Anda di halaman 1dari 11

PERENCANAAN SEWERAGE

1. Daerah Perencanaan

Berikut adalah daerah perencanaan sistem sewerage yang akan dibangun. Daerah
perencanaan dibagi menjadi beberapa zona yang tunjukkan oleh huruf D, E, F, dan G dengan
pembagian wilayah sebagai beikut:
1. Zona D terdiri dari wilayah D1 dengan warna merah muda dan D2 warna biru tua
2. Zona E terdiri dari wilayah E1 dengan warna kuning dan E2 warna merah
3. Zona F terdiri dari wilayah F1 dengan warna biru muda dan E2 warna ungu
4. Zona G terdiri dari wilayah G1 dengan warna coklat dan E2 warna orange

2. Perencanaan Pipa Penyaluran Air Buangan
a. Analisis Kondisi Eksisiting
1) Penukiman
Permukiman penduduk di Kebon Kembang Bandung sangat padat dan kumuh
walaupun sebagian besar rumah penduduk merupakan rumah permanen. Jarak antar
rumah rata-rata tidak lebih dari satu meter, selain itu banyak rumah yang tidak
memiliki IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan rumah tersebut didirikan di atas tanah
milik Negara. Hal ini bisa disebabkan karena daerah ini merupakan daerah komersial
karena jaraknya cukup besar dengan pusat perbelanjaan dan perguruan tinggi seperti
UNISBA, UNPAS, dan ITB. Karena keadaan permukiman penduduk yang padat ini
maka dibuat sistem penyaluran air buangan yaitu shallow bore sewer yang tidak
memerlukan adanya tangki interseptor di setiap rumah karena persyaratan untuk
pembuatan tangki interseptor di setiap rumah tidak akan terpenuhi dengan jarak
rumah yang sangat sempit. Adapun persyaratan tangki interseptor yaitu:
a) Diterapkan di daerah dengan kepadatan penduduk < 500 jiwa/ha.
b) Kecepatan daya resap tanah > 0,0146 cm/menit dan< 1,25 cm/menit.
c) Dapat dijangkau oleh truk penyedot tinja.
d) Tersedia lahan untuk bidang peresapan

2) Topografi
Kondisi topografi di RW 12 Kelurahan Taman Sari Bandung cenderung menurun dari
arah timur ke arah barat dengan slope yang cukup besar, untuk lebih lengkapnya bisa
dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar. Peta Topografi Kebon Kembang
Karena kontur daerahnya menurun, maka dibuat arah aliran air buangan pun menurun sesuai
gravitasi agar tidak perlu digunakan pompa lagi.

3) Sungai Cikapundung
Sungai Cikapundung terletak di sebelah utara RW 12 Kelurahan Taman Sari
Bandung. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung Tahun 2010-
2030 Kawasan Sungai Cikapundung ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis
Kota (KSK) yang mempunyai nilai strategis dari sudut kepentingan fungsi Daya
Dukung Lingkungan Hidup. Namun kenyataannya kualitas air di Sungai Cikapundung
tidak dijaga dengan baik contohnya oleh penduduk RW 12 Kelurahan Taman Sari
Bandung ini dengan membuang sampah, black water, dan grey waternya ke badan
sungai Cikapundung yang tentunya akan mencemari sungai Cikapundung ini. Oleh
karena itu perlu dibuat suatu sistem penyaluran air buangan yang baik sebagai contoh
shallow bore sewer agar Sungai Cikapundung tidak tercemar lagi oleh black water
dan grey water dari penduduk.


