Anda di halaman 1dari 9

REFLEKS SPINAL PADA KATAK

Oleh :
Nama : Kasriati Heruningsih
NIM : B1J011155
Rombongan : V
Kelompok : 4
Asisten : Rio Rakhmanandika S.





LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II





KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2013
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem syaraf adalah suatu sistem organ yang terdiri dari sel-sel syaraf
atau neuron. Sistem syaraf terdiri atas sistem syaraf pusat yang meliputi otak
dan batang spinal, dan sistem syaraf perifer yang meliputi syaraf kranial,
syaraf spinal, dan trunkus simpaticus. Kedua sistem ini bekerja saling
menunjang. Sistem syaraf pusat berguna sebagai pusat koordinasi untuk
aktivitas-aktivitas yang harus dilaksanakan. Sedangkan sistem syaraf perifer
berfungsi memberikan informasi kepada sistem syaraf pusat tentang adanya
stimulus yang menyebabkan otot dan kelenjar melakukan respon (Johnson,
1984).
Sistem saraf mempunyai tiga fungsi yang saling tumpang-tindih, yaitu
input sensoris, integrasi, dan output motoris. Input adalah penghantaran atau
konduksi sinyal dari reseptor sensoris, misalnya sel-sel pendeteksi cahaya di
mata ke pusat integrasi. Integrasi adalah penerjemahan informasi yang berasal
dari stimulasi reseptor ke lingkungan, kemudian dihubungkan dengan respon
tubuh yang sesuai. Sebagian integrasi dilakukan dalam system saraf pusat,
yaitu otak dan sumsum tulang belakang (pada vertebrata). Output motoris
adalah penghantaran sinyal dari pusat integrasi ke sel-sel efektor, sel-sel otot
atau sel kelenjar yang mengaktualisasikan respon tubuh terhadap stimulus
tersebut. Sinyal tersebut dihantarkan oleh saraf yang berasal dari penjuluran
neuron yang terbungkus dengan ketat dalam jaringan ikat. Saraf yang
menghubungkan sinyal motoris dan sensoris antara system saraf pusat dan
bagian tubuh lain secara bersamaan disebut system saraf tepi (Campbell et al.,
2004).

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengetahui terjadinya refleks
spinal pada katak.

II. MATERI DAN CARA KERJA
2.1 Materi
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah katak sawah
(Fejervarya cancrivora) dan larutan H
2
SO
4
1%.
Alat yang digunakan adalah jarum, gunting, dan pinset.

2.2 Cara Kerja
1. Otak katak (Fejervarya cancrivora) dirusak dengan jarum preparat.
2.
Refleks dari katak diamati dengan membalikan tubuh, menarik kaki depan,
kaki belakang dan mencelupkan kaki pada larutan H
2
SO
4.
3. Bagian medulla spinalis dirusak mulai dari , , dan seluruhnya.
4. Refleks dari katak diamati kembali dengan membalikan tubuh, menarik
kaki depan, kaki belakang dan mencelupkan kaki pada larutan H
2
SO
4.



III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Tabel 3.1 Refleks Spinal pada Katak (Fejervarya cancrivora)
Rangsang/
Stimulus

Perusakan
Pembalikan
Tubuh
Penarikan Kaki Pencelupan
Kaki ke
Larutan
H
2
SO
4

Depan Belakang
Otak - - - +
Ms - - - +
Ms - - - +
Ms - - - -
Total - - - -

Keterangan :
(+) : Ada reaksi (refleks)
(-) : Tidak ada reaksi (refleks)

