Anda di halaman 1dari 50

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kehamilan merupakan keadaan dimana kebutuhan ibu terhadap zat besi
meningkat dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan fetal, plasenta, dan
penambahan jumlah eritrosit selama kehamilan. Simpanan zat besi yang tidak
mencukupi sebelum kehamilan akibat asupan zat besi yang tidak adekuat dapat
mengakibatkan terjadinya anemia defisiensi zat besi dalam kehamilan.
Anemia adalah suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin,
hematokrit, dan atau jumlah eritrosit di bawah nilai normal. Peningkatan volume
plasma pada ibu hamil menyebabkan terjadinya hemodilusi, sehingga terjadi
penurunan hematokrit (20-30%), yang mengakibatkan kadar hemoglobin dan
hematokrit lebih rendah daripada keadaan tidak hamil (Muhammad Riswan, 2003;
Cunningham, 2006).
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator keberhasilan
layanan kesehatan di suatu negara. Kematian ibu dapat terjadi karena beberapa
sebab, diantaranya karena anemia. Penelitian Chi, dkk menunjukkan bahwa angka
kematian ibu adalah 70% untuk ibu-ibu yang anemia dan 19,7% untuk mereka
yang non anemia. Kematian ibu 15-20% secara langsung atau tidak langsung
berhubungan dengan anemia. Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan
meningkatnya kesakitan ibu. Anemia karena defisiensi zat besi merupakan
penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi
lain.
Badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) melaporkan
bahwa prevalensi ibu-ibu hamil yang mengalami defisiensi zat besi sekitar 35-
75%, serta semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia kehamilan.
Anemia defisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung di negara yang sedang
berkembang daripada negara yang sudah maju. Sebanyak 36% (atau sekitar 1400
juta orang) dari perkiraan populasi 3800 juta orang di negara yang sedang
2

berkembang menderita anemia jenis ini, sedangkan prevalensi di negara maju
hanya sekitar 8% (atau kira-kira 100 juta orang) dari perkiraan populasi 1200 juta
orang (Ridwan Amiruddin dan Ermawati Syam, 2004).
Prevalensi anemia defisiensi zat besi di dunia berkisar antara 20-50%.
Prevalensi anemia di Indonesia bervariasi setiap daerah yaitu antara 38-71,5% dan
rata-rata sekitar 63,5%. Prevalensi anemia ibu hamil tahun 2002 di Provinsi Jawa
Barat adalah 51,7% (Muhammad Riswan, 2003).
Kriteria anemia pada kehamilan menurut organisasi kesehatan dunia
(WHO) adalah Hb kurang dari 11 gr/dl. Sedikit berbeda dengan WHO, The
centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan kriteria anemia
adalah Hb kurang dari 11 gr/dl untuk trimester I dan III, serta Hb kurang dari 10,5
gr/dl untuk trimester II.
Anemia defisiensi zat besi dapat disebabkan oleh rendahnya masukan zat
besi, gangguan absorpsi, serta kehilangan zat besi akibat perdarahan menahun
yang dapat berasal dari saluran cerna (tukak peptik, kanker lambung, kanker
kolon, divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang), saluran genitalia
wanita (menorrhagia atau metrorrhagia), saluran kemih (hematuria), saluran
napas (hemoptoe). Faktor nutrisi yaitu akibat kurangnya jumlah zat besi total
dalam makanan, atau kualitas zat besi (bioavaibilitas) yang kurang baik.
Kebutuhan zat besi meningkat, seperti pada prematuritas, anak dalam masa
pertumbuhan dan kehamilan. Gangguan absorpsi zat besi seperti gastrektomi,
tropical sprue atau kolitis kronik (Fauzia Djamilus dan Nina Herlina, 2000;
Ridwan Amiruddin, 2004).
Anemia dalam kehamilan dapat mengakibatkan dampak yang
membahayakan bagi ibu dan janin. Pada ibu hal ini dapat meningkatkan risiko
terjadinya pendarahan postpartum. Bila terjadi sejak awal kehamilan dapat
menyebabkan terjadinya persalinan prematur, pertumbuhan janin terhambat yang
dapat mengakibatkan penyakit kardiovaskular pada saat dewasa, dan dapat
mempengaruhi vaskularisasi plasenta dengan mengganggu angiogenesis pada
kehamilan muda.
3

Faktor risiko anemia pada kehamilan menurut Backett dapat bersifat
biologis, genetik, lingkungan, atau psikososial, yaitu faktor demogafi (umur,
paritas, dan tinggi badan), faktor medis biologis (underlying disease, seperti
penyakit jantung dan malaria), faktor riwayat obstetri (abortus habitualis, berbagai
komplikasi obstetri), faktor lingkungan (polusi udara, kelangkaan air bersih,
penyakit endemis), faktor sosioekonomi dan budaya (pendidikan, penghasilan,
dan masalah gender) (Cunningham, 2006).
Melalui penelitian ini penulis berharap dapat mengetahui faktor-faktor
(pengetahuan, sikap, perilaku, nutrisi dan tenaga kesehatan) yang mempengaruhi
status anemia pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas kalijaga kota Cirebon.

