Anda di halaman 1dari 20

Islam dan Kesehatan Gigi

Kata orang, kesehatan itu mahal. Tetapi, peringatan itu belum


banyak berguna, sebab kenyataannya tidak sedikit orang yang
mengabaikan kesehatan. Mereka baru menyadari betapa berharga
kesehatan ketika jatuh sakit. Penyesalan selalu datang terlambat.
Kesehatan sering dikaitkan dengan kebersihan. Maka menjaga
kesehatan sedikit banyaknya dapat dilakukan dengan menjaga
kebersihan itu sendiri. Lingkungan yang sehat diraih dengan
bersihnya lingkungan. Makanan yang sehat salah satu tandanya
adalah bersihnya makanan tersebut. Begitu juga halnya gigi yang
sehat, ia hanya dapat diraih dengan membersihkannya secara rutin.
Kita sering mengabaikan persoalan kecil. Kita lupa bahwa persoalan
besar berawal dari hal yang kecil. Kebakaran misalnya, sering
disebabkan oleh api kecil dari lilin. Efeknya bisa menghanguskan
ratusan rumah. Menggosok gigi menjelang tidur di malam hari
adalah hal sepele yang sering diabaikan. Tetapi, ketika gigi rusak,
makanan paling enak sekalipun bisa kehilangan kenikmatannya.
Apapun yang kita makan masuk ke dalam lubang gigi yang rusak,
dan itu hanya menghadirkan rasa nyeri di dalamnya.
Ketika sakit gigi menyerang, makan tidak enak, tidur tidak
nyenyak, bahkan emosi susah dikontrol. Dalam keadaan sakit gigi,
sebagian orang marah kalau diajak bicara. Sebagian yang lain
bahkan tidak sanggup mendengar kokok ayam. Ia akan mengejar
ayam itu sebagai pelampiasan kemarahannya. Padahal itu tidak
menyembuhkan rasa nyeri di gigi.
Sekalipun zaman sekarang menawarkan ragam merek obat
sakit gigi, namun itu bukanlah pilihan yang ideal. Obat memang
dapat menyembuhkan sakit untuk jangka pendek, tetapi jika
dikonsumsi terus-menerus juga tidak sehat. Obat bisa mengurangi
kekebalan tubuh terhadap penyakit itu. Lama-kelamaan, minum obat
sakit gigi tidak akan mampu menyembuhkannya lagi. Jadi, obat
bukanlah segalanya.
Oleh sebab itu, mencegah sakit gigi dengan menjaga
kebersihan gigi secara teratur tentu lebih baik daripada
mengobatinya. Walaupun terasa berat, ia harus dibudayakan sebisa
mungkin. Pekerjaan merawat memang berat, tetapi selalu saja
mendatangkan keuntungan yang lebih besar. Ini yang kurang kita
sadari.

Pandangan Islam
Menjaga kebersihan gigi merupakan keniscayaan yang tidak
dapat ditawa-tawar lagi. Bukan cuma untuk mencegah sakit gigi
ataupun bau nafas yang kurang sedap, melainkan lebih dari itu,
kebersihan merupakan anjuran agama Islam. Bukankah kita sering
mendengar hadis nabi, kebersihan itu sebagian (bukan setengah)
dari iman? Menjaga kebersihan mendatangkan pahala bagi yang
melakukannya.
Sayang, umumnya umat Islam (muslim) khususnya di Aceh
sejauh ini belum berpegang pada sumber ajaran agamanya. Banyak
orang Aceh yang masih menebar kekotoran di mana-mana. Anjuran
buang sampah pada tempatnya belum banyak berpengaruh pada
peningkatan kesadaran menjaga kebersihan. Parahnya, rumah-rumah
ibadah pun yang sebenarnya digunakan untuk mengabdi pada
Tuhan masih jauh dari anjuran Islam. Allah mencintai orang yang
bertaubat dan orang yang bersih. Begitu firman Allah dalam Al-
Quran. Akan tetapi, mengapa toilet mesjid dan mushalla di Aceh
jarang kita temukan bersih. Ini namanya mengangkangi ajaran
agama. Tidak ada gunanya berkoar bahwa Aceh negeri syariat
selama kebersihan masih menjadi persoalan yang tak kunjung
selesai.
Terkait kesehatan gigi, Islam jauh-jauh hari sudah
menegaskan pentingnya menjaga kebersihan gigi (mulut) yang
tertuang dalam hadits dan kitab-kitab karya ulama terdahulu.
Membersihkan gigi atau yang dikenal dengan siwak hukumnya
sunnah. Para ulama menegaskan siwak sangat disunnahkan pada tiga
situasi. Pertama, ketika mulut terasa bau, ketika bangun tidur, dan
ketika hendak melaksanakan shalat.
Pentingnya kesehatan gigi ditegaskan Rasulullah dalam
sebuah hadits, Sekiranya aku tidak memberatkan umat, niscaya akan
kuwajibkan kepada mereka menggosok gigi setiap kali ia berwudhu.
(H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad). Ini menunjukkan bahwa Islam tidak
menyepelekan kesehatan gigi. Berapa orang yang menyadari hal ini?
Islam menyadari bahwa mulut merupakan pintu masuk
berbagai penyakit yang bersumber dari makanan yang kita makan
setiap hari. Gigi dan mulut adalah awal mula segala pencernaan,
karena itulah gigi sangat berhubungan dengan organ tubuh lainnya.
Tidak banyak orang menyadari sakit gigi bisa memicu timbulnya
penyakit lain yang berbahaya.
Dari beberapa studi dilaporkan adanya hubungan antara
penyakit gigi dengan penyakit jantung koroner, aterosklerosis,
pneumonia, diabetes dan kelahiran prematur. Bahkan berdasarkan
informasi statistik salah satu Rumah Sakit di Indonesia(2005),
penyakit gigi dapat menyebabkan kematian. Banyak orang tidak
menyangka bahwa penyakit lain yang mereka derita berasal dari gigi
dan mulut yang tidak sehat. Seseorang belum dikatakan sehat
selama rongga mulut dan gigi tidak sehat, sekalipun tubuh orang itu
segar bugar.
Anjuran Islam menyuruh gosok gigi merupakan awal yang
baik bagi upaya pencegahan sakit gigi. Apalagi resiko berat yang
ditimbulkan oleh sakit gigi. Dari segi ekonomi, mengobati penyakit
memakan biaya yang besar. Sedang pencegahannya hanya
membutuhkan kedisiplinan dan konsisten untuk berbuat. Mari kita
meninggalkan pola hidup kotor dan menggantinya dengan pola
hidup bersih. Bersih hati, makanan, pakaian, maupun gigi. Beginilah
pola hidup sehat yang dianjurkan Islam.

