Anda di halaman 1dari 16

1 | P a g e

BAB 1
FILSAFAT PANCASILA

Secara etimologis istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia yang
secara lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan kata philosophia tersebut berasal dari
kata philos (pilia, cinta) dan sophia (kearifan). Berdasarkan makna kata tersebut maka
mempelajari filsafat berarti merupakan upaya manusia untuk mencari kebijaksanaan hidup
yang nantinya bisa menjadi konsep kebijakan hidup yang bermanfaat bagi peradaban
manusia.
Sebagai suatu ilmu, filsafat terbagi kedalam beberapa aliran yang berbeda.
Perbedaan yang dimaksud meliputi perbedaan latar belakang tata nilai dan alam kehidupan,
cita- cita dan keyakinan. Perbedaan aliran filsafat bukan ditentukan oleh tempat dan waktu
lahirnya filsafat, melainkan oleh watak isi dan nilai ajarannya. Aliran dalam filsafat terbagi
menjadi 3, yaitu alian aliran materialisme, aliran idealisme, dan aliran realisme. Aliran
materialisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa hakikat relitas kesemestaan, termasuk
di dalamnya manusia adalah materi. Sedangkan aliran idealisme adalah aliran yang
mengajarkan bahwa ide/gagasan yang menentukan hidup manusia, karena manusia
mempunyai akal untuk berpikir dan juga mempunyai perasaan. Kemudian aliran realisme
adalah aliran yang mengajarkan bahwa setiap yang hidup nantinya akan mati.
Pancasila sebagai dasar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki
definisi dari berbagai sisi, baik secara etimologis, historis, maupun filsafati. Dari sisi
etimologis pancasila diartikan sebagai suatu ajaran moral yang terdapat pada kitab tripitaka
yang dikenal dengan sebutan 5 J. Secara historis, Pancasila yang menjadi salah satu
rumusan dasar negara pada sidang pertama BPUPKI akhirnya resmi diakui pada tanggal 18
Agustus 1945. Jadi artinya, jika meskipun pancasila tidak termuat dalam pembukaan UUD
1945 alinea ke- 4, keberadaan pancasila telah diinterpretasikan sebagai dasar negara
Indonesia yang telah diterima secara umum oleh seluruh bangsa Indonesia. Sedangkan
secara filsafati pancasila diartikan sebagai refleksi kritis dan rasional tentang pancasila
sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa dengan tujuan untuk mendapatkan
pokok-pokok pengertian secara mendasar dan menyeluruh.
Sebagai suatu sistem filsafat, Pancasila dalam pembahasannya dapat dikaji dengan
dua cara, yaitu secara deduktif dan secara induktif. Secara deduktif yaitu dengan mencari
hakikat Pancasila dan menganalisis serta menyusunnya secara sistematis menjadi keutuhan
pandangan yang komprehensif. Sedangkan secara induktif yaitu dengan mengamati gejala-
gejala sosial masyarakat, merefleksikannya dan menarik arti serta makna yang hakiki dari
gejala- gejala tersebut. Sila-sila dalam Pancasila merupakan suatu kesatuan yang bulat dan
utuh di mana setiap sila saling menjiwai sila-sila yang dibawahnya, sedangkan sila yang
dibawah dijiwai oleh sila-sila di atasnya.

Filsafat pancasila dalam keberadaannya memiliki fungsi vital dalam proses
penyelenggaraan suatu negara. Fungsi-fungsi tersebut antara lain yaitu Pancasila sebagai
pandangan hidup bangsa Indonesia, maksudnya adalah dengan adanya Pancasila diharapkan
mampu menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan negara yang
2 | P a g e

tercantum dalam alinea ke-4 PembukaanUUD 1945. Fungsi kedua adalah Pancasila
sebagai dasar Negara Indonesia, maksudnya Pancasila mempunyai nilai-nilai luhur yang
menjadi dasar bagi peraturan perundang-undangan yang lainnya. Setiap peraturan harus
berdasarkan Pancasila dan tidak boleh bertentangna dengan nilai-nilai yang terkandung di
dalam Pancasila.
Fungsi selanjutnya adalah Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa,
maksudnya Pancasila mmberikan corak yang khas bagi bangsa Indonesia, sehingga
membedakan bangsa kita dengan bangsa yang lain. Kemudian fungsi Pancasila yang
keempat adalah Pancasila sebagai ideologi nasional, maksudnya Pancasila sebagai ideologi
nasional merupakan tujuan negara yang diimplementasikan dalam Pembangunan Nasional.






















