Anda di halaman 1dari 18

PERCOBAAN V

PERMANGANOMETRI

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan permanganat.
2. Mahasiswa dapat menentukan kadar besi sebagai besi(II).
3. Untuk memahami reaksi-reaksi reduksi dan oksidasi dengan kalium permanganat.

II. LANDASAN TEORI
A. Analisis Volumetri
Proses analisis untuk menentukan jumlah yang tidak diketahui dari suatu zat
dengan mengukur volume larutan pereaksi yang diperlukan untuk reaksi sempurna
disebut analisis volumetri. Analisis ini juga menyangkut penguluran volume gas. Proses
pengukuran volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam
larutan lain yang diketahui volume sampai terjadi reaksi sempurna disebut titrasi.
Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan standar (Erik,dkk, 2011)
Titik ketika reaksi tepat berlangsung sempurna disebut titil ekivalen. Untuk
mengetahui titik ekivalen digunakan indikator, yang akan mengalami perubahan warna
ketika terdapat kelebihan pereaksi. Titik ini disebut titik akhir titrasi yang diharapkan
berimpit dengan titik ekivalen. Perbedaan antara titik ekivalen dan titik akhir titrasi
disebut kesalahan titrasi. Indikator yang dipilih untuk suatu titrasi harus memberikan
kesalahan yang sekecil mungkin. (Hiskia Achmad, 1996 : 170)
Syarat-syarat titrasi antara lain (Rivai, 1995) :
1. Reaksi harus berlangsung sempurna, secara stoikiometri dan tidak ada reaksi
samping.
2. Reaksi harus berlangsung cepat dan reversibel
3. Reaksi harus kuantitatif
4. Harus ada indikator (penunjuk akhir titrasi) baik langsung maupun tidak langsung.
5. Pada titik ekivalen reaksi harus diketahui titik akhir titrasi secara tajam.
B. Larutan Standar
Larutan standar adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya. Ada
beberapa cara dalam menstandarkan larutan, yaitu :
1. Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berat
tertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat.
Larutan ini disebut larutan standar primer, sedangkan zat yang digunakan disebut
standar primer.
2. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zat
kemudian melarutkannya untuk memperoleh volume tertentu, tetapi dapat
distandarkan dengan larutan standar primer, disebut larutan standar sekunder.
3. Mengencerkan larutan pekat yang telah diketahui konsentrasinya. Pengenceran
larutan pekat yang telah diketahui konsentrasinya dengan menggunakan rumus
pengenceran V
1
.N
1
= V
2
.N
2
, dengan V
1
, V
2
adalah volume larutan pekat dan
volume setelah pengenceran, N
1
dan N
2
berturut-turut adalah normalitas larutan
pekat dan setelah pengenceran. (Hiskia Achmad, 1996)
Larutan standar primer dipreparasi dari zat standar primer. Suatu zat standar primer harus
memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Bahan harus tersedia dengan mudah, dapat dikeringkan, dimurnikan dan disimpan
dengan mudah.
b. Bahan tidak berubah selama penimbangan (tidak higroskopis, tidak teroksidasi
oleh udara, dan tidak terpengaruh CO
2
).
c. Bahan dapat dilakukan uji kualitatif terhadap pengotor-pengotor.
d. Bahan memiliki harga ekivalen yang tinggi, sehingga kesalahan dalam
penimbangan dapat diabaikan.
e. Bahan mudah larut pada kondisi pemakaian.
f. Reaksi dengan larutan standar berlangsung stoikiometrik.
Bahan-bahan yang digolongkan sebagai larutan standar primer antara lain,
natrium karbonat, natrium tetraborat, kalium hidrogen iodat dan asam benzoat (pada
titrasi netralisasi); perak nitrat, natrium klorida, kalium klorida (pada titrasi
pengendapan); dan kalium dikromat, kalium bromat, kalium iodat, iodin, natrium
okasalat (pada titrasi redoks). (Didik Setiyo W, 2002)
C. Titrasi Redoks
Pengertian
Titrasi redoks melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi antara titrant dan
analit.Titrasi redoks banyak dipergunakan untuk penentuan kadar logam atau senyawa
yang bersifat sebagai oksidator atau reduktor. Aplikasi dalam bidang industri misalnya
penentuan sulfite dalam minuman anggur dengan menggunakan iodine, atau penentuan
kadar alkohol dengan menggunakan kalium dikromat. Beberapa contoh yang lain adalah
penentuan asam oksalat dengan menggunakan permanganate, penentuan besi(II) dengan
serium(IV), dan sebagainya.
Karena melibatkan reaksi redoks maka pengetahuan tentang penyetaraan reaksi
redoks memegang peran penting, selain itu pengetahuan tentang perhitungan sel volta,
sifat oksidator dan reduktor juga sangat berperan. Dengan pengetahuan yang cukup baik
mengenai semua itu maka perhitungan stoikiometri titrasi redoks menjadi jauh lebih
mudah.
Titik akhir titrasi dalam titrasi redoks dapat dilakukan dengan membuat kurva
titrasi antara potensial larutan dengan volume titrant, atau dapat juga menggunakan
indicator. Dengan memandang tingkat kemudahan dan efisiensi maka titrasi redoks
dengan indicator sering kali yang banyak dipilih. Beberapa titrasi redoks menggunakan
warna titrant sebagai indikator contohnya penentuan oksalat dengan permanganate, atau
penentuan alkohol dengan kalium dikromat. Beberapa titrasi redoks menggunakan
amilum sebagai indicator, khususnya titrasi redoks yang melibatkan iodine. Indikator
yang lain yang bersifat reduktor/oksidator lemah juga sering dipakai untuk titrasi redoks
jika kedua indicator diatas tidak dapat diaplikasikan, misalnya ferroin, metilen, blue, dan
nitroferoin.
Contoh titrasi redoks yang terkenal adalah iodimetri, iodometri,
permanganometri menggunakan titrant kalium permanganat untuk penentuan Fe
2+
dan
oksalat, Kalium dikromat dipakai untuk titran penentuan Besi(II) dan Cu(I) dalam CuCl.
Bromat dipakai sebagai titrant untuk penentuan fenol, dan iodida (sebagai I
2
yang
dititrasi dengan tiosulfat), dan Cerium(IV) yang bisa dipakai untuk titrant titrasi redoks
penentuan ferosianida dan nitrit. (Didik Setiyo W, 2002)
Prinsip
Reaksi oksidasi reduksi atau reaksi redoks adalah reaksi yang melibatkan
penangkapan dan pelepasan elektron. Dalam setiap reaksi redoks, jumlah elektron yang
dilepaskan oleh reduktor harus sama dengan jumlah elektron yang ditangkap oleh
oksidator. Ada dua cara untuk menyetarakan persamaan reaksi redoks yaitu metode
bilangan oksidasi dan metode setengah reaksi (metode ion elektron). Hubungan reaksi
redoks dan perubahan energi adalah sebagai berikut: Reaksi redoks melibatkan
perpindahan elektron; Arus listrik adalah perpindahan elektron; Reaksi redoks dapat
menghasilkan arus listrik, contoh: sel galvani; Arus listrik dapat menghasilkan reaksi
redoks, contoh sel elektrolisis. Sel galvani dan sel elektrolisis adalah sel elektrokimia.
Persamaan elektrokimia yang berguna dalam perhitungan potensial sel adalah persamaan
Nernst. Reaksi redoks dapat digunakan dalam analisis volumetri bila memenuhi syarat.
Titrasi redoks adalah titrasi suatu larutan standar oksidator dengan suatu reduktor atau
sebaliknya, dasarnya adalah reaksi oksidasi-reduksi antara analit dengan titran. (Didik
Setiyo W, 2002)
D. Permanganometri
Kalium Permanganat (KMnO
4
) telah banyak digunakan sebagai agen
pengoksidasi selama lebih dari 100 tahun. Reagen ini dapat diperoleh dengan mudah,
tidak mahal, dan tidak membutuhkan indikator terkecuali untuk larutan yang amat
encer. Satu tetes permanganat 0,1 N memberikan warna merah muda yang jelas pada
volume dari larutan yang biasa dipergunakan dalam sebuah titrasi. Warna ini
dipergunakan untuk mengindikasikan kelebihan reagen tersebut.
Permanganat mengalami beragam reaksi kimia, karena Mangan(Mn) dapat
dalam kondisi +2, +3, +4, +6, +7. Reaksi yang paling umum ditemukan dalam
laboratorium adalah reaksi yang terjadi dalam larutan-larutan yang bersifat asam 0,1 N
atau lebih besar :
MnO
4
-
+ 8H
+
+ 5e
-
Mn
2+
+ 4H
2
O E
o
= +1,51 V

Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan reaksi ini,
namun beberapa substansi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah katalis
untuk mempercepat reaksi. Permanganat adalah agen unsur pengoksidasi yang cukup
kuat untuk mengoksidasi Mn (II) menjadi MnO
2
sesuai dengan persamaan (Day, R.A dan
Underwood, 2001) :
3Mn
2+
+ 2MnO
4
-
+ 2H
2
O 5 MnO
2(s)
+ 4H
+

Penetapan kadar zat dengan permanganometri dapat dilakukan ddalam suasana asam
/ basa atau netral. Metode Asam digunakan apabila dalam sampel mengandung ion Cl
kurang dari 300 ppm, reaksinya :
2 KMnO
4
+ 2 H
2
SO
4
K
2
SO
4
+ 2 MnSO
4
+ 2 H
2
O
Metode Basa digunakan apabila dalam air mengandung ion Cl lebih besar dari 300
ppm, reaksinya :
2 KMnO
4
+ H
2
O 2 MnO
2
+ 2 KOH
(Ana dan Yusrin, 2010)



E. Standarisasi KMnO
4

Kalium Permanganat bukanlah standar primer. Sangat sukar untuk
mendapatkan pereaksi ini dalam keadaan murni, bebas sama sekali dari mangan
dioksida.Apa lagi, air yang dipakai sebagai pelarut sangat mungkin masih mengandung
zat pengotor lain yang dapat mereduksi Permanganat menjadi Mangan
dioksida (MnO
2
). Adanya zat ini sangatlah mengganggu, karena akan mempercepat
penguraian dari larutan permanganat setelah didiamkan.
Reaksi Penguraian :
4MnO
4
-
+ 2H
2
O 4MnO
2-

