Anda di halaman 1dari 8

Dari Surealisme ke Beasiswa

Waktu menunjukkan pukul 21.10 udara di sekitar mulai terasa


menusuk daging tubuh melewati ruang kamar kecil yang berdinding bata dengan cat
warna lusuh dan beratap pendek itu. Terlihat Seseorang dengan tubuh tinggi,berkulit
langsat dan berambut ikal yang sedang sibuk menyelesaikan suatu pekerjaan di bawah
lantai. Bergores-gores warna tebal-tipis pensil membentuk suatu pandangan tersendiri di
kertas yang sedari tadi dihadapinya. Di sampingnya ada secangkir kopi ditemani
seonggok kue coklat yang mulai habis dimakan empunya. Baru pukul segini masa Aku
sudah ngantuk kata hati Rona. Tangannya lihai menapaki setiap senti dari kertas putih
itu hingga terbentuk suatu pola sketsa yang rumit namun terlihat sangat eksotis.
Akhirnya Rona pun mulai menyerah atas rasa kantuknya yang Dia tahan dari tadi.
Paginya Rona segera membereskan pekerjaannya tadi malam untuk di
bawa ke sekolah. Rona membawanya hati-hati ketika melewati jalanan becek.
Sesampainya di kelas Dia ditanyai oleh teman-temannya. Ron,kamu buat apa? Pasti
keren. Celetuk seorang anak laki-laki dari balik pintu
Oh, lihat aja nanti males buka . Jawab Rona singkat
Tak lama kemudian bel berbunyi, suara khas sepatu Pak Fandy tak bisa di sembunyikan
dari telinga murid-murid.
Selamat pagi. Sapa Pak Fandy sudah sampai di depan kelas memakai baju batik
kesukaannya
Selamat pagi Pak. Serentak anak-anak menjawab
Oke, lukisannya dikumpulkan hari ini. Kata Pak Fandy sudah duduk di kursi depan
Deadline pengumpulan lukisan memang dijanjikan hari itu namun masih ada segelintir
Anak yang belum selesai. Untungnya Rona sudah melemburnya tadi malam dengan
agak terseok-seok oleh kantuknya.
Ron,tuh di panggil Pak Fandy. Tiba-tiba Leva mengguncang tubuhnya yang tak
sadarkan diri oleh rasa kantuk.
Oh,masak. Ehm iya pak.kata Rona geragapan
Ini lukisannya Bapak bawa dulu ya. Walaupun lukisan teman-temanmu sudah Bapak
kembalikan. Tapi besok akan Bapak bawa lagi kok. Kata Pak Fandy serius. Jarang-
jarang Pak Fandy berbicara seperti ini batin Rona.
Iya pak. Rona mengangguk pelan lalu kembali ke bangku dengan wajah menerka-
nerka.
Cuaca sepulang sekolah kelihatan mendung dan berangin, Rona
menapaki jalan menuju halte bersama Leva yang berkulit putih,berwajah tirus serta
rambutnya sedikit berombak terjurai indah. Leva adalah salah satu murid cerdas di
kelasnya serta berpengetahuan luas.
Ron,lukisanmu tadi bagus banget. Aku belum pernah lihat seperti itu secara nyata.
Tapi Aku pernah melihatnya di.. dimana ya?. Kata Leva
Ah, lupakan itu adalah hasil dari lemburanku semalam. Jawab Rona singkat
Akhirnya setelah jauh berjalan mereka duduk di halte dekat seorang Bapak Tua berbaju
hitam dan berwajah ramah.
Kalian baru pulang ya?. Tanya Bapak itu
Iya pak. Bapak di sini dari tadi?. Kata Rona
Yah lumayan setengah jam yang lalu.
Oh Iya aku ingat Ron, itu mirip dengan Salvador Dali. Kalau tidak salah kamu
memepunyai gaya lukisan Surealisme. Kata Leva memecah keheningan sesaat matanya
berbinar ketika mengatakan itu.
Oya,wow. Seandainya aku bisa melukis lagi untuk biaya masuk perguruan tinggi
negeri nanti itu lebih baik. Kata Rona pandangannya setengah menerawang udara
Bapak yang duduk di samping Rona terkesima dengan ucapan Leva tadi.
Benarkah nak Kamu pelukis gaya Surealisme?. Tanya si bapak
Saya juga tidak tahu pak tapi apa yang ada di mimpi Saya selalu ingin diekspresikan.
Apa yang Kau impikan dalam tidurmu nak?. Bapak itu semakin penasaran
Mimpi? macam-macam tentunya,Saya tak ingat semuanya namun satu yang Saya ingat.
