Anda di halaman 1dari 14

Jurnal Ultima Comm Vol.

5, Nomor 1/ Mei-Juli 2014


CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK
( ANALISIS PEMBERITAAN KISRUH WISMA ATLIT DI MEDIA INDONESIA)
Yoyoh Hereyah
dosen komunikasi Universitas Mercubuana Jakarta
Jl.Meruya Selatan No.01 Kembangan Jakarta Barat
Telepon (021) 5840816
e-mail: yoyohwibowo@yahoo.com
Abstract:
Antonio Gramsci melihat media sebagai ruang dimana berbagai ideologi direpresentasikan. Ini
berarti, di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi dan
kontrol atas wacana publik. Namun disisi lain media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap
kekuasan. Dalam penelitian ini, yang hendak diangkat adalah seputar kisruh di balik skandal wis-
ma Atlit yang mencemari nama baik partai democrat meski sejumlah pihak mengkaitkan dengan
scenario pemilu 2014. Realitas media yang ditampilkan dalam kasus yang menjerat sejumlah pet-
inggi partai Demokrat sangat menarik untuk dikupas, khususnya menggunakan analisis framing.
Keywords: Framing, Komunikasi politik, media massa, Partai Demokrat
PENDAHULUAN

Saat ini, salah satu ciri masyarakat
modern ditandai dengan ketergantungan mem-
peroleh dan menggunakan media komunikasi.
Selain dapat memberikan informasi yang dibu-
tuhkan masyarakat, keberadaan media massa
dapat menyembuhkan hati yang terluka dan
melupakan kesulitan-
Media sesungguhnya berada di tengah
realitas sosial yang sarat dengan kepentingan,
konfik, dan fakta yang kompleks dan beragam.
Realitas adalah hasil dari ciptaan manusia kre-
atif melalui kekuatan konstruksi sosial terhadap
dunia sekelilingnya.
Dunia sosial itu dimaksud sebagaimana
yang disebut oleh George Simmel, bahwa reali
as dunia sosial itu berdiri sendiri di luar indi-
vidu, yang menurut kesannya bahwa realitas
itu ada dalam diri sendiri dan hukum yang
menguasainya (Bungin,2008:12)
Realitas atau kenyataan sosial (social
reality) adalah realitas sosial suatu masyara-
kat yang sedang melaksanakan berbagai penye-
suaian modernitas sebagai konsekuensi keputu-
san untuk menjadi suatu negara kebangsaan.
Dalam penyiapan materi konstruksi, media
massa memposisikan diri pada tiga hal antara
lain
Pertama, keberpihakan media massa ke-
pada kapitalisme. Dalam arti media massa di-
gunakan oleh kekuatan-kekuatan kapital untuk
menjadikan media massa sebagai mesin pencip-
taan uang dan pelipatgandaan modal.
Kedua, keberpihakan semu kepada ma-
syarakat. Dalam bentuk simpati, empati dan
berbagai partisipasi kepada masyarakat, namun
ujung-ujungnya adalah juga untuk menjual
berita dan menaikkan rating untuk kepentin-
70
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
gan kapitalis.
Ketiga, Keberpihakan kepada kepent-
ingan umum. Bentuk ini merupakan arti ses-
ungguhnya yaitu visi setiap media massa, na-
mun akhir-akhir ini visi tersebut tidak pernah
menunjukkan jati dirinya, namun slogan-slo-
gan tentang visi ini tetap terdengar. (Ibid.196-
197)
Antonio Gramsci melihat media sebagai
ruang dimana berbagai ideologi direpresentasi-
kan. Ini berarti, di satu sisi media bisa menjadi
sarana penyebaran ideologi penguasa, alat le-
gitimasi dan kontrol atas wacana publik.

Namun disisi lain media juga bisa men-
jadi alat resistensi terhadap kekuasan. (So-
bur,2006:30) .Dalam penelitian ini, yang hen-
dak diangkat adalah seputar kisruh di balik
skandal wisma Atlit yang mencemari nama baik
partai democrat meski sejumlah pihak meng-
kaitkan dengan scenario pemilu 2014. Reali-
tas media yang ditampilkan dalam kasus yang
menjerat sejumlah petinggi partai Demokrat
sangat menarik untuk dikupas, khususnya
menggunakan analisis framing.
1,1 Fokus Masalah
Dalam penelitian deskriptif kualita-
tif ini masalah dibatasi dengan mengetahui
bagaimana pemberitaan seputar penangkapan
eks bendahara Partai Demokrat dan kisruh di
balik pembangunan wisma Atlit yang melibat-
kan sejumlah petinggi partai Demokrat. pada
Surat Kabar Media Indonesia. Penulis akan
menganalisis wacana pada berita yang dimuat
pada Surat Kabar Media Indonesia dengan
analisis framing Pan Kosjiki.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan kronologi pemberitaan yang
telah diuraikan, maka dapat dirumuskan ma-
salah dari penelitian ini adalah :
a.Bagaimana Surat Kabar Media Indonesia
mengkonstruksikan berita-berita seputar kasus
wisma Atlit yang melibatkan petinggi-petinggi
Partai Demokrat?
b.Bagaimana framing media dibalik pemberi-
taan kasus tersebut dikaitkan dengan citra par-
tai demokrat , karena Media Indonesia sebagai
media yang dimiliki Suryo Palloh yang memi-
liki ideology sendiri.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin penulis capai dari penelitian
ini adalah untuk :
a. Mengetahui bagaimana Surat Kabar Me-
dia Indonesia mengkonstruksikan pemberi-
taan bagaimana Surat Kabar Media Indonesia
mengkonstruksikan berita-berita seputar kasus
wisma Atlit yang melibatkan petinggi-petinggi
Partai Demokrat?
1.4 Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Adapun manfaat teoritis dari penelitian deskrip-
tif kualitatif ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi terhadap pengaplikasian teori jur-
nalistik mengenai framing dan pembingkaian
serta kosntruksi realitas sosial secara umum
diintergrasikan pada perubahan sosial..
b. Manfaat Praktis
Sedangkan manfaat praktis dari penelitian
ini diharapkan dapat memberikan masukkan,
umumnya bagi Surat Kabar Media Indonesia
dalam setiap pemberitaannya.
KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Konstruksi Realitas
Setiap media massa memiliki karakter dan latar
belakang tersendiri, baik dalam isi dan penge-
masan beritanya, maupun tampilan serta tu-
juan dasarnya. Perbedaan ini dilatarbelakangi
oleh kepentingan yang berbeda dari masing-
masing media massa. Baik yang bermotif poli-
tik, ekonomi, agama dan sebagainya.
