Anda di halaman 1dari 14

PERCOBAAN I

PENANGANAN DAN CARA PEMBERIAN OBAT PADA HEWAN


PERCOBAAN

I. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah menyelesaikan percobaan ini, mahasiswa diharapkan :
1. Mengetahui dan mampu menangani hewan untuk percobaan
farmakologi secara baik.
2. Mengetahui sifat-sifat hewan percobaan dan faktor-faktor yang
mempengaruhi responnya.
3. Mengenal teknik-teknik pemberian obat melalui berbagai rute
pemberian serta pengaruhnya terhadap efek yang ditimbulkan.

II. TEORI DASAR
Rute pemberian obat ( Routes of Administration ) merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis
anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh
karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda; enzim-enzim
dan getah-getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut berbeda. Hal-hal
ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam
waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari rute pemberian obat (Katzug, B.G,
1989).
Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi, sifat obatnya
serta kondisi pasien. Bentuk sediaan yang diberikan akan mempengaruhi
kecepatan dan besarnya obat yang diabsorpsi, dengan demikian akan
mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi obat. Bentuk sediaan obat dapat
memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik diperoleh jika obat
beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang efek lokal adalah efek
obat yang bekerja setempat misalnya salep (Anief, 1990).
Cara pemberian obat melalui oral (mulut), sublingual (bawah lidah), rektal
(dubur) dan parenteral tertentu, seperti melalui intradermal, intramuskular,
subkutan, dan intraperitonial, melibatkan proses penyerapan obat yang berbeda-
beda. Pemberian secara parenteral yang lain, seperti melalui intravena, intra-arteri,
intraspinal dan intraseberal, tidak melibatkan proses penyerapan, obat langsung
masuk ke peredaran darah dan kemudian menuju sisi reseptor (receptor site) cara
pemberian yang lain adalah inhalasi melalui hidung dan secara setempat melalui
kulit atau mata. Proses penyerapan dasar penting dalam menentukan aktifitas
farmakologis obat. Kegagalan atau kehilangan obat selama proses penyerapan
akan memperngaruhi aktifitas obat dan menyebabkan kegagalan pengobatan (
Siswandono dan Soekardjo, B., 1995).
Hewan percobaan adalah setiap hewan yang dipergunakan pada sebuah
penelitian biologis dan biomedis yang dipilih berdasarkan syarat atau standar
dasar yang diperlukan dalam penelitian tersebut.Dalam menggunakan hewan
percobaan untuk penelitian diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai
berbagai aspek tentang sarana biologis, dalam hal penggunaan hewan percobaan
laboratorium. Pengelolaan hewan percobaan diawali dengan pengadaan hewan,
meliputi pemilihan dan seleksi jenis hewan yang cocok terhadap materi penelitian.
Pengelolaan dilanjutkan dengan perawatan dan pemeliharaanPenelitian yang
memanfaatkan hewan coba, harus menggunakan hewan percobaan yang sehat dan
berkualitas sesuai dengan materi penelitian. Hewan tersebut dikembangbiakkan
dan dipelihara secara khusus dalam lingkungan yang diawasi dan dikontrol
dengan ketat. Tujuannya adalah untuk mendapatkan defined laboratory animals
sehingga sifat genotipe, fenotipe (efek maternal), dan sifat dramatipe
(efeklingkungan terhadap fenotipe) menjadi konstan. Hal itu diperlukan agar
penelitian bersifat reproducible, yaitu memberikan hasil yang sama apabila
diulangi pada waktu lain, bahkan oleh peneliti lain. Penggunaan hewan yang
berkualitas dapat mencegah pemborosan waktu, kesempatan, dan biaya. Berbagai
hewan kecil memiliki karakteristik tertentu yang relatif serupa dengan manusia,
sementara hewan lainnya mempunyai kesamaan dengan aspek fisiologismetabolis
manusia. Tikus putih sering digunakan dalam menilai mutu protein, toksisitas,
karsinogenik, dan kandungan pestisida dari suatu produk bahan pangan hasil
pertanian. Saat ini, beberapa strain tikus digunakan dalam penelitian di
laboratorium hewan coba di Indonesia,( Endi,2013)
Cara memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya perlu pula
diketahui. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah
berbeda-beda dan ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil)
serta tujuannya. Kesalahan dalam caranya akan dapat menyebabkan kecelakaan
atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan (ini akan menyulitkan dalam melakukan
penyuntikan atau pengambilan darah, misalnya) dan juga bagi orang yang
memegangnya (Katzug, B.G, 1989).
Setelah selesai penelitian Mencit dibunuh secara manusiawi dan sebelumnya
dilakukan anestesi terlebih dahulu. Hewan harus dipegang secara hati-hati tanpa
menimbulkan rasa takut pada hewan. Hewan dibunuhdisuatu tempat, dijaga agar
tidak ada hewan hidup di sekitarnya. Teknik membunuh dilakukan dengan cara
dislokasi leher.( Dewi, S.dkk,2007)

