan penulisan berita merupakan data random dan memenuhi asumsi
Poisson. Setelah kedua asumsi dipenuhi, akan dilanjutkan analisis berikutnya,
yaitu analisis dengan peta kendali U. Analisis dengan peta kendali U data
16

kecacatan berdasarkan penulisan berita dibagi menjadi tiga tahap, yaitu uji pada
koran Surya, Kompas, dan Jawa Pos.
4.3.1 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita
pada Koran Surya
Peta kendali U digunakan untuk mengetahui apakah banyaknya cacat dari
masing-masing jenis cacatnya masih dalam batas kontrol atau tidak. Dimana
untuk yang pertama akan diuji kecacatan penulisan berita pada koran Surya.
Berikut ini adalah hasil analisis data kecacatan penulisan berita menggunakan peta
kendali U :

Gambar 4.1 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita pada Koran
Surya
Berdasarkan gambar peta kendali U kecacatan penulisan berita tersebut
terlihat bahwa pada minggu keempat ada nilai yang out of control pada hari
kelima sehingga nilai tersebut perlu dieliminasi dan dibuat peta kendali yang baru.
14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=2,83
UCL=7,88
LCL=0
3 4
1
Tests performed with unequal sample sizes
17


Gambar 4.2 Peta Kendali U yang Baru untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita
pada Koran Surya
Setelah data pada minggu keempat hari kelima dieliminasi ternyata peta
kendali pada minggu keempat masih belum terkendali karena ada titik yang out of
control yakni pada hari keempat, sehingga perlu dibuat peta kendali yang baru
lagi dengan mengeliminasi data yang out of control tersebut.

Gambar 4.3 Peta Kendali U yang Terkendali untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita
pada Koran Surya
Setelah data pada minggu keempat hari keempat dieliminasi ternyata peta
kendali pada minggu keempat sudah terkendali. Dapat dilihat pada gambar 4.3
13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
7
6
5
4
3
2
1
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=2,273
UCL=6,795
LCL=0
3 4
1
Tests performed with unequal sample sizes
12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
5
4
3
2
1
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=1,444
UCL=5,050
LCL=0
3 4
Tests performed with unequal sample sizes
18

bahwa titik-titik pengamatan pada minggu ketiga dan keempat sudah berada di
dalam batas kendali dan menyebar secara acak sehingga dapat dikatakan bahwa
proses sudah terkendali. Namun, rata-rata kecacatan pada minggu keempat lebih
besar daripada minggu ketiga, hal ini mengindikasikan bahwa tidak terjadi
continuous improvement.
4.3.2 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita
pada Koran Kompas
Berikut ini adalah hasil analisis data kecacatan penulisan berita pada koran
Kompas menggunakan peta kendali U :

Gambar 4.4 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita pada Koran
Kompas
Berdasarkan gambar peta kendali U kecacatan penulisan berita tersebut
terlihat bahwa ada nilai yang out of control pada minggu ketiga hari ketiga dan
keempat serta pada minggu keempat hari pertama sehingga nilai tersebut perlu
dieliminasi dan dibuat peta kendali yang baru.

13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=1,4
UCL=3,910
LCL=0
3 4
1
1
1
Tests performed with unequal sample sizes
19


Gambar 4.5 Peta Kendali U yang Baru untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita
pada Koran Kompas
Setelah data yang out of control dieliminasi, ternyata peta U pada minggu
ketiga masih belum terkendali karena data pada hari kedua out of control sehingga
perlu dibuat peta kendali yang baru lagi dengan mengeliminasi data hari kedua
pada minggu ketiga tersebut.

Gambar 4.6 Peta Kendali U yang Terkendali untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita
pada Koran Kompas
Setelah data pada minggu ketiga hari kedua dieliminasi, peta U pada
minggu ketiga sudah terkendali. Dapat dilihat pada gambar 4.6 bahwa titik-titik
10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
6
5
4
3
2
1
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=1
UCL=3,121
LCL=0
3 4
1
Tests performed with unequal sample sizes
9 8 7 6 5 4 3 2 1
7
6
5
4
3
2
1
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=1
UCL=3,121
LCL=0
3 4
Tests performed with unequal sample sizes
20

pengamatan berada di dalam batas kendali dan menyebar secara acak sehingga
dapat dikatakan bahwa proses sudah terkendali. Rata-rata kecacatn pada minggu
keempat lebih kecil daripada minggu ketiga, hal ini mengindikasikan bahwa telah
terjadi continuous improvement.
4.3.3 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita
pada Koran Jawa Pos
Berikut ini adalah hasil analisis data kecacatan penulisan berita
menggunakan peta kendali U :

