Anda di halaman 1dari 7

TUGAS ARTIKEL

MATA KULIAH : FORENSIC ACCOUNTING & FRAUD EXAMINATION


KASUS PT.TELKOM
Evanti Andriani ( 0910233013 )

SEC Tak Menyanggah Interpretasi Eddy Pianto
PricewaterHouseCoopers (PwC) hampir merampungkan review atas Laporan
Keuangan (LK) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) 2002, setelah hasil kerja auditor
sebelumnya, Kantor Akuntan Publik (KAP) Eddy Pianto Simon, ditolak oleh Komisi
Sekuritas dan Bursa AS (US SEC). Mudah-mudahan selesai sesuai target, pertengahan
September ini, kata Arief Ariman, Ketua Komite Audit Telkom kepada Investor Indonesia
di Jakarta, pekan lalu.
Eddy Pianto, cuek saja. Sejak Bapepam AS menolak hasil auditnya terhadap LK
Telkom, ia lebih banyak berada di luar negeri. Anak buahnya yang berkantor di Muara
Karang, Jakarta tidak tahu, apa yang dikerjakan Eddy di Australia. Sekondannya, eksekutif
PT Moores Rowland Indonesia (d/h PT Grant Thornton Indonesia), mulai bingung.
Nggak tau deh, kenapa Eddy sering banget ke Australia. Seharusnya, dia
memperjuangkan nama baiknya yang sudah tercemar akibat kasus Telkom ini. Kan, dia sudah
mengirim pengaduan ke IAI (Ikatan Akuntan Indonesia, red), kata seorang eksekutif PT
MRI. Buat kita sih, nothing to loose. Karena partner kita sekarang kan bukan dia lagi, tetapi
KAP Jimmy Budi, tambahnya.
Memang, pada 16 Juli lalu, Eddy mengirim surat ke Ketua IAI, Achmadi Hadibroto.
Surat itu perihal Pengaduan atas perlakuan tidak sehat yang diterima KAP Drs Eddy Pianto
(EP) dari KAP Drs Hadi Sutanto (HP). Nama KAP yang disebut terakhir tak lain adalah
partner PwC, sedangkan EPketika itu adalah partner Grant Thornton.
Dalam surat setebal lima halaman itu, Eddy menjlentrehkan kronologi kasus yang
membuat namanya tercemar. ...kami, EP telah menjadi pihak yang mengalami kerugian,
baik moril maupun materil yang diakibatkan, baik langsung maupun tidak langsung akibat
penolakan (LK Telkom 2002 oleh US SEC, red) tersebut, tulis Eddy tentang perlakuan tidak
sehat HS itu.
Seorang akuntan senior membisikkan kepada Investor Indonesia, bung, (kasus
Telkom) ini pertarungan antara dua KAP besar. Siapa lagi yang dimaksud, kalau bukan
antara Grant Thornton (GT) dengan PwC. GT adalah auditor firm masuk dalam jajaran
nomor tujuh dunia. Sedangkan, PwC masuk dalam jajaran the big four.

Tukar-menukar Dokumen
Awalnya, ketika menerima penugasan sebagai auditor PT Telkom (2002), tak ada
persoalan yang dialami EP. Termasuk dengan HS, yang pada saat bersamaan menjadi auditor
PT Tekomsel (anak perusahaan Telkom). Pada Januari dan Februari 2003, kedua belah pihak
saling komunikasi, dan tukar-menukar dokumen. EP mengirimkan Audit Instructions kepada
HS. Sebaliknya, HS mengirimkan laporan-laporan yang diminta EP sesuai Audit Instructions.
HS juga mengirim dokumen yang menyatakan, sebagai auditor Telkomsel, HS independen.
Pada 17 Maret 2003, EP memberi tahu HS bahwa laporan audit Telkom akan
dikeluarkan pada 25 Maret 2003. EP menyatakan akan melakukan reference terhadap hasil
audit Telkomsel. Disinilah, hubungan EP dan HS kelihatan tidak sehat. Menjawab surat EP
itu, HS menyatakan, tidak memberi izin kepada EP untuk me-refer hasil auditnya atas
Telkomsel.
Anehnya, pada 25 Maret 2003, HS mengirimkan copy audit report Telkomsel untuk
dikonsolidasikan ke LK Telkom. Dalam surat pengantarnya, HS menyatakan, At the date of
this letter, we fully stand behind our opinion as far as they relate to the financial statements of
Telkomsel for the year ended December 31, 2002. Pada surat tersebut, HS sama sekali tidak
menyebut kata-kata yang tidak mengizinkan EP menggunakan hasil auditnya atas Telkomsel
sebagai acuan dalam LK Telkom konsolidasi.
Namun, pada tanggal 31 Maret, HS kembali menegaskan surat tanggal 24 Maret. HS
juga mengirim surat yang bernada sama kepada Presiden Komisaris dan Ketua Komite Audit
Telkomsel, pada 9 April. AU 543 para 10 (c) (i) also makes it clear that the principal auditor
(KAP Eddy Pianto, red) should have our permission before referring to our audit report on PT
Telkomsel in their own audit report on Telkom, tulis HS.