3 | P a g e

BAB 2
IDENTITAS NASIONAL

Identitas merupakan ciri yang melekat pada sesuatu hal yang mana hal tersebut
mampu membedakannya dengan hal yang lain. Sedangkan Nasional merupakan identitas
yang melekat pada kelompok yang lebih besar yang diikat oleh sutu kesamaan, baik fisik
(budaya, agama, ras), maupun non fisik (keinginan, tujuan, cita-cita). Dalam konteks
berbangsa dan bernegara, Identitas Nasional berarti hasil dari perjalanan sejarah suatu
budaya, kebiasaan, serta beragam nilai-nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia dari masa
lampau yang seiring berjalannya waktu terhimpun menjadi satu kesatuan yang disebut
Bhinneka Tunggal Ika (walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua).
Bangsa memiliki 2 konsep, yaitu Cultural Unity (identitas suku bangsa) dan
Political Unity (identitas kebangsaan). Pertama adalah Cultural Unity, Cultural Unity
merujuk pada Cultural Unity merujuk pada bangsa Indonesia dalam artian kebudayaan atau
sosial antropologis. Di mana Cultural Unity ini disatukan oleh adanya kesamaan suku
bangsa, ras, agama, adat, budaya dan lain-lain. Kesamaan itulah yang dapat
membedakannya dengan bangsa lain. Cultural unity lebih bersifat abscribtife (sudah ada
sejak lahir), alamiah (bawaan), dan etnik. Yang kedua adalah Political Unity, merujuk
pada bangsa dalam artian politik, yaitu bangsa-negara. Kesamaan primordial dapat saja
menciptakan bangsa tersebut untuk bernegara namun dewasa ini negara yang relatif
homogen yang hanya terdiri dari satu bangsa tidak banyak terjadi.
Sejarah perkembangan identitas nasional dapat dibedakan menjadi 2, yaitu sebelum
tahun 1908 dan setelah tahun 1908. Sebelum tahun 1908, yaitu sebelum berdirinya Budi
Utomo, perjuangan masih bersifat lokal dan kedaerahan, sehingga belum menyatu menjadi
bangsa Indonesia. Saat itu, karena perjuangan masih bersifat kedaerahan, maka seringkali
apabila pemimpin perjuangan di daerah tersebut meninggal, maka perjuangan di daerah
tersebut juga berakhir. Berbeda dengan perjuangan sebelum tahun 1908, perjuangan
setelah tahun 1908 lebih bersifat nasional dengan ditandai berdirinya Budi Utomo dan
menyusul organisasi-organisasi lain seperti Sarikat Islam, Perhimpunan Indonesia, Partai
Nasional Indonesia. Setelah Budi Utomo berdiri, yang awalnya perjuangan masih bersifat
kedaerahan, kemudian para pejuang bersatu di tingkat nasional dengan membawa tujuan
yang sama yaitu ingin mengalahkan penjajah dan memerdekakan Indonesia.
Identitas nasional merujuk pada suatu negara dengan berbagai perbeaan di
dalamnya, perbedaan tersebut antara lain yaitu perbedaan suku bangsa, agama,
kebudayaan, dan bahasa. Dari sisi suku bangsa adalah golongan sosial yang khusus yang
bersifat askriptif (ada sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis
kelamin. Di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kclompok etnis dengan
tidak kurang 300 dialek bahasa. Kemudian di sisi agama bangsa Indonesia dikenal sebagai
masyarakat yang agamis. Agama-agama yang tumbuh dan berkembang di Nusantara
adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Agama Kong Hu
Cu pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi negara, tetapi sejak
pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara dihapuskan. Di
sisi kebudayaan adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah
4 | P a g e

perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh
pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi
dan digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk sesuai dengan lingkungan yang
dihadapi. Kemudian, bahasa merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain.
Bahasa dipahami sebagai sistem perlambang yang secara arbitrer dibentuk atas unsur-unsur
bunyi ucapan manusia dan yang digunakan sebagai sarana berinteraksi antar manusia.
Identitas nasional di Indoensia dewasa ini memang mulai meluntur. Sebagai
generasi muda Indonesia, kita harus melakukan hal-hal berikut agar dapat
mempertahankan identitas nasional Indoesia. Pertama adalah dengan mempelajari budaya
asli Indonesiaaya asli Indonesia. Dengan mempelajari budaya asli Indonesia, diharapkan
rakyat Indonesia mau mencintai budaya kita, sehingga rasa kecintaan kita terhadap negeri
kita sendiri pun akan semakin meningkat. Selain itu, dengan kita mempelajari budaya kita
sendiri, maka semakin sedikitlah peluang negara lain untuk mencuri/mengakui budaya kita
sebagai budaya milik negaranya sehingga jati diri bangsa kita akan tetap kita pertahankan.
Cara yang kedua adalah dengan mencintai produk dalam negeri. Dengan kita
mencintai produk dalam negeri, kita turut membantu pengusaha lokal dalam memasarkan
usahanya serta mengurangi angka ketergantungan impor Indonesia terhadap negara lain.
Selain itu, dengan kita bangga pada produk dalam negeri, maka rasa kecintaan kita kepada
Indonesia pun akan terus meningkat. Cara yang ketiga adalah memupuk kesadaran untuk
mengejar ketertinggalan. Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini Indonesia memang
sedang dalam posisi yang tertinggal dibanding negara-negara tetangga kita, seperti
Singapura dan Malaysia. Semakin kita mengejar ketertinggaan kita, dengan cara apapun
yang menurut kita baik, maka rasa cinta kita terhadap tanah air akan semakin meningkat
dan jati diri bangsa kita tidak akan luntur.
Sedangkan hal-hal yang dapat melunturkan identitas nasional antara lain
Globalisasi dan Perkembangan teknologi. Globalisasi memang tidak dapat dipisahkan
darui bangsa kita, mau tidak mau kita harus ikut dalam arus globalisasi. Oleh karena itu,
kita harus pandai dalam memilah mana yang harus diambil dari dampak positif globalisasi
dan mana yang harus dihindari dari dampak negatifnya agar tidak melunturkan jati diri
bangsa. Teknologi yang semakin berkembang juga sangat mungkin melunturkan jati diri
bangsa, karena saat ini masyarakat cenderung mengagung-agungkan teknologi daripada
mencintai budaya sendiri.







