Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN STUDI KASUS STASE OBSTETRI

RUMAH SAKIT ISLAM UNISMA



UPAYA PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA TERHADAP Ny.S
DALAM MENANGANI PERMASALAHAN
Cystoma ovarii

Disusun untuk Memenuhi Tugas Clerkship









Oleh:
Indri Ari Ningtyas, S.Ked. (209.121.0034)

Pembimbing:
dr. V.H Pratomo


KEPANITERAAN KLINIK MADYA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2013
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta
inayah-Nya kepada penyusun sehingga Laporan Studi Kasus Stase Bedah yang berjudul
Upaya Pendekatan Kedokteran Keluarga terhadap Ny.S dalam Menangani Permasalahan
Cystoma ovarii ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana yang diharapkan.
Tujuan penyusunan laporan ini adalah sebagai ujian kasus guna memenuhi tugas
Clerkship serta melatih keterampilan klinis dan komunikasi dalam menangani kasus
kedokteran keluarga secara holistik dan komprehensif.
Penyusun menyadari bahwa laporan makalah ini belumlah sempurna. Untuk itu,
saran dan kritik dari para dosen dan pembaca sangat diharapkan demi perbaikan laporan ini.
Atas saran dan kritik dosen dan pembaca, penyusun ucapkan terima kasih.
Semoga Laporan Studi Kasus ini bermanfaat bagi dosen, penyusun, pembaca serta
rekan-rekan lain yang membutuhkan demi kemajuan ilmu pengetahuan khususnya di bidang
kedokteran.



Penyusun

Indri Ari Ningtyas, S.Ked.
2

DAFTAR ISI
1. Judul
2. Kata Pengantar ................................................................................................. 1
3. Daftar Isi .......................................................................................................... 2
4. BAB I : Pendahuluan
Latar Belakang ........................................................................................... 3
Tujuan ........................................................................................................ 3
Manfaat ...................................................................................................... 3
5. BAB II : Laporan Kasus
Identitas Penderita ...................................................................................... 4
Anamnesa ................................................................................................... 4
Anamnesa Sistem ....................................................................................... 6
Pemeriksaan Fisik ...................................................................................... 6
Pemeriksaan Penunjang ............................................................................. 8
Resume ....................................................................................................... 8
Diagnosis Holistik ...................................................................................... 9
Penatalaksanaan Holistik ........................................................................... 9
Follow Up dan Flow Sheet....................................................................... 13
6. BAB III : Pembahasan Aspek Kedokteran Keluarga
Identifikasi Keluarga ................................................................................ 15
Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan .................... 21
Daftar Masalah ......................................................................................... 21
7. BAB IV : Tinjauan Pustaka
Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Wanita................................... 22
Kista Ovarium .......................................................................................... 24
8. BAB V : Pembahasan
Dasar Penegakan Diagnosa ...................................................................... 33
Dasar Rencana Penatalaksanaan .............................................................. 34
9. BAB VI : Penutup
Kesimpulan Holistik ................................................................................ 37
10. Daftar Pustaka ................................................................................................. 38




3

LAPORAN STUDI KASUS STASE OBGYN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Kista ovarium merupakan 6 kasus kanker terbanyak dan merupakan penyebab
kematian oleh karena keganasan ginekologi. Terdapat variasi yang luas insidensi keganasan
ovarium, rata-rata tertinggi terdapat di Negara Skandinavia (14,5-15,3 per 100.000
populasi).
4

Di Amerika insidensi kista ovarium semua ras adalah 12,5 kasus per 100.000 populasi
pada tahun 1988 sampai 1991. Sebagian besar kista adalah kista fungsional dan jinak. Di
Amerika karsinoma ovarium didiagnosa pada kira-kira 22.000 wanita, kematian sebanyak
16.000 orang.
4

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis mengangkat kasus ini sebagai
pembelajaran dalam upaya pendekatan kedokteran keluarga terhadap penanganan
permasalahan penyakit kista ovarium

1.2 TUJUAN
Tujuan penyusunan laporan ini adalah untuk melatih keterampilan klinis dan komunikasi
dalam menangani kasus kehamilan, khususnya kista ovarium yang terjadi pada Ny.S, dengan
upaya pendekatan kedokteran keluarga yang bersifat holistik dan komprehensif.

1.3 MANFAAT
Manfaat laporan ini adalah sebagai media pembelajaran dan evaluasi dalam penanganan
serta pencegahan kasus kista ovarium serta pencegahan terhadap terjadinya komplikasi yaitu
mengancam keselamatan pasien.







4

LAPORAN STUDI KASUS STASE OBGYN

BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny.S
Usia : 42 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status : Menikah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : S1
Agama : Islam
Alamat : Jl.Simpang Tondano Barat IV/A-307 Malang
Suku : Jawa
Nama suami : Tn.I
Usia suami : 50 tahun
Pekerjaan : Karyawan perusahaan
Tanggal periksa : 23-11-2013
Nomor RM : 15-89-71

2.2 ANAMNESA
1. Keluhan utama : nyeri datang bulan
Harapan : nyeri segera menghilang
Kekhawatiran : nyeri menetap
Riwayat penyakit sekarang : Ny.S datang ke poli kandungan RSI diantar oleh
suaminya dengan keluhan nyeri pada perut bawah sejak 2 hari yang lalu. Ny.S mengatakan
bahwa kemarin dirinya telah menstruasi, namun hanya muncul bercak cokelat saja. Ny.S
juga mengeluhkan nyeri setiap berhubungan dengan suami. Nyeri datang bulan juga sering
dirasakan sebelum dan sesudah menstruasi.Ny.S juga merasakan mual.
2. Riwayat menstruasi: pasien menstruasi pertama kali saat usia 15tahun. Siklus menstruasi
28 hari, namun tidak teratur setiap bulan. Sampai saat ini Ny.S mengeluh menstruasi tidak
teratur, dan setiap menstruasi, darah yang dikeluarkan hanya berupa bercak cokelat saja.
5

3. Riwayat seksual dan kontrasepsi: Ny.S mengaku merasakan nyeri setiap berhubungan
seksual dengan suami. Ny.S menyangkal pernah menggunakan kontrasepsi, karena Ny.S,
dan Tn.I tidak mempunyai rencana untuk membatasi jumlah keturunan.
4. Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat MRS (+), pasien pernah mengalami keguguran 4 tahun yang lalu, pada kehamilan
ketiga, kemudian pada saat yang bersamaan, dokter juga menemukan adanya kista
ovarium pada keduaindung telur pasien. Saat itu dokter menyarankan pasien untuk
melakukan operasi, namun pasien memilih untuk menunda operasi dengan alasan masih
belum berani. Riwayat darah tinggi(-), kencing manis (-), penyakit jantung (-)
5. Riwayat Penyakit Keluarga :
Kedua orang tua pasien telah meninggal dunia. Ibu pasien meninggal pada usia 56 tahun
karena kanker kelenjar getah bening. Ayah pasien meninggal pada usia 60 tahun karena
kanker paru-paru. Saudara perempuan pasien juga ada yang menderita mioma, dan telah
melakukan operasi pengangkatan rahim. Bibi pasien juga ada yang mengalami hal serupa
seperti pasien.
6. Riwayat imunisasi: imunisasi tetanus (TT) sudah dilakukan.
7. Riwayat pengobatan: setiap merasakan nyeri, dan tidak menahan nyeri, pasien
mengkonsumsi obat anti nyeri datang bulan yang dijual bebas di pasaran
8. Riwayat Gizi : pasien makan secara rutin 3x sehari dengan lauk pauk yang bervariasi
setiap harinya yaitu telor, tahu atau tempe, ayam dan kadang daging. Namun pasien
mengaku selalu menambahkan penyedap masakan di setiap masaknnya.
9. Riwayat Kebiasaan dan gaya hidup :
Riwayat merokok (-)
Riwayat minum alkohol, berkarbonasi, dan kopi (-)
Riwayat olahraga: jarang berolahraga
Riwayat pengisian waktu luang: menonton televisi dan kadang-kadang jalan-jalan.
Riwayat sehari-hari: selama hamil, Ny.S masih menjalankan pekerjaan rumah seperti
mencuci baju, menyapu, dan terkadang memasak.
10. Riwayat Sosial Ekonomi : biaya hidup dan rumah sakit ditanggung sacara mandiri oleh
suami pasien. Penghasilan Tn.I dirasakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
keluarga mereka. Interaksi dengan tetangga juga sangat baik.
11. Keadaan lingkungan: keadaan rumah dan lingkungan rumah Ny.S terkesan bagus dan
bersih, berjarak dekat dengan rumah tetangganya.

