Anda di halaman 1dari 27

Abstrak

Cahaya dapat dianggap sebagai patikel-partikel energy yang dipancarkan oleh sumber
cahaya. Cahaya yang dipancarkan atau diserap oleh atom-atom, sekarang diketahui sebagai
perubahan energy dari electron terluar didalam atom. Karena perubahan energy ikuantitaskan
dan bukan hanya berlangsung kontinu, foton-foton yang dipancarkan memiliki energy diskrit
dengan hasilnya adalah gelombang cahaya dengan satu set frekuensi dan panjang gelombang
yang diamati pada gelombang-gelombang suara stationer. Cahaya merupakan suatu gelombang
elektromagnetik, yang tergolong dalam gelombang transfersal yakni dimana vector listrik dan
ektor megnet yang bergetar adalah tegak lurus kepada arah penjalarannya. Gelombang-
gelombang transfersal memiliki ciri tambahan yaitu gelombang-gelombang tersebut
terpolarisasi bidang.
Polarisasi adalah proses pemisahan panjang gelombang. Seperti yang kita ketahui,
cahaya tampak terdiri dari macam-macam panjang gelombang sesuai warna yang
menyusunnya. Dengan adanya salah satu sifat gelombang yaitu dapat terpolarisasi kita dapat
memisahkan panjang gelombang sesuai warna yang telah disepakati. Proses pemisahan ini
tidak dapat dilihat secara kasat mata. Oleh karena itu, untuk mellihat prposes ini kita
memerlukan sebuah alat bantu yang disebuut dengan polarimeter.











BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dikehidupan sehari-hari kita sangat membutuhkan cahaya. Hal terpenting yang
diperoleh berkat dengan adanya cahaya kita dapat melihat benda-benda dan lingkungan
sekitar kita. Cahaya seperti halnya semua radiasielektromagnet, diramlkan oleh teori
electromagnet sebagai gelombang transversal, yakni dimana vector listrik dan vector
magnet yang bergetar adalah tegak lurus kepada arah penjalaran tersebut, seperti yang
terjadi pada gelombang longitudinal. Gelombang-gelombang tersebut adalah terpolarisasi
bidang. Polarisasi cahaya adalah proses pemisahan panjang gelombang. Proses polarisasi
tidak dapat dilihat langsung, oleh karena itu dibutuhkan alat untuk menunjukan gejala
tersebut (polarimeter).

1.2 Rumusan Masalah
1. Gelaja pemutaran bidang polarisasi (sudut putar) dapat ditentukan dengan
menggunakan zat optic aktif.
2. Sudut putar khas zat optic aktif dapat ditentukan setelah mencapai titik kesetimbangan.
3. Konstanta reaksi dapat ditentukan melalui zat optic aktif.

1.3 Tujuan
1. Menentukan gelaja pemutaran bidang polarisasi (sudut putar) oleh zat optic aktif.
2. Menentukan sudut putaran khas zat optic aktif setelah mencapai titik kesetimbangan.
3. Menentukan konstanta reaksi dari larutan zat optic aktif.






BAB II
TEORI DASAR
Cahaya putih merupakan sahaya monokromatik yang terdiri dari berbagai panjang
gelombang yang dapat bervibrasi kesegala arah. Cahya putih dapat diubah menjadi cahaya
monokromatik (hanya terdiri dari satu panjang gelombang) dengan menggunakan suatu filter
atau sumber cahaya yang khusus. Cahaya monkromatik ini disebut cahaya terpolarisasi.[1]
Peristiwa polarisasi tidak dapat diamati secara langsung oleh mata manusia, sehingga
diperukan suatu alat yang dapat membantu untuk menunjukan gejala polarisasi tersebut.
Melalui polarimeter gejala polarisasi dapat ditunjukan, selain itu melalui alat ini dapat dilihat
pula bagaimana larutan optic aktif seperti larutan glukosa monohidrat dapat membelokan
cahaya yang telah terpolarisasi.[1]
2.1 Pengertian Polarimeter
Polarimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran
optic yang dihasilkan oelh suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat dalam
larutan. Jadi polarimeter ini merupakan alat yang didesain khusus untuk
mempolarisasikan cahaya oleh suatu senyawa optic aktif.[2]
Senyawa optic aktif adalah senyawa yang dapat memuutar bidang polarisasi, sedangkan
yang dimaksud dengan polarisasi adalah pembatasan arah getaran (vibrasi) dalam sinar
atau radiasi elektromagnetik yang lain.[2]
Untuk mengetahui besarnya polarisasi cahaya oelh suatu senyawa optis aktif, maka
besarnya polarisasi cahaya oleh suatu suautu senyawa optis aktif, maka besarnya
perputaran itu bergantung pada beberapa factor yakti struktur molekul, temperature,
panjang elombang, banyak molekul pada jalan cahaya, jenis zat, ketebalan, konsentrasi,
dan juga pelarut.[2]

