Anda di halaman 1dari 10

PENENTUAN ORDE REAKSI DAN TETAPAN LAJU REAKSI

Ni Ketut Meidayanti Putri, 1108105013


J urusan Kimia FMI PA Universitas Udayana, Bukit J imbaran
2014

Abstrak
Telah dilakukan praktikum mengenai penentuan orde suatu reaksi dan penentuan
tetapan (k) laju reaksi. Digunakan sampel etilasetat dengan mengetahui bahwa reaksi
penyabunan etilasetat oleh ion hidroksida dimana larutan NaOH digunakan sebagai titran.
Variasi waktu yang digunakan dalam praktikum ini yaitu pada menit ke-5; 20;50; dan 60
menit serta pemanasan. Dari hasil titrasi didapatkan volume NaOH pada masing-masing
waktu secara berturut-turut yaitu 11,05 mL; 11,65 mL; 12,55 mL; 12,75 mL; dan pemanasan
yaitu 17,95 mL. Hasil perhitungan menunjukkan nilai tetapan (k) yang diperoleh yaitu
sebesar 3,8333; 1,11; 0,6340; dan 0,6667 serta pemanasan yaitu -0,4985 secara berturut-
turut sehingga diperoleh nilai k rata-rata yaitu 1,1491. Selain penentuan nilai k, juga
ditentukan grafik hubungan antara
x a a
x

(sebagai ordinat) terhadap waktu ( sebagai


absis) sehingga diperoleh grafik yang linier dengan persamaan garis y = 21,61x + 965,31
dengan nilai koefisien regresi liniernya sebesar 0,9734. Berdasarkan reaksi yang terjadi,
reaksi ini merupakan reaksi orde dua.
Keywords : Laju reaksi, orde reaksi, tetapan (k), titrasi, waktu, persamaan garis.

PENDAHULUAN
Kinetika kimia disebut juga
dinamika kimia, karena adanya gerakkan
molekul, elemen atau ion dalam
mekanisme reaksi dan laju reaksi
sebagai fungsi waktu. Mekanisme reaksi
dapat diramalkan dengan bantuan
pengamatan dan pengukuran besaran
termodinamika suatu reaksi, dengan
mengamati arah jalannya reaktan
maupun produk suatu system (Siregar,
2008).
Reaksi kimia adalah proses
berubahnya pereaksi menjadi
hasil reaksi. Proses itu ada yang lambat
dan ada yang cepat. Contohnya bensin
terbakar lebih cepat dibandingkan
dengan minyak tanah. Ada reaksi yang
berlangsung sangat cepat, seperti
membakar dinamit yang menghasilkan
ledakan, dan yang sangat lambat adalah
seperti proses berkaratnya besi.
Pembahasan tentang kecepatan (laju)
reaksi disebut kinetika kimia. Dalam
kinetika kimia ini dikemukakan cara
menentukan laju reaksi dan faktor apa
yang mempengaruhinya (Syukri,1999).
Cabang ilmu kimia yang khusus
mempelajari tentang laju reaksi disebut
kinetika kimia. Tujuan utama kinetika
kimia ialah menjelaskan bagaimana laju
bergantung pada konsentrasi reaktan dan
mengetahui mekanisme suatu reaksi
berdasarkan pengetahuan tentang laju
reaksi yang diperoleh dari eksperimen
(Oxtoby, 2001).
Laju reaksi didefinisikan sebagai
perubahan konsentrasi persatuan waktu.
Satuan yang umum adalah mol/dm
-3-i
.
Umumnya laju reaksi meningkat dengan
meningkatnya konsentrasi dan dapat
dinyatakan sebagai
Laju = k f (C
1
, C
2
, ., C
i
)
Di mana k adalah konstanta laju,
juga disebut konstanta laju spesifik atau
konstanta kecepaan, C
1
, C
2
, adalah
konsentrasi dari reaktan-reakan dan
produk-produk (Dogra, 1990).
Laju reaksi kimia terlihat dari
perubahan konsentrasi molekul reaktan
atau konsentrasi molekul produk
terhadap waktu. Laju reaksi tidak tetap
melainkan berubah terus-menerus
seiring dengan perubahan konsentrasi
(Chang, 2005).
Pengetahuan tentang faktor yang
mempengaruhi laju reaksi berguna
dalam mengontrol kecepatan reaksi
berlangsung cepat, seperti pembuatan
amoniak dari nitrogen dan hidrogen,
atau dalam pabrik menghasilkan zat
tertentu. Akan tetapi kadangkala kita
ingin memperlambat laju reaksi, seperti
mengatasi berkaratnya besi,
memperlambat pembusukan makanan
oleh bakteri, dan sebagainya (Syukri,
1999). Berikut ini adalah factor-faktor
yang mempengaruhi laju reaksi:
Konsentrasi
Kecepatan reaksi bergantung
pada banyak factor. Konsentrasi reaktan
memainkan peran penting dalam
mempercepat atau memperlambat rekasi
tertentu. Konsentrasi mempengaruhi laju
reaksi karena banyaknya partikel
memungkinkan lebih banyak tumbukan,
dan itu membuka peluang semakin
banyak tumbukan efektif yang
menghasilkan perubahan.
Suhu
Kenaikan suhu dapat
mempercepat laju reaksi karena dengan
naiknya suhu, energy kinetic partikel
zat-zat meningkat sehinga
memungkinkan semakin banyaknya
tumbukan efektif yang menghasilkan
perubahan. Berdasarkan teori tumbukan,
reaksi terjadi bila molekul bertumbukan
dengan energy yang cukup besar,
disebut energy aktivasi. Untuk memutus
ikatan dan mengawali reaksi, konsatanta
laju dan energy aktivasi dihubungkan
oleh persamaan Arrhenius.
k = Ae-
Ea/RT