6

2.3 ANAMNESA SISTEM
1. Kulit : kulit gatal (-), bintik merah di kulit (-)
2. Kepala : sakit kepala (-), rombut rontok (-), luka (-), benjolan (-)
3. Mata : merah (-/-)
4. Hidung : tersumbat (-/-), mimisan (-/-), cairan (-/-)
5. Telinga : cairan (-/-), nyeri(-/-)
6. Mulut : sariawan (-), mulut kering (-)
7. Tenggorokan : nyeri menelan (-), suara serak (-)
8. Pernafasan : sesak nafas (-), batuk (-), mengi (-)
9. Kardiovaskuler : nyeri dada (-), berdebar-debar (-)
10. Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), diare (-), nyeri perut bawah (+), BAB lancar
11. Genitourinaria : menstruasi (+), nyeri kencing (-)
12. Neurologik : lumpuh (-),kaki kesemutan(-),kejang (-)
13. Psikiatrik : emosi stabil (+), mudah marah (-)
14. Muskolokeletal : kaku sendi (-), nyeri sendi pinggul (-), nyeri otot (-)
15. Ekstremitas atas : bengkak (-/-), sakit (-/-), telapak pucat (-/-), kebiruan (-/-), luka (-/-)
Ekstremitas bawah : bengkak(-/-), sakit(-/-), telapak pucat (-/-), kebiruan (-/-), luka (-/-)

2.4 PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : keadaan umum tampak kesakitan dan lemas, kesadaran compos
mentis (GCS E4V5M6), status gizi kesan baik.
2. Atropometri : BB = 50 kg
TB = 158 cm
BMI = 20,24 normoweight
3. Tanda vital : BP = 110/80 mmHg
T
o
= 36,5
o
C
HR = 80 x/mnt
RR = 24x/mnt
4. Kepala dan wajah : bentuk kepala mesocephal, luka (-), keriput (-), warna kulit kuning,
papul (-), nodul (-), makula (-)
5. Mata : warna kelopak putih, radang (-/-), eksoftalmus (-), strabismus (-)
6. Hidung : nafas cuping hidung (-/-), rhinorrhea (-/-), epistaksis (-), deformitas hidung(-)
7. Mulut : mukosa bibir pucat (-), sianosis bibir (-)
8. Telinga : otorrhea (-/-), kedua cuping teling normal
7

9. Leher : lesi kulit (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran KGB (-)
10. Thorax : bentuk normal, simetris
Cor :
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis kuat angkat
Perkusi : batas kiri atas : SIC II LPSS
Batas kanan atas : SIC II LPSD
Batas kiri bawah : SIC V 1 cm lateral LMCS
Batas kanan bawah : SIC IV LPSD
Batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas normal, regular
Pulmo :
Inspeksi : pengembangan dada kanan sama dengan dada kiri
Palpasi : fremitus taktil kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : + + - - - -
suara dasar vesikuler + wheezing - ronkhi basah & kering -
+ + - - - -
12. Abdomen
Inspeksi : bentuk simetris, tidak terlihat cembung
Palpasi : supel, hepar dan lien tdk teraba, turgor baik, nyeri tekan suprapubic (+),
nyeri tekan mc burney (-)
Perkusi : timpani seluruh lapangan perut
Auskultasi : peristaltik (+) normal
13. System Collumna Vertebralis:
Inspeksi : skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)
13. Ekstremitas : palmar eritem (-)
Akral dingin Oedem



L : deformitas (-), luka (-)
F : nyeri tekan (-), krepitasi (-)
M: normal
- -
- -
- -
- -
8

14. Sistem genitalia : menstruasi (+), DBN
15. Pemeriksaan neurologis:
kesadaran : composmentis
fungsi sensorik


fungsi motorik




Kekuatan tonus Ref.Fisiologi Ref.Patologis
16. Pemeriksaan Gynekologi : tidak di evaluasi
17. Pemeriksaan Obstetri
TFU : tidak teraba
2.5 DIFFERENTIAL DIAGNOSE
- Cysta Ovarium
- Apendisitis
- Cystitis

2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG
USG :
o Didapatkan gambaran Cystoma Ovarii Bilateral
Darah lengkap : leukositosis (hari Rabu tanggal 13 Oktober 2013, pukul 17:29)
Pemeriksaan
Hasil
Unit Nilai Normal
24-11-2013 (pagi)

24-11-2013 (pagi)
Hematologi
Hb
HCT
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
PDW
MPV

10,1
31,2
12,92
243
3,64
11,8
7,55

10,4
32,5
10,77
254
3,77
10,5
7,3


g/dl
%
Ribu/ul
Ribu/ul
Juta/ul
Fl
Fl

12,0-16,0
35-47
3,8-10,6
150-440
3,6-5,8
9-13
7,2-11,1
Index
MCV
MCH

85,6
27,8

86,3
27,6

Fl
Pg

80-100
26-34
N N
N N
5 5
5 5
N N
N N
N N
N N
- -
- -
9

MCHC 32,4 32,0 % 32-36
Differential
Basofil
Eosinofil
Limfosit
Monosit
Netrofil

0,0
1,1
12,8
7,5
78,6

0,1
0,7
16,8
8,0
74,4

%
%
%
%
%

0-1
1-6
30-45
2-8
50-70


2.7 RESUME
a) Anamnesis :
Ny.S datang ke poli kandungan RSI diantar oleh suaminya dengan keluhan nyeri pada
perut bawah sejak 2 hari yang lalu. Ny.S mengatakan bahwa kemarin dirinya telah
menstruasi, namun hanya muncul bercak cokelat saja. Ny.S juga mengeluhkan nyeri setiap
berhubungan dengan suami. Nyeri datang bulan juga sering dirasakan sebelum dan
sesudah menstruasi.Ny.S juga merasakan mual.
b) Pemeriksaan Fisik :
Abdomen : nyeri tekan suprapubic (+)
c) Pemeriksaan Penunjang :
USG :
Didapatkan gambaran Cystoma Ovarii bilateral

2.6. DIAGNOSA HOLISTIK
1. Diagnosis dari segi biologis :
Cystoma Ovarii bilateral
2. Diagnosis dari segi psikologis :
Ny.S dan suami merasa sedih atas sakit yang serig dialami Ny.S. Namun setelah
dialkukan operasi pengangkatan kista, diharapkan kondisi Ny.S jauh lebih baik dari
keadaan sbelumnya.
3. Diagnosis dari segi sosial dan ekonomi :
Kondisi ekonomi termasuk dalam keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke
atas. Biaya hidup dan rumah sakit di tanggung secara mandiri oleh suaminya yang
bekerja sebagai wiraswasta. Penghasilan Ny.S dan suami cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Sedangkan dalam aspek sosial Ny.S dan keluarga tidak
didapatkan masalah. Ny.S tinggal bersama suami dan kedua anaknya di lingkungan
yang bersih dan memiliki interaksi baik antar tetangga.

10

2.7 PENATALAKSANAAN HOLISTIK
Penatalaksanaan cystoma ovarii bilateral
Laparotomi, cystectomi bilateral

Pada kasus ini diberikan terapi :
Farmakoterapi untuk cystoma ovarii bilateral

a. Infus RL 90 cc/jam (20 tpm)
Komposisi (mmol/100ml) : Na = 130-140, K = 4-5, Ca = 2-3, Cl = 109-110, Basa = 28-30 mEq/l.
Kemasan : 500, 1000 ml.
Cara Kerja: keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi elektrolit dan
konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung cairan ekstraseluler. Natrium merupakan
kation utama dari plasma darah dan menentukan tekanan osmotik. Klorida merupakan anion utama di
plasma darah. Kalium merupakan kation terpenting di intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf
dan otot. Elektrolit-elektrolit ini dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada dehidrasi dan
syok hipovolemik termasuk syok perdarahan.
Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok hipovolemik.
Ringer laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia dan asidosis metabolik,
karena akan menyebabkan penumpukan asam laktat yang tinggi akibat metabolisme anaerob.
Kontraindikasi : hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis laktat.
Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar, biasanya paru-paru.
Peringatan dan Perhatian : Not for use in the treatment of lactic acidosis. Hati-hati pemberian pada
penderita edema perifer pulmoner, heart failure/impaired renal function & pre-eklamsia.

b. Ceftriaxon
Dosis dewasa:
Infeksi: IV/IM 1-2 g/hari atau dalam dosis terbagi sama tiap 12 jam (max. 4 g / hari).
Bedah profilaksis: IV/IM 1 gram sebagai dosis tunggal -2 jam sebelum operasi.
Indikasi: pengobatan infeksi saluran pernafasan bawah, kulit dan struktur kulit,
tulang dan sendi, saluran kemih; pengobatan penyakit radang panggul, infeksi
intra-abdomen, gonore, meningitis dan septicemia karena rentan
mikroorganisme; profilaksis sebelum operasi.
Kontraindikasi: hipersensitifitas terhadap golongan sefalosporin
Efek samping
Gastrointestinal: mual, muntah, diare, kolitis, termasuk pseudomembranosa
kolitis.
Saluran kemih: ginjal disfungsi, piuria, disuria, reversibel nefritis interstisial,
hematuria, beracun nefropati, kencing gips.
Darah: eosinophilia, neutropenia, lymphocytosis, leukositosis,
trombositopenia, penurunan fungsi platelet, anemia, aplastic anemia, perdarahan.
Hepar: hepatic disfungsi, penyakit kuning, abnormal hasil tes fungsi hati.
Lain-lain: Hipersensitivitas, termasuk sindrom Stevens-Johnson, eritema
multiforme, toksik epidermal necrolysis; Candida berlebih; serum penyakit-seperti
reaksi (misalnya, ruam kulit, polyarthritis; arthralgia, demam); radang urat darah,
thrombophlebitis dan nyeri di tempat injeksi.
Mekanisme kerja:
Menghambat sintesis mukopeptide di dinding sel bakteri.
Parameter monitoring:
Monitor fungsi ginjal selama pengobatan.
11

