Anda di halaman 1dari 7

LEUKOPOESIS

1. Limfopoesis
Ada dua organ yang mengendalikan perkembangan limfosit, yaitu kelenjar timus dan
jaringan meyerupai jaringan bursa Fabricius yang terdapat dalam berbagai jaringan limfoid,
antara lain dalam sumsum tulang. Kelenjar timus mempengaruhi sel pendahulu untuk
membentuk limfosit T, sedangkan pembentukan limfosit B dipengaruhi oleh jaringan yang
menyerupai jaringan bursa diatas. Diferensiasi mencakup berbagai tahap diantaranya
pembentukan petanda permukaan (surface markers) dan perubahan antigen permukaan dan
sitoplasmik baik kuantitatif maupun kualitatif serta sifat-sifat fungsional limfosit. Limfosit T
berdiferensiasi menjadi limfosit T penolong (T4), limfosit penekan (T8) dan limfosit
sitotoksik atau T efektor; ketiganya berfungsi dalam respons imunologik seluler. Limfosit B
mempunyai potensi untuk berubah menjadi sel Plasma yang membentuk Imunoglobulin
sehingga dengan demikian limfosit B berperan dalam respons imunologik humoral. Dari sel
induk terbentuk juga populasi sel limfosit yang tidak memiliki petanda permukaan, disebut
sel pre-B atau sel null.
Limfoblast memiliki inti bulat berukuran besar dengan satu atau beberapa anak inti,
kromatin inti tipis rata dan tidak menggumpal. Sitoplasma sedikit dan berwarna biru.
Prolimfosit menunjukkan kromatin lebih kasar tetapi belum menggumpal seperti limfosit.
Kadang-kadang sulit membedakan limfoblast dari limfosit dan pada keadaan ragu-ragu
dianjurkan untuk menganggap sel itu sebagai limfosit.

2. Granulopoesis
Granulosit dan monosit dalam darah dibentuk dalam sumsum tulang dari suatu sel
prekursor yang sama. Di dalamnya, jenis sel ini terbagi dalam dua tahapan besar. Sel
progenitor, mieloblas, promielosit, dan mielosit membentuk sekumpulan sel mitotik atau
proliperatif; sedangkan metamielosit, granulosit batang dan segmen membentuk
kompartemen pematangan pasca mitosis.
1

Sejumlah besar netrofil batang dan segmen ditahan dalam sumsum tulang sebagai pool
persediaan atau kompartemen penyimpanan. Sumsum tulang biasanya mengandung lebih
banyak sel mieloid daripada eritroid dengan perbandingan 2:1 sampai 12:1, dengan proporsi
terbesar berupa neutrofil dan metamielosit. Pada keadaan stabil atau normal, kompartemen
penyimpanan sumsum tulang mengandung 10-15 kali dari jumlah granulosit yang ditemukan
dalam sel darah tepi.
1,2

Setelah pelepasannya dari sumsum tulang, granulosit hanya mengahabiskan waktu 6-
10 jam dalam darah sebelum pindah ke dalam jaringan tempat mereka melaksanakan fungsi
fagositiknya. Dalam aliran darah, terdapat dua kelompok yang biasanya berukuran hampir
sama, kelompok yang bersirkulasi dan kelompok yang di tepi. Diperkirakan netrofil rata-rata
menghabiskan waktu selama 4 hari dalam jaringan sebelum dirusak selama kerja pertahanan
atau akibat penuaan.

Setiap harinya, rata-rata orang dewasa menghasilkan 800.000 neutrofil, 170.000
eosinofil, dan 60.000 basofil. Proliferasi dan diferensiasi dari sel stem ini berada di bawah
pengaruh GCSF, GM-CSF, dan IL-5. Oleh karena itu, ketiga faktor ini memfasilitasi
perkembangan neutrofil, basofil, dan eosinofil. Selain itu, IL-1, IL-6, dan TNF-a merupakan
kofaktor yang dibutuhkan untuk sintesis dan pelepasan G-CSF dan GM-CSF. IL-5 juga
berperan pada aktivasi eosinofil.

