Anda di halaman 1dari 13

Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.

1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232


Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
NEW MEDIA DAN MULTIKULTURALISME
Indiwan Seto Wahyu wibowo
Dosen Ilmu Komunikasi
Universitas Multimedia Nusantara
Jl. Boulevard, Gading Serpong Tangerang-Banten
Telepon (021) 5422 0808/082112297660
e-mail: indiwan@umn.ac.id
Abstract:
Kemunculan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI sangat fenomenal bahkan mampu mengalahkan
calon kuat yang didukung partai-partai besar menimbulkan tanda Tanya besar, mengapa sosok
keduanya ini begitu cepat melejit dan mampu meraih simpati rakyat yang banyak. Apakah kehadi-
ran keduanya yang terkenal karena baju kotak-kotaknya ini melulu memang karena kharisma
mantan Walikota Solo itu ataukah karena pengaruh opini public yang dihembuskan oleh media
massa khususnya new media dan social media. Mengapa kemunculan keduanya ini memunculkan
sentiment SARA ( suku,agama dan ras) dan berujung pada gangguan terhadap multikultural-
isme bangsa Indonesia?
Keywords: New Media, Multikulturalisme, Framing Komunikasi, Konstruksi realitas
PENDAHULUAN
Siapa yang tidak tahu Jokowi Ahok?
Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta
yang baru saja dilantik sebagai pejabat baru
menggantikan Fauzie Bowo sebagai orang
nomor satu di Ibukota Jakarta.
Kemunculan keduanya yang sangat
fenomenal bahkan mampu mengalahkan
calon kuat yang didukung partai-partai besar
menimbulkan tanda Tanya besar, me ngapa
sosok keduanya ini begitu cepat melejit dan
mampu meraih simpati rakyat yang banyak.
Apakah kehadiran keduanya yang
terkenal karena baju kotak-kotaknya ini
melulu memang karena kharisma mantan
Walikota Solo itu ataukah karena pengaruh
opini public yang dihembuskan oleh media
massa khususnya new media dan social me-
dia. Mengapa kemunculan keduanya ini me-
munculkan sentiment SARA ( suku,agama
dan ras) dan berujung pada gangguan terha-
dap multikulturalisme bangsa Indonesia?
Paper sederhana ini ingin menguak
bagaimana frame media baru khususnya me-
dia online dalam mengusung fgure Jokowi
Ahok sebagai cermin dari keberagaman
suku bangsa di Indonesia. Ada sejumlah
teks berita yang dijadikan pijakan saat
menganalisis peran dan fungsi social media
dalam mengusung multikulturalisme di In-
donesia khususnya Jakarta.
Makalah ini berawal dari sebuah per-
tanyaan besar. Apakah berita itu merupakan
cermin dari realitas? Apakah berita memang
benar-benar merefeksikan kenyataan yang
ada di tengah masyarakat di Indonesia?
1.2. Pokok Permasalahan
Saat Jokowi Ahok masuk arena pertaru
ngan kandidat Gubernur DKI Jakarta, se-
jumlah pentolan kelompok tertentu di Ja-
karta meragukan bahwa keduanya bisa
menang mengingat dalam sejarah gubernur
DKI Jakarta belum pernah ada Gubernur
atau Wagub DKI Jakarta yang beragama se-
lain agama Islam.
Kasus ini dipicu pada awalnya le-
wat perseteruan antara Rhoma Irama de
ngan Jokowi, hingga menjadi pembicaraan
16
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
hangat di sejumlah media khususnya media
online dan social media seperti twiter dan
facebook. Kasus tersebut semakin terasakan
ketika Jokowi Ahok menang dalam pemili-
han Gubernur DKI Jakarta. Kita lihat berita
di bawah ini:
Rhoma Irama: Kampanye SARA Dibena-
rkan

JAKARTA, KOMPAS.com Raja dan-
gdut Rhoma Irama yang juga merupakan tim
kampanye pasangan calon gubernur Fauzi
Bowo-Nachrowi Ramli menuturkan, kampa-
nye yang mengusung suku, agama, ras, dan
antargolongan (SARA) dibenarkan. Hal ini
disampaikannya saat memberikan ceramah
shalat tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Du-
ren, Jakarta Barat, Minggu, (29/7/2012).
"Di dalam mengampanyekan sesuatu,
SARA itu dibenarkan. Sekarang kita sudah
hidup di zaman keterbukaan dan demokrasi,
masyarakat harus mengetahui siapa calon
pemimpin mereka," kata Rhoma Irama. Rho-
ma pun menyebutkan nama Ketua Dewan
Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jimly As-
shidiqie atas dasar pembenaran penggunaan
isu SARA. "Saya dapat berbicara seperti ini
karena memang dibenarkan Ketua Dewan,
Jimly Asshidiqie," katanya.
Senada dengan ustaz dan pengurus
masjid sebelumnya yang mengajak para ja-
maah untuk memilih yang seiman, Rhoma
Irama juga mengimbau para jamaah untuk
memilih pemimpin yang seiman. "Islam itu
agama yang sempurna, memilih pemimpin
bukan hanya soal politik, melainkan juga iba-
dah. Pilihlah yang seiman dengan mayoritas
masyarakat Jakarta," ujarnya.
Dalam ceramahnya, Fauzi Bowo lebih
banyak mengingatkan tentang berkah di bu-
lan Ramadhan. "Di bulan Ramadhan mari sa-
ling mempererat hablun minannas dan me-
ningkatkan ketakwaan kepada Allah. Bulan
ini merupakan kesempatan emas melaku-
kan ibadah lebih tekun dan khusyuk agar
mendapat bonus Allah," ujar pria yang akrab
disapa Foke ini.
Dalam akhir paparannya, Foke meng-
klaim keberhasilannya dalam membuat sua-
sana kondusif selama memimpin Jakarta.
"Jakarta ini bukan kota yang sederhana. Saya
bersyukur, selama saya memimpin, tidak ada
satu pun masyarakat Jakarta yang memaksa
mereka berhenti melaksanakan aktivitas," tu-
turnya.
Dalam kesempatan tersebut, Foke
memberikan sumbangan kepada anak asuh
PKU yang dikelola Muhammadiyah Tanjung
Duren dan Masjid Al-Isra, bantuan masjid
sebesar Rp 28 juta, Al Quran, alat olahraga,
dan lampu hemat energi. Hadir pula Sekre-
taris Daerah DKI Jakarta, Fajar Pandjaitan,
Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin, dan
petinggi harian Poskota. (Kompas.com/Pen-
ulis : Kurnia Sari Aziza | Senin, 30 Juli 2012 |
09:14 WIB)
Kemudian setelah suasana mereda ,
muncul pula pemberitaan yang mengganggu
multikulturalisme bangsa Indonesia khusus-
17
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
nya yang mulai mempertanyakan keyakinan
seorang kandidat dan mengaitkan dengan
ajaran agama tertentu.
Sebagai contoh dalam pemberitaan Era-
muslim, Okezone.com dan sejumlah media
online yang peneliti lihat. Persoalan utama
yang diangkat dalam makalah singkat ini
adalah bagaimana konstruksi pemberitaan
media online seputar kasus desakan Front
Pembela Islam agar Basuki tidak menjabat
sebagai Wakil Gubernut DKI dan mendesak
lelaki yang lebih dikenal sebagai Ahok itu
masuk Islam.
