Anda di halaman 1dari 35

TUGAS KEUANGAN BISNIS

PROPOSAL BISNIS
BUDIDAYA BUNGA KRISAN











Disusun oleh
Shinta
NRP
112040016


JURUSAN ADMINISTASI BISNIS
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2013
1


























i


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-
Nya saya dapat menyelesaikan proposal ini tepat pada waktunya.
Proposal ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Keuangan Bisnis mengenai
proposal bisnis tentang budidaya bunga potong terutama bunga krisan. Propasal ini disusun
untuk mengetahui prospek usaha bunga potong terutama bunga krisan dengan menjadikan aspek
keuangan bisnisnya sebagai tolak ukur.
Saya berharap semoga dengan dibuatnya proposal ini dapat dapat menambah wawasan
bagi saya dan pembaca yang mungkin memiliki minat didalam mendirikan usaha agribisnis
bunga potong krisan. Apabila dalam penyusunan proposal ini masih terdapat kekurangan serta
kesalahan dalam penulisan yang tidak disengaja, saya memohon maaf dan diharapkan kritik serta
saran untuk kesempurnaan proposal ini untuk kedepannya.








ii


DAFTAR ISI


Kata Pengantar ....................................................................................................................i
Daftar Isi ............................................................................................................................ .ii
BAB I Pendahuluan ............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ...........................................................................................................1
BAB II Aspek Pemasaran ...................................................................................................2
2.1 Analisis Pasar .............................................................................................................4
2.1.1 Analisis Produk ..............................................................................................4
2.1.2 Analisis Harga ................................................................................................5
2.2 Pesaing ......................................................................................................................6
2.2.1 Kapasitas Produk Pesaing ..............................................................................6
2.3 Deskripsi dan Lokasi Usaha ......................................................................................8
2.4 Promosi ......................................................................................................................9
BAB III Aspek Manajamen............................................................................................ ....10
3.1 Bentuk Usaha .............................................................................................................10
3.2 Jenis Usaha ................................................................................................................10
3.3 Struktur Organisasi ...................................................................................................11
3.4 Legalitas Usaha ..........................................................................................................11
BAB IV Aspek Persediaan ..................................................................................................13
4.1 Persediaan Bibit .........................................................................................................13
4.2 Persediaan Pupuk .......................................................................................................15
4.2.1 Pupuk Sebelum Tanam ..................................................................................15
4.2.2 Pupuk Rutin ...................................................................................................16
iii

4.3 Persediaan Obat-obatan .............................................................................................16
BAB V Aspek Produksi .......................................................................................................18
5.1 Syarat Tumbuh ...........................................................................................................18
5.2 Proses Produksi .........................................................................................................19
5.3 Rencana Produksi ......................................................................................................22
BAB VI Aspek Keuangan ....................................................................................................24
6.1 Cash In Flow dan Cash Out Flow ..............................................................................24
6.1.1 Cash In Flow ..................................................................................................24
6.1.2 Cash Out Flow ...............................................................................................26
6.2 Rasio Likuiditas ........................................................................................................28
6.2.1 Current Ratio ..................................................................................................28
6.2.2 Cash Ratio ......................................................................................................29
6.3 Piutang ......................................................................................................................29
BAB VI Aspek Keuangan ....................................................................................................31




1



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas penduduknya mempunyai mata
pencaharian di bidang pert anian. Sektor pertanian pada setiap tahap pembangunan di Indonesia,
penting untuk dikembangkan karena memberikan kontribusi yang cukup tinggi pada Pendapatan
Domestik Bruto(PDB). Sejak tahun 2001 sampai tahun 2004, sektor pertanian menjadi sector
terbesar ketiga setelah sektor industri (Badan Pusat Statistik, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa
pertanian berperan sebagai sumber ketahanan pangan nasional, penyerap angkatan kerja,
meningkatkan pendapatan petani serta sebaga sumber devisa bagi negara.
Salah satu sub sektor pertanian yang mempunyai potensi memberikan kontribusi PDB di
Indonesia adalah hortikultura. Sub sektor hortikultura terdiri dari sayuran, buah-buahan,
florikultura serta tanaman obat. Di antara komoditi hortikultura yang setiap tahunnya mengalami
perkembangan yaitu agribisnis florikultura. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan
kesejahteraan masyarakat serta bergesernya pola konsumsi masyarakat dari konsumsi makanan
menjadi konsumsi non makanan.
Selain itu, florikultura memiliki sifat yang unik karena dikonsumsi untuk memenuhi
kebutuhan non jasmani. Komoditas agribisnis florikultura meliputi tanaman hias daun dan bunga
potong serta bunga pot. Saat ini bunga potong merupakan bunga yang paling banyak digunakan
untuk rangkaian bunga di berbagai acara seperti acara pernikahan, keagamaan, kelahiran,
2

ucapanselamat sampai acara kematian. Hal tersebut menjadikan bisnis bunga potong merupakan
salah satu bisnis yang mempunyai peluang usaha yang cukup menjanjikan. Menurut data statistik
hortikultura mengenai perkembangan bunga potong pada tahun 2004 sampai dengan tahun2005,
ada lima jenis bunga potong yang paling populer dari sembilan jenis bunga potong yang terdata.
Di antaranya yaitu anggrek, krisan, mawar, sedap malam dan gladiol.

Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa bunga potong sedap malam menempati urutan luas panen
yang terluas dibandingkan dengan luas tanaman hias bunga potong lainnya. Namun, jika dilihat
dari pertumbuhannya, bunga potong krisanlah yang mengalami perkembangan tertinggi yaitu
sekitar 34,59 persen. Dilihat dari sisi produksi setiap tangkainya, bunga potong mawar
menduduki posisi tertinggi akan tetapi jika dilihat dari pertumbuhan produksinya, bunga potong
krisan menjadi urutan tertinggi yaitu sebesar 71,46 persen. Perkembangan luas panen dan
produksi tanaman hias bunga potong yang cenderung meningkat dipicu oleh berkembangnya
bisnis-bisnis jasa seperti dekorator, florist serta hotel yang membutuhkan bunga potong untuk
menambah estetika ruangan. Selain digunakan sebagai tanaman hias, krisan juga berpotensi
untuk digunakan sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga (hama).
3

Salah satu jenis bunga potong yang paling populer di dunia adalah krisan. Sebanyak lebih dari 80
persen perdagangan bunga potong di pasar domestik dan internasional didominasi oleh krisan
(Wasito, 2004). Saat ini krisan dikembangkan karena mempunyai peluang besar untuk
meningkatkan taraf hidup petani yang bernilai ekonomis cukup tinggi. Di samping memiliki
keindahan karena keragaman bentuk dan warnanya. bunga krisan juga memiliki kesegaran yang
relatif lama dan mudah dirangkai. Keunggulan lain yang dimiliki adalah bahwa pembungaan dan
panennya dapat diatur menurut kebutuhan pasar. Hal tersebutlah yang membuat saya tertarik
untuk memiliki usaha bunga krisan dan membahas lebih lanjut tentang prospek usaha budidaya
krisan tersebut.











4

BAB II
ASPEK PEMASARAN

2.1 Analisis pasar
Usaha florikultura memiliki sifat yang unik karena dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan
non jasmani. Akan tetapi meskipun bukan sesuatu yang menjadi kebutuhan primer tetapi tingkat
kebutuhan pasar akan produk ini tinggi untuk kalangan menengah keatas, meskipun tidak dibeli
untuk kebutuhan sehari-hari lebih kepada penjualan periodik tetapi dalam jumlah kuantitas yang
banyak. Saat ini bunga potong merupakan bunga yang paling banyak digunakan untuk rangkaian
bunga di berbagai acara seperti acara pernikahan, keagamaan, kelahiran, ucapan selamat sampai
acara kematian. Hal tersebut menjadikan bisnis bunga potong merupakan salah satu bisnis yang
mempunyai peluang usaha yang cukup menjanjikan.
2.1.1 Analisis produk
Klasifikasi botani tanaman hias krisan adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermathophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Famili : Asteraceae
Genus : Chrysanthemum
Species : C. morifolium Ramat, C. indicum, C. daisy
Produk Bunga potong krisan yang akan diproduksi oleh Golden Flowers Farm terdiri dari
tipe spray dan standard. Tipe spray memiliki banyak kuntum bunga sementara bunga terminal
(bunga pada ujung atas) dibuang. Tipe standard hanya memiliki bunga terminalnya saja sehingga
bunganya besar. Menyediakan dengan berbagai varietas warna (kuning, putih dan hijau ) serta
bentuk yang berbeda. Dengan pembagian budidayanya yaitu 60% untuk type standard dan 40%
untuk tipe spray (pembagian berdasarkan besarnya permintaan pelanggan).
5












2.1.2 Analisis Harga
Dalam masalah harga menggunakan penetapan harga paniatris untuk produk , yaitu dengan
menetapkan harga sama atau mendekati harga yang ditetapkan saingan di pasar dengan
memperhatikan tingkat permintaan di pasaran. Selain menghasilkan produk yang berkualitas
baik, harga yang ditawarkan di pasaran juga kompetitif.







6

2.2 Pesaing
Menurut Statistik Hortikultura pada tahun 2005, ada lima provinsi yang berperan sebagai
penyumbang produksi krisan nasional (Gambar 1). Provinsi yang menyumbang produksi krisan
terbesar yaitu Provinsi Jawa Barat dengan produksinya mencapai 36.749.988 tangkai krisan atau
sekitar 77,42 persen dari total produksi krisan nasional di Indonesia. Provinsi Jawa Barat
menjadi sentra produksi tanaman hias nasional terbesar di Indonesia karena kondisi tanahnya
yang banyak berada di dataran. Hal tersebutlah yang mendorong pengusaha-pengusaha untuk
bergerak di bidang yang sama yaitu budidaya bunga krisan.
Menurut Survei dan analisis saya, pesaing utama dari Golden Flowers Farm adalah Loka
Farm karena perusahaan tersebut telah lama menjadi produsen bunga bahkan telah memiliki
banyak mitra tetap dan memiliki investor, meskipun begitu Golden Flowers Farm masih dapat
bersaing dan berpeluang merebut pasar dikarenakan masih terbuka lebarnya kesempatan untuk
memanfaatkan permintaan akan budi daya bunga krisan yang tinggi dimana Loka Farm tidak
dapat memenuhinya.

2.2.1 Kapasitas Produk Pesaing
Luas lahan Loka Farm yaitu 8000 meter
2
dari total luas lahan yang disediakan Puskop
seluas 3,5 hektar. Berdasarkan lahan seluas 8000 mete
r2
dibuat tujuh green house, di antaranya
enam green house untuk produksi krisan dan satu green house untuk produksi gerbera. Ukuran
satu buah green house yaitu 1000 meter
2
. Lahan sisa seluas 1000 meter
2
digunakan untuk green
house persemaian dan pembibitan.