keterangan:
Ea = energy aktivasi
T = suhu mutlak
A = frekuensi tumbukan
Luas Permukaan
Luas permukaan mempercepat
laju reaksi karena semakin luas
permukaan zat, semakin banyak bagian
zat yang saling bertumbukan dan
semakin besar peluang adanya
tumbukan efektif menghasilkan
perubahan. Semakin luas permukaan zat,
semakin kecil ukuran partikel zat, reaksi
pun akan semakin cepat.
Katalis
Katalis ialah zat yang mengambil
bagian dalamn reaksi kimia dan
mempercepatnya, tetapi ia sendiri tidak
mengalami perubahan kimia yang
permanen. Jadi, katalis tidak muncul
dalam laju persamaan kimia balans
secara keseluruhan, tetapi kehadirannya
sangat mempengaruhi hukum laju,
memodifikasi dan mempercepat lintasan
yang ada. Katalis menimbulkan efek
yang nyata pada laju reaksi, meskipun
dengan jumlah yang sangat sedikit.
Dalam kimia industry, banyak upaya
untuk menemukan katalis yang akan
mempercepat reaksi tertentu tanpa
meningkatkan timbulnya produk yang
tidak diinginkan (Oxtoby, 2001).
Efek pelarut
Pengaruh pelarut terhadap laju
penguraian obat merupakan suatu topic
terpenting untuk ahli farmasi. Walau
efek-efek tersebut rumit dan generalisasi
tidak dapat dilaksanakan. Tampak reaksi
nonelektrolik dihubungkan dengan
tekanan dalam relative atau parameter
kelarutan dari pelarut dan zat terlarut.
(Martin, 1993)
Proses laju merupakan hal dasar
yang perlu diperhatikan bagi setiap
orang yang berkaitanKefarmasiaan,
mulai dari pengusaha obat sampai ke
pasien. Pengusaha obat harus dengan
jelas menunjukkan bahwa bentuk obat
atau sediaan yang dihasilkannya cukup
stabil sehingga dapat disimpan dalam
jangka waktu yang cukup lama, dimana
obat tidak berubah menjadi zat tidak
berkhasiat atau racun, ahli farmasi harus
mengetahui kestabilan potensial dari
obat yang dibuatnya. Dokter dan pasien
harus diyakinkan bahwa obat yang
ditulis atau digunakannya akan sampai
pada tempat pengobatan dalam
konsentrasi yang cukup untuk mencapai
efek pengobatan yang diinginkan. Ada
beberapa prinsip dan proses laju yang
berkaitan dimasukkan dalam rantai
peristiwa ini yaitu: kestabilan dan tak
tercampurkan, disolusi, proses
absorbs,distribusi dan eliminasi, dan
kerja obat pada tingkat molekuler obat
(Martin, 1993). Orde reaksi dapat
ditentukan dengan beberapa metode,
1. Metode substansi. Data yang
terkumpul dari hasil pengamatan
jalannya suatu reaksi
disubtitusikan ke dalam bentuk
integral dari persamaan berbagai
orde reaksi. Jika persamaan itu
menghasilkan menghasilkan
harga K yang tetap konstan
dalam batas-batas variasi
percobaan, maka reaksi dianggap
berjalan sesuai dengan orde
tersebut.
2. Metode grafik. Plot data dalam
bentuk grafik dapat digunakan
untuk mengetahui orde reaksi
tersebut. Jika konsentrasi diplot
terhadap t dan didapatkan garis
lurus, reaksi adalah orde nol.
Reaksi dikatakan orde pertama
bila log (a-x) terhadap t
menghasilkan garis lurus. Suatu
reaksi orde-kedua akan
memberikan garis lurus bila 1/(a-
x) diplot terhadap t (jika
konsentrasi mula-mula sama).
Jika plot 1/(a-x)
2
terhadap t
menghasilkan garis lurus dengan
seluruh reaktan sama konsentrasi
mula-mulanya, reaksi adalah
orde-ketiga.
3. Metode waktu-paruh. Dal reaksi
orde, waktu paruh sebanding
dengan konsentrasi awal a,
waktu paruh reaksi orde-pertama
tidak bergantung pada a, waktu
paruh untuk reaksi orde-kedua,
dimana a=b sebanding dengan