Cut Chairun Nisa
0907101110003
Program Studi Kedokteran gigi/Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala
KITAB : ATH-THAHARAH / BERSUCI ; BAB : SIWAK
(GOSOK GIGI)
28 Oktober, 2009 rakean bagus minda raksadipa
142. Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Andaikan
aku tidak khawatir memberatkan pada umatku (atau pada orang-
orang) pasti aku perintahkan atas mereka bersiwak (gosok gigi) tiap
akan shalat. (Bukhari, Muslim).
143. Abu Musa r.a. berkata: Aku datang kepada Nabi saw. maka aku
melihat beliau sedang bersiwak dengan kayu ara yang ada di
tangannya sampai berkata: Uk, uk, sedang kayu siwak masih di
tangannya seakan beliau berusaha muntah. (Bukhari, Muslim).
144. Hudzaifah r.a. berkata: Biasa Nabi saw. jika bangun tengah
malam langsung menggosok giginya dengan siwak (gosok gigi).
(Bukhari, Muslim).
http://bukharimuslim.wordpress.com/2009/10/28/kitab-ath-thaharah-
bersuci-bab-siwak-gosok-gigi/

Kesehatan dalam Pandangan Islam
Kesehatan merupakan aset kekayaan yang tak ternilai. Ketika
nikmat kesehatan dicabut oleh Allah SWT, maka manusia rela
mencari pengobatan dengan biaya yang mahal bahkan ke tempat
yang jauh sekalipun. Sayangnya, hanya sedikit orang yang peduli dan
memelihara nikmat kesehatan yang Allah SWT telah anugerahkan
sebelum dicabut kembali oleh-Nya.
Islam memiliki perbedaan yang nyata dengan agama-agama
lain di muka bumi ini. Islam sebagai agama yang sempurna tidak
hanya mengatur hubungan manusia dengan Sang Khalik-nya dan
alam syurga, namun Islam memiliki aturan dan tuntunan yang
bersifat komprehensif1, harmonis, jelas dan logis. Salah satu
kelebihan Islam yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah perihal
perspektif Islam dalam mengajarkan kesehatan bagi individu maupun
masyarakat.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman :
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,
(daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang
tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam
binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan
(diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan
(diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi
nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-
orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab
itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa
sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang (QS. Al Maaidah, 5: 3).
Larangan mutlak Islam terhadap minuman keras narkotik, dan
obat-obatan perangsang sejenisnya, makan babi, bangkai, binatang
yang menjinjikkan, berzina, homoseksual makin menemukan
kesesuaian ilmiah empirik di masa modern sekarang disaat orang-
orang makin menyadari pentingnya pengaruh makanan, minuman,
dan gaya hidup terhadap kesehatan. Minuman beralkohol banyak
menimbulkan kerusakan pada organ tubuh seperti sistem saraf
pusat, otot, dan hepar. Alkohol juga dapat menaikan tekanan darah
yang diakibatkan kenaikan kadar kolesterol (hiperkolesterolemia).
Narkotik dan zat adiktif lainnya merusak bukan hanya fisik tapi juga
jiwa yang menggunakan. Makanan yang kini banyak mengandung
zat-zat aditif dinilai oleh para ahli memberikan pengaruh besar
terhadap timbulnya kanker. Contoh formalin yang disinyalir banyak
terdapat pada tahu, ikan, ikan asin, dan mie basah. Karena kecilnya
molekul ini memudahkan absorpsi dan distribusinya ke dalam sel
tubuh. Efek formalin terhadap organ tubuh yaitu dia akan bereaksi
dengan protein tubuh, maka membran sel, tulang rawan akan
mengeras, enzim, dan hormon akan berubah atau tidak berfungsi.
Kesehatan merupakan salah satu hak bagi tubuh manusia
demikian sabda Nabi Muhammad SAW. Karena kesehatan
merupakan hak asasi manusia, sesuatu yang sesuai dengan fitrah
manusia, maka Islam menegaskan perlunya istiqomah memantapkan
dirinya dengan menegakkan agama Islam. Satu-satunya jalan dengan
melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-
Nya. Allah berfirman:
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh-penyembuh bagi penyakit-
penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk dan rahmat bagi
orang-orangnya yang beriman (QS:Yunus 57).
Sehat menurut batasan World Health Organization adalah
keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Tujuan
Islam mengajarkan hidup yang bersih dan sehat adalah menciptakan
individu dan masyarakat yang sehat jasmani, rokhani, dan sosial
sehingga umat manusia mampu menjadi umat yang pilihan.
A.Kebersihan, membersihkan dan menyucikan diri.
1. Tubuh: Islam memerintahkan mandi bagi umatnya karena 23
alasan dimana 7 alasan merupakan mandi wajib dan 16 alasan
lainnya bersifat sunah.
2. Tangan: Nabi Muhammad SAW bersabda: Cucilah kedua
tanganmu sebelum dan sesudah makan , dan Cucilah kedua
tanganmu setelah bangun tidur. Tidak seorang pun tahu dimana
tangannya berada di saat tidur.
3. Islam memerintahkan kita untuk mengenakan pakaian yang bersih
dan rapi.
4. Makanan dan minuman: Lindungilah makanan dari debu dan
serangga, Rasulullah SAW sersabda: Tutuplah bejana air dan
tempat minummu
5. Rumah: Bersihkanlah rumah dan halaman rumahmu
sebagaimana dianjurkan untuk menjaga kebersihan dan keamanan
jalan: Menyingkirkan duri dari jalan adalah ibadah.
6. Perlindungan sumber air, misalnya sumur, sungai dan pantai.
Rasulullah melarang umatnya buang kotoran di tempat-tempat
sembarangan.
Perintah-perintah Rasulullah SAW tersebut di atas memiliki
makna bahwa kita harus menjaga kebersihan dan kesehatan agar
terhindar dari berbagai infeksi saluran pencernaan.
B.Penanggulangan dan penanganan epidemi penyakit
1. Karantina penyakit: Nabi Muhammad SAW bersabda: Jauhkanlah
dirimu sejauh satu atau dua tombak dari orang yang berpenyakit
lepra
2. Islam juga mengajarkan prinsip-prinsip dasar penanganan dan
penanggulangan berbagai penyakit infeksi yang membahayakan
masyarakat (misalnya wabah kolera dan cacar), Janganlah engkau
masuk ke dalam suatu daerah yang sedang terjangkit wabah, dan
bila dirimu berada di dalamnya janganlah pergi
meninggalkannya.
3. Islam menganjurkan umatnya melakukan upaya proteksi diri
(ikhtiar) dari berbagai penyakit infeksi, misalnya dengan imunisasi.
C. Makanan
Makan adalah aktivitas yang pasti dilakukan setiap manusia. Cara
dan pola makan sangat berpengaruh pada kesehatan jasmani,
bahkan rohani kita. Rasulullah Muhammad SAW telah mencontohkan
cara dan pola makan ideal yang membuatnya hanya pernah 3x sakit
selama hidupnya.
Prinsip yang selalu dipegang Rasulullah Muhammad terkait dengan
makanan adalah:
1. Hanya makan makanan yang Halal (diperbolehkan sesuai syariat)
dan Thayyib (baik gizi dan kandungannya).
2. Jangan pernah makan hingga terlalu kenyang.
3. Jangan tergoda makan lagi sesudah kenyang
4. Jangan makan melebihi sepertiga perut, karena sepertiga lainnya
adalah untuk minuman dan sepertiga terakhir untuk udara (nafas).
Beberapa kebiasaan Rasulullah SAW yang baik kita tiru:
1. Setelah subuh, Rasulullah SAW meminum segelas air yang
dicampur dengan sesendok madu asli;
2. Ketika masuk waktu dhuha, Rasulullah SAW selalu makan tujuh
butir kurma matang;
3. Menjelang sore hari, Rasulullah SAW mengkonsumsi cuka dan
minyak zaitun, tentu saja dikonsumsi dengan makanan pokok,
seperti roti
4. Di malam hari, menu utama Rasulullah SAW adalah sayur-sayuran;
5. Jika sedang berpuasa, Rasulullah SAW berbuka dengan segelas
susu dan kurma, kemudian sholat magrib;
6. Tidak makan lebih dari satu jenis makanan panas atau makanan
dingin secara bersamaan;
7. Tidak makan ikan dan daging dalam satu waktu;
8. Tidak langsung tidur setelah makan;
9. Tidak terlalu banyak makan daging.
Rasulullah saw membuka menu sarapannya dengan air dingin
yang dicampur dengan madu. Dalam Al Quran, madu merupakan
syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim nakiroh, menunjukkan
arti umum dan menyeluruh. Pada dasarnya madu bisa menjadi obat
atas berbagai penyakit. Madu berfungsi untuk membersihkan
lambung, mengaktifkan usus-usus, dan menyembuhkan sembelit,
wasir, luka bakar, dan peradangan.
Tujuh butir kurma ajwa (matang) menjadi kebiasaan Rasulullah
saw menjelang siang. Beliau pernah bersabda, Barang siapa yang
makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun. Hal ini
terbukti ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam
makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang
Khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa dinetralisir
oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Sementara itu Bisyir ibu
al Barra, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tersebut
akhirnya meninggal, tetapi Rasulullah saw selamat dari racun
tersebut. Rahasianya adalah tujuh butir kurma yang biasa dikonsumsi
Rasulullah saw.
Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan
minyak zaitun. Tentu saja tidak hanya cuka dan minyak zaitun, tetapi
dikonsumsi dengan makanan pokok seperti roti. Manfaatnya banyak
sekali, diantara mencegah lemah tulang, kepikunan, melancarkan
sembelit, menghancurkan kolesterol, dan melancarkan pencernaan.
Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah
sayur- sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan
fungsi yang sama, yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan
melindunginya dari serangan penyakit.
Setelah makan malam Rasulullah tidak langsung tidur. Beliau
beraktivitas
terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung
dengan cepat dan mudah dicerna. Caranya bisa juga dengan shalat.
Rasulullah saw bersabda: Cairkan makanan kalian dengan berdzikir
kepada Allah dan shalat, serta janganlah kalian langsung tidur
setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras.
1. Makanan yang diharamkan.
Firman Allah SWT :
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai,
darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut
(nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa
(memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2. Al Baqarah, 2:173 )
Setiap makanan yang dilarang di dalam Al Quran ternyata saat ini
memiliki argumentasi ilmiah yang dapat dibuktikan dengan ilmu
pengetahuan. Makanan yang diharamkan dapat mengganggu
kesehatan manusia, baik pengaruh buruk bagi kesehatan (kolesterol,
racun) maupun mengandung berbagai penyakit yang
membahayakan tubuh (Trichina, Salmonella, cacing pita, dll.).
2. Makanan sehat dan halal.
Islam memerintahkan umatnya untuk makan makanan yang baik
dan halal, misalnya daging, ikan, madu dan susu. Makanan-makanan
yang baik dan halal bermanfaat bagi tubuh. Islam menolak paham
vegetarian. Pola konsumsi yang hanya tergantung pada jenis sayuran
belaka tidak sehat bagi tubuh karena kebutuhan protein tidak dapat
tercukupi hanya dari konsumsi sayuran saja.