Di dunia maya, persoalan ini menjadi
menarik karena isu tersebut mendapat per-
hatian dan perlakuan yang tidak sama di
media online. Kalau kita mengetikkan kata
Ahok masuk Islam dalam kotak pencari
www.google.com akan beragam fakta dan
data yang muncul khususnya dalam judul
pemberitaan di media online.
Ada beragam judul berita di media on-
line, mulai dari yang netral seperti Ahok
didoakan masuk Islam, hingga FPI desak
Ahok masuk Islam. Peristiwa yang sama
ternyata dilihat berbeda oleh sejumlah me-
dia Online. Bahkan yang menarik, tak lama
setelah pemberitaan tersebut muncul berita
bahwa FPI Bantah Nyuruh Ahok Masuk
Islam di laman www.okezone.com, pada-
hal sebelumnya di laman yang sama muncul
berita yang menggambarkan bagaimana FPI
mendesak Ahok agar masuk Islam.
Dalam pemberitaannya www.okezone.
com menulis :
Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih,
Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab
disapa Ahok akan menjabat 12 tugas ex of-
fcio atau jabatan yang dipegang oleh Wagub.
Dalam mengisi jabatan tersebut, Ahok akan
berhubungan langsung dengan agama Islam
dalam hal ini kaum muslimin di Jakarta.
Seperti Ketua Badan Pembina Lemba-
ga Bahasa dan Ilmu Alquran, Ketua Dewan
Pembina Lembaga Pengembangan Tilawatil
Quran, Ketua Dewan Perimbangan Badan
Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh, Ketua De-
wan Pembina Badan Pembina Perpustakaan
Masjid Indonesia, Ketua Badan Pembina
Koordinasi Dakwah Islam, Ketua Dewan
Penasehat Dewan Masjid Indonesia, Ketua
Dewan Pembina Jakarta Islamic Center, dan
Ketua Dewan Penasehat Forum Kerukunan
Umat Beragama.
FPI pun dengan lantangnya menye-
but Ahok di luar Islam dan tidak pantas
memimpin 12 tugas yang berkaitan lang-
sung dengan umat Islam. "Ahok tidak bo-
leh mendekati Masjid. Bukan najis secara
fsik, tetapi najis secara hati. Jadi bagaimana
mungkin Wagub DKI yang nonmuslim jadi
penasihat masjid," kata Ketua Dewan Syuro
DPD DKI FPI, Habib Shahab Anggawi, di
depan gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih
Jakarta Pusat, Selasa (9/10/2012).
Dia mengatakan, sangat tidak mung-
kin dan tidak pantas yang mengisi jabatan
tersebut adalah orang nonmuslim. FPI juga
memberikan solusi, yakni Ahok tidak men-
jabat Wagub DKI atau Ahok bersedia masuk
Islam. (Geruduk Kantor DPRD, FPI Desak
Ahok Masuk Islam -Fahmi Firdaus Oke-
zone Selasa, 9 Oktober 2012 12:03 wib)
Pemberitaan sekecil apapun di media
terkait Jokowi dan Ahok sebenarnya selalu
mendapat tanggapan yang menguntungkan
posisi Jokowi Ahok karena ada sekelompok
masyarakat membuat page khusus untuk
mendukung Jokowi Ahok. Bahkan uniknya
dukungan terus mengalir terbukti hingga
tanggal 2 september 2012 ( delapan belas
hari sebelum hari H pemilihan) menembus
jumlah 101.024 anggota.
Grup Facebook berlabel Dukung
JOKOWI-AHOK untuk Gubernur DKI
tersebut adalah media komunikasi paling
aktif yang memberikan informasi seputar
kegiatan Jokowi Ahok yang beredar an-
tar dan inter pendukung mereka sekaligus
diakui menjadi saring penyaring berita bias
yang menyerang Jokowi-Ahok. Dari pemua-
tan informasinya, grup ini merupakan alat
propaganda program dan bisa lebih efektif
mempengaruhi konstituen. Secara jelas Face-
book mereka gunakan untuk menangkal se-
gala bentuk kampanye hitam pihak lain yang
mendiskreditkan fgure Jokowi-Ahok. Yang
unik lagi tak selamanya anggota grup terse-
but adalah pendukung Jokowi, pendukung
Foke-Nara pun diijinkan untuk bergabung.
Ini dimaksudkan agar diskusi menjadi lebih
menarik dan siapapun dapat mengomen-
tarinya tanpa menjatuhkan pihak lawan.
Selain Grup tersebut secara resmi ada
situs resmi Jokowi Basuki untuk Jakarta
Baru yang menjadi sarana utama dan media
formal Tim Sukses demi terciptanya komuni-
kasi politik yang positif dan efektif dari berb-
agai arah.
Upaya pendukung Jokowi memanfaat-
kan social media sangatlah masuk akal kare-
na paling tidak di tahun 2011, ada 41,777,240
18
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
pengguna Facebook di Indonesia (kedua ter-
besar di dunia), 872,461 pengguna linkedin
Indonesia, 5,600,000 pengguna twiter Indo-
nesia, 3,725,258 member Kaskus.
Dari hasil survey terbaru MarkPlus di
tahun 2011 ternyata bahwa pengguna Inter-
net di Indonesia di tahun 2011 mencapai 55
juta orang. Dibanding sekitar 240 juta pen-
duduk Indonesia diperkirakan 23% sudah
tertepa koneksi Internet di kota-kota besar
hanya 4.1% yang berada di area pedesaan.
Dari survey tersebut ternyata 29 juta orang
Indonesia yang mengakses menggunakan
perangkat mobile mencapai 29 juta orang
atau sekitar 50% pengguna Internet di Indo-
nesia untuk berselancar di dunia maya. Un-
tuk memperoleh perkiraan tersebut, Mark-
Plus Insight mengadakan survei terhadap
2161 orang pengguna Internet di sebelas kota
besar. Orang yang disurvei memiliki rentang
usia 15-64 tahun dengan golongan sosial eko-
nomi ABC. Rata-rata dari mereka mengakses
Internet lebih dari 3 jam per hari.
Persoalannya, bagaimana frame dari
media online terhadap kasus Ahok diminta
masuk Islam Makna apa yang coba diang-
kat oleh media online terkait dengan fgure
Jokowi Ahok?
2. Kerangka Pemikiran
2.1 Konstruksi Realitas
Media online tentunya memiliki tujuan
dan kharakteristik tersendiri saat melihat
peristiwa yang mereka anggap penting.
Bahkan bisa dikatakan bahwa setiap media
massa termasuk juga media online seperti
www.kompas.com , www.okezone.com ,
tentunya memiliki perbedaan baik dalam
isi ,penampilan,dasar tujuan dan pengema-
san beritanya terkait peristiwa kemenangan
Jokowi Ahok.
Isu yang diangkat itu terkait bagia-
mana media tersebut mengemas peristiwa
dan melakukan konstruksi atas persitiwa
tersebut. Banyaknya kepentingan yang ber-
beda dari masing-masing media massa baik
ekonomi, politik dan sebagainya bisa juga
menyebabkan adanya perbedaan penekanan
dan framing masing-masing..