Pekerjaan media pada hakikatnya adalah
mengkonstruksikan realitas. Realitas dalam
71
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
berita dibangun oleh adanya sejumlah fakta.
Fakta dari suatu realitas itupun tidak selalu
statis, melainkan memiliki dinamika yang
mungkin berubah seiring dengan perubahan
peristiwa itu sendiri. Dalam penjelasan ontolo-
gi paradigma konstruktivis, realitas merupakan
konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu.
Namun kebenaran suatu realitas bersifat nisbi,
yang berlaku sesuai konteks spesifk yang dini-
lai relevan oleh pelaku sosial.(Bungin,2008:11)
Istilah konstruksi realitas menjadi terke-
nal sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan
Thomas Luckmann (1966) melalui bukunya
The Social Construction of Reality: A Treatise
in the Sociological of Knowledge. Dimana buku
tersebut mereka menggambarkan proses sosial
melalui tindakan dan interaksinya, dimana in-
dividu secara intens menciptakan suatu realitas
yang dimiliki dan dialami bersama secara sub-
jektif.(Ibid.13)
Konstruksi sosial dalam masyarakat tak
bisa terlepas dari kekuatan ekonomi dan peruba-
han sosial yang terjadi pada masyarakat terse-
but. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan
media terhadap pemirsa atau hegemoni massa.
Kekuatan hegemoni adalah kekuatan
kapitalis yang menguasai individu melalui pen-
guasaan intelektual dan massal. Media diman-
faatkan kelompok elit dominan, sehingga pe-
nyajian berita tidak lagi mencerminkan refeksi
dari realitas sosial.
Kedudukan media ataupun peneliti ti-
dak independen, namun dikuasai oleh banyak
kepentingan kelompok elit dominan sebagai ha-
sil penelitian.
Media menampilkan cara-cara dalam
memandang suatu realitas, karena media dikua-
sai oleh unsur kepentingan ideologi kelompok
dominan yang berkuasa, yang pada akhirnya
hasil pemberitaan atas kenyataan atau realitas
sosial bisa dimanipulasi. Dimana media men-
guasai individu melalui penciptaan kesadaran
palsu, yaitu kesadaran yang diciptakan oleh
media karena masyarakat mengkonsumsi berita
atau informasi yang ditampilkan.
Dengan masuknya unsur kapital, media
massa mau tidak mau harus memikirkan pasar
demi memperoleh keuntungan (revenue) baik
dari penjualan maupun iklan. Pekerjaan media
massa adalah menceritakan peristiwa-peristi-
wa, maka seluruh isi media adalah realitas yang
telah dikonstruksikan (constructed reality). Isi
media pada hakikatnya adalah hasil konstruk-
si realitas dengan bahasa sebagai perangkat
dasarnya. (Sobur,2006:88)
Berger dan Luckmann memulai penjela-
san realitas sosial dengan memisahkan pemaha-
man kenyataan dan pengetahuan. Men-
gartikan realitas sebagai kualitas yang terdapat
di dalam realitas-realitas, yang diakui memiliki
keberadaan (being) yang tidak bergantung ke-
pada kehendak kita sendiri. Sementara, penge-
tahuan didefnisikan sebagai kepastian bahwa
realitas-realitas itu nyata (real) dan memiliki
kharakteristik secara spesifk.(Sobur, 2006:91).
Dalam proses konstruksi realitas, baha-
sa adalah unsur utama. Ia merupakan instru-
men pokok untuk menceritakan realitas. Bahasa
adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Ke-
beradaan bahasa ini tidak lagi sebagai alat se-
mata untuk menggambarkan realitas, melain-
kan bisa menentukan gambaran (makna citra)
mengenai suatu realitas realitas media yang
akan muncul dibenak khalayak.
Lewat konteks pemberitaan, pembaca
dapat menyadari bahwa wartawan kadang
menghidangkan madu dalam menu beritan-
ya, kadang pula dalam berita yang lain menu-
angkan racun. Oleh karena itu media massa
harus memahami dan memaknai realitas yang
ditonjolkan dalam pemberitaan. Dengan pe-
nonjolan atau penekanan realitas tersebut ma-
syarakat dapat dengan mudah mengingat dan
mengerti.
2.2 Media dan Berita dilihat dari Paradig-
ma Konstruktivis

Mills mengajukan pandangan yang
pesimistik tentang media dalam bukunya The
72
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Power Elite dan memandang media sebagai
pemimpin dunia palsu (pseudo world),
yang menyajikan realitas eksternal dan pen-
galaman internal serta penghancuran privasi
dengan cara menghancurkan peluang untuk
pertukaran opini yang masuk akal dan tidak
terburu-buru serta manusiawi. Karena media
memainkan peran penting dalam menjalankan
kekuasaan, media membantu menciptakan salah
satu problem besar dalam masyarakat kontem-
porer, yakni pembangkangan atas kekuasaan
oleh masyarakat.(Hard,2007:211-212).
Berita dipandang bukanlah sesuatu
yang netral dan menjadi ruang publik dari ber-
bagai pandangan yang berseberangan dalam
masyarakat. Sebaliknya media adalah ruang
dimana kelompok dominan menyebarkan pen-
garuhnya dengan meminggirkan kelompok lain
yang tidak dominan.(Eriyanto,2002:23).
realitas.
Wartawan bukanlah robot yang meli-
put apa adanya, apa yang dia lihat. Etika dan
moral yang dalam banyak hal berarti keberpi-
hakan pada suatu kelompok atau nilai tertentu
umumnya dilandasi oleh keyakinan tertentu
adalah bagian integral dan tidak terpisahkan
dalam membentuk dan mengkonstruksi reali-
tas.Khalayak menjadi subjek yang aktif dalam
menafsirkan apa yang dibaca. Dalam bahasa
Stuart Hall, makna dari suatu teks bukan ter-
dapat dalam pesan atau berita yang dibaca oleh
pembaca. Karenanya, setiap orang bisa mempu-
nyai pemaknaan yang berbeda atas teks yang
sama.(Eriyanto,2002:19-36).
