Anda di halaman 1dari 6

e-mail: kardiovk@yahoo.co.id / tabloidkardiovaskular@gmail.

com;

kardiovk;

@kardio_vaskuler;

tpkindonesia.blogspot.com
I
S
S
N

:

0
8
5
3
-
8
3
4
4
Perangko Berlangganan No.11/PRKB/JKP/DIVRE IV/2013
Harga eceran Rp.9.000,-
197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013
(Bersambung ke hal.6)
Exercise capacity is frequently impaired in
people with diabetes due to the high prevalence of
obesity, sedentary lifestyle, periphe-ral neuropa-
thy (both sensory and motor) and vascular dis-
ease.
Perhatian terutama untuk perempuan,
agar mewaspadai bahwa pasien dengan
Diabetes Mellitus (DM) tipe 1 dan tipe 2
memiliki risiko tinggi untuk mendapatkan
penyakit jantung koroner (PJK) pada usia
dini. Sebagian besar tidak merasakan ge-
jala sebelum terjadinya kematian
atau infark miokard (MI) akut yang
selamat. Hal ini menjadi penting
untuk memilah diantara pasien-pasien
yang telah memiliki PJK berat sebelum
terjadinya sindroma koroner akut (SKA).
Pada individu dengan risiko tinggi PJK (ber-
dasarkan umur, gender, deskripsi sakit dada,
riwayat MI sebelumnya, electrocardiogram
(ECG) istirahat yang abnormal dan keber-
adaan beberapa faktor risiko), maka stres
testing akan bermanfaat untuk menilai di-
agnosis.
Perlu dicatat pada pasien dengan DM
memiliki kapasitas latihan yang berkurang
disebabkan tingginya prevalensi obesitas,
hidup santai-kurang olahraga, neuropati
perifer, dan penyakit vaskular. Bagi yang
tidak mampu melakukan tes treadmill, tes
fungsionil imejing seperti tes imejing
farmakologik maupun krdiologi nuklir
menjadi sangat penting. Pada individu yang
memiliki risiko PJK, tes treadmill berman-
faat untuk menilai progno-sisnya. Sebagi-
an besar teknik imejing terlihat manfaat-
nya dalam studi prospektif untuk identifi-
kasi pasien dengan risiko tinggi. Sejauh ini
belum ada studi adu kekuatan masing-ma-
sing cara mana yang terbaik dengan harga
yang memadai. Tujuan skrining tidak lain
untuk memperbaiki usia kehidupan dan
kualitas hidupnya dengan mencegah terja-
dinya MI dan gagal jantung melalui deteksi
dini PJK.
Pasien DM sebagian besar (65%-80%)
akan meninggal karena penyakit jantung.
Prevalensi yang tinggi iskemi miokard pada
penderita DM, dan mendekati sepertiganya
tanpa diketahui atau bergejala khas (silent
MI). Oleh karena perlu dilakukan skrining
dengan ECG istirahat pada pasien-pasien
DM. Stress testing untuk pasien-pasien de-
ngan gejala PJK atau adanya faktor risiko
lainnya. Ketika terdeteksi iskemi pada stres-
tes sebaiknya dikirim ke spesialis jantung
dan pembuluh darah.
Dalam mengobservasi PJK dalam wa-
wasan klinis yang terpenting adalah ada-
nya riwayat sakit atau rasa tidak enak di
dada. Pada pasien DM tercatat 20-50% tanpa
keluhan. Penemuan klinis seperti sesak nafas
pada kegiatan, kelainan pada ECG istirahat
atau terda-patnya faktor risiko berganda
untuk aterosklerosis memprediksi keber-
adaan PJK. Menemukan PJK pada tahap awal
sangat penting pada penderita DM meng-
ingat kejadian serangan jantung menjadi
sangat buruk akibatnya bagi penderita DM.
Oleh karena itu, skrining awal dan inter-
vensi pada penderita DM dengan iskemia
tersembunyi sangat menguntungkan dan
mungkin memperbaiki angka keselamatan
dikemudian hari.
Peranan stress testing sangat penting
pada risiko tinggi PJK karena mengukur
prognosis dan mengidentifikasi individu
yang mungkin akan mendapatkan manfaat
sekiranya dilakukan revaskularisasi arteri
koronernya untuk memperbaiki hidup jang-
ka panjang. Keberadaan faktor-faktor risi-
ko PJK lainnya dan adanya kelainan ECG
Resusitasi Jantung Paru yang Berkualitas
ANGKA kematian akibat penyakit kardio-
vaskular di dunia mencapai > 135 juta
orang setiap tahun sedangkan insiden henti
jantung di luar rumah sakit mencapai 20-
140 kejadian setiap 100.000 orang dengan
angka ketahanan hidup 2-11%. Di negara
maju seperti Amerika Serikat, henti jantung
masih menjadi masalah masyarakat paling
utama.
Kualitas resusitasi jantung paru (RJP)
memberi pengaruh sangat besar terhadap
angka ketahanan hidup, perlu dicatat
bahwa RJP yang dilakukan mengikuti pe-
doman hanya mampu menyediakan se-
jumlah 10-30% dari aliran darah normal ke
jantung dan 30-40% ke otak, sehingga para
pemberi resusitasi harus mampu memberi-
kan RJP dengan kualitas terbaik dan sedini
mungkin.
Aliran darah yang cukup guna meng-
hantarkan oksigen dan substrat ke organ
vital merupakan target utama RJP selama
periode henti jantung. Hal ini dapat dicapai
dengan kompresi dada yang efektif. Kem-
balinya sirkulasi spontan sangat tergantung
hantaran oksigen dan aliran darah ke mio-
kardium selama RJP. Tekanan perfusi ko-
roner (perbedaan tekanan diastolik aorta
dengan tekanan diastolik atrium kanan pada
fase relaksasi kompresi dada) adalah penen-
tu utama aliran darah miokardium selama
RJP dan merupakan target utama resusitasi
secara fisiologis.
Lima komponen utama RJP berkualitas
adalah sebagai berikut: Fraksi kompresi
dada, laju kompresi dada, kedalaman kom-
presi dada, rekoil dada, dan ventilasi.
Fraksi kompresi dada (proporsi durasi
kompresi dada yang dilakukan selama pe-
riode henti jantung) yang ideal > 80%. Pada
henti jantung yang tidak disebabkan oleh
asfiksia (misal aritmia), tebukti bahwa
kompresi dada tanpa ventilasi pada tahap
awal sudah menjamin sirkulasi darah ter-
oksigenasi yang adekuat ke seluruh tubuh.
Fraksi kompresi dada yang ideal dapat
dicapai dengan: minimalisasi interupsi
kompresi dada (dianjurkan tidak terjadi
interupsi oleh karena tindakan intubasi
yang mudah-pemasangan akses intravena-
pemasangan pad defibrilator), hindari
tindakan evaluasi nadi yang tidak perlu, dan
minimalisasi jeda waktu sekitar kejut
jantung dengan defibrilator.
Laju kompresi dada
yang dianjurkan 100-120
kali per menit dengan keda-
laman > 5 cm pada orang de-
wasa atau 1/3 dimensi an-
terior-posterior pada bayi
dan anak-anak. Tingkat ke-
dalaman ini dapat dicapai
dengan melakukan tindak-
an resusitasi di atas alas
yang kokoh dan rotasi ideal
anggota tim resusitasi yang
melakukan kompresi.
Rekoil dada sempurna
didapat dengan menghin-
dari bersandar pada dada
yang sedang dikompresi.
Bersandar pada dada pasien
menghambat ekspansi pe-
nuh dada, sehingga dapat
menurunkan aliran vena
sistemik dan curah jantung.
Rekoil dada sempurna di-
harapkan pada setiap kom-
presi dada yang dilakukan.
Laju ventilasi yang dian-
jurkan < 12 kali per menit
dengan kenaikan dinding
dada yang minimal (volume
tidal rendah) oleh karena
ventilasi dengan tekanan
positif dapat menurunkan
curah jantung baik dalam
resusitasi maupun sirkulasi
spontan dan menyebabkan
aspirasi lambung pada tin-
dakan resusitasi yang be-
lum terintubasi.
Beberapa parameter keberhasilan tin-
dakan resusitasi adalah sebagai berikut: Te-
kanan perfusi koroner melalui monitor in-
vasif > 20 mmHg, tekanan diastolik arteri
> 25 mmHg, ETCO
2
(konsentrasi karbon
dioksida akhir tidal dengan kapnografi)
> 20 mmHg.