3. Menjaga perilaku muslim ketika makan.
Islam menegaskan kepada orang muslim untuk menjaga etika
ketika makan. Allah memerintahkan kita untuk makan tidak berlebih-
lebihan sedangkan Rasulullah SAW mengatakan bahwa perut adalah
seburuk-buruk tempat untuk diisi. Sebagian besar penyakit
bersumber dari perut. Oleh karenanya Maha Benar Allah SWT dalam
Firman-Nya :
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa
saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.
Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan
cukuplah Allah menjadi saksi. (QS 4. An Nisaa : 79).
D. Olahraga
Islam menegaskan pentingnya olahraga untuk menciptakan
generasi Rabbani yang kuat dan sehat. Oleh karenanya, Islam
mengajarkan setiap muslim untuk mengajarkan anak-anaknya
bagaimana cara memanah, berenang, dan berkuda.

E. Kesehatan seksual
Kehidupan seksual merupakan pokok bahasan yang sangat
penting bagi orang muslim, karena sangat berpengaruh bagi
kesehatan dan perilaku manusia, namun Islam menolak pendapat
ilmuwan yang menekankan perilaku seksual sebagai motif utama
seseorang untuk bertindak.
1. Pendidikan seksual.
2. Islam mengajarkan kepada umat Islam, untuk memilih calon
pasangan hidup yang baik dan berakhlaq mulia.
3. Islam mengajarkan tata krama (adab) menggauli pasangannya
agar mencapai kebahagiaan dalam membina keluarga yang
sakinah dan rahmah.
4. Islam sangat melarang perilaku berhubungan seks dengan sesama
jenis dan binatang.
5. Disunahkan untuk sirkumsisi (sunat) bagi laki-laki
6. Islam membolehkan kaum pria untuk berpoligami untuk
menghindari perzinahan, namun dengan syarat-syarat tertentu .
7. Menjaga kebersihan dan kesucian organ-organ seksualitas,
misalnya bersuci setelah buang air besar dan buang air kecil,
larangan berhubungan seksual ketika istri sedang haid,
berhubungan badan melalui dubur dan membersihkan alat
kelamin setelah berhubungan badan dan setelah selesai datang
bulan.
F. Kesehatan jiwa
Islam memberikan jawaban bagi kehausan jiwa manusia
terhadap ketenangan batin. Kesehatan jiwa mempengaruhi kesehatan
badan.
G. Puasa
Puasa, bagian dari ibadah yang harus dilaksanakan oleh umat
Islam dalam menegakkan agama, sesudah pernyataan imannya.
Konsekuensi beriman antara lain melaksanakan perintah puasa.
Betapa pentingnya berpuasa sehingga Allah menempatkan posisi
hamba-Nya yang berpuasa dengan posisi yang istimewa. Puasa itu
untuk-Ku. Tidak ada yang tahu. Dan Aku akan memberi pahala
semau-Ku.
Keistimewaan itu sudah barang tentu ada tujuan Allah agar
mendapatkan hikmah pada dirinya, yaitu kesehatan dan sekaligus
kebahagiaan. Janji Allah diberikan kepada orang yang berpuasa
ditegaskan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan
oleh Ibnu Suny dan Abu Nuaim: Berpuasalah maka anda akan
sehat. Dengan berpuasa akan sehat jasmani, rohani dan hubungan
sosial.
1. Manfaat bagi Kesehatan Badan (jasmani).
Tidak seorang pun ahli medis baik muslim maupun non
muslim yang meragukan manfaat puasa bagi kesehatan manusia.
Dalam buku yang berjudul Pemeliharaan Kesehatan dalam Islam
oleh Dr Mahmud Ahmad Najib (Guru Besar Fakultas Kedokteran
Universitas Ain-Syams Mesir), ditegaskan puasa sangat berguna bagi
kesehatan. Antara lain:
a) Puasa memperkecil sirkulasi darah sebagai perimbangan untuk
mencegah keluarnya keringat dan uap melalui pori-pori kulit
serta saluran kencing tanpa perlu menggantinya. Menurutnya
curah jantung dalam mendistribusikan darah keseluruh
pembuluh darah akan membuat sirkulasi darah menurun. Dan ini
memberi kesempatan otot jantung untuk beristirahat, setelah
bekerja keras satu tahun lamanya. Puasa akan memberi
kesempatan pada jantung untuk memperbaiki vitalitas dan
kekuatan sel-selnya.
b) Puasa memberi kesempatan kepada alat-alat pencernaan untuk
beristirahat setelah bekerja keras sepanjang tahun. Lambung dan
usus beristirahat selama beberapa jam dari kegiatannya,
sekaligus memberi kesempatan untuk menyembuhkan infeksi
dan luka yang ada sehingga dapat menutup rapat. Proses
penyerapan makanan juga berhenti sehingga asam amoniak,
glukosa dan garam tidak masuk ke usus. Dengan demikian sel-
sel usus tidak mampu lagi membuat komposisi glikogen, protein
dan kolesterol. Disamping dari segi makanan, dari segi gerak
(olah raga), dalam bulan puasa banyak sekali gerakan yang
dilakukan terutama lewat pergi ibadah.
2. Manfaat bagi Kesehatan Rohani (Mental).
Perasaan (mental) memegang peranan penting dalam
kehidupan manusia. Mendapat rasa senang, gembira, rasa puas serta
bahagia, merupakan tujuan bermacam-macam ikhtiar manusia
sehari-hari. Bila seseorang menangani gangguan kesehatan, tidak
boleh hanya memperhatikan gangguan badaniah saja, tetapi
sekaligus segi kejiwaan dan sosial budayanya. Rohani datang dari
Allah, maka kebahagiaan hanya akan didapat apabila makin dekat
kepada pencipta-Nya.
Di dalam bulan puasa disunahkan untuk makin berdekat diri
dengan Allah SWT baik lewat shalat, membaca Alquran, zikir, berdoa,
istighfar, dan qiyamul lail. Selama sebulan secara terus-menerus akan
membuat rohani makin sehat, jiwa makin tenang. Dengan
memperbanyak ingat kepada Allah, makin yakin bahwa semua yang
ada datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya jua. Hal ini
dijelaskan dalam firman Allah antara lain:
I. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi
orang-orang yang khusyuk. (QS:Al Baqarah 45).
II. Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu
tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim kecuali
merugi. (QS:Al-Isra 82)
III. Orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS:Ar-Rad 28).
IV. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah
hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.(QS:Al Fajr
27-30).
3. Manfaat Puasa bagi hubungan sosial.
Dalam mengajarkan nilai ibadah itu adalah terwujudnya
keseimbangan antara cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia.
Demikian juga nilai ibadah puasa, tidak hanya terjalinnya hubungan
yang semakin dekat kepada Allah, tetapi juga semakin dekat dengan
sesamanya. Makin seringnya beribadah bersama, bersama keluarga,
tetangga, dan masyarakat sekeliling, maka makin kenal akan
sesamanya, makin menyadari kebutuhan hidup bermasyarakat. Makin
timbul keinginan berbagi rahmat bersama-sama di dunia dan makin
ingin bersama-sama masuk surga. Pahala nilai shodaqoh berlipat
ganda termasuk memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa.
Menyakiti hati orang lain dan aneka gangguan terhadap sesamanya
sangat dianjurkan untuk ditinggalkan. Kalau tidak maka nilai puasa
seseorang sangatlah rendah. Hal ini dijelaskan di dalam firman Allah
SWT:
Hai orang-orang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah)
sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum
datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada
lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada lagi syafaat. Dan oang-
orang kafir itulah orang-orang yang zalim.(QS:Al Baqarah 254)
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara,
karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah
kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.(QS:Al Hujurat 10)
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan
kepada syurga yang luasnya langit dan bumi dan disediakan untuk
orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang
yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang bebuat kebajikan. Dan (juga) orang-
orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap
dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa
selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan
kejinya itu, sedang mereka mengetahui.(QS Al Imran 133-135).
Selain itu, ada juga beberapa aktifitas yang patut kita contoh
dari Rasulullah SAW, diantaranya adalah :
1. SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH
Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh,
melaksanakan sholat sunah dan sholat Fardhu,sholat subuh
berjamaah. Hal ini memberi hikmah yg mendalam antara lain :
Berlimpah pahala dari Allah
Kesegaran udara subuh yg bagus utk kesehatan/ terapi penyakit
TB
Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan.
Para pakar kesehatan menyatakan bahwa udara sepertiga malam
terakhir sangat kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-
zat lain, sehingga sangat bermanfaat untuk optimalisasi metabolisme
tubuh. Hal ini jelas sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas
seseorang dalam aktivitasnya selama seharian penuh.
Contohlah Rasulullah, yang setiap subuh selalu mendapat
asupan udara segar. Beliau bangun sebelum subuh dan
melaksanakan qiyamul lail. Biasanya orang yang memulai kehidupan
di pagi hari dengan bangun subuh, akan menjalani hari dengan
penuh semangat dan optimisme. Berbeda dengan orang yang tidak
bangun di subuh hari, biasanya lebih mudah terserang rasa malas
untuk beraktivitas.
Untuk menjaga kesehatan mulut dan giginya pada pagi hari,
Rasulullah SAW biasa memakai siwak. Siwak (miswaak, siwak, sewak)
adalah ranting pembersih gigi, terbuat dari ranting pohonSalvadora
persica yang juga dikenal sebagai pohon arak. Siwak telah dikenal
sebelum Islam, tetapi Islam menambahkan perspektif agama untuk
penggunaannya.
Mengikuti perbuatan Rasul telah diperintahkan dalam firman
Allah, Dan apa saja yang dibawa oleh Rasul, maka ambillah.
Sedangkan apa yang dilarangnya, maka hindarilah (QS. Al Hasyr:
7). Dalam hal bersiwak, Nabi Muhammad SAW menganjurkan muslim
untuk membersihkan gigi mereka menggunakan Siwaak setiap hari,
terutama pada saat bangun tidur, sebelum memulai wudhu, sebelum
shalat, sebelum membaca membaca Quran, sebelum tidur, ketika
memasuki rumah, dan ketika mulut memiliki bau busuk. Anjuran
Rasulullah dalam pemakaian siwak tersirat dalam beberapa hadis
seperti:
I. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, Siwak adalah
pembersih mulut dan sebab ridhanya Rabb. (HR. Ahmad dan
Ibnu Majah).
II. Dikisahkan oleh Abu Burda: Ayahku berkata, Aku datang kepada
Rasul dan melihat beliau membawa siwak di tangannya dan
membersihkan giginya, sambil berkata,U U,
III. Abu huraira mengatakan: Rasul (salawat dan salam untuknya)
berkata: jika saja aku tidak takut membebani orang-orang yang
beriman (hadis yang diterjemahkan Zuhair menyebutkan orang-
orang saja), aku akan meminta mereka untuk menggunakan
siwak setiap sholat.
IV. Diriwayatkan dari Hudzaifah ra., dia berkata, Nabi Saw selalu
menggosok giginya dengan siwak setiap bangun dari tidur
malam hari (HR Bukhari ).
Ditinjau dari kesehatan gigi, siwak ternyata dapat meningkatkan
status kesehatan jaringan periodontal. Sebuah penelitian yang
dilakukan terhadap orang-orang Sudan menyebutkan bahwa status
periodontal pengguna siwak lebih baik daripada status periodontal
pengguna sikat gigi biasa. Menurut penelitian, siwak tidak hanya
membersihkan gigi, juga memiliki daya antibakteri terhadap
beberapa bakteri penyebab penyakit gigi. Siwak mudah digunakan
untuk menyikat gigi dengan baik, memberi busa pada mulut,
meningkatkan air liur dan ramah lingkungan. Siwak mengandung
kurang lebih 19 zat, yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesehatan
mulut. Kandungan siwak antara lain: bahan antiseptik, asam tanat
yang bersifat astringensia dan minyak atsiri meningkatkan air liur.
Menurut WHO, siwak dapat menghilangkan plak tanpa menyebabkan
luka pada gigi.
Jadi secara kesehatan gigi, pemakaian siwak juga dianjurkan. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian siwak yaitu
teknik menggunakannya. Teknik-teknik yang digunakan untuk
menghilangkan plak secara mekanis mirip dengan penggunaan sikat
gigi dan chewing stick, yaitu menyikat secara vertikal dan horisontal.
Gerakan pembersihan harus selalu diarahkan jauh dari margin
gingiva gigi (jauh dari gusi) pada permukaan bukal (permukaan gigi
yang menghadap pipi) dan lingual (permukaan gigi yang
menghadap ke lidah). Kehati-hatian harus diperhatikan untuk
menghindari kerusakan jaringan lunak mulut. Kepuasan pembersihan
dapat dicapai jika prosedur ini dilakukan selama lima menit.
2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis atau Jumaat
beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku,
bersisir dan berminyak wangi. Mandi pada hari Jumaat adalah wajib
bagi setiap orang-orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan
memakai harum-haruman(HR Muslim)
3.TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN
Sabda Rasul :Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan
sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak
sampai kekenyangan)(Muttafaq Alaih)
Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda :
Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya
untuk makanan.Bahkan ada satu tarbiyyah khusus bagi ummat Islam
dengan adanya Puasa Ramadhan untuk menyeimbangkan kesehatan.
4. GEMAR BERJALAN KAKI
Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan jihad,
mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya. Dengan berjalan kaki,
keringat akan mengalir,pori-pori terbuka dan peredaran darah akan
berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung.
5. TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah : Jangan Marahdiulangi sampai 3 kali. Ini
menunjukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah
terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh
kebersihan dan kesehatan jiwa. Ada terapi yang tepat untuk
menahan marah :
Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila
duduk maka berbaring
Membaca Ta awwudz, karena marah itu dari Syaithon
Segeralah berwudhu
Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan
kegundahan hati.
6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang
mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqomah dan
bekerja keras, serta tawakal kepada Allah SWT.
7. TAK PERNAH IRI HATI
Untuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa, mentalitas maka
menjauhi iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat.
Sumber :
http://an-naba.com/kesehatan-dalam-pandangan-islam/
http://bondanserbaneka.blogspot.com/2007/01/kesehatan-menurut-
pandangan-islam.html
http://mashuriweblog.wordpress.com/2007/02/02/kesehatan-dalam-
paradigma-islam/
http://cara-muhammad.com/perilaku/cara-makan/
http://udinhamd.com/2010/10/8-cara-hidup-sehat-ala-rasul/
http://risefa.blogspot.com/2009/04/hidup-sehat-ala-rasulullah-
saw.html