Di sini penulis akan meneliti media dan
berita dari paradigma konstruktivis dimana
posisi Media Indonesia dimiliki oleh kelompok
yang dominan dan dapat memajukan kelompok
lain. Posisi nilai dan ideologi wartawan me-
dia yang tidak terpisahkan dari mulai proses
peliputan hingga pelaporan. Lalu hasilnya itu
mencerminkan ideologi wartawan dan kepent-
ingan sosial, ekonomi, dan politik tertentu.
2.3 Wacana dan Ideologi media massa
Indonesia, sebagai salah satu bangsa di
dunia, tentu tak lepas dari terpaan globalisasi
yang berhembus dari dan ke seluruh penjuru
dunia. Terpaan tersebut mencakup dalam pem-
bentukan wacana dalam media massa. Pemben-
tukan wacana merupakan media perjumpaan
sekaligus konsentrasi antara pihak yang domi-
nan dan pihak yang resisten. Pihak dominan
membangun wacana dan hegemonik.
Michael Faucoult (2000) mengemuka-
kan bahwa setiap pembentukan wacana pada
dasarnya merupakan sebentuk pemberlakuan
kekuasaan. Tanpa disadari gagasan dan konsep
yang digulirkan mengandung kuasa.
Maksudnya, gagasan tersebut menjadi
kekuatan yang dapat menaklukkan kesadaran
orang untuk mengikuti gagasan dan konsep
tersebut. Sehingga wacana mampu mengontrol,
mengarahkan dan meminta seseorang untuk
melaksanakan sesuatu yang diinginkan.
Wacana secara ideologi dapat menggusur
gagasan orang atau kelompok tertentu. Karena
yang dihadapi adalah teks sebagai sarana seka-
ligus media melalui mana satu kelompok men-
gunggulkan diri sendiri dan memarjinalkan
kelompok lain.
Eriyanto menempatkan ideologi seb-
agai konsep sentral dalam analisis wacana yang
bersifat kritis. Hal ini menurutnya karena teks
percakapan dan lainnya adalah bentuk dari
praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi
tertentu. Ideologi adalah sebuah rekayasa men-
tal.
Ideologi itu terjadi disebabkan kekuatan
yang membentuk ideologi itu memerlukannya
untuk dapat mempertahankan posisi dan kekua-
tannya. Menurut Magnis Suseno, ideologi
adalah ajaran yang menjelaskan suatu keadaan,
terutama struktur kekuasaan, sedemikian rupa
sehingga orang menganggapnya sah. Ideologi
melayani kepentingan kelas berkuasa karena
memberikan legitimasi kepada suatu keadaan
yang sebenarnya tidak memiliki legitimasi. (So-
bur,2004:243).
Media berperan mendefnisikan
73
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
bagaimana realitas itu dijelaskan dengan cara
tertentu kepada khalayak. Dimana fungsi per-
tama dalam ideologi di media adalah media
sebagai mekanisme integrasi sosial. Media ber-
fungsi menjaga nilai-nilai kelompok dan men-
gontrol bagaimana nilai-nilai kelompok itu di-
jalankan.
Alex sobur mengatakan istilah ideologi
memang mempunyai dua pengertian yang ber-
tolak belakang. Secara positif, ideologi dipersep-
si sebagai suatu pandangan dunia yang men-
gatakan yang menyatakan nilai-nilai kelompok
sosial tertentu untuk membela dan memajukan
kepentingan-kepentingan mereka. Sedangkan
secara negatif, ideologi dilihat sebagai kesadaran
palsu yaitu suatu kebutuhan untuk melakukan
penipuan untuk memutarbalikkan pemahaman
orang mengenai realitas sosial.
2.4 Hakikat Framing
Framing dipandang sebagai sebuah
strategi penyusunan realitas sedemikian rupa
sehingga dihasilkan sebuah wacana. Pada mu-
lanya analisis framing dipakai untuk mema-
hami bagaimana anggota-anggota masyarakat
mengorganisasikan pengalamannya sewaktu
melakukan interaksi sosial. (Poloma, dalam Er-
ving Gofman, 1974,247-248)
Dalam sebuah wacana selalu ada fakta
yang ditonjolkan, disembunyikan, bahkan di-
hilangkan sampai terbentuk satu urutan cerita
yang mempunyai makana sesuai frame yang
dipilih. Dalam konteks ini relevan dibicarakan
proses-proses framing media massa. Dimana
dalam penyajian suatu berita atau realitas di-
mana kebenaran tentang suatu realitas tidak
diingkari secara total, melainkan dibelokkan
secara halus, dengan memberikan sorotan ter-
hdap aspek-aspek tertentu saja, dengan mengu-
nakan istilah-istilah yang punya konotasi ter-
tentu, dan dengan bantuan foto, karikatur dan
ilustrasi lainya.
Konsep framing atau frame sendiri
bukan berasal dari ilmu Komunikasi, melain-
kan konsep yang dipinjam dari ilmu Kognitif.
Alex Sobur dalam bukunya Analisis Teks Me-
dia, menjelaskan dalam perspektif komunikasi,
analisis framing dipakai untuk membedah cara-
cara atau ideologi media saat mengkonstruksi
fakta.(Sobur, 2001, 162).
Frame pada awalnya dimaknai sebagai
struktur konseptual atau perangkat kepercay-
aan yang mengorganisir pandangan politik, ke-
bijakan dan wacana, dan menyediakan kategori-
kategori standar untuk mengapresiasi realitas.
(Sudibyo,2002,219).
Framing merupakan strategi pembentu-
kan dan operasionalisasi wacana media, karena
media massa pada dasarnya adalah wahana dis-
kusi atau koservasi tentang suatu masalah yang
melibatkan dan mempertemukan tiga pihak,
yakni wartawan, sumber berita dan khalayak.
Konsep framing dalam studi media ban-
yak mendapat pengaruh dari lapangan psikolo-
gi dan sosiologi.(Eriyanto, 2001,71). Eriyanto
selanjutnya menjabarkan mengenai kedua hal
yang mempengaruhi tersebut:
Pertama soal Dimensi Psikologis.
Framing sangat berhubungan dengan dimensi
psikologi. Framing adalah upaya atau strategi
yang dilakukan wartawan untuk menekankan
dan membuat pesan menjadi bermakna, lebih
mencolok, dan diperhatikan oleh publik. Upaya
membuat pesan (dalam hal ini teks berita) lebih
menonjol dan mencolok ini, pada taraf paling
awal tidak dapat dilepaskan dari aspek psikolo-
gis.