Salah Tafsir atas AU 543
Perihal surat-surat tersebut, kepada Ketua IAI, Eddy memberi dua catatan. Pertama,
HS melakukan miss-interpretation atas United State Auditing Standard AU 543 (AU 543),
yakni para 10 (c) (i), yang menjadi dasar penolakan HS memberi izin kepada EP. Aturan SEC
itu berbunyi, (10) Whether or not the principal auditor decides to make reference to the audit
of the other auditor, he should make inquiries.... These inquiries and other measures may
include such as the following: (c) Ascertain through communication with the other auditor:
(i) that he is aware that the financial statements of the components he is auditing are to be
included in the financial statements on which the principal auditor will report and that the
other auditors report will be relied upon (and referred to) by the principal auditor.
Jelas, kata Eddy, AU 543 sebenarnya memperbolehkan EP untuk mengacu kepada
opini HS tanpa perlu izin. Kami mempunyai keyakinan bahwa HS telah menginterpretasikan
AU 543 secara keliru, yang mengakibatkan keputusan SEC yang merugikan Telkom, kata
Eddy. AU 543, seperti halnya Standar Pemeriksaan Akuntan Publik (PSA 543), tidak
mengharuskan EP minta izin, melainkan cukup mengkomunikasikannya saja. Izin dari
auditor perusahaan anak dibutuhkan, bilamana nama auditor dicantumkan dalam LK
konsolidasi.
Kedua, HS dalam suratnya tanggal 31 Maret, mencampuradukkan antara izin agar
EP dapat mengacu pekerjaan HS dengan izin agar Telkom dapat memasukkan opini HS di
dalam laporan 20-F. Dalam surat tanggal 31 Maret, HS menyatakan, izin tersebut
berhubungan dengan laporan Form 20-F. Padahal, akuntan tahu, izin untuk Form 20-F
seharusnya ditujukan kepada manajemen Telkom, bukan kepada auditornya, EP. Kenapa
surat tertanggal 31 Maret itu ditujukan kepada EP, kalau bukan memberi izin kepada EP
untuk menggunakan hasil audit HS sebagai acuan dalam memberikan opini pada LK Telkom
2002 (audited)?
Tetapi, karena surat HS tanggal 24 Maret yang menolak memberi izin-- itulah, pada
5 Juni, SEC mengirim surat kepada manajemen Telkom. Isinya, antara lain menyatakan,
karena tidak ada izin dari HS, seharusnya EP melakukan qualifikasi atau disclaimer terhadap
LK Telkom 2002. SEC juga menyatakan, EP tidak mendemonstrasikan kompetensinya dalam
menerapkan US GAAS. Karena alasan itu, SEC menolak laporan Form 20-F.
Keputusan SEC itu membuat Eddy dan partnernya Grant Thornton Indonesia
bingung. Karena, sebelum mengirim surat ke manajemen Telkom itu, SEC sudah minta
dilakukan credentialling review terhadap EP, pada 22 Mei. Heinz & Associates LLP dari
Denver, Colorado, AS ditunjuk sebagai pelaksana. Dan, Heinz berkesimpulan: We found the
firms (KAP Eddy Pianto) conclusion in connection with this matter (US GAAS AU Section
543) to have merit and generally consistent with practices we have observed by other auditing
firm.

