Anda di halaman 1dari 5

Gelatin merupakan protein nan diperoleh dari hidrolisis kolagen nan secara alami terdapat pada

tulang atau kulit binatang seperti ; ikan, sapi & babi.


Gelatin nan diperoleh dari babi merupakan gelatin nan paling luas dipakai dlm industri pangan &
obat-obatan, mengingat gelatin nan didapat dari hewan ini paling murah dibanding hewan
lainnya.
Dalam industri pangan, gelatin dipakai sebagai salah 1 bahan baku pembuatan ; permen lunak,
jeli, es krim, susu formula, roti, daging olahan, minuman nan dicampur susu & soup.
Dalam industri obat-obatan gelatin dipakai sebagai salah 1 bahan baku pembuatan vaksin,
cangkang kapsul, pil, krim, pasta gigi, sabun & obat gosok.
Sebagian Negara mewajibkan para produsen utk mencantumkan kode komposisi bahan baku dari
barang olahan, kode gelatin nan berasal dari babi, antara lain: 101, 101A, 120, 150, 153, 160A,
160B, 161A, 161C, 163, 200, 270, 304, 310-312, 326, 327, 334, 336, 337, 350, 353, 422, 430,
436, 162, 470, 478, 481, 483, 491, 495, 542, 572, 575, 631, 904A. (*1)
Sebelum menjelaskan hukum gelatin dari babi, harus dijelaskan terlebih dahulu hukum istihalah
(perubahan suatu wujud menjadi wujud lain), seperti: wujud babi berubah menjadi garam,
apakah garam tersebut hukumnya halal atau menjadi haram. Terdapat perbedaan pendapat para
ulama mazhab dlm hal ini.
Para ulama mazhab Hanafi & Maliki berpendapat bahwa bila seekor babi jatuh ke dlm tambak
pembuatan garam lalu mati & berubah menjadi garam, maka garam tersebut hukumnya halal.
Karena zat babi telah berubah menjadi garam & garam hukumnya adalah halal. (*2)
Al-Hashkafi (ulama mazhab Hanafi, wafat 1088H) berkata: Tidak termasuk najis abu bekas
pembakaran najis, juga garam nan berasal dari bangkai keledai ataupun babi, karena wujudnya
telah berubah. Ini nan difatwakan dlm mazhab (*3)
Para ulama mazhab Syafi'i & Hanbali berpendapat bahwa garam nan berasal dari perubahan
wujud babi hukumnya tetap haram, karena zat babi adalah najis sekalipun najis tersebut berubah
bentuk menjadi zat lain hukumnya tetap najis.
Ar-Ramli (ulama mazhab Syafi'i, wafat: 1004H) berkata: Zat nan najis tak berubah hukumnya
secara mutlak , dgn cara wujud najis berubah menjadi wujud lain, seperti ; bangkai babi nan
jatuh ke dlm tambak garam, kemudian berubah menjadi garam (*4)
Ibnu Qudamah (ulama mazhab Hanbali, wafat: 620H) berkata: Pendapat nan terkuat dlm
mazhab (Hanbali) bahwa najis tak menjadi suci dgn cara perubahan wujud kecuali khamar
berubah menjadi cuka dgn sendirinya, adapun selain itu tak menjadi suci, seperti ; najis nan
dibakar sehingga menjadi abu, begitu juga bangkai babi nan jatuh ke dlm tambak garam
sehingga berubah wujud menjadi garam (*5)
Dari 2 pendapat ulama tentang hukum garam nan berasal dari babi dapat di-takhrij hukum gelatin
nan berasal dari kulit & tulang babi.
Para ulama nan bermazhab Syafi'i & Hanbali tentu akan mengharamkan gelatin nan diperoleh
dari babi sekalipun zat gelatin tersebut berbeda bentuk fisik & sifat kimianya dgn kolagen babi
nan merupakan asal dari gelatin.
Adapun para ulama nan bermazhab Hanafi & Maliki, atau nan mendukung pendapat bahwa
perubahan wujud dari suatu zat menjadi zat lain hukumnya juga akan berubah, namun mereka
juga berbeda pendapat tentang kehalalan gelatin nan diperoleh dari babi.
Pendapat Pertama.
Gelatin nan berasal dari babi hukumnya halal, pendapat ini merupakan hasil seminar Forum Fiqh
& Medis di Kuwait pada tanggal 25-5-1995, & di dukung oleh DR. Nazih Hamad, DR.
Muhammad Al-Harawy & Basim Al-Qarafy. (*6)
Penganut pendapat ini beralasan bahwa gelatin adalah zat baru nan tak ada persamaan fisik &