Diposkan oleh Cut Putri Zakirah di 05.56

Hukum Kawat Behel Dan Gigi Palsu


"Allah telah mengutuk orang-orang yang membuat tato dan orang
yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata,
orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang
yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang merubah ciptaan
Allah." (HR. Muslim)
Seiring dengan perkembangan teknologi, gaya hidup
manusia juga ikut berkembang dan berubah. Salah satu gaya hidup
yang digandrungi manusia adalah merubah gigi mereka agar lebih
cantik dan lebih indah, maka munculah kawat behel yang digunakan
untuk merapikan gigi, ada gigi yang terbuat dari emas atau kuningan
untuk mengganti gigi yang tanggal, ada juga alat untuk mengikir
gigi agar lebih tipis dan lain-lainnya.
Fenomena di atas menarik perhatian sebagian kaum
muslimin yang mempunyai kepedulian terhadap hukum halal dan
haram. Banyak dari mereka yang menanyakan status hukumnya
berdasarkan al-Quran dan Sunnah. Oleh karenanya, perlu ada
penjelasan terhadap masalah-masalah tersebut. Untuk
mempermudah pemahaman, pembahasan ini akan dibagi menjadi
beberapa masalah:
Hukum Menggunakan Kawat Behel
Banyak jamaah pengajian yang menanyakan hukum
menggunakan kawat behel, boleh atau tidak menurut pandangan
Islam ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dirinci terlebih
dahulu :
Pertama : Jika seseorang mempunyai gigi atas yang letaknya agak
ke depan, atau menurut istilah orang Jawa gigi moncong atau gigi
mrongos, yang kadang sampai tingkat tidak wajar sehingga
mukanya menyeramkan, maka hal ini dikatagorikan gigi yang cacat,
oleh karenanya boleh diobati dengan cara apapun, termasuk
menggunakan kawat behel agar giginya menjadi rata kembali. Ini
berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wassalam :


Wahai sekalian hamba Allah, berobatlah sesungguhnya Allah tidak
menciptakan suatu penyakit melainkan menciptakan juga obat
untuknya kecuali satu penyakit." Mereka bertanya, "Penyakit apakah
itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Yaitu penyakit tua (pikun).
(HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad. Berkata Tirmidzi :
Hadits ini Hasan Shahih).
Di dalam hadits di atas diterangkan bahwa Allah melaknat
orang yang merubah gigi dengan tujuan agar giginya lebih indah
dan lebih cantik. Berkata Imam Nawawi menerangkan hadist di atas
:
Maksud (al-Mutafalijat) dalam hadist di atas adalah mengikir
antara gigi-gigi geraham dan depan. Kata (al-falaj) artinya renggang
antara gigi geraham dengan gigi depan. Ini sering dilakukan oleh
orang-orang yang sudah tua atau yang seumur dengan mereka agar
mereka nampak lebih muda dan agar giginya lebih indah.
Renggang antara gigi ini memang terlihat pada gigi-gigi anak
perempuan yang masih kecil, makanya jika seseorang sudah mulai
berumur dan menjadi tua, dia mengikis giginya agar kelihatan lebih
indah dan lebih muda. Perbuatan seperti ini haram untuk dilakukan,
ini berlaku untuk pelakunya (dokternya) dan pasiennya berdasarkan
hadist-hadist yang ada, dan ini merupakan bentuk merubah ciptaan
Allah serta bentuk manipulasi dan penipuan. [1]
Kedua : Jika gigi seseorang kurang teratur, tetapi masih dalam batas
yang wajar, tidak menakutkan orang, dan bukan suatu cacat atau
sesuatu yang tidak memalukan, serta pemakaian kawat behel dalam
hal ini hanya sekedar untuk keindahan saja, maka hukum pemakaian
kawat behel tersebut tidak boleh karena termasuk dalam katagori
merubah ciptaan Allah suhbanahu wataala.
Dalilnya adalah hadist Abdullah bin Masud radhiyallahu
anhu bahwasanya nabi Muhammadshallallahu alaihi
wassalam bersabda :


"Allah telah mengutuk orang-orang yang membuat tato dan orang
yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata,
orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang
yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang merubah ciptaan
Allah." (HR. Muslim)
Hukum Memakai Gigi Palsu
Jika seseorang giginya lepas, boleh nggak diganti dengan gigi palsu?
Apakah mengganti gigi dengan gigi palsu termasuk merubah ciptaan
Allah?
Jawaban : Seseorang yang mempunyai gigi, kemudian gigi tersebut
lepas, karena kecelakaan, atau dipukul oleh orang lain, atau
terbentur benda keras, atau karena sebab lain, maka dibolehkan
baginya untuk menggantinya dengan gigi palsu. Karena ini termasuk
dalam pengobatan.
Memakai gigi palsu untuk mengganti gigi yang asli yang lepas atau
rusak, bukanlah termasuk merubah ciptaan Allah, tetapi termasuk
pengobatan.
Ini dikuatkan dengan Fatwa Lajnah Daimah : 25/ 16, no : 21104,
yang berbunyi :


