Anda di halaman 1dari 10

L

s
= panjang spiral
C
s
= koreksi spiral dalam detik
C
s
= 0,0031
s
3
.

iii) y
i
= jarak titik i pada garis tangent ke titik I pada busur spiral.

Y
i
=


l
i
sin
i
Bila titik I = SC, maka l
i
= L
s


X
6
= X
s
= L
s
-


L
s
cos
c

y
6
= y
s
=


L
i
sin
c
dimana :

c
=
1
/
3
.
s
C
s


Setelah data tersebut dihitung pada setiap titik, maka prosedur pengukuran adalah sebagai berikut :
Bila arah garis tangent (dari TS ke PI) sudah diketahui, maka :
Berdirikan alat di TS, arahkan ke PI.
Kemudian ukurkan jarak-jarak x
i
sehingga didapat titik-titik i.
Dari titik-titik I, dibuat garis garis yang tegak lurus pada garis tangen, atau sudut-sudut
sebesar 90
o
, kemudian diukurkan jarak-jarak y
i
, sehingga didapat titik-titik I pada busur
spiral.


7.6.3. BILA ADA RINTANGAN PADA LENGKUNGAN.

Dapat saja terjadi dilapangan adanya rintangan pada lengkungan apakah pada busur
lengkungan lingkaran ataupun spiral.pembahasan di bawah ini, di;akukan untuk pematokan
busur lingkaran dengan cara polar atau sudut defleksi, bila ada rintangan berupa bangunan atau
massa lainnya.
Untuk lengkungan spiral tidak dibahas, karena prinsipnya sama saja.

1). Bila ada bangunan disekitar as/sumbu

Seperti pada cara Bab 7.6.1.4. pematokan busur lingkaran, dapat dilakukan sampai titik 3 dari
titik TC.
Kemudian alat dipindahkan ke ttitik 3, arahkan ke titik TC, putar 180
o
(perpanjang ara TC 3),
kemudian buat sudut defleksi yang besarnya sama dengan sudut defleksi dari titik TC, ketitik 3,
ditambah /2, yaitu 4/2, maka akan didapat titik 4.
Bila titik 5 dan TC hanya dengan menambahkan sudut /2 dan .
Dimana :

Sin /2 =





a = panjang tali busur ( jarak antara titik ).
R
c
= jari-jari lingkaran.
Secara umum, bila pematokan hanya dapat dilakukan sampai dengan titik I, maka di titik I
tersebut, alat dibuat sudut sebesar (i+1) /2 dengan jarak a, maka akan didapat titik (i+1). Dan
titik Ct dapat ditentukan dari titik TC dengan membuat sudut
1
/
2

c
dari arah tangen ( TC Pi )
dan jarak TC ke CT = 2 R
c
sin
1
/
2

c
.


Gmbr.7.16a. rintangan disekitar as jalan.

Juga titik CT dapat ditentukan dari titik PI dengan membuat sudutr ( 180
o
+
c
) dari arah
TC dan jarak PI ke CT sebesar TC = R
e
tg
1
/
2

c
.
2). Bila bangunan tepat pada as/sumbu.

Bila rintangan ternyata tepat pada as sumbu, missal rintangan tersebut merupakan
bangunan yang terletak pada sumbu lingkaran, maka patokannya hanya titi-titik yang tidak
melintasi bangunan tersebut.
Pertama-tama dipasang dahulu titik-titik TC, PI, dan CT.
Kemudian dengan cara sudut defleksi dari titik TC dan CT dipatok titik-titik 1,2,5 dan 6.
Sedangkan titik-titik 3 dan 4 tidak perlu dipasang.

Jarak antara titik = a meter ( 5-12 meter ).
Sedangkan sudutnya sin
1
/
2
= a/2 R
c
.