Menurut Burhan Bungin dalam sebuah
bukunya, pada dasarnya pekerjaan media
adalah mengkonstruksikan realitas. Realitas
media atau realitas yang ditampilkan dalam
berita dibangun dari sejumlah fakta sedan-
gkan fakta dari suatu realitas itupun tidak
statis, melainkan dinamis yang mungkin
berubah-ubah seiring dengan perubahan
peristiwa itu sendiri. Pada akhirnya menu-
rut Bungin, realitas merupakan konstruksi
sosial yang diciptakan oleh individu. Walau
ada kebenaran di sana namun kebenaran
suatu realitas bersifat nisbi, yang berlaku ses-
uai konteks spesifk yang dinilai relevan oleh
pelaku sosial.(Bungin,2008:11)
Konstruksi sosial dalam masyarakat tak
bisa terlepas dari kekuatan ekonomi dan pe-
rubahan sosial yang terjadi pada masyarakat
tersebut. Kekuatan yang dimaksud adalah
kekuatan media massa terhadap pembaca
atau audiensnya atau yang sering disebut se-
bagai hegemoni massa. Melalui penguasaan
intelektual dan massal hegemoni mencoba
mengatur massa dengan seamnagt kapitalis-
menya sedangkan media dimanfaatkan oleh
sekelompok elit dominan, sehingga penyaji-
annya tidak lagi merefeksikan realitas sosial
yang nyata.
Dengan masuknya unsur kapital,
menurut Alex Sobur, media massa mau ti-
dak mau harus memikirkan pasar, media
bertarung dalam menyajikan beritanya un-
tuk memperoleh keuntungan (revenue) baik
dari oplah penjualan medianya juga mencari
pemasukan sebesar-besarnya dari iklan. Pe-
kerjaan media massa menurut Sobur adalah
menceritakan peristiwa-peristiwa, maka se-
luruh isi media adalah realitas yang telah
dikonstruksikan (constructed reality). Jadi
bisa disimpulkan bahwa content atau isi me-
dia pada hakikatnya adalah hasil konstruksi
realitas dengan bahasa sebagai perangkat
dasarnya. (Sobur,2006:88)
Sobur mengutip Berger dan Luck-
mann saat penjelasan realitas sosial dengan
memisahkan pemahaman antara kenyata-
an dan pengetahuan. Berger melihat
realitas sebagai kualitas yang terdapat di
dalam realitas-realitas, yang diakui memiliki
keberadaan (being) yang tidak bergantung
kepada kehendak kita sendiri. Sementara,
pengetahuan didefnisikan sebagai kepastian
bahwa realitas-realitas itu nyata (real) dan
memiliki kharakteristik secara spesifk.(So-
bur, 2006:91).
2.2 Media dan Berita dilihat dari Paradig-
ma Konstruktivis
Mills sebagaimana dikutip Hard, men-
gajukan pandangan yang pesimistik tentang
media dalam bukunya The Power Elite .Dia
memandang media sebagai pemimpin du-
nia palsu (pseudo world), yang menyajikan
realitas eksternal dan pengalaman internal
19
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
serta penghancuran privasi. Caranya den-
gan menghancurkan peluang untuk pertu-
karan opini yang masuk akal dan tidak terb-
uru-buru serta manusiawi. Itu terjadi karena
media memainkan peran penting dalam
menjalankan kekuasaan, media membantu
menciptakan salah satu problem besar dalam
masyarakat kontemporer, yakni pembang-
kangan atas kekuasaan oleh masyarakat.(
Hard,2007:211-212).
Sedangkan konsep Berita dalam
sudut pandang konstruktivisme dipandang
bukan sebagai sesuatu yang netral dan men-
jadi ruang publik dari berbagai pandangan
yang berseberangan dalam masyarakat. Se-
baliknya menurut Eriyanto, media adalah
ruang dimana kelompok dominan menye-
barkan pengaruhnya dengan meminggirkan
kelompok lain yang tidak dominan.( Eriyan-
to,2002:23).
Menurut Eriyanto ada penilaian
bagaimana media, wartawan dan berita dili-
hat dalam paradigma kontruksionis dalam
bukunya yang berjudul Analisis Framing:
Konstruksi, Ideologi dan Politik Media yakni
: pertama Fakta atau Peristiwa adalah hasil
konstruksi. Fakta merupakan konstruksi atas
realitas. Dan realitas bukanlah sesuatu yang
terberi, seakan-akan ada, realitas sebaliknya
diproduksi. Fakta ada dalam konsepsi piki-
ran seseorang. Kedua, Media adalah agen
konstruksi. Media bukanlah sekedar saluran
yang bebas, ia juga subjek yang mengkon-
struksi realitas, lengkap dengan pandangan,
bias dan pemihakannya. media adalah agen
yang secara aktif menafsirkan realitas untuk
disajikan kepada khalayak.
Ketiga, Berita bukan refeksi dari re-
alitas. Ia hanyalah konstruksi realitas. Berita
adalah hasil dari konstruksi sosial dimana
selalu melibatkan pandangan, ideologi, dan
nilai-nilai dari wartawan atau media. Berita
pada dasarnya adalah hasil dari konstruksi
kerja jurnalistik, bukan kaidah buku jurnalis-
tik. Semua proses konstruksi (mulai dari me-
milih fakta, sumber, pemakaian kata, gam-
bar sampai penyuntingan) memberi andil
bagaimana realitas tersebut hadir di hadapan
khalayak. Keempat, Berita bersifat subjektif /
konstruksi atas realitas. Berita adalah produk
dari konstruksi dan pemaknaan ata realitas.
Pemaknaan atas realitas bisa jadi berbeda
dengan orang lain, yang tentunya menghasil-
kan realitas yang berbeda pula. Kelima
Wartawan bukan pelapor. Ia agen konstruksi
realitas. Wartawan bukan hanya melaporkan
fakta, melainkan juga turut mendefnisikan
peristiwa. Sebagai seorang agen, wartawan
menjalin transaksi dan hubungan dengan
objek yang diliput. Keenam. Etika, pilihan
moral, dan keberpihakan wartawan adalah
bagian yang integral dalam produksi berita.
Etika dan moral yang dalam banyak hal be-
rarti keberpihakan pada suatu kelompok
atau nilai tertentu umumnya dilandasi oleh
keyakinan tertentu adalah bagian integral
dan tidak terpisahkan dalam membentuk
dan mengkonstruksi realitas. Ketujuh, Nilai,
etika dan pilihan moral peneliti menjadi ba-
gian yang integral dalam penelitian. Peneliti
bukanlah robot yang netral dan menilai reali-
tas tersebut apa adanya. Sebaliknya, peneliti
adalah entitas dengan berbagai nilai dan ke-
berpihakan yang berbeda-beda. Karenanya,
bisa jadi objek penelitian yang sama akan
menghasilkan temuan yang berbeda ditan-
gan peneliti yang berbeda. Kedelapan, Kha-
layak mempunyai penafsiran tersendiri ter-
hadap berita. Khalayak menjadi subjek yang
aktif dalam menafsirkan apa yang dibaca..
(Eriyanto,2002:19-36).
Disini penulis akan menelaah isi media
dari paradigma konstruktivis dimana posisi
Media dimiliki oleh kelompok yang dominan
dan dapat memajukan kelompok lain. Posisi
nilai dan ideologi wartawan media yang ti-
dak terpisahkan dari mulai proses peliputan
hingga pelaporan. Lalu hasilnya itu mencer-
minkan ideologi wartawan dan kepentingan
sosial, ekonomi, dan politik tertentu.