b. Analisis Pemilihan Sistem dan Perpipaan
Atas dasar pertimbangan-pertimbangan di atas pada kondisi eksisting di daerah pelayanan,
maka sistem penyaluran air kotor yang akan diterapkan di daerah tersebut adalah Shallow
Bore Sewer atau Sistem Riol Dangkal. Shallow Bore Sewer merupakan sistem penyaluran air
limbah yang di desain untuk menerima semua air limbah rumah tangga tanpa lebih dahulu
diendapkan dalam tangki interseptor atau tangki septik.
Sebenarnya ada sistem lain yang juga memungkinkan untuk diterapkan pada wilayah sepertin
ini, yaitu Small Bore Sewer. Hanya saja apabila menggunakan Small Bore Sewer maka
dibutuhkan tangki interseptor untuk mengolah padatan, karena saluran yang ada hanya dapat
mengalirkan air buangan (grey water). Daerah layanan kali ini merupakan daerah padat dan
akses jalannya berupa gang-gang kecil sehingga apabila diadakan tangki septik maka akan
kesulitan untuk menguras tangki septik tersebut karena mobil penyedot lumpur tinja tidak
dapat menjangkau daerah yang memiliki akses jalan yang kecil. Selain itu jika menggunakan
Small Bore Sewer maka dibutuhkan suatu organisasi yang dapat mengordinir pengoperasian
serta pemeliharaan. Kondisi masyarakat di daerah tersebut yang masih belum terlalu
memperhatikan masalah sanitasi akan menyulitkan pada saat seharusnya dilakukan
pemeliharaan ataupun pengontrolan saat pengoperasian sistem Small Bore Sewer ini. Untuk
alasan-alasan tersebutlah akhirnya kami memilih sistem Shallow Bore Sewer dibandingkan
Small Bore Sewer untuk wilayah ini.
Shallow Bore Sewer cocok diterapkan untuk :
Daerah berkepadatan penduduk tinggi
Perumahan berpendapatan rendah
Daerah yang tidak terdapat lahan tanah untuk membuang lubang sanitasi setempat
atau tangki interseptor (septik)
Untuk negara berkembang di mana biasanya tingkat urbanisasinya tinggi dan
kekurangan dan untuk sanitasinya.

Pada sistem Shallow Bore Sewer yang akan dibuat, air limbah dan padatan dari tiap-tiap
rumah akan dialirkan melalui pipa menuju ke primary treatment yaitu septic tank komunal
untuk kemudian diolah dan dibuang ke badan air. Di samping septic tank komunal yang akan
dibuat akan dibangun pula pengolahan lanjutan yaitu menggunakan ABR (Anaerobic Buffel
Reactor) untuk mereduksi efluen yang mungkin keluar dari septic tank komunal sehingga air
buangan yang terolah sudah benar-benar aman.
Sistem penyaluran yang kami buat sebisa mungkin akan mengalir secara gravitasi mengingat
susunan topografi yang tercantum pada peta. Penempatan septic tank didasarkan dengan
daerah yang akan dilayani. Septic tank komunal akan dibangun di sebelah selatan yang
memiliki elevasi tanah yang lebih rendah dari daerah pelayanan. Septic tank komunal
digambarkan dengan kotak berwarna biru yang akan dibangun di antara wilayah G1 dan G2.
Untuk sistem perpipaan, air buangan dari rumah-rumah penduduk akan dialirkan melalui pipa
persil menuju pipa servis dan langsung mengalir ke septic tank komunal secara gravitasi. Pipa
servis yang melayani zona E dimulai dari titik E menuju titik H
A
yang dibangun di belakang
rumah warga zona E. Untuk zona D wilayah D1 dilayani oleh pipa servis F- H
A
yang
dibangun di depan rumah warga. Untuk zona F dilayani oleh pipa servis G-H
B
yang dibangun
di belakang rumah warga. Untuk wilayah D2 dan wilayah G2 dilayani oleh pipa servis dari
titik H
B
yang dibangun di depan rumah warga yang langsung mengalir ke septic tank. Pipa ini
juga menerima air buangan dari pipa servis E- H
A
dan F- H
A
. Selanjutnya adalah wilayah G1
yang dilayani oleh pipa servis yang berawal dari titik I yang langsung mengarah ke septic
tank yang dbangun di belakang rumah warga.

