Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Penyakit Morbus Hansen/Kusta/Lepra adalah salah satu penyakit menular
yang sifatnya kronik dan dapat menimbulkan masalah yang sangat kompleks.
Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai
masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Sekitar 50%
penderita kemungkinan tertular karena berhubungan dekat dengan seseorang yang
terinfeksi. Infeksi juga mungkin ditularkan melalui tanah, armadillo (sejenis
trenggiling yang mudah dipakai untuk pembiakkan kuman kusta, tetapi hingga kini
belum berhasil dibiakkan dalam medium buatan), kutu busuk dan nyamuk. Sekitar
95% orang yang terpapar oleh kuman kusta tidak menderita kusta karena sistem
kekebalannya berhasil melawan infeksi. Infeksi dapat terjadi pada semua umur,
paling sering mulai dari usia 20-an dan 30-an. Kuman kusta (Morbus Hansen)
biasanya menyerang saraf tepi kulit dan jaringan tubuh lainnya. Penyebab penyakit
Morbus Hansen ialah suatu kuman yang disebut Mycobaterium leprae . Sumber
penularan penyakit ini adalah penderita kusta Multi Basiler (MB) atau kusta basah.
Penyakit Morbus Hansen pada umumnya sering dijumpai di negara-negara yang
sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara dalam
pemberian pelayanan kesehatan yang baik dan memadai kepada masyarakat.
Penyakit Morbus Hansen sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga
termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih kurangnya
2

pengetahuan, kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat yang
ditimbulkannya.
Di Indonesia penderita Morbus Hansen terdapat hampir di seluruh daerah
dengan penyebaran yang tidak merata. Suatu kenyataan bahwa di Indonesia bagian
Timur terdapat angka kesakitan Morbus Hansen yang lebih tinggi. Penderita
Morbus Hansen 90 % tinggal diantara keluarga mereka dan hanya beberapa persen
saja yang tinggal di Rumah Sakit Kusta, koloni penampungan atau perkampungan
kusta. Prevalensi Morbus Hansen di Indonesia cenderung menurun dari tahun ke
tahun. Tahun 1986 ditemukan 7,6 per 10.000 penduduk menjadi 5,9 per 10.000
penduduk. Pada tahun 1994 terjadi lagi penurunan menjadi 2,2 per 10.000
penduduk dan menjadi 1,39 per 10.000 penduduk pada tahun 1997. Penurunan
prevalensi penyakit ini karena kemajuan di bidang teknologi promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif di bidang penyakit kusta.
Dengan teratasinya penyakit Morbus Hansen ini seharusnya tidak lagi
menjadi masalah kesehatan masyarakat. Tetapi sampai saat ini penyakit Morbus
Hansen masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan oleh
pihak yang terkait, karena mengingat kompleksnya masalah penyakit ini, maka
diperlukan program penanggulangan secara terpadu dan menyeluruh dalam hal
pemberantasan, rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial ekonomi dan
permasyarakatan dari bekas penderita Morbus Hansen.
Suatu penyataan bahwa sebagian besar penderita Morbus Hansen adalah
dari golongan ekonomi lemah. Perkembangan penyakit pada diri penderita apabila
tidak ditangani secara cermat dapat menimbulkan cacat dan keadaan ini menjadi
3

halangan bagi penderita Morbus Hansen dalam kehidupan bermasyarakat untuk
memenuhi kebutuhan sosial ekonomi mereka, juga tidak dapat berperan serta
dalam pembangunan bangsa dan negara.
I.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi Kusta?
2. Apakah perkembangan penyakit Kusta?
3. Apakah pencegahan penyakit kusta?
4. Apakah pengobatan penyakit kusta?
I.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi penyakit kusta
2. Mengetahui perkembangan penyakit kusta
3. Mengetahui pencegahan penyakit kusta
4. Mengetahui pengobatan penyakit kusta
I.4 Sasaran Penyuluhan
Seluruh pasien pada Puskesmas Beruntung Raya
I.5 Tujuan Penyuluhan
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan dapat memberikan informasi
kepada masyarakat tentang penyakit kusta sehingga masyarakat mengetahui
mengenai pencegahan dan diharapkan pemeriksaan lebih dini ke pusat kesehatan
agar pengobatan lebih maksimal.
I.6 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Penyuluhan dilaksanakan pada hari Senin, 9 Desember 2013 di Puskesmas
Beruntung Raya.
4

I.7 Pelaksana
Dokter muda Fakultas Kedokteran UNLAM yang sedang menjalani stase
Ilmu Kesehatan Masyarakat.
I.8 Metode
Dialog dan diskusi
I.9 Media
Brosur dan power point.
