Dengan berkembangnya ilmu resusis-
tasi jantung paru (RJP), kita mendapat
kesempatan besar dalam rangka mening-
katkan performa RJP selama tindakan
resusitasi baik di dalam maupun di luar
rumah sakit. Peningkatan performa RJP
melalui RJP yang berkualitas akan mem-
perbaiki angka ketahanan hidup pada henti
jantung. (Circulation 2013; 128) EM
(Canadian Diabetes Association Clinical Practice Guidelines)
197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013 2
Tabloid Profesi
KARDIOVASKULER
STT no. 2143/SK/Ditjen PPG/STT/1995
tanggal 30 Oktober 1995
ISSN : 0853-8344
SUSUNAN REDAKSI
Ketua Pengarah:
Prof.DR.Dr. Budhi Setianto, SpJP(K), FIHA
Pemimpin Redaksi:
Dr. Sony Hilal Wicaksono, SpJP
Redaksi Konsulen:
Dr. Anna Ulfah Rahajoe, SpJP(K)
Prof.DR. Haris Hasan, SpPD, SpJP(K)
Dr. Budi Bhakti Yasa, SpJP(K)
Dr. Fauzi Yahya, SpJP(K)
Dr. Antonia A. Lukito, SpJP(K)
Tim Redaksi:
Bidang Cardiology Prevention & Rehabilitation
Dr. Basuni Radi, SpJP(K)
Dr. Dyana Sarvasti, SpJP
Bidang Pediatric Cardiology
Dr. Indriwanto, SpJP(K)
Dr. Radityo Prakoso, SpJP
Bidang Cardiovascular Emergency
Dr. Noel Oepangat, SpJP(K)
Dr. Isman Firdaus, SpJP
Bidang Clinical Cardiology
Dr. Sari Mumpuni, SpJP(K)
Dr. Rarsari Soerarso, SpJP
Bidang Interventional Cardiology
Dr. Doni Firman, SpJP(K)
Dr. Isfanudin, SpJP(K)
Bidang Echocardiography
Dr. Erwan Martanto, SpPD, SpJP(K)
Dr. BRM. Ario Soeryo K., SpJP
Bidang Cardiovascular Intensive Care
Dr. Sodiqur Rifqi, SpJP(K)
Dr. Siska Suridanda, SpJP
Bidang Cardiovascular Imaging
Dr. Manoefris Kasim, SpJP(K)
Dr. Saskia D. Handari, SpJP
Bidang Cardiac Surgery & Post-op Care
Dr. Bono Aji, SpBTKV
Dr. Pribadi Boesroh, SpBTKV
Dr. Rita Zahara, SpJP
Bidang Vascular Medicine
Dr. Iwan Dakota, SpJP(K)
Dr. Suko Ardiarto, PhD, SpJP
Tim Editor:
Dr. Sidhi Laksono Purwowiyoto
Fotografer:
Dr. M. Barri Fahmi Harmani
Sekretaris/Keuangan:
Endah Muharini
Bagian Iklan:
Bimo Sukandar
Bagian Perwajahan:
Asep Suhendar
Alamat Redaksi dan Tata Usaha:
Wisma Harapan Kita Bidakara, Lt.2,
RS Jantung Harapan Kita,
Jln. S Parman Kav. 87, Jakarta 11420,
Telp: 02170211013 atau Telp/Fax.: 5602475
atau 5684085-93 pes. 5011
e-mail : kardiovk@yahoo.co.id atau
tabloidkardiovaskular@gmail.com
Penerbit:
H&B
Heart & Beyond PERKI
(Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia)
Manajemen:
Yayasan PERKI
Pencetak:
PT. Oscar Karya Mandiri, Jakarta
Diedarkan terbatas khusus untuk dokter Indonesia.
Infak ongkos cetak/kirim Rp150.000/tahun,
transfer melalui Bank Mandiri acc:
Tabloid Profesi Kardiovaskuler,
RK no. 116-0095028024, Sandi Kliring: 008-1304
KK. Harapan Kita, Cab. S. Parman, Jakarta.
Tabloid Profesi KARDIOVASKULER diterbitkan
oleh Perhimpunan Dokter Spesialis
Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Tabloid unik
ini memang bereda dengan media kedokteran
lainnya. Tata letaknya sedikit konservatif
tapi enak dipandang. Bukan media
yang berkesan ilmiah, tetapi media ilmiah
yang sangat terjaga akurasinya, ditulis
dengan bahasa tutur yang enak dibaca.
Tabloid KARDIOVASKULER memang
merupakan sarana untuk menyampaikan
setiap informasi kedokteran mutakhir
--khususnya terkait bidang kardiovaskuler--
bagi seluruh dokter Indonesia.
Di era globalisasi, dikenal pemeo "so many
journals, but so little time". Untuk itulah
Tabloid KARDIOVASKULER hadir, membawa
berita ilmiah kardiovaskuler terkini.
Dr. Sony Hilal Wicaksono, SpJP
Pemimpin Redaksi
S
elamat hari raya Idul Fitri 1434H bagi
para pembaca tabloid profesi kardio-
vaskuler yang merayakannya, minal aidin
wal faidzin taqobbalallahu minna wa minkum,
semoga amal ibadah puasa Ramadhan kita
diterima oleh Allah SWT. Mohon maaf lahir
batin juga kami ucapkan untuk seluruh
pembaca setia tabloid, atas digabungnya edisi
Juli dengan Agustus sebagai kebijakan internal
kami.
Pada edisi Juli-Agustus ini kami sajikan
sebagai Headline sebuah artikel menarik ber-
judul Skrining untuk penyakit jantung koroner
pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 dari
Canadian Diabetes Association Clinical Practice
Guidelines, di bawahnya kami sajikan artikel
yang berjudul resusitasi jantung paru yang
berkualitas yang disadur dari artikel di jurnal
Circulation 2013.
Artikel di bawah salam pembaca ini
adalah tentang Efek awal, akhir dan jangka
TERDAPAT lebih dari lima juta pasien
yang mengalami regurgitasi katup moder-
at sampai berat di Amerika Serikat. Studi
Framingham menyebutkan prevalens re-
gurgitasi mitral (MR) meningkat 1.3 kali li-
pat tiap dekade. Hal ini perlu diantisipasi
bahwa prevalens MR akan terus meningkat
di masa depan karena berkembang pesat-
nya populasi usia tua di Amerika Serikat
dan seluruh dunia.
Intervensi bedah yang dilakukan dini
pada MR organik kronik telah dilakukan di
tahun-tahun sekarang, terutama ketika per-
baikan katup mitral nampaknya memper-
lihatkan hasil yang baik. Walau demikian,
kebanyakan pasien dengan MR kronik akan
menjalankan intervensi bedah. Sebagai
contoh, terdapat 500000 pasien yang pulang
dari rumah sakit dengan diagnosis penya-
kit katup mitral setiap tahunnya di Ame-
rika Serikat, tetapi hanya 18000 pasien (3.6%)
yang menjalani operasi katup mitral setiap
tahunnya.
Terdapat debat yang terus menerus
mengenai strategi manajemen yang optimal
untuk pasien asimptomatis dengan MR
kronik dan fungsi ventrikel yang normal,
terutama ketika perbaikan katup mitral
tidak dapat dilakukan atau terdapat ko-
mordibiditas yang signifikan. Sehingga,
para klnisi telah lama menekuni temuan
terapi non bedah untuk MR kronik. Obat
tradisional untuk pengobatan penyakit
gagal jantung, termasuk vasodilator dan
penghambat enzim pengkonversi angio-
tensin telah dicoba. Walau terapi ini
mungkin mempunyai efek akut yang baik
terhadap MR, tetapi tidak memberikan
hasil yang menjanjikan pada beberapa
studi jangka panjang.
Studi observasional klinis yang kecil
memperlihatkan carvedilol memperbaiki
remodeling ventrikel kiri dan mengurangi
MR pada pasien gagal jantung yang disebab-
kan oleh penyakit jantung non katup (pe-
nyakit jantung iskemik atau kardiomiopati
non iskemik). Studi retrospektif memper-
lihatkan penghambat beta 1 dapat memper-
lama angka harapan hidup pasien MR,
walau studi ini secara signifikan terbatas
karena terdapat banyak faktor perancu.
Karena terapi penghambat beta berman-
faat untuk gagal jantung yang tidak disebab-
kan oleh MR, hal ini masuk diakal untuk
memberikan hipotesis bahwa penghambat
beta memiliki efek menguntungkan pada
gagal jantung kongestif yang disebabkan
oleh MR organik kronik. Efek menguntung-
kan tersebut mungkin akan terlihat jika
penghambat beta tersebut dimulai pada fase
awal sebelum perkembangan yang irever-
sibel dari disfungsi ventrikel kiri.
Studi dengan hewan uji memperlihat-
kan penghambat beta dapat memperbaiki
fungsi sistolik ventrikel kiri pada MR or-
ganik kronik, tetapi efek menguntungkan
tersebut pada remodeling ventrikel kiri
belumlah jelas. Belum ada studi yang mem-
perlihatkan penghambat beta dapat mem-
perbaiki remodeling ventrikel kiri pada MR
organik kronik.
Lebih lanjut, disosiasi antara efek buruk
remodeling ventrikel kiri dan perbaikan
kontraktilitas miosit kardiak pada perco-
baan MR yang diobati dengan penghambat
beta telah dilaporkan. Disosiasi tersebut
menimbulkan kemungkinan patofisiologi
yang bertolak belakang karena remodeling
ventrikel kiri yang tidak baik sering kali
dihubungkan dengan disfungsi ventrikel
kiri dan hasil keluaran jangka panjang yang
buruk pada semua bentuk gagal jantung
kongestif.