Gambar 4.7 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita pada Koran
Jawa Pos
Berdasarkan gambar peta kendali U kecacatan penulisan berita tersebut
terlihat bahwa ada nilai yang out of control pada minggu ketiga hari kedua dan
kelima sehingga nilai tersebut perlu dieliminasi dan dibuat peta kendali yang baru.
14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=2,03
UCL=3,77
LCL=0,28
3 4
1
1
Tests performed with unequal sample sizes
21


Gambar 4.8 Peta Kendali U yang Terkendali untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan Berita
pada Koran Jawa Pos
Setelah data pada hari kedua dan kelima dieliminasi maka dapat dilihat
bahwa semua titik sudah berada di dalam batas kendali dan titik-titiknya
menyebar secara random, hal ini menunjukkan bahwa proses telah terkendali.
Rata-rata kecacatan pada minggu keempat lebih kecil daripada minggu ketiga, hal
ini mengindikasikan bahwa terjadi continuous improvement.
4.3.4 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping
pada Koran Surya
Berikut ini adalah hasil analisis data kecacatan hasil kliping pada koran
Surya menggunakan peta kendali U :
12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
12
10
8
6
4
2
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=2,03
UCL=3,77
LCL=0,28
3 4
Tests performed with unequal sample sizes
22


Gambar 4.9 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping pada Koran Surya
Berdasarkan gambar 4.9 dapat dilihat bahwa semua titik sudah berada di dalam
batas kendali dan menyebar secara random sehingga dapat disimpulkan bahwa
proses sudah terkendali. Namun, rata-rata kecacatan pada minggu keempat lebih
besar daripada minggu ketiga, hal ini mengindikasikan bahwa tidak terjadi
continuous improvement.
4.3.5 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping
pada Koran Kompas
Berikut ini adalah hasil analisis data kecacatan hasil kliping pada koran
Kompas menggunakan peta kendali U :
14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
7
6
5
4
3
2
1
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=2,167
UCL=6,583
LCL=0
3 4
Tests performed with unequal sample sizes
23


Gambar 4.10 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping pada Koran
Kompas
Berdasarkan gambar 4.10 dapat dilihat bahwa semua titik sudah berada di dalam
batas kendali dan menyebar secara random sehingga dapat disimpulkan bahwa
proses sudah terkendali. Rata-rata kecacatan pada minggu keempat lebih kecil
daripada minggu ketiga, hal ini mengindikasikan adanya continuous improvement.
4.3.6 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping
pada Koran Jawa Pos
Berikut ini adalah hasil analisis data kecacatan hasil kliping pada koran
Jawa Pos menggunakan peta kendali U :

13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
6
5
4
3
2
1
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=1,7
UCL=4,466
LCL=0
3 4
Tests performed with unequal sample sizes
24


Gambar 4.11 Peta Kendali U untuk Data Kecacatan Berdasarkan Hasil Kliping pada Koran Jawa
Pos
Berdasarkan gambar 4.11 dapat dilihat bahwa semua titik sudah berada di dalam
batas kendali dan menyebar secara random sehingga dapat disimpulkan bahwa
proses sudah terkendali. Namun, rata-rata kecacatan pada minggu keempat lebih
besar daripada minggu ketiga, hal ini mengindikasikan bahwa tidak terjadi
continuous improvement.
4.4 Kapabilitas Proses untuk Data Kecacatan Penulisan Berita
Analisis kapabilitas proses dapat dilakukan setelah peta U terkendali. Dalam
kasus kecacatan penulisan berita dan hasil kliping, analisis kapabilitas proses
menggunakan dasar distribusi Poisson dengan spesifikasi jumlah cacat maksimum
yang diinginkan sebanyak 5.
4.4.1 Kapabilitas Proses untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan
Berita pada Koran Surya
Kapabilitas proses digunakan untuk mengetahui apakah proses kapabel
atau tidak. Berikut ini adalah hasil analisis data kecacatan penulisan berita pada
koran Kompas menggunakan kapabilitas proses :

14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
5
4
3
2
1
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=2,429
UCL=4,337
LCL=0,520
3 4
Tests performed with unequal sample sizes
25