7


Berikut ini uraian kapasitas produksi pesaing :

No Nama Pesaing Kapasitas produksi/ tahun (unit)
1
Loka Farm

(1000 x 48 minggu) = 48.000

2.3 Deskripsi dan Lokasi Usaha
Usaha ini bergerak dibidang pertanian terutama tanaman hortikultura. Dimana bunga krisan
yang menjadi objek budidayanya. Pola usaha tani yang akan digunakan adalah pola usaha secara
hidroponik yaitu di dalam rumah kaca (greenhouse). Luas lahan yang rencananya akan
digunakan yaitu 4500 meter, terdiri dari 4(greenhouse) untuk produksi krisan sedangkan sisanya
digunakan untuk keperluan lain yaitu bibit dan sebagainya.







Gambar Green house
Green house yang direncanakan berbentuk atap tumpang dan menggunakan bahan rangka
dari bambu sedangkan penutup atap digunakan plastik Ultraviolet 14 persen. Ketinggian green
8

house yang dibangun sekitar 2,5 sampai tiga meter. Penutup sisi-sisi green house menggunakan
jala paranet agar dapat mengurangi serangga yang masuk ke dalam green house.
Tiap green house diasumsikan berukuran 1000 meter
2
Dari luas lahan 1000 meter hanya
luasan 600 meter
2
saja yang didapat digunakan untuk lahan produksi. Sisa lahan seluas 400
meter
2
digunakan untuk jarak antar bedengan, selokan dan jalan setapak. Tiap bedengan
dipasang jaring/net berbentuk persegi untuk penanaman dengan lebar tiap kotaknya 10 cm dan
satu deret jaring tersebut memiliki 10 kotak sehingga tiap satu deret menghasilkan 10 tangkai
bunga Untuk menghemat lahan, bibit tambahan yang digunakan untuk penyulaman sebesar 20
persen ditanam di green house yang sama dengan sehingga total kapasitas maksimum satu green
house yaitu 72.000 bibit.
Nama Usaha : Golden Flowers Farm
Jenis Usaha : Agribisnis Hortikultura
Pemilik Usaha : Shinta
Lokasi : Parompong, Lembang









Golden Flowers
Farm
9

Dengan lokasi usaha dan pemasaran yang berada di daerah Parompong, lembang
memiliki jarak sekitar 44,1 km dengan waktu tempuh 1 jam 2 untuk pendistribusian produk ke
sentra bunga potong wastukencana dan tega lega

2.4 Promosi
Pada dasarnya aktivitas penjualan barang tidak bisa berjalan sendiri. Sekalipun produk
yang dibuat sudah sangat sempurna dalam memenuhi kebutuhan pembeli, penetapan harga yang
baik tanpa diiringi dengan penyebaran informasi yang baik, hal ini akan menyebabkan kegalalan
dalam proses bisnis terutama dalam pemasaran. Maka dari itu berbagai bentuk kegiatan
komunikasi menjadi hal penting dalam pemasaran, selain itu harus adanya hubungan yang baik
antara produsen dan distributor maka dari itu kami juga melakukan kontak langsung dengan
distibutor dan florist yang ada di sentra pejualan bunga potong yaitu pedagang di pasar bunga
wastukecana dan tegalega. Penjualan dilakukan dengan sistem kontrak dimana sebelumnya telah
disepakati oleh kedua pihak.
Salah satu bentuk kegiatan komunikasi yang bisa dilakukan adalah promosi.
Biaya Promosi
Dibawah ini adalah rician rencana biaya promosi yang akan dikeluarkan Belle Boutique
dalam setahun untuk memperkenalkan produknya.
Tabel 2.3 BiayaPromosi
No Jenis
Promosi
Jumlah Harga
Satuan
Jumlah
1 Brosur 200 buah Rp. 1000 Rp. 200.000
2 Spanduk 10 buah Rp. 150.000 Rp. 1.500.000
Jumlah Rp. 1.700.000


10

BAB III
ASPEK ORGANISASI DAN MANAJEMEN

3.1 Bentuk Usaha
Pembentukan usaha penjualan rokini sudah melalui perhitungan yang matang. Dilihat
dari prospek bisnis, bisnis bunga potong untuk saat ini sangat menjanjikan karena banyaknya
permintaan akan bunga potong. Golden Flowers Farm merupakan perusahaan yang kami dirikan,
dengan pimpinan perusahaan yaitu Shinta dan Yudy Anuwar, sebagai penanam modal. Bentuk
usaha dari Golden Flowers Farm adalah Firma (Fa).Pemilihan Firma dikarenakan firma
merupakan suatu persekutuan yang dibentuk untuk menjalankan usaha antara dua orang atau
lebih dengan nama bersama, dimana tanggung jawab masing-masing anggota firma tidak
terbatas, sedangkan laba yang diperoleh dari usahaakan dibagibersama-sama. Demikian pula
halnya jika menderita kerugian, semua anggota firma ikut menanggung kerugian tersebut .Selain
itu firma adalah persekutuan usaha yang memakai nama bersama

3.2 Jenis Usaha
Nama Perusahaan Golden Flowers Farm
Bentuk Usaha Firma (Fa)
Jenis Usaha Holtikultura
TahunBerdiri 2014
NamaPemilik/Pengelola Shinta
Yudy Anuwar
Alamat Parompong, lembang jawa barat
JumlahTenagaKerja 8 orang

