Anda di halaman 1dari 7

Friday, April 20, 2007

Islam Dan Emansipasi


Oleh : Mukhlas Al Bastamy
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin,
laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar,
laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan
perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan
yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)
Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar".

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas ra bahwa ayat ini turun
berkenaan dengan pertanyaan para wanita: Mengapa dalam Al-Quran disebutkan para laki-
laki sementara para wanita tidak? Maka turunlah ayat ini.

Jauh Sebelum mempoklamirkan emansipasi wanita, Islam telah lebih dahulu mengangkat
derajad wanita dari masa pencampakan wanita di era jahiliah ke masa kemulaian wanita. Dari
ayat di atas kita bisa melihat betapa Islam tidak membedakan antara wanita dan laki-laki.
Semua sama di hadapan Allah.swt, dan yang membedakan mereka di hadapan Allah adalah
mereka yang paling bertaqwa, taqwa dalam artian menjalankan segala perintahnya dan
menjauhi segala larangnnya.

Sering kita dengar pemahaman emansipasi wanita yang selalu digembar-gemborkan orang-
orang barat yang mengatasnamakan hak asasi manusia, bahwa emansipasi wanita adalah
menyamakan hak dengan kaum pria, padahal tidak semua hak wanita harus disamakan dengan
pria, karena Allah.Swt telah menciptakan masing-masing jenis kelamin dengan latar belakang
biologis kodrati yang tidak sama. Persamaan hak untuk dilindungi oleh hukum, mendaptkan gaji
yang setara dengan laki laki jika berada di kedudukan atau kemampuan yang sama, dan lain
sebagainya adalah segelintir contoh dibolehkannya persamaan hak dengan kaum pria.

Makna emansipasi wanita yang benar, adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak
memilih dan menentukan nasib sendiri. Sampai kini, mayoritas wanita Indonesia, terutama di
daerah pedesaan dan sektor informal belum menyadari makna dari emansipasi wanita itu
sendiri, akibat normatif terbelenggu persepsi etika, moral, dan hukum genderisme lingkungan
sosio-kultural menjadi serba keliru. Belenggu budaya itulah yang harus didobrak gerakan
perjuangan emansipasi wanita demi memperoleh hak asasi untuk memilih dan menentukan
nasib sendiri.

Perjuangan R.A. kartini dan R.Dewi Sartika dalam medobrak keterbelengguan peribumi oleh
penjajah merupakan pergerakan yang spektakuler bagi wanita Indonesia saat itu. Sebuah
perang dengan cara moderat tanpa adu kekuatan fisik, akan tapi adu otak, adu harga diri. Tak
berselang lama kebangkitan harga diri pribumi mulai naik hingga kita sebut sebagai jaman
Kebangkitan Nasional, tidak hanya bangkit meruncingkan bambu, tapi juga meruncingkan
pikiran, mengasah otak melalui kata-kata, baik di forum diskusi maupun di media cetak.

Di hari Kartini ini, mari kita meneropong kebelakang melihat kembali wanita-wanita yang
berjaya pada awal-awal berdirinya Islam, mereka adalah Aisyah binti Abu Bakar(wafat 58 H),
Hafsah binti Umar (wafat 45 H), Juwairiah binti Harits bin Abu Dhirar (wafat 56 H), Khadijah
binti Khuwailid (wafat 3 SH), Maimunah binti Harits (wafat 50 H/670 M), Ummu Salamah (wafat
57 H/676 M), Zainab binti Jahsy (wafat 20 H), Fatimah binti Muhammad (wafat 11 H), Ummi
Kultsum binti Muhammad (wafat 9 H/639 M), Zainab binti Muhammad (wafat 8 H.) dan lain
sebagainya. Merekalah yang telah memberikan suri tauladan yang sangat mulia untuk
keberlangsungan emansipasi wanita, bukan saja hak yang mereka minta akan tetapi kewajiban
sebagai seorang wanita, istri,anak atau sahabat mereka ukir dengan begitu mulianya. Seperti
telah disinggung di atas, dalam pandangan Islam wanita yang baik adalah wanita yang
seoptimal mungkin menurut konsep al-quran dan assunnah. Ialah wanita yang mampu
menyelaraskan fungsi, hak dan kewajibannya:
- Seorang hamba Allah ( At-Taubah 71 )
- Seorang istri ( An-Nisa 34)
- Seorang ibu ( Al-Baqoroh 233 )
- Warga masyarakat (Al-furqan 33)
- Daiyah ( Ali Imran104 -110)