5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

MORBUS HANSEN
Mobus hansen (lepra/ kusta) adalah suatu penyakit akibat infeksi kronik oleh
Mycobacterium leprae yang menyerang saraf perifer, kulit, mukosa traktus
respiratorius, serta organ lainnya kecuali sistem saraf pusat. Mycobacterium
leprae merupakan bakteri berbentuk basil gram-positif, tahan asam dan alkohol,
bersifat intraselular obligat. Sampai saat ini M. leprae belum dapat dibiakkan di
medium artifisial sehingga sulit untuk mempelajari tentang kuman ini.
1,2

a. Patogenesis
Seseorang yang terinfeksi M. leprae belum tentu akan menderita penyakit
kusta. Bakteri harus memenuhi jumlah minimum agar dapat tumbuh dan
menimbulkan manifestasi klinis. Manifestasi klinis yang ditimbulkan-pun
tergantung dari sistem imunitas seluler yang dimiliki host. Pada dasarnya, M.
leprae memiliki patogenitas dan daya invasi rendah karena penderita yang
terinfeksi lebih banyak kuman belum tentu menimbulkan manifestasi klinis
yang lebih parah. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa derajat penyakit lebih
dipengaruhi oleh reaksi imunitas host dibandingkan derajat infeksinya.
1,3,4,5

6


Gambar 1. Patogenesis Lepra dan Respon Imun Selular
5


Ketika M. leprae menginvasi, sistem imun seluler tubuh akan
meresponnya sesuai derajat imunitas. Dikenal dua kutub dalam patogenesis
lepra, yaitu kutub tuberkuloid (TT) dan kutub lepromatosa (LL). Setiap kutub
akan dikarakterisasi oleh imunitas yang bersifat cell-mediated atau sistem imun
humoral. Pada individu yang sistem imun selulernya baik, respon imun
dimediasi oleh sel T-helper 1. Sel ini akan mengeluarkan sitokin pro-inflamasi
seperti IFN-, TNF, IL-2, IL-6, IL-12 serta molekul kemotaktil yang berfungsi
memanggil sel makrofag. Sesampainya di kulit, makrofag berubah nama
menjadi histiosit. Histiosit akan memfagosit M. leprae sehingga kuman dapat
dieliminasi.
1,3,5

Sedangkan jika sistem imun selular tidak bekerja secara efektif, makrofag
gagal memfagosit M. leprae. Tipe ini dimediasi oleh sel T-helper 2 dengan cara
mengeluarkan IL-4 dan IL-10. M. leprae menduduki makrofag dan
7

berkembang biak di dalamnya. Sel ini disebut sebagai sel virchow atau sel busa
atau sel lepra yang dapat ditemukan di subepidermal clear zone. Akumulasi
makrofag beserta derivat-derivatnya membentuk granuloma yang penuh
kuman. Granuloma dapat ditemukan tertama pada area tubuh yang suhunya
lebih dingin, seperti : cuping telinga, hidung, penonjolan tulang pipi, alis mata,
kaki, dll).
1,3,5


Gambar 2. Tipe Klinis Lepra Berdasarkan Sistem Imun
4


Perlu diketahui bahwa penyakit kusta bukanlah penyakit keturunan.
Sampai saat ini, cara penularannya belum diketahui secara pasti. Kontak
langsung antarkulit yang erat dalam jangka waktu lama serta transmisi airborne
(secara inhalasi) diyakini menjadi jalur penularan penyakit ini. Masa
inkubasinya bervariasi antara 40 hari hingga 40 tahun, namun pada umumnya
terjadi dalam 3-5 tahun setelah pertama kali terinfeksi.
1

8

b. Tanda dan Gejala
Gejala klinis timbul sesuai derajat imunitas selular seseorang. Bila
imunitas baik, maka manifestasi klinis yang muncul lebih mengarah pada tipe
tuberkuloid. Sementara jika sistem imun buruk, manifestasi klinis lebih
mengarah pada tipe lepromatosa.
1,2,3

Ridley dan Jopling membagi tipe klinis lepra menjadi beberapa kelas sebagai
berikut:

Gambar 3. Spektrum Klinis Lepra Berdasarkan Klasifikasi Ridley-Jopling

Tuberculoid polar (TT) dan lepromatous polar (LL) merupakan tipe yang
stabil dan tidak mungkin berubah. Sedangkan borderline tuberculoid (BT), mid
borderline (BB), dan borderline lepramatous (BL) merupakan bentuk yang
tidak stabil sehingga dapat berubah tipe sesuai derajat imunitas. Tipe
indeterminate (I) tidak dimasukkan ke dalam spektrum. Pada fase ini,
kemungkinan untuk kembali sembuh sebesar 70%. Sementara 30% sisanya
kemungkinan dapat berkembang menjadi tipe-tipe di dalam spektrum
diatas.
1,2,4

9

Pada tahun 1980, WHO membagi lepra menjadi tipe multibasilar (MB)
dan pausibasilar (PB).