2.2 Jenis-jenis polarimeter
1. Polarimeter Manual
Polarisasi paling awal, yang dibutuhkan penggunaan secara fisik analyzer dan
detector itu mata pengguna menilai saat yang paling besinar cahaya melalui. Sudut
ditandai pada skala yang mengelilingi analyzer tersebut. Desain dasar masing
digunakan dalam polarimeter sederhana.[2]
2. Polarimeter Semi Otomatis
Ada juga polarimeter semi-otomatis, yang membutuhkan deteksi visual tetapi push
menggunakan tombol untuk memutar analisator dan menawarkan tampilan
digital.[2]
3. Polarimeter Otomatis
Merupakan polarimeter yang paling modern yang sepenuhnya otomatis dan hanya
memerlukan user untuk menekan tombol dan menunggu pembacaan digital.
Polarimeter dapat dikalibrasikan atau setidaknya diverifikasi dengan mengukur
piring kuarsa, yang dibangun untuk selalu membaca di sudut rotasi tertentu
(biasanya 34 derajat, tetapi +17 derajat dan 8,5 derajat adalah juga popular
tergantung pada saple). Piring Quartz yang disukai oleh banyak pengguna karena
contoh padat jauh lebih sedikit dipengaruhi oleh variasi suhu, dan tidak perlu
dicanpur on-demand seperti solusi sukrosa.[2]

2.3 Bagian Polarimeter
a. Sumber Cahaya
Alat polarimeter terdiri dari beberapa bagian. Bagian yang pertama ialah sumber
cahaya. Sumber cahaya terdiri dari dua jenis, yaitu sumber cahaya filament dan
sumber cahaya natrium.[2]
Sumber cahaya filament digunakan untuk alat model lama, sedangkan sumber
cahaya natrium digunakan untuk alat model baru. Filter dari sumber cahaya
natrium ialah filter orange dengan panjang gelombang 589 nm. Sumber cahaya
ditutup agar cahayanya focus dan tidak ada udara.
b. Prisma Nicole
Bagian lain dari polarimeter ialah prisma Nicole. Bagian ini disebut polarisator
yangberfungsi mengubah cahaya monokromatis menjadi lebih terpolarisasi.[2]
c. Tabung Sampel
Bagian berikutnya ialah tabung sampel. Tabung sampel terbuat dari kaca yang
memiliki dua pengaman, yaitu karet dan skrup. Pemasangan pengaman harus
dilakukan secara berurutan jika tidak akan merusak lensa. Urutan pemasangan ialah
lensa, karet, setelah itu baru skrup.[2]
Tabung sampel terdiri dari bermacam-macam ukuran tergantung jumlah
sampel yang diuji. Pada saat memasukkan sampel lebih baik yang dibuka ialah
bagian bawahnya supaya tidak ada gelembung udara pada tabung. Pengisian
sampel jangan sampai ada gelembung udara karena dapat menyebabkan
pembiasan cahaya. Bagian gondok pada tabung dirancang untuk menjebak
udara dalam tabung.
d. Prisma Analisator
Prisma analisator merupakan bagian lain dari alat ini. Fungsi prisma ini ialah untuk
mensejajarkan sudut yang dihasilkan dari senyawa aktif optik. Bagian lain dari
polarimeter ialah mikroskop dan skala. Mikroskop berguna untuk menentukkan
cahaya yang sudah sejajar sehingga sudut hitung rotasinya dapat dilihat dari skala.
Bagian yang diatur pada alat polarimeter ini ialah lensa analisator. Sudut putar
adalah sudut yang ditunjukkan oleh analisator setelah sinar melewati larutan dan
membentuk cahaya yang redup. Apabila bidang polarisasi berputar kea rah kiri
(levo) dilihat dari pihak pengamat, peristiwa ini disebut polarisasi putar kiri.
Demikian juga untuk peristiwa sebaliknya (dextro).[2]
e. Skala Lingkar
Skala lingkar merupakan akala yang bentuknya melingkar dan pembiasan skalanya
dilakukan jika telah didapatkan pengamatan tepat baur-baur.[2]
f. Detektor
Detektor pada polarimeter manual yang digunakan sebagai detector adalah mata,
sedangkan polarimeter lain dapat digunakan detector fotoelektrik.[2]