III. ALAT DAN BAHAN
Hewan percobaan : - Mencit 3 ekor
Bahan : - Air
- Alkohol
Alat : - Alat suntik 1 mL
- Kapas
- Sonde oral
- Timbangan


IV. PROSEDUR
Masing-masing mencit ditimbang lalu diberi nomor pada ekornya(nomor
1,2, dan 3). Untuk rute pemberian secara oral, mencit dipegang tengkuknya.
Sonde oral yang telah diisi air diselipkan dekat ke langit-langit mencit dan
diluncurkan masuk ke esophagus. Air didesak keluar dari sonde oral. Untuk rute
pemberian secara subkutan, penyuntikan dilakukan dibawah kulit tengkuk yang
sebelumnya telah dioleskan alcohol dan seluruh jarum langsung ditusukkan ke
bawah kulit dan air didesak keluar dari alat suntik. Untuk rute pemberian secara
intravena, penyuntikan dilakukan pada bagian ekor, ekor mencit ditarik dan
dioleskan alkohol lalu jarum disuntikan pada pembuluh vena (yang berwarna
merah memanjang pada ekor) dan air didesak keluar dari lat suntik. Selanjutnya
untuk rute pemberian secara intraperitonial, mencit yang telah dipegang, abdomen
yang akan disuntik dioleskan alcohol terlebih dahulu lalu jarum disuntikkan pada
bagian abdomen bawah mencit dan air didesak untuk keluar dari alat suntik. Rute
pemberian yang terakhir dilakukan secara intramuscular, jarum disuntikkan pada
bagian otot paha dari kaki belakang mencit yang sebelumnya telah dioleskan
alcohol lalu air didesak keluar dari alat suntik. Pada mencit nomor satu, rute
pemberian yang dilakukan yaitu secara intramuscular, subkutan, dan secara oral.
Pada mencit nomor dua, rute pemberian dilakukan secara intravena,
intraperitonial, dan secara oral. Sedangkan pada mencit nomor 3, pemberian
dilakukan secara intravena, intraperitonial, dan secara subkutan.

V. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
6.1 Tabel Pengamatan
Mencit
Bobot
(gram)
Rute Pemberian
Iv Im Ip Sc po
1 34 - -
2 33,5 - -
3 20,5 - -
6.2 Perhitungan Volume Obat (Air) yang Diberikan
Iv :
mL
g
mencit bobot
5 , 0
20
Volume obat yang diberikan
Im :
mL
g
mencit bobot
05 , 0
20
Volume obat yang diberikan
Ip :
mL
g
mencit bobot
1
20
Volume obat yang diberikan
Sc :
mL
g
mencit bobot
5 , 0
20
Volume obat yang diberikan
Po :
mL
g
mencit bobot
1
20
Volume obat yang diberikan

