Anda di halaman 1dari 4

1

Tugas Ilmu Kedokteran Forensik


RSUD ULIN FK UNLAM

Oleh :
Devita Wijayanti (I1A010033)
Dita Nidya Kartika (I1A010057)
Miranty Rahmi Aprilia (I1A010071)

Pertanyaan:
1. Mekanisme fraktur os hyoid dan jenis kasus yang dapat menyebabkan patahnya os hyoid
2. Jelaskan mekanisme keluarnya sperma dan kotoran saat kekurangan
oksigen/asfiksia/hipoksia.

Jawaban:
Fraktur Os Hyoid

Os hyoid atau yang lebih dikenal dengan tulang pangkal lidah memiliki bentuk U atau
seperti sepatu kuda yang terletak pada anterior leher. Tulang ini merupakan satu-satunya tulang
yang tidak terartikulasi ke tulang lainnya. Tulang ini tersuspensi dari ujung dari prosesus
2

stiloideus dari os temporal oleh ligamentum stiloideus. Fungsinya adalah untuk membantu
produksi bicara manusia, untuk memperluas cakupan lidah dan laring, dan untuk sistem
biodinamik hyoid yang berguna untuk meregulasi mastikasi, deglutisi, dan fonasi.
Fraktur atau patahnya os hyoid bisa terjadi pada berbagai kasus. Pada masa lampau,
patahnya os hyoid lebih dikorelasikan dengan strangulasi dan penggantungan. Namun, sekarang
lebih banyak terjadi pada keadaan kecelakaan lalu lintas yang semakin meningkat seiring
meningkatnya jumlah kendaraan dan pemakaiannya.
Fraktur os hyoid pada strangulasi atau pencekikan terjadi pada 1/3 kasus pembunuhan
karena pencekikan, fraktur yang terjadi adalah rata-rata 14% dari kartilago tiroidea dan krikoid.
Jika terdeteksi fraktur hyoid, perlu dicurigai kematian karena strangulasi. Namun, jika kurang
fraktur os hyoidnya, hal ini tidak bisa mengesampingkan strangulasi sebagai penyebab kematian
karena bisa saja os hyoid tidak patah jika daya pada saat strangulasi kurang begitu kuat.
Fraktur atau tidak frakturnya os hyoid tergantung pada: umur, magnitudo daya, keadaan
alamiah korban, dan instrumen yang digunakan (entah tangan atau alat penjerat seperti benang).
Fraktur hyoid umumnya terjadi pada korban yang lebih tua (39+/- 14 tahun). Sementara korban
yang lebih muda lebih cenderung tidak mengalami fraktur os hyoid (30_/- 10 tahun. Hal ini
berhubungan dengan derajat osifikasi dan fusi dari sinkondrosis. Insidensi fraktir os hyoid adalah
0,002% dari keseluruhan fraktur. Bisa terjadi pada umur 15-55 tahun, dan terbanyak pada umur
kurang dari 35 tahun. Lebih banyak terjadi pada lelaki dari pada perempuan. Hal ini jarang
terjadi karena: (1) Os hyoid diproteksi dengan baik oleh mandibula, (2) bisa bergerak ke semua
arah. Fraktur os hyoid lebih jarang lagi terjadi pada anak-anak karena: os hyoid belum secara
sempurna terosifikasi, dan masih fleksibel sehingga mengurangi rigiditas.
3

Penyebab fraktur os hyoid dapat merupakan kasus:
1. Kecelakaan lalu lintas
2. Pencekikan
3. Gantung diri
4. Luka karena pisau (benda tajam) atau peluru
5. Cedera saat olahraga (contoh: saat bermain basket, hoki, dan bela diri)
6. Cedera karena terjatuh atau dijatuhkan
7. Iatrogenik (contoh: setelah operasi spina C atau resusitasi)

Mekanisme yang terjadi adalah karena benda tumpul atau hiperekstensi. Patofisologi yang terjadi
adalah:
Daya --> hiperekstensi --> os hyoid terekspos (terbuka dan tidak terlindungi oleh os
mandibula dan otot-otot sekitar) --> otot-otot yang menempel ke os hyoid tertekan -->
mobilitas os hyoid berkurang & lebih bisa untuk mengabsorbsi daya dari luar --> lebih
beresiko untuk trauma karena kekerasan tumpul atau tajam
Manifestasi klinis yang primer muncul adalah sakit leher bagian depan dengan rasa
menusuk yang diperparah proses berbicara, meniup hidung, batuk, dan menelan. Disfagia yang
berhubungan dengan fraktur os hyoid lebih parah saat menelan benda padat daripada benda cair.
Perubahan kualitas vokal seperti frekuensi yang merendah dan suara parau juga dilaporkan
seiring dispnea, stridor, dan krepitus pada leher. Pada situasi di mana ujung tajam dari os hyoid
menyebabkan laserasi laringeal dan kerusakan otot prevertebral, gejala seperti hemoptitis,
emfisema subkutan, dan ekimosis bisa terjadi. Mungkin ada rasa sakit dari leher bagian depan
4

dan hyoid dengan sakit delama pergerakan servikal. Fraktur os hyoid sering diasosiasikan
dengan: fraktur os hyoid yang terisolasi, fraktur mandibula, fraktur os fasialis, cedera spina C,
fraktur tiroid, laserasi fasial, pseudoaneurisme arteri karotis, fraktur kartilago tiroidea.
Diagnosis biasanya dibuat dari gejala yang ditemukan, bersama radiografi, CT scan,
laringoskopi direk, nosendoskopi, atau inspeksi surgikal. Radiografi biasanya diambil secara
lateral dan harus mengungkapkan garis radiolusen, interupsi dari korteks atau displasia fragmen
untuk mendiagnosa fraktur os hyoid. Fraktur terutama terlihat pada badan atau kornu mayus os
hyoid. Penanganan fraktur os hyoid adalah observasi selama 48-72 jam karena pasien
asimtomatik bisa secara cepat berubah menjadi hemoptisis, edema, ekimosis, dan spasme yang
bisa membahayakan nyawa dan memerlukan trakeostomi serta drainasi. Terapi yang diberi
tergantung dari adanya perforasi faring atau laring. Makanan dirubah menjadi cairan sampai
disfagia menghilang, atau bisa juga diberikan selang pemberi makanan. Es dan analgesik bisa
diberikan untuk mengontrol ekimosis dan rasa sakit. Jika ada perforasi faring, fragmen os hyoid
bisa dipindahkan atau disutura kembali melalui cara operasi.