Anda di halaman 1dari 32

ISOLASI SENYAWA HESPERIDIN DARI KULIT JERUK MANIS (Citrus Sinensis. (L).

Osbeck)

Untuk memenuhi sebagai persyaratan dalam menempuh mata kuliah Praktikum Fitofarmasi
Yang dibina oleh Lailiyatus Syafah, S.Farm., Apt.

OLEH
Leny Ribawaty Oktavia 11.2.1004
Nunuk Windarti 11.2.1025
Ravelya Samponu 11.2.1030
Siti Ria Khoiriah 11.2.1045
Triviana M. Simanjuntak 11.2.1052

AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG
NOVEMBER 2012
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara tropis yang mempunyai tanah subur dan hasil alam melimpah.
Indonesia juga berada pada kawasan yang dilalui garis khatulistiwa dan merupakan habitat
pendukung pertumbuhan buah jeruk. Lahan yang subur, serta teknologi yang semakin canggih juga
dapat menunjang pengembangan tanaman jeruk di Indonesia.
Varietas buah jeruk bermacam-macam, seperti jeruk lemon, jeruk mandarin, jeruk nipis, jeruk manis,
dan lain-lain. Salah satu varietas jeruk yang digemari oleh seluruh kalangan yakni jeruk manis. Selain
rasa yang manis, buah jeruk manis juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi bila dijual tidak dalam
bentuk buah segarnya saja. Pemanfaatan buah jeruk manis dapat berupa sirup, koktail, pastry, jus,
dan lain-lain. Tetapi yang mempunyai nilai ekonomis terbesar yakni sirup buah dan koktail,
sedangkan dari sisi pemanfaatan produk samping seperti kulit buahnya, masih membutuhkan kajian
ulang karena sejauh ini kulit buah jeruk manis hanya berujung di tempat sampah.
Sebenarnya, kulit jeruk manis bukan sekedar sampah, banyak manfaat yang bisa didapatkan dalam
kulit buah jeruk manis, contonya dapat dijadikan serbuk pewarna. Bila ditinjau dari kandungannya,
kulit jeruk manis mengandung berbagai macam senyawa seperti hesperidin yakni turunan dari
Flavonoid. Kandungan hesperidin terdapat pada kulit buah jeruk, walaupun kandungan hesperidin
pada kulit jeruk manis tidak setinggi pada daging buah, tetapi dalam pemanfaatannya sangat
berguna untuk kesehatan manusia. Pemanfaatan hesperidin pada kulit jeruk dapat mengurangi
limbah serta menambah nilai dari kulit jeruk manis.
Banyak manfaat dari hesperidin, sebagai antioksidan yakni dapat menurunkan kolesterol dan
tekanan darah, sebagai anti inflamasi, antikarsinogenik, serta vasoprotektif (menyehatkan pembuluh
darah). Hesperidin juga dapat mendukung kerja vitamin C untuk membentuk kolagen, sehingga kulit
terlihat muda dan kencang. Pada hesperidin, antioksidan alami yang terkandung di dalamnya dapat
menghambat oksidasi lemak dan sangat bermanfaat pada pemeliharaan kesehatan setiap individu,
contohnya hasil oksidasi lemak pada makanan ternyata mempunyai dampak buruk yang besar
terhadap kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Oleh karena itu pengetahuan bagaimana cara
pencegahan proses oksidasi ini sangat diperlukan.
Adanya berbagai fungsi dari hesperidin yang baik untuk kesehatan, maka dapat dilakukan isolasi
hesperidin. Hesperidin merupakan golongan flavonoid yang mudah diisolasi. Hespiridin diisolasi
dengan cara ekstraksi rajangan kulit buah jeruk dalam suasana basa kemudian dilanjutkan dengan
pengasaman ekstrak. Pemurnian secara efektif dilakukan dengan menggunakan formadida.
Senyawa hesperidin ini yang nantinya dapat dibuat sebagai alternatif baru untuk menjaga
kesehatan, serta dapat membuktikan bahwa hesperidin pada kulit jeruk dapat memberikan
kontribusi yang baik untuk tubuh. Bertindak sebagai antioksidan yang bersifat melawan radikal
bebas, yang bisa merusak sel-sel tubuh dan mengganggu imunitas sehingga dapat menyebabkan
penyakit yang degenerative.

Tujuan
- Melakukan isolasi hesperidin pada kulit jeruk manis.
Manfaat
- Mahasiswa dapat melakukan skreening fitokimia terhadap jeruk manis
- Mahasiswa dapat melakukan isolasi hesperidin pada kulit jeruk manis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Tanaman
Tanaman jeruk adalah tanaman buah tahunan yang berasal dari Asia. Cina dipercaya sebagai tempat
pertama kali jeruk tumbuh. Sejak ratusan tahun yang lalu, jeruk sudah tumbuh di Indonesia baik
secara alami atau dibudidayakan. Tanaman jeruk yang ada di Indonesia adalah peninggalan orang
Belanda yang mendatangkan jeruk manis dan keprok dari Amerika dan Itali.
Jenis jeruk lokal yang dibudidayakan di Indonesia adalah jeruk Keprok (Citrus reticulata/nobilis L.),
jeruk Siem (C. microcarpa L. dan C.sinensis. L) yang terdiri atas Siem Pontianak, Siem Garut, Siem
Lumajang, jeruk manis (C. auranticum L. DanC.sinensis L.), jeruk sitrun/lemon (C. medica), jeruk
besar (C.maxima Herr.) yang terdiri atas jeruk Nambangan-Madium dan Bali. Jeruk untuk bumbu
masakan yang terdiri atas jeruk nipis (C. aurantifolia), jeruk Purut (C. hystrix) dan jeruk sambal
(C.hystix ABC).

2.1.1 Jeruk Manis
Jeruk manis (Citrus Sinensis. (L). Osbeck) atau nama sinonimnya adalah Citrus Aurantium L. Jeruk
manis telah lama dikenal sebagai buah dengan rasa segar dan bergizi. Selain kaya vitamin dan
mineral, buah ini juga mengandung serat makanan yang esensial bagi pertumbuhan dan
perkembangan tubuh normal. Dengan rasanya yang asam-asam manis, buah jeruk manis dapat
dikonsumsi dalam berbagai bentuk, baik segar maupun dibuat sari buah / jus.
Tanamannya tersebar luas karena pembudidayaannya tidak terlalu sulit. Yang dibutuhkan hanyalah
tanah dengan tingkat kesuburan dan kandungan air yang cukup. Biasanya, tanaman jeruk manis
diperbanyak dengan cara dicangkok atau okulasi, namun bisa juga melalui bijinya.
Kandungan senyawa dalam jeruk manis yang kaya vitamin C, potassium, dan folid acid, dapat
berfungsi untuk menghambat sel-sel kanker. Selain kaya serat, buah berwarna kuning ini juga
mengandung hesperidin yang mampu menurunkan resiko penyakit jantung, mencegah kolesterol,
serta menurunkan tekanan darah. Dalam satu buah jeruk manis ukuran sedang terdapat 16 gram
karbohidrat yang mengandung 70 kalori. Karbohidrat ini penting sebagai sumber energi tubuh,
terutama untuk otak.
Nilai serat dalam sebuah jeruk manis setara dengan 12 persen yang dibutuhkan per hari. Fungsi serat
jelas sangat penting antara lain membantu proses pencernaan. Serat dalam jeruk manis bisa
membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan juga menurunkan resiko penyakit
jantung.
Kandungan lain dalam buah ini dapat mempengaruhi aktivitas enzim Glutatione S
Transferase (GTS), untuk menghambat terjadinya kanker, bekerjasama dengan senyawa limonoida
seperti limonin dan nomilin. GTS sendiri merupakan enzim utama sistem detoksifikasi yang dapat
menetralkan karsinogen.
Pemilihan lokasi
Jeruk manis memiliki daya adaptasi lingkungan yang luas sehingga cocok ditanam mulai dataran
rendah hingga dataran tinggi sekitar 700 meter dari permukaan laut. Tanaman ini menghendaki sinar
matahari penuh (bebas naungan), suhu 13 35C (optimum 22 23C), curah hujan 1.000 3.000
mm/th (optimum 1.500 2.500 mm/th), dan bulan kering (< 60 mm) selama 2 6 bulan (optimum 3
4 bulan berturut-turut).
Karakteristik tanah yang ideal : lapisan tanah dalam, hingga kedalaman 150 cm tidak ada lapisan
kedap air, kedalaman air tanah 75 cm, tekstur lempung berpasir, dan pH 6,5.

Pemilihan Benih
Benih jeruk bermutu adalah benih jeruk bebas dari patogen sistemik tertentu, sama seperti
induknya, serta tahapan proses produksinya berdasarkan program pengawasan dan sertifikasi benih
yang berlaku. Pilihlah benih yang bermutu : berlabel bebas penyakit, diproduksi dalam polibag,
batang atas dan bawah lurus, diameter batang bawah 1cm, tinggi tanaman dari dasar polibag 75
100 cm, keragaan optimal (tegar, vigor, daun hijau dan ukurannya normal), dan perakarannya
normal.

Penyiapan lahan dan pemeliharaan Tanaman
Pengolahan Tanah dan penanaman.
Bebaskan lahan dari batuan dan pohon besar agar tidak mengganggu pengolahan tanah dan
penyebaran cahaya matahari. Buatlah lubang tanam (dalam 0,75 m, panjang 0,6 m dan lebar 0,6
m) dan jarak tanam 5 m x 6 m atau 5 m x 5 m. Aturlah baris tanam sejajar dengan arah timur barat
agar penyebaran sinar matahari optimal. Sebagai penutup lubang tanam, campurlah tanah galian
lubang + 20 kg bahan organik atau 3 bagian tanah + 1 bagian pasir + 2 bagian pupuk kandang jika
tanahnya berat. Tambahkan 1 kg dolomite jika pH tanah < 5,5.
Lakukan penanaman pada awal musim hujan agar tanaman cepat beradaptasi dan pasanglah ajir
pada setiap pohon agar tanaman tetap tegak saat diterpa angin kencang.

Pengaturan cabang.
Agar dicapai pertumbuhan dan produksi optimal, aturlah percabangan sejak dini dengan pola 1 3
9. Setiap pohon terdiri atas 1 batang utama yang diikuti oleh 3 cabang primer, dan setiap cabang
primer diikuti oleh 3 cabang sekunder.
Pengairan.
Saat pertumbuhan vegetatif baru, pembungaan dan pembentukan buah berilah pengairan yang
cukup. Setelah panen, keringkan lahan sekitar 3 bulan guna merangsang pembungaan.