Gambar 4. Perbandingan Klasifikasi Ridley-Jopling dengan Klasifikasi WHO

Klasifikasi WHO ditentukan oleh jumlah basil yang ditemukan dari
pemeriksaan slit skin smear. Tipe TT dan BT memiliki jumlah BTA yang
rendah oleh karena itu diklasifikasikan ke dalam pausibasilar. Sementara tipe
BB, BL, dan LL memiliki jumlah BTA yang tinggi sehingga diklasifikasikan
ke dalam multibasilar.
1

Secara klinis, sifat lesi (jumlah, morfologi, distribusi, permukaan,
anestesia) dan kerusakan saraf dapat mengarahkan kita untuk menegakkan
diagnosis kearah tuberkuloid atau lepromatosa. Semakin ke arah tuberkuloid,
biasanya ditandai dengan lesi berbentuk makula saja / makula yang dibatasi
infiltrat dengan permukaan kering bersisik, anestesia jelas, berjumlah 1-5,
tersebar asimetris, kerusakan saraf biasanya terlokalisasi sesuai letak lesinya.
Di sisi lain, semakin mengarah ke tipe lepromatosa, lesi akan lebih polimorfik
(makula, infiltrat difus, papul, nodus) dengan permukaan yang halus berkilat,
10

anestesia tidak ada sampai tidak jelas, berjumlah banyak (>5 lesi), dan biasanya
tersebar simetris, kerusakan saraf biasanya lebih luas.
1,3


Gambar 5. Spektrum Klinis dan Respon Imunologi Berdasarkan Tipe Lepra
3


Karena pemeriksaan slit skin smear tidak selalu tersedia, maka pada tahun 1995
WHO menyederhanakan klasifikasi klinis kusta berdasarkan lesi di kulit dan
kerusakan saraf.

Tabel 1. Kriteria Diagnosis Klinis Menurut WHO (1995)
1

Pausibasilar (PB) Multibasilar (MB)
Lesi Kulit
(makula datar,
papul yang meninggi,
- Jumlah : 1-5 lesi
- Warna : Hipopigmentasi / eritema
- Distribusi : asimetris
- Jumlah : 1-5 lesi
- Distribusi : simetris
- Anestesia : kurang jelas
11

nodus) - Anestesia : jelas


Kerusakan Saraf - Hanya satu cabang saraf - Banyak cabang saraf

Disamping gejala klinis dari anamnesis, penting untuk melalukan
pemeriksaan fisik untuk menegakkan diagnosis lepra. Dari inspeksi, lesi kulit
yang timbul pada lepra mirip dengan lesi kulit pada penyakit-penyakit lainnya
(misal : dermatofitosis, tinea versikolor, pitiriasis alba/rosea, dermatitis,
skleroderma, dll) sehingga lepra dijuluki sebagai the greatest imitator. Ada
tidaknya baal yang dapat diketahui melalui tes sensitivitas cukup membantu
penyingkiran diagnosis banding. Tes sensitivitas dilakukan menggunakan
kapas (untuk rangsang raba), jarum (untuk rangsang nyeri), dan tabung reaksi
berisi air panas dan hinggin (untuk rangsang suhu).
1,2

Tidak hanya komponen sensorik, komponen motorik dan otonom saraf
perifer harus diperiksa pada pasien dengan memiliki lesi kulit yang dicurigai
kusta. Fungsi otonom dapat dinilai dengan memperhatikan ada atau tidaknya
dehidrasi pada lesi atau diperiksa dengan bantuan tinta gunawan. Adanya
pembesaran saraf perifer yang diketahui dengan cara palpasi bisanya
mengindikasikan adanya kelainan fungsi saraf yang bersangkutan. Untuk itu
perlu untuk melakukan voluntary muscle test. Saraf perifer yang diperiksa
antara lain : n. fasialis, n. aurikularis magnus, n. radialis, n. ulnaris, n.
medianus, n. poplitea lateralis, dan n. tibialis posterior.
1