2.3 Hakikat Teori Framing

Konsep lain yang digunakan dalam
makalah ini adalah konsep framing. Fram-
ing dipandang sebagai sebuah strategi pe-
nyusunan realitas sedemikian rupa sehingga
dihasilkan sebuah wacana. Pada mulanya
analisis framing dipakai untuk memahami
bagaimana anggota-anggota masyarakat
mengorganisasikan pengalamannya sewak-
tu melakukan interaksi sosial. Menurut Eri-
yanto, dalam sebuah wacana selalu ada fakta
yang ditonjolkan, disembunyikan, bahkan
dihilangkan sampai terbentuk satu urutan
cerita yang mempunyai makana sesuai frame
yang dipilih. Dalam konteks ini relevan dibi-
carakan proses-proses framing media massa.
Dimana dalam penyajian suatu berita atau
realitas dimana kebenaran tentang suatu re-
alitas tidak diingkari secara total, melainkan
dibelokkan secara halus, dengan memberi-
kan sorotan terhdap aspek-aspek tertentu
20
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
saja, dengan mengunakan istilah-istilah yang
punya konotasi tertentu, dan dengan bantu-
an foto, karikatur dan ilustrasi lainya.
Framing merupakan strategi pemben-
tukan dan operasionalisasi wacana media,
karena media massa pada dasarnya adalah
wahana diskusi atau koservasi tentang suatu
masalah yang melibatkan dan memperte-
mukan tiga pihak, yakni wartawan, sumber
berita dan khalayak. Konsep framing dalam
studi media banyak mendapat pengaruh dari
lapangan psikologi dan sosiologi.(Eriyanto,
2001:71)
Eriyanto selanjutnya menyatakan bah-
wa analisis framing adalah salah satu metode
analisis teks yang berada dalam katagori
penelitian konstruksionis. Pendekatan kon-
struksionis melihat proses framing sebagai
proses konstruksi sosial untuk memaknai re-
alitas.
3. Metodologi Penelitian
Secara sederhana, dalam makalah ini
mencoba menganalisis sejumlah berita ter-
kait dengan isu gangguan multikulturalisme
dimana menempatkan Ahok sebagai tokoh
sentral yang menjadi pemberitaan di media
Online. Penelitian ini menggunakan teknik
penelitian analisis framing dengan memin-
jam model kerangka framing Pan dan Kosicki.
Tetapi dari beragam unsur yang ditawarkan
pan Kosjiki, dalam makalah ini penulis han-
ya melihat unsur retoris, dan melakukan se-
dikit modifkasi saat melihat unsur tematik,
dan skrip .
Model ini berasumsi bahwa setiap ber-
ita mempunyai frame yang berfungsi seb-
agai pusat organisasi ide. Frame merupakan
suatu ide yang dihubungkan dengan elemen
yang berbeda dalam teks berita, kutipan
sumber, latar informasi, pemakaian kata atau
kalimat tertentu ke dalam teks secara keselu-
ruhan. Frame berhubungan dengan makna.
Bagaimana seseorang memaknai suatu peris-
tiwa, dapat dilihat dari perangkat tanda yang
dimunculkan dalam teks.
Dalam pendekatan ini perangkat fram-
ing (Eriyanto,2002,176) dibagi menjadi empat
struktur besar. Pertama, struktur sintaksis,
Kedua, struktur skrip, Ketiga, struktur tema-
tik; dan Keempat, struktur retoris.
Dalam pengertian umum; sintaksis
adalah susunan kata atau frase dalam kali-
mat. Dalam wacana berita, sintaksis menun-
juk pada pengertian susunan dari bagian
berita headline, lead, latar informasi, sum-
ber, penutup dalam satu kesatuan teks berita
secara keseluruhan.
Skrip. Bentuk umum dari struktur skrip
ini adalah pola 5 W+1 H (who, what, when,
where, dan how). Unsur kelengkapan beri-
ta ini dapat menjadi penanda framing yang
penting. Skrip adalah salah satu dari strate-
gi wartawan dalam mengkonstruksi berita:
bagaimana suatu peristiwa dipahami melalui
cara tertentu dengan menyusun bagian-ba-
gian dengan urutan tertentu. Tematik. Struk-
tur tematik dapat diamati dari bagaimana
peristiwa itu diungkapkan atau dibuat oleh
wartawan.
Di sini, berarti struktur tematik ber-
hubungan dengan bagaimana fakta itu di-
tulis oleh seorang wartawan. Ada beberapa
elemen yang dapat diamati dari perangkat
tematik, antara lain : Detail. Elemen wacana
detail berhubungan dengan control informasi
yang ditampilkan seseorang (komunikator).
Hal yang menguntungkan komunikator/
pembuat teks akan diuraikan secara detail
dan terperinci, sebaliknya fakta yang tidak
menguntungkan detail informasinya akan
dikurangi. Maksud. Elemen maksud melihat
informasi yang menguntungkan komunika-
tor akan diuraikan secara eksplisit dan jelas,
yakni menyajikan informasi dengan kata-ka-
ta yang tegas dan menunjuk langsung kepada
fakta. Sebaliknya informasi yang merugikan
akan diuraikan secara tersamar, implisit dan
tersembunyi dengan menyajikan informasi
yang memakai kata tersamar, eufemistik dan
berbelit-belit.
Nominalisasi. Elemen nominalisasi
berhubungan dengan pertanyaan apakah
komunikator memandang objek sebagai ses-
uatu yang tunggal (berdiri sendiri) ataukah
sebagai suatu kelompok (komunitas). Nomi-
nalisasi dapat memberi kepada khalayak ad-
anya generalisasi.
Koherensi: pertalian atau jalinan antar
kata, preposisi atau kalimat. Dua buah ka-
limat atau preposisi yang menggambarkan
fakta yang berbeda dapat dihubungkan den-
gan menggunakan koherensi, sehingga fakta
yang tidak berhubungan sekalipun dapat
menjadi berhubungan ketika seseorang men-
ghubungkannya. Bentuk Kalimat. Bentuk
kalimat menentukan makna yang dibentuk
oleh susunan kalimat. Dalam kalimat yang
berstruktur aktif, seseorang menjadi subjek
dari pernyataannya, sedangkan dalam kali-
mat pasif seseorang menjadi objek dari per-
nyataannya. Kata ganti. Elemen kata ganti
merupakan elemen untuk memanipulasi ba-
21
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
hasa dengan menciptakan suatu imajinasi.
Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh
komunikator untuk menunjukkan dimana
posisi seseorang dalam wacana.
Retoris. Struktur retoris dari wacana
berita menggambarkan pilihan gaya atau
kata yang dipilih oleh wartawan untuk
menekankan arti yang ingin ditonjolkan oleh
wartawan. Wartawan menggunakan perang-
kat retoris untuk membuat citra, meningkat-
kan kemenonjolan pada sisi tertentu dan me-
ningkatkan gambaran yang diinginkan dari
suatu berita. Struktur retoris dari wacana ber-
ita juga menunjukkan kecenderungan bahwa
apa yang disampaikan tersebut adalah suatu
kebenaran. (Eriyanto,2011).