sifat kimianya dgn kolagen nan berasal dari babi, sekalipun gelatin berasal dari kolagen babi, &
dlm kaidah fiqh bahwa zat baru hukumnya berbeda dgn hukum zat asalnya, bilamana hukum
kolagen adalah haram maka hukum gelatin adalah halal.
Bukti bahwa gelatin berbeda dgn kolagen adalah: Gelatin berwarna bening, mudah larut di air &
mudah membeku, tak demikian halnya dgn kolagen. Kemudian, gelatin nan diperoleh dari babi
sama sekali tak dapat dibedakan dgn gelatin dari hewan lainnya, berbeda dgn kolagen, nan
sangat mudah dibedakan antara kolagen babi & lainnya. (*7)
Tanggapan.
Argumen pendapat ini tak kuat, karena ternyata gelatin nan berasal dari babi sangat mudah utk
diketahui melalui tes kimia sederhana, ini menunjukan bahwa proses perubahan wujud tak terjadi
dgn sempurna. (*8)
Pendapat Kedua.
Gelatin nan berasal dari babi hukumnya haram & najis, pendapat ini merupakan keputusan
berbagai Lembaga Fiqh internasional, diantaranya:
1. Majma Al-Fiqh Al-Islami (OKI) keputusan no: 23 (11/3) tahun 1986 sebagai jawaban atas
pertanyaan dari Al-Ma'had Al-Alami Lil Fikri Islami di Washington nan berbunyi:
Soal ke-XII: Di sini (Amerika) terdapat ragi & gelatin nan diekstrak dari babi dlm persentase nan
sangat kecil, apakah boleh menggunakan ragi & gelatin terebut?
Jawab: Seorang muslim tak dibenarkan menggunakan ragi & gelatin nan berasal dari babi,
karena ragi & gelatin (halal) nan diperoleh dari tumbuh-tumbuhan & hewan nan disembelih
sesuai syariat mencukupi kebutuhan mereka (*9)
2. Keputusan Al-Majma Al-Fiqhiy Al-Islamy di bawah (Rabitah Alam Islami) nan berpusat di
Mekkah (no. 3, rapat tahunan ke 15) tahun 1998, nan berbunyi:
Himpunan Fiqh Islami nan bernaung di bawah Rabitah Alam Islami dlm rapat tahunan ke-15
setelah mendiskusikan & mengkaji bahwa: gelatin adalah sebuah zat nan banyak digunakan utk
pembuatan makanan & obat-obatan, berasal dari kulit & tulang hewan ; Memutuskan:
Boleh menggunakan gelatin nan berasal dari sesuatu nan mubah, dari hewan nan disembelih
dgn cara nan sesuai dgn ajaran Islam. & tak dibolehkan menggunakan gelatin nan diperoleh dari
sesuatu nan haram, seperti ; gelatin dari kulit & tulang babi & dari benda haram lainnya.
Himpunan Fiqh Islami menghimbau Negara-Negara Islam utk memproduksi gelatin nan halal'.
(*10)
3. Fatwa Dewan Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi (no fatwa: 8039), nan berbunyi: Gelatin nan
diperoleh dari sesuatu nan haram seperti babi, hukumnya haram (*11).
Dan pendapat ini didukung oleh sebagian besar para ulama fiqh kontemporer
Para ulama ini beralasan bahwa gelatin bukanlah zat baru nan merupakan perubahan wujud dari
kolagen, akan tetapi gelatin telah ada pada kolagen babi sebelum dipisahkan, ini menunjukkan
bahwa proses nan terjadi hanyalah pemisahan & sekedar pergantian nama & bukan perubahan
wujud secara mutlak.
Dari 2 pendapat di atas sikap seorang muslim hendaklah memilih nan lebih baik utk diri &
agamanya, yaitu menghindari segala produk nan menggunakan gelatin babi sebagai salah 1
bahan bakunya, karena bagaimanapun juga, asal gelatin ini adalah babi & babi telah diharamkan
Allah di dlm Al-Qur'an, adapun proses perubahan wujud menjadi zat lain masih diragukan maka
hukumnya kembali kepada hukum asal babi yaitu haram, sesuai dgn kaidah hadits Nabi
Tinggalkanlah nan meragukan kepada hal nan tak meragukan.
Dengan demikian, menjual segala barang/produk nan salah 1 bahan dasarnya adalah gelatin babi
hukumnya haram, & hasil keuntungannya merupakan harta haram, demikian juga diharamkan
seorang dokter utk memberikan resep obat-obatan nan mengandung gelatin babi.
Sekalipun keberadaan gelatin hanya sebagai bahan campuran, hukumnya juga tetap haram,
berdasarkan sabda Nabi:


Apabila seekor tikus (mati) jatuh ke minyak samin, jika minyak samin itu beku maka buang
bangkai tikus & bagian minyak samin nan beku nan terkena (najisnya), & jika minyak samin itu
cair maka jangan engkau dekati [HR Abu Daud & Nasa'i, derajat hadits ini Hasan]
Dari hadits di atas dipahami bahwa haram mendekati minyak cair nan bercampur najis, &
menjual minyak nan najis berarti mendekatinya maka hukumnya jelas haram.
Begitu juga haram hukumnya menjual makan olahan & obat-obatan nan telah bercampur najis
(babi), karena tak dapat dipisahkan lagi antara najis (babi) & bahan baku lainnya nan halal.
VAKSIN nan MENGANDUNG GELATIN BABI
Sebagaimana telah diketahui bahwa gelatin babi hukumnya adalah najis, lalu bagaimanakah
hukum melakukan vaksinasi utk kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu, seperti vaksin
meningitis nan merupakan persyaratan utk mendapatkan visa & umrah?
Laporan dari berbagai sumber memang dinyatakan bahwa vaksin meningitis mengandung gelatin
babi. Gelatin babi hukumnya najis serta haram hukumnya dimasukkan ke dlm tubuh. Maka
hukum melakukan vaksin ini adalah haram.
Namun hukum haram ini bisa berubah dlm kondisi tertentu, yaitu: bila tak terdapat alternatif lain
pengganti vaksin nan mengandung gelatin babi & kuat dugaan orang nan tak mendapat vaksin ini
akan terserang penyakit berbahaya nan berakibat kepada cacat permanen atau bahkan kematian.
Maka dlm kasus ini dapat digolongkan dlm kondisi darurat.
Allah berfirman.


Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa nan diharamkan-Nya atasmu,
kecuali apa nan terpaksa kamu memakannya [Al-An'am: 119]
Ini berarti, Allah menghalalkan bagi hamba-Nya sesuatu nan dia haramkan dlm kondisi darurat. l
Akan tetapi jika terdapat alternatif lain pengganti gelatin babi seperti gelatin sapi maka
seyogyanyalah pihak nan berwenang di sebuah Negara berpenduduk mayoritas Islam utk
memberikan pelayanan nan paripurna terhadap rakyatnya.
[Ustadz Erwandi Tirmidzi MA, saat ini sedang menempuh Doktoral di Jami'ah Al-Imam
Muhammad bin Su'ud, Riyadh, universitas terkemuka di KSA. Disalin dari Majalah Pengusaha
Muslim Edisi 19 Volume 2/Agustus 2011]
Referensi
(*1). Badriyah Al-Haritsy, An-Nawazil fil Athimah1, thesis di Univ. Al-Imam Muhammad bin
Saud, Riyadh, halaman 504
(*2). Al-Mausuah Al-Kuwaytiyyah 10/278
(*3). Al-Durr Al-Mukhtar 1/217
(*4). Nihayatul Muhtaj 1/247
(*5). Al-Mughni 1/60
(*6). Nawazil fil Athimah 1/499, Basim Al-Qarafi, Nawazil Fithaharah, thesis di Univ. Al-Imam
Muhammad bin Saud, Riyadh 1/378
(*7). Ibid
(*8). Nawazil fil Athimah 1/500
(*9). Journal Fiqh Council, edisi III, vol 1409H, halaman 47
(*10). Qararat Al-Majma Al-Fiqhiy Al-Islami, hal. 316
(*11). Journal Al-Buhuts Al-Islamiyah, edisi XX, vol. 1407H, hal 178
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Erwandi Tarmidzi MA tags: Mazhab Hanafi, Susu
Formula, Pembuatan Garam, Pembuatan Permen, Obat Obatan