2.4 Polarisasi dan jenisnya
Polarisasi adalah proses pemisahan panjang gelombang. Adapun beberapa jenis
polarisasi yaitu :
a. Polarisasi linier
Polarisasi linier terjadi pada saat hanya nilai medan llistrik E yang berosilasi,
arahnya tetap.



b. Polrisasi Sirkular
Polarisasi ini terjadi dimana nilai medan listrik tetap, arahnya yang berubah.



c. Polarisasi eliptik
Merupakan gabungan dar polarisasi linier dan polarisasi sirkular. Jadi nilai dan arah
medan listrik berubah-ubah.






Ada empat fenomena yang menghasilkan cahaya yang terpolarisasi dari cahaya
yang tidak terpolarisasi :
1. Polarisasi akibat penyerapan
Polarisasi ini akan terjadi karena adanya proses penyerapan cahaya pada arah
cahaya yang sejajar dengan sumbu transmisi. Beberapa jenis Kristal yang
terbentuk secara alami, jika dipootng menjadi bentuk-bentuk yang tepat, akan
menyerap dan memacarkan cahaya secara bebeda-beda bergantung pada
polarisasi cahaya tersebut. Kristal-kristal tersebut dapat digunakan untuk
menghasilkan cahaya yang terpolarisasi secara linier. Material ini terdiri dari
molekul-molekul hidrokarbon rantai-panjang yang berjajar (seperti garis lurus)
ketika lembaran tersebuut direnggangkan pada satu arah selama proses
bembuatan. Rantai-rantai tersebut melewatkan cahaya pada frekuensi optis
yang jika lembaran tersebut dimasukan dalam larutan yangberisi yodium. Saat
cahaya masuk dengan vector medan listriknya parallel (sejajar) rantai tersebut,
arus listrik mengalir sepanjang rantai tersebut, dan energy cahaya diserap. Jika
medan listrik tegak lurus rantai-rantai tersebut, cahaya ditransmisikan. Arah
tegak lurus inilah yang disebut dengan sumbu transmisi. Jika dua elemen yang
mempolarisasikan ditempatkan beruruutan pada seberkas cahaya, yang pertama
disebut dengan polarizer (pemolarisasi) dan analyzer (penganalisa). Jika
polarizer dan analyzer disingkan yaitu jika sumbu-sumbu transmisinya seling
tegak lurus maka tidak aka nada cahaya yang keluar melaluinya.[3]

2. Polarisasi akibat hamburan
Proses penyerapan dan pemancaran kembali disebut hamburan. Hamburan
dapat ditunjukan degan melewatkan seberkas cahaya melalui bak berisi air yang
sudah ditaburi dengan sedikit susu bubuk. Partikel-partikel susu yang menyerap
cahaya daa meradiasi ulang, sehinggaberkas sinar laser tersebut menjadi
tampak. Dengan demikian juga dengan berkas sinar laser dapat dibuat tampak
denngan menaburi serbuk kapur atau memberikan asap ke udara agar cahaya
laser tersebut terhambur. Cahaya akan diradiasikan sepanjang sumbu y
dipolarisasikan pada rah x. begitu juga cahaya yang diradiasikan sepanjang
sumbu x dipolarisasikan pada arah y. hal ini dapat dilihat dengan menguji
cahaya yang dihamburkan dari sepotong film polarisasi (polarizing film).[3]

3. Polarisasi akibat pemantulan
Saat cahaya yang tidak terpolarisasi dipantulkan dari sebuah bidang batas
permukaan datar diantara dua medium transparan, seperti udara dan kaca atau
udara dan air, cahaya yang dipantulkan terpolarisasi sebagian. Tingkat
polarisasi bergantung pada sudut datang dan indeks bias kedua medium
tersebut. Saat sudut datang sedemikian rupa sehingga sinar-sinar yang
dipantulkan dan sibiaskan saling tegak lurus, maka cahaya yang dipantulkan
akan terpolarisasi secara keseluruhan. Sudut antara sinar datang dan garis
normal menunjukan cahaya yang masuk pada sudut polarisasi p dimana
cahaya yang dipantulkan terpolarisasi secara keseluruhan. Medan listrik cahaya
yang masuk dapat dipecah menjadi komponenkompnen yang sejajar dan tegak
lurus bidang datang. Cahaya yang dipantulkan terpolarisasi secara keseluruhan
dengan medan listriknya tegak lurus bidang datag. Kita dapat menghubungkan
sudut polarisasi dan indeks bias media dengan memakai hokum snellius. Jika
n1 adalah indeks bias medium pertama dan n2 adalah indeks bias medium kedua
dari hokum Snellius diperoleh :
1 sin1 = 2 2