Monitor tanda-tanda infeksi, terutama demam, dan respon positif terapi antibiotik.
Monitor untuk kelainan koagulasi. Peningkatan prothrombin waktu atau platelet
abnormal dapat terjadi. Jika terjadi pendarahan dan PT berkepanjangan, vitamin K
dapat diindikasikan.
Monitor pemakaian IV untuk infiltrasi, infeksi, thrombophlebitis dan berdarah.

c. R/ Inj. iv Ranitidin 25mg 2x1 amp
Dosis:
Injeksi i.m.: 50 mg (tanpa pengenceran) tiap 6 8 jam.
Injeksi i.v. : intermittent.
Ranitidine 25 mg/mL injeksi (1 box berisi 10 ampul @ 2 mL), No. Reg. :
GKL0608513443A1
Intermittent bolus : 50 mg (2 mL) tiap 6 8 jam. Encerkan injeksi 50 mg dalam
larutan NaCl 0,9% atau larutan injeksi i.v. lain yang cocok sampai diperoleh
konsentrasi tidak lebih dari 2,5 mg/mL (total volume 20 mL). Kecepatan injeksi tidak
lebih dari 4 mL/menit (dengan waktu 5 menit).
Intermittent infusion : 50 mg (2 mL) tiap 6 8 jam. Encerkan injeksi 50 mg dalam
larutan dekstrosa 5% atau larutan i.v. lain yang cocok sampai didapat konsentrasi
tidak lebih besar dari 0,5 mg/mL (total volume 100 mL).
Kecepatan infus tidak lebih dari 5 7 mL/menit (dengan waktu 15 20 menit).
Infus kontinyu : 150 mg Ranitidine diencerkan dalam 250 mL dekstrosa atau larutan
i.v. lain yang cocok dan diinfuskan dengan kecepatan 6,25 mg/jam selama 24 jam.
Farmakologi:
Histamin antagonis reseptor H2 yang menghambat kerja histamin secara kompetitif
pada reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung. Pada pemberian i.m./i.v.
kadar dalam serum yang diperlukan untuk menghambat 50% perangsangan sekresi
asam lambung adalah 3694 mg/mL. Kadar tersebut bertahan selama 68 jam.
Ranitidine diabsorpsi 50% setelah pemberian oral. Konsentrasi puncak plasma dicapai
23 jam setelah pemberian dosis 150 mg. Absorpsi tidak dipengaruhi secara nyata
oleh makanan dan antasida. Waktu paruh 2 3 jam pada pemberian oral, Ranitidine
diekskresi melalui urin.
Indikasi:
Pengobatan jangka pendek tukak duodenum aktif, tukak lambung aktif, mengurangi
gejala refluks esofagitis.
Terapi pemeliharaan setelah penyembuhan tukak duodenum, tukak lambung.
Pengobatan keadaan hipersekresi patologis (misal : sindroma Zollinger Ellison dan
mastositosis sistemik).
Ranitidine injeksi diindikasikan untuk pasien rawat inap di rumah sakit dengan
keadaan hipersekresi patologis atau ulkus duodenum yang sulit diatasi atau sebagai
pengobatan alternatif jangka pendek pemberian oral pada pasien yang tidak bisa
diberi Ranitidine oral.
Kontra Indikasi : penderita yang hipersensitif terhadap Ranitidine.
Efek Samping :
Sakit kepala
Susunan saraf pusat, jarang terjadi : malaise, pusing, mengantuk, insomnia, vertigo,
12

agitasi, depresi, halusinasi.
Kardiovaskular, jarang dilaporkan : aritmia seperti takikardia, bradikardia,
atrioventricular block, premature ventricular beats.
Gastrointestinal : konstipasi, diare, mual, muntah, nyeri perut. Jarang dilaporkan :
pankreatitis.
Muskuloskeletal, jarang dilaporkan : artralgia dan mialgia.
Hematologik : leukopenia, granulositopenia, pansitopenia, trombositopenia (pada
beberapa penderita). Kasus jarang terjadi seperti agranulositopenia,
trombositopenia, anemia aplastik pernah dilaporkan.
Lain-lain, kasus hipersensitivitas yang jarang (contoh : bronkospasme, demam,
eosinofilia), anafilaksis, edema angioneurotik, sedikit peningkatan kadar dalam
kreatinin serum.
d. Ondansetron
Komposisi: Kotak, 2 ampul @ 4 ml dan 2 ampul @ 2 ml.
Dosis dewasa: Pengobatan mual dan muntah pasca bedah: IM 4 mg sebagai dosis
tunggal dan IV 4 mg secara perlahan-lahan.
Indikasi: Penanggulangan mual dan muntah karena kemoterapi, radioterapi dan
operasi.
Kontra indikasi: Penderita yang hipersensitif terhadap ondansetron.
Efek samping: Sakit kepala, konstipasi, rasa panas pada kepala dan epigastrum,
sedasi dan diare.

e. Ketorolac
Sediaan : Ketorolac 10 mg injeksi (1 box berisi 6 ampul @ 1 mL), Ketorolac 30 mg
injeksi (1 box berisi 6 ampul @ 1 mL),
Efek samping di bawah ini terjadi pada uji klinis dengan Ketorolac IM 20 dosis
dalam 5 hari. Insiden antara 1 hingga 9% :
Saluran cerna : diare, dispepsia, nyeri gastrointestinal, nausea.
Susunan Saraf Pusat : sakit kepala, pusing, mengantuk, berkeringat.
Indikasi : Ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap
nyeri akut sedang sampai berat setelah prosedur bedah. Durasi total Ketorolac tidak
boleh lebih dari lima hari. Ketorolac secara parenteral dianjurkan diberikan segera
setelah operasi. Harus diganti ke analgesik alternatif sesegera mungkin, asalkan terapi
Ketorolac tidak melebihi 5 hari. Ketorolac tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai
obat prabedah obstetri atau untuk analgesia obstetri karena belum diadakan penelitian
yang adekuat mengenai hal ini dan karena diketahui mempunyai efek menghambat
biosintesis prostaglandin atau kontraksi rahim dan sirkulasi fetus
Dosis dewasa:
Ampul : Dosis awal Ketorolac yang dianjurkan adalah 10 mg diikuti dengan 1030
mg tiap 4 sampai 6 jam bila diperlukan. Harus diberikan dosis efektif terendah. Dosis
13

harian total tidak boleh lebih dari 90 mg untuk orang dewasa dan 60 mg untuk orang
lanjut usia, pasien gangguan ginjal dan pasien yang berat badannya kurang dari 50 kg.
Lamanya terapi tidak boleh lebih dari 2 hari. Pada seluruh populasi, gunakan dosis
efektif terendah dan sesingkat mungkin. Untuk pasien yang diberi Ketorolac ampul,
dosis harian total kombinasi tidak boleh lebih dari 90 mg (60 mg untuk pasien lanjut
usia, gangguan ginjal dan pasien yang berat badannya kurang dari 50 kg)..

f. Ketoprofen
Sediaan : Ketoprofen 50 mg tablet , Ketoprofen 100 mg supositoria, Ketoprofen 50
mg/mL injeksi
Indikasi : Untuk mengobati gejala-gejala artritis rematoid, ankilosing spondilitis,
gout akut dan osteoartritis serta kontrol nyeri dan inflamasi akibat operasi ortopedik.
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap ketoprofen, aspirin dan AINS lain.
Gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat
Dosis :
Dosis awal yang dianjurkan : 75 mg 3 kali sehari atau 50 mg 4 kali sehari.
Dosis maksimum 300 mg sehari. Sebaiknya digunakan bersama dengan makanan atau
susu.
Injeksi IM :
50100 mg tiap 4 jam. Dosis maksimum 200 mg/hari, tidak lebih dari 3 hari.
2.8 FOLLOW UP DAN FLOW SHEET
Nama : Ny.S
Diagnosis : Cystoma Ovarii Bilateral

Tabel: Flow Sheet
No Tanggal S O A P
1. Sabtu
23-11-13
Keluhan utama:
nyeri perut
bawah
RPS :
menstruasi
hanya berupa
bercak cokelat,
nyeri saat
berhubungan
seksual , mual
(+)
KU tampak kesakitan,
compos mentis GCS 456,
gizi kesan normal
Vital sign:
TD: 110/80 mmHg,
RR: 24 x/menit,
HR: 80 x/menit
T: 36,5
o
C
Status generalis: nyeri
tekan suprapubic (+)
Pemeriksaan Penunjang:
USG : didapatkan Cystoma
Ovarii Bilateral