11


3.3 StrukturOrganisasi
STRUKTUR ORGANISASI Golden Flowers Farm

3.4 Legalitas Usaha
Untukmendirikan suatu usaha termasuk usaha bisnis diperlukan perizinan dari instansi
atau lembaga terkait. Jenis-jenis perizinan yang diperlukan untuk mendirikan Golden
Flowers Farm adalahsebagaiberikut:

1. AkteNotarisPendirianBentuk Usaha Firma
2. IzinDomisili Perusahaan
3. NomorPokokWajibPajak
4. TandaDaftar Perusahaan
Direktur
shinta
Manager Akuntansi dan
Keuangan
shinta
Manager Produksi
yudy Anuwar
Staff
staff
staff
staff
staff
staff
staff
staff
12

5. SuratIzin Usaha Perdagangan
6. SuratIzinTempat Usaha
Biaya Perizinandan Amortisasi
Tabel 4.2 BiayaPerizinandanAmortisasi
No JenisPerizinan Biaya (Rp) UmurEkonomis
Amortisasi per
Tahun (Rp)
1 Izin Domisili Perusahaan 500.000 5 100.000
2 Nomor Pokok Wajib Pajak -
3 Tanda Daftar Perusahaan 400.000 5 80.000
4
Surat Izin Usaha
Perdagangan
2.000.000 5 400.000
5 Surt IzinTempat Usaha 800.000 5 160.000
TOTAL 3.700.000 740.000










13


BAB IV
ASPEK PERSEDIAAN

4.1 PERSEDIAAN BIBIT
Perencanaan Proporsi Produksi Krisan Tipe Standar dan Spray Pemanenan dilakukan
pada hari Minggu dengan proporsi volume produksi yaitu 30 persen dan pemanenan pada hari
Rabu yaitu 70 persen sesuai dengan total volume permintaan sesuai kontrak. Jumlah proporsi
bunga krisan tipe standar dan tipe spray setiap panen dibagi masing-masing 80 persen dan 20
persen. Jumlah permintaan per Minggu dikalikan 10 tangkai karena satu ikat bunga krisan terdiri
dari 10 tangkai. Berikut ini adalah rincian perencanaan proporsi jumlah produksi krisan tipe
standar dan tipe spray sesuai dengan permintaan.

Pemanenan Hari Minggu
Contoh Jika Permintaan 1.500 ikat per minggu 1.500 ikat x 30 % = permintaan hari Minggu
sebanyak 450 ikat 450 ikat x 10 tangkai = 4.500 tangkai

Krisan Tipe Standar
4500 tangkai x 80 % bunga krisan tipe standar = permintaan tipe standar hari Minggu sebanyak
3600 tangkai. Untuk menghasilkan krisan tipe standar sebanyak 3600 tangkai diperlukan
tambahan bibit sebanyak 20 persen untuk penyulaman karena dari total penanaman hanya 80
persen yang dapat dipanen. Artinya jumlah bibit yang harus dibeli untuk memenuhi permintaan
pada hari Minggu yaitu 4500 bibit.
3600 bibit (80%) + 900 bibit(20%) = 4500 bibit (100%)

Krisan Tipe Spray
4500 tangkai x 20 % bunga krisan tipe spray = permintaan tipe spray hari Minggu sebanyak 900
tangkai. Untuk menghasilkan krisan tipe spray sebanyak 900 tangkai diperlukan tambahan bibit
14

sebanyak 20 persen untuk penyulaman karena dari total penanaman hanya 80 persen yang dapat
dipanen. Artinya jumlah bibit yang harus
ditanam untuk memenuhi permintaan pada hari Minggu yaitu 1.120 bibit.
900 bibit (80%) + 220 bibit(20%) = 1.120 bibit (100%)

Pemanenan Hari Rabu
Contoh Jika Permintaan 1.500 ikat per minggu 1.500 ikat x 70 % = permintaan hari Rabu
sebanyak 1.050 ikat1.050 ikat x 10 tangkai = 10.500 tangkai

Krisan Tipe Standar
10.500 ikat x 80 % bunga krisan tipe standar = permintaan tipe standar hari Rabu sebanyak 8.400
tangkai. Untuk menghasilkan krisan tipe standar sebanyak 8.400 tangkai diperlukan tambahan
bibit sebanyak 20 persen untuk penyulaman karena dari total penanaman hanya 80 persen yang
dapat dipanen. Artinya jumlah bibit yang harus ditanam untuk memenuhi permintaan pada hari
Rabu yaitu 10.500 bibit. 8.400 bibit (80%) + 2.100 bibit (20%) = 10.500 bibit (100%)

Krisan Tipe Spray
10.500 tangkai x 20 % bunga krisan tipe spray = permintaan tipe spray hari Rabu sebanyak 2.100
tangkai. Untuk menghasilkan krisan tipe spray sebanyak 2.100 tangkai diperlukan tambahan
bibit sebanyak 20 persen untuk penyulaman karena dari total penanaman hanya 80 persen yang
dapat dipanen. Artinya jumlah bibit yang harus ditanam untuk memenuhi permintaan pada hari
Rabu yaitu 2.620 bibit.
2.100 bibit (80%) + 520 bibit (20%) = 2.620 bibit (100%)