Konspirasi Tingkat Tinggi
Inilah yang kemudian menyiratkan ada konspirasi tingkat tinggi dalam kasus Telkom
ini, yang melibatkan pejabat SEC dan pejabat PwC. Apalagi, kemudian diketahui, Telkom
akhirnya menunjuk PwC untuk melakukan review atas audit yang dilakukan EP. Pejabat SEC
yang menangani Telkom adalah Craig C. Olinger, Deputy Chief Accountant SEC. Dia adalah
bekas anak buah Wayne Carnall, yang kini menjadi Senior Executive PwC.

Tetapi Eddy tidak peduli dengan sinyalemen itu. Pada 21 Juni 2003, Eddy mengirim surat ke
SEC untuk menjelaskan interpretasi yang benar atas AU 543. Pada 25 Juni, Eddy
melanjutkan teleconference dengan SEC. Dalam teleconference itu, tidak ada sanggahan dari
SEC mengenai interpretasi Eddy atas AU 543. Tetapi SEC kadung menolak laporan Form 20-
F Telkom, dan manajemen Telkom sudah terlanjur menyatakan, (pada 11 Juni) LK Telkom
2002 sebagai unaudited, serta menunjuk PwC (HS) sebagai auditor untuk me-review LK
Telkom 2002.
Sebagai jalan terakhir, pada 16 Juli mengadu ke IAI. Kejadian itu juga telah merusak
nama baik EP dan secara serius dapat mengganggu kelangsungan usaha EP, kata Eddy.
Eddy berharap IAI meneliti kasus ini, dan minta IAI menghukum HS, bila kelak terbukti
salah. Yakni merehabilitasi nama EP, termasuk mengumumkan ke media massa nasional, ke
Ditjen Lembaga Keuangan, dan Bapepam. Lalu, apa tanggapan pihak IAI dan Bapepam
juga mendapat tembusan surat EP ke IAI-- yang telah mensuspen KAP Eddy Pianto?

Korespondensi antar KAP
20 Januari 2003: EP mengirim Audit Instructions kepada HS, yang mencakup
ketentuan-ketentuan AU 543 atau PSA 543. HS memberi konfirmasi tertulis bahwa Audit
Instructions telah diterima;
19 Februari 2003: HS mengirimkan laporan yang diminta EP sesuai Audit
Instructions, termasuk dokumen yang menyatakan bahwa HS independen;
17 Maret 2003: EP mengirim surat ke HS akan melakukan reference terhadap audit
yang dilakukan HS di Telkomsel. Laporan audit (Telkom) direncanakan keluar pada tanggal
25 Maret 2003;
24 Maret 2003: HS membalas surat ke EP 17 Maret 2003. HS menyatakan, tidak
memberi izin kepada EP untuk menggunakan opininya atas LK 2002 (audited) Telkomsel
untuk dijadikan acuan dalam LK 2002 (audited) Telkom;
25 Maret 2003: HS mengirimkan copy dari audit report Telkomsel untuk
dikonsolidasikan ke Telkom. Dalam surat pengantarnya, HS menyatakan, At the date of this
letter, we fully stand behind our opinion as far as they relate to the financial statements of
Telkomsel for the year ended December 31, 2002.
31 Maret 2003: HS kembali mengingatkan EP bahwa HS tidak mengizinkan EP
menggunakan opini atas LK 2002 (audited) Telkomsel dalam Form 20 F dari LK Telkom
2002.
9 April 2003: HS mengirim surat ke Preskom dan Ketua Komite Audit Telkomsel,
menjelaskan keputusannya tidak memberi izin kepada EP menggunakan opini audit LK 2002
Telkomsel. Bahwa tindakan itu telah sesuai dengan AU 543.
Pada 22 Mei 2003: SEC menyetujui dilakukannya credentialling review terhadap EP
sehubungan pelaksanaan AU 543. Heinz & Associates LLP dari Denver, Colorado, AS
ditunjuk sebagai pelaksana.. Kesimpulan Heinz & Associates LLP adalah: We found the
firms (KAP Eddy Pianto) conclusion in connection with this matter (US GAAS AU Section
543) to have merit and generally consistent with practices we have observed by other auditing
firm.
5 Juni 2003: SEC mengirim surat kepada Telkom. SEC menyatakan, EP tidak
mendemonstrasikan kompetensinya dalam menerapkan US GAAS, dan karenanya SEC
menolak laporan 20-F Telkom.
21 Juni 2003: EP mengirim surat ke SEC untuk menjelaskan mengenai interpretasi
yang benar atas AU 543.
Pada 25 Juni 2003: EP melakukan teleconference dengan SEC, juga untuk
menjelaskan mengenai interpretasi yang benar atas AU 543. Dalam diskusi itu, tidak ada
sanggahan dari SEC mengenai interpretasi yang disampaikan Eddy Pianto.