Cystoma
Ovarii
Bilateral
PasienMRS
Persiapan laparotomi, cystectomi
bilateral

Terapi:
R/ Ceftriaxon 2x1gr Inj IV
R/ Infus RL 20 tpm
R/ Ketorolac 1 amp
R/ Ranitidin 1 amp IV
R/ondancetron 4mg po


14




2. Minggu
24-11-13
Keluhan utama:
nyeri perut
bawah (-)
RPS : mual (+)
kembung (+,
susah tidur,
nyeri luka
operasi (+)
KU tampak baikcompos
mentis GCS 456, gizi kesan
normal
Vital sign:
TD: 110/70 mmHg,
RR: 20 x/menit,
HR: 90 x/menit
T: 36,5
o
C
Status generalis: nyeri luka
post laparotomi (+)

Cystoma
Ovarii
Bilateral

Terapi:
R/ Cefadroxil 2x500mg.po
R/ Infus RL 20 tpm
R/ondancetron 4mg po
R/ Profenid supp


3. Senin ,
25-11-13
Keluhan utama:
nyeri perut
bawah (-)
RPS : mual (-)
kembung (-
),nyeri luka
operasi (+)
KU tampak baikcompos
mentis GCS 456, gizi kesan
normal
Vital sign:
TD: 120/50 mmHg,
RR: 24 x/menit,
HR: 96 x/menit
T: 37,2
o
C
Status generalis: nyeri luka
post laparotomi (+)

Cystoma
Ovarii
Bilateral
Terapi:
R/ Cefadroxil 2x500mg.po
R/ Infus RL 20 tpm
R/paracetamol 3x500mg po
R/ ketoprofen supp

PMo:
Imobilisasi pasien untuk duduk
4. Selasa
26-11-13
Keluhan utama:
nyeri perut
bawah (-)
RPS : mual (-)
kembung (-
),nyeri luka
operasi (+)
KU tampak baik compos
mentis GCS 456, gizi kesan
normal
Vital sign:
TD: 110/80 mmHg,
RR: 20 x/menit,
HR: 88 x/menit
T: 36,
o
C
Status generalis: nyeri luka
post laparotomi (+)

Cystoma
Ovarii
Bilateral
Infuse off

R/cefadroxil 2x500mg po

Pasien rawat jalan, control 1
minggu lagi untuk rawat luka
15

LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

BAB III
PEMBAHASAN ASPEK KEDOKTERAN KELUARGA

5.1 IDENTIFIKASI KELUARGA
5.1.1 Profil Keluarga
A. Karakteristik Demografi Keluarga
Tanggal kunjungan MRS pertama : 23-11-2013
Nama kepala keluarga : Tn.I
Alamat : Jl.Simpang Tondano Barat IV/A-307 Malang
Bentuk Keluarga : nuclear family
Struktur Komposisi Keluarga :
Tabel: Daftar anggota keluarga
No Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien
klinik
Ket.
1 Tn.I Kepala
keluarga
L 50 th S1 Karyawan
wiraswasta
Tidak
2 Ny.S Ibu P 42 th S1 Ibu rumah
tangga
Ya Cystoma
ovarii
bilateral
3

An.B Anak ke-1 L 15th SMP Pelajar Tidak
4 An.H Anak ke-2 P 13th SMP Pelajar Tidak
Sumber: data primer, 25 November 2013
Kesimpulan : Keluarga Tn.I adalah nuclear family yang terdiri atas 4 orang dan tinggal
dalam satu rumah. Terdapat satu orang yang sakit yaitu Ny.S usia 42 tahun yang mengalami
Cystoma ovarii bilateral. Dalam hal ini, pembiayaan kesehatan Ny.S bersifat mandiri tanpa
jaminan kesehatan.

B. Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup
Lingkungan tempat tinggal
Tabel: Lingkungan tempat tinggal
Status kepemilikan rumah : menumpang/kontrak/hibah/milik sendiri
Daerah perumahan : kumuh/padat bersih/berjauhan/mewah
Karakteristik Rumah dan Lingkungan Kesimpulan
16

Luas tanah : 10x12 m
2
, luas bangunan: 8 x 10 m
2
Keadaan rumah
Ny.S tergolong
baik dan sehat.
Memiliki halaman
yang cukup luas
dan pencahayaan
serta ventilasi yang
memadai.
Jumlah penghuni dalam satu rumah : 4orang
Jarak antar rumah : 3m (depan), 0,5m (samping), 0,5m (belakang)
Rumah 1 lantai
Lantai rumah: berubin
Dinding rumah: tembok bata, tinggi, dicat
Jamban keluarga : ada 1
Kamar mandi : ada 1
Dapur : ada 1, di bagian belakang
Tempat bermain : teras depan rumah
Penerangan listrik : lampu @ 25 watt x 8 buah lampu = 200 watt
Pencahayaan : cukup (terdapat minimal 2 jendela di setiap kamar, ruang tamu
ada 4 jendela)
Ketersediaan air bersih : PDAM
Kondisi umum rumah : kondisi rumah terkesan cukup mewah dan bersih
dengan halaman yang cukup luas.
Tempat pembuangan sampah : di depan rumah dan setiap pagi dibuang ke
tempat pembuangan akhir (TPA) oleh petugas kebersihan

Denah rumah keluarga Ny.S :


5.1.2 Identifikasi Fungsi-Fungsi dalam Keluarga
A. Fungsi Holistik
1. Fungsi biologis
Ny.S mengalami Cystoma Ovarii Bilateral
2. Fungsi Psikologis
17

Ny.S dan suami merasa sedih atas sakit yang serig dialami Ny.S. Namun
setelah dialkukan operasi pengangkatan kista, diharapkan kondisi Ny.S jauh lebih
baik dari keadaan sbelumnya.
3. Fungsi Sosial dan Ekonomi
Kondisi ekonomi termasuk dalam keluarga dengan tingkat ekonomi menengah
ke atas. Biaya hidup dan rumah sakit di tanggung secara mandiri oleh suaminya yang
bekerja sebagai wiraswasta. Penghasilan Ny.S dan suami cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Sedangkan dalam aspek sosial Ny.S dan keluarga tidak
didapatkan masalah. Ny.S tinggal bersama suami dan kedua anaknya di lingkungan
yang bersih dan memiliki interaksi baik antar tetangga.

B. Fungsi Fisiologis dengan APGAR Score
Adaptation : kemampuan anggota keluarga beradaptasi dengan anggota keluarga
yang lain, serta penerimaan, dukungan, dan saran dari anggota keluarga yang lain.
Partnership : menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara
anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut
Growth : menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan
anggota keluarga tersebut
Affection : menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi anggota keluarga
Resolve : menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan
waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.
Penilaian :
o Hampir selalu : 2 poin
o Kadang kadang : 1 poin
o Hampir tak pernah : 0 poin
Penyimpulan :
o Nilai rata-rata < 5 : kurang
o Nilai rata-rata 6-7 : cukup/sedang
o Nilai rata-rata 8-10 : baik




18

Tabel: APGAR score Tn.I (50tahun)
APGAR Tn.I terhadap keluarga 2 1 0
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga bila menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama


Tabel: APGAR score Ny.S (42 tahun)
APGAR Ny. S terhadap keluarga 2 1 0
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga bila menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Tabel: APGAR score An.B (15 tahun)
APGAR An.B terhadap keluarga 2 1 0
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga bila menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Tabel: APGAR score An.H (13 tahun)
APGAR Ny. S terhadap keluarga 2 1 0
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga bila menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya
19

untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Total APGAR score keluarga Ny.S = 40
Total APGAR score keluarga Ny.S = (40) : 2 = 10
Kesimpulan : Fungsi fisiologis keluarga Ny.S baik


C. Fungsi Patologis dengan Alat SCREEM Score
Fungsi patologis keluarga Ny.S dinilai menggunakan alat S.C.R.E.E.M sebagai berikut:
Tabel: SCREEM keluarga Ny.S
Sumber Patologis
Social Fungsi sosial Ny.S dan keluarga tidak terdapat masalah. Ny.S tinggal
bersama suami di lingkungan perumahan yang padat dan bersih. Ny.S dan
keluarga sering berinteraksi denga baik dengan keluarga
-
Culture Menggunakan adat-istiadat Jawa, bahasa Jawa, serta bahasa Indonesia
secara sopan dengan sesama anggota keluarga dan orang lain dikehidupan
sehari-hari. Anggota keluarga juga telah mengikuti perubahan zaman dan
tergolong modern.
-
Religious Fungsi agama keluarga Ny.S tergolong bagus. -
Economic Penghasilan keluarga yang relatif cukup dan tergolong menengah ke atas. -
Educational Ny.S dan suaminya juga mengaku kurang pengetahuan, pemahaman dan
pengalaman mengenai permasalahan yang saat ini dihadapi.
+
Medical Dalam mencari pelayanan kesehatan, keluarga Ny.S pergi ke RSI UM dan
sering memeriksakan diri jika sakit. Keluarga Ny.S termasuk keluarga
dengan tingkat ekonomi yang cukup, sehingga dalam membiayai
pelayanan kesehatan masih mudah untuk dijangkau secara mandiri.
-

Kesimpulan : Terdapat fungsi dalam keluarga Ny.S yang masih dalam keadaan kurang baik
yaitu fungsi edukasional.