Secara psikologis, orang cenderung
menyederhanakan realitas dan dunia yang
kompleks itu bukan hanya agar lebih sederha-
na dan dapat dipahami, tetapi juga agar lebih
mempunyai perspektif/dimensi tertentu. Orang
cenderung melihat dunia ini dalam perspektif
tertentu, pesan atau realitas juga cenderung
dilihat dalam kerangka berpikir tertentu. Kare-
nanya, realitas yang sama bisa digambarkan se-
cara berbeda oleh orang yang berbeda, karena
orang mempunyai pandangan atau perspektif
yang berbeda pula (Eriyanto,2001,79-80).
Kedua soal Dimensi Sosiologis. Se-
74
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
lain psikologi, konsep framing juga banyak
mendapat pengaruh dari lapangan sosiologi.
Garis sosiologi ini terutama dapat ditarik dari
Alfred Schut, Erving Gofman hingga Peter L.
Berger.
Pada level sosiologis, frame dilihat teru-
tama untuk menjelaskan bagaimana organisasi
dari ruang berita dan pembuat nerita memben-
tuk secara bersama-sama. Ini menempatkan
media sebagai organisasi yang kompleks yang
menyertakan di dalamnya praktik professional.
Pendekatan semacam ini membedakan pekerja
media sebagai individu sebagai mana dalam
pendekatan psikologis. Melihat berita dan me-
dia seperti ini, berarti menempatkan berita seb-
agai institusi sosial. Berita ditempatkan, dicari,
dan disebarkan lewat praktik professional dalam
organisasi.
Karenanya, hasil dari suatu proses
berita adalah produk dari proses institusional.
Praktik ini menyertakan hubungan dengan
institusi dimana berita itu dilaporkan. Berita
adalah produk dari institusi social, dan melekat
dalam hubungannya dengan institusi lainnya.
Berita adalah produk dari profesionalisme yang
menentukan bagaimana peristiwa setiap hari
dibentuk dan dikonstruksi.
Penelitian ini menggunakan teknik
penelitian analisis framing dengan meminjam
model kerangka framing Pan dan Kosicki. Mod-
el ini berasumsi bahwa setiap berita mempunyai
frame yang berfungsi sebagai pusat organisasi
ide.
Frame merupakan suatu ide yang di-
hubungkan dengan elemen yang berbeda dalam
teks berita, kutipan sumber, latar informasi, pe-
makaian kata atau kalimat tertentu ke dalam
teks secara keseluruhan.
Frame berhubungan dengan makna.
Bagaimana seseorang memaknai suatu peris-
tiwa, dapat dilihat dari perangkat tanda yang
dimunculkan dalam teks.
2.5 Framing Pan dan Kosicki
Dalam pendekatan ini perangkat fram-
ing dibagi menjadi empat struktur besar. Per-
tama, struktur sintaksis, Kedua, struktur skrip,
Ketiga, struktur tematik; dan Keempat, struk-
tur retoris. (Sobur, 2001,176)
Struktur sintaksis bisa diamati dari
bagan berita. Sintaksis berhubungan dengan
bagaimana wartawan menyusun peristiwa
dan pernyataan. Opini, kutipan, pengamatan
atas peristiwa ke dalam bentuk susunan kisah
berita. Dengan demikian, struktur sintaksis ini
bisa diamati dari bagan berita (headline yang
dipilih, lead yang dipakai, latar informasi yang
dijadikan sandaran, sumber yang dikutip; dan
sebagainya).
Struktur skrip melihat bagaimana
strategi bercerita atau bertutur yang dipakai
wartawan dalam mengemas peristiwa. Struktur
tematik berhubungan dengan cara wartawan
mengungkapkan pandangannya atas peristiwa
ke dalam preposisi, kalimat, atau hubungan
antar kalimat yang membentuk teks secara kes-
eluruhan. Struktur ini akan melihat bagaimana
pemahaman itu diwujudkan ke dalam bentuk
yang lebih kecil.
Struktur retoris berhubungan den-
gan cara wartawan menekankan arti tertentu.
Dengan kata lain, struktur retoris melihat pe-
makaian pilihan kata, idiom, grafk, gambar,
yang juga dipakai guna memberi penekanan
pada arti tertentu.
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan pada
skripsi ini adalah metode penelitian kualitaif.
Menurut Sugiyono (2005 : 1) metode kualitatif
adalah metode penelitian yang digunakan un-
tuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah
(sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana
peneliti adalah sebagai instrument kunci, tehnik
pengumpulan data dilakukan secara tringgulasi
(gabungan), analisis bersifat induktif dan hasil
penelitian kualitatif lebih menekankan makna
daripada generalisasi.
75
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
3.2. Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data dilakukan oleh
peneliti sendiri peneliti pada penelitian kuali-
tatif bekerja sebagai perencana, pelaksana pen-
gumpulan data, analisis, penafsir dan pada
akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian
(Moleong, 2000 :121)
3.3 Paradigma Penelitian
Paradigma didefnisikan Guba sebagai ..........a
set of basic beliefs (or metaphysics) that deals
with ultimates or frst principles ......a world
view that defnes, for its holder, the nature of
the world ....., (dalam Denzin dan Lincoln,
1994:107).
Penelitian ini menggunakan paradigma
kritis dalam melihat bagaimana media meng-
konstruksi dan menggambarkan kisruh dibalik
wisma Atlit yang melibatkan petinggi Partai
Demokrat.
3.4. Jenis Penelitian
Dalam melihat konstruksi media menge-
nai citra partai democrat terkait kisruh wisna
Atlit peneliti menggunakan pendekatan pene-
litian kualitatif, yaitu suatu penelitian yang
dimaksudkan untuk memahami realitas yang
diteliti dengan pendekatan menyeluruh, tidak
melakukan pengukuran pada realitas.
Secara umum, makna pendekatan pene-
litian adalah cara pandang peneliti dalam
melihat permasalahan penelitian . Menurut
Denzin dan Lincoln (1994:4), istilah kualitatif
menunjuk pada suatu penekanan pada proses-
proses dan makna-makna yang tidak diuji atau
diukur secara ketat dari segi kuantitas, jumlah,
intensitas ataupun frekuensi.
Penelitian kualitatif memberi penekan-
an pada sifat bentukan sosial realitas, hubungan
akrab antara peneliti dan objek yang diteliti, dan
kendala-kendala situasional yang menyertai
penelitian. Penelitian kualitatif mencari jawa-
ban atas pertanyaan yang menekankan pada
bagaimana pengalaman sosial dibentuk. Suatu
penelitian kualitatif dilandasi oleh beberapa
asumsi dasar tentang realitas sosial, hubungan
peneliti dengan realitas sosial dan cara peneliti
mengungkap realitas sosial tersebut.Peneliti
kualitatif dapat mengungkap kebenaran ten-
tang realitas sosial yaitu dengan menangkap
pandangan subjektif dari orang yang diteliti.