HS Sudah Klarifikasi ke BP2AP
Adalah sikap bodoh, bila mempercayai akuntan dari luar negeri sebagai yang nomor
satu kualifkasinya. Sebab, mereka juga tidak bersih dari tindakan merekayasa laporan
keuangan.
Begitulah, kira-kira kalimat yang diucapkan Presiden Megawati Soekarnoputri saat
membuka Kongres IX Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) di Jakarta, September, tahun lalu.
Semua tahu, skandal laporan keuangan paling spektakuler terjadi di Amerika Serikat (AS),
negara yang dikenal sangat menjunjung tinggi keterbukaan, mengagungkan transparansi, dan
memosisikan diri sebagai kampiun good corporate governance. Sebut saja kasus Enron, Tyco,
Dynegy, WorldCom, Xerox, Merck, dan beberapa kasus lainnya.
Erry Riyana Hardjapamekas, pengurus teras IAI, dalam sebuah tulisannya di Majalah
Tempo, beberapa waktu lalu, berpendapat: sulit dipercaya bahwa kejadian (di AS, red) itu
merupakan kealpaan prosedur audit, apalagi kekeliruan teknis pembukuan. Sangat kuat
persepsi publik bahwa skandal itu merupakan buah dari sebuah desain yang hanya dapat
dilakukan oleh orang-orang cerdas dengan pengetahuan dan ketrampilan tingkat tinggi, tentu
dengan semangat kolusi berjamaah.
Singkat cerita, kata Erry, skandal (yang terjadi di AS, dan mungkin yang terjadi di
Indonesia) itu bukan lagi sebuah kecelakaan bisnis, melainkan salah satu perwujudan
keserakahan.
Kasus Telkom, tentu tidak sama dengan Enron dan skandal akuntansi di AS lainnya.
Dari surat pengaduan KAP Eddy Pianto kepada IAI tentang perlakuan tidak sehat dari KAP
Hadi Sutanto (PwC), bukanlah skandal rekayasa laporan keuangan. Tetapi, apakah kasus
perseteruan dua KAP yang mengaudit Telkom itu merupakan salah satu perwujudan
keserakahan, seperti ditulis Erry Riyana, pengurus IAI, itu?
Yang jelas, bagi Eddy, perlakuan tidak sehat dari KAP Hadi Sutanto (HS) bukan
hanya merugikan Telkom dan namanya, tetapi juga menyangkut kelangsungan usahanya,
KAP Eddy Pianto (EP). Ini pula yang dituntut Eddy kepada organisasi profesi, IAI. Yakni,
demi membersihkan namanya, bukan hanya kepada Bapepam, DJLK dan perusahaan yang
bakal menggunakan jasa auditnya, tetapi kepada masyarakat luas.