Islam juga telah mengabadikan nama wanita yang dalam bahasa Arab An-nisa ( ) ke dalam
salah satu surat dalam Al-quran, dan islam juga tidak melarang wanita untuk berperang atau
berjihad di jalan Allah.Swt melawan orang-orang kafir, dalam hadits yang diriwayatkan oleh
seorang sahabat wanita terkemuka Ar-Rubayyi binti Muawwidz ra berkata :
Kami pernah bersama nabi SAW dalam peperangan, kami bertugas memberi minum para
prajurit, melayani mereka, mengobati yang terluka, dan mengantarkan yang terluka kembali ke
Madinah. Ummu Haram ra, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra , dimana ia berkata:
Nabi SAW bersabda : Sejumlah orang dari ummatku menawarkan dirinya sebagai pasukan
mujahid fi sabiliLLAH. Mereka mengarungi permukaan lautan bagaikan raja-raja di atas
singgasananya. Lalu tiba-tiba Ummu Haram ra berkata: Ya RasuluLLAH, doakan saya termasuk
diantara mereka itu. Lalu Nabi SAW mendoakannya

Sesungguhnya Maha Benar Allah yang dengan tegas bersabda dalam Al- Quran bahwa musuh-
musuh Islam akan selalu berupaya dengan berbagai cara agar kita mengikuti millah (sistem
hidup) mereka, hingga mereka ridha (QS Al-Baqarah: 120), dan mereka akan selalu memerangi
Islam dan segala yang berbau Islam, kalau dapat memurtadkan kita dari Islam (Al-Baqoroh 217
dan Alburuuj 8). Sungguh Maha Benar Allah.

Sesungguhnya fenomena muslimah hari ini (kebanyakan telah menyimpang jauh dari Allah dan
RasuINya), dan kehilangan jati dirinya sebagai muslimah adalah hasil dari rekayasa mereka yang
menghendaki ajaran Islam itu kabur, sulit difahami dan terkesan kolot (terbelakang) serta
menghambat kemajuan.

Untuk mendukung semua itu merekapun merekayasa, para cendekiawan muslim yang lemah
iman untuk mendukung program mereka dan menimbulkan keraguraguan ummat.

Para wanita yang dalam Islam sangat dihormati dan dimuliakan digugat. Aturan-aturan Islam
yang tinggi dan sempurna dituding sebagai biang keladi terbelakangnya para wanita Islam.
Musuh-musuh Allah yang lantang meneriakkan isu hak asasi, kebebasan, modernisasi, dan
persamaan inipun menyerang masalah poligami,hak menthalaq, hak warisan, masalah hijab,
dan sebagainya sebagai hal-hal yang melemahkan Islam. Islam dikatakan telah merendahkan
harkat dan martabat wanita, sedang Barat lah yang mengangkat dan memuliakannya.

Mari kita bandingkan dunia Islam dan dunia Barat, pada satu sisi mereka maju di bidang
duniawi yang pernah dimiliki kejayaan islam, tapi kita lihat hubungan hubungan sosial mereka
( hubungan antara masyarakat, suami dan istri orang tua dan anak dan lain sebaginya ) Islam
lebih gemilang dengan hal-hal itu.

Pada akhirnya kita sebagai wanita mulimah untuk selalu menyiapkan dan meningkatkan
kualitas keislaman kita, agar kita tidak terpengaruh dengan slogan- slogan barat yang akan
menghancurkan pilar-pilar Islam dan menyilaukan mata kita.
Selamat hari Kartini semoga wanita Indonesia bisa lebih meningkatkan khazanah keislamannya
dan menghasilkan karya-karya besar untuk kemajuan Indonesia dan Islam pada umumnya.