20

D. Genogram dalam Keluarga


E. Informasi Pola Interaksi Keluarga




Keterangan:
: hubungan baik : laki-laki : pasien
: hubungan kurang baik : perempuan
Kesimpulan : Hubungan antara Ny.S dengan keluarganya berjalan baik.









Ny.S
Tn.I

An.B

An.H
21

3.2 IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN
3.2.1 Diagram Faktor Perilaku dan Non Perilaku

















5.3 DAFTAR MASALAH

5.3.1 Diagram Permasalahan Keluarga










Pengetahuan: Ny.S & suami mengaku kurang pengetahuan,
pemahaman & pengalaman mengenai permasalahan yang saat
ini dihadapi
Sikap: Sikap keluarga terhadap kondisi Ny.S cukup baik.
Keluarga sangat memperhatikan keluhan yg dirasakan Ny.S..

Tindakan: Keluarga Ny.S termasuk cepat tanggap & siaga
sehingga Ny.S dapat segera diantar ke RS ketika mengalami
perdarahan. Tetapi, selama kehamilan Ny.S masih aktif
menjalani pekerjaannya, baik sebagai ibu rumah tangga
maupun sebagai karyawan swasta. Ny.S juga tetap
mengkonsumsi makanan pedas selama hamil.
Lingkungan: Lingkungan tergolong bersih
dan sehat. Ny.S tinggal bersama suami dan
jarang sering berinteraksi dengan baik
dengan tetangganya.
Pelayanan kesehatan: Ny.S dan keluarga
pergi ke RSI & sering memeriksakan diri
jika sakit. Keluarga Ny.S masih dpt
menjangkau pembiayaan pelayanan
kesehatan secara mandiri.
Usia dan keturunan: Ny.S memiliki
keturunan untuk menderita penyakit-
penyakit keganasan
Ny.S dan
Keluarga
Faktor Perilaku

Faktor NonPerilaku

Ny.S (42 tahun) dengan diagnosis
Cystoma Ovarii Bilateral
Pasien kurang memiliki pengetahuan
mengenai penyakit keturunan yang
dideritanya.
Pasien selalu menambahkan
bumbu penyedap masakan. Di
setiap masakannya..
22

LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI ORGAN GENETALIA WANITA
.1.1 Uterus
Uterus pada seorang dewasa berbentuk seperti buah avokat atau buah peer yang sedikit
gepeng. Ukuran panjang uterus 7-7,5 cm, lebar ditempat yang paling lebar 5,25 cm, dan tebal
2,5 cm. Uterus terdiri dari corpus uteri (2/3 bagian atas) dan serviks uteri (1/3 bagian bawah).
Didalam korpus uteri terdapat rongga (kavum uteri), yang membuka keluar melalui saluran
(kanalis servikalis) yang terletak diserviks. Bagian bawah serviks yang terletak di vagina
dinamakan portio uteri (pars vaginalis servisis uteri), sedangkan yang berada diatas vagina
disebut pars supravaginalis servisis uteri. Antara korpus dan serviks masih ada bagian yang
disebut isthmus uteri. Bagian atas uterus disebut fundus uteri, di situ tuba fallopi kanan dan
kiri masuk ke uterus. Dinding uterus terutama terdiri terutama atas miometrium, yang
merupakan otot polos berlapis tiga, yang sebelah luar longitudinal, yang sebelah dalam
sirkuler, yang antara kedua lapisan ini beranyaman. Miometrium dan keseluruhannya dapat
berkontraksi dan berelaksasi.
Kavum uteri dilapisi oleh selaput lendir yang kaya dengan kelenjar, disebut endometrium.
Endometrium terdiri atas epitel kubik, kelenjar-kelenjar, dan stroma dengan banyak
pembuluh-pembuluh darah yang berkelok-kelok, kelenjar-kelenjar itu bermuara di kanalis
servikalis (arbor vitae). Pertumbuhan dan fungsi endometrium dipengaruhi sekali oleh
hormon ovarium.
Uterus pada wanita dewasa umumnya terletak di sumbu tulang panggul dalam
anteversiofleksio (serviks ke depan ke atas) dan membentuk sudut dengan vagina, sedang
korpus uteri berarah ke depan dan membentuk sudut 120-130 dengan serviks uteri. Di
Indonesia uterus sering ditemukan dalam retrofleksio (korpus uteri berarah ke belakang) yang
pada umumnya tidak memerlukan pengobatan.
Perbandingan antara korpus uteri dan serviks berbeda-beda dalam pertumbuhan. Pada
bayi perbandingan itu adalah 1:2, sedangkan pada wanita dewasa 2:1. Diluar, uterus dilapisi
oleh serosa (peritoneum viserale). Jadi dari luar ke dalam ditemukan pada dinding korpus
uteri serosa atau perimetrium, miometrium, dan endometrium. Uterus mendapatkan darah
dari arteri uterina, ranting dari arteri iliaca interna, dan dari arteria ovarika.
23

.1.2 Tuba
Tuba fallopi adalah saluran telur yang berasal dari duktus mulleri. Rata-rata panjangnya
tuba 11-14 cm. Bagian yang berada di dinding uterus dinamakan pars interstitialis, lateral dari
itu (3-6 cm) terdapat pars isthmika yang masih sempit (diameter 2-3 mm), dan lebih ke arah
lateral lagi pars ampullaris yang lebih besar (4-10 mm) dan memiliki ujung terbuka seperti
anemon yang disebut infundibulum. Bagian luar tuba diliputi oleh peritoneum viserale, yang
merupakan bagian dari ligamentum latum. Otot di dinding tuba terdiri atas (dari luar ke
dalam) otot longitudinal dan sirkuler. Lebih dalam lagi terdapat mukosa yang berlipat-lipat ke
arah longitudinal dan terutama dapat ditemukan di bagian ampulla. Mukosa tuba terdiri atas
epitel kubik sampai silindrik, yang mempunyai bagian-bagian getah, sedangkan yang
berserabut dengan getarannya menimbulkan suatu arus ke kavum uteri.
.1.3 Ovarium
Indung telur pada seorang dewasa sebesar ibu jari tangan, terletak dikiri dan kanan, dekat
pada dinding pelvis di fossa ovarika. Ovarium berhubungan dengan uterus dengan
ligamentum ovarii proprium. Pembuluh darah ke ovarium melalui ligamentum suspensorium
ovarii (ligamentum infundibulopelvikum).
Ovarium terletak pada lapisan belakang ligamentum latum. Sebagian besar ovarium
berada intraperitoneal dan tidak dilapisi oleh peritoneum. Bagian ovarium kecil berada di
dalam ligamentum latum (hilus ovarii). Disitu masuk pembuluh-pembuluh darah dan saraf
ovarii. Lipatan yang menghubungakan lapisan belakang ligamentum latum dengan ovarium
dinamakan mesofarium.
Bagian ovarium yang berada pada cavum peritonei dilapisi oleh epitel kubik-silindrik,
disebut epithelium germinativum. Dibawah epitel ini terdapat tunika albuginea dan
dibawahnya lagi terletak folikel-folikel primordial. Pada wanita memiliki banyak folikel.
Tiap bulan kadang 1 folikel kadang 2 folikel, berkembang menjadi folikel de graff. Folikel-
folikel ini merupakan bagian ovarium yang terpenting, dan dapat ditemukan dikorteks ovarii
dengan berbagai tingkat perkembangan tertentu. Satu sel telur dikelilingi satu lapisan sel saja
sampai folikel de graff yang matang. Folikel yang matang ini terisi dengan likuor follikuli
yang mengandung esterogen dan siap untuk berovulasi.
.1.4 Jaringan penunjang alat genital
Uterus berada pada rongga panggul dalam anteversiofleksio sedemikian rupa sehingga
bagian depannya setinggi simfisis pubis, dan bagian belakang setinggi artikulasio
sakrokoksigea. Jaringan ikat di parametrium dan ligamentum-ligamentum membentuk suatu
sistem penunjang uterus terfiksasi relatif cukup baik.
24