Menunggu BP2AP
Sudah hampir dua bulan, Eddy Pianto mengirimkan surat pengaduan ke organisasi
yang membawahi profesi akuntan, IAI, itu. Achmadi Hadibroto, Ketua Umum IAI
menyerahkan penyelesaian masalah pengaduan KAP Eddy Pianto (EP) sepenuhnya kepada
BP2AP (Badan Peradilan dan Pemeriksaan Akuntan Publik). Kalau ada perselisihan profesi
menjadi wewenang BP2AP, kata Achmadi, yang sebelum menjadi ketua umum IAI sempat
memimpin BP2AP.
Rusdi Daryono, ketua BP2AP, mengatakan, lembaganya tengah menangani
pengaduan EP tersebut. Pihaknya kini masih mempelajari, dan mengumumpulkan informasi,
untuk kemudian membahasnya. Pihak KAP Hadi Sutanto (PwC) sudah memberikan
klarifikasi kepada kita, kata Rusdi, yang juga akuntan dari KAP Hans Tuanakotta &
Mustofa (partner Deloitte Touche Tohmatsu).
Sayangnya Rusdi tidak menjelaskan isi klarifikasi dari HS itu. Ia juga belum bisa
memberikan gambaran yang lengkap tentang kasus perseteruan antara dua KAP, yang
menjadi anggota IAI itu. Karena itu, kata Rusdi, penanganan masalah tersebut kemungkinan
agak lambat. Bukan hanya soal kasusnya, tetapi juga perlu memanggil kedua belah pihak
yang berseteru, untuk kemudian dilakukan pengkajian.
Hariyanto Sahari, Senior Partner HS, setelah berkali-kali dihuubngi dan ditemui
Investor Indonesia akhirnya mau juga buka suara. Kita sudah berikan klarifikasi mengenai
pengaduan tersebut kepada BP2AP, kata Hariyanto. Sayangnya, Hariyanto yang memang
menangani laporan keuangan Telkomsel, anak perusahaan Telkom, dan tugas me-review
laporan keuangan Telkom 2002, tidak menyebutkan, klarifikasi macam apa yang diberikan
kepada BP2AP. Sehingga tidak diperoleh jawaban dari HS tentang semua tuduhan Eddy
dalam surat pengaduannya kepada IAI pada 16 Juli lalu (tulisan pertama).
Menurut Hariyanto, pengaduan sesama anggota IAI sebagai hal yang lumrah. Hal
tersebut boleh saja dilakukan antara sesama akuntan anggota IAI, katanya. Dan,
penyelesaiannya kini sudah di tangan BP2AP. Saat ini, kita masih menunggu tanggapan IAI
(BP2AP, red) mengenai klarifikasi yang sudah diberikan, katanya.
Namun, Rusdi Daryono, ketua BP2AP belum bisa memastikan dan belum memiliki
gambaran, kapan kasus ini bakal selesai. Yang jelas, lanjut Rusdi, BP2AP berusaha untuk
sesegera mungkin menyelesaikan kasus ini. Kemudian, hasilnya diserahkan ke kompartemen
Akuntan Publik di IAI. Nanti, hasilnya akan diumumkan di kompartemen IAI, katanya.
Sementara itu, Ketua Majelis Kehormatan IAI, Kanaka Puradiredja masih menunggu
hasil pemeriksaan BP2AP terkait pengaduan EP. Ia belum tahu secara persis isi pengaduan
salah satu anggotanya itu.
Hasil pemeriksaan BP2AP, menurut Kanaka, sangat penting, karena akan menjadi
acuan bagi lembaga lain, seperti Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal) dan Direktorat
Pembinaan Akuntan Publik dan Jasa Penilai, Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan
(DJLK), Departemen Keuangan (Depkeu) mengambil keputusan. Kedua lembaga itu
memang berwenang mengawasi akuntan publik. Sebaiknya kedua lembaga itu menunggu
hasil pemeriksaan organisasi profesi, agar tidak terjadi tumpang tindih, kata Kanaka.