1. Hal ini termasuk bagian pengobatan yang dibolehkan untuk
menghilangkan bahaya yang timbul.
Berkata Syekh Sholeh Munajid :

.
Memasang gigi buatan sebagai pengganti gigi yang
dicabut karena sakit atau karena rusak, adalah sesuatu yang
dibolehkan tidak apa-apa untuk dilakukan. Kami tidak mengetahui
seorangpun dari ulama yang melarangnya. Kebolehan ini berlaku
secara umum, tidak dibedakan apakah gigi itu dipasang permananen
atau tidak, yang penting bagi pasien memilih yang sesuai dengan
keadaannya setelah meminta pendapat kepada dokter spesialis. [2]
Gigi Palsu Dari Emas dan Perak
Di atas sudah diterangkan kebolehan memasang gigi palsu
untuk mengobati penyakit, atau mengganti giginya yang rusak.
Pertanyaannya adalah bagaimana hukum menggunakan gigi palsu
dari emas atau perak ?
Jawabannya harus dirinci terlebih dahulu : Jika yang memasang gigi
palsu adalah perempuan, maka hal itu dibolehkan karena perempuan
dibolehkan untuk menggunakan emas. Tetapi jika yang
menggunakan gigi palsu itu adalah laki-laki, maka hal itu tidak bisa
dilepas dari dua keadaan :
Pertama : Dalam keadaan normal, dan tidak darurat, artinya dia bisa
menggunakan gigi palsu dari bahan akrilik dan porselen selain emas
dan perak, maka dalam hal ini memakai gigi palsu dari emas dan
perak hukum haram.
Kedua : Dalam keadaan darurat dan membutuhkan, seperti dia tidak
mendapatkan kecuali gigi palsu yang terbuat dari emas atau perak,
atau tidak bisa disembuhkan kecuali dengan bahan dari emas atau
perak, maka hal itu dibolehkan. Ini berdasarkan hadist yang
diriwayatkan olehArfajah bin As'ad :


Dari Arfajah bin As'ad ia berkata, "Saat terjadi perang Al Kulab pada masa
Jahilliyah hidungku terluka, lalu aku mengganti hidungku dari perak,
tetapi justru hidungku menjadi busuk. Kemudian Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan agar aku membuat
hidung dari emas." (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan hadist ini Hasan)
Hadist di atas, walaupun berbicara masalah penggantian hidung
dengan emas dan perak dalam keadaan darurat atau membutuhkan,
tetapi bisa dijadikan dalil untuk penggantian gigi dengan perak dan
emas, jika memang dibutuhkan, karena kedua-duanya sama-sama
anggota tubuh.
Hukum Mencabut Gigi Palsu Ketika Berwudhu
Bagaimana hukum mencabut gigi palsu ketika berwudhu ?
Jawabannya : Jika gigi palsu tersebut terbuat dari bahan yang suci
dan tidak najis, maka tidak perlu dicabut ketika berwudhu, terutama
jika sudah dipasang secara permanen. Karena mencabutnya akan
menyebabkan kesusahan bagi pemiliknya, padahal Islam diturunkan
agar umatnya terhindar dari kesusahan.
Sebaliknya jika gigi palsu tersebut terbuat dari bahan najis, maka
harus dicabut dan tidak boleh dipakai ketika berwudhu dan sholat.
Namun demikian, ini jarang terjadi, karena pada dasarnya
bahan-bahan untuk membuat gigi palsu rata-rata bersih dan suci,
seperti gigi tiruan akrilik yang sekarang dipakai secara umum. Gigi
tiruan ini mudah dipasang dan dilepas oleh pasien.
Bahan akrilik merupakan campuran bahan sejenis plastik harganya
murah, ringan dan bisa diwarnai sesuai dengan warna gigi. Ada juga
gigi tiruan dari porselen yang ketahanannya lebih kuat dari akrilik.
Dan yang lebih kuat lagi, serta bisa bertahan sampai bertahun-tahun
adalah gigi tiruan dari logam atau emas, hanya saja tampilannya
berbeda dengan gigi asli.
Syekh Utsaimin ketika ditanya tentang seseorang yang mempunyai
gigi palsu, apakah harus dicabut ketika berwudhu ? Beliau menjawab
sebagai berikut :
Jika seseorang mempunyai gigi palsu yang sudah dipasang, maka
tidak wajib untuk dilepas. Ini seperti cincin yang tidak wajib dilepas
ketika berwudhu, lebih baik digerak-gerakan saja tetapi inipun tidak
wajib. Hal itu dikarenakan nabi Muhammad shallallahu alaihi
wassalam mengenakan cincin, dan tidak pernah ada riwayat yang
menjelaskan bahwa beliau melepaskannya ketika berwudhu. Ini jelas
lebih mungkin menghalangi masuknya air dari gigi palsu. Apalagi
sebagian kalangan merasa sangat berat jika harus melepas gigi palsu
yang sudah dipasang tersebut, kemudian memasangnya kembali.
[3]
Hukum Mencabut Gigi Palsu Ketika Meninggal Dunia
Bagaimana hukum mencabut gigi palsu ketika seseorang meninggal
dunia, terutama yang terbuat dari emas dan perak ?
Jawabannya : Di atas sudah diterangkan kebolehan memasang gigi
palsu dari emas dan perak bagi laki-laki jika dalam keadaan darurat
dan membutuhkan, makanya jika seseorang sudah meninggal dunia,
keadaan darurat tersebut sudah hilang, sehingga harus diambil dari
mayit, kecuali jika hal itu justru menyakiti atau menodai mayit, maka
hukumnya menjadi tidak boleh dicabut. Kenapa tidak boleh? karena
mayit walaupun sudah mati, tetapi masih dalam keadaan terhormat
dan tidak boleh dinodai ataupun disakiti, sebagaimana orang hidup.
Adapun bagi perempuan secara umum dibolehkan
menggunakan gigi emas sebagaimana diterangkan di atas.[4] Ketika
perempuan ini meninggal dunia, maka hal itu diserahkan kepada ahli
waris, jika mereka merelakan gigi dari emas itu ikut dikubur bersama
mayit, maka tentunya lebih baik. Tetapi jika mereka menginginkan
gigi dari emas yang bernilai tersebut, maka dibolehkan bagi mereka
mencabut gigi emas dari mayit tersebut , selama hal itu tidak
menyakiti atau menodai mayit.