Leukemia Limfositik Kronis (LLK)
LLK adalah suatu keganasan klonal limfosit B (jarang pada limfosit T). Perjalanan penyakit ini
biasanya perlahan, dengan akumulasi progresif yang berjalan lambat dari limfosit kecil yang berumur
panjang. (gambar a dan b. hapusan sumsum tulang dengan pewarnaan giemsa perbesaran 1000x).
LLK cenderung dikenal sebagai kelainan ringan yang menyerang individu yang berusia 50 sampai 70
tahun dengan perbandingan 2:1 untuk laki-laki.

A b
Gambar Leukemia Limfositik Kronik
LLK dimanifestasikan oleh proliferasi dan akumulasi 30% limfosit matang abnormal kecil dalam sumsum
tulang, darah perifer, dan tempat-tempat ekstramedular, dengan kadar yang mencapai 100.000+/mm3 atau
lebih. Pada lebih dari 90% kasus, limfosit abnormal adalah limfosit B dengan penanda CD19, CD20,
CD23, dan CD5. Karena limfosit B berperan dalam sintesis immunoglobulin, pasien dengan LLK
mengalami insufisiensi sintesis immunoglobulin dan penekanan respon antibodi


Gejala Klinis Leukemia Mielositik Akut
Gejala utama LMA adalah rasa lelah, perdarahan dan infeksi yang disebabkan oleh sindrom
kegagalan sumsum tulang. perdarahan biasanya terjadi dalam bentuk purpura atau petekia.
Penderita LMA dengan leukosit yang sangat tinggi (lebih dari 100 ribu/mm3) biasanya
mengalami gangguan kesadaran, sesak napas, nyeri dada dan priapismus. Selain itu juga
menimbulkan gangguan metabolisme yaitu hiperurisemia dan hipoglikemia.

Gambaran Laboratorium LLA
1) Hitung Darah Lengkap. Jumlah leukosit dapat normal, meningkat, atau rendah pada saat
diagnosis.Hiperleukositosis (>100.000/mm
3
) terjadi pada kira-kira 15% pasien dan dapat
melebihi 200.000/mm
3
).Pada umumnya terjadi anemia dan trombositopenia. Proporsi sel
blas pada hitung leukosit bervariasi dari 0 sampai 100%.
2) Aspirasi dan Biopsi Sumsum Tulang. Pemeriksaan ini penting untuk konfirmasi diagnosis
dan klasifikasi.Spesimen yang didapat harus diperiksa untuk analisis histologi,
sitogenetik, dan imunofenotip. Apus sumsum tulang tampak hiperselular dengan
limfoblas yang sangat banyak, >90% sel berinti pada LLA dewasa.
3) Sitokimia. Pada LLA, pewarnaan Sudan black dan mieloperoksidase memberikan hasil
negatif. Sitokimia juga berguna untuk membedakan precursor B dan B-ALL dari T-
ALL.Pewarnaan fosfatase asam akan positif pada limfosit T yang ganas, sedangkan sel B
dapat memberikan hasil yang positif pada pewarnaan periodic acid schiff (PAS).
4) Imunofenotip. Reagen yang dipakai untuk diagnosis dan identifikasi subtipe imunologi
adalah antibodi terhadap:
- untuk sel prekursor B: CD10, Cd19, CD79A, CD22, cytoplasmic m-heavy chain, dan
TdT.
- untuk sel T: Cd1a, CD2, CD3, CD4, CD5, CD7, CD8, dan TdT
- untuk sel B: kappa atau lambda, CD19, CD20, dan CD22
5) Sitogenetik
Analisis sitogenetik sangat berguna karena beberapa kelainan sitogenetik berhubungan
dengan subtipe LLA tertentu, dan dapat memberikan informasi prognostic.
6) Biologi Molekuler
Teknik ini dikerjakan bila analisis sitogenetik rutin gagal, dan untuk mendeteksi t(12;21)
dan yang tidak terdeteksi dengan sitogenetik standar. Teknik ini juga harus dilakukan
untuk mendeteksi gen BCR-ABL yang mempunyai prognosis buruk.
7) Pemeriksaan Lainnya
Parameter koagulasi biasanya normal dan koagulasi intravaskular diseminata jarang
terjadi. Pungsi lumbal dilakukan pada saat diagnosis untuk memeriksa cairan
serebrospinal. Perlu atau tidaknya tindakan ini dilakukan pada pasien dengan banyaknya
sel blas yang bersirkulasi masih kontroversi. Definisi keterlibatan SSP adalah ditemukan
lebih dari 5 leukosit/mL cairan serebrospinal dengan morfologi sel blas pada spesimen sel
yang disentrifugasi.