1/a dari dalam reaksi orde-ketiga,
dimana a=b=c, sebanding dengan
1/a
2
. (Martin, 1993)
Waktu paruh adalah waktu yang
dibutuhkan oleh suatu obat untuk terurai
setengahnya dari konsentrasi mula-mula.
Obat yang sama dapat menunjukkan
orde penguraian yang berbeda pada
konsidi yang berbeda. Walaupun
penguraian hidrogen peroksida,
misalnya dengan katalis ion iodine
adalah sau orde pertama, telah
ditemukan bahwa penguraian larutan
yang distabilkan dengan berbagai
pereaksi dapat menjadi orde-nol. Dalam
hal ini, di mana reaksi tidak tergantung
pada konsentrasi obat, penguraia
mungkin akibat kontak dengan dinding
wadah atau berbagai faktor luar lainnya
(Martin, 1993). Tujuan dari mempelajari
laju reaksi adalah untuk dapat
memprediksi laju suatu reaksi. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan
hitungan matematis melalui hukum laju.
Sebagai contoh, pada reaksi:
a A + b B c C + d D
Dimana A dan B adalah pereaksi,
C dan D adalah produk dan a,b,c,d
adalah koefisien penyetaraan reaksi,
maka hukum lajunya dapat dituliskan
sebagai berikut:
Laju reaksi = k [A]m [B]n
dengan, k = tetapan laju,
dipengaruhi suhu dan katalis (jika ada)
m = orde (tingkat) reaksi
terhadap pereaksi A
n = orde (tingkat) reaksi terhadap
pereaksi B
[A], [B] = konsentrasi dalam
molaritas.
Pangkat m dan n ditentukan dari
data eksperimen, biasanya harganya
kecil dan tidak selalu sama dengan
koefisien a dan b. Semakin besar harga
k reaksi akan berlangsung lebih cepat.
Kenaikan suhu dan penggunaan katalis
umumnya memperbesar harga k. Secara
formal hukum laju adalah persamaan
yang menyatakan laju reaksi v sebagai
fungsi dari konsentrasi semua komponen
spesies yang menentukan laju reaksi.
BAHAN DAN METODE
Peralatan
Adapun peralatan yang digunakan dalam
percobaan ini adalah labu volumetris
250 mL, pipet volume 1 mL ; 10 mL dan
20 mL, labu erlenmeyer bertutup 250
mL dan 100 mL, labu erlenmeyer 250
mL, buret 10 mL, botol semprot, pipet
tetes dan stopwatch.
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam
percobaan ini yaitu Etil asetat p.a,
larutan NaOH 0,02 M, larutan HCl 0,02
M, ndikator fenolftalein, dan akuades.
Cara Kerja
Sebanyak 0,5 mL larutan etil asetat
10,165 M dipipet ke dalam labu
volumetris 250 mL lalu diencerkan
sampai tanda batas untuk mendapatkan
larutan etil asetat dengan konsentrasi
0,02 M sebanyak 250 mL. Larutan
NaOH dengan konsentrasi tepat 0,02 M
disediakan sebanyak 200 mL dan
Larutan HCl dengan konsentrasi tepat
0,02 M disediakan sebanyak 150 mL.
Dengan menggunakan pipet, sebanyak
100 mL larutan NaOH 0,02 M dan 100
mL etil asetat 0,02 M dimasukkan ke
dalam labu erlenmeyer bertutup.
Sementara itu sebanyak 20 mL larutan
HCl 0,02 M dipipet ke dalam masing-
masing 5 buah labu erlenmeyer lainnya.
Selanjutnya larutan etil asetat
ditambahkan dengan cepat ke dalam
larutan NaOH dan dikocok dengan baik.
Pada saat kedua larutan tersebut
bercampur, stopwatch dijalankan. Lima
menit setelah reaksi dimulai, 10 mL dari
campuran reaksi dipipet dan dimasukkan
ke dalam salah satu labu yang berisi 10
mL larutan HCl itu dan diaduk dengan
baik. Kelebihan HCl segera dititrasi
secepat mungkin dengan larutan standar
NaOH 0,02 M. Pengerjaan dilakukan
pada waktu 5, 20, 50 dan 60 menit
setelah waktu reaksi. Sisa campuran
reaksi dalam erlenmeyer bertutup
dipanaskan hingga mendidih untuk
mempercepat reaksi. Konsentrasi OH