Gambar 4.12 Kapabilitas Proses Penulisan Berita pada Koran Surya
Dari gambar 4.12 dapat dilihat bahwa nilai mean DPU 1.5313. Nilai ini
lebih kecil dari target yang ditetapkan yaitu 5. Nilai tersebut menunjukkan bahwa
proses baik. Dari gambar histogram terlihat bahwa batang banyak yang disebelah
kiri nilai target sehingga bisa dikatakan bahwa proses sudah kapabel.
4.4.2 Kapabilitas Proses Untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan
Berita pada Koran Kompas
Berikut ini adalah hasil analisis data kecacatan penulisan berita pada koran
Kompas menggunakan kapabilitas proses :

Gambar 4.13 Kapabilitas Proses Penulisan Berita pada Koran Kompas
12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
6
4
2
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=1,531
UCL=5,244
LCL=0
12 10 8 6 4 2
2,0
1,5
1,0
0,5
Sample
D
P
U
Mean DPU: 1,5313
Lower CI: 1,1328
Upper CI: 2,0244
Min DPU: 0,3333
Max DPU: 5,0000
Targ DPU: 5,0000
(95,0% confidence)
Summary Stats
6 4 2
4,5
3,0
1,5
0,0
Sample Size
D
P
U
5 4 3 2 1 0
4,8
3,6
2,4
1,2
0,0
DPU
F
r
e
q
u
e
n
c
y
Tar
U Chart
Tests performed with unequal sample sizes
Cumulative DPU
Defect Rate
Histogram
9 8 7 6 5 4 3 2 1
7,5
5,0
2,5
0,0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=2,731
UCL=6,236
LCL=0
8 6 4 2
3,6
3,2
2,8
2,4
2,0
Sample
D
P
U
Mean DPU: 2,7308
Lower CI: 2,1328
Upper CI: 3,4445
Min DPU: 0,0000
Max DPU: 4,7500
Targ DPU: 5,0000
(95,0% confidence)
Summary Stats
10 5 0
4,5
3,0
1,5
0,0
Sample Size
D
P
U
5 4 3 2 1 0
3
2
1
0
DPU
F
r
e
q
u
e
n
c
y
Tar
U Chart
Tests performed with unequal sample sizes
Cumulative DPU
Defect Rate
Histogram
26

Dari gambar 4.13 dapat dilihat bahwa nilai mean DPU 2.7308. Nilai ini lebih kecil
dari target yang ditetapkan yaitu 5. Nilai tersebut menunjukkan bahwa proses
baik. Dari gambar histogram terlihat bahwa batang banyak yang disebelah kiri
nilai target sehingga bisa dikatakan bahwa proses sudah kapabel.
4.4.3 Kapabilitas Proses Untuk Data Kecacatan Berdasarkan Penulisan
Berita pada Koran Jawa Pos
Berikut ini adalah hasil analisis data kecacatan penulisan berita pada koran
Jawa Pos menggunakan kapabilitas proses :

Gambar 4.14 Kapabilitas Proses Penulisan Berita pada Koran Jawa Pos
Dari gambar 4.14 dapat dilihat bahwa nilai mean DPU 5.0143. Nilai ini lebih
besar dari target yang ditetapkan yaitu 5. Nilai tersebut menunjukkan bahwa
proses belum baik. Dari gambar histogram terlihat bahwa terdapat beberapa
batang yang disebelah kanan nilai target sehingga bisa dikatakan bahwa proses
belum kapabel.
4.5 Diagram Pareto
Diagram pareto adalah grafik batang yang menunjukkan masalah
berdasarkan frekuensi kecacatan dari yang terbesar hingga terkecil. Pada
praktikum ini akan dibuat diagram pareto dari jenis cacat pada koran Surya,
Kompas, dan Jawa Pos.
4.5.1 Diagram Pareto untuk Data Kecacatan pada Koran Surya
Berikut ini adalah diagram pareto untuk data kecacatan pada koran Surya.
12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
10
5
0
Sample
S
a
m
p
l
e

C
o
u
n
t

P
e
r

U
n
i
t
_
U=5,01
UCL=7,76
LCL=2,27
12 10 8 6 4 2
8
7
6
5
4
Sample
D
P
U
Mean DPU: 5,0143
Lower CI: 4,5034
Upper CI: 5,5673
Min DPU: 0,7500
Max DPU: 9,8333
Targ DPU: 5,0000
(95,0% confidence)
Summary Stats
8 6 4
10
5
0
Sample Size
D
P
U
10 8 6 4 2 0
4
3
2
1
0
DPU
F
r
e
q
u
e
n
c
y
Tar
1
1
1 1
1
1
1
U Chart
Tests performed with unequal sample sizes
Cumulative DPU
Defect Rate
Histogram
27