12

c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan bakterioskopik (slit skin smear)
Sediaan diperoleh dari kerokan kulit yang diwarnai dengan pewarnaan
ziehl-neelsen. Untuk pemeriksaan rutin, diambil sediaan dari 4-6 tempat
yang lesinya paling aktif. Dua tempat wajib untuk pengambilan sediaan
adalah cuping telinga kiri dan kanan, sementara 2-4 sediaan lainnya
diperoleh dari lesi yang paling aktif. Irisan yang dibuat harus sampai di
lapisan dermis, melampaui subepidermal clear zone yang mengandung sel
virchow.
M. leprae tergolong basil tahan asam yang akan tampak berwarna merah
saat pemeriksaan mikroskopik. Perlu dihitung indeks bakteri (IB) dan indeks
morfologi (IM) dari pemeriksaan ini. Indeks bakteri merupakan jumlah
keseluruhan basil tahan asam yang ditemukan dari pemeriksaan
mikroskopis, nilainya bergradasi dari 0 hingga 6+. Sedangkan indeks
morfologi merupakan persentase bentuk basil yang solid dibandingkan
dengan jumlah keseluruhan basil (solid + nonsolid).
1,3,4

Pemeriksaan Histopatologik
Pada tipe tuberkuloid, gambaran histopatologik yang dapat ditemukan
adalah tuberkel (massa epiteloud yang berlebihan dikelilingi oleh sel
limfosit), kuman hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.
Sedangkan pada tipe lepromatosa terdapat sel-sel virchow yang mengandung
banyak kuman di subepidermal clear zone.
1,4

Pemeriksaan Serologis
13

Pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan, biasanya diindikasikan untuk
membantu diagnosis kusta pada kasus yang meragukan atau kusta subklinis
(lesi di kulit tidak ada). Uji yang dapat dilakukan antara lain:
- Uji MLPA
- Uji ELISA
- M. leprae dipstick test
- M. leprae flow test
1


d. Reaksi Kusta
Merupakan episode akut pada perjalanan penyakit yang kronis, biasanya terjadi
setelah pengobatan dan berhubungan dengan reaksi imun. Terdapat 2 jenis
reaksi kusta, antara lain:
Reaksi ENL (eritema nodusum leprosum)
Reaksi ENL termasuk dalam reaksi imun humoral (antigen + antibodi +
komplemen). Biasanya terjadi pada tipe lepromatosa dan pada reaksi ini,
tidak terjadi perubahan tipe. Reaksi ENL terjadi akibat banyaknya kuman
yang hancur dan mati ketika mendapatkan pengobatan. Basil yang hancur ini
mengeluarkan banyak antigen sehingga berinteraksi dengan antibodi dan
mengaktivasi sistem komplemen. Komplek imun ini beredar di sirkulasi dan
dapat menyerang berbagai organ. Karakteristik reaksi ENL adalah
ditemukannya nodus eritematosa yang nyeri dengan predileksi di lengan dan
tungkai.
1,3,5

Reaksi Reversal (reaksi borderline / reaksi upgrading)
14

Berbeda dengan reaksi ENL, pada reaksi reversal dapat terjadi perubahan
tipe tergantung sistem imun selular. Oleh karena itu, reaksi reversal disebut
juga sebagai reaksi borderline. Reaksi reversal merupakan reaksi
hipersensitivitas tipe lambat. Pada reaksi ini, terjadi peningkatan imunitas
sehingga terjadi perpindahan tipe ke arah tuberkoloid yang terjadi secara
cepat dan mendadak. Biasanya reaksi ini terjadi pada pengobatan 6 bulan
pertama. Karakteristik reaksi reversal adalah lesi yang sudah ada semakin
aktif dan timbul lesi-lesi baru. Pada tipe ini, juga dapat muncul gejala
neuritis akut yang memerlukan tatalaksana sesegera mungkin.
1,3,5


Gambar 6. Patogenesis Reaksi ENL dan Reaksi Reversal
5


TATALAKSANA KUSTA
a. Obat Utama
1
:
15

1. DDS
Merupakan obat pertama yang dipakai sebagai monoterapi. Seringkali
dapat menyebabkan resistensi (pertama kali dibuktikan tahun 1964).
Resistensi terhadap DDS ini yang memicu dilakukannya MDT.
2. Rifampisin
Dosis antikusta adalah 10 mg/kg BB. Dipakai sebulan sekali dalam
MDT karena efek sampingnya. Efek samping yang perlu diperhatikan
adalah hepatotoksik, nefrotoksik, gejala gastrointestinal, flu-like
syndrome, erupsi kulit, dan warna kemerahan pada keringat, air mata, dan
urin.
3. Klofazimin (lamprene)
Pada kasus kusta yang dimonoterapi dengan DDS dapat terjadi
relaps/kambuh. Dosis yang dapat digunakan adalah 1x50 mg setiap hari,
atau 100 mg selang sehari, atau 3 x 100 mg selama seminggu.
Efek sampingnya dapat berupa warna kecoklatan pada kulit, warna
kekuningan pada sklera, sehingga mirip ikterus. Hal ini disebabkan
klofazimin merupakan zat warna dan dideposit dalam sel sistem
retikuloendotelial.
4. Protionamid.
Dosis diberikan 5-10 mg/kg BB. Obat ini jarang dipakai. Distribusi
dalam jaringan tidak merata, sehingga kadar hambat minimal sukar
ditentukan.