Pemupukan.
Pemupukan adalah penambahan unsur hara ke dalam kebun (pupuk kimia, bahan organik, kapur,
dll.) melalui tanah dan daun agar diperoleh keuntungan maksimal tanpa menimbulkan kemerosotan
mutu lingkungan yang berarti (Tabel 1).
Tabel 2.1 Rekomendasi Pemupukan Tanaman Jeruk
Umur Tanaman (Tahun) Dosis/pohon/aplikasi
(gram) Aplikasi
(kali/tahun) Bahan Organik
(kg/pohon/tahun)
N P2O5 K2O
1 10 s/d 15* 5 s/d 10* 5 6 20
2 25 s/d 40* 15 s/d 20* 10 s/d 12,5* 4 30
3 42,5 s/d 55* 25 s/d 40* 15 s/d 22,5* 4 40
4 100 s/d 150* 60 s/d 75* 35 s/d 50* 3** 40
5 250 s/d 300* 160 s/d 200* 75 s/d 100* 2** 40 s/d 60
> 5 3% X produksi
(1,2% N + 0,6% P2O5 +1,2% K2O) 2** 40 s/d 60

* = Tanah kurang subur, tekstur berpasir atau iklim basah** = Tanah kurang subur, tekstur berpasir
atau iklim basah aplikasi 4 6 kali setahun
Jika pH< 5,5, campurlah 100 kg bahan organik dengan 0,25 0,50 kg kapur (CaCO3).
Untuk mencegah defisiensi unsur mikro, semprotkan 2 4 kali pupuk mikro (Fe, Mn, Zn, Cu, Mo, dan
saat pertunasan pada pagi hari, interval aplikasi 1 minggu.


Penjarangan Buah.
Penjarangan buah adalah kegiatan menyeleksi dan mengurangi jumlah buah di pohon untuk
menghasilkan buah bermutu tinggi dan menjaga stabilitas produksi tanaman. Caranya : sekiitar 4
bulan dari pembungaan sebelum aplikasi pupuk kedua, sisakan 2 buah per tandan menggunakan
gunting pangkas. Kriteria buah yang dibuang: cacat, terserang hama penyakit, dan ukurannya paling
kecil.
Pengendalian Hama Penyakit.
Beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang jeruk manis dan pengendaliannya adalah
sebagai berikut :

Tabel 2.2 Hama Penyakit Tanaman Jeruk Manis dan Pengendaliannya

Hama/Penyakit Pengendalian
Kutu loncat vektor CVPD (Diaphorina citri Kuw.) Monitoring dengan perangkap kuning, semprotkan
pestisida (Dimethoate, Alfametrin, Profenofos, Sipermetrin) pada saat pertunasan atau saputkan
imidakloprid pada batang
Kutu daun (Toxoptera citricidus, Toxoptera aurantii, Myzus persicae) Monitoring pada tunas baru
dan semprotkan pestisida (Dimethoate, Alfametrin, Profenofos, Sipermetrin) pada saat pertunasan
atau saputkan imidakloprid pada batang
Peliang daun (Phylocnistis citrella) Monitoring, buang daun terserang, atau seprotkan pestisida
(Betasiflutrin, Metidation, Diazinon, dll).
Puru Buah (Prays spp) Kurbur bauh terserang, seprotkan pestisida pada saat pembentukan calon
buah
Kutu dompolan (Planococcus citri) Pangkas cabang dan ranting yang terlalu rimbun, seprotkan
pestisida secara selektif
Kutu Sisik (Lepidosaphes beckii, Unaspis citri) Monitoring tanaman, semprotkan deterjen, mineral
oil, organophosphat, karbamat, dll.
CVPD (Huang Longbing) Gunakan benih bebas penyakit, kendalikan Diaphorina citri, bongkar
tanaman terserang, lakukan pemupukan berimbang (makro dan mikro), koordinasikan pengelolaan
kebun dalam wilayah pengembangan
Embun tepung (Oidium tingitanum) Pangkaslah tunas yang terserang, semprotkan larutan kapur
belerang atau fungisida Spirokonazol atau Propineb.

Panen
Lakukan panen ketika buah mencapai kematangan optimal, sekitar 8 bulan dari pembungaan.
Karakter buah siap panssen : buah ketika ditekan dengan ibu jari dan telunjuk tidak terasa keras,
kulit buah berwarna kekuningan, kadar sari buah telah mencapai sekitar 35 40%. Lakukan panen
saat cuaca cerah, jangan memanjat pohon (gunakan tangga kaki 4), potong tangkai buah dengan
gunting pangkas, masukkan buah kedalam tas platik 5 kg yang digantungkan di leher, masukkan
buah dari kantong plastik kedalam keranjang yang dilapisi karung plastik. (Sutopo. 2011)

2.1.2 flavonoid
Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6. Artinya, kerangka
karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzena tersubstitusi) disambungkan oleh rantai alifatik
tiga-karbon.
C C C Kerangka flavonoid (Trevor, 1995: 191)
Flavon
Pada flavon, cicin C merupakan dasar dan membentuk garam pirium dengan asam klorida.
HCl
Flavon
Gugusan karbonil dari flavon tidak bereaksi dengan beberapa pereaksi karbonil seperti hidroksilamil,
tetapi dengan pereaksi Grignard dapat bereaksi. Beberapa flavon seperti primuletin dan fisetil hanya
memiliki satu gugus hidroksil pada cicin A. (Sirait. 2007 : 132-133)
Flavanon
Flavanon tidak diperoleh secara alamiah, namun flavanon terhidroksilasi dapat diperoleh secara
alamiah. Keduanya dapat ditemukan dalam bentuk bebas atau terikat sebagai glikosida.
Dalam tanaman sering terdapat bersama flavon.
Contoh :
Hisperidin dan diosmin (Flavon), terdapat dalam kulit Zanthoxylum Avicennae
Naringen dan roifolin (Flavon), terdapat pada kulit buah Citrus Aurantum.
Berikut ini beberapa contoh struktur flavanon:
h Gl O
h Gl O
Naringin
Hesperidin
Perbedaan flavanon dengan flavon, yaitu :
Tidak seperti flavon (tidak jenuh), flavanon (jenuh), dapat menunjukkan reaksi dari gugus 4-karbonil.
Sifat flavanon terhadap alkali berbeda dengan flavon. Pada flavanon alkali akan terurai menjadi
benzaldehid, asam asetat dan fenol, sedang pada flavon akan terurai emnjadi fenol dan asam
sinamat.
Dehidrogenasi dari flavanon seperti hesritin menjadi diosmin, sangat penting karena memungkinkan
untuk menetapkan flavanon baru, bila diketahui flavonnya.
Flavanon mudah diubah menjadi flavanol dan flavon.
NBS

Flavon Flavon
H+
Flavanol
Flavanon terdistribusi luas di alam. Flavanon terdapat dalam kayu, daun, dan bunga. Flavanon
glikosida merupakan konstituen utama dari tanaman genus Prunus (fam Rosaceae) dan buah jeruk,
dua glikosida yang paling lazim adalah neringenin dan hesperetin, terdapat dalam buah anggur dan
jeruk.
Penentuan struktur flavanon cepat dilakukan berdasarkan metoda klasik. Polihidroksiflavanon
mudah dikenal dengan terbentuknya warna merah, lembayung, bila flavanon direduksi dengan
magnesium dalam asam klorida dalam larutan etanol. Persoalan dasar dalam menentukan struktur
flavanon adalah (a). posisi ikatan sisa gula, jika senyawa merupakan glikosida dan (b). posisi gugus
inti hidroksil dan metoksi cincin A dan B.
(Hardjono. 1996 : 150)

Hesperidin
Hesperidin pertama kali ditemukan oleh Leberton pada tahun 1828 dari albedo (spon bagian dalam
kulit) jeruk dari famili hesperides dan diberi nama hespeidin. Neohesperidin, isomer dari hesperidin
telah diisolasi bersama-sama dengan hesperidin dari buag jeruk masam belum masak yang ditanam
di Eropa. Neohesperidin merupakan senyawa pahit yang terdapat dalam buah jeruk, sedangkan
hesperidin merupakan senyawa yang tidak pahit, dan merupakan senyawa flavonoid yang dominan
dalam lemon dan jeruk yang biasanya manis.(Hardjono. 1996 : 221)

Hesperidin dapat diisolasi dengan 2 cara :
mengekstraksi kulit jeruk manis yang kering dengan potreleum eter dan metanol. Pelarut pertama
menghilangkan minyak atsiri dan yang kedua menghilangkan glikosida.
kulit jeruk yang dipotong-potong di ekstrak dengan alkali dan ekstrak di asamkan. Hesperidin dapat
dimurnikan dengan penambahan formanida- arang yang diaktifkan. Disebabkan ketidak larutannya
yang tinggi, bentuk kristal alami, hesperidin merupakan salah satu flvonoid yang paling mudah di
isolasi.
(Hardjono. 1996 : 221)

Isoflavon
Isoflavon adalah 3-fenil kromon. Pada saat ini diketahui terdapat sekitar 35 isoflavon. Isoflavon
dapat dipecah oleh alkali. Isoflavon menunjukkan aktivitas sebagai esterogenik, insektisida, dan anti
fungi. Beberapa diantaranya berguna untuk racun ikan. (Sirait. 2007 : 138)

Antosianin
Tak terhitung banyaknya warna biru, lembayung, violet, dan semua warna yang mendekati warna
merah yang terdapat pada sel getah bunga, buah, dan abtang tanaman yang berasal dari pigmen
antosianin dalam keadaan darurat. Pigmen yang terbebas dari gula disebut antosianidin. Struktur
umum dari antosianidin adalah ion flavilium (2-fenil-benzopirilium).
Flavillium (2-fenil-benzopirilium)
(Sirait. 2007 : 139-140)
Leukoantosianidin
Adalah flavan-3,4-diol, tidak berwarna, dalam larutan asam berwarna merah. Flavan-3,4-diol,
kadang-kadang diperoleh dari reaksi reduksi flavonol dan flavononol. Contoh leukoantosianidin
Peltoginol (Sirait. 2007 : 141-142)
2.1.3 Antioksidan
Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya
dengan cuma-cuma kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu sama sekali dan dapat memutus
reaksi berantai dari radikal bebas. Terdapat tiga macam antioksidan yaitu:
Antioksidan yang dibuat oleh tubuh kita sendiri yang berupa enzim antara lain ; superoksida
dismutase,glutathione peroxidase,perxidasi dan katalase.
Antioksidan alami yang dapat diperoleh dari tanaman atau hewan yaitu tokoferol,vitamin
C,betakaroten,flavonoid dan senyawa fenolik.
Antioksidan sintetik yang dibuat dari bahan-bahan kimia yaitu Butylated Hroxyanisole (BHA),
BHT,TBHQ, PG dan NDGA yang ditambahkan dalam makanan untuk mencegah kerusakan lemak. (Sri.
2006 : 16)
Atas dasar fungsinya antioksidan dapat dibedakan menjadi 5 (lima) seperti berikut yaitu:
1. Antioksidan Primer
Antioksidan ini berfungsi untuk mencegah terbentuknya radikal bebas baru karena ia dapat merubah
radikal bebas yang ada menjadi molekul yang berkurang dampak negatifnya,yaitu sebelum dapat
bereaksi.
Antioksidan primer yang ada dalam tubuh adalah enzim superoksida dismutase. Enzim ini sangat
penting sekali karena dapat melindungi hancurnya sel-sel dalam tubuh akibat serangan radikal
bebas. Proses kerjnya enzim ini sangat dipengaruhi oleh mineral-mineral seperti
mangan,seng,tembaga,dan selenium yang harus terdapat pada makanan dan minuman kita.
2. Antioksidan Sekunder
Antioksidan sekunder merupakan senyawa yang berfungsi menangkap radikal bebas serta mencegah
terjadinya reaksi berantai sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih besar. Contoh yang populer
yaitu antioksidan sekunder adalah vitamin E,vitamin C,dan betakaroten yang dapat diperoleh dari
buah-buahan. (Sri. 2006 : 17)
3. Antioksidan Tersier
Antioksidan tersier merupakan senyawa yang memperbaiki sel-sel dan jaringan yang rusak karena
serangan radikal bebas. Yang termasuk kelompok ini adlah jenis enzim metionin sulfoksidan
reduktase yang dapat memperbaiki DNA dalam inti sel. Enzim tersebut bermanfaat untuk perbaikan
DNA pada penderita kanker.