[1] Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz : 14, hal : 106-107
[2] www.Islamqa.com
[3] Utsaimin, Majmu Fatawa wa Rasail, Dar al-Wathan, 1413, juz : 11,
hal : 140
[4] Tentang kebolehan perempuan menggunakan gigi palsu dari
emas disampaikan oleh Syekh Abdul Muhsin Ubaikan di dalam
situsnya : www.al-obeikan.com
http://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/361/hukum-kawat-behel-
dan-gigi-palsu/
Perawatan Orthodonti dalam Pandangan Islam
Islam merupakan sebuah ajaran yang sangat memuliakan ilmu
kesehatan dan kedokteran sebagai sarana untuk merawat kehidupan
dengan izin ALLAH. Ia bahkan memerintahkan kita sebagai fardhu
ain untuk mempelajarinya secara komprehensif agar dapat
mengenali diri secara fisik dan biologis sebagai media peningkatan
iman dan memenuhi kebutuhan setiap individu dalam
menyelamatkan, memperbaiki, dan menjaga hidupnya. Selain itu,
Islam juga menetapkan fardhu kifayah dan menggalakan adanya
ahli-ahli di bidang kedokteran dan memandang kedokteran sebagai
sebuah ilmu yang sangat mulia. Salah seorang imam besar, Imam
Syafii, berkata demikian, Aku tidak tahu suatu ilmu setelah masalah
halal dan haram [fiqih] yang lebih mulia dari ilmu kedokteran. Pun
demikian adanya dengan suatu keahlian medis dalam hal merapikan
gigi yang dikenal dengan istilah Orthodonti [Orthodontics] adalah
nikmat ALLAH kepada umat manusia untuk mengembalikan kepada
fitrah penciptaan yang paling indah yang patut disyukuri dengan
menggunakannya pada tempatnya dan tidak disalahgunakan untuk
memenuhi nafsu insani yang kurang bersyukur.

Sejarah Perawatan Orthodonti
Berbicara mengenai sejarah ilmu orthodonti maka akan sama
tuanya dengan sejarah ilmu kedokteran gigi serta cabang-cabang
ilmu kedokteran gigi yang lain seperti ilmu penambalan gigi dan
ilmu pembuatan gigi tiruan. Hippocrates termasuk salah satu orang
yang berpendapat mengenai kelainan pada tengkorak kepala dan
wajah (kraniofasial) : Di antara kelompok manusia terdapat orang
dengan bentuk kepala yang panjang, sebagian memiliki leher yang
lebar dengan tulang yang kuat. Yang lainnya memiliki langit-langit
(palatum) yang dalam dengan susunan gigi yang tidak teratur,
berjejal satu sama lain dan hal itu berhubungan dengan sakit kepala
dan gangguan keseimbangan. Sedangkan Celcus pada tahun 25 SM
mengemukakan teori: Gigi dapat digerakkan dengan memberikan
tekanan dengan tangan. Peralatan sederhana yang didesain untuk
mengatur gigi geligi telah ditemukan oleh para arkeolog di makam-
makam kuno bangsa Mesir, Yunani, dan Suku Maya di Meksiko.

Pengertian Orthodonti
Arti harafiah orthodonti sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu
orthos yang berarti lurus dan dons yang berarti gigi. Istilah
orthodonti sendiri digunakan pertama kali oleh Le Foulon pada
tahun 1839. Ilmu orthodonti sebagai suatu ilmu pengetahuan seperti
yang kita kenal dewasa ini barulah kira-kira 50 tahun yang lalu dan
lambat laun berkembang terus sehingga seolah-olah menjadi bidang
spesialisasi dalam kedokteran gigi. Pada zaman dahulu yaitu 60
hingga 70 tahun yang lalu ilmu orthodonti memang sudah dikenal
seperti halnya dengan ilmu penambalan gigi dan pembuatan gigi
tiruan, tetapi konsepnya berbeda dengan konsep ilmu orthodonti
yang sekarang. Jika dulu yang dipentingkan hanyalah masalah
mekanis saja, dalam arti penggunaan alat-alat untuk meratakan
susunan gigi yang tidak rata, sekarang masalah biologis juga turut
menjadi perhatian. Maksud dan tujuan dari perawatan orthodonti
sendiri ada beberapa macam yaitu:
1. Menciptakan dan mempertahankan kondisi rongga mulut yang
sehat
2. Memperbaiki cacat muka, susunan gigi geligi yang tidak rata, dan
fungsi alat-alat pengunyah agar diperoleh bentuk wajah yang
seimbang dan penelanan yang baik
3. Memperbaiki cacat waktu bicara, waktu bernafas, pendengaran,
dan mengembalikan rasa percaya diri seseorang
4. Menghilangkan rasa sakit pada sendi rahang akibat gigitan yang
tidak normal
5. Menghilangkan kebiasaan buruk, seperti; menghisap ibu jari,
menggigit-gigit bibir, menonjolkan lidah, bernafas melalui mulut
Dari pemaparan di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa
tujuan perawatan orthodonti adalah untuk memperbaiki fungsi
pengunyahan yang normal. Untuk itu, upaya yang dilakukan adalah
dengan merapikan susunan gigi serta mengembalikan gigi geligi
pada fungsinya yang optimal. Upaya merapikan susunan gigi geligi
ini nantinya tidak akan terlepas dari pelibatan gigi geligi itu sendiri,
jaringan lunak mulut, tulang wajah, dan jaringan lunak wajah.
Dengan demikian didapatkannya suatu keharmonisan wajah adalah
salah satu implikasi yang dapat diperoleh dari perawatan orthodonti.

Macam-Macam Perawatan Orthodonti
Secara umum menurut alat yang digunakan, perawatan
orthodonti dibagi menjadi dua macam yaitu orthodonti lepasan
[removable appliances] dan orthodonti cekat [fixed appliances]. Alat
orthodonti lepasan umumnya digunakan pada kasus-kasus yang
tidak terlalu sulit dan tidak membutuhkan pencabutan gigi. Karena
keterbatasannya, biasanya alat orthodonti lepasan yang terbuat dari
bahan akrilik ini, jarang digunakan oleh pasien-pasien dewasa.
Berbeda dengan alat orthodonti lepasan, alat orthodonti cekat
memiliki indikasi perawatan yang lebih luas. Alat orthodonti cekat
dapat digunakan untuk segala usia, bahkan usia lanjut sekalipun bila
kondisi tulang penyangga giginya masih memungkinkan. Alat ini
terdiri dari seutas kawat [terbuat dari campuran logam Nikel dan
Titanium yang memiliki sifat tahan karat dan sangat lentur dengan
ukuran yang berbeda-beda tergantung kebutuhan], bracket
[penopang kawat yang ditempelkan pada gigi, dapat terbuat dari
logam, keramik, dan plastik], dan cincin karet warna-warni. Karena
alat orthodonti cekat ini ditempelkan pada gigi selama perawatan,
maka pasien harus dapat menjaga kebersihan mulut sebaik mungkin
agar tidak menimbulkan masalah gigi dan mulut yang lainnya.

Orthodonti Menurut Islam
Dengan melihat berbagai faktor penyebab dan kebutuhan
penanganan secara orthodonti, maka hal tersebut diperbolehkan
dalam Islam, baik sebagai pasien maupun dokter gigi yang
menanganinya, bahkan hal ini sangat dianjurkan dan dapat bernilai
ibadah. Sebab, Islam menganjurkan untuk berobat bila terjadi
kelainan dan ketidaknormalan pada fisik dan psikis. Bukankah Islam
sangat memperhatikan kesehatan seperti telah difirmankan ALLAH
dalam Al-Quran?
Namun, belakangan ini tampaknya timbul suatu fenomena di
mana penggunaan kawat gigi sebagai suatu tren tersendiri
khususnya di kalangan kaum perempuan. Hal ini disebabkan karena
mereka sekedar ingin bergaya dan bahkan terkadang karena ingin
menunjukkan status ekonomi, meskipun sebenarnya kebanyakan dari
mereka tidak perlu menggunakannya karena kondisi gigi yang
normal. Untuk hal ini, pemasangan alat orthodonti cekat pada pasien
yang sebetulnya tidak butuh perawatan sebetulnya merupakan
perbuatan yang sia-sia, tidak perlu, termasuk mubazir. Sebab,
biasanya rata-rata waktu perawatan orthodonti cukup lama
tergantung tingkat keparahannya dengan biaya yang tidak sedikit.
Jika perawatan orthodonti digunakan dengan tujuan yang seperti
disebutkan di atas tadi, maka hal ini termasuk kepada hal yang
berlebih-lebihan [israf] yang dibenci oleh ALLAH [QS. Al-Muminun :
64-5, QS. Al-Isra : 26-7]. Wallahualam bishshawab.