Oleh karenanya, dalam penelitian
kualitatif hubungan antara peneliti dengan ob-
jek yang diteliti adalah hubungan yang setara
(Subjek-Subjek).
3.5. Pemilihan Media
Media yang dipilih dalam penelitian ini
adalah Media Indonesia online. Pemilihan me-
dia ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa
media tersebut memiliki latar belakang visi dan
misi serta ideologi yang berbeda dengan partai
demokrat sehingga menarik untuk diteliti.
3.6. Teknik Analisis Data
Dalam pendekatan ini, perangkat fram-
ing (Eriyanto,2002,176) dibagi menjadi empat
struktur besar. Pertama, struktur sintaksis,
Kedua, struktur skrip, Ketiga, struktur tema-
tik; dan Keempat, struktur retoris.
Struktur sintaksis bisa diamati dari
bagan berita. Sintaksis berhubungan dengan
bagaimana wartawan menyusun peristiwa
dan pernyataan. Opini, kutipan, pengamatan
atas peristiwa ke dalam bentuk susunan kisah
berita. Dengan demikian, struktur sintaksis ini
bisa diamati dari bagan berita (headline yang
dipilih, lead yang dipakai, latar informasi yang
dijadikan sandaran, sumber yang dikutip; dan
sebagainya).
Struktur skrip melihat bagaimana
strategi bercerita atau bertutur yang dipakai
wartawan dalam mengemas peristiwa.
Struktur tematik berhubungan dengan cara
wartawan mengungkapkan pandangannya
atas peristiwa ke dalam preposisi, kalimat, atau
hubungan antar kalimat yang membentuk teks
secara keseluruhan. Struktur ini akan meli-
hat bagaimana pemahaman itu diwujudkan ke
dalam bentuk yang lebih kecil.
76
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Struktur retoris berhubungan den-
gan cara wartawan menekankan arti tertentu.
Dengan kata lain, struktur retoris melihat pe-
makaian pilihan kata, idiom, grafk, gambar,
yang juga dipakai guna memberi penekanan
pada arti tertentu. Sintaksis. Dalam pengertian
umum; sintaksis adalah susunan kata atau frase
dalam kalimat. Dalam wacana berita, sintaksis
menunjuk pada pengertian susunan dari bagian
berita headline, lead, latar informasi, sumber,
penutup dalam satu kesatuan teks berita secara
keseluruhan. Bagian itu tersusun dalam bentuk
yang tetap dan teratur sehingga membentuk
skema yang menjadi pedoman bagaimana fakta
hendak disusun. Bentuk sintaksis yang paling
popular adalah struktur piramida terbalik yang
dimulai dengan judul headline, lead, episode,
latar, dan penutup. Dalam bentuk piramida
terbalik ini, bagian yang atas ditampilkan lebih
penting dibandingkan dengan bagian bawahn-
ya.
Elemen sintaksis memberi petunjuk
yang berguna tentang bagaimana wartawan
memaknai peristiwa dan hendak kemana berita
tersebut akan dibawa.
Headline merupakan aspek sintaksis
dari wacana berita dengan tingkat kemenonjo-
lan yang tinggi yang menunjukkan kecender-
ungan berita.
Skrip. Bentuk umum dari struktur skrip
ini adalah pola 5 W+1 H (who, what, when,
where, dan how). Meskipun pola ini tidak sela-
lu dapat dijumpai dalam setiap berita yang dit-
ampilkan, kategori informasi ini yang diharap-
kan diambil oleh wartawan untuk dilaporkan.
Unsur kelengkapan berita ini dapat menjadi
penanda framing yang penting.
Skrip adalah salah satu dari strate-
gi wartawan dalam mengkonstruksi berita:
bagaimana suatu peristiwa dipahami melalui
cara tertentu dengan menyusun bagian-bagian
dengan urutan tertentu.
Tematik. Struktur tematik dapat diamati
dari bagaimana peristiwa itu diungkapkan atau
dibuat oleh wartawan. Di sini, berarti struktur
tematik berhubungan dengan bagaimana fakta
itu ditulis oleh seorang wartawan. Ada beber-
apa elemen yang dapat diamati dari perangkat
tematik, antara lain :
Detail. Elemen wacana detail berhubun-
gan dengan control informasi yang ditampilkan
seseorang (komunikator). Hal yang mengun-
tungkan komunikator/pembuat teks akan diu-
raikan secara detail dan terperinci, sebaliknya
fakta yang tidak menguntungkan detail infor-
masinya akan dikurangi.
Maksud. Elemen maksud melihat infor-
masi yang menguntungkan komunikator akan
diuraikan secara eksplisit dan jelas, yakni me-
nyajikan informasi dengan kata-kata yang tegas
dan menunjuk langsung kepada fakta. Seba-
liknya informasi yang merugikan akan diurai-
kan secara tersamar, implisit dan tersembunyi
dengan menyajikan informasi yang memakai
kata tersamar, eufemistik dan berbelit-belit.
Nominalisasi. Elemen nominalisasi ber-
hubungan dengan pertanyaan apakah komuni-
kator memandang objek sebagai sesuatu yang
tunggal (berdiri sendiri) ataukah sebagai suatu
kelompok (komunitas). Nominalisasi dapat
memberi kepada khalayak adanya generalisasi.
Koherensi: pertalian atau jalinan antar
kata, preposisi atau kalimat. Dua buah kalimat
atau preposisi yang menggambarkan fakta yang
berbeda dapat dihubungkan dengan menggu-
nakan koherensi, sehingga fakta yang tidak ber-
hubungan sekalipun dapat menjadi berhubun-
gan ketika seseorang menghubungkannya.
Bentuk Kalimat. Bentuk kalimat me-
nentukan makna yang dibentuk oleh susunan
kalimat. Dalam kalimat yang berstruktur ak-
tif, seseorang menjadi subjek dari pernyataan-
nya, sedangkan dalam kalimat pasif seseorang
menjadi objek dari pernyataannya. Termasuk ke
dalam bagian bentuk kalimat ini adalah apakah
berita itu memakai bentuk deduktif atau in-
duktif. Dalam bentuk kalimat deduktif, aspek
kemenonjolan lebih kentara, sementara dalam
bentuk induktif inti dari kalimat ditempatkan
tersamar atau tersembunyi.