25

2 KISTA OVARIUM
.1.5 Definisi kista Ovarium
Ovarium mempunyai fungsi yang sangat krusial pada reproduksi dan menstruasi.
Gangguan pada ovarium dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan,
perkembangan dan kematangan sel telur. Gangguan yang paling sering terjadi adalah
kista ovarium, sindrom ovarium polikistik, dan kanker ovarium.
3
Kista ovarium
merupakan tumor jinak berupa kantong abnormal berisi cairan atau setengah cair yang
tumbuh dalam indung telur (ovarium). Indung telur adalah rongga berbentuk kantong
berisi cairan di dalam jaringan ovarium. Kista ini disebabkan oleh karena kegagalan
folikel untuk pecah atau regresi.
3
Secara umum kista ovarium fisiologis ukurannya
kurang dari 6 cm, permukaan rata,dan konsistensi kistik. Keluhan yang dapat terjadi
selain adanya massa di daerah pelvik dapat juga terjadi haid yang tidak teratur.
3



.1.6 Patomekanisme Kista ovarium
Bilamana lonjakan LH terjadi dan sel telur dilepaskan, rantai peristiwa lain
dimulai. Folikel kemudian beraksi terhadap LH dengan menghasilkan hormon estrogen
dan progesteron dalam jumlah besar sebagai persiapan untuk pembuahan. Perubahan
dalam folikel ini disebut sebagai korpus luteum. Tetapi kadang-kadang setelah sel telur
dilepaskan, lubang keluarnya tertutup dan jaringan-jaringan mengumpul di dalamnya,
menyebabkan korpus luteum membesar dan menjadi kista. Meski kista ini biasanya
hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu, tetapi kista ini dapat tumbuh hingga
4-9 inci (10 cm) diameternya dan berpotensi untuk berdarah dengan sendirinya atau
mendesak ovarium yang menyebabkan nyeri panggul atau perut. Jika kista ini berisi
darah, kista ini dapat pecah dan menyebabkan perdarahan intestinal dan nyeri tajam yang
tiba-tiba.
26

Gambar. Patogenesis Kista Ovarium

Skema diatas menunjukkan pathogenesis kista ovarium dan kemungkinan jalur
yang terlibat. Lonjakan FSH menstimulasi munculnya folikel baru, dari salah satu
folikel dominan yang dipilih saat deviasi. Melalui umpan balik positif estradiol
menstimulasi pulsatilitas GnRH dan LH, yang akan mendukung pertumbuhan dan
perkembangan folikel yang dominan. Saat mencapai ukuran preovulasi, aktivitas
steroigenik folikel mencapai puncak dan memproduksi lonjakan estradiol preovulasi.
Lonjakan ini gagal terjadi pada GnRH dan LH atau lonjakan GnRH tertunda. Folikel
dominan tidak mengalami ovulasi berhubungan dengan pulsatilitas LH yang terus-
menerus, berlanjut sampai tumbuh menjadi kista.

Gangguan axis hipotalamus-pituitari-gonad dapat disebabkan oleh:
(1) faktor yang mempengaruhi mekanisme umpan balik estradiol dan
release GnRH/LH pada hipotalamus-pituitari
(2) dan/atau oleh penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan folikel
dengan perubahan pada ekspresi reseptor dan steroidogenesis
27

(3) yang mengarah ke perubahan lonjakan dan umpan balik estradiol.
Fungsi hipotalamus-pituitari dan pertumbuhan/perkembangan folikel mungkin juga
dipengaruhi oleh NEB (Negative Energy Balance) melalui adaptasi
metabolik/hormonal. Pada situasi NEB, ekspresi faktor genetik yang berhubungan
dengan kista folikuler dapat mempengaruhi pertumbuhan folikel dan fungsi
hipotalamus-pituitari.
7


Gambar. Pembentukan Kista
Skema diatas menunjukkan kadar insulin dan/atau IGF-1 yang rendah dapat
menyebabkan pembentukan kista. Kadar insulin/IGF-1 yang rendah menstimulasi
proliferasi sel folikel dan produksi estradiol-17. Penurunan umpan balik estradiol-17
bersama dengan kadar insulin/IGF-1 yang rendah menyebabkan penurunan pelepasan
gonadotropin. Pertumbuhan folikel dominan menjadi lambat dan perubahan
pertumbuhan folikel serta produksi estradiol-17 mengganggu axis hipotalamus-
pituitari. Hasil akhirnya berupa penyimpangan lonjakan LH daN berkembangnya
kistik folikel.

.1.1 Faktor resiko
Faktor risiko pembentukan kista ovarium meliputi :
28

Pengobatan infertilitas: Pasien dirawat karena infertilitas dengan induksi ovulasi
dengan gonadotropin atau agen lainnya, seperti clomiphene citrate atau letrozole,
dapat mengembangkan kista sebagai bagian dari sindrom hiperstimulasi ovarium.
Tamoxifen : Tamoxifen dapat menyebabkan kista ovarium fungsional jinak yang
biasanya menyelesaikan penghentian pengobatan ini.
Kehamilan: Pada wanita hamil, kista ovarium dapat terbentuk pada trimester kedua,
ketika kadar hCG puncak.
Hypothyroidism : Karena kesamaan antara subunit alpha thyroid-stimulating
hormone (TSH) dan hCG, hipotiroidisme dapat merangsang ovarium dan kista
pertumbuhan.
Gonadotropin ibu: Efek transplasental gonadotropin ibu dapat menyebabkan
perkembangan janin dan neonatal kista ovarium.
Rokok: Risiko kista ovarium fungsional meningkat dengan merokok, resiko dari
merokok mungkin meningkat lebih lanjut dengan indeks massa tubuh menurun
(BMI).
Ligasi tuba: Kista fungsional telah dikaitkan dengan sterilisasi tubal ligation.
1,2


.1.1 Komplikasi
Kista ovarium yang besar bisa mengakibatkan ketidaknyamanan pada ovarium. Jika kista
yang besar menekan kandung kemih akan mangakibatkan seseorang menjadi sering berkemih
karena kapasitas kandung kemih menjadi berkurang. Beberapa wanita dengan kista ovarium
tidak menimbulkan keluhan, tapi dokterlah yang menemukan pada pemeriksaan pelvis. Masa
kista ovarium yang berkembang setelah menopause mungkin akan menjadi suatu keganasan
(kanker).
9

Beberapa komplikasi dari kista ovarium antara lain:
a. Torsio Kista Ovarium.
Komplikasi kista ovarium bisa berat. Komplikasi paling sering dan paling
berbahaya adalah torsio dari kista ovarium yang merupakan kegawatdaruratan medis
yang menyebabkan tuba falopi berotasi, situasi ini bisa menyebabkan nekrosis. Kondisi
ini sering menyebabkan infertilitas. Manifestasi dari torsio kista ovarium adalah nyeri
29

perut unilateral yang biasanya menyebar turun ke kaki. Pada kondisi ini pasien harus
segera di bawa ke rumah sakit. Jika pembedahan selesai pada 6 jam pertama setelah
onset krisis, intervensi pada kista torsio bisa dilakukan. Ovarian cyst torision is
manifested by atrocious stomach pain, unilateral, that usually radiates. Jika torsio lebih
dari 6 jam dan tuba falopi sudah nekrosis, pasien akan kehilangan tuba falopinya.
10


Gambar. Torsio Kista Ovarium
b. Perdarahan dan ruptur kista.
Komplikasi lain adalah perdarahan atau rupturnya kista yang ditandai dengan
ascites dan sering sulit untuk dibedakan dari kehamilan ektopik. Situasi ini juga perlu
pembedahan darurat. Gejala dominan dari komplikasi ini adalah nyeri kuat yang
berlokasi di salah satu sisi dari abdomen (pada ovarium yang mengandung kista).
Ruptur kista ovarium juga mengakibatkan anemia. Ruptur kista ovarium sulit dikenali
karena pada beberapa kasus tidak ditemukan gejala. Tanda pertama yang bisa terjadi
adalah terasa nyeri di abdomen bagian bawah, mual, muntah dan demam.
10

c. Infeksi.
Infeksi bisa mengikuti komplikasi dari kista ovarium. Kista ovarium yang
tidak terdeteksi dan susah untuk didiagnosis bisa mengakibatkan kematian akibat
septikemia. Gejala infeksi pertama adalah demam, malaise, menggigil dan nyeri
pelvis.
10

Prognosis
Prognosis untuk kista yang jinak baik. Walaupun penanganan dan pengobatan kista
ovarium telah dilakukan dengan prosedur yang benar namun hasil pengobatannya sampai
sekarang ini belum sangat menggembirakan termasuk pengobatan yang dilakukan di
pusat kanker terkemuka di dunia sekalipun. Angka kelangsungan hidup 5 tahun penderita
30

kista ovarium stadium lanjut hanya kira-kira 20-30%, sedangkan sebagian penderita 60-
70% ditemukan dalam keadaan stadium lanjut sehingga penyakit ini disebut dengan silent
killer. Prognosis dari kista ovarium juga tergantung dari beberapa hal: stadium, jenis
histologis, derajat diferensiasi kista, residu kista, umur penderita, ukuran kista dan free
disease interval. Kista yang timbul pada wanita usia reproduktif umumnya baik dan tidak
menimbulkan dampak. Kista yang timbul pada wanita menopause tidak boleh diabaikan
karena merupakan gejala dari adanya tumor patologis maupun ganas. Dari tipe kista:
kalau kista jinak umumnya tidak berbahaya namun, sebagian kecil berpotensi untuk
menjadi ganas. Sedangkan , kista ganas berbahaya, bila kista ganas terdeteksi pada
stadium lanjut maka survival rate akan semakin kecil.
7,8