Gambar 4.15 Diagram Pareto untuk Koran Surya
Berdasarkan gambar 4.15 dapat dilihat bahwa pada koran Surya jenis cacat
terbesar adalah c1 yaitu salah penulisan kata dengan frekuensi sebesar 38.
4.5.2 Diagram Pareto untuk Data Kecacatan pada Koran Kompas
Berikut ini adalah diagram pareto untuk data kecacatan pada koran Kompas.

Gambar 4.16 Diagram Pareto untuk Koran Kompas
Berdasarkan gambar 4.16 dapat dilihat bahwa pada koran Kompas jenis cacat
terbesar adalah c1 yaitu salah penulisan kata dengan frekuensi sebesar 72.

S 38 28 20 17 10 2 2 0
Percent 32,5 23,9 17,1 14,5 8,5 1,7 1,7 0,0
Cum % 32,5 56,4 73,5 88,0 96,6 98,3 100,0 100,0
C37 c4 c7 c2 c8 c6 c3 c5 c1
120
100
80
60
40
20
0
100
80
60
40
20
0
P
e
r
c
e
n
t
K 72 35 34 28 20 2 2 1
Percent 37,1 18,0 17,5 14,4 10,3 1,0 1,0 0,5
Cum % 37,1 55,2 72,7 87,1 97,4 98,5 99,5 100,0
C37 c4 c7 c2 c3 c5 c8 c6 c1
200
150
100
50
0
100
80
60
40
20
0
P
e
r
c
e
n
t
28

4.5.3 Diagram Pareto untuk Data Kecacatan pada Koran Jawa Pos
Berikut ini adalah diagram pareto untuk data kecacatan pada koran Jawa
Pos.

Gambar 4.17 Diagram Pareto untuk Koran Jawa Pos
Berdasarkan gambar 4.17 dapat dilihat bahwa pada koran Kompas jenis cacat
terbesar adalah c3 yaitu pemenggalan kata tidak tepat dengan frekuensi sebesar
250.














JP 250 140 71 61 34 28 19 7
Percent 41,0 23,0 11,6 10,0 5,6 4,6 3,1 1,1
Cum % 41,0 63,9 75,6 85,6 91,1 95,7 98,9 100,0
C37 c4 c7 c5 c6 c8 c1 c2 c3
600
500
400
300
200
100
0
100
80
60
40
20
0
P
e
r
c
e
n
t
29

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian dan analisis pada bab IV didapatkan kesimpulan
sebagai berikut :
1. Pengujian keacakan data kecacatan berdasarkan penulisan berita dan hasil
kliping pada koran Kompas, Jawa Pos, dan Surya menunjukkan bahwa semua
data diambil secara acak.
2. Pengujian distribusi Poisson data kecacatan berdasarkan penulisan berita dan
hasil kliping pada koran Kompas, Jawa Pos, dan Surya menunjukkan bahwa
data mengikuti distribusi Poisson.
3. Hasil analisis dengan peta kendali U menunjukkan bahwa data kecacatan
berdasarkan penulisan berita pada Koran Surya dan Kompas terkendali setelah
dua kali mengeliminasi data yang out of control. Namun data kecacatan
berdasarkan penulisan berita pada Jawa Pos menunjukkan terkendali setelah 1
kali menghilangkan data. Untuk data kecacatan berdasarkan hasil kliping pada
Koran Surya, Kompas, dan Jawa Pos terkendali.
4. Hasil analisis kapabilitas proses menunjukkan bahwa data kecacatan
berdasarkan penulisan berita pada Koran Surya dan Kompas sudah kapabel
karena nilai mean DPU lebih kecil dari nilai target, sedangkan pada koran
Jawa Pos belum kapabel karena nilai mean DPU lebih besar dari nilai target.
5. Hasil analisis diagram pareto menunjukkan bahwa pada koran Surya dan Jawa
Pos jenis cacat terbesar adalah c1 yaitu kesalahan penulisan kata, sedangkan
pada koran Jawa Pos jenis cacat terbesar adalah c3 yaitu pemenggalan kata
tidak tepat.
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan kepada pihak perusahaan media cetak adalah
sebaiknya penulis berita lebih teliti lagi dalam mengetik berita dan editor lebih
teliti lagi mengoreksi berita yang akan dicetak. Untuk pihak yang menginspeksi
kliping sebaiknya lebih banyak mempelajari EYD dan teliti.