4. Oxygen Scavanger
Antioksidan yang termasuk oxygen scavenger mengikat oksigen sehingga tidak mendukung reaksi
oksidasi,misalnya vitamin C.
5. Chelators atau Sequesstrans
Antioksidan ini berfungsi mengikat logam yang mampu mengkatalisis reaksi oksidasi misalnya asam
sitrat dan asam amino. Tubuh kita dapat menghasilkan antioksidan berupa enzim yang aktif bila
didukung oleh nutrisi pendukung atau mineral yang disebut juga ko-faktor.
Antioksidan yang dihasilkan oleh tubuh antara lain:
Superosida Dismutase
Glutathione Peroksidase
Katalase (Sri. 2006 : 18-20)
2.1.4. Mekanisme Kerja Antioksidan
Antioksidan adalah bahan tambahan yang digunakan untuk melindungi komponen-komponen
makananyang bersifat tidak jenuh (mempunyai ikatan yang rangkap),terutama pada lemak dan
minyak. Antioksidan sendiri dapat melindungi komponen lain seperti vitamin dan pigmen,yang juga
banyak mengandung ikatan rangkap dalam strukturnya.
Mekanisme kerja antioksidan secara umum adalah menghambat oksidasi lemak. Utuk itu perlu
dipahami tentang mekanisme oksidasi lemak. Oksidasi lemak terdiri dari tiga tahap utama yakni
inisiasi,propagasi,dan terminasi. Pada tahap inisiasi terjadi pembentukan radikal asam lemak,yaitu
suatu senyawa turunan asam lemak yang bersifat tidak stabil dan sangat reaktif akibat dari hilangnya
satu atom hidrogen (reaksi satu). Pada tahap selanjutnya yaitu propagasi,radikal asam lemak akan
bereaksi dengan oksigen membentuk radikal peroksi(reaksi kedua). Radikal peroksi lebih lanjut akan
menyerang asam lemak menghasilkan hidroperoksida dan radikal asam lemak baru (reaksi ketiga).
Inisiasi : RH R* + H* (1)
Propagasi : R* + O2 ROO* (2)
ROO* + RH ROOH + R* (3)
Hidrokperoksida yang terbentuk bersifat tidak stabil dan akan terdegradasi lebih lanjut menghasilkan
senyawa-senyawa karbonil rantai pendek seperti aldehida dan keton yang bertanggung jawab atas
flavor makanan berlemak. Hasilnya yakni antioksidan yang baik akan bereaksi dengan radikal asam
lemak setelah senyawa tersebut terbentuk. Mekanisme kerja dan kemampuan dari antioksidan
sangat bervariasi. Seringkali kombinasi beberapa jenis antioksidan memberikan perlindungan yang
baik (sinergisme) terhadap oksidasi dibandingkan dengan satu jenis antioksidan saja. Contohnya
asam askorbat seringkali dicampur dengan antioksidan yang merupakan senyawa fenolik untuk
mencegah reaksi aksidasi lemak. Dalam proses melawan radikal bebas,vitamin E menjadi pelopor
diikuti oleh vitamin C dan dengan bantuan senyawa glutathion,betakaroten,seng,mangan,dan
selenium yang akan memudahkan pelumpuhan radikal bebas. (Sri. 2006 : 21)
2.1.5 Mengenal tentang Radikal Bebas
Radikal bebas adalah atom atau senyawa yang mengalami kehilangan pada pasangan
elektronnya,contohnya pada atom oksigen (O2) yang normalnya memiliki empat pasang elektron
lalu mengalami kehilangan pasangan. Pada proses metabolisme sehari-hari merupakan proses
biokimia yang menyebabkan terbentuknya radikal bebas,namun hali ini bersifat sementara karena
dengan cepat akan diubah menjadi senyawa yang tidak berbahaya bagi tubuh. Tetapi apabila terjadi
reaksi dalam tubuh yang berlebihan akan menyebabkan perampasan elektron pada oksigen sehingga
tidak berpasangan lagi akibatnya atom oksigen ini yang berusaha mengambil elektron dari senyawa
lain sehingga terjadi reaksi berantai.
(Sri. 2006 :

2.1.6 Pembentukan Radikal Bebas dalam Tubuh
Radikal bebas dapat masuk dan terbentuk dalam tubuh melalui pernafasan,kondisi lingkungan yang
tidak sehat,dan makanan berlemak. Berikut ini pembahasan penyebab-penyebab terjadinya
pembentukan radikal bebas dalam tubuh.

A. Melalui Pernafasan
Pada saat kita melakukan pernafasan maka akan masuk oksigen (O2) yang sangat dibutuhkan oleh
tubuh untuk proses pembakaran gula menjadi CO2,H2O,dan energi. Dalam hal ini O2 sangat
berperan karena bila tidak ada maka proses kehidupan akan tidak lancar dan membahayakan bagi
tubuh kita. Tetapi dengan bernafas atau yang berlebihansaat olahraga terjadi reaksi yang kompleks
dalam tubuh dan menghasilkan produk-produk sampingan berupa radikal bebas yaitu:
- Radikal oksigen singlet
-Radikal peroksida lipid
- Radikal hidroksil
-Radikal superoksida
Semua produk radikal bebas oksigen ini sangat cepat merusak jaringan-jaringan sel tubuh. Bila kita
mengerti ternyata oksigen dikatakan bahwa oksigen adalah pemasok radikal bebas sebab oksigen
sendiri adalah senyawa yang sangat kita butuhkan. Meskipun demikian oksigen juga berperan dalam
memasukan radikal bebas pada saat kita bernafas. Saat kita menghirup udara terpolusi oleh asap
rokok dan asap pembakaran bensin mobil,dapat memicu terbentuknya radikal bebas seperti radikal
oksigen singlet yang dapat merusak jaringan paru,selain itu radikal matahari/kosmis juga berbahaya
bagi manusia. (Sri. 2006:9)

B. Kondisi Lingkungan yang Tidak Sehat
Adanya asap rokok,pembakaran tidak sempurna dari kendaraan bermotor,bahan pencemar, radiasi
matahari,dan radiasi kosmis menyebabkan timbulnya radiasi kosmis yang menyebabkan timbulnya
radikal bebas karena terjadi proses oksidasi yang tidak sehat dan menimbulkan serentetan
mekanisme reaksi. (Sri. 2006 : 10)

C. Makanan Berlemak
Lemak sangat bermanfaat bagi tubuh kita tetapi konsumsi lemak yang berlebihan khususnya
konsumsi lemak polyunsaturated dan lemak hydrogenasi sangat berpotensi menghasilkan radikal
bebas. Lemak polyunsaturated,lemak ini disebut juga lemak tidak jenuh artinya lemak yang
mempunyai ikatan rangkap pada atom C-nya. Adanya ikatan rangkap tersebut mudah dioksidasi atau
terserang peroksidasi lipid yang membentuk menjadi radikal peroksida lipid. Makanan yang
mengandung polyunsaturated yaitu mayones dan saos yang akan mudah terserang radikal bebas.
Lemak hidrogenasi,adalah lemak yang ikatan rangkap tak jenuhnya telah disubtitusi dengan
hidrogen,lemak ini disebut margarin atau mentega tiruan. Margarin sendiri terbuat dari minyak
nabati atatu tumbuh-tumbuhan memiliki rasa yang enak,bau yang sedap dan kebanyakan orang
percaya mengkonsumsi margarin akan lebih sehat dibandingkan mentega dari susu hewan. Akan
tetapi jenis lemak hidrogenasi ini sangat berbahaya karena dapat mengubah kemampuan serap
selaput sel sehingga mengakibatkan fungsi selaput sel sebgai pelindung mnejadi tidak berarti. (Sri.
2006 : 11)

2.1.7 Cara Radikal Bebas merusak Organ Tubuh Kita
A. Penyakit Jantung Koroner
Penyakit Jantung Koroner menjadi pembunuh nomor satu. Hal ini disebabkan karena molekul besar
lemak yang disebut LDL atau low density lipoprotein teroksidasi oleh radikal bebas. LDL yang
teroksidasi akan mengendap di pembuluh darah jantung sehingga menjadi sempit sehingga aliran
darah terganggu dan sebagaian sel-sel jantung tidak mendapat cukup makanan dan mati.

B. Penyakit Kanker
Kanker disebabkan oleh adanya serangan radikal bebas pada DNA dan RNA dalam sel sehingga
terjadi pertumbuhan dan perkembangan sel yang abnormal penyebab kerusakan jaringan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa hamper 90% penyakit kanker disebabkan
oleh lingkungan,dan 20% disebabkan oleh faktor genetik atau turunan dan virus. Factor lingkungan
yang tidak sehat yang kita hirup seperti pembakaran kendaraan bermotor,asap rokok menyebabkan
sekitar 40% dan asupan makanan sekitar 25-30% dan udara dimana kita tinggal sebesar 10%.
Timbulnya kanker karena dalam tubuh kita terdapat senyawa penyebab timbulnya kanker atatu
karsinogen dan yang paling berbahaya adalah hidrokarbon aromatic yang paling dikenal dengan 3,4-
benzperenayang timbul akibat pembakaran yang tidak sempurna. (Sri. 2006 : 12)
2.2 Simplisia
Simplisia ialah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai bahan obat, kecuali dinyatakan lain berupa
bahan yang telah dikeringkan.Simplisia terdiri dari simplisia nabati, hewani dan pelican.
Simplisia nabati yaitu simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman.
Eksudat tanaman ialah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara
tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari
tanamannya dan belum berupa zat kimia murni. (Anonim, 1987 : 1)
Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh bagian hewan atau zat-zat yang di hasilkan
oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.
Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelican atau mineral yang belum di
olah atau telah di olah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni. (Anonim, 1987 : 2)
pembuatan simplisia secara umum
Sumber simplisia tanaman obat dapat berupa tumbuhan liar atau tumbuhan hasil budi daya.
Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang tumbuh sendiri di hutan, pekarangan, pagar, atau ditempat
lain,sedangkan tanaman budi daya adalah tanaman yang sengaja di tanam untuk menghasilkan atau
memproduksi simplisia. Tumbuhan liar umumnya kurang baik dijadikan sumber simplisia karena
simplisia yang berasal dari tanaman liar mutunya tidak tetap di sebabkan:
1 .Usia atau bagian tumbuhan yang diproses tidak tepat,
2. Jenis atau spesies tumbuhan yang di panen sering kurang diperhatikan secara
seksama sehingga simplisia yang diperoleh sering tidak sama. Apalagi jika yang
memanen orang awam,bentuk yang berdekatan kemungkinan akan sulit
dibedakan.
3. Tempat tumbuh yang berbeda akan mengakibatkan perbedaan kandungan
senyawa aktif.

