Anda di halaman 1dari 6

PROFESI merupakan pekerjaan yang di dalamnya memerlukan sejumlah persyaratan yang

mendukung pekerjaannya. Karena itu, tidak semua pekerjaan menunjuk pada sesuatu profesi.
Untuk memahami lebih dalam,
a. Menurut Prayitno (1994:338), Profesi adalah Suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut
keahlian dari para petugasnya. Artinya pekerjaan yang disebut profesi itu tidak bisa dilakukan
oleh orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus terlebih dahulu untuk
melakukan pekerjaan itu.
b. Profesi adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber
penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang
memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. (UU
No.14 Tahun 2005 Pasal 1 Butir 4).

menurut Robert W. Richey sebagaimana dikutip oleh Suharsimi Arikunto, memberi batasan
ciri-ciri yang terdapat pada profesi. Pertama, lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan
yang ideal dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Kedua, seorang pekerja profesional,
secara relatif memerlukan waktu yang panjang untuk mempelajari konsep-konsep serta
prinsip-prinsip pengetahuan khusus yang mendukung keahliannya. Ketiga, memiliki
kualifikasi tertentu untuk memasuki profesi tersebut serta mampu mengikuti perkembangan
dalam pertumbuhan jabatan. Keempat, memiliki kode etik yang mengatur keanggotaan,
tingkah laku, sikap dan cara kerja. Kelima, membutuhkan suatu kegiatan intelektual yang
tinggi. Keenam, adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar palayanan, disiplin diri
dalam profesi, serta kesejahteraan anggotanya. Ketujuh, memberikan kesempatan untuk
kemajuan, spesialisasi dan kemandirian, dan kedelapan, memandang profesi sebagai suatu
karier hidup (a live career) dan menjadi seorang anggota yang permanen.[1]
Di lain pihak, D. Westby Gibson (1965) dalam Suharsini Arikuto, juga membuat ciri-ciri
khusus apa yang sebenarnya dimaksud sebuah profesi itu. Ia menjelaskan ada empat ciri yang
melekat pada profesi, yaitu; Pertama, pengakuan oleh masyarakat terhadap layanan tertentu
yang hanya dapat dilakukan oleh kelompok pekerja dikategorikan sebagai suatu profesi.
Kedua, dimilikinya sekumpulan bidang ilmu yang menjadi landasan sejumlah teknik dan



prosedur yang unik. Ketiga, diperlukannya persiapan yang sengaja dan sistematik sebelum
orang mampu melaksanakan suatu pekerjaan profesional dan keempat, dimilikinya organisasi
profesional yang disamping melindungi kepentingan anggotanya dari saingan kelompok luar,
juga berfungsi tidak saja menjaga, akan tetapi sekaligus selalu berusaha meningkatkan
kualitas layanan kepada masyarakat, termasuk tindak-tindak etis profesional kepada
anggotanya.[2]
Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh W.E Moore dalam bukunya The Professions:
Roles and Roles, seperti yang dikutip oleh Oteng Sutisna, bahwa Moore
mengidentifikasikan profesi itu memiliki ciri-ciri antara lain; pertama, seorang yang
menggunakan waktu penuh untuk menjalankan pekerjaannya. Kedua, ia terikat oleh suatu
panggilan hidup, dan dalam hal ini ia memperlakukan pekerjaannya sebagai seperangkat
norma kepatuhan dan perilaku. Ketiga, ia anggota organisasi profesional yang formal.
Keempat, ia menguasai pengetahuan yang berguna dan ketrampilan atas dasar latihan
spesialisasi atau pendidikan yang sangat khusus. Kelima, ia terikat oleh syarat-syarat
kompetensi, kesadaran prestasi, dan pengabdian. Keenam, ia memperoleh ekonomi
berdasarkan spesialisasi teknis yang tinggi sekali.[3]
Dalam perspektif Ernest Grennwood dalam bukunya yang terkenal The Elements of
Profeseonalization, seperti yang dikemukakan oleh Sutisna bahwa profesi mempunyai
beberapa unsur-unsur esensial.[4] Pertama, suatu dasar teori sistematis. Kedua, kewenangan
(authority) yang diakui oleh klien. Ketiga, sanksi dan pengakuan masyarakat atas
kewenangan ini. Keempat, kode etik yang mengatur hubungan-hubungan dari orang-orang
profesional dengan klien dan teman sejawat, dan kelima, kebudayaan profesi yang terdiri atas
nilai-nilai, norma-norma dan lambang-lambang.
Di bidang pendidikan, juga dilakukan usaha untuk menguraikan unsur-unsur esensial profesi
itu. Komisi Kebijaksanaan Pendidikan NEA Amerika Serikat (Educational Policies
Commision of the NEA, Professional Organazations in American Education), misalnya