16

b. Obat alternatif:
1
1. Ofloksasin
Berdasarkan in vitro merupakan kuinolon yang paling efektif terhadap
M. leprae. Dosis tunggal dalam 22 dosis akan membunuh hingga 99,99%.
Efek samping adalah mual, diare, gangguan saluran cerna, gangguan saraf
pusat (insomnia, nyeri kepala, dizziness, nervousness dan halusinasi).
Penggunaan pada anak dan ibu hamil dapat menyebabkan artropati.
2. Minosiklin
Termasuk dalam kelompok tetrasiklin. Efek bakterisidal lebih tinggi
daripada klaritromisin tapi lebih rendah daripada rifampisin. Dosis 100
mg. Efek samping antara lain hiperpigmentasi, simtom saluran cerna dan
SSP.
3. Klaritromisin
Kelompok antibiotik makrolid dan mempunyai aktivitas bakterisidal
M. leprae. Dosis harian selama 28 hari dapat membunuh 99% dan selama
56 hari sebesar 99,99%. Efek sampingnya adalah nausea, vomitus, dan
diare.

c. Prinsip penatalaksanaan dengan MDT
6
:
1. Vaksinasi BCG
Vaksin BCG dipercaya memiliki faktor pengaruh menurunnya
insidens kusta pada populasi. BCG dikontraindikasikan terhadap ODHA.
17

2. Pemendekan masa pengobatan MDT (dibandingkan dengan guideline
sebelumnya)
3. Pengobatan MDT yang fleksibel
Karena daerah endemik kusta merupakan daerah-daerah yang kurang
berkembang dan memiliki fasilitas kesehatan yang kurang baik, maka
konsumsi 1 blister pack MDT lebih dari 1 bulan dapat dilakukan, namun
pasien harus diinformasikan mengenai pentingnya penggunaan obat terkait
dosis, frekuensi, dan durasi dari regimen tersebut. Pasien juga harus
diinformasikan untuk kontrol apabila ada gejala yang muncul, atau gejala
yang tidak membaik













18

d. MDT untuk Multibasilar


Gambar 1. Contoh blister pack MDT MB dewasa.
7

19

Pasien akan dibagikan 12 strip obat, dimana setiap strip dihabiskan dalam
28 hari. Walaupun begitu, 12 strip tersebut dapat dihabiskan minimal selama
18 bulan.
1,8,9
Pengobatan hari pertama dilakukan dengan pengawasan oleh petugas :
kombinasi Klofazimin, Rifampisin, dan Dapson/DDS. Pengobatan hari ke-2
sampai hari ke-28 dilakukan tanpa pengawasan. Obat yang dikonsumsi pada
periode ini adalah Klofazimin dan Dapson. Pengonsumsian Klofazimin dapat
dilakukan dengan 3 cara : (1) 50 mg/ hari, (2) 100 mg/2 hari, (3) 3x100 mg per
1 minggu.

Selama pengobatan dilakukan pemeriksaan secara klinis setiap bulan dan
secara bakterioskopis setiap 3 bulan. Setelah pengobatan selesai, maka disebut
RFT (Release from treatment). Setelah RFT dilakukan tindak lanjut secara
klinis dan bakterioskopis minimal setiap tahun selama 5 tahun. Apabila
negatif, maka dinyatakan bebas dari pengamatan atau RFC (Release from
control).
Namun, yang dilakukan sekarang, apabila secara klinis sudah tidak ada
keluhan, maka dapat dihentikan pemberian obat, tanpa memperhatikan
bakterioskopis.