Sehingga perlu menentukan apakah efek
menguntungkan penghambat beta dapat
diperlihatkan jika MR organik kronik dio-
bati pada fase awal sebelum berkembang
menjadi difungsi ventrikel kiri dan jika
pengobatan ini dapat berlangsung lama. Ini
juga perlu dipertimbangkan apakah remod-
eling ventrikel kiri dihubungkan dengan
terapi penghambat beta memiliki dampak
negatif terhadap fungsi ventrikel kiri pada
MR organik kronik atau jika terjadi per-
baikan awal dari fungsi ventrikel kiri dan
kontraktilitas miokard yang diamati pada
studi sebelumnya dapat menuju ke arah
yang lebih baik pada remodeling ventrikel
kiri jika pengobatan tersebut dilakukan
pada fase awal dan jangka panjang.
Untuk mengklarifikasi isu penting ter-
sebut, dilakukanlah studi oleh Gao et al. se-
bagai studi prospektif untuk menentukan
efek awal, akhir dan jangka lama pengham-
bat beta pada remodeling ventrikel kiri,
fungsi sistolik dan harapan hidup pada
hewan uji dengan MR kronik. Hipotesis
studi ini menyatakan bahwa apakah carve-
dilol (penghambat beta non selektif dengan
aktivitas alfa 1) yang diberikan awal se-
belum terjadinya perkembangan disfungsi
sistolik ventrikel kiri dan jangka panjang
memiliki efek yang menguntungkan.
Menggunakan 87 tikus dengan MR or-
ganik yang signifikan, dirandomisasi dalam
kelompok penghambat beta (n = 43) serta
kontrol (n = 44). Carvedilol dimulai pada
minggu ke dua setelah induksi MR dan di-
berikan selama 2335 minggu pada kelom-
pok penghambat beta. Ekokardiografi dila-
kukan pada saat awal dan minggu ke 2, 6,
12, 24, 30, dan 36 setelah induksi MR.
Setelah 23 minggu diberikan pengham-
bat beta, denyut nadi secara signifikan
menurun pada carvedilol (30825 vs 351
31 denyut per menit; p < 0.001). Diastolik
akhir ventrikel kiri (2.20.7 vs 1.590.6 ml;
Efek Penghambat Beta Nonselektif
pada Pasien dengan Regurgitasi
Mitral Organik Kronik
panjang penghambat beta non selektif pada
remodelling ventrikel kiri, fungsi dan harapan
hidup pasien dengan regurgitasi mitral orga-
nik kronik yang dirangkum dari Circulation Heart
Failure 2013.
Berikutnya Kardiologi Kuantum dari Prof
Budhi berjudul the Self, yang selalu menarik
untuk disimak.
Seperti biasa artikel yang disponsori kami
juga sajikan, masih tentang dabigatran.
Efek dosis ganda ASA terhadap parameter
fungsi platelet dan hiperreaktivitas platelet
dari sub analisis studi AVOCADO juga menarik.
Berikutnya, ternyata obesitas lebih berisiko
atrial fibrilasi dibanding yang non obese, di-
bahas dalam artikel Obesitas pencetus fibrilasi
atrium juga dirangkum dari Circulation. Tera-
khir kami sajikan artikel penting tentang pre-
diabetes dan penurunan berat badan.
Demikian sajian artikel-artikel kami pada
edisi Juli-Agustus ini, Selamat membaca.*
(Bersambung ke hal.6)
Transcendence to The Depth of The Heart
and Beyond, adalah benang merah yang
menghubungkan antara profesi penulis
sebagai guru besar, dokter ahli jantung dan
pembuluh darah dengan buku yang
ditulisnya tentang Candra Jiwa Indonesia.
Candra Jiwa Indonesia (CJI) adalah
warisan ilmiah kepada dunia tentang jiwa
manusia serta peta perjalanannya menuju
candra ideal sebagai batas akhir dari
perkembangan kesadaran manusia. Konsep
tersebut telah dibandingkan secara ilmiah
(disertasi Dr. Soemantri Hardjoprakoso:
Indonesisch Mensbeeld als Basis ener Psyco-
therapie) dengan Candra Jiwa Freud, Adler,
dan Jung di Rijkuniversiteit di Leiden (1956),
Nederland; memang kandungan asli dari
bumi Indonesia, dari bangsa Indonesia, dan
dipertahankan oleh orang Indonesia pula.
Dua orang putra Indonesia R. Soenarto
Mertowardojo dan Dr. Soemantri
Hardjoprakoso telah membuktikan
hipotesis Jung tentang intuisi. Sejak itu
Candra Jiwa Indonesia (Soenarto) berdiri
sejajar bahkan lebih lengkap dari candra
jiwa sebelumnya dari Sigmund Freud, Alfred
Adler, dan Carl Gustav Jung.
Penulisnya berharap, buku ini dapat
membantu memperluas pengetahuan kita
tentang candra manusia dan candra dunia,
karena dapat merangkum dari yang telah
ada sebelumnya. Walaupun sedikit-banyak
menyentuh masalah keyakinan dan
kepercayaan justru memberikan dasar
pendidikan budi pekerti, pembinaan mental
spiritual dan mempertajam empati secara
luas kepada siapa saja terutama para
mahasiswa.
Penulis : Budhi Setianto
Purwowiyoto
Penyunting : Puji Santosa
Penerbit : H&B / Heart and
Beyond PERKI
Size : 143 x 205 mm
Tebal : xvii (dwi halaman) +
102 (dwi halaman)
Kertas : Book paper BW
Cover : Art Carton 310 gr F/C
Harga : Rp. 75.000,-
(belum termasuk ongkos kirim)
UNTUK TAHAP AWAL PENJUALAN
HANYA DENGAN PIHAK KANTOR KAMI.
dapatkan HARGA KHUSUS bila Anda
datang membeli langsung di alamat:
Redaksi dan Tata Usaha
Tabloid Profesi KARDIOVASKULER
197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013 3
- Indirect comparison based on the RE-LY
trial (for dabigatran etexilate) and the Rocket
AF trial (for rivaroxaban) suggests advantages
of Pradaxa in stroke prevention in patients with
atrial fibrillation
Ingelheim, Germany, Friday 24th August
2012 In the absence of a head-to-head study,
a comprehensive analysis published in Throm-
bosis and Hemostasis,1 looks into the efficacy
and cost-effectiveness of Pradaxa for stroke
prevention in patients with non-valvular atrial
fibrillation in an indirect comparison to rivarox-
aban. The analysis, based on two large scale
trials including more than 32.000 patients
combined, suggests that patients treated with
Pradaxa may have lower rates of ischaemic
stroke and intracranial haemorrhage (ICH), and
also accumulate lower costs from acute care and
long-term follow-up over their lifetime than
patients treated with rivaroxaban.
1
Cost Effectiveness and Clinical Efficacy of Pradaxa (Dabigatran Etexilate)
versus Rivaroxaban Analysed
(Bersambung ke hal.4)
Kardiologi Kuantum (20)
TheSelf
(Bersambung ke hal.5)
Many people utter words of wisdom: Man
must have faith in himself. In fact they do not
know what is called Self, and which way to take
so they can always have strong faith in them-
selves. Most of them only know their non-eter-
nal-self [ego] which they regard as their True
Leader and Guide. Soenarto Mertowardojo
RUPANYA, baik orang Barat maupun
orang Timur menaruh perhatian penuh
terhadap pertanyaan siapakah diri kita
yang sesungguhnya. Sabrina bahkan takut
untuk menceritakan kepada kita siapa se-
sungguhnya diri kita itu. I am afraid to show
you who I really am, because if I show you who
I really am, you might not like itand thats
all I got. Sabrina Ward Harrison. Yang
paling banyak diketahui adalah sang Aku
(Ego) dari diri kita. Mengapa demikian?
Karena dialah yang merupakan kristalisasi
dari angan-angan manusia. Ego juga mewa-
kili tiga sentra vitalitas manusia: inteligen-
si (angan-angan), nafsu, dan perasaan kita,
oleh karena itu dunia mental/jiwa kita
dapat disebut sebagai dunia-ego. Bahkan,
Ego mewakili seluruh mikrokosmos manu-
sia seutuhnya, misalnya aku sedang makan,
sedang belajar, atau sedang marah.
Dalam perjalanan hidup manusia Sang
Aku juga mengalami evolusi, perubahan
untuk menghadapi dinamika masyarakat.
Melalui pancaindra manusia berinteraksi
dengan dunia luar, makrokosmos. Manusia
dapat memanfaatkan flora dan fauna yang
ada sekaligus melestarikannya bila ada
kemauan dan kemampuan. Ia mengeksplo-
rasi minyak, dan batu-bara sebagai sumber
energi yang tak tergantikan sekaligus
merusak lapisan ozon di luar angkasa.
Sementara itu pabrik-pabrik kendaraan
bermotor bermunculan dengan produksi-
nya yang selalu meningkat setiap tahun.
Setiap sepeda motor dan mobil memerlu-
kan bensin sebagai bahan bakarnya, dengan
gas buangnya yang merusak ozon sehing-
ga panas matahari langsung menghunjam
bumi, terjadilah pemanasan global. Es-es di
kutub utara dan selatan mulai mencair,
beberapa negara di dunia seperti Maladewa
terancam tenggelam, hapus dari muka bumi
beserta seluruh isinya. Dengan segala
kemampuan sang Aku yang memiliki
kemampuan inteligensi yang luar biasa di-
tantang alam semesta untuk menunjukkan
kemampuannya dalam melestarikan mak-
rokosmos.