Untuk menggantikan titik 3 dan 4 , maka dibuatkan titik P dan Q disisi bangunan, dari TC dan CT
adalah masing-masing dan , dimana :

Sin
1
/
2
= p/2 R
c
.
Sin
1
/
2
= q/2 R
c
.

Jadi dan dapat dihitung.

3). Bila bangunan terletak pada titik TC atau CT

Bila bangunan terletak pada titik TC atau CT, maka pematokannya dilakukan dari titik CT atau
TC dengan cara sudut defleksi, dan ditambah titik-titik lain di sekitar bangunan dan pada garis
tangen, untuk menentukan nomor-nomor stasion.
Pada gambar 7.16c. penentuan titik 1,2,3,4 dan 5 ditentukan dari titil Ct dengan cara sudut
defleksi.





Kemudian alat diletakkan di titik 2, arahkan ke CT, buat sudut sebesar = { 180
o

1
/
2
(
c
+ )},
maka akan didapat titik Q, ukur jarak 2-Q, dan setelah titik Q didapat, tentukan titik R dengan
jarak QR =2p = ( R
c
R
c
cos ) dan sudut 90
o
, karena garis PR dibuat sejajar dengan garis 2-Q.
Untuk cheking stationing, maka :














STA R = STA.2

- ( 2Q R
c
sin )

o
= 57,296
o




Pada gambar 7.16d titik CT tidak dapat dilaksanakan, maka seperti pada gambar 7.16c , dibuat
garis 4-Q sejajar PR.

Setelah titik-titik 1,2,3,4 dan 5 dipatok dari titik TC dengan cara sudut defleksi, maka berdirikan
alat di titik 4, arahkan ke titik TC, kemudian putar teropong dengan membuat sudut sebesar
= {180
o
+
1
/
2
( + )}, sehingga didapat titik Q. ukur jarak 4-Q. setelah titik Q didapat, ukurkan
sudut 90
o
dan jarak QR = 4P = ( R
c
R
c
cos ) maka didapat titik R pada garis tangen PI CT.

Untuk checking stationing, maka :

STA R = STA.4 +

- ( 4Q R
c
sin )

o
= 57,296
o




7.7. PEMATOKAN LENGKUNG VERTIKAL

Sebelum melakukann pematokan lengkung vertikal, lakukan dahulu pematokan
kelandaian, misalnya patok 1,2,3.dst. adalah patok pada as sumbu yang berjarak
setiap 50 m. tinggi titik 1 telah diketahui ( sta.0+000) = t
1
m.
Di titik 1 menurut peta perencanaan harus digali sedalam x meter. Jadi tinggi rencana titik 1 = T
1

= t
1
x.
Rencana kelandaian adalah g % dari rancana kelandaian ini,dapat dihitung tinggi rencana titik 2(
Sta. 0+ 050), yaitu : T
2
= T
1
+ g/100x50.
Demikian juga titik 3 (Sta. 0+100), dan selanjutnya untuk titik 3 :



T
3
= T
1
+

x 100

Untuk titik n :

T
n
= T
1
+

x d
n
, dimana d
n
= jarak dari titik 1 ketitik n.

Setelah mengetahui tinggi rencana dari titik-titik station, maka dilakukan pengukuran beda
tinggi, dengan cara tinggi garis bidik.
Rambu-rambu ukur diletakkan pada titik-titik stasion 1,2,3 . . . . . . . . . n.

Jadi tinggi garis bidik adalah tg
b
= t
1
+ a.
Dapat dihitung tinggi titik-titik 2,3,4 . . . . . . . . . n, adalah :

t
2
= tg
b
b
t
3
= tg
b
c
t
4
= tg
b
d

t
n
= tg
b
z

kemudian dibandingkan dengan tinggi rencana titik-titik stasion 2,3,4, . . . . . . . .n.

bila T
n
> t
n
maka pada titik n, ditulis :

F = T
n
t
n
atau fiil ( timbunan ) = ( T
n
t
n
)m.

bila T
n
< t
n
maka pada titik n, ditulis :

C = t
n
T
n
atau cut ( galian ) = ( t
n
T
n
)m.