+ 3O
2-
+ 4OH
-
Permanganat merupakan oksidasi yang cukup kuat untuk mengoksidasi Mn(II) menjadi
MnO
2
menurut persamaan :
2MnO
4
-
+ 3Mn
2
+
+ 2H
2
O 5MnO
2
+ 4H
+

Reaksi ini lambat dalam larutan asam, tetapi sangat cepat dalam larutan netral.
Larutan Kalium Permanganat(KMnO
4
) dapat distandarisasikan dengan
menggunakan arsen (III) oksida atau Natrium Oksalat sebagai larutan standar
primer,larutan standar sekunder meliputi besi logam, dan besi (II) etilenadiamonium
sulfat ( etileradiamina besi (II) sulfat), FeSO
4
, C
2
H
4
(NH
3
)
2
SO
4
, 4H
2
O (Basset, J. dkk,
1984 : 212).
Larutan KMnO
4
standar dapat juga digunakan secara tidak langsung dalam
penetapan zat pengoksida, terutama oksida yang lebih tinggi seperti logam timbal dan
mangan, oksida semacam itu sukar dilarutkan dalam asam atau basa tanpa mereduksi
logam itu ke keadaan yang lebih tinggi. Tidak praktis untuk menitrasi zat ini secara
langsung karena reaksi dari zat padat dengan zat pereduksi berjalan lambat (Day, R. A
dan Underwood, 2001).
Oleh karena itu sampel diolah dengan kuantitasnya yang berlebih diketahui
sesuatu zat peruduksi dan dipanasi agar reaksi lengkap. Kemudian kelebihan zat
pereduksi dititrasi dengan Permanganat standar. Berbagai zat pereduksi dapat digunakan
seperti AS
2
O
3
dan N
2
C
2
O
4
. Analisis pirolusit, atau bijih yang mengandung
MnO
2
merupakan latihan yang lazim bagi mahasiswa. Reaksi MnO
2
dengan HASO
2
:
MnO
2(s)
+ HASO
2
+ 2H
+
Mn
2+
+ H
3
AsO
4

Dalam larutan yang bersifat basa, KMnO
4
agar mudah mengoksidasi ion-ion iodida,
sionida, tiosianat, dan beberapa senyawa organik dioksidasi oleh kalium permanganat
menjadi oksalat, bukan menjadi karbondioksida (Rivai, 1995).
Larutan baku KMnO
4
dibuat dengan melarutkan sejumlah Kalium Permanganat
dalam air, mendidihkannya selama delapan jam atau lebih, kemudian saring endapan
MnO
2
yang terbentuk, lalu dibakukan dengan zat baku utama. Zat baku utama yang
lazim dipakai adalah Natrium Oksalat. Reaksi yang terjadi pada proses pembakuan
tersebut adalah sebagai berikut :
5C
2
O
4
2-
+ 2MnO
4
2-
+ 16H
+
2Mn
2+
+ 10CO
2
+ 8H
2
O
Titik titrasi akhir ditandai dengan timbulnya warna merah muda yang disebabkan oleh
kelebihan Permanganat (Rivai, 1995).
Standarisasi larutan Kalium permanganat dapat dilakukan dengan senyawa
Natrium Oksalat (Na
2
C
2
O
4
) yang juga merupakan standar primer yang baik untuk
permanganat dalam larutan asam. Senyawa ini mempunyai derajat kemurnian yang
tinggi, stabil pada pengeringan dan tidak mudah menguap. Reaksi dengan Permanganat
agak rumit, dan meskipun telah banyak penyelidikan, mekanisme yang eksak masih
belum jelas. Reaksi itu lambat pada temperatur kamar dan karenanya biasanya larutan
dipanaskan yaitu pada suhu sekitar 60
o
C (Day, R. A dan Underwood, 2001).
Penetapan titrimetrik terhadap Kalsium dalam batu kapur seringkali digunakan
sebagai latihan mahasiswa.Kalsium diendapkan sebagai Kalsium Oksalat (CaC
2
O
4
).
Setelah disaring dan dicuci, enadapan dilarutakn dalam Asam Sulfat dan Oksalatnya
dititrasi dengan Permanganat.Prosedur ini lebih cepat dibandingkan prosedur
Gravimetri (Day, R. A dan Underwood, 2001).

F. Analisis Bahan
1. Kalium Permanganat ( KMnO
4
)
Sifat Fisika Sifat Kimia
1. Berat molekul : 197,12 g/mol.
2. Titik didih : 32,350C
3. Titik beku : 2,830C.
4. Bentuk : Kristal berwarna
ungu-kehitaman
5. Densitas : 2,7 kg/L pada 20C
1. Larut dalam metanol.
KMnO
4
+ CH
3
OH CH
3
MnO
4
+ KOH
2. Mudah terurai oleh sinar.
4KMnO
4
+ H
2
O 4 MnO
2
+ 3O
2
+4KOH
3. Dalam suasana netral dan basa akan tereduksi
menjadi MnO
2
.
4KMnO
4
+ H
2
O 4 MnO
2
+ 3O
2
+4KOH
4. Kelarutan dalam basa alkali berkurang jika
volume logam alkali berlebih.
5. Merupakan zat pengoksidasi yang kuat.
6. Bereaksi dengan materi yang tereduksi dan
mudah terbakar menimbulkan bahaya api dan
ledakan.
(Mulyono,2005)
2. Natrium Oksalat (Na
2
C
2
O
4
)
Sifat Fisika Sifat Kimia
1. Berat molekul : 134 g/mol.
2. Bentuk : Kristal berwarna
putih
3. Densitas : 2,34 g/cm
3