Pencegahan LLK
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian suatu penyakit
atau gangguan sebelum hal itu terjadi.
a. Pengendalian Terhadap Pemaparan Sinar Radioaktif
Pencegahan ini ditujukan kepada petugas radiologi dan pasien yang penatalaksanaan medisnya
menggunakan radiasi. Untuk petugas radiologi dapat dilakukan dengan menggunakan baju
khusus anti radiasi, mengurangi paparan terhadap radiasi, dan pergantian atau rotasi kerja. Untuk
pasien dapat dilakukan dengan memberikan pelayanan diagnostik radiologi serendah mungkin
sesuai kebutuhan klinis.
b. Pengendalian Terhadap Pemaparan Lingkungan Kimia
Pencegahan ini dilakukan pada pekerja yang sering terpapar dengan benzene dan zat aditif serta
senyawa lainnya. Dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan atau informasi mengenai
bahan-bahan karsinogen agar pekerja dapat bekerja dengan hati-hati. Hindari paparan langsung
terhadap zat-zat kimia tersebut.
c. Mengurangi frekuensi merokok
d. Pemeriksaan Kesehatan Pranikah
Pencegahan ini lebih ditujukan pada pasangan yang akan menikah. Pemeriksaan ini memastikan
status kesehatan masing-masing calon mempelai. Apabila masing-masing pasangan atau salah
satu dari pasangan tersebut mempunyai riwayat keluarga yang menderita sindrom Down atau
kelainan gen lainnya, dianjurkan untuk konsultasi dengan ahli hematologi. Jadi pasangan
tersebut dapat memutuskan untuk tetap menikah atau tidak.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk menghentikan perkembangan penyakit atau cedera menuju
suatu perkembangan ke arah kerusakan atau ketidakmampuan. Dapat dilakukan dengan cara
mendeteksi penyakit secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat.
a. Diagnosis dini
a.1. Pemeriksaan fisik
Pada penderita leukemia jenis LLK ditemukan hepatosplenomegali dan limfadenopati. Anemia,
gejala-gejala hipermetabolisme (penurunan berat badan, berkeringat) menunjukkan penyakitnya
sudah berlanjut.
a.2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah tepi dan pemeriksaan
sumsum tulang.
a.2.1. Pemeriksaan darah tepi
Pada penderita leukemia jenis LLA ditemukan leukositosis (60%) dan kadang-kadang
leukopenia (25%).48 Pada penderita LMA ditemukan penurunan eritrosit dan trombosit.31 Pada
penderita LLK ditemukan limfositosis lebih dari 50.000/mm3,48 sedangkan pada penderita
LGK/LMK ditemukan leukositosis lebih dari 50.000/mm3.
a.2.2. Pemeriksaan sumsum tulang
Hasil pemeriksaan sumsum tulang pada penderita leukemia akut ditemukan keadaan hiperselular.
Hampir semua sel sumsum tulang diganti sel leukemia (blast), terdapat perubahan tiba-tiba dari
sel muda (blast) ke sel yang matang tanpa sel antara (leukemic gap). Jumlah blast minimal 30%
dari sel berinti dalam sumsum tulang.20 Pada penderita LLK ditemukan adanya infiltrasi merata
oleh limfosit kecil yaitu lebih dari 40% dari total sel yang berinti. Kurang lebih 95% pasien LLK
disebabkan oleh peningkatan limfosit B.
b. Penatalaksanaan Medis
b.1. Kemoterapi
b.2.1. Kemoterapi pada penderita LLK
Derajat penyakit LLK harus ditetapkan karena menetukan strategi terapi dan prognosis. Salah
satu sistem penderajatan yang dipakai ialah klasifikasi Rai:
a. Stadium 0 : limfositosis darah tepi dan sumsum tulang
b. Stadium I : limfositosis dan limfadenopati.
c. Stadium II : limfositosis dan splenomegali/ hepatomegali.
d. Stadium III : limfositosis dan anemia (Hb < 11 gr/dl).
e. Stadium IV : limfositosis dan trombositopenia <100.000/mm3
dengan/tanpa gejala pembesaran hati, limpa, kelenjar.21
Terapi untuk LLK jarang mencapai kesembuhan karena tujuan terapi bersifat konvensional,
terutama untuk mengendalikan gejala. Pengobatan tidak diberikan kepada penderita tanpa gejala
karena tidak memperpanjang hidup. Pada stadium I atau II, pengamatan atau kemoterapi adalah
pengobatan biasa. Pada stadium III atau IV diberikan kemoterapi intensif.
Angka ketahanan hidup rata-rata adalah sekitar 6 tahun dan 25% pasien dapat hidup lebih dari 10
tahun. Pasien dengan sradium 0 atau 1 dapat bertahan hidup rata-rata 10 tahun. Sedangkan pada
pasien dengan stadium III atau IV rata-rata dapat bertahan hidup kurang dari 2 tahun.
2.7.3. Pencegahan Tertier
Pencegahan tertier ditujukan untuk membatasi atau menghalangi perkembangan kemampuan,
kondisi, atau gangguan sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang membutuhkan
perawatan intensif. Untuk penderita leukemia dilakukan perawatan atau penanganan oleh tenaga
medis yang ahli di rumah sakit. Salah satu perawatan yang diberikan yaitu perawatan paliatif
dengan tujuan mempertahankan kualitas hidup penderita dan memperlambat progresifitas
penyakit. Selain itu perbaikan di bidang psikologi, sosial dan spiritual. Dukungan moral dari
orang-orang terdekat juga diperlukan.