77
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Kata ganti. Elemen kata ganti meru-
pakan elemen untuk memanipulasi bahasa den-
gan menciptakan suatu imajinasi. Kata ganti
merupakan alat yang dipakai oleh komunikator
untuk menunjukkan dimana posisi seseorang
dalam wacana.
Retoris. Struktur retoris dari wacana
berita menggambarkan pilihan gaya atau kata
yang dipilih oleh wartawan untuk menekank-
an arti yang ingin ditonjolkan oleh wartawan.
Wartawan menggunakan perangkat retoris un-
tuk membuat citra, meningkatkan kemenonjo-
lan pada sisi tertentu dan meningkatkan gam-
baran yang diinginkan dari suatu berita.
Struktur retoris dari wacana berita
juga menunjukkan kecenderungan bahwa apa
yang disampaikan tersebut adalah suatu ke-
benaran. Ada beberapa elemen struktur retoris
yang dipakai oleh wartawan. Yang paling pent-
ing adalah leksikon, pemilihan dan pemakaian
kata-kata tertentu untuk menandai atau meng-
gambarkan peristiwa. Leksikon, pemilihan dan
pemakaian kata yang dipakai tersebut tidak
dipakai semata-mata hanya karena kebetu-
lan, tetapi juga secara ideologis menunjukkan
bagaimana pemaknaan seseorang terhadap fak-
ta/realitas.
Selain lewat kata, penekanan pesan
dalam berita juga dapat dilakukan dengan
menggunakan unsur grafs. Dalam wacana
berita, grafs ini biasanya muncul lewat bagian
tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan
lain. Elemen grafk memberikan efek kognitif, ia
mengontrol perhatian dan ketertarikan secara
intensif dan menunjukkan apakah suatu infor-
masi itu dianggap penting dan menarik sehing-
ga harus dipusatkan/difokuskan.
Elemen struktur retoris lainnya adalah
pengandaian. Elemen wacana pengandaian
merupakan pernyataan yang digunakan untuk
mendukung makna suatu teks. Pengandaian
adalah upaya mendukung pendapat dengan
memberikan premis yang dipercaya kebenara-
nnya. Pengandaian hadir dengan pernyataan
yang dipandang terpercaya dan karenanya ti-
dak perlu dipertanyakan.
Dalam menyampaikan wacana,
wartawan tidak hanya menyampaikan pesan
pokok lewat teks, tetapi juga kiasan, ungkapan
dan metafora yang dimaksudkan sebagai orna-
ment atau bumbu dari suatu berita. Pemakaian
metafora tertentu juga bisa menjadi petun-
juk utama untuk mengerti makna suatu teks.
Metafora itu menjadi landasan berpikir, alasan
pembenar atau bahkan bahan yang ditekankan
kepada publik, karenanya metafora merupakan
salah satu elemen dalam struktur retoris.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.1. Deskripsi Objek Penelitian :Media Indo-
nesia
Media Indonesia pertama kali diterbit-
kan pada tanggal 19 January 1970. Sebagai
surat kabar umum pada masa itu, Media Indo-
nesia baru bisa terbit 4 halaman dengan tiras
yang amat terbatas. Berkantor di Jl. MT. Hary-
ono, Jakarta, disitulah sejarah panjang Media
Indonesia berawal. Lembaga yang menerbitkan
Media Indonesia adalah Yayasan Warta Indone-
sia.
Tahun 1976, surat kabar ini kemudian
berkembang menjadi 8 halaman. Sementara
itu perkembangan regulasi di bidang pers dan
penerbitan terjadi. Salah satunya adalah pe-
rubahan SIT (Surat Izin Terbit) menjadi SI-
UPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Kare-
na perubahan ini penerbitan dihadapkan pada
realitas bahwa pers tidak semata menanggung
beban idealnya tapi juga harus tumbuh sebagai
badan usaha.
Dengan kesadaran untuk terus maju,
pada tahun 1988 Teuku Yousli Syah selaku
pendiri Media Indonesia bergandeng tangan
dengan Surya Paloh, mantan pimpinan surat
kabar Prioritas. Dengan kerjasama ini, dua
kekuatan bersatu : kekuatan pengalaman ber-
gandeng dengan kekuatan modal dan sema
ngat. Maka pada tahun tersebut lahirlah Me-
dia Indonesia dengan manajemen baru dibawah
78
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
PT. Citra Media Nusa Purnama.
Surya Paloh sebagai Direktur Utama se-
dangkan Teuku Yousli Syah sebagai Pemimpin
Umum, danPemimpin Perusahaan dipegang
oleh Lestary Luhur. Sementara itu, markas u
saha dan redaksi dipindahkan ke Jl. Gondandia
Lama No. 46 Jakarta.
Awal tahun 1995, bertepatan dengan
usianya ke 25 Media Indonesia menempati kan-
tor barunya di Komplek Delta Kedoya, Jl. Pilar
Mas Raya Kav.A-D, Kedoya Selatan, Jakarta
Barat. Di gedung baru ini semua kegiatan di
bawah satu atap, Redaksi, Usaha, Percetakan,
Pusat Dokumentasi, Perpustakaan, Iklan,
Sirkulasi dan Distribusi serta fasilitas penun-
jang karyawan.
Tahun 1997, Djafar H. Assegaf yang
baru menyelesaikan tugasnya sebagai Duta Be-
sar di Vietnam dan sebagai wartawan yang per-
nah memimpin beberapa harian dan majalah,
serta menjabat sebagai Wakil Pemimpin Umum
LKBN Antara, oleh Surya Paloh dipercayai un-
tuk memimpin harian Media Indonesia sebagai
Pemimpin Redaksi. Saat ini Djafar H. Assegaf
dipercaya sebagai Corporate Advisor.
Para pimpinan Media Indonesia saat
ini adalah : Direktur Utama dijabat oleh Les-
tari Moerdijat, Direktur Pemberitaan dijabat
olehUsman Kansong dan di bidang usaha dip-
impin oleh Alexander Stefanus selaku Direktur
Pengembangan Bisnis.