Tanaman budidaya diharapkan akan dapat meningkatkan mutu simplisia dengan cara:
Pemilihan bibit unggul sehingga simplisia yang dihasilkan memiliki kandungan senyawa aktif tinggi.
Pengolahan tanah, pemilihan, pemupukan, dan perlindungan tanaman dapat dilakukan secara
saksama dengan menggunakan teknologi agroindustri yang maju.
Teknologi pembuatan simplia:

Berbagai cara pembuatan simplisia antara lain:
- Pembuatan simplisia dengan cara pengerian
-Simplisia di buat dengan proses fermentasi
-Proses pembutan simplisia yang memelukan air
-Simplisia di buat melalui proses khusus
-Tahapan pembuatan
- pengambilan atau pengumpulan bahan baku
- sortasi basah
-pencucian
- penyaringan
- pengeringan
-sortasi kering
-pengepakan
-penyimpanan
- pemeriksaan mutu
- Pengumpulan bahan baku
-Kadar bahan aktif simplisia bergantung pada :
-bagian tanaman yang digunkan
-usia tanaman atau bagian tanaman saat panen
- waktu panen
- lingkungan tumbuh

Pedoman panen adalah sebagai berikut:
Biji
tanaman yang di panen berupa biji yang telah tua. Biji di ambil dengan cara mengeringkan
buah.
Buah
Waktu pemetikan buah sering di kaitkan dengan tingkat kematangan, di tandai dengan terjadinya
perubahan pada buah.
daun( pucuk)
pengambilan dilakukan pada saat tanaman mengalami perubahan pertumbuhan dari vegetative ke
generative.
Daun(tua)
di pilih yang telah membuka sempurna dan terletak di bagian cabang atau batang yang menerima
sinar matahari sempurna.
Kulit batang.
Pengambilan di lakukan pada saat tanaman telah cukup umur, agar pengambilan tidak mengganggu
pertumbuhan, sebaiknya dilakukan pada musim yang menguntungkan.
Umbi lapis
pengambilan dilakukan pada saat umbi mencapai besar maksimal dan pertumbuhan bagian di atas
tanah berhenti.
Rimpang
Pengambilan di lakukan pada musim kering dengan di tandai mengeringnya bagian atas tanaman.
Dalam keadaan ini besar rimpang sudah maksimal.
Tabel bagian tanaman, cara pengumpulan, dan kadar air simpilisia
Bagian tanaman Cara penertaan kadar air simplisia
Kulit batang Batang utama dan cabang di kelupas dengan cabang tertentu <10%
Batang Cabang dengan di ameter tertentu di potong dengan panjang terttentu pula <10%
Kayu Batang atau cabang di potong kecil setelah kulit di kelupas <10%
Daun Pucuk yang tua atau muda di petik dengan tangan satu persatu <5%
Bunga Pucuk atau bungan mekar,mahkota bunga di npetik dengan tangan <5%
Pucuk Pucuk berbunga di petik dengan tangan <8%
Akar Dari bawah permukaan tanah , di potong dengan ukuran tertentu <10%
rimpang Di cabut,dibersihkan dari akar,dipotong melintang dengan ketebalan tertentu <8%
Buah Masak,hampir masak dipetik dengan tangan <8%
Biji Buah dipetik,di kupas kulit buahnya menggunakan tangan atau pisau atau digilas <10%
Kulit buah Seperti biji kulit buah dikumpulkan dan di cuci <8%
Bulbus Tanaman di cabut, bulbus di pisah dari daun dan akar dengan memotong kemudian di cuci

Sortasi Basah
Sortasi basah adalah pemilihan hasil panen ketika tanaman masih segar. Sortasi dilakukan terhadap
tanah dan kerikil, rumput-rumputan, bahan tanaman lain dari tanaman yang tidak digunakan, dan
bagian tanaman yang rusak karena dimakan serangga.
Pencucian
Pencucian simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat, terutama bahan-bahan
yang berasal dari dalam tanah dan juga bahan-bahan yang tercemar peptisida. Pencucian bisa
dilakukan dengan menggunakan air yang berasal berbagi sumber, sebagai berikut:
Mata Air
Pencucian yang dilakukan dengan menggunakan air yang berasal dari mata air harus
memperhatiakan kemungkinan pencemaran yang diakibatkan oleh adanya mikroba dan peptisida.
Sumur
Pencucian menggunakan air sumur perlu memperhatikan pencemar yang mungkin timbul akibat
mikroba dan air limbah buangan rumah tangga.
PAM
Pencucian menggunakan fasilitas air PAM sering tercemar oleh kapur khlor. Sebelum pencucian
kadang-kadang perlu dilakukan proses pengupasan kulit luar, terutama untuk simplisia yang berasal
dari kulit batang, kayu, buah, biji, dan rimpang.
Pengubahan Bentuk
Pada dasarnya tujuan pengubahan bentuk simplisia adalah untuk memperluas permukaan bahan
baku. Semakin luas permukaan maka bahan baku akan semakin cepat kering. Proses pengubahan
bentuk ini meliputi beberapa perlakuan sebagai berikut:
-Perajangan untuk rimpang dan daun.
- Pengupasan untuk buah, kayu, kulit kayu, dan biji-bijian yang berukuran besar.
- Pemiprilan khusus untuk jagung, yaitu biji dipisahkan dari bonggolnya.
- Pemotongan untuk akar, batang, kayu, kulit kayu, dan ranting.
- Penyerutan untuk kayu.
- Pengeringan
Proses pengeringan simplisia, terutama bertujuan untuk berikut.
- Menurunkan kadar air sehingga bahan tersebut tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri.
-Menghilangkan aktivitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut kandungan zat aktif.
- Memudahkan dalam hal pengelolaan proses selanjutnya.
Cara pengeringan bahan:
Untuk tanaman rendah, misalnya lumut, jamur, thallua, agar-agar, dan rerumputan laut dikeringkan
dengan cara dijemur di bawah sinar matahari. Setelah kering, disimpan dalam kantung kedap
uadara.
Untuk bahan berupa akar, pengeringan dilakukan dengan cara dirajang atau dipotong-potong
pendek, kemudian dijemur langsung di bawah sianar matahari. Oleh karena akar termasuk bahan
keras maka sebaiknya dijemur di bawah matahari langsung atau tanpa pelindung.
Untuk bahan berupa buah seperti jeruk bisa dibelah terlebih dahulu, baru dijemur. Dapat pula buah
diperam (asam), baru dijemur. Sementara untuk buah pala atau cabai merah bisa langsung dijemur
atau dioven. Syarat pengeringan menggunakan oven adalah panasnya tidak boleh lebih dari 600C.
Untuk bahan berupa bunga hanya diangin-anginkan di tempat yang teduh atau jika menggunakan
oven maka sushu diatur rendah sekitar 250 350 C.
Untuk bahan berupa kulit batang umumnya dibelah terlebih dahulu, diserut, atau dipecah kemudian
langsung dijemur di bawah sinar matahari langsung.
Untuk bahan berupa rimpang harus dirajang terlebih dahulu untuk memperluas permukaan,
kemudian dijemur di bawah matahari tidak langsung. Tujuannya untuk menghindari penguapan yang
terlalu cepat yang dapat berakibat menurunkan mutu minyak atsiri di dalam bahan. Penjemuran
tidak langsung bertujuan untuk menghidari kontak langsung dengan pancaran gelombang ultra
violet.
Bahan bahan eksudat seperti getah, daging daun lidah buaya, dan biji jarak yang akan diambil
minyak lemaknya tidak perlu dilakukan proses pengeringan.
Untuk bahan berupa daun atau bunga yang akan diambil minyak atsirinya maka cara pengeringan
yang dianjurkan adalah menghindari pnguapan terlalu cepat dan proses oksidasi udara.

Sortasi Kering
Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan. Pemilihan dilakukan
terhadap bahan bahan yang terlalu gosong, bahan yang rusak akibat tertindas roda kendaraan,
atau dibersihkan dari kotoran hewan.
Pengepakan dan penyimpanan
Setelah tahapan pengeringan dan sortasi kering selesai maka simplisia perlu ditempatkan dalam
suatu wadah tersendiri agar tidak saling tercampur antara simplisia satu dengan lainnya.
Selanjutnya, wadah wadah yang berisi simplisia disimpan dalam rak pada gudang penyimpanan.