5 | P a g e

BAB 3
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA

Warga negara adalah anggota dari sekelompok manusia yang hidup atau tinggal di
wilayah hukum negara tertentu yang disusun dan diselenggarakan pemerintah, yang
digambarkan oleh seperangkat hak dan kewajiban. .Istilah warga negara merupakan
terjemahan dari kata citizen yang mempunyai berbagai macamarti. Yaitu sebagai warga
negara, petunjuk dari sebuah kota, sesama warga negara, sesama penduduk, orang setanah
air, dan sebagai bawahan atau kawula. Sedangkan Kewarganegaran adalah status pribadi
yang dimiliki secara tetap dengan hak, perlakuan khusus, dan tugas-tugas sebagai warga
negara.
Beberapa cara untuk memperoleh kewarganegaran antara lain by birth (kelahiran,
ius solli), by descent (keturunan, ius sanguinis), by naturalization (pewarganegaraan), by
registration (registrasi/administrasi yang sederhana), dan by incorporation of territory
(pewarganegaraan karena terjadinya perluasan wilayah negara).
Dalam penentuan warga negara didasarkan pada sisi kelahiran dikenal dua asas
yaitu asas ius soli dan asas ius sanguinis. Ius artinya hukum atau dalil. Soli berasal dari
kata solum yang artinya negeri atau tanah. Sanguinis berasal dari kata sanguis yang artinya
darah. Asas ius soli adalah asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang
ditentukan dari tempat dimana orang tersebut dilahirkan. Asas ius sanguinis adalah asas
yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan berdasarkan keturunan
dari orang tersebut. Asas kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu
kewarganegaraan bagi setiap orang. Sedangkan asas kewarganegaraan ganda terbatas asas
yang menentukan kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang
diatur dalam Undang-Undang.
Negara Indonesia telah menentukan siapa-siapa yang menjadi warga negara.
Ketentuan tersebut tercantum dalam Pasal 26 UUD 1945, antara lain di ayat (1)
menyatakan Warga Negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-
orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara, di ayat (2)
menyatakan Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
tinggal di Indonesia, kemudian di ayat (3) menyatakan Hal-hal yang mengenai warga
negara dan penduduk diatur dengan Undang-Undang.
Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban terhadap negara, kewajiban-
kewajiban warga negara yang terdapat dalam batang tubuh UUD 1945 antara lain Wajib
ikut serta dalam upaya pembelaan negara (Pasal 27 ayat 3), Wajib ikut serta dalam usaha
pertahanan dan keamanan negara (Pasal 30 ayat 1), Wajib mengikuti pendidikan dasar
(Pasal 31 ayat 2), Wajib menaati hukum dan pemerintahan (Pasal 27 ayat 1).
Selain menjalankan kewajibannya, setiap warga negara juga mempunyai hak-hak
yang merupakan kewajiban bagi negara untuk memenuhinya sebagai berikut: Negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk memeluk agamanya (Pasal 29 ayat 2), Negara
atau pemerintah wajib membiayai pendidikan khususnya pendidikan dasar (Pasal 31 ayat
2), Pemerintah berkewajiban mengusahakan dan menyeleng-garakan satu sistem
pendidikan nasional (Pasal 31 ayat 3), Negara bertanggung jawab atas persediaan fasilitas
6 | P a g e

pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak (Pasal 34 ayat 3), Negara
memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran belanja
negara dan belanja daerah. (Pasal 31 ayat 4), Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan
dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk
kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. (Pasal 31 ayat 5), Negara
memajukan kebudayaan manusia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan
masyarakat dengan memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. (Pasal 32 ayat
1), Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan kebudayaan
nasional. (Pasal 32 ayat 2), Negara menguasai cabang-cabang produksi terpenting bagi
negara dan menguasai hajat hidup orang banyak. (Pasal 33 ayat 2), Negara menguasai
bumi, air dan kekayaan alam demi kemakmuran rakyat. (Pasal 33 ayat 3), Negara
berkewajiban memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar. (Pasal 34 ayat 1), Negara
mengembangkan system jaminan social bagi seluruh rakyat dan memberdayakan
masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. (Pasal 34
ayat 2).



