Etiologi Hemofilia
Hemofilia adalah gangguan produksi faktor pembekuan yang diturunkan, berasal dari bahasa
Yunani, yaitu haima yang artinya darah dan philein yang artinya mencintai atau suka. Walaupun
sebenarnya maknanya tidak sesuai, namun kata hemofilia tetap dipakai. Kelainan perdarahan
yang diturunkan pertama kali didokumentasikan di abad kedua oleh Kerajaan Babilonia. Namun
baru pada abad ke 18 dilaporkan adanya kemungkinan basis genetik untuk kelainan perdarahan
ini dan mulai tahun 1950an transfusi fresh frozen plasma (FFP) digunakan. Pada tahun 1980an
teknik rekombinan DNA untuk menproduksi faktor VIII (F VIII) dan faktor IX (F IX) mulai
diterapkan.
Hemofilia merupakan penyakit genetik yang diturunkan secara x-linked resesif berdasarkan
hukum Mendel dari orang tua kepada anak-anaknya. Penyakit ini terjadi akibat kelainan sintesis
salah satu faktor pembekuan, dimana pada hemofilia A terjadi kekurangan F VIII
(Antihemophilic factor), sedangkan pada hemofilia B terjadi kekurangan F IX (Christmas
factor). Hemofilia A mencakup 80-85% dari keseluruhan penderita hemofilia.
Secara klinis hemofilia dapat dibagi menjadi hemofilia ringan, hemofilia sedang dan hemofilia
berat berdasarkan derajat kekurangan faktor pembekuan yang bersangkutan.

1. Gartner LP, Hiatt JL. Color Textbook of Histology. 3rd ed. New York: Saunders
Elsevier; 2007. p. 238-250.
2. Hoffbrand AV, Moss PAH, Pettit JE. Essential Haematology. 5th ed. Massachussetts:
Blackwell Publishing; 2002. p. 104-115.
3. www.usu.ac.id
4. Price, S.A dan Wilson, LM. 2006. PATOFISIOLOGI. Jakarta: EGC