Anda di halaman 1dari 4

Embriologi Payudara

Payudara merupakan kelenjar keringat yang mengalami modifikasi dan berkembang lebih
kompleks pada wanita dan rudimenter pada pria. Proses perkembangan dimulai pada janin
berumur 6 minggu dimana terjadi penebalan lapisan epidermis pada bagian ventral, superfisial
dari fasia pektoralis serta otototot pektoralis mayor dan minor. Penebalan yang terjadi pada
venteromedial dari region aksila sampai ke regio inguinal menjadi milk lines dan selanjutnya
pada bagian superior berkembang menjadi puting susu dan bagian lain menjadi atrofi.
Anatomi , Fisiologi dan Histologi
Setiap payudara terdiri dari 12 sampai 20 lobulus kelenjar tubuloalveolar yangmasing-masing
mempunyai saluran ke puting susu yang disebut duktus laktiferus. Diantara kelenjar susu dan
fasia pektoralis serta diantara kulit dan kelenjar payudara terdapat jaringan lemak. Diantara
lobulus terdapat ligamentum Cooper yang memberi rangka untuk payudara. Setiap lobulus terdiri
dari sel-sel asini yang terdiri dari sel epitel kubus dan mioepitel yang mengelilingi lumen. Sel
epitel mengarah ke lumen, sedangkan sel mioepitel terletak diantara sel epitel dan membran
basalis.Perdarahan payudara terutama berasal dari cabang a. perforantes anterior dari a.
mammaria interna. Persarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n.
interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri diurus oleh saraf simpatik.
Aliran limfe dari payudara sekitar 75% menuju ke aksila, sisanya ke kelenjar parasternal dan
interpektoralis.Secara fisiologis, payudara mengalami berbagai perubahan yang dipengaruhi oleh
hormonal. Pada saat pubertas, estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh ovarium dan
pengaruh hipofisa anterior menyebabkan berkembangnya duktus dan asinus. Sesuai dengan
siklus menstruasi, terjadi peningkatan estrogen dan progesteron sehingga terjadi proliferasi sel
dan retensi cairan. Pada saat kehamilan, terjadi proliferasi sel akibat pengaruh estrogen,
progesteron, laktogen plasenta dan prolaktin. Pada saat menyusui terjadi peningkatan produksi
prolaktin dan penurunan estrogen dan progesteron, sedangkan pada saat menopause terjadi
involusi payudara diikuti dengan berkurangnya jumlah kelenjar.


Papiloma
Papiloma intraduktal adalah benjolan jinak yang biasanya soliter (satu) dan biasanya ditemukan
pada kelenjar utama dekat puting pada lokasi subareolar (sekitar puting). Papiloma intraduktal
sering terjadi pada dekade ke-4. Wanita tersebut dapat mengeluhkan keluarnya cairan berupa
darah dari salah satu payudara tanpa terabanya massa atau benjolan di payudara. Penyebab
tersering hal tersebut adalah papiloma intraduktal. Benjolan yang ada tidak teraba karena
biasanya berukuran < 5 mm. Mammografi sebaiknya dilakukan untuk menyingkirkan keganasan
karena biasanya keganasan memiliki gejala keluarnya darah dari puting.