Adapun faktor faktor yang mempengaruhi pengepakan dan penyimpanan simplisia adalah sebagai
berikut:
-Cahaya
-Oksigen atau sirkulasi udara
-Reaksi kimia yang terjadi antara kandungan aktif tanaman dengan wadah
-Penyerapan air
-Kemungkinan terjadinya dehidrasi
-Pengotoran atau pencemaran, baik yang diakibatkan oleh serangga, kapang, bulu
- bulu tikus atau binatang lain.
Cara Penyimpanan simplisia
Semua simplisia harus disimpan sedemikian rupa sehingga perubahan karena cahaya atau lengas,
sejauh mungkin dihindari. Simplisia yang mudah meyerap air (higroskopik) harus disimpan dalam
wadah tertutup rapat berisi kapur tuhor. Disimpan terlindung dari cahaya : simplisia harus disimpan
dalam wadah atau botol yang di buat dari kaca inaktinik berwarna hitam, merah atau coklat tua.
Disimpan dalam suhu kamar : jika tidak disertai penjelasan lain, dismpan pada suhu antara 0 dan
15oc. Dismpan dalam tempat dingain: jika tidak disertai penjelasan lain, disimpan pada suhu 0 dan
5oC. (Agoes. 2007 : 10-15)
Pengujian Simplisia
Pengujian pendahuluan meliputi pengujian dengan cara organoleptik, makroskopik, mikroskopik,
histokimia,deteksi senyawa kandungan secara kimia.
Uji Organoleptik
Uji organoleptik dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekhususan bau dan rasa simplisia yang
di uji.
Uji Makroskopik
Uji makroskopik dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau tanpa menggunakan alat. Cara
ini dilakukan untuk mencari kekhususan morfologi, ukuran dan warna simplisia yang di uji.
Uji Mikroskopik
Uji mikroskopik dilakukan dengan dengan menggunakan mikroskop yang derajat pembesarannya
disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang diuji dapat berupa sayatan melintang, radial,
paradermal maupun ,membujur atau berupa serbuk. Pada uji mikroskopik di cari unsure-unsur
anatomi jaringan yang khas. Dari pengujian ini akan diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen
pengenal yang spesifik bagi masing-masing simplisia.
Penyiapan sayatan
Penyiapan sayatan simplisia dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Simplisia nabati direndam atau direbus dalam air agar dapat membengkak kembali seperti pada
waktu masih segar. Untukdaun dan bunga direndam dalam air, bila perlu direndam dalam air
hangat. Untuk akar, kulit batabg, kulit batang,batang dan simplisia keras yang lain direndam dalam
air panas, bila perlu dididihkan.
Untuk simplisia nabati yang mengandung getah, setelah direndam dalam air lalu direndam lagi
dalam etanol,sehingga cukup keras untuk disayat. Simplisia disayat dengan pisau silet atau dengan
alat mikrotom. Sayatan dapat berbentuk sayatan melintang, radial, paradermal, atau membujur
sesuai dengan keperluan. Hasil sayatan dimasukkan dalam gelas arloji yang berisi air. Untuk
membersihkan sayatan, maka sayatan tersebut direndam dalam larutan kloral hidrat 70% LP, selama
sekurang-kurangnya 20 menit. Setelah jernih sayatandi cuci dengan air dan di beri warna.
Pewarnaan
Sesudah dicuci irisan dimasukkan ke dalam larutan hijau iodium LP selama 1 menit, irisan kemudian
di cuci dengan air beberapa kali, sesudah itu kemudian di masukkan ke dalam larutan tawas karrmen
LP selama 5 menit sampai 10 menit,terakhir di cuci dengan air. Irisan yang telah siap ditetesi air lalu
diperiksa di bawah mikroskop.dinding sel yang berlignin berwarna biru atau biru kehijauan; sedang
dinding sel yang terdiri dari selulosa berwarna merah.
Pada irisan yang telah dijernihkan dengan kloral hidrat dapat pula di tambahkan dengan beberapa
tetes larutan floroglusin HCL LP, jaringan yang berlignin berwarna merah.
Fiksasi
Irisan berwarna dapat fiksasi di dalam gliserin netral atau di dalam gelatin dan balsam kanada agar
dapat disimpan lama.
Uji serbuk
Uji serbuk simplisia dilakukan sebagai berikut:
Sedikit serbuk simplisia diletakkan di atas kaca obyek. Serbuk tersebut di tetesi dengan larutan kloral
hidrat 70% LP, kemudian dipanaskan dan di jaga jangan sampai kering.
Uji Histokimia
Uji histokimia bertujuan untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan yang terdapatdalam
jaringan tanaman. Dengan pereaksi yang spesifik, zat-zat kandungan tersebut akan memberikan
warna yang spesifik pula, sehingga mudah di deteksi. (Anonim. l987 : 2)
Pembuatan simplisia secara khusus
Perlakuan khusus dilakukan apa bila :
Mengandung jamur, lumut kerak dan paku-pakuan, simplisia
Di jemur di sinar matahari
Dikemas dalam bentuk plastic atau kaleng
Diberi bahan pengering (penyerap air dan oksigen )

Akar
Setelah dicuci, diiris tipis dan dipotong pendek
Dikeringkan di sinar matahari atau lemari pengering
Buah
Buah yang sudah agak kering seperti lada dan adas lansung di jemur
Buah yang agak besar di potong tipis setelah itu dijemur
Bunga
Langsung dikeringkan di sinar matahari, di angin-anginkan atau di lemari pengering
Daun
Sama seperti bunga
Kayu
Diserut lalu
Dikeringkan dengan lemari pengering
Herba
Pengeringan seperti kayu
Kulit
Pengeringan seperti kayu
Rimpang
Dicuci
Rimpang yang kecil dibiarkan sedangkan yang besar di iris kecil melintang
Yang lain ada yang direndam dengan air kapur atau air mendidih
Dikeringkan dengan sinar matahari atau lemari pengering
Umbi
Dicuci
Diiris setipis mungkin
Pengeringan dengan lemari pengering(Bila dalam keadaan utuh seperti bawang merah, setelah
dicuci lalu dijemur)
Umbi lapis
Bila dalam keadaan utuh seperti bawang merah, setelah dicuci lalu dijemur
Balsam, malam, getah dan gom
Lazim tik memerlukan pengeringan . bila perlu ada gom yang dapat dijemur
Hasil pengolahan
Seperti agar-agar, jadam, kolofonium, dsb. Disimpan seperti apa adanya, wadah disesuaikan dengan
kontruksi dan bentuk simplisia.
Untuk hasil pengolahan yang bersifat higroskopis disimpan menggunakan zat pengeriing
Simplisia yang berasal dari hewan
Simplisia dari tubuh hewan: dikeringkan di sinar matahari atau lemari pengering
Minyak lemak: pengolahan tergantung dari bahan baku. Pentimpana dalam wadah yang terisis
penuh
Lemak dan lilin hewan : dikeringkan di sinar matahari atau lemari pengering
Miinyak lemak: pengolahan tergantung dari bahan baku. Pentimpana dalam wadah yang terisis
tertutup
Hasil olahan cair ( madu): penyimpanan dalam wadah terisis penuh dan tertutup baik
Minyak mineral
Pengolahan dilakukan oleh perusahan minyak bumi
Penyimpanan dalam wadah tertutup baik
Minyak atsiri
Penyimpanan dalam wadah terisi penuh, tertutup baik, terlindung dari cahaya, dan pada suhu
kamar.
Minyak Nabati Padat
Perlakuan sama dengan lemak coklat dan lemak pala
Penyimpanan dalam wadah tertutup baik
Pengaruh kehilanagan air secara cepat dan bertahap dari simplisia
Perlakuan fisika dan fisikokimiamengakibatkan bagian internal sel mengalami perubahan luar biasa
karna kehilanga air. Keadaan bentuk gel dalam plasma terganggu karana terjadi dehidrasi.
Komponen aktif yang pada awalnya terlarut dalam cairan sel, sebagian mengendap dan sebagian lagi
tertarik kembali pada struktur plsma yang mengalami ganggua.
Enzim yang sebagian besar terlokalisasi pada plasma tanaman hidup. Berkontak pada bahan aktif
yanf pada awalnya terlarut dalam cairan sel. Pada saat pengeringan dimulai, bergantung pada tipe
enzim dam substratnya, aka terjadi hidrolisis, oksidasi, polimerasi dan perubahan lainnya.
Tanaman memerlukan air untuk bekerja. Kandungan air dalam obat sangat rendah sehingga reaksi
penguraian hampir tidak terjadi, atau lambat. Oleh karena itu penyimpanan pada cara tertentu tidak
terjadi, dan stabilitas dapat terjamin.perlu diingat bahwa cukup banyak enzim yang masih bias
bertahan selam pengeringan, dana dapat aktif kembali apa bila air sudah tersedia kembalai dalam
jumlah yang cukup
Enzim penting yang menguraikan zat untuk produksi obat:
Oksidase dan peroksidsase: mengoksidasi fenol-fenol asam lemak tidak jenuh , terpen dsb
isomerase: menyebabkan isomerisasi alakaloida ergot atau zat aktif lain yang bersifat optik aktif
Hidrolase: memecah ester dan glikosida dan menguraikan polisakarida
Ada 2 cara untuk melindungi obat dan kerja enzim ini:
Pengeringan secepat mungkin
Denaturasi dari enzim: stabilisasi obat yang sulit sekali dikerjakan dalam jumlah besar
(Agoes. 2007: 15-20)
Screening
Screening fitokimia merupakan analisis kualitatif terhadap senyawa-senyawa metabolit sekunder.
Suatu ekstrak dari bahan alam terdiri atas berbagai macam metabolit sekunder yang berperan dalam
aktivitas biologinya. Senyawa-senyawa tersebut dapat diidentifikasikan dengan pereaksi-pereaksi
yang mampu memberikan ciri khas dari setiap golongan dari metabolit sekunder. (Harborne.1987)

2.8.1 Metode Tabung
Metode tabung merupakan salah satu metode yang memenuhi persyaratan untuk melakukan
skrining. Hal ini karena pada metode ini bersifat sederhana, selektif dan cepat. Prinsip kerja metode
ini adalah pelarut ditambahkan pereaksi atau reagen yang sesuai untuk senyawa yang akan
diidentifikasi. Kemudian dipanaskan atau tidak dan akan menghasilkan reaksi yang merupakan
indikator senyawa yang terkandung dalam tanaman tersebut. Metode ini dilakukan dengan cara
membuat serbuk simplisia terlebih dahulu, kemudian melakukan uji untuk beberapa golongan
senyawa yang sesuai dengan karakterisitiknya.
Metode tabung merupakan salah satu metode yang memenuhi syarat untuk melakukan screening
fitokimia. Hal ini dikarenakan pada metode ini bersifat sederhana dengan menggunakan tabung
reaksi dan beberapa alat yang sederhana bersifat selektif dan juga tepat.
Prinsip kerja dan metode ini adalah larutan zat ditambahkan pereaksi kemudian dipanaskan dan
akan menghasilkan reaksi yang merupakan indikator dari golongan senyawa dari suatu tanaman.
Metode tabung ini dilakukan dengan cara membuat serbuk simplisia dengan suatu proses yang
sesuai dengan karakteristiknya.
Tujuan utama dari skrining fitokimia adalah untuk mengetahui tumbuhan yang mengandung
senyawa bioaktif atau kandungan yang berguna bagi kesehatan. Metode yang digunakan atau dipilih
untuk melakukan skreening fitokimia meliputi beberapa persyaratan seperti sederhana dan cepat,
dapat dilakukan dengan peralatan yang sederhana, selektif terhadap senyawa yang dikehendaki,
bersifat semi kuantitatif, yaitu memiliki batas kepekaan yang tinggi untuk senyawa yang
dikehendaki, dapat memberikan keterangan tambahan ada tidaknya senyawa tertentu dari golongan
senyawa yang dipelajari.
Analisa kualitatif untuk mengetahui golongan senyawa yang bioaktif dapat dilakukan dengan uji
tabung dan uji kualitatif secara KLT. Kedua metode ini dilakukan dan digabungkan untuk melakukan
survei tumbuhan. Dalam metode tabung ini serbuk dari simplisia tertentu yang akan diuji
ditambahkan dengan reagen tertentu tergantung dari metabolit sekunder yang ingin diteliti.