Tanggal 22 Juli 2013, seorang bayi Kera-
jaan Inggris baru saja lahir di RS St Marys
London dengan berat badan 3,8 Kg, ia
adalah putra dari Pangeran William dan
Kate Midleton (The Duke and Duchess of Cam-
bridge). Beberapa saat kemudian bayi terse-
but sudah memiliki gelar kerajaan sebagai
HRH Prince George of Cambridge, langsung
menjadi pewaris tahta kerajaan nomor urut
ke tiga, menggeser nomor urut pamannya
(Pangeran Harry). Ego manusia menurut
penelitian baru muncul dalam perilaku
sekitar usia 3 tahun. Dalam kehidupan se-
hari-hari ia nampak seperti seorang raja/
ratu, seolah-olah dunia menjadi miliknya,
ingin mengatur semuanya. Tentu saja bayi
kerajaan yang baru saja lahir tersebut
belum muncul sang Akunya, ia masih ka-
get karena harus mulai mandiri dalam
menyusu, menghirup nafas, dan beradap-
tasi dengan makrokosmos.
Baru saja ia meninggalkan Sorga Dunia,
di dalam kandungan seorang ibu, ia tidak
perlu menyedot susu, menangis, bahkan
tidak perlu menghirup udara sendiri, kebu-
tuhan akan oksigen dan sari makanan sudah
dipenuhi oleh sang ibu melalui tali pusar-
nya. Di dalam kandungan bayi berhubung-
an secara strukturil dengan ibunya, setelah
lahir hubungan antar egonya dikenal se-
bagai hubungan fungsionil. Oleh karena itu
The authors conducted a formal indirect
treatment comparison between Pradaxa and
rivaroxaban (according to the Markov model).
The analysis has to be viewed in light of the
absence of a head-to-head study. The current
interest in healtheconomic aspects of new treat-
ments may encourage further scientific assess-
ments to confirm the findings. Boehringer Ingel-
heim would endorse and support further inves-
tigation.
In the analysis the authors conclude:
1
Pradaxa may provide a lower risk of
stroke (RR=0.62; 95% CI 0.45-0.87) than
rivaroxaban
Pradaxa may provide a lower risk of
intracranial haemorrhage (ICH)
(RR=0.38; 95% CI 0.21-0.67) than rivar-
oxaban
Looking at events per 100 patient-years, the
model predicts that over a lifetime horizon, AF
patients may experience
1
Considerably fewer ICH with Pradaxa
than with rivaroxaban (0.33 vs. 0.71)
Less ischaemic strokes with Pradaxa
than with rivaroxaban (3.40 vs. 3.96)
More quality-of-life-years with Pra-
daxa than with rivaroxaban (6.17 vs.
6.01)
When assessing the costs of care, the analy-
sis implies that patients treated with Pradaxa
incur lower costs of acute care and long term
follow-up per patient, which, according to the
authors, more than offset differences in drug
costs.
1
The study shows consistent conclusions
to previous analysis evaluating novel oral anti-
coagulant treatments in the Canadian market.
2
The indirect comparison model is based on
data from ROCKET AF
3
where patients were
treated with rivaroxaban and Pradaxa clinical
event rates as observed in the safety-on-treat-
ment population
4
in RE-LY, a prospective,
randomized, open-label trial with blinded
endpoint evaluation, comparing two fixed
doses of the oral direct thrombin inhibitor da-
bigatran etexilate (110mg and 150mg bid) each
administered in a blinded manner, with open
label warfarin.
5,6
The Pradaxa data were
adjusted mainly to reflect the higher level of war-
farin control in RE-LY) (the mean TTR (TTR =
time in therapeutic range) was 64% in RELY
and 55% in ROCKET-AF) and simulated dos-
ing corresponding to the approved Canadian
treatment algorithm
7
for Pradaxa.
Dr Anuraag Kansal a research scientist in
Health Economics, United BioSource Corpora-
tion, headquartered in the US said, As more
anticoagulation therapies become available,
there is a need to understand the clinical and
economic differences between new therapies.
This research tells us that the benefits of da-
bigatran etexilate accrue steadily over time and
that the novel oral anticoagulant continues to
197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013 4
Pemberian dosis double ASA memperbaiki
reaktivitas platelet pasien DMT2 dan kondisi reak-
tivitas platelet yang meningkat
DMT2 dihubungkan dengan peningkatan 2-
4 kali risiko penyakit kardiovaskuler (CVD)
diakibatkan peningkatan koagulasi berhu-
bungan dengan fibrinolysis yang tergang-
gu, disfungsi endotel dan reaktivitas plate-
let yang tinggi (HPR) dengan peningkatan
adesi, aktivasi dan agregasi. Berdasarkan
panduan klinis perkumpulan diabetes Ame-
rika dan Polandia, pasien DMT2 seharus-
nya diberikan dosis rendah ASA 75-162mg/
hari untuk pencegahan primer pasien risi-
ko tinggi CV dan untuk pencegahan sekun-
der dari CVD pada semua pasien.
Pada beberapa pasien HPR akan berlan-
jut walaupun telah diberikan ASA rutin.
Prevalens HPR tergantung dari definisi,
populasi yang diteliti, dosis obat dan tes
yang digunakan untuk mengevaluasi fung-
si platelet. Dalam praktek klinis, pasien
non compliance merupakan penyebab ter-
sering HPR selama pengobatan dengan ASA,
yang diukur menggunakan cyclooxygenase
(COX)-1-dependent tests. Hasil dari studi se-
belumnya mengenai efek berbagai dosis
ASA adalah inkonsisten. Studi-studi terse-
but sangatlah jarang dilakukan pada pasien
DMT2 dan kebanyakan pasien-pasien terse-
but dalam kriteria compliance. Tujuan dari
studi ini adalah untuk mengevaluasi efek
dosis double ASA pada reaktivitas platelet
pasien DMT2 klinis stabil yang memperli-
hatkan HPR selama pengobatan kronis
dengan ASA 75 mg, dengan evaluasi pasien
compliance berdasarkan pengukuran ting-
kat serum thromboxane B2 (sTXB2).
Menggunakan 304 pasien DMT2 yang
diberikan pengobatan 75 mg ASA yang di-
lakukan secara randomisasi dan prospektif
dari studi AVOCADO (Aspirin Versus/Or
Clopidogrel in Aspirin-resistant Diabetic inflam-
mation Outcomes). Reaktivitas platelet diukur
dengan Platelet Function Analyzer (PFA)-
100, VerifyNow Aspirin Assay dan serum
thromboxane B2 (sTXB2) dan pengukuran
tingkat urin 11-dehydrothromboxane B2
(u11dhTXB2). Pasien dengan HPR dinilai
dengan CEPI-CT (collagen/epinephrine-
induced closure time) berdasarkan pengu-
Efek Dosis Double ASA terhadap Parameter Fungsi Platelet dan
Hiperreaktivitas Platelet
(Sub analisis Studi AVOCADO)
kuran PFA-100 yang dirandomisasi dengan
rasio 2:3 diberikan 150 mg ASA (kelompok
1) atau 75 mg clopidogrel (kelompok 2).
Reaktivitas platelet dinilai pada saat nilai
dasar dan setelah delapan minggu pengo-
batan.
Hasil data klinis dan sampel darah yang
lengkap terdapat pada 260 dari 304 pasien
yang diteliti. Enam pasien dieksklusikan
dari analisis berdasarkan suspek ASA non-
compliance (tingkat sTXB2 > 7200 pg/ml).
dari 254 pasien dimasukkan ke dalam anal-
isis, HPR ditemukan pada 90 (35.4%) pasien,
38 dari pasien tersebut dirandomisasikan ke
dalam kelompok 1 dan 52 pasien ke dalam
kelompok 2. Dosis double ASA menghasil-
kan CEPI-CT yang memanjang secara sig-
nifikan ( 111 detik, p < 0.001) dan reduksi
tingkat sTXB2 ( -101.3 pg/ml, p = 0.001)
tetapi tidak signifikan berdampak pada ha-
sil tes fungsi platelet lainnya.
Reduksi yang signifikan pada tingkat
sTXB2 memberikan gambaran peningkatan
dosis ASA menghasilkan supresi sintesis
thromboxane A2, contohnya inhibisi COX-
1. Pada saat yang sama, peningkatan CEPT
menggambarkan adanya respon perbaikan
terhadap ASA dihubungkan dengan penu-
runan reaktivitas platelet.
Pada metaanalisis yang dipublikasikan
tahun 2008 oleh Reny et al. memperlihat-
kan reduksi CEPI-CT pasien dengan penya-
kit arteri koroner dihubungkan dengan
peningkatan lebih dari dua kali lipat risiko
rekurensi kejadian iskemik (OR 2.1; 95% CI
1.4-3.4; p < 0.001). Temuan ini mungkin
memberikan gambaran pemanjangan nilai
CEPI-CT dihubungkan dengan peningkatan
dosis ASA mungkin dihubungkan juga
dengan reduksi pada risiko kejadian CV.