20

e. MDT untuk Pausibasilar


Gambar 2. Contoh blister pack MDT PB dewasa.
7

21

Pengobatan MDT untuk pausibasilar adalah Rifampisin 600 mg setiap
bulan, dengan pengawasan dan Dapson/DDS 100 mg setiap hari.
1,8,9

Pengonsumsian Rifampisin diberikan setiap hari pertama penggunaan blister
baru dan dilakukan didepan petugas. Selama pengobatan diberikan
pemeriksaan klinis setiap bulan dan bakterioskopis setelah 6 bulan (pada akhir
pengobatan). Pemeriksaan dilakukan minimal setiap tahun selama 2 tahun
secara klinis dan bakterioskopis. Apabila negatif, dinyatakan RFC. Anjuran
terbaru dari WHO mengatakan RFC tidak diperlukan, walau ada perdebatan
untuk mengawasi adanya reaksi dan relaps.

f. Pengobatan Lesi Tunggal
Kasus PB dengan lesi tunggal ditatalaksana dengan Rifampisin 600 mg +
Ofloksasin 400 mg + Minosiklin 100 mg (dosis tunggal).

g. Pengobatan Situasi Khusus
1. Pasien yang tidak dapat mengonsumsi rifampisin (karena efek-samping
atau resisten rifampisin).
Dilakukan pengobatan selama 24 bulan :
- 6 bulan pertama : Setiap hari mengonsumsi 50 mg Clofazimin
ditambah dengan dua dari antara (1) Ofloxacin 400 mg, (2) minosiklin
100 mg, dan (3) claritromisin 500 mg
22

- 18 bulan berikutnya : setiap hari konsumsi 50 mg Clofazimin,
ditambah dengan 100 mg minosiklin ATAU ofloksasin 400 mg. apabil
tersedia, ofloxacin dapat diganti dengan moksifloksasin 400 mg.
2. Pasien yang tidak dapat mengonsumsi klofazimin (efek samping)
Dapat diganti dengan ofloksasin 400 mg, atau monisiklin 100 mg, atau
moksifloksasin 400 mg dalam regiemen MB 12 bulan. Dapat juga diganti
regimen MDT 12 bulan dengan konsumsi rifampisin 600 mg + ofloksasin
400 mg + minosiklin 100 mg setiap bulan selama 24 bulan.
3. Pasien yang tidak dapat konsumsi dapson/DDS
Pada regimen pengobatan MB, DDS distop segera. Pada regimen
pengobatan PB, klofazimin dapat digunakan untuk menggantikan DDS,
dengan dosis yang sama dengan dosis pada regimen pengobatan MB.

h. Relaps
Risiko relaps dapat terjadi pada pasien dengan BI sebelum pengobatan
sebesar >3. WHO menyarankan agar pasien dengan BI yang tinggi dapat
diterapi lebih dari 12 bulan, dengan mempertimbangkan kontrol gejala klinis
dan bakteriologisnya. Beberapa studi menyebutkan bahwa mengulang regimen
secara total dapat menyembuhkan kasus relaps tersebut. Relaps yang lebih
sering terjadi adalah relaps sensitif (persisten) dibandingkan dengan relaps
resisten.

i. Pengobatan Reaksi kusta
1,9
23

1. Reaksi tipe 1 (reversal)
Gejala klinis reaksi reversal adalah sebagian atau seluruh lesi yang
telah ada bertambah aktif dan atau timbul lesi baru dalam waktu yang
relatif singkat

Tabel 1. Dosis prednisone harian menurut minggu pemberian
1
Minggu pemberian Dosis prednisone harian yang dianjurkan
1-2 40 mg
3-4 30 mg
5-6 20 mg
7-8 15 mg
9-10 10 mg
11-12 5 mg

Kalau tanpa neuritis, maka tidak perlu diberi pengobatan tambahan.
Anggota gerak yang terkena neuritis akut harus diistirahatkan. Analgetik
dan sedatif juga dapat diberikan.
2. Reaksi tipe 2 (ENL)
Prednison merupakan obat yang paling sering dipakai. Dosis dan lama
pengobatan bergantung kepada derajat keparahan reaksi, namun tidak
melebihi 1 mg/kg BB dan 12 minggu. Dapat ditambahkan analgetik-
antipiretik dan sedatif.
24

Apabila tidak membaik dengan kortikosteroid, dapat digunakan
klofazimin dengan dosis 3x100 mg per hari dengan lama maksimum 12
minggu, dengan tappering menjadi 2 x 100 mg selama 12 minggu dan 1 x
100 mg selama 12-24 minggu. Perlu diperhatikan bahwa untuk membaik
diperlukan 4-6 minggu untuk klofazimin mengontrol ENL.
j. Kecacatan
1,9
Penderita kusta yang terlambat didiagnosis dan tidak mendapat MDT
mempunyai risiko tinggi terjadinya kerusakan saraf. Penderita dengan reaksi
kusta terutama reversal juga mempunyai faktor risiko yang lebih tinggi.
Kerusakan saraf berbentuk nyeri saraf, hilangnya sensibilitas dan
berkurangnya kekuatan otot. Terdapat keluhan sehari-hari seperti susah
memasang kancing baju, memergang pulpen, atau mengambil benda kecil,
atau kesulitan berjalan.
Cara terbaik untuk melakukan pencegahan adalah dengan diagnosis dini,
mengenali reaksi kusta, identifikasi pasien dengan risiko tinggi.