menyebut enam kreteria bagi profesi di bidang pendidikan. Pertama, profesi didasarkan atas
sejumlah pengetahuan yang dikhususkan. Kedua, mengejar kemajuan dalam kemampuan
para anggotanya. Ketiga, profesi melayani kebutuhan para anggotanya akan kesejahteraan
dan pertumbuhan profesional. Keempat, profesi memiliki norma-norma etis. Kelima, profesi
mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah di bidangnya, yakni mengenai perubahan-
perubahan dalam kurikulum, struktur organisasi pendidikan, persiapan profesional dan
seterusnya, dan keenam, profesi memiliki solidaritas kelompok profe si.
Masih mengenai ciri-ciri profesi, menurut Supriadi, bahwa profesi paling tidak memiliki lima
ciri pokok, yaitu pertama, pekerjaan itu mempunyai fungsi dan signifikansi sosial karena
diperlukan mengabdi kepada masyarakat. Di pihak lain, pengakuan masyarakat merupakan
syarat mutlak bagi suatu profesi, jauh lebih penting dari pengakuan pemerintah. Kedua,
profesi menuntut ketrampilan tertentu yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang
serius dan intensif serta dilakukan dalam lembaga tertentu yang secara sosial dapat
dipertanggung-jawabkan (accountable). Proses pemerolehan ketrampilan itu bukan hanya
rutin, melainkan bersifat pemecahan masalah. Jadi dalam suatu profesi, independent
judgment berperan dalam mengambil putusan, bukan sekedar menjalankan tugas.
Ketiga, profesi didukung oleh suatu disiplin ilmu (a systematic body of knowledge), bukan
sekedar serpihan atau hanya common sense. Keempat, ada kode atik yang menjadi pedoman
perilaku anggotanya beserta sanksi yang jelas dan tegas terhadap pelanggar kode etik.
Pengawasan terhadap ditegakkannya kode etik dilakukan oleh organisasi profesi. Kelima,
sebagai konsekuensi dari layanan yang diberikan kepada masyarakat, maka anggota profesi
secara perorangan ataupun kelompok memperoleh imbalan finansial atau material.[5]


2. Ciri Ciri Profesi
Suatu jabatan atau pekerjaan disebut profesi apabila ia memiliki syarat syarat atau ciri ciri
tertentu. Syarat syarat atau ciri ciri dari suatu profesi.
a. Menurut McCully (1963),Tolbert(1972), dan Nugent(1981) dalam Prayitno (1994:339)
dapat dirangkum secara garis besarnya ciri-ciri dari suatu profesi adalah sebagai berikut :