Saya sering mimpi mendapatkan beasiswa untuk sekolah lagi dan itu hal yang sangat
Saya cita-citakan. Kata Rona menjabarkan
Terlihat bus melaju ke arah mereka si Kondektur pun melambaikan tangan tanda bus
akan berhenti. Ini kartu nama Saya jika ada sesuatu lagi tentang mimpi dan lukisan
Kamu bisa konsultasi dengan Saya. Ucap Bapak Tua sambil tersenyum memberikan
kartu nama kepada Rona.
Terimaksih Pak. Kata Rona dari dalam bus balas tersenyum di kartu itu Dia melihat
tulisan Wahena di atasnya Wahs Galery
Kicauan burung tidak selaras dengan langit yang nampak suram
berhiaskan mendung pucat diselimuti udara agak berkabut pagi itu.Rona menapakkan
langkahnya dalam jalanan yang agak sepi dalam perjalanannya Ia bertanya dalam hati
hari ini lukisanku dikembalikan, kira-kira apa ya komentar Pak Fandy hingga Dia
berwajah serius seperti kemarin. Dia juga masih bingung kenapa Bapak Tua itu
langsung tampak keheranan dan memberikan kartu nama padanya.
Di kelas Leva tak kalah hebohnya mengembar-gemborkan bahwa
Rona diam-diam mempunyai bakat lukis yang luar biasa. ...bayangkan saja ketika Aku
cerita tentang lukisan Rona Bapak itu langsung memberikan kartu nama kepadanya dan
lihat Pak Fa.... cerita Leva pada segerombolan anak yang melingkarinya tiba-tiba
ceritanya terpotong
Lev, udah deh. Aku bosan dengar cerita ini terus. Kata Rona membalikkan tubuhnya
sebal
Rona , Kamu dipanggil Pak Fandy ke kantor.tiba-tiba kata Seorang murid dari luar
Aku? Oh iya.
Hatinya semakin tak karuan apa ada yang salah pikirnya. Sesampainya di ruang guru
mata Rona terfokus pada bangku Pak Fandy.Bapak memanggil Saya?. Tanya Rona
Iya Ron, langsung saja. Bapak pikir kamu mempunyai gaya lukisan yang sangat rumit.
Pertama Bapak mengira itu hanya gambaran biasa tapi setelah Bapak bawa pulang dan
Ayah Bapak melihat bahwa lukisanmu itu bernyawa dan punya ke khasan tersendiri.
Cerita Pak Fandy
Lalu apa yang bisa Saya lakukan agar itu berkembang Pak? Saya juga merasakan hal
tersendiri sebenarnya ketika membuat itu. Saya merasa sebagian dari beban Saya
berkurang ketika mencurahkannya. Jelas Rona
Kamu bisa kerumah Saya hari ini untuk bertemu dengan Ayah Saya jika Kamu mau.
Baiklah Pak, Saya akan mencobanya. Terimakasih atas saran dan ceritanya Saya
permisi dulu. Ucap Rona mengakhiri
Sesampainya di kelas Ia langsung di serbu Leva yang penuh penasaran pada garis
wajahnya. Nanti pulang sekolah Aku ajak ke rumahnya Pak Fandy ya. Mau konsultasi.
Kata Rona mencegah Leva sebelum Dia bertanya nerocos.
Ruangan itu dipenuhi berbagai macam gaya lukisan yang tidak Rona
ketahui. Mulai dari bentuk-bentuk geometri sampai ke bentuk abstrak dan Rona mulai
mengenali semacam gaya aliran lukisanya. Oh Kamu nak ternyata. Terdengar suara
ramah membangunkan kekaguman Rona ternyata suara ramah itu Pak Wahena yang
merupakan Ayah dari Pak Fandy.
Rona ya, duduklah nak.Kamu sudah mendaftar untuk perguruan tinggi?.
Belum, bukannya belum dimulai.
Itu sudah dimulai jika Kamu mau melanjutkan melukis lagi. Lukisanmu berbakat nak,
jangan sia-siakan peluang.
Jadi Bapak ingin Saya mengembangkan bakat Saya?. Kata Rona hati-hati
Bukan Aku yang ingin tapi dirimu yang memerlukan. Mendengar dari Anakku nilai
eksakmu kurang memuaskan itu bisa membantumu dalam menggapai apa yang Kamu
impikan.
sudah selama inikah Aku baru menyadari bakatku yang luar biasa? Tanya Rona dalam
hati kali ini Aku harus berjuang demi impianku,demi ayah dan ibu pikirnya mantap.
Ya saya akan lakukan itu Pak. Kata Rona menyetujui
Jika ada kesulitan kamu bisa hubungi Bapak . Oh ya, Kamu tidak keberatan kan kalau
lukisan itu Bapak beli? Soalnya di sini sedikit yang Bapak punyai tentang gaya
surealisme. Tangannya sambil menunjuk berbagai lukisan di dinding
Apa,oh tentu boleh. Ibu akan senang mendengar ini. Matanya berbinar hati rona pun
tak karuan senangnya ibu akan senang lihat ini ibu akan senang dalam hati kecilnya.