http://sayyidulayyaam.blogspot.com/2007/04/islam-dan-emansipasi.html

Selasa, 19 April 2011
Pandangan Islam tentang Emansipasi Wanita

Setiap tahun, tepatnya setiap bulan April bangsa Indonesia memperingati hari Kartini.
Perjuangan R.A. Kartini dalam mendobrak keterbelengguan wanita pribumi oleh penjajah
merupakan perjuangan yang spektakuler bagi wanita Indonesia pada saat itu. R.A. Kartini diakui
bangsa Indonesia sebagai tokoh emansipasi wanita yang berjuang secara moderat tanpa adu
kekuatan fisik, akan tetapi adu otak dan harga diri. Emansipasi wanita diartikan sebagai prospek
pelepasan diri wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah, serta pengekangan hukum
yang membatasi kemungkinan berkembang dan maju. Emansipasi wanita adalah perjuangan
kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri.
Istilah emansipasi wanita muncul, khususnya di dunia Barat. Mereka meneriakkan emansipasi
wanita sebagai hak asasi manusia, bahwa emansipasi wanita adalah menyamakan hak dengan
kaum pria. Sebetulnya adalah tidak semua hak wanita harus disamakan dengan pria. Allah swt
telah menciptakan kedua jenis (pria dan wanita) dengan latar belakang biologis yang sama.
Pendeknya, ada yang bisa dilakukan wanita tetapi tidak bisa dilakukan oleh pria, maupun
sebaliknya. Persamaan hak dilindungi di mata hukum, gaji yang setara dengan pria dengan
kedudukan dan kemampuan yang sama, merupakan contoh diperbolehkannya persamaan hak
dengan pria.
Islam sangat memuliakan wanita. Al-Quran dan Sunnah memberikan perhatian yang sangat
besar serta kedudukan yang terhormat kepada wanita. Allah swt mewahyukan surat An-Nisa
kepada Nabi Muhammad saw. Sebahagian besar ayat dalam surat ini membicarakan persoalan
yang berhubungan dengan kedudukan, peran, dan perlindungan hukum terhadap hak-hak
wanita. Kemudian dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal, An-Nasai, Ibnu
Majah, al-Hakim adalah Surga di bawah telapak kaki ibu. Dalam hadits lain yang diriwayatkan
oleh Ahmad bin Hambal Salah satu ciri laki-laki yang terhormat adalah yang paling dan
bersikap lembut terhadap istrinya.Masih banyak lagi ayat Al-Quran dan hadits yang
memaparkan serta membuktikan betapa Islam sangat memperhatikan dan menghargai wanita.
Kalau kita tengok kebelakang, dalam sejarah Islam banyak wanita-wanita yang bisa kita jadikan
suri tauladan yang sangat mulia untuk keberlangsungan emansipasi wanita seperti Aisyah binti
Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Juwairiah binti Harits bin Abu Dhirar, Khadijah binti Khuwailid,
Maimunah binti Harits, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Fatimah binti Muhammad, Ummi
Kultsum binti Muhammad, Zainab binti Muhammad, dan lain sebagainya. Mereka telah
mencontohkan emansipasi wanita, bukan saja hak yang mereka minta akan tetapi kewajiban
sebagai seorang wanita. Wanita yang baik adalah wanita yang menyelaraskan fungsi, hak, dan
kewajibannya sebagai seorang hamba Allah, sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu, sebagai
seorang warga masyarakat, maupun sebagai seorang daiyah.

Wallahualam bish showab.
http://cantiksdansholehah.blogspot.com/2011/04/pandangan-islam-tentang-emansipasi.html