Mencit 1
Im :
mL mL
g
g
085 , 0 05 , 0
20
34


Sc :
mL mL
g
g
85 , 0 5 , 0
20
34


Po :
mL mL
g
g
7 , 1 1
20
34



Mencit 2
Iv :
mL mL
g
g
8375 , 0 5 , 0
20
5 , 33


Ip :
mL mL
g
g
675 , 1 1
20
5 , 33


Po :
mL mL
g
g
675 , 1 1
20
5 , 33



Mencit 3
Iv :
mL mL
g
g
5125 , 0 5 , 0
20
5 , 20


Ip :
mL mL
g
g
025 , 1 1
20
5 , 20


Sc :
mL mL
g
g
5125 , 0 5 , 0
20
5 , 20











Mencit 1, Subkutan Mencit 1, Intramuscular Mencit 1, Peroral








Mencit 2, Intravena Mencit 2, Intraperitonial Mencit 2, Peroral







Mencit 3, Intravena Mencit 3, Peroral

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, mempelajari tentang penanganan dan cara
pemberian obat pada hewan percobaan. Hewan percobaan yang dipilih pada
praktikum ini adalah mencit. Mencit dipilih sebagai hewan uji karena proses
metabolisme dalam tubuhnya berlangsung cepat sehingga sangat cocok untuk
dijadikan sebagai objek pengamatan. Selain itu, mencit juga memiliki banyak gen
yang relatif mirip dengan manusia, mudah dalam penanganannya dan reaksi obat
yang digunakan ke badannya dapat dengan cepat terlihat. Dimana suhu tubuh
mencit sekitar 37,4
o
C yaitu hampir sama dengan suhu tubuh manusia.
Ada beberapa cara emberian obat pada hewan uji yang dilakukan pada
praktikum kali ini yaitu melalui cara oral, intravena, subkutan, intraperitoneal, dan
intramuscular.
Langkah-langkah yang harus dilakukan pada percobaan pemberian obat
untuk semua rute adalah memberikan tanda pada ekor mencit dengan
menggunakan spidol. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan identitas dan nomor
urutan mencit. Setelah itu masing-masing mencit di timbang untuk diketahui
berapa berat atau bobot masing-masing mencit. Didapat bobot mencit 1-3 yaitu :
34 gr, 33,5 gr, 20,5 gr. Berat dari masing-masing mencit ini akan digunakan
sebagai perhitungan dalam konversi dosis.
Cara Peroral, merupakan cara pemberian obat melalui mulut dengan tujuan
mencegah, mengobati, mengurangi rasa sakit sesuai dengan efek terapi dari jenis
obat. Pada praktikum kali ini, digunakan alat bantu yaitu sonde oral. Pemberian
obat per oral merupakan cara yang paling banyak dipakai karena merupakan cara
yang paling mudah, murah, aman, dan nyaman bagi pasien walaupun memiliki
beberapa kekurangan, aksinya yang lambat sehingga cara ini tidak dapat dipakai
pada keadaan gawat. Rasa dan bau obat yang tidak enak juga sering menganggu
pasien.
Pemberian obat secara oral pada mencit dilakukan dengan menggenggam
mencit dengan tangan secara kuat agar mencit tidak memberikan perlawanan.
Sonde oral dimasukkan melalui mulut sebelah kiri lurus masuk hingga ke langit-
langit mulut mencit kemudian sonde didorong hingga mencapai esofagus, jarum
dimasukkan perlahan dengan cara diputar hingga habis mencapai pangkalnya.
Sediaan obat kemudian dimasukkan hingga habis sesuai perhitungan dosis
sebelumnya. Pada perlakuan pemberian obat secara oral ini banyak hambatan
yang dialami yaitu sulitnya memasukkan seluruh batang jarum sonde ke dalam
esofagus, tidak jarang mencit melakukan perlawanan dengan menggerakkan
tangan dan kepalanya. Ini disebabkan karena renggangnya genggaman sehingga
mencit masih memiliki ruang untuk bergerak melawan. Oleh karena itu,
diperlukan kekuatan lebih untuk menggenggam mencit agar tidak melakukan
perlawanan.
Cara intravena yaitu dengan menyuntikkan obat pada daerah ekor (terdapat
vena lateralis yang mudah dilihat dan dapat membuat obat langsung masuk ke
pembuluh darah). Dengan masukkan obat yang langsung ke pembuluh darah maka
efek yang dihasilkanpun lebih cepat. Bila dilihat dari tujuannya, pemberian obat
melalui intra vena yaitu memasukkan obat secara cepat, mempercepat penyerapan
obat, menghindari kerusakan jaringan, dan memasukkan obat dalam jumlah yang
lebih besar.
Pada mencit yang akan diinjeksi melalui intra vena harus di pegang
ekornya agar ekornya dapat lurus dan dapat terlihat pembuluh darah vena yang
berwarna merah. Dan bagian tungkak dari mencit dipegang agar mencit tidak
bergerak. Sebelum disuntikkan, dioleskan etanol yang terdapat dikapas dengan
tujuan vasodilatasi. Pemberian obat secara intra vena dilakukan dua kali untuk
mencit ke dua dan mencit ke tiga. Alasan mencit ke satu tidak diberikan obat
