Anda di halaman 1dari 2

Perancangan Alat Penyingkat Waktu Penyalaan (ignition time) Kompor

Briket Batubara

Staff : Dijan Supramono and Yulianto Sulistyo Nugroho
Studensts : -
Sponsor : Hibah Bersaing 2007
Email : dsupra@che.ui.edu, yulianto.nugroho@ui.edu


Saat ini briket batubara banyak dipakai sebagai pemanas di peternakan ayam (65% dari total
pemakaian), untuk pemasakan di rumah tangga dan warung makan (12%), untuk pengeringan
tembakau dan karet (7%), serta untuk pembakaran bata, genteng dan kapur (8%).
Pemakaiannya mencapai sekitar 1 juta ton di tahun 2006 dan diperkirakan pemakaiannya terus
meningkat dan mencapai 2 kali di tahun 2010.

Walaupun prospek penggunaannya sangat baik, tetapi peralatan-peralatan yang menggunakan
briket batubara masih mempunyai kelemahan dalam penyalaan dan emisi gas buangnya.
Penyalaan kompor briket batubara membutuhkan waktu yang relatif lebih lama (sekitar 25 menit)
dibanding dengan kompor gas yang hampir seketika yang menimbulkan keengganan sebagian
besar masyarakat Indonesia untuk menggunakannya. Permasalahan penyalaan briket batubara
adalah kurangnya reaktan oksigen dalam proses awal pembakaran karena sulitnya penetrasi
oksigen eksternal dari udara sekitar material briket yang terjadi karena terbentuknya awan
volatile matter yang terlepas dari permukaan briket batubara saat pemanasan briket. Tujuan dari
penelitian ini adalah mendapatkan rancangan kompor briket batubara yang memberikan waktu
penyalaan yang singkat.

Metode yang diusulkan untuk mempersingkat waktu penyalaan adalah dengan menambahkan
oksidator ke sebagian kecil briket yang kemudian disebut sebagai briket promotor di mana
oksidator tersebut dapat berfungsi menjadi penyuplai oksigen internal dalam briket untuk reaksi
oksidasi sehingga penyalaan briket menjadi lebih mudah. Oksidator yang dipakai dalam
penelitian ini adalah diethyl ether dan ethyl acetate karena mudah didapat di pasaran sehingga
nantinya dapat diaplikasikan dalam industri pengembangan briket. Selain itu oksidator tersebut
dipandang lebih aman dari segi kesehatan dan keselamatan dibanding oksidator lainnya seperti
KClO
3
, KNO atau KMnO
4
. Oksidator ini dicampurkan dengan partikel-partikel batubara pada saat
pembuatan campuran briket sebelum pencetakan briket. Waktu penyalaan akan diuji untuk
melihat peningkatan kualitas penyalaan briket melalui pengujian profil temperaturnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan oksidator dapat mempercepat penyalaan
briket. Briket tanpa oksidator dan mengandung volatile matter sekitar 21% membutuhkan 1315
menit untuk menyala sedangkan briket dengan oksidator hanya butuh 26 menit untuk menyala
dan menghasilkan bara api. Pelepasan radikal oksigen dari oksidator yang dicampurkan ke
dalam briket mempercepat reaksi pembakaran sehingga semakin tinggi konsentrasi oksidator
akan semakin singkat waktu penyalaan briket tersebut dan semakin tinggi temperatur maksimum
yang dicapai briket tersebut. Semakin tinggi konsentrasi oksidator meningkatkan kereaktifan
briket yang terlihat dari kehilangan massa hasil pembakaran dimana semakin tinggi kandungan
oksidatornya akan semakin cepat massa briket yang hilang terbakar.

Dalam kaitan dengan efek bentuk briket, ukuran briket dan karbonisasi (pengurangan kadar
volatile matter), hasil eksperimen menunjukkan bahwa briket bentuk bola mempunyai waktu
penyalaan yang lebih singkat dan heat release yang lebih besar dibanding briket bentuk telur.
Dengan memvariasikan diameter briket berbentuk bola dari 3, 4 hingga 5 cm, eksperimen
memberi hasil bahwa semakin kecil diameter briket, waktu penyalaan semakin singkat, tetapi
heat release paling besar dicapai oleh briket berdiameter 4 cm. Briket yang mengalami
karbonisasi mempunyai waktu penyalaan yang lebih lama dan heat release yang lebih kecil
dibanding briket yang banyak mengandung volatile matter. Di samping itu briket yang telah
mengalami karbonisasi menghasilkan emisi CO rata-rata yang lebih tinggi. Volatile matter
mempunyai efek yang positif terhadap penyalaan dan menghasilkan temperatur pembakaran
yang tinggi sehingga emisi CO yang dihasilkan lebih rendah.