3.1 ANALISIS BERITA DAN PEMBAHASAN
Unit Analisis yang diteliti
1. Rhoma Irama: Kampanye SARA Dibenar-
kan. Lead: Raja dangdut Rhoma Irama yang
juga merupakan tim kampanye pasangan
calon gubernur Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli
menuturkan, kampanye yang mengusung
suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)
dibenarkan. Hal ini disampaikannya saat
memberikan ceramah shalat tarawih di Mas-
jid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat,
Minggu, (29/7/2012).
Media : Kompas.com/Penulis Kurnia Sari
Aziza | Senin, 30 Juli 2012 | 09:14 WIB
2.Geruduk Kantor DPRD, FPI Desak Ahok Ma-
suk Islam
JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Ja-
karta terpilih, Basuki Tjahaja Purnama atau
yang akrab disapa Ahok akan menjabat 12
tugas ex ofcioatau jabatan yang dipegang
oleh Wagub. Dalam mengisi jabatan tersebut,
Ahok akan berhubungan langsung dengan
agama Islam dalam hal ini kaum muslimin di
Jakarta Fahmi Firdaus www.Oke-
zone.com, Selasa, 9 Oktober 2012 12:03 wib
2. FPI Minta Pelantikan Jokowi-Basuki Ditun-
da
Lead: JAKARTA, KOMPAS.com Dewan
Pimpinan Daerah Front Pembela Islam DKI
Jakarta mendesak Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta menunda pelantikan gubernur terpil-
ih Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama
(Jokowi-Ahok). Alasannya, FPI meminta pel-
antikan dilakukan setelah SK gubernur ten-
tang jabatan wakil gubernur direvisi terlebih
dahulu
(WWW.Kompas.com/9/10/2012/editor Hertan-
to Soebijoto)
3.2 ANALISIS BERITA 1
Rhoma Irama: Kampanye SARA Dibenarkan
JAKARTA, KOMPAS.com Raja dan-
gdut Rhoma Irama yang juga merupakan tim
kampanye pasangan calon gubernur Fauzi
Bowo-Nachrowi Ramli menuturkan, kampa-
nye yang mengusung suku, agama, ras, dan
antargolongan (SARA) dibenarkan. Hal ini
disampaikannya saat memberikan ceramah
shalat tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Du-
ren, Jakarta Barat, Minggu, (29/7/2012).
"Di dalam mengampanyekan sesuatu,
SARA itu dibenarkan. Sekarang kita sudah
hidup di zaman keterbukaan dan demokrasi,
masyarakat harus mengetahui siapa calon
pemimpin mereka," kata Rhoma Irama.
22
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
Rhoma pun menyebutkan nama Ketua
Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu
Jimly Asshidiqie atas dasar pembenaran
penggunaan isu SARA. "Saya dapat berbi-
cara seperti ini karena memang dibenarkan
Ketua Dewan, Jimly Asshidiqie," katanya.
Senada dengan ustad dan pengurus
masjid sebelumnya yang mengajak para ja-
maah untuk memilih yang seiman, Rhoma
Irama juga mengimbau para jamaah untuk
memilih pemimpin yang seiman. "Islam itu
agama yang sempurna, memilih pemimpin
bukan hanya soal politik, melainkan juga iba-
dah. Pilihlah yang seiman dengan mayoritas
masyarakat Jakarta," ujarnya.
Dalam ceramahnya, Fauzi Bowo lebih
banyak mengingatkan tentang berkah di bu-
lan Ramadhan. "Di bulan Ramadhan mari sa-
ling mempererat hablun minannas dan me-
ningkatkan ketakwaan kepada Allah. Bulan
ini merupakan kesempatan emas melaku-
kan ibadah lebih tekun dan khusyuk agar
mendapat bonus Allah," ujar pria yang akrab
disapa Foke ini.
Dalam akhir paparannya, Foke meng-
klaim keberhasilannya dalam membuat sua-
sana kondusif selama memimpin Jakarta.
"Jakarta ini bukan kota yang sederhana. Saya
bersyukur, selama saya memimpin, tidak ada
satu pun masyarakat Jakarta yang memaksa
mereka berhenti melaksanakan aktivitas," tu-
turnya.
Dalam kesempatan tersebut, Foke
memberikan sumbangan kepada anak asuh
PKU yang dikelola Muhammadiyah Tanjung
Duren dan Masjid Al-Isra, bantuan masjid
sebesar Rp 28 juta, Al Quran, alat olahraga,
dan lampu hemat energi. Hadir pula Sekre-
taris Daerah DKI Jakarta, Fajar Pandjaitan,
Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin, dan
petinggi harian Poskota.
Editor : Hertanto Soebijoto
UNSUR TEMATIK
Tema penting:
1.kampanye yang mengusung suku, agama,
ras, dan antargolongan (SARA) dibenarkan.
Raja dangdut Rhoma Irama yang juga
merupakan tim kampanye pasangan calon
gubernur Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli
menuturkan, kampanye yang mengusung
suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)
dibenarkan. Hal ini disampaikannya saat
memberikan ceramah shalat tarawih di Mas-
jid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat,
Minggu, (29/7/2012). (paragraph 1)
2. Rhoma Irama juga mengimbau para jamaah
untuk memilih pemimpin yang seiman.
Senada dengan ustad dan pengurus
masjid sebelumnya yang mengajak para ja-
maah untuk memilih yang seiman, Rhoma
Irama juga mengimbau para jamaah untuk
memilih pemimpin yang seiman. "Islam itu
agama yang sempurna, memilih pemimpin
bukan hanya soal politik, melainkan juga iba-
dah. Pilihlah yang seiman dengan mayoritas
masyarakat Jakarta," ujarnya.
3. Apa yang disampaikan Rhoma senada Ketua
Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu
Jimly Asshidiqie
Rhoma pun menyebutkan nama Ketua De-
wan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jim-
ly Asshidiqie atas dasar pembenaran peng-
gunaan isu SARA. "Saya dapat berbicara
seperti ini karena memang dibenarkan Ketua
Dewan, Jimly Asshidiqie," katanya.
UNSUR RETORIS.
1. Jargon atau leksikon pembenaran dari Rho-
ma Irama soal boleh kampanye mengangkat
unsur SARA:
"Di dalam mengampanyekan sesuatu, SARA
itu dibenarkan. .. (paragraph 2)
2.leksikon bahwa kita hidup di era keterbu-
kaan dan demokrasi
".Sekarang kita sudah hidup di zaman ket-
erbukaan dan demokrasi, masyarakat harus
mengetahui siapa calon pemimpin mereka,"
kata Rhoma Irama.(paragraph 2)
3.Jargon bahwa Islam itu agama yang sem-
purna maka pilihlah pemimpin yang seiman
dengan mayoritas warga Jakarta
"Islam itu agama yang sempurna, me-
milih pemimpin bukan hanya soal politik,
melainkan juga ibadah. Pilihlah yang sei-
man dengan mayoritas masyarakat Jakarta,"
ujarnya.(paragraph 4)
Analisis dan Pembahasan
Dari sisi tematik dan Retoris, berita ini
menggambarkan adanya upaya kampanye
hitam yang mencoba memecah belah para
calon pemilih berdasarkan isu SARA. Pen-
gangkatan topic soal imbauan Rhoma Irama
yang meminta agar warga muslim memilih
pemimpin yang seiman, merupakan bukti
23
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
nyata adanya upaya menghambat multikul-
turalisme, mengingat di Jakarta memang ter-
diri dari warga yang beragam, tidak hanya
warga muslim saja. Berita ini jelas menohok
dan mencoba melakukan pembenaran aksi
kampanye kelompok Fauzi Bowo dan Nara
untuk mengangkat isu SARA sebagai bagian
dari proses pemenangan mereka.