Bapepam Terus Periksa
Abraham Bastari, Kepala Biro Pemeriksaan dan Penyidikan (PP) Bapepam
berpendapat, antara IAI, DJLK Depkeu serta Bapepam tidak saling terkait. Kalau etika antar
profesi tentu arahnya ke IAI, kata Abraham. DJLK adalah lembaga yang bertugas
melakukan pembinaan terhadap akuntan publik yang beroperasi di Indonesia. DJLK-lah yang
akan mencermati proses audit yang dilakukan kantor akuntan publik yang sudah terdaftar,
seperti EP. Sementara Bapepam melakukan pengawasan, khususnya yang berkaitan dengan
pelanggaran di bidang pasar modal.
Jadi pemeriksaan terhadap KAP Eddy Pianto jalan terus, meski ada surat Eddy
Pianto yang mengadukan PwC kepada IAI, kata Abraham. Seperti diketahui, ketika kasus
laporan keuangan Telkom ditolak SEC, Bapepam langsung menghentikan sementara kegiatan
KAP Eddy Pianto --yang sudah terdaftar di Bapepam-- untuk mengaudit laporan keuangan
perusahaan publik di Indonesia. Setelah disuspen, Bapepam baru melakukan pemeriksaan.
Menurut Abraham, langkah EP mengadukan HP (partner PwC) ke IAI tidak terkait
dengan pelaksanaan atau pelanggaran di bidang pasar modal. Pengaduan itu adalah masalah
(kode etik) profesi, tegasnya. Sedangkan yang sedang diteliti dan diperiksa Bapepam adalah
berkaitan dengan kompetensi EP mengaudit Telkom, perusahaan yang listing di Bursa Efek
Jakarta.
Meski begitu, masih kata Abraham, Bapepam akan mengakukan koordinasi dengan
pihak-pihak terkait, termasuk dengan IAI dan DJLK. Biro PP sudah menyurati DJLK dan IAI
dalam upaya mengumpulkan informasi. Kita kumpulkan semua informasi yang terkait
dengan Eddy Pianto, jelasnya.
Eddy Pianto sangat berharap kasusnya segera diselesaikan, baik di Bapepam maupun
di IAI, karena menyangkut kelangsungan usaha bisnisnya. Publik juga berharap, IAI dan
Bapepam bisa menuntaskan kasus ini segera. Bukan hanya menyangkut KAP Eddy Pianto
dan KAP Hadi Sutanto, melainkan profesi akuntan, yang kata Erry Riyana Hardjapamekas
dalam kolomnya di Majalah Tempo beberapa waktu lalu nyawanya adalah kepercayaan
publik.
Bermodal kepercayaan publik itulah, akuntan publik diberi hak istimewa untuk
melakukan fungsi atestasi (pengecekan). Atas nama kepercayaan publik pula, mereka berhak
menerima bayaran, sebagai imbalan atas independensi, obyektivitas, dan kompetensi
profesionalnya. Maka hak hidup akuntan publik harus hilang, dan hak atas imbalan itu
menjadi haram, ketika mereka kehilangan independensi, obyektivitas, apalagi
profesionalismenya.

Analisis Kasus
Kasus audit PT Telkom oleh KAP Eddy Pianto & Rekan (Media Akuntansi, 2003).
Dalam kasus ini laporan keuangan auditan PT Telkom tidak diakui oleh SEC (pemegang
otoritas pasar modal di Amerika Serikat), dan atas peristiwa ini audit ulang diminta untuk
dilakukan oleh KAP yang lainnya. Hal tersebut bisa saja terkait dengan kompetensi dan
independensi yang dimiliki oleh auditor masih diragukan oleh SEC, dimana kompetensi dan
independensi merupakan dua karakteristik sekaligus yang harus dimiliki oleh auditor yang
berpengaruh terhadap kualitas audit.
kompetensi adalah sesuatu yang seseorang tunjukkan dalam kerja setiap hari.
Fokusnya adalah pada perilaku di tempat kerja, bukan sifat-sifat kepribadian atau ketrampilan
dasar yang ada di luar tempat kerja ataupun di dalam tempat kerja.
Kompetensi mencakup melakukan sesuatu, tidak hanya pengetahuan yang pasif.
Seorang karyawan mungkin pandai, tetapi jika mereka tidak meterjemahlkan kepandaiannya
ke dalam perilaku di tempat kerja yang efektif, kepandaian tidak berguna. Jadi kompetensi
tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan.
Akuntan manajemen memiliki tanggung jawab untuk :
Mempertahankan tingkat yang memadai kompetensi profesional dengan pengembangan
pengetahuan dan keterampilan,
Melakukan tugas mereka sesuai dengan hukum yang berlaku, peraturan, standar
profesional dan standar teknis,
Membuat laporan yang jelas dan komprehensif untuk memperloleh informasi yang
relevan dan dapat diandalkan.