kemudian ditentukan dengan cara yang
sama seperti sebelumnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Reaksi kimia adalah proses
berubahnya pereaksi menjadi
hasil reaksi. Proses itu ada yang lambat
dan ada yang cepat. Pembahasan tentang
kecepatan (laju) reaksi disebut kinetika
kimia. Dalam kinetika kimia ini
dikemukakan cara menentukan laju
reaksi dan faktor apa yang
mempengaruhinya.
Kinetika reaksi menggambarkan
suatu study secara kuantitatif tenang
Perubahan-perubahan kadar terhadap
waktu oleh reaksi kimia. Kecepatan
reaksi di tentukan oleh kecepatan
terbentuknya zat hasil, dan kecepatan
pengurangan reaktan. Tetapan kecepatan
(K) adalah vaktor pembanding yang
menunjukkan hubungan anntara
kecepatan reaksi dengan konsentrasi
reaktan.
Percobaan penetapan orde reaksi
dan tetapan laju reaksi ini bertujuan
untuk mengetahui orde reaksi dan
tetapan laju reaksi yang terjadi pada
reaksi penyabuan antara etil asetat
(C
2
H
5
COOH) dengan ion hidroksida
(OH
-
). Adapun reaksi yang terjadi
adalah:
CH
3
COOC
2
H
5
+ OH
-

