Anda di halaman 1dari 6

GEJALA PRODROMAL

yang trmasuk gejala prodomal adalah:


1. cepat lelah
2. sakit dada ringan
3. sesak nafas ringan
4. nyero ulu hati
http://bidansudarti.blogspot.com/2008/06/gejala-prodromal.html

Sinkop kardiak merupakan penyebab kedua tersering dari sinkop meliputi 10-20 % atau
seperlima dari seluruh kejadian. Sinkop kardiakini akan menyebabkan mortalitas yang lebih
tinggi dibandingkan kasus yang tidak mempunyai dasar kelainan jantung. Pasien dengan sinkop
kardiak ini mempunyai resiko kematian tertinggi dalam 1 sampai 6 bulan. Tingkat mortalitas
pada tahun pertama 18-33 %, dibandingkan dengan sinkop yang bukan disebabkan kelainan
kardiak yaitu 0-12%, bahkan pada sinkop tanpa sebab yang jelas hanya kira-kira 6%.

2.2 Etiologi Sinkop
a) SINKOP KARENA KELAINAN IRAMA JANTUNG
Secara umum sinkop kardiak dapat dibagi atas sinkop kardiak karena kelainan irama jantung dan
sinkop karena kelainan struktural jantung. Sinkop akibat kelainan irama jantung paling sering
disebabkan oleh keadaan takikardia (Ventrikular atau supraventrikular), atau bradiaritmia.
b) SINKOP KARENA KELAINAN STUKTUR JANTUNG
Kelainan struktur jantung yang dapat menyebabkan sinkop termasuk stenosis valvular
(aorta, mitral, pulmonal), disfungsi katup protesa atau trombosis, kardiomiopati hipertropik,
emboli paru, hipertensi pulmonal, tamponade jantung dan anomali dari arteri koroner.

2.3 Patofisiologi
Hilangnya pada setiap jenis sinkop disebabkan oleh penurunan oksigenasi pada bagian-bagian
otak yang merupakan bagian kesadaran. Terdapat penurunan aliran darah, penggunaan oksigen
serebral, resistensi serebrovaskuler yang dapat ditunjukkan. Jika iskemia hanya berakhir
beberapa menit, tidak terdapat efek otak. Iskemia yang lama mengakibatkan nekrosis jaringn
otak pada daerah perbatasan dari perfusi anatara daerah vaskuler dari arteri serebralis mayor.
Pada pasien dengan kelemahan atau sinkop yang ditandai dengan bradikardia, seseorang harus
membedakan yang disebabkan oleh kegagagalan reflex neurologenaik dari seranagn
kardiogenaik (Stokes-adam). EKG bersifat menentukan, tapi meskipun tanpa EKG, seranagn
stokes. Adam dapat diketahui secara klinis dengan durasinya yang lebih lama, dan sifat denyut
jantung lambat yang menetap, adanya bunyi sinkron yang dapat didengar dangan kontraksi atrial,
dengan gelombang kontraksi antrial (A) pada pulsasi vena jugularis, dan dengan berbagai
intensitas bunyi jantung pertama yang nyata walaupun ritme teratur

2.4 Manifestasi Klinis Sinkop
1. adapun tanda dan gejala orang pingsan yaitu:
2. Kesadaran menurun / hilang
3. Muka pucat, kulit basah, keringat dingin, dan gelisah
4. Nafas dangkal, nadi cepat
5. Mengeluh mual, kadang muntah, pusing, haus dan bibir rasa baal
2.5 Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium : leukosit, LED, limfosit, LDH.
2. Elektrokardiografi.
3. Pemeriksaan elektroensefalografi.
4. Ekokardiografi.

Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
1. Penurunan curah jantung b/d adanya Gangguan aliran darah ke otot jantung
Tujuan :
Kriteria hasil :
Intervensi
Rasional
Periksa ABC dan jika diperlukan
bebaskan jalan nafas , dan Pijat
Jantung
Pantau frekuensi nadi, RR, TD secara
teratur

Periksa keadaan jantung klien dg
pemeriksaan EKG

Pucat menunjukkan adanya
penurunan perfusi perifer terhadap
tidak adekuatnya curah jantung.
Sianosis terjadi sebagai akibat adanya
obstruksi aliran darah pada ventrikel.
Ginjal berespon untuk menurunkan
curah jantung dengan menahan
produksi cairan dan natrium.
Kaji perubahan warna kulit terhadap
sianosis dan pucat.

Pantau intake dan output setiap 24
jam.

Batasi aktifitas secara adekuat.


Berikan kondisi psikologis
lingkungan yang tenang.
Mengetahui kepatenan jalan nafas
dan sirkulasi darah
o Memonitor adanya
perubahan sirkulasi jantung
sedini mungkin.
o Mengetahui adanya
perubahan irama jantung.
Istirahat memadai diperlukan untuk
memperbaiki efisiensi kontraksi
jantung dan menurunkan komsumsi
O2 dan kerja berlebihan.
Stres emosi menghasilkan
vasokontriksi yang meningkatkan TD
dan meningkatkan kerja jantung.
2. Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan sirkulasi darah perifer; penghentian aliran arteri-
vena
Tujuan :
Kriteria Hasil :

Intervensi
Rasional
Monitor perubahan tiba-tiba atau
gangguan mental kontinu (camas, bingung,
letargi, pinsan).