7 | P a g e

BAB 4
NEGARA DAN KONSTITUSI

Negara adalah organisasi kekuasaan yang timbul karena kehendak dari suatu
golongan atau bangsa sendiri yang memiliki wewenang untuk mengatur dan
mengendalikan persoalan bersama atas nama rakyat dalam suatu wilayah tertentu. Bentuk
negara terbagi menjadi 2, yaitu negara kesatuan dan negara serikat. Negara kesatuan adalah
negara yang bersusun tunggal, di mana hanya ada satu pemerintah pusat yang berkedalatan
ke dalam dan ke luar, dengan hanya ada satu UUD, hanya terdapat satu kepala
pemerintahan sekaligus kepala negara, dan satu badan perwakilan rakyat. Contoh
negaranya antara lain Indonesia dan Skotlandia. Negara serikat adalah negara yang
bersusun jamak, di mana ada beberapa negara bagian yang tidak berdaulat, memiliki
konstitusi, kepala negara, dan badan perwakilan rakyat sendiri, namun yang berdaulat tetap
gabungan dari negara-negara tersebut. Contohnya adalah Amerika Serikat dan Australia.
Untuk dapat membentuk suatu negara, tentulah harus ada unsur-unsur yang
membentuk suatu negara tersebut. Unsur-unsur pembentuk suatu negara terbagi menjadi 4,
yaitu rakyat, wilayah, pemerintahan yang berdaulat, dan pengakuan dari negara lain.
Rakyat adalah semua orang yang menjadi penghuni suatu negara . Rakyat dapat dibedakan
menjadi 2 yaitu penduduk dan bukan penduduk. Wilayah negara adalah batas wilayah di
mana kekuasaan negara itu berlaku. Wilayah suatu negara meliputi darat, laut, dan udara.
Namun ada pula negara yang tidak memiliki laut seperti Laos, namun Laos tetap diakui
sebagai sebuah negara. Pemerintahan yang berdaulat yaitu pemerintahan yang mempunyai
kekuasaan untuk menjalankan tugas dan wewenangnya mengatur kehidupan
social,ekonomi,politik suatu negara sesuai dengan sistem yang telah di tetapkan.
Pengakuan dari negara lain yang merupakan unsur deklaratif nagara, yaitu pengakuan
terhadap suatu negara dari negara lain sebagai pertanda bahwa negara tersebut telah di
teriama sebagai anggota baru dalam pergaulan antarnegara.
Konstitusi adalah keseluruhan peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis
yang mengatur secara mengikat cara suatu pemerintahan diselenggarakan dalam suatu
masyarakata Negara. Tujuan dari adanya konstitusi di suatu negara antaa lain: Membatasi
kekuasaan penguasa, Melindungi HAM, dan Sebagai pedoman penyelenggaraan suatu
negara. Membatasi kekuasaan penguasa maksudnya adalah dengan adanya konstitusi
diharapkan pemerintah yang tengah berkuasa tidak bertindak sewenang-wenang terhadap
rakyat, karena kekuasaannya telah diatur di dalam konstitusi. Melindungi HAM
maksudnya adalah dengan adanya konstitusi, diharapkan Hak Asasi Manusia (HAM) dapat
dilindungi, karena apabila tidak ada konstitusi, bisa jadi hak dasar pada manusia ini tidak
akan mendapat perlindungan dari negara. Pedoman penyelenggaraan negara maksudnya di
dalam sebuah konstitusi, seharusnya ada cara-cara atau pedoman dalam menyelenggarakan
negara, sehingga pemerintah yang berkuasa tidak kesulitan dalam menjalankan suatu
negara karena telah ada pedomannya.
Sebuah konstitusi dibuat agar memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut: Konstitusi
sebagai perjanjian untuk mendirikan sebuah negara, Konstitusi sebagai akta atau dokumen
resmi tentang pendirian negara, Konstitusi sebagai kaidah negara yang mendasar, sehingga
8 | P a g e

menjadi landasan penyelenggaraan negara, Konstitusi sebagai hukum dasar menjadi
rujukan bagi peraturan perundang-undangan dibawahnya.
Sifat yang ada di dalam sebuah konstitusi antara lain formil dan materil, fleksibel
dan rigid, serta tertulis dan tidak tertulis. Formil berarti tertulis. Materiil dilihat dari segi
isinya berisikan hal-hal bersifat dasar pokok bagi rakyat dan negara (sama dengan
konstitusi dalam arti relatif). Rigid berarti kaku sulit untuk mengadakan perubahan,
sedangkan fleksibel berarti dapat diubah secara UUD, maksudnya ada syarat-syarat yang
umum seperti voting. Konsitusi ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis.
Herman Heller membagi Konstitusi dalam 3 tingkat. Pertama, Konstitusi sebagai
pengertian politik, mencerminkan keadaan sosial politik suatu bangsa. Kedua, Konstitusi
sebagai pengertian hukum , keputusan masyarakat dijadikan perumusan yang normatif,
yang harus berlaku. Dari pengertian ini timbul aliran kodifikasi menghendaki hukum
tertulis untuk terciptanya kesatuan hukum, kesederhanaan hukum dan kepastian hukum.
Ketiga, Konstitusi sebagai peraturan hukum, peraturan hukum tertulis. Dengan demikian
UUD adalah bagian dari konstitusi tertulis.
Konstitusi di Indonesia bersifat fleksibel sehingga mudah mengadakan perubahan.
Di Indonesia, pernah terjadi perubahan konstitusi antara lain UUD 1945 Periode Pertama
(berlaku 18 Agustus 1945-27 Desember 1949), Konstitusi RIS (berlaku 27 Desember
1949- 17 Agustus 1950), UUD Sementara 1950 (berlaku 17 Agustus 1950 5 Juli 1959),
UUD 1945 Periode Kedua (berlaku 5 Juli 1959-1999), dan terkahir UUD 1945
Amandemen (berlaku 19 Oktober 1999- sampai sekarang).