3. Perhitungan
a. Jumlah Air Buangan
Tabel. Jumlah Penduduk dan Air Buangan Domestik tiap Wilayah
Zona Jumlah
Penduduk
Air Buangan
(l/s)
D 1
2
91
52
0,1134672
0,0648384
E 1
2
143
195
0,1783056
0,243144
F 1
2
156
78
0,1945152
0,0972576
G 1
2
169
143
0,2107248
0,1783056

Pada zona G terdapat sebuah toko yang menghasilkan air buangan 0,022500 l/s.

b. Dimensi Pipa
Tabel. Perhitungan Dimensi Pipa





Contoh Perhitungan untuk segmen E-F:
1) Panjang Segmen pipa


2) Debit Rata-Rata



3) Beda Tinggi (h
t
)

| |

| |

2) Panjang Pipa Ekivalen
L
ekivalen
= 1,1 x L
aktual

L
ekivalen
= 1,1 x 192 = 211,2 m


3) Debit Harian Maksimum (Qmd)

di mana :
Q
md
= Debit air buangan maksimum dalam 1 hari (L/dtk)
f
md
= Faktor debit hari maksimum
= 1,1-1,25 (1,25 Moduto)
Q
r
= Debit rata-rata air buangan (L/dtk)
0,00000042145 = 0,0005

m
3
/s

4) Debit Puncak (Qp)


P = Jumlah Penduduk/1000 orang

5) Debit Infiltrasi (Qinf)
Qinf = (L x q inf)+(0,2 x Qaverage wastewater)
di mana :
Qinf = debit tambahan dari infiltrasi limpasan air hujan (L/dtk)
L = panjang lajur pipa (m)
qinf = debit satuan infiltrasi dalam pipa. (2 L/dtk/1000)
(

) ( )



6) Debit Perencanaan (Qd)
Qd = Qp + Qinf
Qd = 0.000822

+ 0,0005

= 0,00133 m
3
/s

7) Slope tanah
Slope tanah =


Slope tanah =

= 0,00473

8) D teoritis


,
Q d = debit perencanaan
n = koefisien manning (0,012)
S pipa = kemiringan pipa

= 0,069 m

Diameter minimum untuk Shallow Bore Sewer adalah 100 mm.

9) Vfull

= 0,453 m/s

10) Qfull



= 0,00355 m
3
/s

11)



12) d/D dan Vd/Vfull
d/D dan Vd/Vfull diperoleh dari Nomograph di bawah ini. d/D diperoleh dengan menarik
garis lurus ke atas dari sumbu y (Q/Qfull) hingga menyinggung garis Discharge sehingga
didapatkan nilai d/D (sumbu x). Sedangkan Vd/Vfull diperoleh dengan mearik garis
lurus ke kanan dari sumbu x (d/D) hingga menyinggung garis velocity sehingga
didapatkan nilai v/vfull.



Gambar. Nomograph of selected hydraulic elements for circular pipe flowing partially full

13) Vd
Vd =
Vd = =0,412 m/s

14) Elevasi Puncak Awal Pipa
Elevasi Puncak Awal Pipa = elevasi awal tanah 2,5
Elevasi Puncak Awal Pipa = 728 2,5 = 725,5 m

15) Elevasi Puncak Akhir Pipa
Elevasi Puncak Akhir Pipa = elevasi akhir tanah 2,5
Elevasi Puncak Akhir Pipa = 727 2,5 = 724,5 m


16) Elevasi Dasar Pipa Hulu
Elevasi Dasar Pipa Hulu = Elevasi Puncak Awal Pipa diameter pipa pasaran
Elevasi Dasar Pipa Hulu = 725,5 0,1 = 725,4 m

17) Elevasi Dasar Pipa Hilir
Elevasi Dasar Pipa Hulu = Elevasi Puncak Akhir Pipa diameter pipa pasaran
Elevasi Dasar Pipa Hulu = 724,5 0,1 = 724,4 m

18) Tinggi Galian (Hg)
Hg awal = elevasi awal tanah elevasi dasar pipa hulu
Hg awal = 728 725,4 = 2,6 m

Hg akhir = elevasi akhir tanah elevasi dasar pipa hilir
Hg akhir = 727 724,4 = 2,6 m

19) Lebar Galian (Lg)
Lg = (1,5 x D
pasaran
) + 0,5
Lg = (1,5 x 0,1) + 0,5 = 0,65 m