Dimensi-Dimensi Kompetensi
Kompetensi kognitif (cognitive competencies)
Dimensi pertama adalah kompetensi kognitif. Dimensi ini didefinisikan sebagai suatu
kemampuan untuk berfikir dan menganalisis informasi dan situasi yang menuntun atau
menyebabkan timbulnya keefektifan atau kinerja yang superior. Penekanan dimensi ini pada
pemikiran sistem dan pengenalan pola para pekerja/karyawan dalam melaksanakan
pekerjaannya (Boyatzis dalam Cut Zurnali : 2010).
Kompetensi kecerdasan emosional (emotional intelligence competencies)
Dimensi kedua adalah kompetensi kecerdasan emosional. Dimensi ini didefinisikan
sebagai suatu kemampuan untuk mengenali, memahami, dan menggunakan informasi
emosional mengenai diri sendiri yang menuntun atau menyebabkan keefektifan atau kinerja
yang superior. Penekanan dimensi ini, pada kesadaran diri dan kompetensi manajemen diri
para pekerja/karyawan berupa kesadaran emosional diri dan pengendalian emosional diri,
dalam melaksanakan pekerjaannya (Boyatzis dalam Cut Zurnali : 2010).
Kompetensi kecerdasan sosial (social intelligence competencies)
Dimensi ketiga adalah kompetensi kecerdasan sosial. Dimensi ini didefinisikan
sebagai kemampuan untuk mengenali, memahami, dan menggunakan informasi emosional
mengenai orang lain yang menuntun atau menyebabkan keefektifan atau kinerja yang
superior. Penekanan dimensi ini pada kesadaran sosial dan kompetensi manajemen hubungan
para pekerja/karyawan berupa empati dan kerja tim yang semestinya dimiliki dalam
menjalankan pekerjaannya (Boyatzis dalam Cut Zurnali : 2010)
Independensi secara esensial merupakan sikap pikiran seseorang yang dicirikan oleh
pendekatan integritas dan obyektivitas tugas profesionalnya. Hal ini senada dengan America
Institute of Certified Public Accountant (AICPA) dalam Meutia (2004) menyatakan bahwa
independensi adalah suatu kemampuan untuk bertindak berdasarkan integritas dan
objektivitas. Meskipun integritas dan objektivitas tidak dapat diukur dengan pasti, tetapi
keduanya merupakan hal yang mendasar bagi profesi akuntan publik. Integritas merupakan
prinsip moral yang tidak memihak, jujur, memandang dan mengemukakan fakta seperti apa
adanya.
Di lain pihak, objektivitas merupakan sikap tidak memihak dalam mempertimbangkan
fakta, kepentingan pribadi tidak terdapat dalam fakta yang dihadapi (Mulyadi, 2002). Selain
itu AICPA dalam Meutia (2004) juga memberikan prinsip-prinsip berikut sebagai panduan
yang berkaitan dengan independensi, yaitu sebagai berikut.
1) Auditor dan perusahaan tidak boleh tergantung dalam hal keuangan terhadap klien.
2) Auditor dan perusahaan seharusnya tidak terlibat dalam konflik kepentingan yang akan
mengangggu obyektivitas mereka berkenaan dengan cara-cara yang mempengaruhi
laporan keuangan.
3) Auditor dan perusahaan seharusnya tidak memiliki hubungan dengan klien yang akan
menganggu obyektivitasnya auditor.
Dalam aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik disebutkan bahwa dalam
menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental independen
di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam Standar Profesional
Akuntan Publik yang ditetapkan oleh IAI. Sikap mental independen tersebut harus meliputi
independen dalam fakta (in fact) maupun dalam penampilan (in appearance) (Amani dan
Sulardi, 2005).


DAFTAR PUSTAKA

http://rzagana.blogspot.com
http://irvansaragih.blogspot.com/2008/06/pertarungan-auditor-firm-dalam kasus. html
http://rmardhatilla.blogspot.com/2011/11/tugas-2-softskill.html
http://zetzu.blogspot.com/2011/11/independensi-audit.html