30

DAFTAR PUSTAKA
Daniel, Wayne W. 1989. Statistik Nonparametrik Terapan. Terjemahan Alex Tri
Kantjono W. Jakarta: PT Gramedia
Jay Heizer dan Barry Render. 2005. Operation Management , 7th edition .
( Manajemen Operasi edisi 7, Buku 1 ) Penerbit Salemba Empat. Jakarta.
Prawirosentono, Suyadi. 2004. Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta: PT Bumi
Aksara

























31

LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Pengamatan Kecacatan pada Koran
m
i
n
g
g
u

s
u
r
a
t

k
a
b
a
r

h
a
r
i

n

c
1

c
2

c
3

c
4

c
5

c
6

c
7

c
8

c
_
a
r
t
i
k
e
l

c
_
k
l
i
p
i
n
g

u
_
a
r
t
i
k
e
l

u
_
k
l
i
p
i
n
g

3
JP
1 9 4 6 41 1 1 2 0 9 52 12 5,78 1,33
2 5 1 2 15 0 1 4 0 5 18 10 3,60 2,00
3 7 5 0 61 0 1 0 0 7 66 8 9,43 1,14
4 9 8 24 43 0 2 0 0 9 75 11 8,33 1,22
5 6 9 63 27 0 0 0 0 6 99 6 16,50 1,00
6 6 2 22 35 0 0 0 0 6 59 6 9,83 1,00
7 4 1 9 18 0 0 0 0 4 28 4 7,00 1,00
S
1 3 2 0 0 0 2 1 0 0 2 3 0,67 1,00
2 3 3 2 1 0 2 1 0 0 6 3 2,00 1,00
3 3 0 0 1 0 1 5 0 0 1 6 0,33 2,00
4 2 0 0 5 0 1 0 0 0 5 1 2,50 0,50
5 6 5 0 5 0 6 1 0 6 10 13 1,67 2,17
6 2 4 0 3 0 2 0 0 1 7 3 3,50 1,50
7 4 0 0 5 0 2 0 0 0 5 2 1,25 0,50
K
1 9 19 0 5 1 6 6 0 10 25 22 2,78 2,44
2 5 1 0 2 0 0 3 0 6 3 9 0,60 1,80
3 2 6 0 10 0 3 2 0 2 16 7 8,00 3,50
4 7 0 0 0 0 5 8 0 7 0 20 0,00 2,86
6 4 16 1 2 0 4 5 0 5 19 14 4,75 3,50
7 4 17 0 1 0 1 4 0 4 18 9 4,50 2,25
4
JP
1 4 12 0 2 0 3 4 3 2 14 12 3,50 3,00
2 7 12 5 0 1 5 6 4 3 18 18 2,57 2,57
3 3 5 2 2 0 3 3 1 2 9 9 3,00 3,00
4 5 3 3 1 2 2 5 2 3 9 12 1,80 2,40
5 6 5 2 1 2 3 3 3 2 10 11 1,67 1,83
6 4 1 0 2 0 3 4 2 1 3 10 0,75 2,50
7 6 3 2 2 1 4 3 4 2 8 13 1,33 2,17
S
1 3 3 0 0 0 3 2 1 0 3 6 1,00 2,00
2 2 2 0 0 0 2 1 0 1 2 4 1,00 2,00
3 2 1 0 0 0 2 2 1 1 1 6 0,50 3,00
4 2 9 0 3 0 2 1 0 1 12 4 6,00 2,00
5 1 4 0 5 0 1 1 0 0 9 2 9,00 2,00
6 1 3 0 2 0 1 1 0 0 5 2 5,00 2,00
32

7 1 2 0 0 0 1 1 0 0 2 2 2,00 2,00
K
1 1 5 0 0 0 0 1 0 0 5 1 5,00 1,00
2 1 2 0 0 0 1 1 0 0 2 2 2,00 2,00
3 2 0 0 0 0 2 2 0 0 0 4 0,00 2,00
4 2 2 1 0 0 2 1 1 0 3 3 1,50 1,50
5 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1,00 1,00
6 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 2 0,00 2,00
7 2 3 0 0 0 2 1 1 0 3 4 1,50 2,00