Rhoma Irama yang dianggap dekat
dengan warga muslim Jakarta bahkan den-
gan tegas mengatakan bahwa kampanye
SARA itu justru dibenarkan oleh Ketua De-
wan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jim-
ly Asshidiqie. Sebagai upaya memperkuat
tindakannya agar tidak dianggap melanggar
aturan kampanye. Paling tidak ada tiga tema
penting dari berita tersebut yaitu pertama
kampanye yang mengusung suku, agama,
ras, dan antargolongan (SARA) dibenarkan.
Kedua Rhoma Irama juga mengimbau para
jamaah untuk memilih pemimpin yang sei-
man dan ketiga apa yang disampaikan Rho-
ma senada Ketua Dewan Kehormatan Peny-
elenggara Pemilu Jimly Asshidiqie.

3.3 Analisis Berita kedua:
Geruduk Kantor DPRD, FPI Desak Ahok
Masuk Islam
Fahmi Firdaus Okezone Selasa, 9 Oktober
2012 12:03 wib Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)
JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Ja-
karta terpilih, Basuki Tjahaja Purnama atau
yang akrab disapa Ahok akan menjabat 12
tugas ex ofcio atau jabatan yang dipegang
oleh Wagub. Dalam mengisi jabatan tersebut,
Ahok akan berhubungan langsung dengan
agama Islam dalam hal ini kaum muslimin di
Jakarta.
Seperti Ketua Badan Pembina Lemba-
ga Bahasa dan Ilmu Alquran, Ketua Dewan
Pembina Lembaga Pengembangan Tilawatil
Quran, Ketua Dewan Perimbangan Badan
Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh, Ketua De-
wan Pembina Badan Pembina Perpustakaan
Masjid Indonesia, Ketua Badan Pembina
Koordinasi Dakwah Islam, Ketua Dewan
Penasehat Dewan Masjid Indonesia, Ketua
Dewan Pembina Jakarta Islamic Center, dan
Ketua Dewan Penasehat Forum Kerukunan
Umat Beragama.
FPI pun dengan lantangnya menyebut
Ahok di luar Islam dan tidak pantas me-
mimpin 12 tugas yang berkaitan langsung
dengan umat Islam.
"Ahok tidak boleh mendekati Masjid.
Bukan najis secara fsik, tetapi najis secara
hati. Jadi bagaimana mungkin Wagub DKI
yang nonmuslim jadi penasihat masjid," kata
Ketua Dewan Syuro DPD DKI FPI, Habib
Shahab Anggawi, di depan gedung DPRD
DKI, Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat, Selasa
(9/10/2012).
Dia mengatakan, sangat tidak mung-
kin dan tidak pantas yang mengisi jabatan
tersebut adalah orang nonmuslim. FPI juga
memberikan solusi, yakni Ahok tidak men-
jabat Wagub DKI atau Ahok bersedia masuk
Islam.
"Kami minta peraturannya diganti, atau
Ahok yang masuk Islam. Kami yakin DPRD
DKI mendengarkan kami, karena mereka
lebih berilmu dibanding kami," tegasnya.
"Dari sebelum Pemilukada, umat Islam
diberitahu untuk tidak memilih pemimpin
yang tak seiman. Ada ayat larangan jadikan
nonmuslim sebagai pemimpin. Bagaimana
orang nonmuslim memimpin masalah zakat?
Tidak mungkin mengurusi Dewan Masjid se-
mentara dia orang nonmuslim. Dekat saja tak
boleh, apalagi mengurusi Islam," cetusnya
lagi.
Dalam melakukan aksinya, massa FPI
juga melantunkan salawat dan berorasi un-
tuk meminta Ahok tidak menjabat sebagai
Wagub DKI.
(put)
Analisis Data
Dari berita diatas akan dianalisis makna dibal-
iknya lewat pencarian unsur tematik dan re-
torisnya
UNSUR TEMATIK
1. FPI pun dengan lantangnya menyebut Ahok
di luar Islam dan tidak pantas memimpin 12
tugas yang berkaitan langsung dengan umat
Islam
..12 tugas ex ofcioatau jabatan yang
dipegang oleh Wagub. Dalam mengisi ja-
batan tersebut, Ahok akan berhubungan
langsung dengan agama Islam dalam hal ini
kaum muslimin di Jakarta.
Seperti Ketua Badan Pembina Lemba-
ga Bahasa dan Ilmu Alquran, Ketua Dewan
Pembina Lembaga Pengembangan Tilawatil
Quran, Ketua Dewan Perimbangan Badan
Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh, Ketua De-
wan Pembina Badan Pembina Perpustakaan
Masjid Indonesia, Ketua Badan Pembina
Koordinasi Dakwah Islam, Ketua Dewan
Penasehat Dewan Masjid Indonesia, Ketua
24
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
Dewan Pembina Jakarta Islamic Center, dan
Ketua Dewan Penasehat Forum Kerukunan
Umat Beragama. (paragraph 1-2)
2..Ahok tidak boleh mendekati Masjid. Bu-
kan najis secara fsik, tetapi najis secara hati.
Jadi bagaimana mungkin Wagub DKI yang
nonmuslim jadi penasihat masjid
"Ahok tidak boleh mendekati Masjid.
Bukan najis secara fsik, tetapi najis secara
hati. Jadi bagaimana mungkin Wagub DKI
yang nonmuslim jadi penasihat masjid," kata
Ketua Dewan Syuro DPD DKI FPI, Habib
Shahab Anggawi, di depan gedung DPRD
DKI, Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat, Selasa
(9/10/2012). (paragraph 4)
3..FPI juga memberikan solusi, yakni per-
aturannya diganti, meminta Ahok tidak men-
jabat Wagub DKI atau Ahok bersedia masuk
Islam.
"Kami minta peraturannya diganti, atau
Ahok yang masuk Islam. Kami yakin DPRD
DKI mendengarkan kami, karena mereka
lebih berilmu dibanding kami," tegasnya.
(paragraph 5)
4..umat Islam diminta memilih pemimpin
seiman. Ada ayat larangan jadikan non mus-
lim sebagai pemimpin
"Dari sebelum Pemilukada, umat Islam di-
beritahu untuk tidak memilih pemimpin sei-
man. Ada ayat larangan jadikan nonmuslim
sebagai pemimpin. Bagaimana orang non-
muslim memimpin masalah zakat? Tidak
mungkin mengurusi Dewan Masjid semen-
tara dia orang nonmuslim. Dekat saja tak bo-
leh, apalagi mengurusi Islam," cetusnya lagi.
(paragraph 2 dari bawah)
1.leksikon/jargon Ahok di luar Islam dan ti-
dak pantas memimpin
FPI pun dengan lantangnya menyebut Ahok
di luar Islam dan tidak pantas memimpin 12
tugas yang berkaitan langsung dengan umat
Islam.