9 | P a g e

BAB 5
DEMOKRASI INDONESIA

Istilah demokrasi berasal dari bahasa Yunani (dmokrata) yang
berarti "kekuasaan rakyat", kata ini dibentuk dari kata (dmos) yang berarti "rakyat"
dan (Kratos) yang berarti "kekuasaan". Istilah ini merujuk pada kondisi politik di
sebuah kota Yunani kuno yakni Athena pada pertengahan abad ke- 4 dan ke- 5 SM.
Demokrasi adalah sebuah bentuk pemerintahan dimana setiap warga negara yang sah
memiliki hak yang setara untuk berpendapat dalam bidang pemerintahan yang menyangkut
kehidupan warga tersebut. Artinya demokrasi akan membentuk sebuah negara yang
kekuasaan pemerintahnya berasal dari rakyat. Dalam negara demokrasi rakyat memiliki
hak untuk berpartisipasi dalam pembangunan, pengambilan keputusan dalam pembuatan
peraturan mupun dalam penetapan aturan hukum, baik secara langsung maupun melalui
perwakilan(yangdipilih melalui pemilihan umum).Konsep dari demokrasi adalah
seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan, yang juga mencakup seperangkat
praktek dan prosedur angyg terbentuk melalui sejarah panjang dan sering berliku-liku.
Pendeknya demokrasi adalah pelembagaan dari kebebasan. Secara substantif, prinsip
utama dalam demokrasi ada dua yaitu kebebasan/persamaan dan kedaulatan rakyat.

Menurut Prof. S. Pamuji, demokrasi Pancasila mengandung 6 aspek sebagai
berikut: Aspek formal,yang mempersoalkan prosesdan cara rakyat menunjuk wakil
wakilnya dalam Badan badan perwakilan rakyat dan pemerintahan. Aspek material,
yang mengemukakan gambaran manusia serta mengakui harkat dan martabat manusia.
Aspek normatif ( kaidah ) yang mengungkapkan seperangkat norma atau kaidah yang
membimbing dan menjadi kriteria pencapaian tujuan. Aspek optatif yang mengertengahkan
tujuan atau keinginan yang hendak dicapai. Aspek organisasi, yang mempersoalkan
organasasi sebagai wadah pelaksanaan demokrasi Pancasila. Aspek kejiwaan, yang
menjadikan semangat para penyelenggara negara dan pemimpin pemerintah.

Pelaksanaan demokrasi di Indonesia dimulai dengan Demokrasi pada masa orde
lama yang terdiri dari demokrasi parlementer di masa RIS dan masa berlakunya UUDS
1950 dan masa demokrasi terpimpin. Pada masa demokrasi terpimpin inilah terjadi banyak
penyimpangan seperti pelanggaran prinsip kebebasan kekuasaan kehakiman, pengekangan
hak asasi warga negara dibidang politik, pelampauan batas wewenang, pembentukan
lembaga negara ekstrakontitusional, dan pengutamaan fungsi presiden. Demokrasi pada
masa orde baru bisa dikatakan lebih buruk dari demokrasi terpimpin dengan banyaknya
penyimpangan yang terjadi. Penyimpangan itu berupa pembatasan hak hak politik rakyat,
pemusatan kekuasaan di tangan presiden, pemilu yang tidak demokratis, pembentukan
lembaga ekstrakonstitusional, dan korupsi, Kolusi dan nepotisme ( KKN ). Demokrasi
pada masa demokrasi sangat bergntung pada 4 faktor. Faktor-faktor tersebut yaitu,
komposisi elite politik, desain institusi politik, kultur politik atau perubahan sikap terhadap
politik dikalanganelit dan non elit, dan peran masyarakat madani.

Mengenai pendidikan demokrasi, Indonesia pendidikan demokrasi diatur dalam
Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan
10 | P a g e

bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membenruk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.






















11 | P a g e

BAB 6
NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

Negara Indonesia adalah negara hukum. Hal ini tertuang secara jelas pada pasal 1
ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi Negara Indonesia adalah negara Hukum , artinya
negara kesatuan republik indonesia adalah negara yang berdasar pada hukum rechtsstaat),
tidak berdasar pada kekuasaan (machtstaat), dan pemerintahan berdasarkan sistem
konstitusi (hukum dasar), bukan absolutisme (kekuasaan tidak terbatas). Secara sederhana,
yang dimaksud dengan negara hukum adalah negara yang penyelenggaraan kekuasaan
pemerintahannya didasarkan atas hukum. Di dalamnya pemerintah dan lembaga-lembaga
lain dalam melaksanakan tindakan apapun harus dilandasi oleh hukum.
Ada dua jenis negara hukum, yaitu negara hukum formil dan materiil. Negara
hukum formil adalah hukum dengan arti sempit yaitu negara yang membatasi ruang
geraknya dan bersifat pasif terhadap kepentingan rakyat negara. Negara tidak campur
banyak terhadap urusan dan kepentingan warga negara. Urusan ekonomi diserahkan pada
warga dengan dalil laissez faire , laissez aller yang berarti bila warga dibiarkan mengurus
kepentingan ekonominya sendiri maka dengan sendirinya perekonomian negara akan sehat.
Dalam negara hukum materiil atau dapat disebut negara hukum modern, pemerintah diberi
tugas membangun kesejahteraan umum di berbagai lapangan kehidupan. Untuk itu
pemerintah diberi kewenangan atau kemerdekaan untuk turut campur dalam usaha warga
negara . Pemerintah diberi Freies Ermessen, yaitu kemerdekaan yang dimiliki pemerintah
untuk turut serta dalam kehidupan ekonomi sosial dan keleluasaan untuk tidakt erikat pada
produk legislasi parlemen.
Hak asasi manusia atau yang biasa disingkat dengan HAM merupakan hak dasar
yang melekat dan dimiliki setiap manusia sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa.
Kesadaran akan hak asasi manusia didasarkan pada pengakuan bahwa semua manusia
sebagai makhluk Tuhan memiliki derajat dan martabat yang sama. Dengan pengakuan
akan rinsip dasar tersebut, setiap manusia memiliki hak dasar yang disebut hak asasi
manusia. Jadi, kesadaran akan adanya hak asasi manusia tumbuh dari pengakuan manusia
sendiri bahwa mereka adalah sama dan sederajat.
Dua landasan terhadap HAM antara lain landasan yang langsung dan pertama,
yakni kodrat manusia. Kodrat manusia adalah sama derajat dan martabatnya. Semua
manusia adalah sederajat tanpa membedakan suku, ras, agama, bahasa, dsb. Landasan yang
kedua dan yang lebih dalam, yakni Tuhan menciptakan manusia. Semua manusia adalah
makhluk dari pencipta yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu dihadapan
Tuhan manusia adalah sama kecuali nanti pada amalannya.
Hak asasi manusia terdiri atas enam macam, yaitu Hak asasi pribadi / Personal
Rights, misal hak kemerdekaan, hak menyatakan pendapat, hak memeluk agama. Kedua
hak asasi politik / Political Rights, yaitu hak untuk diakui sebagai warga negara. Misalnya,
memilih dan dipilih, hak berserikat, hak berkumpul. Ketiga adalah hak asasi ekonomi /
Property Rights, misal hak memiliki sesuatu, hak mengadakan perjanjian, hak bekerja, hak
mendapat hidup layak. Keempat hak asasi sosial dan kebudayaan / Social and Cultural
12 | P a g e