1) Suatu profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang memiliki fungsi dan
kebermaknaan sosial yang sangat menentukan.
2) Untuk mewujudkan fungsi tersebut pada butir diatas para anggotanya (petugasnya dalam
pekerjaan itu) harus menampilkan pelayanan yang khusus yang didasarkan atas teknik-teknik
intelektual dan keterampilan keterampilan tertentu yang unik.
3) Penampilan pelayanan tersebut bukan dilakukan secara rutin saja, melainkan bersifat
pemecahan masalah atau penanganan situasi kritis yang menuntut pemecahan dengan
menggunakan teori dan metode ilmiah.
4) Para anggotanya mempunyai kerangka ilmu yang sama yaitu yang didasarkan pada ilmu
yang jelas, sistematis, dan eksplisit. Bukan hanya didasarkan atas akal sehat belaka.
5) Untuk dapat menguasai kerangka ilmu itu diperlukan pendidikan dan pelatihan dalam
jangka waktu yang cukup lama.
6) Para anggotanya secara tegas dituntut memiliki kompetensi minimum melalui prosedure
seleksi, pendidikan dan latihan, serta lisensi ataupun sertifikasi.
7) Dalam menyelenggarakan kepada pihak yang dilayani, para anggota memiliki kebebasan
dan tanggung jawab pribadi dalam memberikan pendapat dan pertimbangan serta membuat
keputusan tentang apa yang akan dilakukan berkenaan dengan penyelenggaraan pelayanan
professional yang dimaksud.
8) Para anggotanya, baik perorangan maupun kelompok, lebih mementingkan pelayanan yang
bersifat sosial dari pada pelayanan yang mengejar keuntungan yang bersifat ekonomi.
9) Standar tingkah laku bagi anggotanya dirumuskan secara tersurat (eksplisit) melalui kode
etik yang benar-benar diterapkan, setiap pelanggaran terhadap kode etik dapat dikenakan
sanksi tertentu.
10) Selama berada dalam pekerjaan itu, para anggotanya terus-menerus berusaha menyegarkan
dan meningkatkan kompetensinya dengan jalan mengikutisecara cermat literatur dalam
bidang perkerjaan itu, menyelenggarakan dan memahami hasil-hasil riset serta berperan serta
secra aktif dalam pertemuan-pertemuan sesama anggota.
b. Menurut Prayitno ciri-ciri profesi dalam bidang apapun didasarkan pada Trilogi Profesi
yang terdiri dari : 1) Kompenen dasar keilmuan , 2) Komponen subtansi profesi, 3)
Komponen praktik profesi.
c. Menurut D. Westby Gibson (1965) dalam Suharsini Arikuto, ciri-ciri khusus yang
sebenarnya dimaksud sebuah profesi. Ia menjelaskan ada empat ciri yang melekat pada
profesi, yaitu; Pertama, pengakuan oleh masyarakat terhadap layanan tertentu yang hanya
dapat dilakukan oleh kelompok pekerja dikategorikan sebagai suatu profesi. Kedua,
dimilikinya sekumpulan bidang ilmu yang menjadi landasan sejumlah teknik dan prosedur
yang unik. Ketiga, diperlukannya persiapan yang sengaja dan sistematik sebelum orang
mampu melaksanakan suatu pekerjaan profesional dan keempat, dimilikinya organisasi
profesional yang disamping melindungi kepentingan anggotanya dari saingan kelompok luar,
juga berfungsi tidak saja menjaga, akan tetapi sekaligus selalu berusaha meningkatkan
kualitas layanan kepada masyarakat, termasuk tindak-tindak etis profesional kepada
anggotanya.

Dari formulasi-formulasi tentang pengertian dan ciri-ciri profesi tersebut di atas, walaupun
dalam kata-kata yang berbeda, pada hakikatnya memperlihatkan persamaan yang besar dalam
substansinya. Kiranya dapat di simpulkan bahwa profesi ideal memiliki ciri atau unsur
sebagai berikut.
a. Suatu dasar ilmu atau teori sistematis
b. Kewenangan profesional yang diakui oleh klien
c. Sanksi dan pengakuan masyarakat akan keabsahan kewenangannya
d. Kode etik yang regulatif
e. Kebudayaan profesi, dan
f. Persatuan profesi yang kuat dan berpengaruh
[1] Suharsimi Arikunto, 1993. Manajeman Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta: Rineka
Cipta. hal. 235-236.
[2] Suharsimi Arikunto, (1993), Ibid. hal. 236.
[3] Sutisno, Oteng, 1993. Administrasi Pendidikan; Dasar Teoritik Untuk Praktek






Profesional, Bandung: Angkasa hal. 303-304.
[4] Sutisno, Oteng, 1993. Ibid., hal. 304.
[5] Supriadi, Dedi, 1998. Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Yogyakarta: Adicita Karya
Nusa. hal. 96-97.