Walaupun hubungan yang ditemukan pada
metaanalisis oleh Simpson et al, dibanding-
kan dengan efek berbagai dosis ASA pada
risiko kejadian CV, metaanalisis ini terma-
suk 2 studi randomisasi pasien yang diberi-
kan dosis harian moderat ASA (101-325 mg),
dengan hanya 2% pasien dengan diabetes
pada kedua studi populasi tersebut, dimana
secara luas menurunkan kemampuan ek-
strapolasi dari hasil temuan tersebut.
(Kardiol Pol 2013; 73(6): 552-7)
SL Purwo
OBESITAS sering kali ditemukan pada kese-
hatan public dengan makin meningkatnya
prevalens. Fibrilasi atrium (AF) merupakan
masalah klinis aritmia tersering dan meng-
hasilkan banyaknya sekuel yang tidak di-
inginkan termasuk stroke, gagal jantung,
penurunan fungsi kognitif, demensia, penu-
runan kualitas hidup dan kematian.
Dalam studi komunitas dan kohort
populasi, obesitas telah menjadikan sebagai
faktor risiko AF. Sebagai perbandingan
dengan referensi berat badan normal, indi-
vidu obese mempunyai risiko 2.4 kali lipat
peningkatan risiko AF. Pada studi kohort
bedah kardiothoraks, risiko AF post ope-
rasi berkisar antara 1.4-2.4 kali lipat pening-
katan risiko jika dibandingkan dengan
refernsi non obese.
Risiko AF meningkat secara progresif
dengan peningkatan indeks masa tubuh
(BMI). Dalam seri bedah kardithoraks yang
luas, individu-individu dengan BMI yang
ekstrem (> 40 kg/m2) memiliki 2.3 kali
lipat peningkatan risiko AF post operasi
dibandingkan dengan 1.2 kali lipat risiko
pada individu dengan berat badan berlebih
(BMI 25-30 kg/m2). Suatu kohort observa-
sional dari klinik Mayo memperlihatkan
hasil yang sama dengan peningkatan ke-
mungkinan bergantinya AF dari paroksis-
Obesitas Pencetus Fibrilasi Atrium
offer effective stroke protection for patients
living with AF.
NOTES TO THE EDITORS
Stroke Prevention in Atrial Fibrillation
AF is the most common sustained heart
rhythm condition
8
, with one in four adults over
the age of 40
9
developing the condition in their
lifetime. People with AF are more likely to expe-
rience blood clots, which increases the risk of
stroke by five-fold.
9,10
Up to three million peo-
ple worldwide suffer strokes related to AF each
year.
11-14
Strokes due to AF tend to be severe,
with an increased likelihood of death (20%), and
disability (60%).
15
Ischaemic strokes are the most common type
of AF-related stroke, accounting for 92% of
strokes experienced by AF patients and frequent-
ly leading to severe debilitation.
16-20
Appropri-
ate anticoagulation therapy can help to prevent
many types of AF-related strokes and improve
overall patient outcomes.
21
Worldwide, AF is an extremely costly
public health problem, with treatment costs
equating to $6.65 billion in the US and over 6.2
billion across Europe each year.
21,22
Given AF-
related strokes tend to be more severe, this
results in higher direct medical patient costs
annually.
23
The total societal burden of AF-
related stroke reaches 13.5 billion per year in
the European Union alone.
23
About the dabigatran etexilate clinical trial pro-
gramme
Boehringer Ingelheims clinical trial pro-
gramme to evaluate the efficacy and safety of
dabigatran etexilate encompasses studies in:
Primary prevention of venous throm-
boembolism (VTE) in patients under-
going elective total hip and knee replace-
ment surgery
mal ke permanen dengan peningkatan BMI
yang progresif.
Obesitas dan penyakit metabolik me-
miliki kontribusi dalam risiko terjadinya
AF. Hipertensi secara kuat dihubungkan
dengan obesitas dan juga obesitas sebagai
faktor risiko AF; insidens hipertensi me-
ningkat dengan peningkatan berat badan
dan secar progresif naik pada kelompok
obesitas. Penyakit kardiovaskuler, baik
makro dan mikrovaskuler iskemik memi-
liki prevalen tertinggi yang berhubungan
dengan obesitas dan AF. Obesitas sentral
merupakan bagian dari sindroma meta-
bolik dan berdasarkan studi kohort komu-
nitas dengan penambahan sindroma meta-
bolik akan meningkatkan risiko 10 tahun
untuk terjadinya AF sebesar 4 kali lipat
jika 5 kriteria sindroma metaolik tersebut
terpenuhi.
Sebagai tambahan adipositas sistemik,
deposisi jaringan adipose regional teru-
tama jaringan adipose epikardial diukur
menggunakan tomografi atau MRI, telah
menjadikan faktor risiko yang poten untuk
terjadinya AF. Data epidemiologi menyim-
pulkan secara konsisten bahwa obesitas
dihubungkan dengan risiko subtansial
untuk perkembangan AF. Meta analisis
melaporkan individu obes memiliki pening-
katan 49% risiko AF dibandingkan individu
non obese.
Remodeling kardiovaskuler sekunder
akibat obeistas merupakan focus terpenting
dalam beberapa penelitian, mengidentifi-
kasi tahapan intermediet dalam jalur an-
tara paparan dan hasil akhir. Remodeling
atrial mungkin dapat menjadi sebagai
karakteristik proses yang heterogen oleh
adanya disrupsi integrasi elektrik atrial
sekunder terhadap paparan klinis jangka
panjang.
Perubahan pada fungsi elektrofisiologi
atrial dan remodeling yang bersamaan men-
jadikannya sebagai respon yang maladap-
tif terhadap hasil metabolik, hemodinamik
dan stress iskemik. Hasil kumulatif adalah
kekacauan elektrik, modifikasi struktur dan
inflamasi yang mengakibatkan fibrosis atri-
al interstitial dan menghasilkan substrat
proaritmik.
Obesitas dihubungkan dengan 2.4 kali
lipat risiko 10 tahun pembesaran volum atri-
um kiri yang dinilai dari ekokardigrafi.
Fungsi diastolik ventrikel berdampak pada
integritas atrium. Obesitas dan hipertensi
mungkin menghasilkan hipertrofi ventrikel
yang mana akan mengubah fungsi diasto-
lik, meningkatkan tekanan atrial dan meng-
hasilkan remodeling atrium.
Gelombang P berasal dari EKG permu-
kaan dan merupakan pengukuran vek-
torkardiografi dari morfologi, durasi dan
amplitude gelombang P. Mereka memberi-
kan pengukuran yang murah dan dapat di-
ulang pemeriksaannya dalam menggambar-
kan fungsi elektrik atrium. Gelombang P
secara progresif akan berubah oleh karena
obesitas dan lingkar pinggang.
Studi kecil senter tunggal melaporkan
hasil yang signifikan terhadapa perbedaan
elektrofisiologi atrium dan vena pulmona-
lis antara individu obese dengan non obese.
Individu obesememliki periode refrakter
yang pendek pada atrium dan vena pulmo-
nalis dibandingkan non obese, memberikan
gambaran bahwa sebagai substrat proatit-
mik.
(Circulation 2013; 128: 401-5)
SL Purwo
Treatment of acute VTE
Secondary prevention of VTE
Stroke prevention in AF
Prevention of thromboembolism after
heart valve replacement.
Boehringer Ingelheim
The Boehringer Ingelheim group is one of the
worlds 20 leading pharmaceutical companies.
Headquartered in Ingelheim, Germany, it oper-
ates globally with 145 affiliates and more than
44,000 employees. Since it was founded in 1885,
the family-owned company has been commit-
ted to researching, developing, manufacturing
and marketing novel medications of high the-
rapeutic value for human and veterinary medi-
cine.
As a central element of its culture, Boehring-
er Ingelheim pledges to act socially responsible.
Involvement in social projects, caring for em-
ployees and their families, and providing equal
opportunities for all employees form the foun-
dation of the global operations. Mutual cooper-
ation and respect, as well as environmental pro-
tection and sustainability are intrinsic factors in
all of Boehringer Ingelheims endeavours.
In 2011, Boehringer Ingelheim achieved net
sales of about 13.2 billion euro. R&D expendi-
ture in the business area Prescription Medicines
corresponds to 23.5% of its net sales.
Please be advised
This release is from Boehringer Ingelheim
Corporate Headquarters in Germany. Please be
aware that there may be national differences
between countries regarding specific medical
information, including licensed uses. Please take
account of this when referring to the information
provided in this document. This press release is
not intended for distribution within the USA,
Canada or UK.
(References available at
www.tpkindonesia. blogspot.com)
SPONSORED ARTICLE
(Cost.................... hal.3)
197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013 5
* 1970 Pemasangan pacu jantung tempo-
rer, di RSCM
* 1974 Pacu jantung permanen anak per-
tama di RSCM
Pemakaian anticoagulan pada in-
fark akut
* 1974 Tes jantung dengan ergocycle, di
RSCM
* 1976 Pemeriksaan arteriografi koroner
di RSCM
* 1976 Tes jantung dengan treadmil, di
RSCM
* 1977 Pemeriksaan elektrofisiologi di
RSCM
Pemeriksaaan Ekhokardiografi di
RSCM
* 1980 Holter monitoring
Program rehabilitasi jantung di
RSCM
* 1981 Pembedahan pintas koroner
* 1985 National Cardiac Center/RSJHK
* 1986 Pemakaian trombolise pada IMA
* 1987 PTCA di RSJHK
Balon pulmonal valvuloplasty di
RSJHK
* 1988 BMP di RSJHK
* 1992 Ablasi di RSJHK
Dokter Gan Tjong Bing yang baru kem-
bali dari luar negeri memaparkan perkem-
bangan ilmu penyakit dalam sebagai beri-
kut : Perkembangan Departemen Kardiolo-
gi dan Kedokteran Vaskular FKUI tidak
dapat dipisahkan dari Ilmu Penyakit Jan-
tung dan Pembuluh Darah di Indonesia yang
mulai berkembang pada tahun lima pulu-
han.