15




a. 1 green house = 1000 m
2

b. 1000 m
2
= 600 m
2

c. Kapasitas satugreen house = 600 m
2
x jarak tanam (10cm x 10cm)
= 60.000 tangkai + 20% penyulaman
= 72.000 tangkai per green house
d. 18.740 tangkai x 12 minggu (1 tahun) = 224.880 tangkai
e. 72.000 tangkai x 12 minggu (1 tahun) = 864.000 tangkai
f. 18.740 bibit x 175 =Rp 3.279.500 (Biaya Bibit)
=Rp 13.118.000

4.2 PERSEDIAAN PUPUK

4.2.1 Pupuk sebelum ditanam

Lahan untuk tanaman bibit induk sebelumnya diberi pupuk ayam, pupuk domba serta
dolomit. Pupuk tersebut kemudian dibiarkan selama satu minggu. Ketika bibit induk akan
ditanam, lahan terlebih dahulu diberi NPK mutiara dan furadan. Setelah diberi pupuk, lahan bisa
langsung ditanami.
Uraian Takaran/90m
2

Dosis untuk
600m
2

Harga
satuan
Total
Pupuk Ayam 30 karung 200 karung 9000 1.800.000
Pupuk Domba 60 karung 400 karung 7500 3.000.000
Kapur Dolomit 30 karung 200 karung 850 170.000
NPK Mutiara 9 karung 60 karung 12000 720.000
Total Biaya Pupuk 5.690.000/22.760.000

4.2.2 Pupuk Rutin
16

Pemupukan rutin dilakukan pada saat tanaman berumur 10 hari. Pupuk yang diberikan
yaitu pupuk KNO
3
dengan dosis 2 kilogram dengan luasan 72m
2
dan dilarutkan ke dalam 200
liter air sehingga takaran penggunaan pupuk KNO
3
untuk satu kali pemupukan dengan luasan
600 meter
2
yaitu 17 kilogram. Tanaman diberi pupuk KNO
3
setiap 10 hari sekali. Pemupukan
dilakukan enam kali dari pemupukan pertama sampai tanaman berumur dua bulan sembilan
minggu sehingga kebutuhan pupuk KNO
3
untuk bibit produksi seluas 600 meter
2
selama satu
periode musim tanam yaitu 1020 kilogram. Biaya pupuk rutin 1020x2000=2040000 sedangkan
untuk 4 kali periode musim tanam adalah Rp 8.160.000

4.3 PERSEDIAAN OBAT-OBATAN

Pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan Agrimec, Confider, Ditan, Decis.
Pengendalian hama dilakukan pertama kali ketika bibit produksi berumur tiga minggu kemudian
penyemprotan dapat dilakukan setiap seminggu sekali. Alat yang digunakan untuk penyemprotan
yaitu handsprayer. Satu handsprayer berkapasitas 17 liter untuk luasan 90 meter
2
. Penyemprotan
obat-obatan dilakukan sampai enam kali selama satu periode musim tanam. Satu tahun terdiri
dari tiga periode dan lamanya satu periode yaitu empat bulan. Sedangkan total biaya obat-obatan
satu tahun adalah Rp 7.968.000 x 4 = Rp 31.872.000 dengan rincian kuantitas sebagai berikut.

Uraian Dosis (per liter)
Dosis satu
handsprayer luasan
90m (17 liter)
Dosis untuk
600meter
Agrimec 1ml 17 ml 113,3 ml
Confider 1 ml 17 ml 113,3 ml
Dhitane M45 6 gr/liter 102 gr/17 liter 0,7 kilogram
Decis 0,5 ml 8,5 ml 56,67 ml
Furadan 1,5 karung 10 karung
Vitabloom Blossom
Booster
8 gr/4 liter 34 gr/17 liter 226 gr
Vitabloom Leaf Tonic 8gr/4 liter 34 gr/17 liter 226 gr

17




Total Biaya untuk Persediaan
Bibit = Rp 13.118.000
Pupuk sebelum tanam = Rp 22.760.000
Pupuk Rutin = Rp 8.160.000
Obat-obatan = Rp 31.872.000
Total = Rp 75.910.000












18

BAB V
ASPEK PRODUKSI

5.1 SYARAT PERTUMBUHAN
Iklim
1. Tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terhadap terpaan air
hujan. Oleh karena itu untuk daerah yang curah hujannya tinggi,
penanaman dilakukan di dalam bangunan rumah plastik.
2. Untuk pembungaan membutuhkan cahaya yang lebih lama yaitu dengan bantuan cahaya
dari lampu TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik adalah tengah
malam antara jam 22.3001.00 dengan lampu 150 watt untuk areal 9 m 2 dan lampu
dipasang setinggi 1,5 m dari permukaan tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan
sampai fase vegetatif (2-8 minggu) untuk mendorong pembentukan bunga.
3. Suhu udara terbaik untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah antara 20-26 derajat C.
Toleran suhu udara untuk tetap tumbuh adalah 17-30 derajat C.
4. Tanaman krisan membutuhkan kelembaban yang tinggi untuk awal pembentukan akar
bibit, setek diperlukan 90-95%. Tanaman muda sampai dewasa antara 70-80%, diimbangi
dengan sirkulasi udara yang memadai.
5. Kadar CO2 di alam sekitar 3000 ppm. Kadar CO2 yang ideal untuk memacu fotosistesa
antara 600-900 ppm. Pada pembudidayaan tanaman krisan dalam bangunan tertutup,
seperti rumah plastik, greenhouse, dapat ditambahkan CO2, hingga mencapai kadar yang
dianjurkan.
Media Tanam
1. Tanah yang ideal untuk tanaman krisan adalah bertekstur liat berpasir, subur, gembur dan
drainasenya baik, tidak mengandung hama dan penyakit.
2. Derajat keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman sekitar 5,5-6,7.
19

Ketinggian Tempat
ketinggian tempat yang ideal untuk budidaya tanaman ini antara 7001200 m dpl.