secara intra vena adalah karena batas pemberian obat tiap mencit maksimal 3 rute
pemberian. Siring yang ada jarum suntiknya di isi dengan cairan (air) atau obat
sesuai dengan perhitungan yang ditunjukkan pada tabel pengamatan. Untuk
mencit ke dua di injeksikan sebanyak 0,8375 ml dan untuk mencit ke tiga
diinjeksikan sebanyak 0,5125 ml. Bila di lihat dari sebuah literatur yaitu
(M.Boucard,et al, Pharmacodynamics, Guide de Travaux Pratiques, 1981- 1982)
menyatakan bahwa batas maksimal volume untuk rute pemberian pada hewan uji
secara intra vena adalah 0,5 ml. Hal ini, menunjukkan bahwa volume yang telah
disuntikkan pada mencit melebihi literatur. Namun, kelebihan ini disebabkan
karena bobot dari mencitnya. Karena umumnya 0,5 ml itu untuk bobot mencit 20
gr.
Kesulitan dalam pemberian intra vena adalah ekor mencit yang terlalu
kecil, sehingga pusat atau tempat vena berada sedikit tidak jelas. Kemudian ketika
jarum suntik itu dapat menembus ekornya, menunjukkan ekor mencit sedikit
menggelembung dan terlihat titik merah yang menandakan darah akan keluar. Hal
ini disebabkan, karena pada saat penyuntikkan tidak tepat pada bagian pembuluh
venanya.
Selain intra vena, obat dapat juga diberikan secara sub kutan. Sub kutan
yaitu pemberian obat diberikan dibawah kulit dan didaerah tengkuk mencit.
Bagian tengkuk mencit di jepit dengan ibu jari dan jari telunjuk, dan posisi mencit
tetap mengarah ke bawah. Saat penyuntikkan diarahkan ke bagian depan dari
tengkuk dan daerah suntikkannya itu di daerah kulit tipis dengan terlebih dahulu
dioleskan dengan etanol yang berada pada kapas. Dan melakukan penyuntikkan
dengan cepat agar tidak terjadi pendarahan. Hal ini yang membedakan dengan
intra vena, kemungkinan besar kesalahan yang di lakukkan saat penyuntikan intra
vena menyebabkan adanya sedikit pendarahan karena penyuntikkan yang tidak
cepat sehingga menyiksa mencit. Sedangkan ketika penyuntikkannya dilakukkan
dengan cepat tidak menunjukkan adanya darah, hal ini yang ditunjukkan dari hasil
penyuntikkan secara sub kutan.
Untuk volume yang diberikan saat penyuntikkan menunjukkan alasan
yang sama dengan intra vena. Dimana literatur menjelaskan umumnya
pemberiaan sub kuta adalah 0,5 ml untuk bobot mencit 20 gr. Sedangkan bobot
yang ditunjukkan hasil penimbangan lebih dari bobot absolut sehingga volume
yang diberikanpun melebihi literatur. Pada dasarnya, pemberiaan sub kutan adalah
rute pemberian obat melalui suntikkan ke area bawah kulit yaitu pada jaringan
konektif atau lemak pada jaringan dermis. Absorbsi biasanya berjalan lambat dan
konstan, sehingga efek bertahan lebih lama.
Kemudian, berikutnya adalah pemberian obat secara intramuscular kepada
mencit. Yang pertama di lakukan mirip dengan pemberian obat secara oral, yaitu
mencit di pegang dengan tangan kiri dengan mengunci gerakannya agar tidak bisa
memberontak ketika proses penyuntikan berlangsung. Tahap awalnya pun sama
yaitu mencit di renggangkan dalam ram kawat dengan cara di tarik ekornya
dengan tangan kanan, ketika dia berusaha berpegangan pada kawat otomatis
tubuhnya akan merenggang, sehingga dapat dengan mudah untuk di tangkap
dengan tangan kiri sambil ditarik tengkuknya ke belakang untuk mengunci
gerakan kedua kaki depannya selanjutnya ekornya diselipkan antara jari
kelingking dan jari manis untuk mengunci total gerakannya, mencit digenggam
dengan erat tapi tidak terlalu kuat agar mencit tersebut tenang dan tidak tersakiti.
Berbeda dengan pemberian secara oral, pemberian obat secara intramuscular
dilakukan oleh dua orang praktikan, praktikan pertama bertugas untuk memegang
sekaligus mengunci gerakannya sedangkan praktikan kedua bertugas untuk
memegang kaki kanannya sambil direnggangkan dan juga bertugas untuk
memberikan suntikan kepada mencit pada bagian otot paha posterior nya. Seperti
penyuntikan yang lainnya, sebelum proses penyuntikan dimulai, pertama-tama
bagian yang akan disuntik itu dioleskan kapas yang telah di lumuri oleh alcohol
untuk tujuan vasodilatasi, mengurangi ketegangan otot atau hal lain yang tidak di
inginkan. Cara penyuntikannya adalah jarum suntik dimasukkan dari bawah
sekitar 10
o
dengan perlahan-lahan agar tidak menembus terlalu dalam dan tidak