Pada masa itu tokoh yang merintis ilmu
penyakit jantung dan pembuluh darah un-
tuk orang dewasa adalah dr. Gan Tjong
Bing, dr. Soehardo Kertohusodo dan kemu-
dian dr.Lie Khioeng Foei.
Perhatian yang terarah terhadap ilmu
ini digalakan dengan berdirinya Perkum-
pulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PA-
PDI) dan Perkumpulan Kardiologi Indone-
sia (PerKI) pada tanggal 16 Nopember 1957.
Keduanya disyahkan sebagai Cabang Ika-
tan Dokter Indonesia (IDI) pada tanggal 28
Nopember 1957 di Rumah Sakit St.Carolus,
Jakarta. Sebelum itu Sub-Bagian Kardiolo-
gi pada Bagian Penyakit Dalam sudah di-
mulai pada tahun 1957 dengan Kepala dr.
Gan Tjong Bing.
Sebagai Ketua PERKI (yang pertama),
dr. Gan Tjong Bing juga menjabat sebagai
Sekretaris PAPDI. Pada sambutan berdiri-
nya PERKI antara lain dikemukakan beliau
bahwa lapangan kardiologi sebegitu luas-
nya, hingga bagi para Internis Umum tak
mungkin lagi dapat tetap mengikuti dan
menguasai kemajuan-kemajuan dalam
lapangan ini.
Kegiatan perkembangan Ilmu Kardiolo-
gi secara terpadu bermula di Rumah Sakit
Dokter Cipto Mangunkusumo (RSCM) de-
ngan kegiatan Poliklinik jantung di kamar
17, dimana berbagai unsure dari berbagai
Bagian mengadakan pelayanan dan disku-
si-diskusi teratur. Selain nama-nama yang
disebut terdahulu antara lain juga dr. Suka-
man S. dan dr. Endot M Achya turut dalam
perintisan ilmu kardiovaskular ini.
Kateterisasi jantung pertama kali dila-
kukan pada akhir tahun 1950-an di Rumah
Sakit Yang Seng Ie (sekarang RS.Husada)
oleh dokter-dokter dari RSCM, yaitu : dr.
Kwee Tien Boh, dr. I.S.F Ranti dan dr. Gan
Tjong Bing. Sedangkan dr. Sukaman adalah
Staf yang pertama kali mendapat pendidi-
kan di luar Negeri dibidang kardiovasku-
lar di Amerika Serikat dengan Prof Paul D
White yang juga sebagai pioneer kardiolo-
gi di Amerika Serikat (1960). Pemeriksaan
invasive ini mulai dilaksanakan pula di ru-
mah sakit Gatot Subroto dengan Tim yang
sama. Pada awal tahun 1960-an bedah jan-
tung tertutup pertama untuk stenosis mi-
tralis dilakukan oleh dr. Pouw.dkk. Selan-
jutnya setelah itu pembedaahan untuk PDA
lebih sering dilakukan.
Sub-bagian Kardiologi pada awal 60-an
telah menjadi salah satu sub-bagian yang
berkembang pesat di lingkungan Bagian
Penyakit Dalam dengan kegiatan Poli Jan-
tung di kamar 17. Kateterisasi jantung
kanan di RSCM dimulai tahun 1960 oleh dr.
Gan Tjong Bing, dr. I.S.F.Ranti, dr. Asikin
Hanafiah dan dr. Kwee Tien Boh di Kamar
Rontgen Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Di
Bagian Penyakit Dalam pemeriksaan ini
dimulai oleh dr. Tagor G.M.Siregar dan
dr.Makes setelah kateterisasi dipindah ke
bagian Radiologi RSCM pada tahun 1964.
Bedah jantung terbuka dengan hipoter-
mia dilakukan pertama kali pada tahun
1963. Sementara itu sub-bagian Kardiologi
di Bagian Kesehatan Anak sudah dipelopori
oleh Prof. Yo Kian Tjay, dr. I.S.F.Ranti dan
pada tahun 1961-1962 dr.Asikin Hanafiah
dikirim ke London untuk memperdalam
kardiologi, sedangkan dari Bagian Penya-
kit dalam dr. Tagor G.M.Siregar dan dr. Lo-
ethfi Oesman dikirim ke Mc Gill Univer-
sity, Canada pada tahun 1966-1967.
Untuk mewujudkaan pelembagaan
khusus dibentuk suatu THORACIC CENTER
untuk menanggulangi permasalahan jan-
tung dn paru. Termasuk didalam Thoracic
Center ini unsure-unsur antara lain dari
Bagian Bedah, Bagian Ilmu Kesehatan Anak,
bagian Ilmu Penyakit Dalam, Bagian Anes-
tesi, Bagian Radiologi dan Bagian Patologi.
Ternyata pemusatan kegiatan dari berbagai
disiplin ilmu tidak mencapai hasil sebagai-
mana diharapkan, karena tenaga-tenaganya
masih terikat dalam disiplin Bagian masing-
masing, hal mana tidak dimungkinkan
pengembangan kegiatan Throracic Center
tersebut.
Dengan makin meningkatnya tuntutan
dari masyarakat dan pesatnya perkemba-
ngan ilmu kardiovaskular, dirasakan per-
lunya tenaga-tenaga yang secara penuh
dapat mengembangkan minat dan keahlian-
nya didalam bidang tersebut, dirasa perlu
suatu pelembagaan yang khusus yang me-
nangani kardiovaskular. Timbulah gagasan
terbentuknya suatu LEMBAGA KARDIOLO-
GI NASIONAL (disingkat LAKARNAS)
pada tanggal 17 Agustus 1965 dengan Kon-
sep Surat Keputusan 3 Menteri yaitu Men-
teri Kesehatan, Menteri Riset Nasional dan
Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Penge-
tahuan.
Ide pendiriannya berasal dari dr. Djaka
Sutadiwiria yang maksud dan tujuannya
adalah menghimpun dan mengarahkan segala
tenaga dan alat-alat untuk memberantas pe-
nyakit jantung dan pembuluh darah dalam arti
yang seluas-luasnya Anggota Dewan Pengu-
rus yang pertama adalah Kolonel CDM.
dr. Djaka Sutadiwirya (Ketua, selaku wakil
Departemen Kesehatan), dr. Soehardi Har-
djolukito (Wakil Ketua selaku Departemen
Urusan Research) dan Prof. dr. Djamaludin
(Sekretaris/Bendahara, selaku Wakil De-
partemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pe-
ngetahuan). Sedangkan para Anggota : Ny.
Sumarno (Selaku Ketua yayasan Kardiolo-
gi Indonesia), dr. Irawan S. Santoso (Selaku
Direktur lembaga), Prof. dr. Syahrial Rasad,
Prof.dr. M Soekarjo dan Prof.dr D.Biran.
Lembaga ini berkedudukan di Ibukota
Republik Indonesia dan secara fisik berada
di Rumah Sakit Dokter Cipto Mangun-
kusumo.
Sejarah Kardiologi (Bagian Kedua)
(BERSAMBUNG)
tidak heran bila doa seorang ibu kepada
Tuhan YME sering dikabulkan dan diyaki-
ni oleh sebagian besar masyarakat Indone-
sia bahwa sorga itu terletak di telapak kaki
ibu.
Mari kita lihat gambar-1; Setiap Ego
memiliki pengalaman dan jalur hidupnya
sendiri, tidak dapat seseorang menumpang
kepada jalur orang lain sehebat apapun
jabatan orang itu di dunia. Apakah ia seo-
rang pemimpin, ilmuwan, guru, bahkan
nabi sekalipun tidak mungkin disejajarkan
dengan jalur hidup siapapun, suatu saat akan
bersimpangan sesuai amal perbuatannya. Di
jalur manapun Ego berjalan memiliki 2
tugas utama eksoteris (ke luar) untuk men-
jadi manusia yang bermanfaat bagi lingku-
ngannya, menjadi kusuma bangsa, kunci
utamanya adalah jujur. Mengapa jujur?
karena kejujuran menimbulkan keadilan,
keadilan seorang pemimpin menghasilkan
kesetiaan rakyatnya. Kejujuran juga me-
nampilkan keberanian dan memuluskan
sikap ikhlas, sabar, dan syukur pada akhir-
nya memiliki sifat dan perilaku unggulan
budi luhur. Tugas berikutnya adalah tugas
esoteris (ke dalam) mendekat kepada
Tuhan di dalam lubuk hatinya, kunci uta-
manya adalah percaya (iman) merupakan
kompas ke mana Ego-yang-tidak abadi ni
berevolusi. Percaya adalah fungsi tertinggi
dari perasaan manusia, salah satu dari 3
vitalitas jiwa. Masih diperlukan sadar se-
bagai fungsi tertinggi dari angan-angan
manusia dalam arti yang seluas-luasnya
misalnya doa, meditasi, dzikir, ibadat, dan
membaca kitab suci. Satu lagi sikap esoteris
yang harus dimiliki oleh sentra vitalitas
ketiga: nafsu-nafsu yaitu taat menjalankan
perintah Tuhan.