3.2 Pembahasan
Hasil percobaan refleks spinal pada katak setelah dilakukan perusakan
otak, dan medula spinalis menunjukan adanya respon negatif dari katak.
Respon tersebut seperti pembalikan tubuh, penarikan ekstrimitas depan,
penarikan ekstrimitas belakang. Hal ini sesuai dengan Frandson (1992)
menyatakan bahwa otak merupakan pusat kesadaran, ingatan, kemauan dan
kegiatan fisiologis neuron atau sel saraf. Oleh karena itu jika otak dirusak
maka tidak ada perintah untuk membalikkan badan ataupun untuk
mengadakan gerak refleks, namun jika masi adanya hubungan antara alat-alat
vestibuler dengan sumsum tulang belakang maka masih adanya kesempatan
untuk merespon jika diberi stimulus. Sedangkan pada pencelupan larutan
H
2
SO
4
terjadi respon positif. Ketika kaki katak dicelupkan ke dalam larutan
H
2
SO
4
, katak langsung menarik kakinya dan terlihat seperti melakukan
gerakan menghapus larutan yang menempel di kaki, hal ini terjadi karena
larutan H
2
SO
4
memberikan rangsangan panas yang membakar kulit. Refleks
yang diberikan katak saat perlakuan tersebut sesuai dengan pernyataan Ville
et al. (1988), yaitu respon menarik kaki setelah dicelupkan ke dalam larutan
H
2
SO
4
melibatkan sejumlah otot yang bekerja secara terpadu dan merupakan
suatu refleks murni. Percobaan ini membuktikan bahwa dalam suatu sistem
refleks diperlukan sumsum tulang belakang sebagai pusat koordinasi dan
pengaturan gerak refleks. Menurut Prawirohartono (1990), sumsum tulang
belakang mempunyai fungsi sebagai penghubung impuls dari dan ke otak dan
memungkinkan jalan terpendek untuk gerakan refleks.
Perlakuan yang keempat pada medula spinal medula spinalis dan
perusakan total medula spinalis menunjukan respon negatif pada semua
perlakuan, yaitu penarikan ekstrimitas kaki depan, pembalikan tubuh,
penarikan ekstrimitas belakang, serta pada pencelupan larutan H
2
SO
4
. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Pearce (1989) yang menyatakan bahwa sumsum
tulang belakang merupakan pusat gerak refleks, sehingga semakin tinggi
tingkat perusakan sumsum tulang belakang maka semakin lemah respon yang
diberikan. Hal ini yang akan menyebabkan refleks pembalikkan tubuh,
penarikkan kaki depan dan kaki belakang serta pencelupan ke dalam larutan
H
2
SO
4
makin melemah seiring dengan tingkat perusakan. Perusakan tulang
belakang juga merusak tali spinal sebagai jalur saraf, namun dengan adanya
respon refleks yang sederhana dapat terjadi melalui aksi tunggal dari tali
spinal meskipun adanya perusakkan sumsum tulang belakang. Pemberian
konvergen pada sumsum tulang belakang dapat memberikan efek terjadinya
gerakan bebas pada extrimitas katak (Lemay et al., 1996).
Menurut Kimball (1988), mekanisme terjadinya reflek spinal yaitu
stimulus mula-mula diterima oleh reseptor yang kemudian dirubah menjadi
impuls di dalam neuron aferen. Neuron aferen berikutnya melanjutkan impuls
ke sumsum tulang belakang yang kemudian diteruskan oleh neuron motoris
untuk diwujudkan dalam bentuk gerak refleks atau gerak tidak sadar. Gerak
refleks sendiri memiliki mekanisme yang secara sederhana dituliskan sebagai
berikut :
Reseptor Saraf sensoris Saraf konektor