4.2. Hasil Penelitian
Dari sejumlah berita yang dianalisis peneliti
mendapatkan temuan sebagai berikut:
Kamis, 10 2011 16:45 WIB
Kasus Proyek Wisma Atlit
Nazaruddin: Anas Koruptornya
Penulis : Amahl S Azwar
(MI/M Irfan/rj) JAKARTA--MICOM:
Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat
Muhammad Nazaruddin kembali menyerang
bekas koleganya, Ketua Umum Partai De-
mokrat Anas Urbaningrum. Ia menyebut Anas
sebagai koruptor sekaligus otak dalam kasus
suap wisma Atlit.
Memang Anas (Urbaningrum) korup-
tornya, ujar Nazaruddin yang didampingi
kuasa hukumnya, Elza Syarief, usai penyera-
han fsik dirinya sebagai tersangka kasus wisma
Atlit ke penuntutan oleh penyidik Komisi Pem-
berantasan Korupsi, Kamis (10/11).
Nazaruddin sebelumnya mendatangi
KPK sekitar pukul 13:15 WIB untuk menan-
datangani dokumen pelimpahan berkas ke
penuntutan. Menurut mantan anggota DPR
itu, Anas merupakan pihak yang layak menjadi
tersangka baru di kasus suap wisma Atlit.
Saat ditanya mengenai dugaan aliran
dana dari proyek wisma Atlit ke partai-partai
politik, Nazaruddin kembali melempar bola
panas ke Anas Urbaningrum. Menurut dia,
Anas merupakan pihak yang mengomandoi se-
luruh pergerakan di kasus wisma Atlit.
Tanyakan saja ke Pak Anas. Pak Anas
yang tahu. Karena, itu semua dia yang memer-
intahkan, sambung dia.
Meskipun demikian, Nazaruddin me-
milih bungkam saat ditanya mengenai nama-
nama politikus lain yang layak menjadi ter-
sangka.
Seperti diketahui, beberapa nama yang
pernah dipanggil KPK sebagai saksi untuk ka-
sus wisma Atlit adalah anggota DPR I Wayan
Koster (Fraksi PDI-Perjuangan) dan Angelina
Sondakh (Partai Demokrat). Nazaruddin tidak
berkomentar mengenai bekas rekannya di parle-
men itu.
Tanyakan saja ke KPK, tukasnya se-
belum memasuki mobil tahanan. (SZ/OL-10)
79
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Analisis Berita 1.
Judul: NAZARUDDIN :
ANAS KORUPTORNYA
struktur perangkat
framing
unit yang dia-
mati
bukti dalam teks
sintak-
sis
Skemaberita Headline Nazaruddin: Anas Koruptornya
Lead Mantan bendahara Umum Partai Demokrat Muhamad
Nazaruddin kembali menyerang bekas koleganya, Ketua
Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Ia menyebut
Anas sebagai koruptor sekaligus otak dalam kasus suap
wisma Alet
Latar Informasi Ada keterkaitan erat Anas dalam kasus korupsi wisma Atlit
Pengutipan nara-
sumber
Yang dikutip oleh media ini adalah Mantan bendahara Partai
Demokrat, Nazaruddin
Penutup Penutup yang dipakai adalah penutup yang menggantung: Tan-
yakan saja ke KPK, tukasnya sebelum memasuki mobil tahanan
Skrip Kelengkapan
berita
who
What
Where
why
How
Nazaruddin
Menyebut Anas Urbaningrum Koruptor dalam kasusWis-
ma Atlit
di gedung KPK Jakarta
karena Anas merupakan pihak yang mengomandoi seluruh
pergerakan dari kasus wisma Atlit
Media menyebut Nazaruddin seolah hanya melempar bola panas,
yang coba dikaitkan dengan petingi Partai Demokrat
Tematik Detail Elemen wacana
detail berhubun-
gan dengan
kontrol informasi
yang ditampilkan
seseorang (komu-
nikator)
meski melempar bola panas, Media mengambarkan
Nazaruddin tak mau menyebutkan informasi terkait
dengan dugaan pelaku suap di tubuh Partai Demokrat
secara langsung. Bahkan dia meminta pers agar langsung
menanyakan hal tersebut kepada Anas
(paragraf kelima dari atas)
maksud
kalimat
Maksud dari kalimat itu adalah ada keterkaitan kasus
wisma Atlit dengan petinggi Partai Demokrat khususnya
Anas Urbaningrum mengingat posisi Anas sebagai ketua,
adalah menjadi komandan
Nominalisasi Elemen nomina
lisasi berhubungan
dengan pertanyaan
apakah komunikator
memandang objek
sebagai sesuatu yang
tunggal (berdiri
sendiri) ataukah se
bagai suatu kelom-
pok (komunitas).
Ketua Umum Partai Demokrat
koherensi saat ditanya......(paragraf 4 dari atas)
meskipun demikian...(paragraf 6 dari atas)
seperti diketahui....(paragraf 7 )
Bentuk
kalimat
kalimat aktif
....menyerang..(paragraf 1)
....mendatangi KPK (paragraf 3)
....kembali melempar (paragraf 4 )
....memilih bungkam (paragraf 6)
Kalimat Pasif
....saat ditanya (paragraf 4)
....seperti diketahui (paragraf 7)
80
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Retoris Grafs gambar/foto diperkuat dengan foto Nazaruddin yang tengah berbicara
dengan mata serta raut wajah bersemangat
Metafor kata-kata ungkapan sebagai otak...(paragraf 1)
melempar bola panas...
Framing berita 2:
Kamis, 10 2011 17:00 WIB
Kasus Proyek Wisma Atlit
Nazaruddin Serang Anas, Ketua KPK No
Comment
Penulis : Amahl S Azwar

JAKARTA--MICOM: Ketua Komisi Pember-
antasan Korupsi Busyro Muqoddas memilih
untuk tidak berkomentar alias no comment saat
dimintai tanggapan tentang tuduhan terakhir
tersangka kasus wisma Atlit Muhammad Naza-
ruddin.
Sebelumnya diberitakan, mantan ben-
dahara umum Partai Demokrat itu menyebut
Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urban-
ingrum patut menjadi tersangka sebelumnya
pada kasus suap tersebut.
Saya no comment saja, ujar Busyro,
dalam pesan singkat yang diterima Media In-
donesia, Kamis (10/11).
Nazaruddin sebelumnya menuding
Anas sebagai sebagai koruptor sekaligus otak
dalam kasus suap terhadap Sekretaris Kement-
erian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora). Hal
ini diutarakan Nazaruddin setelah penyerahan
fsik dirinya sebagai tersangka kasus wisma
Atlit ke penuntutan oleh penyidik KPK, Kamis
(10/11) hari ini.