-drg. Deasy Rosalina-
Maraji
1. Setiawan Budi Utomo. Fiqih Aktual. Jakarta : Gema Insani Press.
2003.
2. Profitt, et al. Contemporary Orthodontics 1st Ed. St. Louis : CV
Mosby Co. : 1986.
Deasy Rosalina, drg
SAKURA Dental Centre
Wisma Nusantara 2nd Floor
Jl. MH. Thamrin 59
Jakarta 10350 - Indonesia
Ph :+62 21 3904682
mailto : latansa_syahid@ yahoo.com
weblog: http://drosalina. blogspot. com/
posted by Sandi at 10:48 AM

Bersiwaklah Saat Puasa, Dapatkan 10
Keutamaannya
REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kebersihan
merupakan hal yang didamba bagi semua orang. Karena dari
kebersihan, dapat melahirkan pola hidup sehat. Saat bulan
Ramadhan ini, kebersihan pun tetap harus terjaga. Baik kebersihan
jasmani maupun rohani. Kebersihan jasmani meliputi bersih badan
dan anggota tubuh sewaktu hendak melakukan ibadah. Sedangkan
bersih rohani, bersihnya hati dari berbagai penyakit hati.
Bersih jasmani bagi orang yang berpuasa patut dipelihara, termasuk
kebersihan mulut. Saat berpuasa, umat Muslim hanya menyikat gigi
saat sahur dan berbuka. Oleh karenanya mengapa orang yang
berpuasa dianjurkan untuk bersiwak.

Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Shalat dengan
bersiwak itu lebih utama daripada 70 shalat tanpa bersiwak lebih
dahulu." Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim, Rasul
bersabda, "Andaikan aku tidak khawatir memberatkan atas umatku,
niscaya aku wajibkan atas mereka bersiwak (gosok gigi) pada tiap-
tiap shalat."

Hadits tersebut memberikan isyarat bahwa Rasul menginginkan
umatnya untuk senantiasa membersihkan gigi setiap hendak
melakukan shalat, jika umat tersebut tidak merasa keberatan. Karena,
bersiwak merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Tak sekedar
dianjurkan, bersiwak (menyikat gigi) juga dapat mempengaruhi
kesehatan gigi, gusi, tenggorokan, dan mulut.
Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Bukhori juga disebutkan,
"Hendaklah kalian selalu bersiwak. Karena dalam bersiwak itu ada
sepuluh perkara terpuji. Sepuluh perkara tersebut yaitu:
Pertama, dapat membersihkan mulut. Bersiwak, yang saat ini lebih
masyhur disebut dengan sikat gigi jelas dapat membersihkan mulut.
Tak hanya membersihkan mulut, menyikat gigi secara rutin dan
benar juga mempengaruhi kesehatan gigi dan gusi.
Kedua, membuat Allah ridho. Tak diragukan lagi, sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang yang
membersihkan diri. Berwudhu, mandi, bahkan menyikat gigi ialah
kegiatan yang ditujukan demi bersih dan sucinya anggota tubuh.
Tiada hal yang dapat menghalangi ridho Allah untuk seorang hamba
yang berniat membersihkan diri dalam rangka beribadah dan dekat
kepada-Nya.
Ketiga, membuat setan marah. Mengapa setan bisa marah jika kita
menggosok gigi? Sebab setan tidak suka terhadap hal-hal yang
bersih. Jika kita bersiwak, itu berarti kita membersihkan diri dan
menghindari diri dari kekotoran. Karena setan lebih menyukai hal-hal
yang kotor, ia murka terhadap hamba-hamba Allah yang senantiasa
menerapkan hidup bersih dan sehat.
Keempat, dicintai Allah dan malaikat pencatat amal. Segala sesuatu
yang diniatkan dari hati, pasti akan dicatat oleh Allah dan malaikat
pencatat amal baik. Karena Allah amat mencintai kebersihan dan
keindahan, tentu Allah juga mencintai hamba-hambaNya yang
beristiqomah untuk menerapkan gaya hidup bersih dan sehat.
Dengan menyikat gigi secara teratur demi terciptanya kesehatan
jasmani, insya Allah perbuatan tersebut dinilai Allah sebagai ibadah.
Kelima, dapat menguatkan gusi. Rutinitas menggosok gigi, jika
dilakukan secara benar tentu dapat bermanfaat bagi kesehatan dan
kekuatan gusi. Dalam ilmu kesehatan gigi, makanan yang kita
konsumsi, setidaknya terdapat zat asam. Zat asam tersebut dapat
mengikis email pada gigi. Dapat terbayangkan jika kita jarang
menyikat gigi. Jangka panjangnya, email pada gigi tersebut dapat
membentuk lubang-lubang mikro.
Keenam, dapat menghilangkan lendir (pada tenggorokan).
Tenggorokan kita tidak 24 jam dalam keadaan bersih. Adakalanya
lendir-lendir timbul dan membuat kesehatan mulut dan tenggorokan
terganggu. Lendir itu pun akan timbul jika intensitas menyikat gigi
kita sangat jarang. Oleh karenanya mengapa disunnahkan menyikat
gigi sebelum shalat, fungsi utamanya ialah kesehatan dan kesegaran
saluran pencernaan tetap terjaga.
Ketujuh, dapat menyegarkan napas. Selain bermanfaat untuk
kesehatan gigi dan gusi, menyikat gigi juga dapat menyegarkan
napas. Pada zaman Nabi SAW, siwak yang dipilih pun tentunya
berkualitas. Meski tidak terdapat fluoride, kayu siwak yang Nabi
gunakan sebelum beliau melaksanakan shalat mampu membersihkan
gigi, gusi dan memberikan kesegaran pada napas.
Kedelapan, dapat membersihkan mulut dari cairan yang tidak
berguna. Dalam mulut dan gigi kita tentu terdapat bakteri dan
kuman jika jarang dibersihkan. Cairan yang tidak berguna, saat
bercampur dengan lendir ditambah frekuensi menyikat gigi yang
jarang, akan menyebabkan karies tumbuh di sela-sela gigi.
Kesembilan, dapat menguatkan pandangan mata. Jika kita menelaah
kembali etika atau adab menuntut ilmu dalam kitab Talim Mutalim,
kitab yang telah dipakai sebagai pegangan dalam menuntut ilmu
menyebutkan bahwa bersiwak (menyikat gigi) secara rutin dan benar
dapat menguatkan pandangan mata. Mengapa? Jika kesehatan
mulut terjaga, penglihatan pun dapat bekerja secara maksimal.
Ringkasnya, kesehatan gigi dan mulut mempengaruhi fungsi panca
indera, termasuk mata.
Kesepuluh, dapat menghilangkan bau busuk di mulut. Menyikat gigi
secara teratur dan benar tentu selain gigi, gusi dan pernapasan
sehat, bau tak sedap di mulut pun akan berkurang. Sehingga, dalam
kondisi berpuasa, tak perlu lagi merasa mulut kita mengeluarkan bau
tak sedap. Puasa, jika diimbangi dengan keteraturan kita
membersihkan gigi, tentu akan menghasilkan puasa yang maksimal.
Insya Allah.
Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber : Ine Febrianti

Anda mungkin juga menyukai