Nah, konsep esoteris yang dijalankan
oleh egonya manusia ini memungkinkan
ia menuju ke hati nurani-nya sebagai lapis
terdalam dari jiwanya, sekaligus lapis ter-
luar dari Egonya-yangabadi ialah Roh Suci
(TheSelf) itu sendiri. Perhatikan lingkaran
Ego-Hati Nurani-TheSelf terdapat koridor
(the gate) dimana terjadi kontinuitas kesa-
daran antara Ego dan TheSelf, sinar dari
pusat imateri dipancarkan keluar melalui
konduksi asensorik. The Gate (Rahsa Jati)
bukanlah indra ke-enam dalam arti Sang
Ego dapat mengintip ke dalam Dunia ke-4
yang omnipotensi (mahakuasa) itu, tetapi
justru sebaliknya, pengetahuan yang belum
ada sejarahnya dapat terpancar dari dalam
berupa intuisi, bila syarat-syaratnya ter-
penuhi. Ego hanya dapat menunggu berita
dari dalam tanpa memiliki kekuatan me-
maksa, ia harus menyerahkan seluruh
kedaulatannya kepada TheForce, utusan
Tuhan yang abadi untuk dituntun kembali
kepada sumber dan tujuan hidupnya ialah
TheSource, Tuhan yang Maha Kuasa di dalam
dirinya.
Sebenarnya evolusi tadi dapat diartikan
sebagai ditariknya kembali sinar kehi-
dupan The Self oleh TheForce atas nama The-
Source. Di sini terjadi peristiwa yang menak-
jubkan secara teoritis: pertama adalah peris-
tiwa intuisi yaitu bertemunya TheSelf dan
TheForce yang dampaknya terasa oleh
sang Ego sebagai pencerahan yang dapat
mengubah peradaban manusia. Pencerah-
an ini dapat berupa penemuan-penemuan
baru sain dan teknologi, kemajuan kebu-
dayaan yang berarti, dan terangkatnya de-
rajat suatu kaum atau bangsa. Pada posisi
ini seluruh vitalitas sudah terintegrasi
dengan baik, manusia di sini sudah memi-
liki integritas yang tinggi. TheSelf telah
mengambil tongkat komando dari sang Ego
yang sudah menyerahkan kedaulatannya
tadi untuk patuh pada TheSelf. TheSelf selalu
mendengarkan arahan dan tuntunan dari
Sang Guru Sejati (TheForce) karena dialah
yang menghidupi TheSelf tersebut untuk
pada akhirnya juga yang menuntun kembali
kepada sumber dan tujuan hidupnya yang
Gambar-1. TheSelf adalah Ego-nya manusia di dalam dunia spiritual di dalam pusat
hidupnya manusia yang imateri ialah dirinya yang hakiki. Hati nurani adalah lapis luar
dari TheSelf (D4: imateri) dan adalah lapis dalam dari Ego-nya manusia dalam dimensi
mental (D3: fisik halus, terikat oleh ruang dan waktu) oleh karena itu hati nurani masih
memiliki dua ekstrim baik dan buruk. Tripurusa (TriAspect), Suksma Kawekas
(TheSource), Suksma Sejati (The-Force), Roh Suci (TheSelf) berada di pusat imateri
tidak terikat ruang dan waktu. (Purwowiyoto BS. Candra Jiwa Indonesia Warisan Ilmiah
Putra Indonesia. Penerbit H&B PERKI, Jakarta 2012)
hakiki yaitu Suksma Kawekas (TheSource),
menyempurnakan evolusinya. Peristiwa
kedua adalah peristiwa pamudaran yaitu
selesainya tugas evolusi Egonya manusia
bukan hanya pada saat terjadinya kematian
saja, berarti kurang bermanfaat dalam arti
sempit, tetapi evolusi itu dapat selesai jauh
sebelum kematiannya badan jasmani kasar
sebagai Dunia ke-2 manusia/mikrokosmos.
Candra Jiwa Indonesia menjelaskan bah-
wa yang benar-benar berubah pada proses
Pamudaran adalah kesadaran. Kesadaran
manusia menjadi semakin mengecil diba-
tasi oleh kesadaran sang aku, semakin lama
semakin bersifat apribadi sampai akhirnya
menjadi absolut tidak terbatas dalam peris-
tiwa Pamudaran. Siapa saja yang berhasil
menyelesaikan Pamudaran ini akan merasa-
kan kesadaran dalam dirinya berada pada
setiap bentuk kehidupan dan keberadaan-
nya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Tidak ada lagi perbedaan dunia dalam mau-
pun dunia luar, juga tidak ada lagi proses
kegiatan di dalam jiwa.
Kesadaran pada status Pamudaran adalah
suatu istilah dalam mengikuti perkemba-
ngan terakhir kesadaran hidupnya perasa-
an, angan-angan, dan nafsu-nafsu. Ketiga
fungsi itu sekarang menyatu di dalam sta-
tus Pamudaran dan menjadi akhir keber-
adaannya. Status Pamudaran adalah identik
dengan status Suksma Sejati (TheForce) dan
potensiil dapat dicapai oleh setiap manu-
sia. Dalam berbagai sistem psikologi Barat,
Jung satu-satunya yang mengemukakan
kemungkinan perkembangan lanjut dari
jiwanya manusia.
Menurut Freud, titik akhir kehidupan
adalah kematian. Bagi Adler yang ideal ada-
lah mengikuti kebutuhan masyarakat secara
mutlak, tanpa kemungkinan sang aku
dapat menyatukan dirinya dengan masya-
rakat. Proses Pembebasan atau Pamudaran
dalam Candra Jiwa Indonesia telah disebut
oleh Jung sebagai werden zur Persnlichkeit,
atau Selbstverwirklichung, Verselbstung atau
sebagai Individuationprozess, proses individ-
uasi. Sekian dan terima kasih.
Budhi S. Purwowiyoto
(Kardiologi.................... hal.3)
197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013 6
pada istirahat bagi penderita DM mening-
katkan pentingnya identifikasi PJK tahap
lanjut dengan kemungkinan lebih mung-
kinnya ditemukan hasil pemeriksaan stres-
ECG dan perfusi yang positif. Profil risiko
pasien DMT1 berbeda dengan DMT2. Keja-
dian serangan jantung pada dewasa muda
dengan DMT1 (umur 28-38 tahun) adalah
0,98% per tahun, meningkat menjadi 3%
setelah umur 55 tahun. Pada dewasa muda
memiliki prevalensi tinggi untuk PJK ter-
sembunyi. Serangan jantung yang berat
terjadi 10-15 tahun lebih awal dibanding
nondiabetik. Laki-laki Amerika keturunan
Afrika lebih sering terkena PJK. Prosesnya-
pun lebih berat
Prediktor untuk penyakit vaskular pe-
rifer (PVD) meliputi peningkatan umur,
pria, riwayat koreng, tekanan darah dias-
tolik, LDL Kolesterol, Hb A1C, lamanya
diabetes, hipertensi, ekskresi albumin, rate
filtrasi glomerular, merokok dan retinopati.
Pendekatan kita untuk identifikasi PJK pada
DMT1 dapat dipakai dengan cara yang sama
untuk DMT2 meliputi penghitungan risiko
dan strategi diagnosisnya. Untuk pasien
yang dapat berjalan pada treadmill tanpa
kelainan berat segmen ST-nya, Treadmill
Test masih tetap merupakan lini pertama
diagnostik karena harga terjangkau dan
penggunaannya yang luas.
Progresi kalsium arteri koroner akan
berkurang dengan kontrol gula darah. Ke-
beradaan kalsium pada arteri koroner ber-
hubungan dengan peningkatan prevalensi
PJK. Prevalensi kalsium arteri koroner
adalah 11% pada pasien <30 tahun dan men-
jadi 88% diantara mereka yang berumur
50-55 tahun. Perhitungan calsium pada
arteri koroner telah terbukti memprediksi
risiko kardiovaskuler pada populasi umum
dan pada studi kohort pasien dengan DMT2,
tetapi tidak ada data untuk DMT1.