4. Kelarutan dalam air : 3,7
g/100mL pada 20C
5. Tidak larut dalam etanol
1. Hasil reaksi dari asam oksalat dengan natrium
hidroksida
H
2
C
2
O
4
+ 2NaOH Na
2
C
2
O
4
+ 2H
2
O
2. Bersifat toksik
3. Merupakan standar primer

6. Asam Sulfat (H
2
SO
4
)
Sifat Fisika Sifat Kimia
1. Berat molekul : 98 g/mol
2. Titik didih : 315-338 C
3. Titik lebur : 10 C
4. Bentuk : Cairan Kental tak
berwarna
5. Densitas : 1,8 kg/L pada 40C
1. Merupakan asam kuat.
2. Bersifat korosif.
3. Memiliki afinitas yang sangat besar terhadap air.
4. Bersifat sangat reaktif.
5. Merupakan asam bervalensi dua.
6. Diperoleh dari reaksi SO
3
dengan air.
SO
3
+ H
2
O H
2
SO
4


7. Besi (Fe)
Sifat Fisika Sifat Kimia
1. Berat molekul : 55,847 g/mol.
2. Titik leleh : 1537C.
3. Titik didih : 3000C.
1. Derajat keasamannya meningkat sebanding
dengan peningkatan bilangan oksidasinya.
2. Tingkat hidrolisis besi meningkat sebanding
4. Bentuk : Padatan berwarna putih
abu-abu
5. Densitas : 7,874 kg/L pada 20 C
6. Fase padat.
7. Berwarna metalik mengkilap
keabu-abuan.
8. Termasuk dalam golongan logam
transisi.
dengan peningkatan bilangan valensinya.
3. Pada temperatur kamar, besi bersifat sangat
stabil.
4. Tidak larut dalam asam nitrat.
5. Larut dalam larutan natrium hidroksida
panas.
6. Konfigurasi elektronnya adalah 3d6 4s2.

(Mulyono,2005)
8. Air (H
2
O)
Sifat Fisika Sifat Kimia
1. Berat molekul : 18.0153 g/mol
2. Titik leleh : 0C
3. Titik didih : 100C
4. Berat jenis : 0.998 gr/cm
3

5. Berupa cairan yang tidak
berwarna dan tidak berbau.
6. Memiliki gaya adhesi yang kuat.
1. Memiliki keelektronegatifan yang lebih kuat
daripada hidrogen.
2. Merupakan senyawa yang polar.
3. Memiliki ikatan van der waals dan ikatan
hidrogen.
4. Dapat membentuk azeotrop dengan pelarut
lainnya.
5. Dapat dipisahkan dengan elektrolisis
menjadi oksigen dan hidrogen.
6. Dibentuk sebagai hasil samping dari
pembakaran senyawa yang mengandung
hidrogen.

III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
1. Erlenmeyer
2. Neraca listrik
3. Corong saring
4. Buret
5. Gelas ukur
6. Pipet Volum
7. Pemanas
B. Bahan
1. KMnO
4

2. H
2
SO
4
encer
3. Aquades
4. Larutan Sampel

IV. CARA KERJA
A. Standarisasi larutan KMnO
4
dengan natrium oksalat



Penambahan 250 mL aquades
Penambahan H
2
SO
4
pekat 12,5 mL
Pemanasan sampai suhu 70C
Penitrasian dengan KMnO
4

Pencatatan volume



B. Menentukan Ion Ferro


Penambahan H
2
SO
4
25 mL
Titrasi dengan KmnO
4
0,1 N




V. DATA PENGAMATAN
A. Standarisasi larutan KMnO
4
dengan Natrium Oksalat
Volume KMnO
4
(mL)
V rata-rata

Pengamatan Percobaan 1 Percobaan 2 Percobaan 3

4

4

4,1

4,03
Terjadi perubahan
wana dari bening
ungu muda coklat



Timbang 0,3 gram Na-oksalat dimasukkan dalam gelas beker
Hasil
25 mL larutan sampel dimasukkan dalam gelas beker
Hasil
B. Menentukan Ion Ferro
Volume KMnO
4
(mL)
V rata-rata

Pengamatan Percobaan 1 Percobaan 2 Percobaan 3

5,9

5,9

5,7

5,83
Terjadi perubahan
wana dari kuning
merah muda

VI. ANALISIS DATA
A. Standarisasi larutan KMnO4 dengan Natrium Oksalat
Persamaan reaksi :
5 Na
2
C
2
O
4
+ 2 KMnO
4
+ 8 H
2
SO
4
2 MnSO
4
+ K
2
SO
4
+ 5 Na
2
SO
4
+ 8H
2
O + 10 CO
2
5 C
2
O
4
2-

+ 2 MnO
4
-

+ 8H
+
2 Mn
2+
+ 10 CO
2
+ 8 H
2
O
C
2
O
4
2-
2CO
2
+ 2e
Berat ekivalen (BE) Na
2
C
2
O
4
= mol = BM = . 134 = 67