4. Polarisasi melalui pembiasan ganda
Pembiasan ganda adalahsebuah fenomena rumit yang terjadi pada Kristal-
kristal kalsit (calcite) atau Kristal-kristal nonkubik (noncubic) lainnya dan pada
plastic-plastik yang ditegangkan seperti selofen (cellophane). Pada kebanyakan
material, laju cahaya adalah sama ke semua arah. Material-material seperti ini
disebut isotropic. Disebabkan struktur atomnya, material-material birefringence
adalah anisotropic. Jika cahaya masuk pada sebuah plat birefringent yang tegak
lurus bagian depan Kristal tersebut dan tegak lurus sumbu optiknya, maka kedua
sinar berjalan delam arah yang sama namun berbeda lajunya. Jumalh panjang
gelombang pada kedua berkas sinar pada plat tersebut berbeda karena panjang
gelombang (= v/f) sinarnya berbeda. Sinar yang keluar dari plat dan pada
panjang gelombang sinar datang. Pada plat seperempat gelombang
ketebalanmenyebabkan perbedaan fase 90 derajat antara gelombang datang
dengan gelombang yang keluar dari plat. Dalam sebuah plat setengah
gelombang berkas-berkas sinar memancar dengan perbedaan fase sebesar 180
derajat. [3]


















BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
a. Polarimeter
Sebagai alat untuk mengukur besarnya sudut putaran
b. Gelas kimia
Sebagai tempat membuat arutan glukosa-monohidrat.
c. Gelas ukur
Sebagai tempat untuk mengukur volume air ataupun glukosa.
d. 3 buah tabung gelas ukuran 10 cm, 15 cm, dan 20 cm
Sebagai tempat untuk meletakan larutan.
e. Glukosa-monohidrat
Sebagai zat optic aktif yang digunakan dalam percobaan ini.
f. Air suling
Sebagai pembanding glukosa
g. Neraca
Sebagai alat untuk menimbang massa dari glukosa-monohidrat.

3.2 Prosedur Percobaan
Menentukan Titik Nol
1. Isilah masing-masing tabung dengan air suling.
2. Masukan tabung 10 cm kedalam polarimeter.
3. Putarlah analisator sehingga tampak seperti pada gambar 1 (a).
4. Catat posisi analisator tersebut.
5. Putar kembali analisator searah jarum jam sehingga tampak seperti pada gambar 1
(b).




6. Catat posisi analisator tersebut.
7. Tentukan besar titik nol tersebut.
8. Lakukan percobaan 3 s.d. 7 untuk tabung dengan ukuran 15 cm dan 20 cm.
Menentukan sudut Putar Glukosa
1. Buatlah larutan 10% glukosa monohidrat dalam air suling.
2. Isilah masing-masing tabung 10 cm, 15 cm dan 20 cm dengan larutan.
3. Lakukan percobaan 2 s.d. 6 pada prosedur A.
4. Tentukan sudu putar glukosa tersebut.
Catatan :
Untuk prosedur A dan B setiap pengambilan data minimal 5 kali.

Mutarotasi
1. Lakukan percobaan 1 s.d 3 pada prosedur B
2. Masukan tabung 10 cm ke dalam polarimeter.
3. Lakukan percobaan 2 s.d. 6 pada prosedur A selama lima belas menit setiap 5
menit.
4. Tentukan sudut putar larutan terebut.
5. Lakukan percobaan 1 s.d. 4 untuk tabung 15 cm dan 20 cm.
Larutan Tak Hingga
Larutan tak hingga adalah larutan yang disimpan selama satu minggu yang dibuat pada
pertemuan pertama.
1. Isi tabung 10 cm, 15 cm, dan 20 cm dengan larutan tak hingga.
2. Lakukan percobaan 2 s.d. 6 pada prosedur A untuk masing-masing tabung.








BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Data Percobaan
a. Menentukan Titik Nol
No. Ukuran Tabung (Cm)
Terang Gelap Gelap Terang
A (derajat) B (derajat)
1
12 Kecil 30.9 146.15
33.4 146
32.5 140
2
12 Besar 40.6 140
40 140.6
41.1 139.2
3
15 50.1 150.9
50.4 147
49.8 146.5



b. Menentukan Sudut Putar Glukosa
No. Ukuran Tabung (Cm)
Terang Gelap Gelap Terang
A (derajat) B (derajat)
1
12 Kecil 49.9 149.2
50.4 149.1
51.2 151.25
2
12 Besar 53.4 144.6
51.6 145.9
50.25 144.85
3
15 56.1 150.6
57.85 152.6
56.45 152.4





c. Mutarotasi
No. Ukuran Tabung (Cm)
Terang Gelap Gelap Terang Waktu
(Detik)
A (derajat) B (derajat)
1
12 Kecil 58.85 150.8 5
62.5 150.5 5
61 160.35 5
2
12 Besar 60 146 5
58.4 145.9 5
55 144.85 5
3
15 62 150.6 5
63 152.6 5
62.6 152.4 5

d. Larutan Tak Hingga
No. Ukuran Tabung (Cm)
Terang Gelap Gelap Terang
A (derajat) B (derajat)
1
12 Kecil 54.8 142
56 145
58 141.7
2
12 Besar 45.6 140.4
47.7 140.7
41 140
3
15 47.7 136.4
48 137
46.8 134.6

4.2 Pengolahan Data Percobaan
a. Menentukan Kedudukan Nol Terbaik
Rumus yang digunakan :
o = (b-a) - (180- b)
Untuk menghitung nilai kedudukan nol terbaiknya menggunakan rumus :

=
i


Untuk tabung dengan panjang 12 cm diperoleh
o = (b-a) - (180- b)
= (146.15
0
30.9
0
) (180
0
- 146.15
0
)
= 81.4
0

o = (b-a) - (180- b)
= (146
0
33.4
0
) (180
0
146
0
)
= 78.6
0

o = (b-a) - (180- b)
= (140
0
32.5
0
) (180
0
140
0
)
= 67.5
0
Untuk mencari nilai Kedudukan nol terbaik maka :

=
i


= (o + o + o)/3
= (81.4
0
+ 78.6
0
+ 67.5
0
)/3 = 75.83
0

Dengan menggunakan cara yang sama maka diperoleh hasil kedudukan nol terbaik pada
table berikut :
No.
Ukuran
Tabung
(Cm)
Terang
Gelap
Gelap
Terang
B -
A
180 - B o
o
Terbaik
A (derajat) B (derajat)
1
12 Kecil 30.9 146.15 115.25 33.85 81.4
75.83 33.4 146 112.6 34 78.6
32.5 140 107.5 40 67.5
2
12 Besar 40.6 140 99.4 40 59.4
59.30 40 140.6 100.6 39.4 61.2
41.1 139.2 98.1 40.8 57.3
3
15 50.1 150.9 100.8 29.1 71.7
66.17 50.4 147 96.6 33 63.6
49.8 146.5 96.7 33.5 63.2

b. Menghitung sudut putaran glukosa terbaik () dan sudut putaran khas glukosa
().

Untuk menentukan sudut putaran Glukosa (), dapat menggunakan rumus berikut
:
=

Sedangkan untuk mendapatkan
=

Untuk menghitung sesatannya dapat menggunakan
) 1 (
) (
2



N N
i


Untuk tabung dengan panjang 12 cm diperoleh
=
= 149.2
0
49.9
0

= 99.3
0

=
= 149.1
0
50.4
0

= 98.7
0

=
= 151.25
0
51.2
0

= 100.05
0

Sudut putaran Glukosa
=
= 99.3
0
68.5
0

= 30.8
0

=
= 98.7
0
67.8
0

= 30.9
0

=
= 100.05
0
71.3
0

= 28.75
0

Untuk menentuka sesatannya
) 1 (
) (
2



N N
i



Untuk menentukan sudut putaran khas glukosa , menggunakan rumus :
= /
Keterangan :
= sudut putaran glukosa
= sudut putaran khas glukosa
l = panjang larutan (cm)
C = konsentrasi larutan glukosa
dan untuk menentukan sesatannya menggunakan standar deviasi :
) 1 (
) (
2



N N
i


= 0.83
Pada percobaan ini digunakan konsentrasi larutan glukosa C sebesar
=
m glukosa
+
=
20
20 +180
= 0.1
Dengan menggunakan rumus ini :
=