Efektor Saraf motoris
Mekanisme gerak refleks pada katak menurut Storer et al. (1970), yaitu :
1. Adanya reseptor rangsangan dari luar.
2. Induksi nervous impuls atau badan sel saraf ke tulang belakang.
3. Adanya sinapsis.
4. Terjadinya penerimaan rangsangan oleh neuron motorik, terjadilah
refleks oleh efektor sebagai respon.
Terdapat dua macam gerakan dalam sistem syaraf, yaitu gerakan yang
disadari dan gerak reflek. Gerak reflek merupakan aktivitas yang cepat,
otomatis dan tidak disadari. Sistem syaraf terdiri atas sel-sel syaraf atau
neuron. Pada suatu neuron dapat dibedakan atas badan sel atau perikariyon,
nukleus, dendrite, akson hillock, akson (neurit), mielin sheath (Schwan cell)
dan nodus renvier. Perikariyon adalah bagian neuron yang mengandung
nukleus yang mengandung nukleus atau kariyon. Dendrit atau neuron adalah
adalah lanjutan dari perikariyon. Akson mempunyai percabangan yang
berasal dari badan akson utama. Cabang-cabang dan ujung akson terbagi lagi
menjadi banyak cabang yang melakukan kontak dengan dendrit, badan sel
syaraf yang lain, otot atau organ dalam (Kay, 1998).
Hewan tingkat tinggi komunikasi intrasel yang sangat kompleks dan
cepat tersebut ditengahi oleh impuls-impuls saraf. Neuron-neuron (sel-sel
saraf) secara elektik menghantar sinyal (impuls) melalui bagian saraf yang
terjulur memanjang (sekitar 1 mm pada hewan yang berukuran besar). Impuls
tersebut gelombang-gelombang berjalan yang berbentuk arus-arus ion.
Transmisi sinyal antara ion-ion dan antara neuron otot (juga neuron kelenjar)
seringkali dimediasi secara kimiawi oleh neotransmitter (Gunawan, 2002).
Reflek spinal pada katak secara sederhana hanya meliputi dua bagian,
yaitu neuron sensori dan neuron motorik yang terdapat pada bagian ventral
yang kedua-duanya dihubungkan secara langsung oleh spinal cord. Neural
merupakan bagian dari suatu saraf spinal dan menjulur ke dalam sumsum
tulang belakang. Tempat neuron bersinaps dengan interneuron-interneuron
meneruskan impuls eteren yang menjulur dari sumsum tulang belakang dan
membuat impuls kembali ke sekelompok otot ekstensor (Bevelander, 1988).
Faktor-faktor yang mempengaruhi refleks spinal yaitu sebagai berikut:
1. Ada tidaknya stimulus
a. Rangsangan dari luar misalnya temperatur, kelembaban, sinar matahari,
tekanan, zat-zat yang terkandung dan lain sebagainya.
b. Rangsangan dari dalam misalnya dari makanan, oksigen, air, dan lain
sebagainya.
2. Berfungsinya sumsum tulang belakang
Sumsum tulang belakang mempunyai dua fungsi yang penting yaitu
untuk mengatur impuls dari dan ke otak dan sebagai pusat refleks, dengan
adanya sumsum tulang belakang maka pasangan saraf spinal dan kranial
menghubungkan tiap reseptor dan efektor dalam tubuh sampai terjadi respon.
Apabila sumsum tulang belakang telah rusak total maka tidak ada lagi efektor
yang menunjukan respon terhadap stimulus/rangsang (Ville et al., 1988).
Sumsum tulang belakang pada katak dapat mengatur lintasan kompleks
dan cepat tanggap jika terdapat gangguan. Kapasitas yang luar biasa dari
sumsum tulang belakang mungkin berasal dari modular kontrol yang sama.
Pengontrol spinal dapat diatur dengan set kecil primitif dan generator pola.
Seberapa dampak modularitas fleksibel perilaku motor muncul dan
berkembang dan interaksi otak dan sumsum tulang belakang. Dasar saraf dari
modularitas mempengaruhi perkembangan keterampilan gerakan dan
menentukan seberapa fleksibel sistem saraf berupaya dengan cedera dan
penuaan (Hart dan Simon, 2010).


IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan
bahwa :
1. Refleks spinal pada katak sangat bergantung pada pusat koordinasinya
yaitu sumsum tulang belakang. Ketika sumsum tulang belakangnya
dirusak sedikit demi sedikit maka respon yang diberikan katak pun
semakin melemah bahkan tidak ada ketika pemberian rangsang fisik
maupun kimia. Urutan mekanisme refleks spinal berturut-turut adalah
impuls, syaraf sensoris, medulla spinalis, syaraf motorik yang
mengekspresikan efek.


DAFTAR REFERENSI
Bevelander, G. 1988. Dasar-Dasar Histologi. Erlangga, Jakarta.
Campbell, N.A. Jane B. Reece and Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi. edisi 5.
jilid 3. Alih Bahasa: Wasman manalu. Erlangga. Jakarta.
Frandson, F. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press, Yogyakarta.
Gunawan, A. 2002. Mekanisme Penghantaran Dalam Neuron (Neourotransmisi).
Integral, 7 (1) : 38-43.
Hart. C.B. and Simon, F.G. 2010. A Neural Basis for Motor Primitive in The
Spinal Cord. College of Medicine and School of Bioengginering and
Health Science , Drexel University, Phidadelphia.
Johnson, D. R. 1984. Biology an Introduction. The Benjamin Cummings
Publishing Co.Inc, New York
Kay, I. 1998. Introduction to Animal Physiology. Bios Scientific Publisher
Limited, Spinger-Verlag New York, USA.
Kimball, J. W. 1988. Biologi II. Erlangga, Jakarta.
Lemay, A.M., H. Nevile, and E. Bizzi. 1996. Recruitment Modulation of Force
Fields Organized in the Frog's Spinal Cord. Departments of Mechanical
Engineering and Brain & Cognitive Sciences, Massachusetts Institute of
Technology, Cambridge, MA 02 139.
Pearce, E. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.
Prawirohartono, S. 1990. Buku Pelajaran Biologi Jilid II. Erlangga, Bandung.
Storer,T.I, Walker, W.F and Barnes, R.D.1988. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta.
Villee, C.A,W.F. Walker and R.D. Barnes. 1988. General Zoology. W.B.
Saunders Company, Philadelphia