5.2 PROSES PRODUKSI
1. Pembelian Bibit Produksi
2. Pengolahan Media Tanam
a) Pembentukan Bedengan : Olah tanah dengan menggunakan cangkul sedalam 30 cm
hingga gembur, keringanginkan selama 15 hari. Gemburkan yang kedua kalinya sambil
dibersihkan dari gulma dan bentuk bedengan dengan lebar 100-120 cm, tinggi 20- 30 cm,
panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antara bedengan 30-40 cm.
b) Pengapuran : Tanah yang mempunyai pH > 5,5, perlu diberi pengapuran berupa kapur
pertanian misalnya dengan dolomit, kalsit, zeagro. Dosis tergantung pH tanah. Kebutuhan
dolomit pada pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 =
3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan
3. Teknik Penanaman
Teknik Penanaman Bunga Potong
a) Penentuan Pola Tanam. : Tanaman bunga krisan merupakan tanaman yangdapat
dibudidayakan secara monokultur.
b) Pembuatan Lubang Tanam : Jarak lubang tanam 10 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm. Lubang
tanam dengan cara ditugal. Penanaman biasanya disesuaikan dengan waktu panen yaitu
pada hari-hari besar. Waktu tanam yang baik antara pagi atau sore hari.
c) Pupuk Dasar : Furadan 3G sebanyak 6-10 butir perlubang. Campuran pupuk ZA 75 gram
ditambah TSP 75 gram ditambah KCl 25gram (3:3:1)/m2 luas tanam, diberikan merata
pada tanah sambil diaduk.
20

d) Cara Penanaman : Ambil bibit satu per satu dari wadah penampungan bibit, urug dengan
tanah tipis agar perakaran bibit krisan tidak terkena langsung dengan furadan 3G.
Tanamkan bibit krisan satu per satu pada lubang yang telah disiapkan sedalam 1-2 cm,
sambil memadatkan tanah pelan-pelan dekat pangkal batang bibit. Setelah penanaman
siram dengan air dan pasang naungan sementara dari sungkup plastik transparan..
4. Pemeliharaan Tanaman
a) Penjarangan dan Penyulaman : Waktu penyulaman seawal mungkin yaitu 10-15 hari
setelah tanam. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit yang mati atau layu
permanen dengan bibit yang baru.
b) Penyiangan : Waktu penyiangan dan penggemburan tanah umumnya 2 minggu setelah
tanam. Penyiangan dengan cangkul atau kored dengan hati-hati membersihkan rumput-
rumput liar.
c) Pengairan dan Penyiraman : Pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari,
pengairan dilakukan kontinu 1-2 kali sehari, tergantung cuaca atau medium tumbuh.
Pengairan dilakukan dengan cara mengabutkan air atau sistem irigasi tetes hingga tanah
basah.
5. Panen
a) Ciri dan Umur Panen
Penentuan stadium panen adalah ketika bunga telah setengah mekar atau 3-4 hari
sebelum mekar penuh. Tipe spray 75-80% dari seluruh tanaman. Umur tanaman siap
panen yaitu setelah 3-4 bulan setelah tanam.
b) Cara Panen.
Panen sebaiknya dilakukan pagi hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi dan saat bunga
krisan berturgor optimum. Pemanenan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dipotong
tangkainya dan dicabut seluruh tanaman. Tata cara panen bunga krisan: tentukan tanaman
siap panen, potong tangkai bunga dengan gunting steril sepanjang 60-80 cm dengan
menyisakan tunggul batang setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah.
c) Prakiraan Produksi
21

Perkiraan hasil bunga krisan pada jarak 10 x 10 cm seluas 1 ha yaitu 800.000 tanaman
6. Pascapanen
Pengumpulan , Kumpulkan bunga hasil panen, lalu ikat tangkai bunga berisi sekitar 10
tangkai simpan pada wadah yang telah diberi air.
7. Penyortiran dan Penggolongan
Pisahkan tangkai bunga berdasarkan tipe bunga, warna dan varietasnya. Lalu bersihkan dari
daun-daun kering atau terserang hama. Buang daun-daun tua pada pangkal tangkai. Kriteria
utama bunga potong meliputi penampilan yang baik, menarik, sehat dan bebas hama dan
penyakit. Kriteria ini dibedakan menjadi 3 kelas yaitu:
1. Kelas I untuk konsumen di hotel dan florist besar, yaitu panjang tangkai bunga lebih dari
70 cm, diameter pangkal tangkai bunga lebih 5 mm.
2. Kelas II dan III untuk konsumen rumah tangga, florits menengah dan dekorasi massal
yaitu panjang tangkai bunga kurang dari 70 cm dan diameter pangkal tangkai bunga
kurang dari 5 mm.
Perencanaan Penjualan Bunga Potong Krisan Jumlah bibit bunga krisan yang ditanam
tidak semuanya bisa dipanen. Hal ini dikarenakan adanya kendala dan gangguan dalam proses
penanaman serta pertumbuhan tanaman. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan
penambahan bibit produksi untuk penyulaman sebanyak 20 persen agar jumlah bunga krisan
untuk pemenuhan kontrak tidak berkurang. Berikut ini adalah perhitungan jumlah bibit yang
harus ditanam pemenuhan kontrak:
A = jumlah bunga yang diminta untuk kontrak per minggu
B = penambahan jumlah bibit untuk penyulaman
C = total jumlah bibit yang harus ditanam per minggunya
A (80%) + B (20%) = C (100%)
22