.1.2 Jenis-jenis Kista ovarium
Berikut adalah jenis-jenis kista ovarium yang sering dialami oleh perempuan yang
masih aktif secara reproduksi, yaitu:
1. Kista Folikuler
Kista folikuler merupakan jenis kista sederhana yang terbentuk jika proses
ovulasi tidak terjadi atau ketika folikel matang pecah dengan sendirinya. Kista
folikuler biasanya terbentuk pada masa ovulasi dan bisa tumbuh hingga mencapai
diameter 5-6 cm. Pecahnya kista folikuler bisa menimbulkan rasa sakit tajam yang
cukup parah pada bagian ovarium yang ditumbuhi kista. Nyeri tajam ini, yang disebut
juga mittelschmerz, muncul di tengah-tengah siklus mentruasi, pada saat ovulasi.
Seperempat dari jumlah perempuan yang memiliki kista folikuler pernah merasakan
nyeri. Biasanya tidak ada gejala bersamaan dengan munculnya kista folikuler.
Kista ini dan akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan.
2. Kista Corpus Luteum
Jenis kista ovarium fungsional ini terjadi setelah sel telur dilepaskan dari
folikel. Setelah pelepasan telur, folikel akan berubah menjadi corpus luteum. Jika
kehamilan tidak terjadi, maka corpus luteum akan rusak dan hilang. Tapi bisa jadi
corpus luteum tersebut diisi oleh cairan atau darah dan tetap tinggal di ovarium. Pada
kista corpus luteum biasanya tidak ada gejala yang muncul dan hanya terjadi pada
salah satu sisi ovarium saja.
31

3. Kista Hemoragik (Hemorrhagic Cyst)
Kista hemoragik merupakan jenis kista ovarium fungsional yang terjadi jika
ada perdarahan yang muncul pada kista. Gejala yang mungkin muncul adalah adanya
sakit pada perut di salah satu sisi tubuh.
4. Kista Dermoid
Kista dermoid merupakan jenis tumor jinak yang kadang-kadang disebut
sebagai teratoma kistik matang (mature cystic teratoma).Kista dermoid merupakan
kista abnormal yang biasanya memengaruhi perempuan muda dan bisa tumbuh hingga
mencapai diameter 15 cm. Kista dermatoid bisa berisi jaringan tubuh lain seperti
lemak, kadang-kadang tulang, rambut, dan tulang rawan. Hasil pemeriksaan USG dari
jenis kista ini bisa bervariasi karena tergantung dari spektrum isinya. Tapi,
pemeriksaan CT scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) bisa menunjukkan
adanya lemak dan kalsifikasi yang padat (dense calcifications). Kista dermoid bisa
menimbulkan peradangan. Kista dermoid juga bisa berputar (berubah posisi), kondisi
ini disebut torsi ovarium (ovarian torsion), sehingga bisa membahayakan suplai darah
pada ovarium dan menyebabkan nyeri perut yang hebat.
5. Endometrioma atau Kista endometrioid
Endometrioma atau Kista Endometrioid merupakan bagian dari kondisi yang
dikenal dengan nama endometriosis. Kista endometrioid terbentuk ketika jaringan
endometrium muncul di ovarium. Kista endometrioid memengaruhi perempuan
selama masa reproduksi dan bisa menyebabkan nyeri kronis pada panggul yang
berhubungan dengan menstruasi. Endometriasis adalah kondisi dimana terdapat
kelenjar dan jaringan endometrium di luar uterus. Perempuan yang mengalami
endometriosis mungkin akan memiliki masalah dengan kesuburan. Kista
endometrioid seringkali berisi darah gelap atau merah kecoklatan. Ukuran
diameternya bervariasi yaitu antara 2-20 cm.
6. Polycystic-appearing Ovary
Polycystic-appearing ovary didiagnosis berdasarkan besarnya ukuran. Kista ini
bisa berukuran dua kali lipat dari ukuran normal, ditandai dengan hadirnya kista kecil
32

di sekitar bagian luar ovarium. Kondisi ini bisa ditemukan pada perempuan sehat dan
pada perempuan yang memiliki gangguan hormon endokrin. Pemeriksaan USG
digunakan untuk mendeteksi jenis kista ini. Polycystic-appearing ovary berbeda dari
polycystic ovarian syndrome (PCOS). PCOS merupakan gejala dan kelainan
fisiologis yang timbul akibat adanya kista ovarium. Polycystic ovarian syndrome
melibatkan risiko metabolik dan kardiovaskular terkait dengan resistensi insulin.
Termasuk diantaranya peningkatan toleransi glukosa, diabetes tipe-2, dan tekanan
darah tinggi. Polycystic ovarian syndrome berkaitan dengan ketidaksuburan,
perdarahan abnormal, peningkatan insiden keguguran, dan komplikasi dalam
kehamilan. Polycystic ovarian syndrome sangat umum terjadi dan diperkirakan
dialami oleh 4-7 % dari jumlah perempuan dalam usia aktif reproduksi. Polycystic
ovarian syndrome juga berhubungan dengan peningkatan risiko kanker endometrium.
Pemeriksaan selain USG diperlukan juga untuk mendiagnosis adanya polycystic
ovarian syndrome.
7. Cystadenoma
Cystadenoma merupakan salah satu jenis tumor jinak yang berkembang dari
jaringan ovarium. Cystadenoma ini bisa berisi sejenis cairan lendir atau mukus.
Cystadenoma bisa tumbuh menjadi sangat besar, ukurannya diameternya bisa
mencapai 60 cm

33

LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

BAB V
PEMBAHASAN

3.3 DASAR PENEGAKAN DIAGNOSA
3.3.1 Diagnosis Kista Ovarium
Diagnosis
Diagnosis tentang adanya kista di ovarium umumnya ditemukan setelah melakukan
pemeriksaan fisik (pemeriksaan ginekologis) serta pemeriksaan ultrasonografi.
Temuanmengenai adanya kista ovarium baik kista fisiologis maupun patologis kadangkala
merupakan temuan yang tidak disengaja ketika melakukan pemeriksaan ginekologis atau
pemeriksaan ultrasonografi. Adanya kista di ovarium baik yang bersifat fisiologis maupun
patologis pada umumnya tidak disadari oleh seorang wanita, kecuali kista tersebut
membesar, menekan organ lain atau melintir (torsi), sehingga menimbulkan berbagai
keluhan.
a. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan luar: dengan melihat, meraba, mengetuk juga mendengar apakah ada
benjolan, nyeri dan ketidaknormalan disekitar organ reproduksi wanita.
Pemeriksaan dalam: pasien diposisikan dalam posisi litotomi. Jari dimasukkan ke dalam
vagina. Bila terdapat tumor, dapat teraba benjolan atau masa dari dalam.
Bila ukuran kista cukup besar (15 cm), benjolan dapat teraba dari luar maupun dari
dalam. Untuk itu, harus dipastikan apakah benjolan tersebut merupakan kista atau
bukan.
3,4

b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis kista ovarium
adalah pemeriksaan ultrasonografi (USG).
Pemeriksaan ultrasonografi dapat melihat pencitraan adanya kista pada ovarium. Dengan
pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor apakah tumor berasal dari uterus,
ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid, dan dapatkah dibedakan
pula antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak. Citra kista hasil USG
dapat berupa:
34

Kista sederhana (simple cyst): hanya berisi cairan tanpa masa yang solid, umumnya
merupakan kista yang jinak seperti kista fisiologis (kista folikel dan kista luteal).
Kista kompleks (compount cyst): kista berisi campuran cairan dan masa solid, perlu
observasi lebih lanjut akan kemungkinan menghilang atau tidak.
Kista solid (solid cyst): kista berisi masa solid tanpa cairan, perlu dievaluasi apakah
merupakan tumor ganas atau tumor jinak.
7

Diagnosis Banding
Diagnosis pasti tidak dapat dilihat dari gejala-gejala saja. Karena banyak penyakit dengan
gejala yang sama pada kista ovarium, adalah :
- Penyakit diverticula
- Endometriosis
Pada pemeriksaan endovaginal sonogram tampak karakteristik yang difus, echo yang rendah
sehingga memberikan kesan yang padat.
- Apendisitis akut
- IBD (Inflammatory Bowel Disease)
- Kehamilan Ektopik
Pada pemeriksaan endovaginal sonogram memperlihatkan ring sign pada
tuba,dengan dinding yang tebal disertai cairan yang bebas disekitarnya. Tidak ada
pembuahan intrauterine.
- Kanker Ovarium
Pada pemeriksaan transvaginal ultrasound di dapatkan dinding tebal dan ireguler.
- Abses Ovarium.
5