1. Menghitung Normalitas Na
2
C
2
O
4











2. Mengitung Normalitas KMnO
4

Miligrek Na
2
C
2
O
4
= miligrek KMnO
4

V
1
. N
1
= V
2
. N
2

25 mL x 0,018 = 4,03 mL x N
2

N
2
= 0,1 N

Normalitas KMnO
4
= 0,1 N

C. Menentukan Ion Ferro
Persamaan reaksi :
MnO
4
-
+ 8H
+
+ 5e Mn
2+
+ 4H
2
O x 1
Fe
2+
Fe
3+
+ 1e x 5
MnO
4
-
+ 8H
+
+ 5e Mn
2+
+ 4H
2
O
5Fe
2+
5Fe
3+
+ 5e
MnO
4
-
+5Fe
2+
+ 8H
+
Mn
2+
+ 5Fe
3+
+ 4H
2
O

Dalam 25 mL larutan :
V
1
. N
1
= V
2
. N
2

Miligrek Fe = miligrek KMnO
4
= 5,83 mL x 0,1 N
= 0,583 mgrek
Miligram Fe = BE Fe x mgrek Fe
= 56 x 0,583
= 32,648 mg
= 32,648 . 10
-3
g

Dalam 1000 mL larutan :




Berat sampel = 10 gram dalam 1L larutan = 10000 mg

Persen Fe dalam sampel








Jadi, berat Fe dalam 1L larutan adalah 1305,92 mg dengan kadar 13,0592%

VII. PEMBAHASAN
Percobaan analisis kuantitatif dengan metode titrasi permanganometri ini
bertujuan untuk melakukan standarisasi larutan permanganat, menentukan kadar besi
sebagai besi(II) dan untuk memahami reaksi-reaksi reduksi dan oksidasi dengan kalium
permanganat.
A. Standarisasi Larutan Kalium Permanganat dengan Natrium Oksalat
Titrasi permanganimetri adalah titrasi dengan menggunaka larutan kalium
permanganat yang berwarna ungu. Kalium permanganat merupakan zat baku sekunder
karena kalium permanganat tidak stabil, mudah terurai oleh cahaya dan mudah terurai
oleh zat organik membentuk MnO2. Reaksi kalium permanganat dengan zat organik
terbilang sangat lambat sehingga ketika membuat larutan kalium permanganat harus
dipanaskan dan disaring dengan glaswol atau kacamasir, pemanasan berfungsi
mempercepat reaksi permanganat dengan zat organik membentuk MnO2 yang
mengendap berwarna coklat berbentuk koloid (seperti lumpur) sehingga dalam
pembuatannya ketika setelah dipanaskan harus disaring terlebih dahulu agar bebas dari
MnO2 ini. Jika didalam larutan KMnO4 masih terdapat MnO2 maka konsentrasi
permanganat seiring berjalannya waktu makin berkurang (terurai). Oleh karenanya perlu
dilakukan standarisasi berkala.
Pada saat titrasi yang melibatkan kalium permanganat sebaiknya digunakan alat
gelas (buret, botol penyimpanan larutan) yang berwarna gelap, karena dikhawatirkan
kalium permanganat yang sedang digunakan, terurai oleh cahaya, sehingga apabila tidak
ada botol ataupun alat gelas yang gelap, sebaiknya digunakan penutup ( bisa berupa
alumunium foil ataupun plastik hitam) untuk membungkus alat gelas bening tersebut
agar kedap cahaya.
Dalam praktikum ini zat yang akan dititar adalah KMnO
4
yang bersifat
oksidator sehingga tidak memerlukan indikator dalam proses titrasinya. Umumnya titrasi
larutan KMnO
4
menggunakan larutan yang tidak berwarna karena KMnO
4
sendiri sudah
berwarna violet. Titrasi permanganometri harus dalam suasana asam kuat sehingga harus
digunakan H
2
SO
4
sebagai pengasamnya. Hal ini dilakukan karena jika tidak berada
dalam suasana asam kuat maka perubahan warna KMnO
4
tidak akan terlihat.
Dalam percobaan ini natrium oksalat merupakan standar primer yang baik untuk
permanganat dalam larutan asam karena telah memenuhi kriteria sebagai larutan standar
primer. Sebelum melakukan pembakuan larutan KMnO
4
dengan NaC
2
O
4
praktikan harus
menambahkan H
2
SO
4
ke dalam NaC
2
O
4
pada saat penambahan terjadi reaksi :
2Na
+
+ C
2
O
4
2-
+ 2H
+
+ SO
4
2-
H
2
C
2
O
4
+ 2Na
+
+ SO
4
2-