Observasi adanya pucat, sianosis, belang,
kulit dingin/lembab, catat kekuatan nadi
Perfusi serebral secara langsung
berhubungan dengan curah jantung,
dipengaruhi oleh elektrolit/variasi asam
basa, hipoksia atau emboli sistemik.
Vasokonstriksi sistemik diakibatkan oleh
penurunan curah jantung mungkin
dibuktikan oleh penurunan perfusi kulit dan
penurunan nadi.
perifer.

Kaji tanda Homan (nyeri pada betis dengan
posisi dorsofleksi), eritema, edema.
Dorong latihan kaki aktif/pasif.



Pantau pernafasan.




Kaji fungsi GI, catat anoreksia, penurunan
bising usus, mual/muntah, distensi
abdomen, konstipasi.

Pantau masukan dan perubahan keluaran
urine.

Indikator adanya trombosis vena dalam.

Menurunkan stasis vena, meningkatkan
aliran balik vena dan menurunkan resiko
tromboplebitis.
Pompa jantung gagal dapat mencetuskan
distres pernafasan. Namun dispnea tiba-
tiba/berlanjut menunjukkan komplikasi
tromboemboli paru.
Penurunan aliran darah ke mesentrika
dapat mengakibatkan disfungsi GI, contoh
kehilangan peristaltik.

Penurunan pemasukan/mual terus-menerus
dapat mengakibatkan penurunan volume
sirkulasi, yang berdampak negatif pada
perfusi dan organ.


3. gangguan perfusi jaringan serebral b.d penurunan aliran oksigen ke serebral
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatn 224 jam klien diharapkan menunjukan perfusi
jaringan yang efektif
Kriteria Hasil : Tekanan darah sistolik dan diastolic stabil
Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan usia dan kemampuan
Intervensi Rasional
Pantau TTV
Posisikan pasien dg posisi syok kaki
diangkat 45 derajat
Pantau tingkat kesadaran

Pantau SpO2

Pantau kesimetrisan dan reaksi pupil
Kolaborasi: untuk melancarkan sirkulasi
otak



Tingkat kesadaran seseorang juga
dipengaruhi oleh perfusi oksigen ke otak
Mencegah terjadinya hipoksia pada otak


3.1. KESIMPULAN
1. Insiden sinkop kardiak lebih kecil dari sinkop vasovagal, tapi angka kematiannya lebih tinggi
dari sinkop kardiak.
2. Penyebab sinkop kardiak dapat dibagi dua yaitu kelainan irama jantung dan kelainan struktur
jantung.
3. Diagnosis sinkop kardiak memang agak sulit karena belum ada pemeriksaan yang merupakan
gold standar.
4. Penatalaksanaan pasien dengan sinkop kardiak terdiri dari terapi farmakologi, pemasangan
alat pacu jantung dan terapi bedah.

3.2. SARAN
Diperlukan diagnosis yang tepat tentang penyebab sinkop kardiak agar penatalaksanaan lebih
optimal, sehingga angka kematian dapat diturunkan.
GTN has been used to treat angina and heart failure
A heart rate over 100 beats per minute is generally accepted as tachycardia
Hipotensi Orthostatik
Definisi Hipotensi Orthostatik adalah apabila terjadi penurunan tekanan darah sistolik 20mmHg
atau tekanna darah diastolik 10 mmHg pada posisi berdiri selama 3 menit. Pada saat seseorang
dalam posisi berdiri sejumlah darah 500-800 ml darah akan berpindah ke abdomen dan
eksremitas bawah sehingga terjadi penurunan besar volume darah balik vena secara tiba-tiba ke
jantung. Penurunan ini mencetuskan peningkatan refleks simpatis. Kondisi ini dapat
asimptomatik tetapi dapat pula menimbulkan gejala seperti kepala terasa ringan, pusing,
gangguan penglihatan, lemah, berbedebar-debar, hingga sinkop. Sinkop yang terjadi setelah
makan terutama pada usia lanjut disebabkan oleh retribusi darah ke usus.
Penyebab lain hipotensi orthostatik adalah obat-obatan yang menyebabkan deplesi volume atau
vasodilatasi. Obat-obat yang sering menyebabkan hipotensi orthostatik adalah:
diuretika
penghambat adrenergik alfa: terazosin
Penghambat saraf adrenergik: guanetidin
Penghambat ACE
Antidepresan: MAO Inhibitor
Alkohol
Penghambat ganglion
Vasodilator
Obat-obatan hipotensif yang bekerja sentral: metildopa, clonidin

Sinkop yang paling sering ialah yang timbul dengan adanya ketakutan, cemas atau nyeri
(misalnya sebelum atau selama prosedur pembedahan) atau karena shock psikis (misalnya
melihat darah). Keadaan ini cenderung pada penderita yang berada dalam posisi berdiri.
Dalam memeriksa tingkat kesadaran, seorang dokter melakukan inspeksi, konversasi dan bila
perlu memberikan rangsang nyeri.
1. Inspeksi, memperhatikan apakah pasien berespon secara wajar terhdapa stimulus visual,
auditoar, dan taktil yang ada disekitarnya
2. Konversasi, memperhatikan apakah pasien memberi reaksi wajar terhadap suara
konversasi, atau dapat dibangunkan dengan suruhan atau pertanyaan yang disampaikan
dnegan suara yang kuat
3. Nyeri.

Sinkop miksi sinkop batuk pada anak asma setelah mulaitidur & batuk paroksismal
muka merah, berkeringat, gelisah, ketakutan