Rights, missal mendapatkan pendidikan, hak mendapat santunan, hak pensiun, hak
mengembangkan kebudayaan, hak berekspresi. Kelima hak untuk mendapatkan perlakuan
yang sama dalam hukum dan pemerintahan / Rights of legal equality. Terakhir adalah hak
untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam tata cara peradilan dan perlindungan /
Procedural rights.
Pengakuan HAM di Indonesia dibuktikan dengan adanya peraturan-peraturan yang
mengatur tentang perlindungan HAM pada peraturan berikut. Pertama adalah pada
Pembukaan UUD 1945 alenia pertama yang menyatakan Bahwa bangsa Indonesia
mengakui hak untuk merdeka atau bebas. Kedua pada Pemukaan UUD 1945 alenia
keempat. Ketiga pada Batang tubuh UUD 1945, rumusan hak tersebut mencakup hak
dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya yang tersebar dari pasal 27 sampai dengan
34 UUD 1945.Keempat pada Ketetapan MPR, yaitu tertuang dalam ketetetapan MPR No.
XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Kelima tertuang dalam Peraturan
Perundang-undangan, yaitu tercantum dalam UU No. 39 Tahun 1999.
Beberapa badan yang melakukan perlindungan terhadap HAM di Indonesia, antara
lain Penegakan HAM di Indonesia Konmas HAM, Pengadilan HAM, Pengadilan HAM Ad
Hoc, dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Meskipun sudah ada badan-badan pelindung
HAM maupun peraturan-peraturan yang menyatakan perlindungan HAM di Indonesia,
namun tetap saja masih terjadi penyimpangan terhadap penegakan HAM di Indonesia.
Untuk mengatasinya, diperlukan kerja sama antara pemerintah maupun rakyat agar HAM
di Indonesia semakin terlindungi.