UNSUR RETORIS
1. Bukan najis secara fsik, tetapi najis secara
hati
"Ahok tidak boleh mendekati Masjid. Bukan
najis secara fsik, tetapi najis secara hati. Jadi
bagaimana mungkin Wagub DKI yang non-
muslim jadi penasihat masjid," kata Ketua
Dewan Syuro DPD DKI FPI, Habib Shahab
Anggawi, di depan gedung DPRD DKI, Jalan
Kebon Sirih Jakarta Pusat, Selasa (9/10/2012).
2. DPRD DKI lebih berilmu dibanding kami
"Kami minta peraturannya diganti, atau
Ahok yang masuk Islam. Kami yakin DPRD
DKI mendengarkan kami, karena mereka
lebih berilmu dibanding kami," tegasnya.
3.Ahok sangat tidak mungkin dan tidak pantas
mengisi jabatan tersebut karena dia adalah
orang nonmuslim
Dia mengatakan, sangat tidak mungkin dan
tidak pantas yang mengisi jabatan tersebut
adalah orang nonmuslim. FPI juga memberi-
kan solusi, yakni Ahok tidak menjabat Wagub
DKI atau Ahok bersedia masuk Islam
25
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
PEMBAHASAN
Dari wacana di atas, jelas sekali ada
tema yang sangat mendeskriditkan pasangan
Jokowi Ahok, meski secara formal mereka
berdua sudah memenangi Pilkada DKI dan
berhak atas jabatan tersebut, kelompok FPI
justru mengangkat isu SARA yakni agama
Wakil Gubernur Basuki yang memang non
muslim. Dari unsur tematik, ada sejumlah
tema yang diangkat dalam wacana tersebut
yakni pertama FPI menyebut Ahok di luar
Islam dan tidak pantas memimpin 12 tugas
yang berkaitan langsung dengan umat Islam,
Kedua Ahok tidak boleh mendekati Masjid.
Bukan najis secara fsik, tetapi najis secara
hati. Jadi bagaimana mungkin Wagub DKI
yang nonmuslim jadi penasihat masjid, FPI
juga memberikan solusi, yakni peraturan-
nya diganti, meminta Ahok tidak menjabat
Wagub DKI atau Ahok bersedia masuk Islam
dan tematik keempat umat Islam diminta
memilih pemimpin seiman. Ada ayat laran-
gan jadikan non muslim sebagai pemimpin.
Dari unsur retorisnya, kata-kata yang
menjadi penekanan adalah kata tidak pantas
memimpin, karena Ahok adalah orang di luar
Islam sehingga tidak layak untuk memimpin
sebagai wakil gubernur yang secara ex ofcio
memang mengurus 12 jabatan penting ter-
kait dengan kepentingan masyarakat Islam.
Jabatan-jabatan tersebut adalah di antaranya
Ketua Badan Pembina Lembaga Bahasa dan
Ilmu Alquran, Ketua Dewan Pembina Lem-
baga Pengembangan Tilawatil Quran, Ketua
Dewan Perimbangan Badan Amil Zakat Infaq
dan Shodaqoh, Ketua Dewan Pembina Badan
Pembina Perpustakaan Masjid Indonesia,
Ketua Badan Pembina Koordinasi Dakwah
Islam, Ketua Dewan Penasehat Dewan Mas-
jid Indonesia, Ketua Dewan Pembina Jakarta
Islamic Center, dan Ketua Dewan Penasehat
Forum Kerukunan Umat Beragama.Wacana
yang paling menohok adalah desakan kelom-
pok itu agar peraturan terkait soal jabatan
ex-ofcio itu dihapus atau alternative lain
adalah mendesak agar AHok masuk Islam.
Agak aneh sebenarnya permintaan mereka
mengingat beragama adalah hak pribadi dan
dijamin oleh undang-undang. Permintaan ini
sangatlah berlebihan dan sangat menying-
gung rasa hak asasi manusia dan merupakan
gangguan nyata dari multikulturalisme.
3.3 Analisis Berita ketiga
FPI Minta Pelantikan Jokowi-Basuki Ditunda
JAKARTA, KOMPAS.com Dewan
Pimpinan Daerah Front Pembela Islam DKI
Jakarta mendesak Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta menunda pelantikan gubernur terpil-
ih Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama
(Jokowi-Ahok). Alasannya, FPI meminta pel-
antikan dilakukan setelah SK gubernur ten-
tang jabatan wakil gubernur direvisi terlebih
dahulu.
"Ini bukan politik. Kami hanya me-
minta pelantikan ditunda sampai SK itu di-
revisi," kata juru bicara DPD FPI DKI Jakarta,
Jafar Shidiq, di depan Gedung DPRD DKI Ja-
karta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa
(9/10/2012).
Jafar mengatakan, sebelumnya dia be-
berapa kali telah meminta waktu berdialog
dengan anggota DPRD DKI Jakarta terkait
permasalahan ini. Akan tetapi, permintaan
dialog tak pernah direalisasi sampai berakh-
irnya masa pemilihan kepala daerah. Isi SK
Gubernur DKI Jakarta yang dipermasalah-
kan oleh DPD FPI DKI Jakarta adalah men-
genai aturan yang menyatakan bahwa Wakil
Gubernur DKI Jakarta akan membawahi be-
berapa lembaga keislaman. FPI menilai, tak
mungkin wakil gubernur terpilih saat ini,
Ahok, dapat menjalankan tugasnya dengan
maksimal. Mengingat yang bersangkutan
merupakan pemeluk agama di luar agama
Islam.
" Kami sudah minta waktu dialog, tetapi
tak pernah ditanggapi. Akhirnya sekarang
terpaksa berdemo. Ini bukan SARA, kami
hanya beranggapan sebaiknya SK tersebut
direvisi dahulu karena lembaga itu harus
dipimpin oleh orang yang beragama Islam,"
katanya.
Diberitakan sebelumnya, ratusan ang-
gota Front Pembela Islam menggeruduk Ge-
dung DPRD DKI Jakarta untuk mendesak
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merevisi SK
gubernur tentang jabatan wakil gubernur di
beberapa lembaga.
Untuk diketahui, sedikitnya ada 12
tugas yang secara ex ofcio dalam jabatan
wakil gubernur DKI Jakarta. Di antara tugas
dan jabatan ex ofcio wakil gubernur terse-
but terdapat beberapa jabatan yang langsung
terkait dengan urusan umat Islam. Jabatan
itu di antaranya adalah Ketua Badan Lemba-
ga Bahasa dan Ilmu Al Quran, Ketua Dewan
Pembina Lembaga Pengembangan Tilawa-
til Quran, Ketua Dewan Pertimbangan Amil
Zakat Infaq dan Shadaqoh (Bazis), Ketua
Dewan Pembina Badan Perpustakaan Masjid
26
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
Indonesia, Ketua Dewan Penasihat Dewan
Masjid Indonesia, dan Ketua Dewan Penasi-
hat Forum Kerukunan Umat Beragama.
Sampai berita ini diturunkan, bela-
san anggota DPD FPI DKI Jakarta tengah
melakukan mediasi dengan anggota Komisi
A DPRD DKI Jakarta. Suasana lalu lintas di
Jalan Kebon Sirih cukup padat karena aksi
demonstrasi ini menyita perhatian warga
masyarakat yang melintas di lokasi tersebut.