Pengasaman larutan dengan H
2
SO
4
karena tidak akan menghasilkan reaksi samping,
Pengasaman dengan HCl tidak dapat digunakan karena ion Cl
-
dalam HCl dapat
teroksidasi menjadi Cl
2
, sehingga akan menyebabkan kesalahan titrasi karena dibutuhkan
volume KMnO
4
yang lebih banyak. Fungsi penambahan H
2
SO
4
adalah sebagai pendonor
H
+
, membuat larutan dalam suasana asam dan juga melepas oksigen dari C
2
O
4
agar
bilangan oksidasinya turun, sehingga Na
2
C
2
O
4
lebih mudah bereaksi dengan KMnO
4
.
Selain itu fungsi penambahan H
2
SO
4
adalah untuk mengubah natrium oksalat menjadi
asam oksalat dan juga untuk menurunkan energi aktivasinya. Penambahan H
2
SO
4
juga
berfungsi sebagai katalis untuk mempercepat reaksi.
Natrium oksalat merupakan senyawa organic yang bereaksi lambat dengan
kalium permanganat, sehingga dalam proses titrasinya harus dalam keadaan panas, agar
kita lebih mudah melakukan titrasi dan mencegah kesalahan penentuan Titik Akhir yang
diakibatkan oleh lamanya reaksi antara natrium oksalat dan kalium permanganat.
Pemanasan biasanya dilakukan pada suhu 70-80
o
C agar reaksi yang terjadi dapat bejalan
dengan cepat. Walaupun dengan temperatur yang dipertinggi reaksi mulai dengan
perlahanm, namun kecepatannya meningkat ketika ion mangan (II) terbentuk. Ion ini
dapat memberikan efek kinetiknya dengan cara bereaksi cepat dengan permangannat
untuk memberikan mangan. Reaksi yang terjadi antara oksalat dengan permanganat
adalah :
5C
2
O
4
2-
+ 2MnO
4
-
+ 16H
+
2Mn
2+
+ 10CO
2
+ 8H
2
O
Pada saat titrasi, larutan mengalami perubahan warna yang semula bening
menjadi warna pink. Hal ini menunjukan bahwa larutan tersebut telah mencapai titik
ekivalen dan berakhirnya titrasi dimana larutan KMnO
4
sebagai titran jumlah molnya
sama dengan jumlah mol pada titrat. Terjadinya perubahan warna karena MnO
4
-
(larutan
ungu) tereduksi oleh Na
2
C
2
O
4
menjadi Mn
2+
(merah muda). Volume rata-rata titrannya
adalah 4,03 mL dan berdasarkan perhitungan normalitas KMnO
4
sebesar 0,1 N.

B. Menentukan Ion Ferro dalam Sampel
Banyaknya besi dari larutan sampel dihitung dari volume larutan KMnO
4
yang
diperlukan untuk titrasi yang sudah diketahui normalitasnya. Dalam percobaan ini,
sampel yang digunakan adalah sampel garam mohr dengan rumus kimia (NH
4
)
2
Fe(SO
4
)
2

atau sering kita sebut sebagai ferro amonium sulfat, karena besi sangat mudah di oksidasi
menjadi Fe
3+
sehingga digunakan larutan kalium permanganat sebagai standar. Pada
sampel yang digunakan (garam mohr) yang seharusnya berwarna hijau kebiruan, terdapat
warna kuning, ini membuktikan bahwa sebagian besi II dalam garam mohr tersebut
sudah teroksidasi menjadi Besi III, sehingga ketika dilarutkan kedalam labu ukur pun,
warna sampel menjadi lebih kuning semu hijau.
Larutan sampel digunakan sebagai titrat dan KMnO
4
sebagai titran. Sebanyak
25 mL sampel ditambah 25 mL H
2
SO
4
1 N. Dalam titrasi permanganometri titrasi harus
dilakukan dalam suasana asam. Oleh karena itu, digunakan asam kuat yang dapat
mengionisasi sempurna dan dapat berfungsi untuk menciptakan suasana asam yang stabil
bukan sebagai indikator karena KMnO
4
bersifat autoindikator. Dalam hal ini dipilih asam
sulfat (H
2
SO
4
) sebagai pencipta suasana asam yang paling baik dan juga berfungsi
mengikat air yang akan dipanaskan supaya menguap.
Selain itu penambahan asam sulfat bertujuan agar KMnO
4
tereduksi menjadi
Mn2+, karena apabila dalam suasana netral atau basa, KMnO
4
akan tereduksi menjadi
endapan MnO
2
yang berwarna coklat sehingga dapat mengganggu pengamatan.
Persamaan reaksinya sebagai berikut :
Suasana asam : MnO
4
-
+ 8H
+
+ 5e Mn
2+
+ 4H
2
O
Suasana netral (pH 4-10) : MnO
4
-
+ 4H+ + 3e MnO
2
+ 2H
2
O
Suasana basa : MnO
4
-
+ 2H
2
O + 3e MnO
2
+ 4OH
-
(Svehla, 1990)
Pada saat titrasi sampel, KMnO
4
berfungsi mengoksidasi ion Fe
2+
menjadi Fe
3+
,
sedangkan KMnO4 sendiri mengalami reaksi reduksi dari Mn
7+
menjadi Mn
2+
, dengan
reaksi (Harjadi,W : 1990) :
MnO
4
-
+ 8H
+
+ 5e Mn
2+
+ 4H
2
O
Fe
2+
Fe
3+
+ 1e
Persamaan reaksi setaranya : MnO
4
-
+5Fe
2+
+ 8H
+
Mn
2+
+ 5Fe
3+
+ 4H
2
O
Titrasi tidak menggunakan indikator karena KMnO4 merupakan autoindikator
(self indicator) yang berupa larutan berwarna ungu sehingga pada saat titrasi perubahan
warna pada sampel dapat dengan mudah diamati. Pada saat titrasi penentuan kadar besi II
tidak perlu dilakukan pada suhu panas, karena reaksi oksidasi pada besi oleh kalium
permanganat berlangsung secara cepat. Sehingga tidak perlu katalis ataupun pemanasan
untuk mempercepat reaksi.
Titrasi dilakukan dari mulai kuning bening, hingga berwarna pink semu (hampir
tidak terlihat) karena dalam titrasi pada saat Titik Akhir merupakan akibat dari kelebihan
sedikit titran setelah titik ekuifalen, yang merupakan kesalahan titrasi, oleh karena itu
untuk mendapatkan kesalahan yang sesedikit mungkin, maka kelebihan titran juga harus
sesedikit mungkin, yang ditandai dengan perubahan warna dari yang tadinya tidak
berwarna menjadi berwarna rose pucat.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh volume rata-rata yang
digunakan untuk titrasi sebanyak 5,83 mL. Dari data volume ini kita bisa mencari
miligrek besi sehingga dapat diperoleh massa besi yaitu 32,648 mg. Berdasarkan
perhitungan, berat Fe dalam 1L larutan adalah 1305,92 mg dengan kadar 13,0592%.





VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulakn sebagai berikut :
1. Standarisasi larutan kalium permanganat dengan natrium oksalat diperoleh hasil
normalitas kalium permanganat sebesar 0,1 N.
2. Berat besi(II) dalam sampel yang diperoleh sebesar 1305,92 mg dengan kadar
13,0592%
3. Permanganometri merupakan titrasi reduksi oksidasi dengan menggunakan larutan
baku permanganat.

DAFTAR PUSTAKA
Ana Hidayati M, dan Yusrin, 2010, Pengaruh Lama Waktu Simpan Pada Suhu Ruang (27-
29C) Terhadap Kadar Zat Organik Pada Air Minum Isi Ulang, Jurnal Penelitian
ISBN 978.979.704.883.9, Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang
Basset, J., Denney, R.C., Jeffery, G.H. dan Mendham, J., 1979, Text Book of Quantitative
Inorganic analysis Including Elementary Instrumental Analysis, Edisi Keempat,
Longman Group Limited, London
Day,R.A. dan A.L. Underwood, 1993, Analisa Kimia Kuantitatif Edisi ke-4, Erlangga,
Jakarta
Didik Setiyo W, Hastuti R, dan Gunawan, 2002, Bahan Ajar Analisis Kuantitatif, Jurusan
Kimia FMIPA UNDIP, Semarang
Erik Prasetyo, Fika R.Myfakhir, 2011, Redox titration of iron using methylene blue as
indicator and its application in ore analysis, Asian Transactions on Basic & Applied
Sciences (ATBAS ISSN: 2221-4291) Volume 01 Issue 05, Bandar Lampung
Harjadi,W. 1990, Ilmu Kimia Analitik Dasar, Gramedia, Jakarta
Hiskia Achmad, 1996, Kimia Larutan, Citra Aditya Bakti, Bandung
K.B. Vinay, 2009, Permanganometric Determination Of Etamsylate In BulkDrug And In
Tablets, Chemical Industry & Chemical Engineering Quarterly 15(3) 149 157 UDC
543.42:66.09:54:615:661.12 Department of Chemistry, University of Mysore, India
Mulyono,HAM. 2005. Kamus Kimia Cetakan ke-3, Bumi aksara, Jakarta
Rivai, 1995, Asas Pemeriksaan Kimia.UI-Press, Jakarta
Svehla,1990, Vogel:Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I.
Kalman Media Pustaka, Jakarta



Lampiran
Jawaban Pertanyaan
1. Cara menentukan gram ekivalen reaksi oksidasi reduksi :
Gram ekivalen (Berat Ekivalen = BE) merupakan jumlah gram zat untuk
mendapatkan satu muatan.



2. Zat yang dapat dititrasi dengan cara permanganometri yaitu
3. Larutan standar permanganat tidak dapat dibuat dengan penimbangan tepat karena
permanganat tidak murni yaitu mengandung beberapa hasil reduksi seperti MnO2,
mudah terurai oleh zat pereduksi-amonia, zat organik yang masuk ke air dalam bentuk
debu sehingga konsentrasi larutan KMnO4 akan berkurang setelah pembuatan.
Larutan KMnO4 distandarisari beberapa hari stelah pembuatan karena selawa waktu
penyimpanan tersebut, zat pereduksi yang ada dalam larutan akan teroksidasi semua.
4. Pada pembuatan larutan KMnO4, larutan harus disaring dengan menggunakan glass
wool bukan kertas saring karena suapa larutan KMnO4 stabil dan konsentrasinya
tidak berubah. Penggunaan kertas saring tidak dianjurkan karena kertas saring akan
teroksidasi oleh permanganat.
5. Endapan MnO2 harus dipisahkan dari larutan permanganat karena endapan MnO2 ini
berwana coklat sehingga dapat mengganggu pengamatan.
Larutan KMnO4 harus disimpan dalam wadah berwarna gelap karena cahaya akan
mempercepat dekomposisi KMnO4 dengan reaksi sebagai berikut :
4KMnO
4
+ 2H
2
O 4MnO
2
+ 4KOH + 3O
2