Meninjau Ulang Emansipasi
Penulis: Redaksi Asy-Syariah
Masalah kewanitaan dalam Islam menjadi tema yang
tak habis-habisnya disoroti oleh aktivis perempuan dan kalangan feminis. Dari
soal kepemimpinan, diskriminasi peran, partisipasi yang rendah karena
posisinya yang dianggap subordinat, hingga poligami. Semuanya bermuara pada
sebuah gugatan bahwa wanita harus mempunyai hak yang sama alias sejajar
dengan pria. Seolah-olah dalam agama ini terjadi pembedaan (yang membabi
buta) antara pria dan wanita.
Adalah sebuah kenyataan, wanita berbeda dengan pria dalam banyak hal. Dari
perbedaan kondisi fisik, sisi emosional yang menonjol, sifat-sifat bawaan, dan
sebagainya. Makanya syariat pun memayungi perbedaan ini dengan adanya fiqh
yang khusus diperuntukkan bagi laki-laki dan fiqh yang dikhususkan bagi
perempuan.
Secara fisiologis, misalnya, wanita mengalami haid hingga berkonsekuensi
berbeda pada hukum-hukum yang dibebankan atasnya. Sementara dari kejiwaan,
pria umumnya lebih mengedepankan akalnya sehingga lebih bijak, sementara
wanita cenderung mengedepankan emosinya. Namun dengan emosi yang
menonjol itu, wanita patut menjadi ibu yang mana punya ikatan yang kuat dengan
anak. Sebaliknya, dengan kelebihannya, laki-laki pantas menjadi pemimpin
sekaligus menjadi tulang punggung dalam rumah tangganya.
Hal-hal di atas bersifat kodrati, bukan label sosial yang dilekatkan (sebagaimana sering
didalilkan kaum feminis). Semuanya itu merupakan tatanan terbaik yang diatur Sang Pencipta,
Allah l. Kelebihan dan kekurangan masing-masing akan saling melengkapi sehingga pria dan
wanita bisa bersenyawa sebagai suami istri. Namun tatanan ini nampaknya hendak dicabik-
cabik oleh para penjaja emansipasi yang mengemasnya sebagai kesetaraan jender, yang mana
hal itu telah diklaim sebagai simbol kemajuan di negara-negara Barat.
Para feminis dan aktivis perempuan itu seolah demikian percaya bahwa kemajuan terletak pada
segala hal yang berbau Barat. Akidah ini, sekaligus merupakan potret dari sebagian
masyarakat Islam sekarang. Di mana busana, kultur, sistem politik (demokrasi) hingga
makanan serba Barat telah demikian kokoh menjajah gaya hidup sebagian kaum muslimin.
Demikian juga emansipasi. Propagandanya telah memperkuat citra yang rendah terhadap ibu
rumah tangga -yang jamak ditekuni oleh sebagian besar muslimah-, bahwa berkutatnya wanita
dalam wilayah domestik dianggap keterbelakangan sebelum bisa menapaki karir.
Falsafah ini kian diperparah dengan paham yang mendewakan kecantikan fisik. Alhasil, ada
wanita yang tidak mau menyusui, hanya mau melahirkan lewat jalan operasi, dan sebagainya,
(konon) demi semata menjaga bentuk tubuh. Sedemikian rusaknya pandangan ini, hingga
anak pun dianggap sebagai penghambat kemajuan (karir).
Sejatinya, jika mau jujur, emansipasi tak lebih dari produk gagal dari industri peradaban
Barat. Hanya karena kemasan alias silau terhadap kemajuan (fisik) Barat kemudian lahirlah
pemahaman bahwa kemunduran negara-negara Islam disebabkan tidak mengikuti Barat,
seakan menjadi harga mati.
Padahal kalau kita menilik sejarah, bukan teknologi atau tatanan pergaulan ala Barat sekarang
yang membuat Islam jaya di masa silam. Apa arti teknologi jika tidak diimbangi keimanan. Yang
terjadi, teknologi justru kemudian digunakan untuk membunuh, mengeksploitasi alam,
menjajah negara lain apalagi hanya dengan dalih menangkap gembong teroris, memainkan
perannya sebagai polisi dunia, serta menjerat negara berkembang dengan hutang plus
(intervensi politik).
Negara Barat seakan tutup mata dengan keroposnya sendi-sendi masyarakat mereka karena
tingginya angka perceraian, meratanya seks bebas, meningkatnya homoseksualitas (karena
dilegalkan), kentalnya praktik rasial (terhadap warga non kulit putih), dan sebagainya.
Makanya jika kita masih saja berkaca dengan Barat, sudah saatnya kita meninjau ulang
emansipasi!

http://kaahil.wordpress.com/2010/04/21/kumpulan-artikel-tentang-emansipasi-wanita-menurut-islam-
bingkisan-untuk-mereka-yang-merayakan-hari-kartini-tanggal-21-april/