13 | P a g e

BAB 7
GEOPOLITIK INDONESIA

Konsep geopolitik timbul dan tumbuh karena kesadaran akan kebutuhan ruang
hidup dari manusia, masyarakat dan bangsa. Kesadaran tersebut terkait secara tidak
langsung dengan kebutuhan keamanan bagi diri manusia, lebih-lebih bagi manusia yang
telah membangsa. Setelah bangsa menegara, kesadaran ruang menjadi kesadaran akan
kedaulatan, sehingga membuat batas-batas Negara, dengan melalui seperangkat hokum dan
aparat penjamin tegaknya tertib hukum dan kedaulatan.
Geopolitik berasal dari kata Geo atau bumi dan politik. Geo politik berarti kekuatan
yang didasarkan pada pertimbangan dasar atau geografi dalam menentukan alternative
kebijaksanaan nasional untuk mewujuudkan tujuan nasional. Ilmu geopolitik adalah
pengetahuan yang mempelajari tentang potensi, yang dimiliki oleh suatu bangsa atas dasar
jati dirinya dan merupakan kekuatan serta kemampuan untuk ketahanan nasional.
Konsep wawasan nusantara berisikan beberapa hal, antara lain Hakekat wawasan
nusantara, Azas wawasan nusantara, Arah wawasan nusantara, dan Wawasan nusantara
masa reformasi, Otonomi Daerah, Hakekat pembangunan berwawasan lingkungan, dan
Penataan ruang. Hakekat wawasan nusantara adalah keutuhan bangsa dan nusantara dalam
cara pandang yang utuh menyeluruh demi kepentingan nasional. Artinya, warga Negara
dan aparatur Negara harus berpikir, bersikap, bertindak untuk kepentingan bangsa
termasuk produk hukum yang dihasilkan oleh lembaga Negara dan lembaga masyarakat.
Prioritas kepentingan bangsa ini tidak menutup kepentingan daerah, golongan, dan
individu. Azas wawasan nusantara merupakan ketentuan yang harus diciptakan, dipatuhi,
dipelihara, dilaksanakan agar semua komponen bangsa setia pada kesempatan bersama.
Azas wawasan nusantara terdiri atas kepentingan dan tujuan yang sama, keadilan,
kerjasama, kejujuran, soliudaritas, kesetiaan terhadap ikrar bersama demi terpeliharanya
persatuan dan kesatuan.
Sedangkan mengenai Arah wawasan nusantara, dengan latar belakang budaya,
kondisi konstelasi geografi dan perkembangan lingkungan strategis, arah pandang
wawasan nusantara meliputi ke dalam dan ke luar, yaitu: arah pandang ke dalam bertujuan
menjamin perwujudan persatuan dan kesatuan segenap aspek kehidupan bangsa, baik
aspek alamiah maupun aspek social. Artinya kita harus peka dan berusaha untuk mencegah
dan mengatasi sedini mungkin factor-faktor penyebab disintegrasi bangsa. Dan arah
pandang keluar ditujukan demi terjaminnya kepentingan nasional dalam dunia yang serba
berubah dalam melaksanakan ketertiban dunia. Artinya dalam kehidupan internasional,
kita harus berusaha mengamankan kepentingan nasional dalam semua aspek kehidupan
demi tercapainya tujuan nasional.
Implementasi wawasan nusantara senantiasa berorientasi kepada kepentingan
rakyat dan wilayah tanah air secara utuh menyeluruh, yaitu Politik: menciptakan iklim
penyelenggaraan negara yang sehat, dinamis tampak pada pemerintahan yang kuat,
aspiratif, terpercaya sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat. Ekonomi: menciptakan tatanan
ekonomi yangmenjamin pemenuhan dan peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran
rakyat secara adil dan merata serta bertanggungjawab dalam pengelolaan SDA dengan
14 | P a g e

memperhatikan kebutuhan masyarakat antar daerah secara timbale balik dan
kelestariannya. Sosial Budaya: menciptakan sikat batiniah dan rohaniah yang mengakui,
menerima, dan menghormati segala bentuk perbedaan atau kebinekaan sebagai kenyataan
hidup sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa. Kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara yang rukun dan bersatu tanpa membedakan suku, asal usul daerah, agama,
golongan, atau status sosial. Hankam: menumbuh kembangkan kesadaran cinta tanah air
dan bangsa yang membentuk sikap bela negara pada setiap warga negara. Ini akan menjadi
modal utama menggerakkan partisipasi setiap warga dalam menanggapi setiap bentuk
ancaman, seberapapun kecil dan dari manapun, atau setiap gejala yang membahayakan
keselamatan dan kedaulatan negara.
Otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa sendiri dan sesuai aspirasi
masyarakat yang didasarkan pada peraturan perundang-undangan. Mengenai Hakekat
pembangunan berwawasan lingkungan, sebagai akibat pembangunan, tidak mustahil
mengabaikan baku mutu lingkungan, hal ini disebabkan karena terabaikannya salah satu
sektor seperti yang diperkirakan oleh dunia internasional. Untuk menjamin pelestarian
fungsi lingkungan hidup, pemerintah telah menetapkan aturan bahwa, setiap usaha dan
kegiatan dilarang melanggar baku mutu lingkungan hidup. Setiap usaha dan atau kegiatan
yang beresiko dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup
wajib memiliki analisis dampak lingkungan hidup. Mengenai Penataan ruang,
perkembangan penataan ruang untuk pembangunan masih kurang diperhatikan oleh
pemerintah di daerah. Padahal telah diterbitkan UU No. 24/1992 tentang Penataan Ruang.
Dalam UU tersebut tersirat falsafah : (1) pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan
secara terpadu, berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras dan berkelanjutan, (2)
keterbukaan, persamaan, keadilan dan perlindungan hukum.