Kromatografi lapis tipis (KLT)
Secara umum fase diamnya berupa lapisan tipis dan fase geraknya mengalir karena kerja kapiler.
fase cair beru[a lapisan tipis (tebal 0,1 - 2 mm) yang terdiri atas bahan padat yang dilapiskan kepada
lapisan penyanggah datar yang biasanya terbuat dari kaca, tetapi dapat pula terbuat dari pelat
polimer atau logam. Lapisan melekat kepada permukaan dengan bantuan bahan pengikat, biasanya
kalsium sulfat atau amilum (pati). Pada KLT lapisan itu biasanya berfungsi sebagai permukaan padat
yang menyerap (cair-padat), walaupaun dapat pula dipakai sebagai penyangga zat cair.

2.8.3 Urutan kerja KLT :
Campuran yang akan dipisahkan dilarutkan dalam pelarut yang sesuai, lebih menguntungkan jika
dipakai pengembang atau pelarut yang kepolarannya sama dengan pengembang dan ditotolkan
berupa bercak (garis tengah 15 mm) pada lapisan dekat salah satu ujung (kira-kira 2 cm dari ujung).
Penotolan biasanya dilakukan memakai kapiler kaca, tetapi dapat pula silakukan dengan semprit
atau alat otomatis. Pelarut dibiarkan menguap atau dihilangkan dengan bantuan aliran udara kering
atau nitrogen. Lapisan kemudian dimasukkan kedalam bejana pengembang yang berisi pelarut yang
didalamnya sekitar 1 cm yang akan bertindak sebagai fase gerak. Ini dilakukan demikian rupa
sehingga pelarut berkontak dengan lapisan pada ujung yang dekat dengan bercak totolan, tetapi
tentu saja dibawah totolan itu. Lalu bejana ditutup ketat dan pelarut dibiarkan sampai 10-15 cm di
atas totolan cuplikan.

Istilah yang sering digunakan dalam KLT :
Titik awal : titik tempat campuran ditotolkan pada ujung pelat atau lembaran
Penotolan : cara menempatkan cuplikan itu disana.
Garis depan pelarut : bagian atau fase bergerak atau pelarut ketika ia bergerak melalui lapisan, dan
setelah pengembangan sesuai, merupakan tinggi maksimum yang di capai oleh pelarut.
Rf : harga yang menyatakan perilaku senyawa tertentu didalam sistim kromatografi tertentu. Angka
ini diperoleh dengan membagi jarak yang ditempuh oleh bercak linarut dengan jarak yang ditempuh
oleh garis depan pelarut. keduanya diukur dari titik awal, dari Rf beragam mulai dari 0-1.

2.8.4 Kromatogarfi lapis tipis preparative ( KLTP )
Salah satu metode pemisahan yang memerlukan biaya yang paling murah dan memakai peralatan
paling dasar yaitu KLTP. Walaupun KLTP dapat memisahkan bahan dalam jumlah gram, sebagian
besar pemakainya hanya dalam jumlah milligram. KLTP bersama-sam dengan kromatigrafikolom
terbuka, masih dijmpai dalam sebagian besar publikasi mengenai isolasi bahan alam , terutama dari
labiratorium yang tidak lengkapi degna cara pemisaha modern. (Hostettmann. 1995 : 9)

Penyerap (adsorben)
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk memeriksa pengaruh ketebalan penyerap terhadap
kualitas pemisahan tetapi ketebalan yang sering dipakai adalah 0,5 -2 mm . ukuran pelat
kromatografi biasanya 20x20 cm atau 20x40 cm . pembatasan ketebalan ukuran lapisan dan ukuran
pelat sudah tentu mengurangi jumlah bahan yang dapat dipisahkan dengan KLTP. Penyerap yang
paling umu ialah silica gel dan dipakai untuk pemisahan campuran senyawa lipofil maupun
campuran senyawa hidrofil. Untuk pembuatan lapisan tanpa retak dianjurkan memakai penyerap
niaga yang tersedia. Ukuran partikel dan porinya kurang lebih sama dengan ukuran tingkat mutu
KLT. (Hostmann. 1995 : 9)
Pelat KLTP dapat dibuat sendiri atau dibeli dengan sudah terlapisi penyerap (biasanya disebut pelat
siap pakai atau pelat pralapis). Keuntungan membuat pelat sendiri ialah bahwa ketebalan dan
susnan lapisan dapat kia atur sendiri. Jadi, perak nitrat, senyawa dapr, dsb. Dapat dicampur dengan
penyerap pembuatan lapisan penyerap. (Hostettmann. 1995 : 9)
Pembuatan lapisan penyerap yang diperlukan dapat dikerjakan denganmemakai salah satu dari alat
penyaput niaga yang banyak jenisnya misalnya dari camag, desaga dsb. Petunjuk untuk penggunaan
pelat biasanya terdapat pada kemasan penyerap yang bersangkutan. (Hostettmann. 1995 : 9

penotolan cuplikan
cuplikan dilarutkan dengan sedikit pelarut sebelum ditotolkan pada pelat KLTP. Pelarut yang baik
ialah pelarut atsiri (heksana, diklorometana, etil asetat), karena jika tidak atsiri terjadi pelebaran
pita. Konsentrasi cuplikan harus sekitar 5-10%. Cuplikan ditotolkan berupa pita yang harus sesempit
mungkin karena pemisahann bergantung pada lebar pita. Penotolan dapat dilakukan dengan tangan
(pipet) tetapi lebih baik dengna penotolan otomatis (camag, desaga, dsb). Untuk pita yang terlalu
lebar, dapat dilakukan pemekatan dengan cara pengembangan memakai palerut polar sampai kira-
kira 2 cm diatas tempat totolan . kemudian pelat dikeringkan dan dielusi dengan pelarut yang
diinginkan (Stahl 1967). Pelat pralapis khusus dengan daerah pemekatan dapat dibeli. (Hostettmann.
1995 : 9)

Isolasi senyawa yang sudah terpisah
Kebanyakan penyerap KLTP mengandung indikator fluoresensi yang membantu mendeteksi
kedudukan pita yang terpisah sepanjang senyawa yang dipisahkan menyerap siunar UV. Akan tetapi
beberapa indicator menimbulkan masalah bereaksi dengan asam kadang-kadang asam asetat.
Untuk senyawa yang tidak menyerap UV ada beberapa pilihan :
-Menyemprot dengan air (misalnya saponini)
-Menutup pelat dengan sepotong kaca meyemprot salah satu sisi dengna pereaksi semprot.
-Menambahkan senyawa pembanding
Pita yang kedudukanya telah diketahui dikerok dari pelat dengan spatula atau pengerok berbentuk
tabung yang disambungkan ke pengumpul vakum. Cara terakhir tidak dapt dilakukan untuk senyawa
peka karena penyerap yang mengandung senyawa yang sudah murni terus menerus kena aliran
udara dan risiko kena otooksidasi selalu ada. Cara mengumpulkan mana pun yang dipakai, senyawa
harus diekstrasi dari penyerap dengan pelarut yang paling kurang polar yang mungkin (sekitar 5 ml
pelarut untuk 1 gram penyerap). Harus diperhatikan bahwa makin lama senyawa berkontak denga
penyerap makin besar kemungkinan penguraian. Ekstrak disaring melalui frit kaca berkeporian 4
dan kemudian melalui membran 0,2-0,45 m. (Hostettmann. 1995 : 11)
Kromatografi lapis tekan (Overpressure Layer Chromatography, OPLC)
Pada kromatografi lapis tekan, pelat kromatografi lapis tipis yang letaknya datar ditutup dengan
membrane kenyal. Membaran diberi tekan sehingga pemisahan dapat dilakuka pada pelat KLT tanpa
atmosfer uap. Fase gerak dipompa merambati pelat. Dalam linkungan yang sama sekali tertutup,
parameter aliran pelarut, tekanan dan suhu dapat di atur dengna keterulangan yang tinggi.
(Hostettmann. 1995 : 12)
Kromatografi lapis tipis sentrifugal
Kromatografi lapis tipis preparatif klasik mempunyai beberapa kekurangan, kekuranag yang pertama
ialah pemganbilan senyawa dari pelat yang dilanjutkan dengna pemgektraksian dari penyerap. Jika
senyawa beracun harus dikerok dari pelat, dapat menimbulkan masalah serius.
Kekurangan lainnya ialah jangka waktu yang diperlukan untuk pemisahan dan adanya pencemaran
dari sisa dari pelat sendiri setelah pengekstraksian senyawa yang mengandung senyawa ygn
dipisahkan dengan pelarut.
Untuk mengatasi beberapa masalah tersebut, beberapa pendekat ayang melibatkan kromatografi
sentrifugal telah dicoba. Pada prinsipnya kromatografi sentrifugal kromatografi klasik dengan aliran
fase gerak yang dipercepat oleh gaya sentrifugal.
(Hostettmann. 1995 : 12)
Ekstraksi
Ekstraksi adalah penyarian zat-zat aktif dari bagian tanaman obat. Adapun tujuan dari ekstraksi yaitu
untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam simplisia.
Prinsip Ekstrasi
Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari
yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan
masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi
antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak
keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut
berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.
Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan
yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan.
Cara Penyarian atau Ekstraksi
Maserasi adalah proses pengekstraan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali
pengocokkan atau pengadukan pada temperature ruangan (kamar). Secara teknologi masuk ekstrasi
dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti
dilakukan pengadukan yang kontinu (terus-menerus). Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia
yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang
mudah mengembang dalam cairan penyari. Keuntungan cara meserasi adalah cara pengerjaan dan
peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. (Anonim. 2000 : 10)
Proses yang paling sederhana hanyalah menuangkan pelarut pada simplisia. Sesudah mengatur
waktu sehingga sesuai untuk tiap-tiap bahan tanaman (simplisia), ekstrak dikeluarkan, dan ampas
hasil ekstrak dicuci dengan pelarut yang segar sampai didapat berat yang sesuai.Prosedur ini sama
dengan pembuatan tinktur atau ekstrak khusus, dan kadag-kadang meupakan satu-satunya prosedur
untuk tanamn yang mengandung zat berlendir (musilago) tinggi. Sebetulnya cara ini tidak begitu
berguna karena tidak pernah dapat menarik zat berkhasiat dari tanaman secara sempurna. Ampas
menahan sejumlah besar solut, yang untuk perolehannya harus dilakukan proses pemerasan
(penekanan) atau secara sentrilfugasi.
Tahap akhir merupakan tahap yang sangatdiperlukan pada proses meserasi, baik statis maupun
dinamis, yang dilakukan dengan turbo ekstrasi yang kurang lebih dapat menghancurkan tanaman.
Jika bahan yang akan diekstrasi mahal harganya, maka lazim dicari cara yang semaksimal mungkin
dapat menarik bahan berkhasiat dari residu. (Agoes. 2007 : 38-39)
2.5 Isolasi
Banyak senyawa dari golongan falvonoid yang mudah larut dalam air, terutama bentuk glikosidanya
dan oleh karena itu senyawa ini berada dalam ekstrak air tumbuhan. Bahkan senyawa yang hanya
larut sedikit dalam air kepolaranya memadai untuk diekstraksi dengan baik memakai methanol,
etanol atau aseton dan methanol 80% barang kali merupakan pelarut yang sering dipakai untuk
ekstrasi flavonoid. Pengekstraksian kembali larutan dalam air dengan pelarut organic yang tidak
bercampur dengan air tetapi agak polar sering kali bermanfaat untuk memisahkan golongan ini dari
senyawa yang lebih polar seperti karbohidrat.
Etil asetat merupakan pelarut yang baik untuk menangani katekin dan proanto sianidin dengan cara
ini. Benzana dapat dipakai untuk benzofenon dan stilbena. Amil alcohol telah dipakai secara luas
untuk antosiamin, butyl alcohol sekunder adalah alcohol yang paling polar yang bercampur dengan
air secara tidak sempurna, dan jika ekstrak air dijenuhkan dengan natrium klorida atau magnesium
sulfat pelarut ini sangat baik untuk mengektraksi senyawa golongan ini. Senyawa polifenol seperti ini
sangat peka terhadap oksidasi udara dalam larutan netral atau basa oleh karena itu dianjurkan untuk
membuat ekstrak memakai asam encer misalnya HCl 0,1M dan senyawa pereduksi seperti asam
ascorbat. Akan tetapi asam panas atau jika dibiarkan lama dengan asam pada keadaan dingin dapat
menyebabkan terjadinya hidrolisis glikosida dan ester malonil. Tanin dapat dibebaskan dari ikatanya
yang kuat pada protein dengan mengekstrasi protein memakai fenol. (Trevor. 1995 : 208)