terlalu mengagetkan bagi mencit dan mengenai praktikan yang memegangnya
sampai jarum suntik telah masuk ke dalam otot paha posterior dengan sempurna.
Setelah itu cairan yang terdapat dalam suntikan dimasukkan ke dalam mencit.
Setelah habis semua cairan yang disuntikkan, cabut jarum nya keluar, mencit di
masukan kembali kedalam kandangnya.
Selanjutnya adalah pemberian obat secara intraperitonial kepada mencit.
Tahap awal yang dilakukan sama dengan pemberian obat secara oral maupun
pemberian obat secara intramuscular. yaitu mencit di pegang dengan tangan kiri
dengan mengunci gerakannya agar tidak bisa memberontak ketika proses
penyuntikan berlangsung. Tahap awalnya pun sama yaitu mencit direnggangkan
dalam ram kawat dengan cara ditarik ekornya dengan tangan kanan, ketika dia
berusaha berpegangan pada kawat otomatis tubuhnya akan merenggang, sehingga
dapat dengan mudah untuk ditangkap dengan tangan kiri sambil ditarik
tengkuknya ke belakang untuk mengunci gerakan kedua kaki depannya
selanjutnya ekornya diselipkan antara jari kelingking dan jari manis untuk
mengunci total gerakannya, mencit digenggam dengan erat tapi tidak terlalu kuat
agar mencit tersebut tenang dan tidak tersakiti. Kemudian untuk pemberian obat
secara intraperitonial tahap selanjutnya adalah membayangkan perut mencit
menjadi oval dan di bagi empat, lebih mudah dengan menggambarkan lingkaran
dengan cara menggaris di semua bagian pinggir tubuh mencit dari bagian dada
sampai dekat dengan kaki kiri atasnya, kaki kiri bawahnya, kaki kanan bawahnya,
kaki kanan atasnya dan menyambung pada bagian dada tadi. Selanjutnya
membaginya menjadi empat bagian, dan jarum suntik disuntikkan ke bagian
bawah sebelah kanan. Jarum disuntikkan dengan sudut 100 dari abdomen agak
kepinggir untuk mencegah terkenanya kandung kemih dan apabila terlalu tinggi
bisa mengenai hati. Seperti penyuntikan yang lainnya, sebelum proses
penyuntikan dimulai, pertama-tama bagian yang akan di suntik itu di oleskan
kapas yang telah di lumuri oleh alcohol untuk mengurangi ketegangan otot atau
hal lain yang tidak di inginkan. Setelah cairan disuntikkan dan jarumnya telah
dikeluarkan, mencit langsung di masukan kedalam kandangnya lagi, agar mencit
tersebut tidak mengalami penderitaan yang lebih lama.
Pada praktikum kali hanyalah pengenalan cara memberian obat terhadap
mencit sehingga cairan yang diberikan kepada mencit tersebut baik secara oral,
sub kutan, intravena, intramuscular dan juga intraperitonial adalah aqua destilata.
Sehingga di akhir praktikum mencit yang digunakan sebagai hewan uji tidak
dikorbankan dengan menggunakan CO
2
dengan dosis mematikan ataupun dengan
melakukan dislokasi leher, tapi mencit dikembalikan ke dalam tempat
penyimpanannya dan diberikan pakannya agar keadaan mencit tersebut bisa
kembali normal dan dapat digunakan dalam praktikum lainnya.
VII. KESIMPULAN
1. Hewan untuk percobaan farmakologi dapat diketahui dan ditangani
secara baik sesuai dengan karakter hewan tersebut.
2. Sifat-sifat hewan percobaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
responnya dapat diketahui secara baik melalui pengamatan dan praktik
pemberian obat dengan berbagai macam rute pemberian.
3. Teknik-teknik pemberian obat melalui berbagai rute pemberian serta
pengaruhnya terhadap efek yang ditimbulkan dapat diketahui dengan
baik dengan mempraktikannya kepada hewan uji.

DAFTAR PUSTAKA


Anief, Moh., 1990, Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan, Gadjah Mada
University Press, D.I Yogyakarta.
Ansel, Howard.C., 1989 Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
Katzung, Bertram G., Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta.
Ridwan,Endi.2013. Etika Pemanfaatan Hewan Percobaan dalam Penelitian
Kesehatan. Available at:
http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/viewFile/1237/
1210 (diakses 15 Maret 2014.)
Siswandono dan Soekardjo, B. 1995, Kimia Medisinal, Airlangga Press.Surabaya.
Susana, Dewi.dkk. 2007. Pemanfaatan Spirulina platensis Sebagai Suplemen
Protein Sel Tunggal (PST) Mencit (Mus musculus). Available at
http://journal.ui.ac.id/health/article/viewFile/238/234 (diakses 15 Maret
2014.)