Tabel 2. Derajat kecacatan
1
Cacat pada tangan dan kaki
Tingkat 0 Tidak ada gangguan sensibilitas, kerusakan dan deformitas
Tingkat 1 Ada gangguan sensibilitas TANPA kerusakan atau
deformitas
Tingkat 2 Terdapat kerusakan atau deformitas
Cacat pada mata
25

Tingkat 0 Tidak ada kelainan/kerusakan
Tingkat 1 Ada kelainan/kerusakan pada mata yang tidak terlihat, visus
sedikit berkurang
Tingkat 2 Ada kelainan mata yang terlihat (lagotalmus, iritis, kornea
keruh) dan/atau visus sangat terganggu

Pada pasien tingkat 1 dapat dilakukan langkah pencegahan seperti
penggunaan sepatu, karena pada pasien dengan baal di kaki dapat
menyebabkan luka-luka yang dapat menyebabkan infeksi sekunder pada kaki.
Alat pelindung diri lain yang dapat digunakan juga adalah sarung tangan
untuk tangan, dan kacamata untuk melindungi mata. Selain itu, kebersihan
dan kelembaban kulit telapak tangan dan kaki juga harus dijaga untuk
mencegah penyakit kulit yang dapat terjadi.

MATERI PENYULUHAN KUSTA
1. Definisi kusta ( Morbus hansen )
Penyakit kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium leprae (M.leprae ). Kuman golongan myco ini berbentuk batang
yang tahan terhadap asam terutama asam alkohol dan oleh sebab itu disebut juga
Basil Tahan Asam (BTA). Penyakit ini bersifat kronis pada manusia, yang bisa
menyerang saraf-saraf dan kulit. Bila dibiarkan begitu saja tanpa diobati, maka
akan menyebabkan cacat cacat jasmani yang berat. Namun, penularan penyakit
kusta ke orang lain memerlukan waktu yang cukup lama tidak seperti penyakit
26

menular lainnya. Masa inkubasinya adalah 2-5 tahun. Penyakit ini sering
menyebabkan tekanan batin pada penderita dan keluarganya, bahkan sampai
menggangu kehidupan sosial mereka.


2. Gejala Klinis
Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau
tipe dari penyakit tersebut. Di dalam tulisan ini hanya akan disajikan tanda-tanda
secara umum tidak terlampau mendetail, agar dikenal oleh masyarakat awam,
yaitu:
1. Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/ tubuh manusia.
2. Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin
melebar dan banyak.
3. Adanya pelebaran saraf terutama pada saraf ulnaris, medianus, aulicularis
magnus serta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis
dan mengkilat.
4. Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit
5. Alis rambut rontok
6. Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa)
Gejala-gejala umum pada kusta, reaksi :
1. Panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil.
2. Anoreksia.
3. Nausea, kadang-kadang disertai vomitus.
27

4. Cephalgia.
5. Kadang-kadang disertai iritasi, Orchitis dan Pleuritis.
6. Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia, Nepritis dan hepatospleenomegali.
7. Neuritis

3. Pencegahan Dan Penanggulangan Penyakit Menular Kusta
3.1 Pencegahan Penyakit Kusta
Upaya pencegahan dapat dilakukan sesuai dengan perkembangan patologis
penyakit atau dengan kata lain sesuai dengan riwayat alamiah penyakit tersebut.
Ada 3 tingkat utama pencegahan :
1. Pencegahan tingkat pertama ( Primary Prevention )
2. Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention )
3. Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention )
Tingkat pencegahan 1 pada tahap prepatogenesis dari riwayat alamiah penyakit
Tingkat pencegahan 2 dan 3 pada tahap patogenesis penyakit
Pencegahan primer (primary Prevention)
Adalah upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit belum mulai (pada
periode pre-patogenesis) dengan tujuan agar tidak terjadi proses penyakit
Tujuan: mengurangi insiden penyakit dengan cara mengendalikan penyebab
penyakit dan faktor risikonya
Upaya yang dilakukan adalah untuk memutus mata rantai infeksi agent host
environment
Terdiri dari:
28