CA MAMMAE
Ca mamae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya onkogen yang menyebabkan
sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudara (Karsono, 2006). Ca mammae merupakan
umor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa tumbuh di dalam kelenjar
susu, saluran susu, jaringan lemak, maupun jaringan ikat pada payudara (Wijaya, 2005).
Etiologi Ca Mammae
Berkembangnya suatu kanker payudara pada umumnya berhubungan dengan faktor hormonal
dan genetik (riwayat keluarga). Secara sporadik, kanker payudara berhubungan dengan paparan
dan secara herediter berhubungan dengan mutasi germ-line.
1. Herediter
Ditemukan 13% kanker payudara terjadi secara herediter pada garis pertama keturunan, hanya
sekitar 1 % yang diakibatkan oleh multifaktor dan mutasi germline. Sekitar 23 % kenker
payudara terjadi secara familial (atau 3% dari seluruh kanker payudara) hal ini diakibatkan
dengan BRCA1 dan BRCA2 probabilitas terjadinya kanker yang berhubungan dengan mutasi
gen ini meningkat jika terjadi pada garis pertama keturunan. Penderita terkena sebelum
menopause dan atau dengan kenker multiple, atau pada pria dengan kanker payudara dan jika
pada anggota keluarga menderita kanker ovarium.
Secara herediter, penyebab terjadinya mutasi multifaktorial dan pada umumnya antar faktor ini
saling mempengaruhi. Perubahan terjadi pada salah satu dari gen dan sekian banyak gen yang
dapat mencetuskan suatu transformasi malignan didukung oleh faktor lain.
2. Gen BRCA1 dan BRCA2
Pada kanker payudara ditemukan dua gen yang bertanggung jawab pada dua pertiga kasus
kanker payudara familial atau 5 % secara keseluruhan, yaitu gen BRCA1 yang berlokasi pada
kromosom 17 (17q21) dan gen BRCA2 yang berlokasi pada kromosom 13q-12-13. Adanya
mutasi dan delesi BRCA1 yang bersifat herediter pada 85 % menyebabkan terjadinya
peningkatan resiko untuk terkena payudara 10 % secara nonherediter dan kanker ovarium.
Mutasi dari BRCA1 menunjukkan perubahan kearah karsinoma tipe medular, cenderung high
grade,, mitotik sangat aktif, pola pertumbuhan dan mempunyai prognosis yang buruk. Gen
BRCA2 yang berlokasi pada kromosom 13q melibatkan 70 % untuk terjadinya kanker payudara
secara herediter dan bukan merupakan mutasi sekunder dari BRCA1. Seperti halnya BRCA1,
BRCA2 juga dapat menyebabkan terjadinya kanker ovarium dan pada pria dapat meningkat
resiko terjadinya pada kanker payudara.
3. Mutasi Germline
Faktor genetik ditunjukkan dengan kecendrungan familial yang kuat. Tidak adanya pola
pewarisan menunjukkan bahwa insiden familial dapat disebabkan oleh kerja banyak gen atau
oleh faktor lingkungan serupa yang bekerja pada anggota keluarga yang sama. Pada penderita
sindroma Li-Fraumeni terjadi mutasi dari tumor suppressor gen p53. Keadaan ini dapat
menyebabkan keganasan pada otak dan kelenjer adrenal pada anak-anak dan kanker payudara
pada orang dewasa. Ditemukan sekitar 1 % mutasi p53 pada penderita kanker payudara yang
dideteksi pada usia sebelum 40 tahun.
4. Mutasi Sporadik
Secara mayoritas keadaan mutasi sporadik berhubungan dengan paparan hormon, jenis kelamin,
usia menarche dan menopause, usia reproduktif, riwayat menyusui dan estrogen eksogen.
Keadaan kanker seperti yang dijumpai pada wanita postmenopause dan overekspresi estrogen
reseptor. Estrogen sendiri mempunyai dua kemampuan untuk berkembangnya kanker payudara.
Metabolit estrogen pada penyebab mutasi atau menyebabkan perusakan DNA- radikal bebas.
Melalui aktivitas hormonal, estrogen dapat menyebabkan proliferasi lesi premaligna menjadi
suatu maligna. Sifat bergantung hormon ini berkaitan dengan adanya estrogen, progesterone dan
reseptor hormon steroid lain ini di sel payudara. Pada neoplasma yang memiliki reseptor ini
terapi hormon (antiestrogen) dapat memperlambat pertumbuhannya dan menyebabkan regresi
tumor.
5. HER2/neu
HER2/neu (c-erbB-2) merupakan suatu onkogen yang meng-encode glikoprotein transmembran
melalui aktivitas tirosin kinase, yaitu p185. Overekspresi HER2/neu dapat dideteksi melalui
pemeriksaaan imunohistokimia, FISH (Fluorencence In Situ Hybridization) dan CISH
(Chromogenic In Situ Hybridization). Suatu kromosom penanda (1q+) telah dilaporkan dan
peningkatan ekspresi onkogen HER2/neu telah dideteksi pada beberapa kasus. Adanya onkogen
HER2/neu yang mengalami amplikasi pada sel-sel payudara berhubungan dengan prognosis
yang buruk.
6. Virus
Diduga menyebabkan kanker payudara. Faktor susu Bittner adalah suatu virus yang
menyebabkan kanker payudara pada tikus yang ditularkan melalui air susu. Antigen yang serupa
dengan yang terdapat pada virus tumor payudara tikus telah ditemukan pada beberapa kasus
kanker payudara pada manusia tetapi maknanya tidak jelas.

repository.usu.ac.id