(editor Hertanto Soebijoto)
UNSUR TEMATIK
1.Dewan Pimpinan Daerah Front Pembela
Islam DKI Jakarta mendesak Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta menunda pelantikan
gubernur terpilih Joko Widodo dan Basuki
Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok).
Dewan Pimpinan Daerah Front Pem-
bela Islam DKI Jakarta mendesak
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunda
pelantikan gubernur terpilih Joko Widodo
dan Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok).
Alasannya, FPI meminta pelantikan dilaku-
kan setelah SK gubernur tentang jabatan
wakil gubernur direvisi terlebih dahulu.
(paragraph 1)
"Ini bukan politik. Kami hanya me-
minta pelantikan ditunda sampai SK itu di-
revisi," kata juru bicara DPD FPI DKI Jakarta,
Jafar Shidiq, di depan Gedung DPRD DKI Ja-
karta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa
(9/10/2012).(paragraph 2)
2.FPI minta berdialog tapi tak pernah ditang-
gapi DPRD DKI
Jafar mengatakan, sebelumnya dia be-
berapa kali telah meminta waktu berdialog
dengan anggota DPRD DKI Jakarta terkait
permasalahan ini. Akan tetapi, permintaan
dialog tak pernah direalisasi sampai bera-
khirnya masa pemilihan kepala daerahggapi
DPRD (paragraph 3)

3.FPI mendesak agar SK Gubernur ditinjau
ulang karena sangat tidak mungkin Ahok
menjalankannya sebagai Wakil Gubernur
Isi SK Gubernur DKI Jakarta yang di-
permasalahkan oleh DPD FPI DKI Jakarta
adalah mengenai aturan yang menyatakan
bahwa Wakil Gubernur DKI Jakarta akan
membawahi beberapa lembaga keislaman.
FPI menilai, tak mungkin wakil gubernur
terpilih saat ini, Ahok, dapat menjalankan
tugasnya dengan maksimal. Mengingat yang
bersangkutan merupakan pemeluk agama di
luar agama Islam.(paragraph 3)
UNSUR RETORIS
Dari wacana tersebut ada sejumlah jar-
gon dan leksikon yang digunakan sebagai
penjelas maksud dari kalimat tersebut
1."Ini bukan politik. Kami hanya meminta
pelantikan ditunda sampai SK itu direvisi
2.pemeluk agama di luar agama Islam
3.Ini bukan SARA, kami hanya beranggapan
sebaiknya SK tersebut direvisi dahulu karena
lembaga itu harus dipimpin oleh orang yang
beragama Islam
Analisis dan Pembahasan
Dari sisi tematik, ada sejumlah pokok
pikiran pertama Dewan Pimpinan Daerah
Front Pembela Islam DKI Jakarta mendesak
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunda
pelantikan gubernur terpilih Joko Widodo
dan Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok),
kedua FPI minta berdialog tapi tak pernah
ditanggapi DPRD DKI, FPI mendesak agar
SK Gubernur ditinjau ulang karena sangat
tidak mungkin Ahok menjalankannya se
bagai Wakil gubernur.Jelas sekali bahwa le-
wat wacana ini digambarkan bahwa kelom-
pok garis keras Islam, yakni Front Pembela
Islam mencoba mendesak agar pelantikan
Gubernur DKI ditunda, karena hanya alas an
yang sepele. Padahal. Sebagai gubernur dan
wakil gubernur yang dipilih rakyat Jakarta,
tentunya sudah secara sah untuk dilantik.
Soal Ahok yang memang non muslim sejak
awal diketahui oleh para calon pemilihnya di
Jakarta, sehingga tidak ada alasan yang kuat
untuk menolak acara pelantikan gubernur
yang memang sudah direncanakan sebelum-
nya.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari sejumlah berita online yang dia-
nalisis ternyata jelas sekali ada wacana anti
multikulturalisme di tengah pilkada DKI Ja-
karta. Upaya mengganggu kenyamanan be-
ragama ini mencuat karena Jokowi dan Ahok
justru menang setelah mengalahkan Fauzie
Bowo-Nara.
Lewat strategi Framing banyak ditemu-
kan wacana pemberitaan sebagai hasil dari
konstruksi realitas yang ada. Framing meru-
pakan strategi pembentukan dan operasion-
alisasi wacana media, karena media massa
27
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
pada dasarnya adalah wahana diskusi atau
koservasi tentang suatu masalah yang meli-
batkan dan mempertemukan tiga pihak, yak-
ni wartawan, sumber berita dan khalayak.
Analisis framing adalah salah satu metode
analisis teks yang berada dalam katagori
penelitian konstruksionis. Pendekatan kon-
struksionis melihat proses framing sebagai
proses konstruksi sosial untuk memaknai re-
alitas
Lewat framing pan Kosjiki dapat dis-
impulkan bahwa media online yang diteliti
justru menampatkan persoalan anti multi-
kulturalisme yang peka untuk menunjuk-
kan adanya upaya menggoyang integritas
Jokowi-Ahok. Justru dengan cara seperti
itu, muncul dukungan terhadap keduanya
dan justru merupakan kampanye positif buat
Jokowi Ahok.
Dari sisi tematik memang ditemukan
isu anti multikulturalisme yang menempat-
kan posisi Ahok yang non muslim sebagai
fgure yang dianggap tidak layak dan tidak
pantas memimpin DKI Jakarta. Bahkan wa-
cana yang coba digulirkan lewat media terse-
but adalah isu agama masih menjadi syarat
mutlak dalam proses pemilihan gubernur,
bahkan bisa ditarik kedepannya menjadi isu
yang hangat nanti menjelang Pemilu 2014.
Media memang tidak pernah bisa ne-
tral, tetapi sebenarnya media bisa juga ber-
peran sebagai pemberi informasi yang bisa
memenuhi kebutuhan public untuk mem-
peroleh realitas yang sungguh mencermin
kan keadaan sesungguhnya.
DAFTAR BACAAN
Berger, Peter & Thomas,1967 The Social Con-
struction of Reality: A Treatise in the
Sociological of Knowledge.NY, A Double
Day Anchor Book
Bungin, Burhan,2008 Konstruksi Sosial Media
Massa Realitas Sosial Media, Iklan
Televisi & Keputusan Konsumen Serta
Kritik Terhadap Peter L. Berger &
Thomas Luckman , Prenada Media
Denzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln,
eds., 1994, Handbook of Qualitative Re-
search, Thousand Oaks, CA: Sage
Eriyanto, 2002, Analisis Wacana: Pengantar
Analisis Teks Media, LKiS, Jakarta
Hamad, Ibnu 2004,Konstruksi Realitas Politik
dalam Media Massa : Sebuah studi
Critical Discourse Analysis Terhadap
Berita-berita Politik, Jakarta:Granit
Hardt, Hanno, 2007, Myths for the Masses: An
Essay on Mass Communication,
Wiley-Blackwell
Sobur, Alex, 2003, Semiotika Komunikasi,
Bandung
Sobur, Alex, Analisis Teks Media
Sugiyono. 2005, Memahami Penelitian Kualita-
tif. Bandung ; CV Alfabeta
28

Anda mungkin juga menyukai