=
68.5
0.1 12
= 25.67
=
67.8
0.1 12
= 25.75
=
68.71.3
0.1 12
= 23.96
Maka nilai sudut putaran khas glukosa adalah
=
i

= (25.67 derajat + 25.75 derajat + 23.96 derajat)/3 = 25.13 derajat



Dengan menggunakan cara yang sama maka dapar ditentukan sudut putaran
glukosa dan sudut putaran khasnya







No.
Ukuran
Tabung
(Cm)
Terang
Gelap
Gelap
Terang
g 180 - B o

terbaik
ter
baik A
(derajat)
B
(derajat)
1
12 Kecil 49.9 149.2 99.3 30.8 68.5 30.8 25.67
25.13 0.83 50.4 149.1 98.7 30.9 67.8 30.9 25.75
51.2 151.25 100.05 28.75 71.3 28.75 23.96
2
12 Besar 53.4 144.6 91.2 35.4 55.8 35.4 29.50
29.07 0.47 51.6 145.9 94.3 34.1 60.2 34.1 28.42
50.25 144.85 94.6 35.15 59.45 35.15 29.29
3
15 56.1 150.6 94.5 29.4 65.1 29.4 19.60
18.76 0.60 57.85 152.6 94.75 27.4 67.35 27.4 18.27
56.45 152.4 95.95 27.6 68.35 27.6 18.40

c. Menghitung sudut putaran glukosa pada prosedur mutarotasi untuk masing-masing
waktu

Untuk menentukan sudut putaran Glukosa (), dapat menggunakan rumus berikut
:
=

Sedangkan untuk mendapatkan
=

Untuk menghitung sesatannya dapat menggunakan
) 1 (
) (
2



N N
i



Untuk tabung dengan panjang 12 cm diperoleh
=
= 150.8
0
58.85
0

= 91.95
0

=
= 150.5
0
62.5
0

= 88
0

=
= 160.35
0
61
0

= 99.35
0

Sudut putaran Glukosa
=
= 91.95
0
62.75
0

= 29.2
0

=
= 88
0
58.5
0

= 29.5
0

=
= 99.35
0
79.7
0

= 19.65
0

Untuk menentukan sesatannya
) 1 (
) (
2



N N
i


= 3.81
Untuk menentukan sudut putaran khas glukosa , menggunakan rumus :
= /
Keterangan :
= sudut putaran glukosa
= sudut putaran khas glukosa
l = panjang larutan (cm)
C = konsentrasi larutan glukosa
dan untuk menentukan sesatannya menggunakan standar deviasi :
) 1 (
) (
2



N N
i


= 0.83
Pada percobaan ini digunakan konsentrasi larutan glukosa C sebesar
=
m glukosa
+
=
20
20 +180
= 0.1
Dengan menggunakan rumus ini :
=


=
29.2
0.1 12
= 24.33
=
29.5
0.1 12
= 24.58
=
19.65
0.1 12
= 16.38
Maka nilai sudut putaran khas glukosa adalah
=
i

= (24.33 derajat + 24.58 derajat + 16.38 derajat)/3 = 21.76 derajat



Dengan menggunakan cara yang sama untuk tabung dengan panjang 12 cm B
dan 15 cm diperoleh hasil seperti yang tertera pada table berikut.

No.
Ukuran
Tabung
(Cm)
Terang
Gelap
Gelap
Terang Waktu
(Detik)
p
(180 -
B)
o

terb
aik

terba
ik
A
(derajat) B (derajat)
1
12 Kecil 58.85 150.8 5 91.95 29.2 62.75 29.2 24.33
3.81 21.76 62.5 150.5 10 88 29.5 58.5 29.5 24.58
61 160.35 15 99.35 19.65 79.7 19.65 16.38
2
12 Besar 60 146 5 86 34 52 34 28.33
0.43 28.68 58.4 145.9 10 87.5 34.1 53.4 34.1 28.42
55 144.85 15 89.85 35.15 54.7 35.15 29.29
3
15 62 150.6 5 88.6 29.4 59.2 29.4 19.60
0.60 18.76 63 152.6 10 89.6 27.4 62.2 27.4 18.27
62.6 152.4 15 89.8 27.6 62.2 27.6 18.40

d. Grafik (t) terhadap waktu
Untuk tabung 12 A


Untuk tabung 12 B


Untuk tabung 15


e. Menghitung suduut putar dari larutan tak hingga dan sudut putaran khasnya
Untuk menentukan sudut putaran Glukosa (), dapat menggunakan rumus berikut
:
=

y = -0.9535x + 35.657
R = 0.7264
0
10
20
30
40
0 10 20


(
t
)
t (s)
Grafik (t) terhadap t
Series1
Linear
(Series1)
y = 0.115x + 33.267
R = 0.8147
33.5
34
34.5
35
35.5
0 10 20