BAB III
METODELOGI KERJA
3.1 Alat dan Bahan
A. Alat Alat yang dibutuhkan Pembuatan dan standarisasi SimplisiaPisau Timbangan
wadah mikroskop
beaker glass kaca objek
labu tersumbat cawan penguap
kertas saring Bunsen
botol labu alas bundar
buret kondensor
Screening
Refluks Gelas Ukur
Sendok tanduk
Pipet
Water Bath Erlenmeyer
Corong Buchner
Ekstraksi
Erlenmeyer Corong Buchner
Batang Pengaduk
Isolasi
Erlenmeyer Corong Buchner
Batang Pengaduk
Identifikasi Hesperidin
Tabung Pipet
Rak Tabung Reaksi
B. Bahan Bahan yang dibutuhkan
Determinasi:
Kulit Jeruk Manis
Pembuatan Simplisia
Kulit Jeruk Manis
Screening
Serbuk Jeruk Manis Serbuk Seng
Metanol
Etil Asetat
Eter minyak tanah P Asam Klorida P
Asam Klorida 2N
Etanol (95%) P
Ekstraksi
Kulit Jeruk Manis Lap. Tipis Celite
Kalsium Hidroksida
Isolasi
Kulit Jeruk Manis As. Klorida P
Lar. Formamida Aquadest
Identifikasi Hesperidin
Lar. Hesperidin As. Klorida
Besi (III) Klorida Etanol


3.2 Langkah Kerja (Skema dan Uraian)
3.2.1 Pembuatan Simplisia
pengambilan kulit buah jeruk, langsung disortir dengan melihat penampilan fisik kulit buah.
mencuci semua bahan dengan air bersih. Ditimbang.
dilakukan perajangan kasar.
mengeringkan bahan, dikeringkan langsung dengan panas sinar matahari sampai benar benar
kering.
Ditimbang, Kemudian dihitung kadar air dengan rumus: bobot basah bobot kering / bobot basah x
100 %. Jika hasil perhitungan kadar air > 10 % maka simplisia tersebut perlu di keringkan kembali.
Pisahkan bahan yang sudah kering dengan bahan asing yang masuk pada proses pengeringan.
Simplisia yang sudah disortasi sebagian kecil dirajang dan sisanya diblender hingga halus.
3.2.2 Pengamatan Penampang Melintang Tanaman Segar
Dilakuakan dengan cara menyayat daun dengan menggunakan stereofoam atau menyayat daun
setipis mungkin, sehingga sayatan yang diperoleh dapat sesuai dengan harapan. Setelah itu hasil
sayatan tadi diletakkan dalam kaca objek glass yang ditutup dengan cover, kemudian amati dengan
mikroskop.
Pengamatan Organoleptis Simplisia
Pengamatan organoleptis meliputi pengamatan bau, rasa, dan warna dari masing masing serbuk
simplisia yang ada.
Pengamatan Fragmen Simplisia
Dilakukan dengan cara Serbuk simplisia diamati dengan mikroskop, yaitu kaca objek diberi serbuk
simplisia kemudian ditetesi dengan larutan koralhidrat 70%, tutup dengan cover, amati dimikroskop.
Uji Histokimia
Dilakukan dengan cara serbuk simplisia diamati dengan mikroskop, yaitu kaca objek diberi serbuk
simplisia kemudian ditetesi dengan larutan uji, yaitu sesuai dengan tabel pada uji histokimia bagian
pereaksi atau pelarut, tutup dengan cover, amati dimikroskop.
Standarisasi Simplisia
Kadar Air
Botol timbang dikeringkan pada oven, suhu 105O selama 30 menit, kemudaian didinginkan pada
eksikator selama 15 menit, dikeluarkan lalu di timbang. Lebih kurang 2 g sampai 3 g zat dimasukkan
kedalam botol timbang, dikeringkan pada oven dengan suhu 105O selama 1 jam. Didinginkan
kembali pada eksikator selama 15 menit, di timbang, dihitung
Rumus :
Kadar air=(Berat sebelum dikeringkan)/(Berat setelah dikeringkan) x 100%
Kadar Abu Total
Lebih kurang 2 g sampai 3 g zat yang telah digerus dan ditimbang seksama, dimasukkan ke dalam
krus silikat yang telah dipijarkan dan ditara, ratakan, lalu dipijarkan perlahan-lahan hingga arang
habis, didinginkan dan ditimbang. Jika cara ini arang tidak dapat dihilangkan, ditambahkan air panas,
aduk dan disaring melalui kertas saring bebas abu. . Pijarkan kertas saring beserta sisa penyaringan
dalam krus yang sama. Filtrat dimasukan ke dalam krus, diuapkan, dipijarkan hingga bobot tetap dan
ditimbang. Kadar abu terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara dihitung.
Rumus :
Screening
Metode Tabung
Uji Pendahuluan
Serbuk simplisia kulit jeruk manis lebih kurang 2 gram dipanaskan dengan air 10 ml selama 30 menit
diatas penangas air mendidih, larutan yang terjadi disaring dengan kapas. Bila larutan yang
dihasilkan berwarna kuning sampai merah menunjukkan adanya senyawa yang mengandung
kromofor (flavonoid, antrakinon, dan lain-lain), dengan gugus ( gula, asam fenolat ) bila larutan
ditambah larutan KOH warna menjadi lebih intensif.
Alkaloid
Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 0,5 gram kemudian ditambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9
ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit, didinginkan dan disaring. Filtrat yang
diperoleh dipakai untuk tes alkaloida sebagai berikut:
Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan dengan 2 tetes pereaksi Bouchardat, reaksi positif ditandai
dengan terbentuknya endapan berwarna coklat sampai hitam.
Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes pereaksi Dragendorff, reaksi positif ditandai
dengan terbentuknya warna merah atau jingga.
Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan dengan 2 tetes larutan pereaksi Mayer, reaksi positif ditandai
dengan terbentuknya endapan menggumpal berwarna putih atau kuning.
Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan dengan 2 tetes pereaksi Wagner, reaksi positif ditandai dengan
terbentuknya endapan berwarna coklat.
Prosedur yang sama juga dilakukan untuk sampel dalam bentuk basah. (Dwi Suryanto, dkk : 2008)
Uji Senyawa Polifenolat
Serbuk simplisia kulit jeruk manis lebih kurang 2 gram ditempatkan dalam tabung reaksi lalu
ditambahkan air secukupnya, lalu dipanaskan di atas penangas air dan disaring, tunggu sampai
dingin. Ambil filtrat 3 ml, masukkan kedalam tabung reaksi. Larutan pereaksi besi (III) klorida
ditambahkan ke dalam filtrat dan timbulnya warna hijau atau biru-hijau, merah ungu, biru-hitam
hingga hitam menandakan positif fenolat atau timbul endapan coklat menandakan adanya
polifenolat.
Uji Tanin
Serbuk simplisia kulit jeruk manis lebih kurang 2 gram ditempatkan dalam tabung reaksi lalu
ditambahkan aquadest 50ml, kemudian dididihkan selama 15 menit. Ambil filtrat 5ml dipindahkan
kedalam tabung reaksi kemudian diteteskan pereaksi besi (III) klorida, lalu terjadi warna hitam
kehijauan, menunjukkan adanya golongan senyawa tanin.
Uji Flavonoid
Serbuk simplisia kulit jeruk manis lebih kurang 2 gram ditempatkan dalam tabung reaksi lalu
dicampur dengan serbuk magnesium 500mg dan 2ml asam klorida 2 N dan dipanaskan di atas
penangas air dan disaring. Ambil alkohol 2 ml ditambahkan ke dalam lalu dikocok kuat-kuat dan
timbulnya warna merah, kuning, jingga pada lapisan alkohol menandakan positif flavonoid.
Uji Kumarin
Timbang 500mg serbuk simplisia, ditambahkan air sebanyak 50 ml, didihkan selama 5 menit.
Pindahkan 3ml filtrat pada tabung reaksi, teteskan larutan NaOH 1 N. bila terjadi warna merah
menunjukkan adanya kumarin.
Uji Monoterpenoid dan Seskuiterpenoid
Serbuk simplisia kulit jeruk manis lebih kurang 2 gram digerus dengan eter 10 ml lalu dipipet sambil
disaring. Ambil filtrat 3 ml, masukkan kedalam cawan penguap. Filtrat ditempatkan dalam cawan
penguap dan dibiarkan menguap sampai kering, lalu ditambahkan larutan vanillin 10% dalam asam
sulfat pekat dan timbulnya warna-warna menandakan positif senyawa mono dan seskuiterpen.
Uji Steroid dan Triterpenoid
Serbuk simplisia kulit jeruk manis lebih kurang 2 gram dengan eter 10 ml lalu dipipet sambil disaring.
Filtrat ditempatkan dalam cawan penguap dan dibiarkan menguap sampai kering, lalu ditambahkan
larutan pereaksi Liebermann Burchard dan terjadinya warna ungu menandakan positif triterpenoid,
sedangkan bila warna hijau-biru menunjukkan positif steroid.
Uji Senyawa Kuinon
Serbuk simplisia kulit jeruk manis lebih kurang 2 gram ditempatkan dalam tabung reaksi tambahkan
20 ml aquadest, lalu dipanaskan di atas penangas air lalu disaring. Larutan kalium hidroksida 5%
ditambahkan kedalam filtrat dan timbulnya warna kuning hingga merah menandakan positif kuinon.
Uji Saponin
Serbuk simplisia kulit jeruk manis lebih kurang 500 mg ditempatkan dalam tabung reaksi tambahkan
10 ml aquadest, lalu dipanaskan di atas penangas air selama 30 menit, dinginkan, lalu setelah dingin
dikocok kuat-kuat dan terjadinya busa setinggi 1 cm yang bertahan selama 5 menit. Pada
penambahan 1 tetes HCl 2N buih tidak hilang, menandakan positif saponin.
Uji KLT
Larutan Persiapan untuk KLT
Alkaloid
1 g serbuk simplisia + 1 ml ammonia (e) P disari dengan 5 ml methanol P, dikocok, pada suhu 600 C
selama 15 menit. Filtrat 20 l / 100 l untuk pemeriksaan KLT.
Flavonoid
1 g serbuk simplisia disari dengan 5 ml methanol P dengan cara dipanaskan pada penangas air + 15
menit Filtrat 20 l / 100 l untuk pemeriksaan KLT.
Saponin
1 g serbuk simplisia disari dengan 5 ml methanol P, dipanaskan pada penangas air selama + 15 menit
sari diuapkansampai 1 ml + 0,5 ml air +butanol P sambil dikocok Filtrat 20 l / 100 l untuk
pemeriksaan KLT.
Glikosida
1 g serbuk simplisia + 5 ml methanol P (50%) + timbale (II) asetat P dipanasakan pada penangas air +
10 menit setelah dingin disari 2x masing-masing dengan 10 ml diklormetana P + methanol P (1:1)
Filtrat 100 l untuk pemeriksaan KLT.
Kumarin
1 g serbuk simplisia disari dengan 10 ml diklormetana P (dengan direfluks + 15 menit) filtrate
diuapkan sampai kering sisa dilarutkan dalam 1 ml toluene P Filtrat 20 l / 100 l untuk pemeriksaan
KLT.
Minyak atsiri
Ditimbang 1 g serbuk simplisia, kemudian disari dengan 10ml diklorometana P.Penyarian dilakukan
dengan cara direfluks selama 15 menit. Filtrat yang diperoleh kemudian diuapkan sampai kering. Sisa
dilarutkan dalam 1ml toluena P. Filtrat sebanyak 20l atau 100l digunakan untuk pemeriksaan KLT.
Lempeng KLT : silica gel 254 P dengan ukuran 10 x 10 cm
Skema Pemeriksaan
Alkaloid
Cairan eluasi : toluene-etil asetat-dietil amina (70:20:10)
Pereaksi penampak : dragendorff LP
Bercak sinar biasa : jingga sampai merah tua
Glikosida
Cairan eluasi : etil asetat-metanol-air (10:13,5:10)
Pereaksi penampak : Antimon (III) klorida LP
Bercak sinar biasa : merah jambu atau violet
Flavonoid
Cairan eluasi : etil asetat-asam format-asam asetat glacial-air (100:11:11:27)
Pereaksi penampak : difenilboriloksietilamina LP-polietilenglikol LP
Bercak sinar UV 365 nm : berpendar kuning intensif, hijau dan jingga
Saponin
Cairan eluasi : kloroform-metanol-air (64:50:10)
Pereaksi penampak : vanillin-asam sulfat LP
Bercak sinar biasa : biru
Minyak atsiri
Cairan eluasi : toluene-etil asetat (93:7)
Pereaksi penampak : vanillin-asam sulfat LP
Bercak sinar biasa : merah, biru, atau kuning
Kumarin
Cairan eluasi : dietil eter-toluen (1:1) dijenuhkan dengan asam asetat P 10%
Pereaksi penampak : ammonia atau kalium hidroksida 5% -etanol 90% LP
Bercak sinar biasa : biru muda atau sawo matang