20) Volume Galian (Vg)
Vg = Hg awal x Lg x L
ekivalen
Vg = 2,6 x 0,65 x 211,2 = 356,928 m

c. Dimensi Septic Tank
Tabel. Perhitungan Dimensi septic Tank


Dalam menentukan unit pengolahan air buangan yang tepat diaplikasikan di suatu daerah
perlu diperhatikan beberapa parameter-parameter, yaitu ekonomi penduduk, kerapatan
penduduk, karakteristik rumah penduduk, karakteristik sosial buadaya masyarakat,
ketersediaan lahan, ketersediaan sumber air, dan kerelaan masyarakat untuk melakukan
pemeliharaan dan pengembangan untuk fasilitas komunal.
Di daerah pelayanan ini, unit pengolahan yang paling tepat diaplikasikan di sini adalah tangki
septik komunal tercampur, mengingat keterbatasan lahan yang ada dan biaya instalasi yang
relatif murah karena pada umumnya penduduk di daerah ini bergolongan ekonomi menengah
ke bawah. Dalam mendesain tangki septik, ada beberapa kriteria desain yang harus dipenuhi
berdasarkan SNI 03-2398-2002, yaitu:
Rasio panjang (p) dan Lebar (l) = 2:1
Lebar minimum = 0.75 m
Panjang minimum = 1.5 m
Kedalaman efektif tangki = 1-2.1 m
Waktu retensi = 2 hari
Kedalaman freeboard = 0.2-0.4 m
Penutup tangki septik yang tertimbun dalam tanah = 0.4 m
Waktu retensi hidraulik sendiri dibagi menjadi 2 tipe, yaitu untuk tangki septik tercampur
(pengolahan grey water dan black water digabung) dan tangki septik terpisah (hanya
mengolah black water).
Untuk tangki septik hanya menampung limbah WC (terpisah)
Th = 2,5 0,3 log (P.Q) > 0,5
Untuk tangki septik yang menampung limbah WC + dapur + kamar mandi
(tercampur)
Th = 1,5 0,3 log (P.Q) > 0,2
Berikut merupakan contoh perhitungan tangki septic. Jumlah debit air buangan per orangnya
adalah 107,73148 L/orang/hari untuk wilayah domestik dan 1200 L/orang/hari untuk non
domestik. Nilai Qrata-rata air buangan menyatakan nilai debit air buangan rata-rata domestik
dan non domestik yang didapatkan dari penjumlahan debit air buangan domestik dan non
domestik.


()

( )


Pada perencanaan tangki septik ini, pengerukan tangki septik direncanakan setiap 3 tahun
sekali. Berdasarkan peta, lahan untuk pembuatan unit pengolahan air buangan yang tersedia
adalah kurang lebih sebesar 250 m
2
. Berdasarkan kriteria desain, waktu retensi hidraulik
minimum (Th) untuk tangki septik tercampur adalah > 0,2 hari. Oleh karena itu diperlukan
tangki septik agar memenuhi kriteria desain.
() (

)
Kedalaman freeboard yang digunakan dalam perencanaan tangki septik komunal ini adalah
0,3 m dan ketinggian tangki septik adalah 1,5 m. Kemudian menentukan kapasitas
penampungan lumpur dan kapasitas penampungan air untuk menentukan volume tangki
septic yang digunakan. Volume tangki septik didapatkan dari penjumlahan kapasitas
penampungan lumpur dan kapasitas penampungan air.
()

(
(

)
()

( )



(h) = + = 21.32 + 4.15 = 25.47 3

Luas tangki septik yang digunakan didapatkan dari volume tangki septik dibagi dengan
kedalaman tangki septik dan kedalaman freeboard.
()




Dari kriteria desain diketahui bahwa rasio panjang : lebar = 2 : 1, maka panjang tangki septik
adalah:




Nilai lebar dan panjang tangki septik hasil perhitungan ini adalah untuk 1 unit tangki septik,
sementara tangki septik yang dibutuhkan di zona 1 agar memenuhi kriteria desain adalah 6
unit tangki septik.