1.2 Identifikasi Masalah
Apakah tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku asupan nutrisi dan tenaga
kesehatan mempengaruhi status anemia pada ibu hamil di wilayah kerja
puskesmas Kalijaga Permai kota Cirebon.

1.3 Maksud dan Tujuan
1.3.1 Maksud
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesadaran akan
pentingnya pencegahan anemia defisiensi besi pada ibu hamil di wilayah kerja
Puskesmas Kalijaga Permai kota Cirebon.

1.3.2 Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap,
dan perilaku ibu hamil serta pengaruh nutrisi dan tenaga kesehatan terhadap
anemia defisiensi besi pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kalijaga Permai
kota Cirebon.




4

1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah
Manfaat akademis karya tulis ilmiah ini adalah untuk lebih memahami dan
mendalami tentang faktor-faktor (pengetahuan, sikap, perilaku, nutrisi dan tenaga
kesehatan) yang mempengaruhi status anemia pada ibu hamil di wilayah kerja
puskesmas Kalijaga Permai kota Cirebon.
Manfaat bagi masyarakat adalah agar masyarakat dapat mengetahui
tentang bahaya anemia pada kehamilan dan mengetahui tentang pencegahan
anemia defisiensi besi pada ibu hamil.

1.5 Kerangka Pemikiran
Anemia pada wanita hamil merupakan masalah kesehatan yang dialami
oleh wanita di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Anemia adalah
suatu keadaan adanya penurunan kadar haemoglobin, hematokrit, dan atau jumlah
eritrosit di bawah nilai normal (Muhammad Riswan, 2003; Cunningham, 2006).
Penyebab anemia pada umumnya adalah kurang gizi (malnutrisi), kurang zat besi
dalam diet, malabsorbsi, kehilangan banyak darah (persalinan yang lalu, haid, dan
lain-lain) dan penyakit-penyakit kronik (TBC paru, cacing usus, malaria, dan lain-
lain).
Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang ringan
sampai berat. Anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan
persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, BBLR, dan angka
kematian perinatal meningkat (Nina Herlina dan Fauzia Djamilus, 2000).

1.6 Metodologi Penelitian
Metode penelitian : Deskriptif.
Rancangan penelitian : Cross sectional
Instrumen : Kuesioner.
Tehnik pengambilan data : Survey dengan wawancara langsung.
Tehnik pengambilan sampel : Incidental Sampling.
Populasi : Ibu hamil yang bermukim di wilayah kerja
puskesmas Kalijaga Permai kota Cirebon.
5

Jumlah sampel : Besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini
berjumlah 30 orang yang didasarkan pada jumlah
sampel minimal.


1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pengumpulan data dan penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas
Kalijaga Permai kota Cirebon mulai bulan Maret sampai Juli 2013 selama
program internship berlangsung.

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anemia
2.1.1 Pengertian Anemia
Anemia adalah kondisi di mana berkurangnya sel darah merah (eritrosit)
dalam sirkulasi darah atau masa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi
fungsinya sebagai pembawa oksigen ke seluruh jaringan (Tarwoto dan Warsidar,
2007).
Anemia umumnya disebabkan oleh kekurangan zat besi, sehingga sering
dikenal dengan istilah anemia gizi besi. Anemia defisiensi besi merupakan salah
satu gangguan yang sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya
mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang
dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan
menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai dibawah 11 gr/dl
selama trimester III (Waryana, 2010).
Proses kekurangan zat besi sampai menjadi anemia melalui beberapa
tahap. Awalnya terjadi penurunan simpanan cadangan zat besi. Bila belum juga
dipenuhi dengan masukan zat besi, lama kelamaan timbul gejala anemia disertai
penurunan Hb (Arief, 2008).