Cara pembuatan pereaksi penampak :
Dragendorff LP
Larutan bismut nitrat P 40% b/v dalam asam nitrat P sebanyak 20 ml dicampur dengan 50 ml larutan
kalium yodida P 54,4% b/v. Campuran didiamkan hingga memisah sempurna. Larutan jernih dipisah
dan diencerkan dengan air sekucupnya hingga 100 ml. Pada pemeriksaan simplisia yang diduga
mengandung alkaloid; akan diperoleh bercak berwarna merah sampai merah tua dalam sinar biasa.
Pada beberapa alkaloid, tanpa disemprot pereaksi penampak akan berpendar dalam sinar UV 366
nm. Alkaloid Pule pandak memberikan pendaran biru, berberin memberikan pendaran kuning.
Antimon (III) klorida LP.
Pada 100 ml larutan antimon (III) klorida P 22% b/v dalam kloroform bebas etanol P ditambahkan 2,5
ml asetilklorida P. Larutan didiamkan selama 30 menit. Lempeng KLT disemprot dengan 15-20 ml
pereaksi, kemudian dipanaskan pada suhu 100C dialmari pengering selama 5-6 menit. Kromatografi
diamati pada sinar biasa atau sinar UV 365 nm. Pereaksi ini untuk mengamati glokosida jantung,
saponin dan lain-lain.
Difenilboriloksietiamina polietilenglikol LP
Pereaksi terdiri dari Difenilboriloksietiamina P 1% dan polietilenglikol 4000 P 5% dalam etanol.
Lempeng disemprot dengan 10 ml larutan Difenilboriloksietiamina kemudian disemprot dengan 8 ml
larutan polietilenglikol 4000.
Pereaksi penampak ini digunakan untuk mengamati flavonoid, aloin. Pendaran akan segera tampak
atau setelah 15 menit pada cahaya UV 365 nm.
KOH 5% etanol 90% LP
Sesuai dengan pereaksi FI. Lempeng disemprot dengan 10 ml pereaksi, kemudian diamati pada sinar
biasa atau pada sinar UV 365 nm dengan atau tanpa pemanasan.
Pereaksi ini untuk mengamati antrakuinon (merah), antron (kuning pada UV 365 nm), kumarin (biru
pada UV 365 nm).
Vanillin asam sulfat LP
Didinginkan terpisah 95 ml etanol 95% P dan 5 ml asam sulfat P hingga suhu -50 C. asam sulfat
dituangkan hati-hati pada etanol didinginkan segera dan dicampur perlahan-lahan (larutan I). larutan
vanillin P 1% dalam etanol 95% P (larutan II). Lempeng disemprot dengan larutan I dan diikuti
dengan larutan II.
Saponin
Beberapa saponin memberikan bercak berwarna pada sinar biasa. Dalam KLT, saponin sering tinggal
di awal rambat. Untuk pemisahan bercak sebaiknya digunakan cairan eluasi kloroform P-metanol-air
(64:50:10)
Minyak atsiri
Minyak atsiri memberikan warna biru, merah, sampai merah tua pada sinar biasa. Dalam KLT minyak
atsiri merambat dan tidak larut kembali pada batas akhir cairan eluasi. Untuk pemisahan bercak
sebaiknya digunakan cairan eluasi toluene P-etil asetat P (93:7)
3.2.4 Ekstraksi
3.2.4.1 Metode Ekstrasi
Masukan ke dalam labu Erlenmeyer 2 L,masukkan 200 g potongan kulit jeruk manis dan 750 mL
larutan kalsium hidroksida,lalu dikocok.
Diamkan semalam pada suhu kamar.
Saring melalui penyaring Buchner yang dilapisi dengan lapisan tipis Celite.
Dihasilkan filtrat kuning jingga

3.2.5 Isolasi
Filtrat kuning jingga. Asamkan dengan asam klorida pekat hingga pH 4-5.
Hesperidin dipisahkan sebagai serbuk amorf lalu saring dengan penyaring Buchner,cuci dengan air.
Kristalisasi ulang dengan larutan formamida.
Catatan : Bila pengendapan dengan HCl agak lambat dapat dibantu dengan pengurangan tekanan.

3.2.6 Uji Identifikasi Hesperidin
3.2.6.1 Tes besi (III) klorida
Tambahkan larutan besi (III) klorida pada larutan hesperidin.
Hasilnya terjadi warna merah anggur.

3.2.6.2 Tes magnesium-asam klorida
Tambahkan beberapa tetes asam klorida pekat pada larutan hesperidin di dalam etanol yang
mengandung magnesium.
Terjadi perubahan warna violet terang
KLT
Cairan eluasi : etil asetat-asam format-asam asetat glacial-air (100:11:11:27)
Pereaksi penampak : difenilboriloksietilamina LP-polietilenglikol LP
Memberikan bercak berpendar jingga merah dari eriositrin pada Rf 0,4. Bercak naringin, neo
hesperidin, dan hesperidin yang berpendar hijau tua pada sinar UV 365 nm dan pada sinar biasa
berwarna kuning tanah yang terdapat di bawah bercak eriositrin. Pada kulit buah jeruk manis, flavon
tersebut terdapat dalam jumlah besar dan memberikan 2 bercak kuning tanah yang lebih terang.
Pada sinar biasa tepat di atas eriositrin yang berwarna violet. Pada kulit jeruk manis memberikan
bercak berpendar biru pada Rf 0,5-0,9 dari metil antranilat, sinensetin, dan kumarin.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1987. Analisis Obat Tradisional Jilid I. Jakarta: Depkes RI.
Anonim. 1993. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta: Depkes RI.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta: Depkes RI.
Anonim. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Depkes RI.
Goeswin, Agoes. 2007. Teknologi Bahan Alam. Jakarta: ITB Press.
Harborne. J.B., 1987. Metode Fitokimia. Terjemahan K. Radmawinata dan I. Soediso. Bandung: ITB
Press.
Hariana, Arief Drs. H, 2006, Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri 3. Jakarta: PT Penebar Swadaya.
Hostettmann, K. at All. 1995. Cara Kromatografi Preparatif. Terjemahan Kosasih Padmawinata.
Bandung: ITB Press.
Kumalaningsih, Sri Prof.Dr.Ir.,M.App.Sc. 2006. Antioksidan alami. Surabaya: Trubus Agrisarana.
Midian, sirait, Prof. Dr. 2007. Penuntun Fitokimia dalam Farmasi. Bandung: ITB Press.
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Terjemahan Kosasih Padmawinata.
Bandung: ITB Press.
Sastrohamidjojo, Hardjono. Prof. Dr. 1996. Sintesis Bahan alam. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Van Steenis, C.G.G.J. Dr. dkk. 2008. FLORA. Jakarta: Pt. Pradnya Paramita.