Di sela-sela peluncuran bukunya di ge-
dung Komisi Yudisial, Selasa (8/11), Busyro
mengatakan lembaga pemburu koruptor itu
membuka kemungkinan adanya tersangka baru
di dalam kasus suap wisma Atlit.
Saat didesak, mantan ketua Komisi Yudisial
itu mengatakan tersangka berikutnya berasal
dari kalangan kader partai politik.
Seperti diketahui, beberapa nama yang
pernah dipanggil KPK sebagai saksi untuk ka-
sus wisma Atlit adalah anggota DPR I Wayan
Koster (fraksi PDI-Perjuangan) dan Angelina
Sondakh (Partai Demokrat). KPK juga pernah
memanggil politikus Demokrat, Andi Malla-
rangeng yang juga Menteri Pemuda dan Olah-
raga.
Meskipun demikian, Busyro pada Selasa (8/11)
mengatakan belum tentu nama-nama yang per-
nah dipanggil KPK bakal menjadi tersangka
baru kasus wisma Atlit. (SZ/OL-10)
81
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Struktur Perangkat
Framing
Unit yang diamati Bukti dalam teks
SINTAKSIS SKEMA
BERITA
headline KASUS PROYEK WISMA ATLET
NAZARUDDIN SERANG ANAS,KETUA KPK
NO COMMENT
Lead Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro
Muqoddas memilih untuk tidak berkomentar alias no
Comment saat dimintai tanggapan tentang tuduhan
terakhir tersangka kasus Wisma Atlit Muhammad
Nazaruddin.
Latar Informasi Sebelumnya Nazaruddin mengatakan bahwa Anas
adalah koruptor dalam kasus wisma Atlit karena dia
adalah sebagai ketua partai yang mengomandani
semuanya
pengutipan
narasumber
Mengutip Ketua KPK Busyro Muqoddas meski yang
bersangkutan tidak berkomentar alias no comment
Penutup Meskipun demikian, Busyro padaSelasa (8/11)
mengatakan belum tentu nama-nama yang pernah
dipanggil KPK bakal menjadi tersangka baru kasus
Wisma Atlit
SKRIP Kelengkapan
berita
who
what
where
When
why
How
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Busyro
Muqoddas
Tidak berkomentar atas tudingan Nazaruddin soal
keterlibatan Anas dalam kasus korupsi Wisma Atlit
Di gedung Komisi Yudisial Jakarta
Kamis 10/11
tak ada tanggapan
Dia memilih no comment, dalam pesan singkat yang
diterima Media Indonesia, Kamis 10/11
Tematik Detail Tidak ada detail mengingat isu utama dari Media soal
keterlibatan Anas tidak ditanggapi oleh ketua KPK
RETORIS Leksikon Idiom No comment
Tuduhan terakhir
Koruptor sekaligus otak (paragraf 4)
Tersangka baru (paragraf 8)
Metafor Sekaligus otak dalam kasus suap (paragraf 4)
Pemburu koruptor (paragraf 5)


Framing berita :
Media Indonesia membingkai pemberitaan meski Nazaruddin bernyanyi dan menyerang Anas
Urbaningrum Ketua KPK tidak berkomentar.
82
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
4.3. Pembahasan
Dari dua berita yang dianalisis menggunakan
framing Pan Kosciki, jelas terlihat ada upaya
menggiring opini bahwa seharusnya KPK juga
menyentuh Anas Urbaningrum, karena secara
logis sebagai ketua umum Partai Demokrat,
tidak mungkin dia tidak mengetahui apa pun
yang terjadi di partainya.
Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Dari sisi sintaksis dan Skrip, terlihat
jelas pemilihan narasumber, lead dan headline
media Indonesia mengarah pada pencitraan
negative terhadap Anas Urbaningrum sebagai
ketua Umum Partai Demokrat
Framing pertama, Media Indonesia
membingkai persoalan tudingan Nazaruddin
bahwa Anas terlibat dalam kasus korupsi Wis-
ma Atlit, bahkan Anas adalah koruptor karena
dialah pihak yang mengomandoi semua yang
terlibat dalam proyek tersebut.
Framing: Media Indonesia membingkai
pemberitaan meski Nazaruddin bernyanyi dan
menyerang Anas Urbaningrum Ketua KPK ti-
dak berkomentar.
5.2 Saran
Penelitian ini bisa dikembangkan men-
jadi lebih mendalam dengan menggunakan par-
adigm kritis atau menggunakan Teknik Anali-
sis Wacana Kritis, mengingat persoalan ada apa
dibalik pemberitaan macam itu agak suit bila
hanya dilihat dari analisis teks semata.
DAFTAR PUSTAKA
Berger, Peter & Thomas,1967 The Social Con-
struction of Reality: A Treatise in the
Sociological of Knowledge.NY, A Double
Day Anchor Book
Bungin, Burhan,2008 Konstruksi Sosial Media
Massa Realitas Sosial Media, Iklan
Televisi & Keputusan Konsumen Serta
Kritik Terhadap Peter L. Berger &
Thomas Luckman , Prenada Media
Chesney,Robert, (1998) Konglomerasi Media
Massa dan ancaman terhadap
Demokrasi:Aliansi Jurnalis Independen.
Curran, James. (1997). Mass Media and De-
mocracy: A Reappraisal. James Curran
And Michael Gurevitch (ed), Mass
Media and Society. Third Edition.
London: Arnold
Denzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln,
eds., 1994, Handbook of Qualitative Research,
Thousand Oaks, CA: Sage
Eriyanto, 2002, Analisis Wacana: Pengantar
Analisis Teks Media, LKiS, Jakarta

Hamad, Ibnu 2004,Konstruksi Realitas Politik
dalam Media Massa : Sebuah studi
Critical Discourse Analysis Terhadap
Berita-berita Politik, Jakarta:Granit
Hardt, Hanno, 2007, Myths for the Masses: An
Essay on Mass Communication,
Wiley-Blackwell
Hartley,John (1982) Understanding News,
London & New York:
Lexy J Moleong, 2000, Metodelogi Penelitian
Kualitatif, Rosda Karya.
Bandung
Sobur, Alex, 2003, Semiotika Komunikasi,
Bandung
Sobur, Alex, Analisis Teks Media
Sugiyono. 2005, Memahami Penelitian Kuali-
tatif. Bandung ; CV
Alfabeta
83

Anda mungkin juga menyukai