Dimana :

T
n
= tinggi rencana titik n

t
n
= tinggi permukaan tanah asli titik n.

rumus-rumus hitungan diatas, berlaku pula untuk kelandaian yang menurun ( negatif ).

Gambar 7.17b. adalah propel jalan dengan rencana kelandaian negative

Lebih dahulu , hitung tinggi rencana titik-titik 4,5,6 (T
n
), kemudian dengan cara tinggi
garis bidik, dihitung tinggi permukaan tanah titik-titik 4,5,6 ( T
n
), sehingga dapat dihitung galian
atau timbunan pada titik-titik tersebut.
Dengan cara yang sama, bila pada peta dasar perencanaan,ada stasion-stasion PLV,PVI, dan
PTV, maka pada stasion-stasion tersebut dipasang patok selain stasion-stasion tiap 25-50 m.
Gambar 7.17c. adalah gambar rencanan lengkungan vertikal cembung. Biasanya dari peta dasar
perencanaan ada data-data lengkungg sebagai berikut :

t
PVI
= tinggi rencana titik PVI
g
1
dan g
2
(%) = kelandaian rencana
L
v
= panjang horizontal lengkung vertical, atau jarak dari Sta.PLV ke Sta. PTV

Data-data tersebut diatas, dapat dihitung tinggi rencana titik-titik 18,19,dan 20 (T
n
) dengan cara
sebagai berikut :

T
16
( = T
PLV
) = T
PVI
-



T
20
( = T
PTV
) = T
PVI
+



Dan titik-titik 17,18, dan 19, dihitung dengan rumus :

T
1
= T
PLV

+

+ Y
Hitung dari titik PLV, dan
T
1
= T
PTV

-

+ Y
Hitung dari titik PTV, dimana :
X = jarak mendatar suatu titik di lengkungan dari titik PLV atau PTV.
Y =

. X
2
( dalam meter )

A = g
2
g
1
( dalam % )
Didapat dengan menghitung, tinggi rencana titik-titik pada , kemudian dilakukan pengukuran
tinggi dengan cara tinggi bidik, sehingga dapat dihitung tinggi titik-titik pada permukaan tanah,
dalamnya galian atau tingginya timbunan untuk setiap titik.

Gbr. 7.17c. Pematokan vertikal lengkung cembung.
Identik bila dilakukan untuk perhitungan lengkung vertikal cekung ( gambar.7.17d.) dalam
menentukan/menghitung tinggi rencana titik-titik pada lengkungan. Yaitu 23,24,25,26 dan 27 (
T
n
), didapat digunakan rumus-rumus seperti di atas.

Supaya pekerjaan penggalian dan penimbunan berjalan lancar, hendalnya pada waktu
pematokan vertikal, patok tersebut di beri cat warna yang berlainan. Misallnya untuk patok
yang harus digali menggunakan warna kuning, sedangkan untuk patok yang harus ditimbun
menggunakan warna merah atau menambahkan patok bambo disebelah patok merah tersebut,
setinggi timbunan.
Pada patokan pinggir jalan ( untuk membuat badan jalan ) dapat dilakukan bersama-sama
pematokan as jalan, dengan rencana diagram superelevasi. Dari diagram superelevasi dapat
dihitung tinggi rencana titik-titik dipinggir tersebut. Dengan cara yang sama pada pematokan as
jalan, dapat juga patok pinggir jalan tersebut.


Pada waktu pelaksanaan pekerjaan tanah berupa galian dan timbunan, maka dilakukan pula
pengukuran profil memanjang sepanjang as dan pinggir/tepi jalan untuk memeriksa apakah
sudah betul atau belum bentuk propil jalan tersebut agar benar-benar sesuai dengan rancangan
bentuk propil perencanaan lengkung jalan.