Jumlah bunga potong krisan yang bisa dipanen setiap minggunya yaitu 80 persen dari
total jumlah penanaman, akan terbagi lagi dengan proporsi bungakrisan berkualitas grade
A, B dan C.
Berikut ini adalah rincian proporsi bunga krisan grade A, B, dan C.
Grade A : 62,5 %
Grade B : 20,83 %
Grade C : 16,67 %
8. Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan dilakukan dengan memberikan karton atau kertas pada kelopak bunga krisan
spray, sedangkan untuk tipe standar tidak ada perlakuan khusus, dan masalah pengankutan
menjadi tanggung jawab pembeli sesuai dengan kontrak yang telah disepakati.
5.3 RENCANA PRODUKSI
Perkiraan hasil Panen bunga Krisan Standar dan Spray berdasarkan panen hari minggu
dan hari rabu dengan asumsi kontrak permintaan 1500 yang merupakan kapasitas maksimal pada
green house. Dengan kebutuhan akan bibit sebagai berikut :






23






















24


BAB VI
ASPEK KEUANGAN

6.1 CASH IN FLOW DAN OUT FLOW
6.1.1 CASH IN FLOW
Arus manfaat pengusahan bunga potong krisan Golden Flowers Farm diperoleh dari
penerimaan hasil penjualan produk dari green house produksi, modal pinjaman dari Bank dan
nilai sisa. Adapun rincian penerimaan tersebut dapat dilihat di bawah ini.

a) Penerimaan dari Green House Produksi
Penjualan Bunga Potong Krisan Grade A Sebesar 62,5 Persen
Rincian penerimaan penjualan bunga potong krisan grade A sebanyak 62,5 persen dari
total permintaan per minggu sesuai dengan tipe krisan, waktu panen. Penerimaan hasil penjualan
bunga potong krisan grade A sebanyak 62,5 persen yang dihasilkan dari
Green house produksi selama satu tahun














25

Penjualan Bunga Potong Krisan Grade B Sebesar 20,83 Persen
Rincian penerimaan penjualan bunga potong krisan grade B sebesar 20,83 persen
disesuaikan dengan tipe krisan. Penerimaan hasil penjualan bunga potong krisan grade B sebesar
20,83 persen yang dihasilkan dari green house produksi selama satu tahun.





Penjualan Bunga Potong Krisan Grade C Sebesar 16,67 Persen
Rincian penerimaan penjualan bunga potong krisan grade C sebesar 16,67 persen
disesuaikan dengan tipe krisan. hasil penjualan bunga potong krisan grade C sebesar 16,67
persen yang dihasilkan dari green house produksi selama satu tahun.




b) Modal Pinjaman Bank sebesar Rp 200.000.000
c) Penyusutan Investasi (Peralatan)
No Uraian
Umur
Teknis
Total Nilai
Penyusutan
/Tahun
1 GH Produksi 4 81.693.200 20.423.300
2 Lampu 4 7.467.500 1.866.875
3 Tray 1 1.464.000 1.464.000
26

4 Handsprayer 2 1.500.000 750.000
5 Mesin Pompa 4 2.500.000 625.000
6 Selsng 4 1.332.000 333.000
7 Instalasi Listrik 4 6.750.000 1.687.500
8 Drum 4 375.000 93.750
9 Gunting 3 100.000 33.333
10 Cangkul 3 125.000 41.667
11 Sepatu Boots 3 280.000 93.333
12 Ember 1 17.500 17.500
13 Keranjang 4 360.000 90.000
14 Tirai 4 385.000 96.250
Total 104.349.200 27.615.508

6.1.2 CASH OUT FLOW
a) Biaya peralatan
No Uraian Total Nilai
1 GH Produksi 81.693.200
2 Lampu 7.467.500
3 Tray 1.464.000
4 Handsprayer 1.500.000
5 Mesin Pompa 2.500.000
6 Selsng 1.332.000
7 Instalasi Listrik 6.750.000
8 Drum 375.000
9 Gunting 100.000
10 Cangkul 125.000
11 Sepatu Boots 280.000
12 Ember 17.500
13 Keranjang 360.000
14 Tirai 385.000
Total 104.349.200







27

b) Biaya Tetap



c) Biaya Variabel


d) Biaya Cicilan Pinjaman Modal
Analisis finansial kelayakan pengusahaan bunga potong krisan perolehan modal
pinjaman dari Bank. Modal yang dipinjamkan dari kedua belah pihak untuk modal awal usaha
yaitu Rp 200 juta. Lamanya pinjaman tersebut yaitu empat tahun sesuai dengan umur teknis
green house. Berikut ini adalah perhitungan pembayaran cicilan pinjaman pokok dan bunga
pinjaman jika modal berasal dari Bank.
Pinjaman Rp200.000.000