6. Natrium oksalat lebih baik daripada asam oksalat sebagai standar primer untuk titrasi
permanganat karena natrium oksalat lebih mudah dimurnikan dengan rekristalisasi
dengan air dan pengeringan pada 240-250C, tidak higroskopis, tidak mengandung air
kristal dan tidak berubah dlam penyimpanan.
7. Selama titrasi asam oksalat, beberapa tetesan pertama larutan permanganat berubah
secara lambat dan setelah itu berlangsung cepat karena pada penambahan tetesan
pertama belum terbentuk Mn
2+
sedangkan pada penambahan tetesan titrasi
selanjutnya warna merah hilang semakin cepat karena ion mangan(II) yang terjadi
berfungsi sebagai katalis, katalis untuk mempercepat reaksi.
8. Diketahui : berat sampel = 0,1400 g = 140 mg
V KMnO
4
= 24,85 mL
N KMnO
4
= 0,1 N
Ditanya : % Fe dalam sampel
Jawab :
miligrek Fe = miligrek KMnO
4

= V . N
= 24,85 mL x 0,1 N
= 2,485 mgrek

mgram Fe = BE Fe x mgrek
= 56 x 2,485
= 139,16 mgram
% Fe =



=



= 99,4%
Jadi % Fe dalam sampel sebesar 99,4%

9. Prinsip analisis nitrit secara permanganometri adalah berdasarkan reaksi :
5NO
2
-
+ 2MnO
4
-
+ 6H
+
5NO
3
-
+ 2Mn
2+
+ 3H
2
O
Karena oksidasi ion, maka dapat ditulis : NO
2
-
+ H
2
O NO
3
-
+ 2H
+
+ 2e
Sehingga 1 grek NO
2
-
= mol
Nitrit siap terurai oleh asam membentuk nitrogen oksida :
NO
2
-
+ 2H
+
2HNO
2
NO(g) + NO
2
(g) + H
2
O
Oleh karena itu, agar tidak terjadi kehilangan nitrit dlam penetapannya maka prosedur
titrasinya harus dibalik yaitu larutan permanganat yang sduah diasamkan dititrasi
dengan larutan nitrit netral sehingga nitrit akan teroksidasi langsung menjadi nitrat
dan tidak terbentuk nitrogen oksida.
10. Prinsip penentuan ferri dengan permanganometri :
Garam ferri tidak dapat teroksidasi oleh permanganat, sehingga dalam penentuannya
harus direduksi dulu menjadi ferro dengan menggunakan reduktor seperti H2S,
berbagai metal, amalgam dan larutan SnCl
2
.
Jika digunakan SnCl
2
: 2FeCl
3
+ SnCl
2
2FeCl
2
+ SnCl
4

Kelebihan SnCl
2
harus dihilangkan karena SnCl
2
juga dioksidasi oleh KMnO
4
.
Penghilangannya dengan HgCl
2
, dengan reaksi :
SnCl
2
+ 2HgCl
2
SnCl
4
+ Hg
2
Cl
2
(endapan)
Pada percobaan tidak boleh menggunakan SnCl
2
dengan volume besar karena akan
membutuhkan volume KMnO
4
yang besar juga. Kelebihan SnCl
2
harus sesedikit
mungkin yaitu secara tetes demi tetes sampai warna kuning dari FeCl
3
hilang, agar
kesalahan titrasinya kecil dan hasilnya lebih akurat.
11. Pada penetapan kalsium secara permanganometri, endapan kalsium oksalat yang
terjadi harus dicuci karena untuk menghilangkan ion oksalat sehingga dapat
ditentukan massa encapan Ca yang terbentuk.
12. Keuntungan dan kekurangan KMnO
4
dan K
2
Cr
2
O
7
sebagai zat pengoksidasi :
Keuntungan KMnO
4
:
- Merupakan oksidator kuat
- Dapat digunakan sebagai desinfektan dan digunakan dalam laboratorium untuk
menganalisis kadar besi dalam baja dengan mengoksidasi ion Fe
2+
.
- Mudah diperoleh, tidak mahal, dan tidak memerlukan suatu indikator
Kekurangan KMnO
4
:
- Merupakan standar sekunder sehingga harus distandarisasi terlebih dahulu
- Preparasainya lebih rumit karena mudah terdekomposisi menjadi MnO
2

Keuntungan K
2
Cr
2
O
7
:
- Tidak mahal dan dapat diperoleh dalam bentuk cukup murni untuk pembuatan
larutan standar secara langsung
- Berat ekivalen cukup tinggi, tidak higroskopis, berwujud padatan dan larutannya
sangat stabil
Kekurangan K
2
Cr
2
O
7
:
- Daya oksidatornya lebih lemah dibandingkan dengan KMnO
4

- Hanya bisa digunakan dalam larutan asam
13. Indikator yang digunakan dalam reaksi redoks antara lain :
a. Indikator redoks revesibel, contohnya Kompleks Fe(II) ortofenentrolin serta
Difenilamin dan turunannya
b. Indikator redoks irreversibel, indikator ini digunakan pada titrasi
Bromatometri. contohnya Methyl Red (MR) dan Methyl Orange (MO).
c. Indikator Redoks Khusus (Tidak terpengaruh Potensial redoks). Indikator ini
dipakai pada Iodometri dan Iodimetri, indikator yang biasa digunakan adanya
Amylum dan Chloroform.