1. Health promotion (promosi kesehatan)
2. Specific protection (perlindungan khusus)
kegiatan yang dilakukan melalui upaya tersebut adalah :
1. Health promotion (promosi kesehatan)
Pendidikan kesehatan, penyuluhan
Gizi yang cukup sesuai dengan perkembangan
Penyediaan perumahan yg sehat
Pemeriksaan kesehatan berkala
2. Specific protection (perlindungan khusus )
- Imunisasi
- Kebersihan perorangan
- Sanitasi lingkungan
b. Pencegahan sekunder (Secondary Prevention)
Adalah upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah berlangsung
namun belum timbul tanda/gejala sakit (patogenesis awal) dengan tujuan proses
penyakit tidak berlanjut
Tujuan: menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi
Terdiri dari :
1. Deteksi dini
2. Pemberian pengobatan (yang tepat)
Kegiatan yang dilakukan dalam upaya terebut adalah
Deteksi dini
Penemuan kasus (individu atau masal)
29

Skrining
Pemeriksaan khusus dengan tujuan
Menyembuhkan dan mencegah penyakit berlanjut
Mencegah penyebaran penyakit menular
Mencegah komplikasi dan akibat lanjutan
Memperpendek masa ketidakmampuan
Pemberian pengobatan
Pengobatan yang cukup untuk menghentikan proses penyakit
mencegah komplikasi dan sekuele yg lebih parah
Penyediaan fasilitas khusus untuk membatasi ketidakmampuan dan mencegah
kematian
c. Pencegahan Tersier (tertiary Prevention)
Adalah Pencegahan yg dilakukan saat proses penyakit sudah lanjut (akhir periode
patogenesis) dengan tujuan untuk mencegah cacat dan mengembalikan penderita
ke status sehat.
Tujuan: menurunkan kelemahan dan kecacatan, memperkecil penderitaan dan
membantu penderita-penderita untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi
yang tidak dapat diobati lagi
Terdiri dari:
1. Disability limitation
2. Rehabilitation
Kegiatan yang dilakukan dalam upaya tersebut adalah :
1. Disability limitation
30

Penyempurnaan dan intensifikasi pengobatan lanjutan agar tidak terjadi
komplikasi.
Pencegahan terhadap komplikasi maupun cacat setelah sembuh.
Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk pengobatan dan perawatan
yang lebih intensif.
mengusahakan pengurangan beban
beban non medis ( sosial ) pada penderita untuk memungkinkan meneruskan
pengobatan dan perawatannya.
2. Rehabilitasi
Penempatan secara selektif
Mempekerjakan sepenuh mungkin
penyediaan fasilitas untuk pelatihan hingga fungsi tubuh dapat dimanfaatkan
sebaik-baiknya
Pendidikan pada masyarakat dan industriawan agar menggunakan mereka yang
telah direhabilitasi
Penyuluhan dan usaha usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan seseorang
setelah ia sembuh.
Peningkatan terapi kerja untuk memungkinkan pengrmbangan kehidupan
sosial setelah ia sembuh.
Mengusahakan suatu perkampungan rehabilitasi sosial.
Penyadaran masyarakat untuk menerima mereka dalam fase rehabilitasi.
Mengembangkan lembaga-lembaga rehabilitasi
3.2. Penanggulangan Penyakit Kusta
31

Penanggulangan penyakit kusta telah banyak didengar dimana-mana
dengan maksud mengembalikan penderita kusta menjadi manusia yang berguna,
mandiri, produktif dan percaya diri. Metode penanggulangan ini terdiri dari :
metode pemberantasan dan pengobatan, metode rehabilitasi yang terdiri dari
rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial, rehabilitasi karya dan metode
pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi, dimana penderita
dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok tersendiri. Ketiga metode
tersebut merupakan suatu sistem yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Di Indonesia, tujuan program pemberantasan penyakit kuista adalah menurunkan
angka prevalensi penyakit kustra menjadi 0,3 per 1000 penduduk pada tahun 2000.
Upaya yang dilakukan untuk pemberantasan
penyakit kusta melalui :
1. Penemuan penderita secara dini.
2. Pengobatan penderita.
3. Penyuluhan kesehatan di bidang kusta.
4. Peningkatan ketrampilan petugas kesehatan di bidang kusta.
5. Rehabilitasi penderita kusta.






32

BAB III
PENUTUP

Penyakit Morbus Hansen pada umumnya sering dijumpai di negara-negara
yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara dalam
pemberian pelayanan kesehatan yang baik dan memadai kepada masyarakat.
Penyakit Morbus Hansen sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga
termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih kurangnya
pengetahuan, kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat yang
ditimbulkannya.
Penyuluhan mengenai penyakit kusta memegang peranan yang penting
untuk memberi informasi pada masyarakat. Sehingga upaya-upaya pencegahan
dan pengobatan serta penanganan penyakit kusta dapat lebih maksismal.