CH
3
COO
-
+ C
2
H
5
OH
Dari reaksi diatas, dapat
diketahui bahwa reaksi yang terlibat
adalah reaksi orde 2. Sedangkan untuk
mengetahui tetapan laju reaksi pada
reaksi penyabunan tersebut, dilakukan
percobaan dengan menggunakan metode
titrasi. Sebelum dilakukan percobaan,
terlebih dahulu dibuat larutan etil asetat
dengan cara mengencerkan sebanyak 0,5
mL etil asetat dalam labu ukur 250 mL
sampai tanda batas, sehingga diperoleh
larutan etil asetat 0,02 M. Selain larutan
etil asetat 0,02 M, juga digunakan
larutan NaOH 0,02 M serta larutan HCl
0,02 M.
Adapun dalam percobaan ini,
konsentrasi awal etil asetat dengan
konsentrasi awal NaOH sama (a = b).
Dalam percobaan ini reaksi yang akan
diamati adalah reaksi penyabunan etil
asetat oleh ion hidroksida. Mula-mula
larutan etil asetat 0,02 M direaksikan
dengan larutan NaOH 0,02 M masing-
masing sebanyak 50 mL. Larutan etil
asetat dibiarkan bereaksi dengan larutan
NaOH, setelah 5 menit campuran larutan
direaksikan dengan 10 mL HCL hal itu
dilakukan juga selama selang waktu 5
menit, 20 menit, 50 menit, 60 menit dan
60 menit dengan pemanasan. Selama
selang waktu tersebut, etil asetat akan
bereaksi dengan NaOH, dan selanjutnya
setelah selang waktu yang ditentukan,
NaOH yang tersisa dalam campuran
direaksikan dengan larutan HCl 0,02 M.
Setelah sisa NaOH dalam campuran
dinetralkan oleh larutan HCl, maka
kelebihan HCl dititrasi dengan
menngunakan basa kuat yaitu larutan
NaOH 0,02. Larutan NaOH bertindak
sebagai titran, sedangkan campuran
yang mengandung sisa HCl sebagai
titrat. Dalam proses titrasi ditambahkan
indikator fenolftalein yang berguna
untuk mendeteksi titik akhir titrasi,
dimana akan terjadi perubahan warna
dari bening menjadi merah muda.
Pada pemanasan pada campuran
etil asetat-NaOH setelah selang waktu
60 menit untuk waktu tak terhingga.
Proses pemanasan ini bertujuan untuk
mempercepat reaksi sehingga reaksi
penyabunan cepat selesai dan
mengetahui konsentrasi awal etil asetat
dalam campuran. Etil asetat memiliki
sifat yang mudah menguap, sehingga
proses titrasi harus dilakukan secepat
mungkin. Demikian pula saat proses
memipet maupun saat mereaksikan
larutan tersebut harus dilakukan secepat
mungkin agar tidak terjadi penguapan
yang dapat menurunkan volume etil
asetat.
Dari proses titrasi diperoleh
volume larutan NaOH 0,02 M yang
diperlukan untuk menetralkan sisa HCl
dalam campuran. Adapun volume NaOH
yang diperlukan untuk menetralkan sisa
HCl selama selang waktu reaksi 5 menit,
20 menit, 50 menit, 60 menit, serta
setelah pemanasan (waktu tak terhingga)
secara berturut-turut adalah 11,05 mL ;
11,65 mL ; 12,55 mL ; 12,75mL.
Sedangkan untuk pencampuran HCL 10
mL pada menit ke-60 dan pemanasan
volume NaOH yang digunakan adalah
17,95 mL. Kondisi ini menunjukkan
bahwa semakin banyak sisa asam (HCl)
dalam campuran maka volume NaOH
yang diperlukan untuk menetralkan
asam tersebut juga semakin banyak,
demikian pula sebaliknya.
Berdasarkan perhitungan dengan
menggunakan data yang telah diperoleh,
maka diketahui bahwa konsentrasi etil
asetat mula-mula yang akan bereaksi
dengan NaOH adalah sebesar 0,01 M.
Nilai ini merupakan nilai a yang akan
digunakan dalam perhitungan
selanjutnya, dimana nilai a = b. Dari
perhitungan selanjutnya, diperoleh nilai
x (konsentrasi OH
-
bereaksi) selama
selang waktu yang ditentukan yaitu
berturut-turut sebesar 0,0092 M ; 0,0093
M ; 0,0095 M ; 0,0096 M dan 0,01059
M (untuk yang pemanasan). Dari nilai x
ini dapat dihitung tetapan laju reaksi (k)
yang merupakan jumlah molar (M)
konsentrasi ion OH