15 | P a g e

BAB 8
GEOSTRATEGI INDONESIA

Geostrategi berasal dari kata geo yang berarti bumi, dan strategi diartikan sebagai
usaha dengan menggunakan segala kemampuan atau sumber daya baik SDM maupun SDA
untuk melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan. Bagi bangsa Indonesia geostrategi
diartikan sebagai metode untuk mewujudkan cita-cita proklamasi, sebagaimana tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945, melalui proses pembangunan nasional. Oleh karena itu
geostrategi Indonesia sebagai suatu cara atau metode dalam memanfaatkan segenap
konstelasi geografi negara Indonesia dalam menentukan kebijakan, arahan serta sarana-
sarana dalam mencapai tujuan seluruh bangsa dengan berdasar asas kemanusiaan dan
keadilan sosial.
Konsep geostrategi Indonesia pada hakekatnya bukan mengembangkan kekuatan
untuk penguasaan terhadap wilayah di luar Indonesia atau untuk ekspansi terhadap negara
lain, tetapi konsep strategi yang didasarkan pada kondisi metode, atau cara untuk
mengembangkan potensi kekuatan nasional yang ditujukan untuk pengamanan dan
menjaga keutuhan kedaulatan Negara Indonesia dan pembangunan nasional dari
kemungkinan gangguan yang datang dari dalam maupun dari luar negeri. Untuk
mewujudkan geostrategis Indonesia akhirnya dirumuskan Bangsa Indonesia dengan
Ketahanan Nasional Republik Indonesia.
Perkembangan konsep geosrtategi di Indonesia diawali oleh pelontaran dari Bung
Karno pada tanggal 10 Juni 1948 di Kotaraja. Namun sayangnya gagasan ini kurang
dikembangkan oleh para pejabat bawahan, karena seperti yang kita ketahui wilayah NKRI
diduduki oleh Belanda pada akhir Desember 1948, sehingga kurang berpengaruh. Dan
akhirnya, setelah pengakuan kemerdekaan 1950 garis pembangunan politik berupa
Nation and character and building yang merupakan wujud tidak langsung dari geostrategi
Indonesia yakni sebagai pembangunan jiwa bangsa.
Dalam menghadapi anasir-anasir luar perlu disusun satu geostrategi dengan
memperhatikan adanya kenyataan bahwa dunia telah saling terkait satu sama lain dengan
derajat transparansi yang semakin tinggi. Geostrategi itu juga dilandasi dengan kesadaran
bahwa Ketahanan Nasional saja tidaklah cukup untuk menjamin rasa aman rakyat maupun
kelangsungan pembangunan nasional, apabila tidak didukung oleh Ketahanan Regional.
Atas dasar itu maka geostrategi Indonesia secara stereoskopis berbentuk sebagai
satu Kerucut Ketahanan.
Ketahanan Nasional ditinjau secara antropologis mengandung arti kemampuan
manusia atau suatu kesatuan kemampuan manusia untuk tetap memperjuangkan
kehidupannya. Rumusan ketahanan nasional sebagaimana disusun oleh
Lemhamnas adalah: Ketahanan Nasional Idonesia adalah kondisi dinamis Bangsa
Indonesia yang meliputi segenap aspek, kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi
keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan
kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, gangguan, hambatan,
dan tantangan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam untuk menjamin identitas,
16 | P a g e

integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, serta perjuangan mencapai tujuan
nasional.
Asas-asas Ketahan Nasional Indonesia terdiri atas Asas Kesejahteraan dan
Keamanan, Asas Komprehensif Integral atau Menyeluruh Terpadu, dan Asas Mawas ke
Dalam dan Mawas ke Luar. Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat, dan
kondisi nasional itu sendiri berdasarkan nilai- nilai kemandirian. Mawas ke luar bertujuan
untuk dapat mengantisipasi dan berperan serta mengatasi dampak lingkungan strategis luar
negeri dan menerima kenyataan adanya interaksi dan ketergatungan dengan dunia
internasional, serta asas kekeluargaan. Sifat ketahanan nasional Indonesia antara lain
mandiri, dinamis, wibawa, serta konsultasi dan kerja sama.
Komponen strategi Astagatra merupakan perangkat hubungan bidang-bidang
kehidupan manusia dan budaya yang berlangsung di atas bumi ini. Dengan memanfaatkan
dan menggunakan secara memadai segala komponen strategi tersebut, dapat dicapai
peningkatan dan pengembangan kemampuan nasional. Astagatra terdiri atas Trigatra dan
Pancagatra.
Beberapa ancaman yang dihadapi oleh Trigatra dan Pancagatra Indonesia, antara
lain sebagai berikut; Di dalam era globalisasi sekarang ini dan di masa yang akan datang,
tidak tertutup kemungkinan campur tangan asing dengan alasan mengakkan nilai-nilai
HAM, demokrasi, penegakan hukum, dan lingkungan hidup di balik kepentingan nasional
mereka, sistem free fight liberalisme yang hanya menguntungkan pelaku ekonomi yang
bermodal tinggi dan tidak memungkinkan berkembangnya ekonomi kerakyatan, dan sistem
etatisme, dalam artian negara beserta aparatur ekonomi negara bersifat dominan,
pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok dalam bentuk monopoli yang merugikan
masyarakat. Selain itu masalah seperti kedaulatan NKRI yang dua pertiga wilayahnya yang
terdiri atas laut menempatkan laut dan udara di atasnya sebagai mandala perang yang
pertama kali akan terancam karena keduanya merupakan initial point, untuk memasuki
kedaulatan RI di darat. Ancaman dari luar senantiasa akan menggunakan media laut dan
udara di atasnya karena Indonesia merupakan negara kepulauan. Keberadaan Indonesia
dipersilangan jalur pelayaran strategis, memang selain membawa keberuntungan juga
mengandung ancaman.
Dalam Panca Gatra kehidupan nasional yang meliputi bidang Pertahanan dan
Keamanan terdapat faktor-faktor yang dapat mendorong untuk kemajuan bangsa serta
berperan dalam Geostrategi Indonesia, salah satunya yakni faktor Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK). Tidak dapat di pungkiri bahwa kemajuan suatu bangsa tidak dapat
terpisahkan dari kemajuan di bidang Ilmu Pengetahuan yang merupakan unsur utama
dalam pengembangan bidang Teknologi dalam suatu Negara. Faktor Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi juga mendorong kemajuan di bidang lain seperti bidang Komunikasi, Sistem
Pertahanan, Pengembangan SDA, dan lain-lain. Salah satu peranan Ilmu pengetahuan dan
teknologi ialah dalam Sistem Pertahanan Nasional yakni dengan cara pengembangan
teknologi untuk bidang komunikasi dalam rangka menjaga keutuhan bangsa.