Ron, makan dulu nak. Nanti capek lho. Seru Ibu dari dapur
Iya Bu bentar lagi. Jawab Rona yang masih asyik dengan lukisan-
lukisannya. Warna-warna cat memberi corak pada ubinnya yang gelap,gulungan kanvas
sudah seperti permadani yang lusuh di bawah. Rona membeli semua peralatan lukis itu
dari hasil mengumpulkan uang selama 3 minggu. Lama memang, Ibu Rona hanya
penjahit biasa dan Ayahnya menderita sakit lumpuh jadi Dia terbiasa hidup hemat.
Tak terasa hujan berhari hari membawanya memasuki bulan mei
berganti dengan hawa kering. Berminggu-minggu pula Dia menghabiskan waktunya
dengan kuas,cat, dan kanvas yang beradu satu hingga tak ada waktu untuk bersama
Leva seperti dulu. Leva pun menyadari akan kerenggangan ini, di waktu istirahat tiba
mereka bertemu di bawah pohon Angsana di dekat sungai kecil.
Aku gak mau kehilangan sahabatku sejak kecil. Kata Leva dingin
Apa maksudmu?. tanya Rona heran
Apakah harus mengorbankan persahabatan Kita?. Katanya masih mengacuhkan Rona
Sebentar,apakah semua ini berhubungan dengan lukisanku? Aku ingin membahagiakan
orang tuaku Lev. Jelasnya
Aku tahu kamu sedang berusaha untuk itu. Tapi apakah persahabatan Kita dari kecil
yang menjadi tumbal. Kini Dia membalikkan tubuh terlihat matanya mulai memerah
Tentu saja tidak Leva. Rona mulai mendekati Leva dan langsung memeluk
sahabatnya
Rona bisa merasakan Leva sesenggukan Rona tanpa sadar bulir kecil air jatuh
membasahi pipi Rona dan semaki lama semakin besar. Maafkan Aku Lev,Aku terlalu
ambisius akan semua ini tapi Aku harus memilih jalan ini Aku tak pandai sepertimu.
Aku ingin Kita bisa bercerita bersama lagi dalam hal apapun,seperti dulu.
Iya, mulai sekarang Aku akan berusaha agar Kita tetap bersama lagi.
Aku juga siap membantumu kalau Kamu kesusahan dalam pelajaran. Ingat Kita itu
sahabat dan Kau sudah seperti saudaraku sendiri. Pelukan itu sudah memudar seiring
ucapan Leva dan keduanya sama-sama tersenyum.
Akhirnya dia memasuki Suasana SNMPTN bagi Rona semua orang
berwajah serius namun itu tak begitu mengambil perhatian dirinya.aku harus
bersungguh-sungguh mengerjakan ini demi beasiswa dan orang tuaku batinnya
menegaskan. Leva sudah ujian sejak 2 hari yang lalu walaupun begitu mereka berdua
sengaja memilih Panlok yang sama agar tetap bisa saling membantu. Leva yang cerdas
memilih jurusan Kedokteran Gigi sementara itu Rona si seniman lebih menyukai
jurusan Desain Interior kendati pun mereka berdua memilih perguruan tinggi yang sama.
Sembari menunggu pengumuman SNMPTN yang lamanya satu bulan
itu Rona mulai melukis lagi kali ini untuk membantu perekonomian keluarganya. Ayah
Rona kini sudah bisa berdiri walaupun jalannya masih memakai kruk.
Saat-saat mendebarkan pun tiba Rona dan Leva sudah berhadapan
dengan laptop milik Leva siap untuk menekan tombol enter pada website. Dan
jreng...tertuliskan hasil kelulusan Gerona Alvara Desain Interior kemudian disusul
Levarian Jenova Sasmitoe Kedokteran Gigi. Mereka sesaat saling pandang tak percaya
lalu berpelukan menangis saking bahagianya tanpa mengucap kata. Hatinya sungguh
sangat bahagia Dia bisa mewujudakan impian meskipun itu berawal dari
ketidaksengajaan surealismenya. Berawal dari Surealisme ke pencapaian beasiswa
Perguruan Tinggi Negeri.
BIODATA DIRI
Nama: Sabila Rahmawati
Tempat/Tanggal Lahir: Ngawi, 16 Juli 1994
Anak ke 1 dari 2 bersaudara
Fakultas/Jurusan: Pertanian/Perikanan
Angkatan: 2012
Hobi: Menulis,Membaca,Menggambar,Ngegame,Browsing, Dan Bersepeda.
Cita-Cita: Pengusaha Perikanan
Moto hidup: Tidak bisa pasrah kepada takdir sebelum mencoba, Kita hidup karena
menang dan untuk menang
FOTO