yang bereaksi pada


waktu t. Adapun nilai tetapan k ini
dihitung dengan menggunakan
persamaan : k =
x a a t
x


Dari persamaan ini diperoleh nilai
tetapan k untuk waktu 5; 20; 50; 60 dan
pemanasan menit secara berturut-turut
adalah sebesar 3,8333 ; 1,11 ; 0,6340;
0,6667 dan -0,4985 mol
-1
L s
-1.
Sehingga diperoleh nilai tetapan k rata-
rata sebesar 1,1491 mol
-1
L s
-1
. Dari
perhitungan, juga diperoleh harga
x a a
x

yang nantinya dipergunakan


untuk membuat grafik hubungan antara
x a a
x

(sebagai ordinat) terhadap


waktu (sebagai absis).
Dari kurva yang diperoleh
didapatkan bahwa garis yang terbentuk
adalah linier, adapun grafik yang
terbentuk sebagai berikut :

SIMPULAN
Simpulan
Adapun beberapa hal yang dapat
disimpulkan dari percobaan ini
diantaranya reaksi penyabuan antara etil
asetat (C
2
H
5
COOH) dengan ion
hidroksida (OH
-
) mengikuti orde reaksi
dua, untuk mengetahui tetapan laju
reaksi pada reaksi penyabunan tersebut,
y = 21.61x + 965.31
R = 0.9475
0
1000
2000
3000
0 50 100





t (menit)
Grafik terhadap
t
dilakukan percobaan dengan
menggunakan metode titrasi, semakin
banyak sisa asam (HCl) dalam campuran
maka volume NaOH yang diperlukan
untuk menetralkan asam tersebut juga
semakin banyak, demikian pula
sebaliknya, fungsi penambahan HCl
yaitu untuk menghentikan reaksi dari
basanya dan untuk menetralkan basanya,
faktor-faktor yang mempengaruhi laju
reaksi adalah luas permukaan,
konsentrasi, temperatur, waktu dan teori
tumbukan, nilai x (konsentrasi OH
-
bereaksi) selama selang waktu yang
ditentukan yaitu berturut-turut sebesar
0,0092 M ; 0,0093 M ; 0,0095 M ;
0,0096 M ; dan 0,01059 M (untuk
pemanasan), nilai tetapan k untuk waktu
5; 20; 50; dan 60 menit adalah 3,8333 ;
1,11 ; 0,6340 ; 0,6667 dan pemanasan
sebesar -0,4985 mol
-1
L s
-1.
Sehingga
diperoleh nilai tetapan k rata-rata
sebesar 1,1491 mol
-1
L s
-1
, dari kurva
yang diperoleh didapatkan bahwa garis
yang terbentuk adalah linier.
Saran
Dapat dilakukan dengan variasi
waktu yang berbeda atau dengan jenis
larutan yang lainnya sehingga dapat
mengetahui orde reaksi dan laju pada
lain jenis larutan dan variasi waktu yang
berbeda.


DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia .2001. Elektro Kimia
dan Kinetika Kimia . PT. Citra
Aditya Bakti: Bandung.
Anonim, 2013. Penuntun Praktikum
Farmasi Fisika I . Universitas Muslim
Indonesi: Makassar
Bird, Tony. 1993. Kimia Fisika untuk
Universitas. Gramedia: Jakarta.
Chang, Raymond.2005.Kimia Dasar
Konsep-Konsep I nti edisi ketiga jilid
2.Erlangga :Jakarta
Ditjen POM. 1979. Farmakope
I ndonesia Edisi I I I . Departemen
Kesehatan RI: Jakarta
Dogra, S.K dan S.Dogra.1990.Kimia
Fisik dan soal-soal.Jakarta: Universitas
Indonesia
Karlohadiprodjo, Irma. 1990. Kimia
Fisik J ilid 1, Edisi Keempat.
Penerbit Erlangga: Jakarta.
Keenan, CW.1991. I lmu Kimia Untuk
Universitas J ilid 1, edisi
keenam. Penerbit Erlangga:
Jakarta.
Martin, Alfred, dkk, 1993, Farmasi
Fisik. Dasar-dasar Farmasi Fisik
Dalam I lmu Farmasetik, Universitas
Indonesia Press, Jakarta
Oxtoby, dkk.2001.Prinsip-prinsip
Kimia Modern edisi keempat jilid
1.Jakarta: Erlangga
Siregar, Tirena Bahnur. 2008. Kinetika
Kimia Reaksi Elementer. Medan. Usu
press.
Syukri S, 1999. Kimia Dasar jilid 2.
ITB, Bandung.
Tim Laboratorium Kimia Fisika. 2014.
Penuntun Praktikum Kimia
Fisika I I . Jurusan Kimia F.MIPA
Universitas Udayana :Bukit
Jimbaran.
www.chemistry.org//Orde reaksi dan
persamaan laju reaksi
www.google.com//Jurnal Laju Reaksi
Penyusun:Dra. Utiya Azizah, M.Pd.