3.4 DASAR RENCANA PENATALAKSANAAN
3.4.1 Penatalaksanaan Abortus Inkomplit
Penanganan
Jika perdarahan (pervaginam) sudah sampai menimbulkan gejala klinis syok,
tindakan pertama ditujukan untuk perbaikan keadaan umum. Tindakan selanjutnya
adalah untuk menghentikan sumber perdarahan.
Tahap Pertama :
- Tujuan dari penanganan tahap pertama adalah, agar penderita tidak jatuh ke tingkat
syok yang lebih berat, dan keadaan umumnya ditingkatkan menuju keadaan yang
lebih balk. Dengan keadaan umum yang lebih baik (stabil), tindakan tahap ke dua
umumnya akan berjalan dengan baik pula.
35

- Pada penanganan tahap pertama dilakukan berbagai kegiatan, berupa :
a. Memantau tanda-tanda vital (mengukur tekanan darah, frekuensi denyut nadi,
frekuensi pernafasan, dan suhu badan).
b. Pengawasan pernafasan (Jika ada tanda-tanda gangguan pernafasan seperti
adanya takipnu, sianosis, saluran nafas harus bebas dari hambatan. Dan diberi
oksigen melalui kateter nasal).
c. Selama beberapa menit pertama, penderita dibaringkan dengan posisi
Trendelenburg.
d. Pemberian infus cairan (darah) intravena (campuran Dekstrose 5% dengan NaCl
0,9%, Ringer laktat).
e. Pengawasan jantung (Fungsi jantung dapat dipantau dengan elektrokardiografi
dan dengan pengukuran tekanan vena sentral).
f. Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan darah lengkap, golongan darah, jenis
Rhesus, Tes kesesuaian darah penderita dengan darah donor, pemeriksaan pH
darah, pO2, pCO2 darah arterial. Jika dari pemeriksaan ini dijumpai tanda-tanda
anemia sedang sampai berat, infus cairan diganti dengan transfusi darah atau
infus cairan bersamaan dengan transfusi darah. Darah yang diberikan dapat
berupa eritrosit, jika sudah timbul gangguan pembekuan darah, sebaiknya diberi
darah segar. Jika sudah timbul tanda-tanda asidosis harus segera dikoreksi.
Tahap kedua :
Setelah keadaan umum penderita stabil, penanganan tahap ke dua dilakukan.
Penanganan tahap ke dua meliputi menegakkan diagnosis dan tindakan menghentikan
perdarahan yang mengancam jiwa ibu. Tindakan menghentikan perdarahan ini
dilakukan berdasarkan etiologinya.
Pada keadaan abortus inkompletus, apabila bagian hasil konsepsi telah keluar atau
perdarahan menjadi berlebih, maka evakuasi hasil konsepsi segera diindikasikan untuk
meminimalkan perdarahan dan risiko infeksi pelvis. Sebaiknya evakuasi dilakukan
dengan aspirasi vakum, karena tidak memerlukan anestesi (Prawirohardjo, 1992).
Tindakan pengobatan abortus inkompletus
Setiap fasilitas kesehatan seharusnya menyediakan dan mampu melakukan tindakan
pengobatan abortus inkompletus sesuai dengan kemampuannya. Biasanya tindakan
evakuasi/kuretase hanya tersedia di Rumah Sakit Kabupaten. Hal ini merupakan
kendala yang dapat berakibat fatal, bila Rumah Sakit tersebut sulit dicapai dengan
kendaraan umum. Sehingga peningkatan kemampuan melakukan tindakan pengobatan
36

abortus inkompletus di setiap tingkat jaringan pelayanan sesuai dengan kemampuannya
akan mengurangi risiko kematian dan kesakitan.
Tindakan pengobatan abortus inkompletus meliputi :
1. Membuat diagnosis abortus inkompletus
2. Melakukan konseling tentang keadaan abortus inkompletus dan rencana pengobatan.
3. Menilai keadaan pasien termasuk perlu atau tidak dirujuk.
4. Mengobati keadaan darurat serta komplikasi sebelum dan setelah tindakan.
5. Melakukan evakuasi sisa jaringan dari rongga rahim (Saifudin, 2002).
3.4.2 Teknik Pengeluaran Sisa Abortus
Pengeluaran jaringan pada abortus : setelah serviks terbuka (primer maupun dengan
dilatasi), jaringan konsepsi dapat dikeluarkan secara manual, dilanjutkan dengan
kuretase.
- Sondage, menentukan posisi dan ukuran uterus.
- Masukkan tang abortus sepanjang besar uterus, buka dan putar 90
o
untuk melepaskan
jaringan, kemudian tutup dan keluarkan jaringan tersebut.
- Sisa abortus dikeluarkan dengan kuret tumpul, gunakan sendok terbesar yang bisa
masuk.
- Pastikan sisa konsepsi telah keluar semua denganeksplorasi jari maupun kuret
Pertimbangan
Kehamilan usia lebih dari 12 minggu sebaiknya diselesaikan dengan prostaglandin
(misoprostol intravaginal) atau infus oksitosin dosis tinggi (20-50U/drip). Kini dengan
alat hisap dan kanul plastik dapat dikeluarkan jaringan konsepsi dengan trauma
minimal, terutama misalnya pada kasus abortus mola.
Jaringan konsepsi dikirim untuk pemeriksaan patologi anatomi, agar dapat
diidentifikasi kelainan villi. Bahaya atau komplikasi yang dapat terjadi pasca mola
adalah keganasan (penyakit trofoblastik gestasional ganas atau PTG).
Prinsip
Perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 12 minggu
1. Jangan langsung dilakukan kuretase
2. Tentukan dulu, janin mati atau hidup. Jika memungkinkan,periksa dengan USG
3. Jangan terpengaruh hanya pemeriksaan B-HCG yang positif, karena meskipun janin
sudah mati, B-HCG mungkin masih tinggi, bisa bertahan sampai 2 bulan setelah
kematian janin.

37

LAPORAN STUDI KASUS STASE OBGYN

BAB VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN HOLISTIK
Diagnosis dari segi biologis :
Ny.S dengan diagnosa Cystoma ovarii bilateral
Diagnosis dari segi psikologis :
Ny.S dan suami merasa sedih atas sakit yang sering dialami Ny.S. Namun setelah
dialkukan operasi pengangkatan kista, diharapkan kondisi Ny.S jauh lebih baik dari
keadaan sbelumnya.
Diagnosis dari segi sosial dan ekonomi :
Kondisi ekonomi termasuk dalam keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke
atas. Biaya hidup dan rumah sakit di tanggung secara mandiri oleh suaminya yang bekerja
sebagai wiraswasta. Penghasilan Ny.S dan suami cukup untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Sedangkan dalam aspek sosial Ny.S dan keluarga tidak didapatkan masalah.
Ny.S tinggal bersama suami dan kedua anaknya di lingkungan yang bersih dan memiliki
interaksi baik antar tetangga.
.
38

DAFTAR PUSTAKA

1. The Patient Education Institute. X-Plain Ovarian Cysts. America. The Patient
Education Institute. 2011. Hal 3
2. Schwabe, Willmar. Ovarian Cyst. India. Lilavati Hospital and Research Centre.
2002. Hal.2
3. Purcell K, Wheeler JE. Benign disorders of the ovaries & oviducts. In: Current
Obstetric & Gynecologic diagnosis & treatment. Decherney AH, Nathan L editors. Ninth
edition. Lange Medical Books. New York, 2003.p: 708-15
4. Sanfilippo JS, Rock JA. Surgery of benign disease of the ovary. In: Te Lindes
Operative Gynecology, Rock JA, Thompson JD editors. Lippincott-Raven Publishers,
Philadelphia, 1997. P 625-44
5. Helm William C, MZ MBBCh, FRCS(Edin), FRCS. Ovarian Cysts. 2012. [online].
Juli 2013. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/255865-overview#a0104
6.Ovarian Cysts. [online]. Juli 2013. Diunduh
dari:http://www1.cgmh.org.tw/intr/intr5/c6700/obgyn/f/web/Ovarian%20tumor/index.htm
7. Vanholder Tom, Opsomer Geert, Kruif Aart De. Aetiology and Pathogenesis of
Cystic Ovarian Follicles in Dairy Cattle: A Riview. Reprod. Nutr. Dev. 46 (2006) 105119.
8. Sindroma Ovarium Polikistik. 2007. [online]. Juli 2013. Diunduh
dari:http://www.medicastore.com
9. Umesh N. Jindal, Sharmishtha Patra. Ovarian Cyst. 2013. Available at
http://www.whereincity.com/medical/topic/women-health/diseases/ovarian-cysts-232.htm.
Cited by 11 juli 2013.
10. Andrei Riciuon. Ovarian Cyst: Cause, Treatment and complication. Avalable
athttp://www.doctortipster.com/2612-ovarian-cyst-causes-treatment-and-complications.html.
Cited by 11 juli 2013