Bunga 18% per tahun

Tahun 4 tahun






No Deskripsi Satuan Jumlah Biaya Per Bulan Total Biaya 1
periode
1 Biaya Telepon 125.000 1.500.000
2 Perlengkapan Kantor dan ATK 200.000 2.400.000
3 Biaya Pemeliharaan
Pencucian Atap GH GH 4 750.0006/bulan 6750.000
Pembelian sabun dan spons GH 4 10.000/6bulan 90.000
4 Biaya Listrik 1.200.000
5 Biaya PDAM 600.000
Total Biaya Tetap 12.540.000
No Deskripsi Biaya
1 Biaya Bibit 13.118.000
2 Biaya Pupuk 30.920.000
3 Biaya Obat-Obatan 31.872.000
4 Biaya Tenaga Kerja
Tk. Pria 4x25000 36.000.000
Tk. Wanita 4x15000 21.600.000
Total 133.510.000
28

Tahun Ke- Pokok Angsuran Bunga Pinjaman Total Angsuran Sisa Pinjaman
Rp 200.000.000
1 Rp38.347.734 Rp36.000.000 Rp74.347.734 Rp 161.652.266
2 Rp45.250.326 Rp29.097.408 Rp74.347.734 Rp 116.401.939
3 Rp53.395.385 Rp20.952.349 Rp74.347.734 Rp 63.006.554
4
Rp63.006.554 Rp11.341.180 Rp74.347.734 Rp (0)

e) Biaya Pajak
Tahun 1 2 3 4 5

15% 25%
Laba Bersih
Sebelum Pajak
256.783.492 220.918.492 227.821.084 235.966.143 245.577.312
Pajak 15 %-25%
64.195.873 33.137.774 34.173.163 35.394.921 36.836.597
Laba Bersih
Setelah Pajak
192.587.619 187.780.718 193.647.921 200.571.222 208.740.715


6.2 RASIO LIKUIDITAS
6.2.1 Current Ratio
Current Ratio atau Rasio Lancar adalah rasio yang membandingkan antara total aktiva
lancar dan hutang lancar, yang dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:





CURRENT RATIO
TAHUN KE- AKTIVA LANCAR KEWAJIBAN LANCAR CURRENT RATIO
1 Rp240.348.395 Rp38.347.734 626,76%
2 Rp388.745.990 Rp45.250.326 859,10%
3 Rp537.143.585 Rp53.395.385 1005,97%
4 Rp685.541.180 Rp63.006.554 1088,05%
5 Rp878.263.799
Kewajiban lancar telah lunas sampai pada tahun ke 5
29

6.2.2 Cash Ratio
Hasil rasio ini juga dapat digunakan untuk menilai apakah rasio suatu perusahaan tersebut
baik, terlalu likuid atau kurang likuid, tetapi rasio ini lebih mencerminkan kemampuan
perusahaan untuk melunasi hutang lancarnya lebih tepat waktu dari pada rasio sebelumnya.
Rumus dari cash rasio yaitu sebagai berikut:





CASH RATIO
TAHU
N KE- KAS
SURAT
BERHARG
A
KEWAJIBAN
LANCAR CASH RATIO
1 Rp 237.948.395 Rp0 Rp38.347.734 620,50%
2 Rp 386.345.990 Rp0 Rp45.250.326 853,80%
3 Rp 534.743.585 Rp0 Rp53.395.385 1001,48%
4 Rp 683.141.180 Rp0 Rp63.006.554 1084,24%
5 Rp 875.863.799 Rp0
Kewajiban lancar telah lunas sampai pada tahun ke 5
6.3 Piutang
Asumsi Piutang Tak Tertagih
Jumlah penyisihan disesuaikan dengan nilai yang ditetapkan berdasarkan analisa umur
piutang (aging)
Metode ini banyak digunakan karena setiap rekening piutang secara satu persat diadakan
analisa yang dikaitkan dengan umur piutangnya. Rekening-rekening yang ada disusun
berdasarkan kelompok umur piutang yang ditarik dari tanggal jatuh temponya.
Karena sistem penjualan produk Golden Flowers Farm menggunakan kontrak maka
memiliki debitur yang tetap yaitu : Distributor bunga di Tegalega (Lily Florist) dan Distributor
bunga di Wastukencana (Rosalinda Florist) dimana kedua distributor tersebut memiliki jumlah
kuantitas pesanan yang sama atau sesuai kontrak setiap periodenya. (diasumsikan piutang tidak
tertagihnya adalah sesuai dengan daftar umur piutang dagang yang telah disediakan). Dengan
termin sesuai kontrak yaitu < dari 30 dan 1/10 untuk pembayaran sebelum atau sama dengan hari
kesepuluh produk diterima.
30

Debitur Saldo
Piutang
Diskon 1% Belum Jatuh
Tempo
Lewat Jatuh Tempo
1-30 31-60 61-90 >90
Lily Florist 76.870.819 768.708 76.102.111
Rosalinda
Florist
32.944.637 329.446 32.615.191
Jumlah 109.815.456 1.098.154
Kerugian 1% 3% 10% 20% 50%
Cadangan
Kerugian
761.021
326.151
1.087.172


Dengan keterangan bahwa piutang yang tidak tertagih telah mengurangi total penjualan.
Penjualan Pertahun belum termasuk cadangan piutang = Rp 439.261.822,8
Penjualan/ satu periode tanam belum termasuk cadangan piutang = Rp 109.815.456
Penjualan perbulan setelah dikurangi dengan
pemberian diskon dan cadangan piutang tak tertagih = Rp 106.029.677
Total Diskon = Rp 1.098.154
Cadangan Piutang tak tertagih = Rp 1.087.172
Total/ 1 Periode = Rp 2.185.326
Total / Tahun = Rp 8.741.304
Penjualan Bersih = +/- Rp 430.624.000