Rekomendasinya, 1) Berdasarkan kon-
sensus [Grade D] ECG agar dilakukan pada
individu dengan ketentuan: umur diatas 40
tahun, lamanya diabetes >15 tahun dan beru-
mur >30 tahun, adanya kerusakan mikro
atau makrovaskular, dan dengan beberapa
risiko kardiovaskular. 2) Pada pasien dengan
diabetes, pemeriksaan ECG berdasarkan
konsensus [Grade D] dapat diulang dalam 2
tahun. 3) Pasien dengan diabetes harus di-
lakukan pemeriksaan kearah adanya PJK
dengan ECG stres testing [Grade D, konsen-
sus], jika didapatkan keberadaan sebagai
berikut: gejala jantung tipikal maupun atipi-
kal (seperti sesak nafas tanpa sebab, tidak
enak di dada) [Grade C, Level 3(4)], Tanda-
tanda dan gejala-gejala penyakit arteri peri-
fer, bising karotis, serangan iskemik tran-
sien, strok, dan ECG abnormal pada isti-
rahat (contoh adanya gelombang Q) [Grade
D, konsensus]. 4) Stres Tes Farmakologi
dengan ekho atau imejing nuklir [Grade C,
Level 3]. 5) Individu dengan diabetes yang
memperlihatkan iskemia pada kapasitas
latihan rendah (<5 metabolik ekivalen
(METs)] pada stres tes agar dikonsulkan ke
spesialis jantung [Grade D, konsensus].
Perbedaan PJK pada DMT1 dan tipe 2,
tidak hanya pada kehadirannya pada usia
muda tetapi juga hubungannya dengan gen-
der, presentasinya yang tersembunya, dan
beratnya penyakit. Risiko mortalitas PJK
jika dibandingkan antara pria dan wanita
pada DMT1, terdapat prevalensi tinggi PJK
tersembunyi pada dewasa muda dengan
DMT1, yang mungkin berhubungan dengan
neuropati otonom jantung. Akhirnya, tam-
pak proses penyakit lebih berat pada DMT1.
Dibandingkan dengan kontrol nondiabetik,
pasien dengan DMT1 memiliki stenosis ko-
roner yang berat, mengenai 3 cabang uta-
ma arteri koroner dan penyakit pada arteri
distalnya, oleh karena itu menyebabkan
serangan jantung berat dengan dampak bu-
ruk dan/atau berkembang menjadi gagal
jantungtahap awal. (Can J Diabetes 37 (2013)
S105eS109) Rima Sagita, Budhi Setianto
PREDIABETES mencerminkan gagalnya
kompensasi pankreas sebagai dasar suatu
resistensi insulin, kebanyakan diakibatkan
oleh berat badan yang berlebihan atau obe-
sitas. Kriteria untuk mendiagnosis predia-
betes berdasarkan toleransi glukosa darah
terganggu, glukosa puasa terganggu dan
sindroma metabolik. Tujuan primer mana-
jemen prediabetes adalah penurunan berat
badan. Tujuan dapat tercapai baik dengan
perubahan gaya hidup terapeutik, terapi
farmakologis, tindakan bedah ataupun
kombinasi beberapa pendekatan tersebut.
Prediabetes diketahui dengan keadaan
metabolik yang abnormal dengan pening-
katan risiko diabetes di masa depan. Krite-
ria sekarang mengenai prediabetes didiag-
nosis sebagai toleransi glukosa terganggu
(gula darah 2 jam post prandial dikisaran
140 200mg/dL); glukosa puasa terganggu
(glukosa plasma puasa sekitar 99126 mg/
dL) atau sindroma resistensi insulin atau
sindroma metabolik. Salah satu diagnosis
tersebut dihubungkan dengan peningkatan
tiga sampai sepuluh kali lipat untuk terja-
dinya DMT2 di masa depan. Walaupun
demikian, kombinasi dua atau lebih diag-
nosis tersebut akan meningkatkan 20 kali
lipat untuk terjadinya risiko diabetes.
Prediabetes menggambarkan kegagalan
kompensasi sel beta pankreas yang mang-
hasilkan keadaan mendasar dari resistensi
insulin. Penyebab tersering terjadinya re-
sistensi insulin adalah berat badan yang
berlebih (overweight) atau obese. Ketidak-
adekuatan sel beta merupakan karakteris-
tik prediabetes yang mungkin disebabkan
oleh predisposisi genetik. Penyebab lain-
nya yang mungkin adalah efek samping
dari keadaan metabolik yang dihasilkan
akibat konsentrasi gula darah yang berle-
bihan (glukotoksisitas) dan mungkin lipid
yang berlebihan (lipotoksisitas).
Medikasi antihiperglikemik seperti
metformin dan acarbose menurunkan risi-
ko diabetes di masa depan pada pasien pre-
diabetes sekitar 25 sampai 30%. Keduanya
aman dan ditoleransi baik, serta memberi-
kan efek kardiovaskuler yang baik. Studi
klinis menggunakan tiazolidinedion me-
nunjukkan penurunan terjadinya diabetes
sekitar 60-70% pada pasien prediabetes,
akan tetapi kelompok obat tersebut mem-
berikan efek samping yang cukup banyak.
Agonis reseptor glucagon-like peptide 1
(GLP-1) mungkin memberikan manfaat
yang sama untuk mencegah diabetes, akan
tetapi data tersebut inadekuat, terutama
mengenai keamanannya. Sehingga, golo-
ngan tiazolidinedion dan GLP-1 hanya
diberikan pada pasien dengan risiko tinggi
untuk terjadinya diabetes serta yang gagal
dengan pengobatan konvensional.
Manajemen prediabetes seharusnya di-
fokuskan pertama pada reduksi berat
badan. Reduksi resistensi insulin akan
terjadi dengan reduksi berat badan serta
mengurangi asupan makanan juga berman-
faat. Bedah bariatrik mempunyai nilai yang
baik sampai sempurna dalam keuntungan
jangka pendek hingga menengah untuk
mencegah terjadinya DMT2. Pengobatan
yang mengurangi berat badan juga me-
ngurangi prediabetes dalam jangka pendek.
Studi klinis kohort yang besar memperli-
hatkan penurunan berat badan yang lebih
tinggi akan menurunkan prediabetes, ter-
utama studi-studi dengan bedah bariatric.
Manajemen obesitas pada prediabetes
berbeda sedikit dengan manajemen pasien-
pasien tanpa diabetes, kecuali dibutuhkan
penanganan yang segera dalam mengatasi-
nya pada pasien dengan diabetes. Mengu-
rangi beban sel beta pancreas melalui penu-
runan berat badan nampaknya menjadi
salah satu metode mencegah rusaknya sel
beta pankreas.
Terapi pasien prediabetes dengan me-
dikasi anti hipergikemia mengurangi dis-
glikemia dan mungkin mencegah atau
memperlambat timbulnya diabetes. Tidak-
lah jelas mengenai terapi untuk prediabe-
tes pada pasien dengan gagalnya modifi-
kasi gaya hidup, apakah fokus terhadap
penurunan berat badan yang agresif dengan
obat atau bedah bariatrik, pemberian me-
dikasi antihiperglikemia atau mengguna-
kan beberapa kombinasi terapi. Penurunan
berat badan baik secara bedah maupun
obat-obatan secara nyata mengurangi resis-
tensi insulin yang memberatkan sekresi
insulin pankreas pasien prediabetes.
Penurunan berat badan tidak secara
nyata berhubungan dengan patogenesis
berkurangnya fungsi sel beta yang menjadi
dasar evolusi disglikemia menjadi diabe-
tes. Sehingga, masa tubuh yang menurun
akan mengakibatkan fungsi sekresi insulin
menjadi cukup untuk mempertahankan
keadaan euglikemia dan keadaan prediabe-
tes ataupun diabetes menjadi hilang.
Walaupun demikian, seiring dengan
waktu kehilangan yang progresif dari fung-
si sel beta akan terus berlanjut, fungsi sel
beta akan mencapai titik terendah dan men-
jadi tumpul dengan hasil akhir munculnya
keadaan disglikemia. Tindakan bedah
menghasilkan penurunan berat badan yang
cukup besar dibandingkan dengan pembe-
rian obat-obatan, mungkin lebih berguna
untuk membalikkan keadaan diabetes atau-
pun mencegahnya. Namun, tindakan ini
menimbulkan peningkatan morbiditas dan
mortalitas dari prosedur pembedahan.
[Endocr Pract 2013; 19 (Suppl2): 1-29]
SL Purwo
(Skrining.................... hal.1)
p < 0.001), volum sistolik akhir (0.720.42
vs 0.400.19 ml; p < 0.001) dan indeks masa
(2.400.55 vs 2.060.62 g/kg; p < 0.001) se-
cara signifikan tinggi, dan fraksi pemende-
kan ventrikel kiri (337% vs 387%; p <
0.001) dan fraksi ejeksi (6911% vs 757%;
p < 0.001) secara signifikan rendah pada kel-
ompok penghambat beta dibandingkan
dengan kontrol.
Tekanan darah sistolik lebih rendah
pada kelompok penghambat beta diband-
ingkan kontrol (11410 vs 9312 mmHg; p
< 0.005). Kemungkinan harapan hidup se-
cara sgnifikan lebih rendah pada kelompok
penghambat beta fase awal dibandingkan
kontrol (88% vs 96%; p = 0.03).
Dapat ditarik kesimpulan pemberian
penghambat beta non selektif pada saat awal
dan jangka panjang dihubungkan dengan
remodeling ventrikel kiri yang jelek, dis-
fungsi sistolik dan penurunan harapan
hidup pada model hewan uji tikus MR
organik.(Circ Heart Fail 2013; 6: 756-62)
SL Purwo
(Efek.................... hal.2)
Prediabetes dan Penurunan Berat Badan

Beri Nilai