(
t
)
t (s)
Grafik (t) terhadap t
Series1
Linear
(Series1)
y = -0.18x + 29.933
R = 0.6676
27
27.5
28
28.5
29
29.5
30
0 10 20


(
t
)
t (s)
Grafik (t) terhadap t
Series1
Linear
(Series1)
Sedangkan untuk mendapatkan
=

Untuk menghitung sesatannya dapat menggunakan
) 1 (
) (
2



N N
i



Untuk tabung dengan panjang 12 cm diperoleh
=
= 142
0
54.8
0

= 87.2
0

=
= 145
0
56
0

= 89
0

=
= 141.7
0
58
0

= 83.7
0

Sudut putaran Tak Hingga
=
= 87.2
0
49.2
0

= 38
0

=
= 89
0
54
0

= 35
0

=
= 83.7
0
45.4
0

= 38.3
0

Untuk menentukan sesatannya
) 1 (
) (
2



N N
i


Untuk menentukan sudut putaran khas glukosa , menggunakan rumus :
= /
Keterangan :
= sudut putaran glukosa
= sudut putaran khas glukosa
l = panjang larutan (cm)
C = konsentrasi larutan glukosa
dan untuk menentukan sesatannya menggunakan standar deviasi :
) 1 (
) (
2



N N
i


= 1.24
Pada percobaan ini digunakan konsentrasi larutan glukosa C sebesar
=
m glukosa
+
=
20
20 +180
= 0.1
Dengan menggunakan rumus ini :
=


=
38
0.1 12
= 31.67
=
35
0.1 12
= 29.17
=
38.3
0.1 12
= 31.29
Maka nilai sudut putaran khas glukosa adalah
=
i

= (24.33 derajat + 24.58 derajat + 16.38 derajat)/3 = 30.92 derajat



Dengan menggunakan cara yang sama untuk tabung 12 cm dan 15 cm dapat dilihat
hasilnya pada table berikut ini.




No.
Ukuran
Tabung
(Cm)
Terang
Gelap
Gelap
Terang
p
(180 -
B)
o

terbaik

terbaik A
(derajat)
B
(derajat)
1
12 Kecil 54.8 142 87.2 38 49.2 38 31.67
1.24 30.92 56 145 89 35 54 35 29.17
58 141.7 83.7 38.3 45.4 38.3 31.92
2
12 Besar 45.6 140.4 94.8 39.6 55.2 39.6 33.00
0.24 33.03 47.7 140.7 93 39.3 53.7 39.3 32.75
41 140 99 40 59 40 33.33
3
15 47.7 136.4 88.7 43.6 45.1 43.6 29.07
0.68 29.33 48 137 89 43 46 43 28.67
46.8 134.6 87.8 45.4 42.4 45.4 30.27

f. Grafik (t) (~) terhadap waktu
Untuk tabung 12 A


Untuk tabung 12 B
y = -0.9835x - 1.1433
R = 0.5179
-20
-15
-10
-5
0
0 5 10 15 20

(
t
)

-

(
~
)
t (s)
Grafik ((t) - (~) ) terhadap t
Series1
Linear (Series1)


Untuk tabung 15


4.3 Analisa Percobaan
Pada percobaan pertama dapat dilihat dari table data yang dihasilkan bahwa
sudut putar memiliki hubungan linier dengan sudut putar. Semakin besar tabung atau
semakin panjang tabung yang digunakan maka akan semakin besar pula sudut putar
untuk mendapatkan polasrisasi. Pada percobaan juuga harus memperhatikan air yang
diisi di dalam tabung, karena apabila air di dalam tabung kurang terisi penuh maka
akan menimbulkan gelembung udara dalam tabung yang nantinya akan mengganggu
pada saat melihat peristiwa polarisasi.
Untuk percobaan kedua akan menentukan sudut putar glukosa. Jika dilihat dari
data yang diperoleh sudut putar glukosa terbesar ketika menggunakan tabung dengan
ukuran 12 B dimana tabung ini memiliki panjang 12 cm dan diameter yang agak besar.
Analisa saya hal ini disebabkan oleh diameter tabung yang lebih besar dibandingkan
y = -0.36x - 12.267
R = 0.9838
-20
-15
-10
-5
0
0 5 10 15 20

(
t
)

-

(
~
)
t (s)
Grafik ((t) - (~) ) terhadap t
Series1
Linear (Series1)
y = 0.075x - 5.9667
R = 0.9985
-5.7
-5.6
-5.5
-5.4
-5.3
-5.2
-5.1
-5
-4.9
-4.8
0 5 10 15 20

(
t
)

-

(
~
)
t (s)
Grafik ((t) - (~) ) terhadap t
Series1
Linear (Series1)
yang lain. Karena dengan diameter yang besar maka diperlukan sudut yang besar pula
untuk mencapai titik polarisasi. Hal ini berlaku untuk semua percobaan pada modul ini.
Jika dilihat dari hasil perhitungan yang memberikan fakta data dimana sudut putar
untuk tabung 12 B lebih besar daripada tabung 12 A dan 15.
Jika disbanding percobaan 1, 2, 3 dan 4 maka dapat terlihat jelas bahwa
larutanberpengaruh terhadap suduut putar yang dihasilkan. Pada percobaan pertama
menggunakan air suling diperoleh nilai sdut putar yang besar dibandingkan percobaan
2. Hal ini dapat dibuktikan secara logika, yaitu pada larutan pertama yang
menggunakan air sulling memiliki struktur larutan yang lebih renggang dimana cahaya
akan lebih mudah terpolarisasi sedangkan pada larutan kedua, ketiga ataupun kemepat
cahaya akan lebih sulit untuk terpolarisasi karena struktur dari larutan yang tidak begitu
renggang.
Jika dilihat dari grafik hubungnan antara sudut putar terhadap waktu diperoleh
hasil yang beraneka ragam. Terdapat grafik yang menyatakan hubungan berbanding
lurus antara sudut putar dengan waktu yaitu semakin lama waktu yang digunakan maka
akan semakin besar pula sudut putar yang dihasilkan. Akan tetapi terdapat pula grafik
yang menyatakan semakin lama waktu yang digunakan akan semakin kecil pula sudut
putarnya. Akan tetapi disini praktikan tidak dapat mengambil garis tengah yang pasti,
hal ini dikarenakan pada saat praktikum praktikan membanding jarak sudut yang dapat
mencapai polarisasi. Menurut pengamatan praktikan polarisasi akan terjadi pada sudut
kisaran antara 130 derajat sampai dengan 160 derajat dan sudut selain itu tidak akan
terjadi polarisasi. Maka pratikan menyimpulkan, ntuk sementara terjadi hubungan yang
pasti antara sudut putar terhadap waktu.
Untuk percobaan pertama diperoleh nilai kedudukan titik nol adalah sebagai
berikut :
- Untuk tabung 12 A = 75.83
- Untuk tabung 12 B = 59.30
- Untuk tabung 15 = 66.17




BAB V
SIMPULAN
5.1 Simpulan
Gejala pemutaran bidang dapat ditentukan dengan menggunakan zat optic aktif.
Hasil polarisasi dapat diihat setelah cahaya dari polarimeter melewati zat optic aktif dan
memutar bidang polarisasi. Emudian analisator akan menganisa cahaya yang
terpolarisasi. Sudut putaran khas zat optic aktif dapat ditentukan setelah mencapai titik
kesetimbangan. Dan untuk larutan glukosa dapat diperoleh sudut putaran khas optic
aktifnya sebagai berikut :
- Untuk tabung 12 A : 25.13
- Untuk tabung 12 B : 29.07
- Untuk tabung 15 : 18.76
5.2 Saran
1. Untuk percobaan pada modul polarimeter prkatikan masih perlu bimbingan lebih.
2. Banyak bagian yang sebenarnya ingin praktikan tanyakan kepada aslab ataupun
yang lebih menguasai akan tetapi tidak ada kejelasan sehingga praktikan merasa
masih kurang mengerti materi dan percobaan pada modul polarimeter ini.











DAFTAR PUSTAKA
[1] http://oerleebook.files.wordpress.com/2009/10/polarimeter-oerlee.pdf (Minggu, 30 Maret
2014 pukul 22.30 WIB)
[2] http://polarimeter-farmasi.blogspot.com/2012/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html (Minggu,
30 Maret 2014 pukul 22.40 WIB)
[3] Tipler. 1991. Fisika untuk Sains dan Teknik Jilid 2. Erlangga. Jakarta