2.1.2 Etiologi Anemia
Menurut Tarwoto dan Warsidah (2007) etiologi anemia defisiensi besi
yaitu tidak adekuatnya diet besi dan salah satu penyebab terjadinya adalah akibat
ketidakseimbangan pola makan dalam mengkonsumsi makanan yang mengandung
zat besi dengan kebutuhan dalam tubuh. Kebutuhan zat besi yang berasal dari
makanan belum tentu menjamin kebutuhan tubuh zat besi yang memadai karena
jumlah zat besi yang diabsorpsi sangat dipengaruhi oleh jenis makanan, sumber
zat besi serta ada atau tidaknya zat penghambat maupun yang meningkatkan
absorpsi besi dalam tubuh.

7

2.1.3 Macam-Macam Anemia Selama Kehamilan
Pembagian anemia dalam kehamilan menurut Wiknjosastro (2007) anemia
dalam kehamilan meliputi:

1) Anemia defisiensi besi
Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat
kekurangan besi. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya
unsur besi dengan makanan, karena gangguan resorbsi, gangguan penggunaan,
atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada
perdarahan.

2) Anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam
folik, jarang sekali karena defisiensi vitamin B12. Berbeda di Eropa dan di
Amerika Serikat frekuensi anemia megaloblastik dalam kehamilan cukup
tinggi di Asia, seperti di India, Malaysia, dan di Indonesia. Hal itu erat
hubungannya dengan defisiensi makanan.

3) Anemia hipoplastik
Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang
mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam
kehamilan.

4) Anemia hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah
berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik
sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih
berat. Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis
hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia.


8

2.1.4 Penyebab Anemia
Secara umum ada tiga penyebab anemia defisiensi besi yaitu :
1) Kehilangan darah secara kronis, sebagai dampak pendarahan kronis
seperti pada penyakit ulkus peptikum, hemoroid, infestasi parasit, dan
proses keganasan. Perdarahan menstruasi yang berat, panjang atau
sering (Atikah, 2011).
2) Asupan zat besi tidak cukup dan penyerapan tidak adekuat. Tidak
menerima cukup zat besi dalam diet (misalnya vegetarian) (Atikah,
2011).
3) Peningkatan kebutuhan akan zat besi untuk pembentukan sel darah
merah yang lazim berlangsung pada masa pertumbuhan bayi, masa
pubertas, masa kehamilan, dan menyusui. (Atikah, 2011).

2.1.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Anemia Pada Ibu Hamil
Kekurangan zat besi dapat menurunkan kekebalan individu, sehingga
sangat peka terhadap serangan bibit penyakit. Berkembangnya anemia kurang zat
besi melalui beberapa tingkatan di mana masing-masing tingkatan berkaitan
dengan indikator tertentu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi anemia
adalah :
1) Faktor Dasar
a. Sosial ekonomi
Menurut Istiarti (2000) menyatakan bahwa perilaku seseorang di
bidang kesehatan dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi.
Sekitar 2/3 wanita hamil di negara maju yaitu hanya 14%.

b. Pengetahuan
Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang
berasal dari berbagai sumber misalnya media masa, media
elektronik, buku petunjuk kesehatan, media poster, kerabat dekat,
dan sebagainya (Istiarti, 2000). Kebutuhan ibu hamil akan zat besi
(Fe) meningkat 0,8mg sehari pada trimester I dan meningkat tajam
9

selama trimester III yaitu 6,3 mg sehari. Jumlah sebanyak itu tidak
mungkin tercukupi hanya melalui makanan apalagi didukung
dengan pengetahuan ibu hamil yang kurang terhadap peningkatan
kebutuhan zat besi (Fe) selama hamil sehingga menyebabkan
mudah terjadinya anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil
(Arisman, 2004).

c. Pendidikan
Pendidikan adalah proses perubahan perilaku menuju kedewasaan
dan penyempurnaan hidup. Biasanya seorang ibu khususnya ibu
hamil yang berpendidikan tinggi dapat menyeimbangkan pola
makannya. Apabila pola konsumsinya sesuai maka asupan zat gizi
yang diperoleh akan tercukupi, sehingga kemungkinan besar bisa
terhindar dari masalah anemia. Tablet besi dapat menimbulkan efek
samping yang mengganggu sehingga orang cenderung menolak
tablet yang diberikan. Penolakan tersebut sebenarnya berpangkal
dari ketidaktahuan mereka bahwa selama kehamilan mereka
memerlukan tambahan zat besi. Agar mengerti wanita hamil harus
diberi pendidikan yang tepat misalnya bahaya yang mungkin terjadi
akibat anemia, dan harus pula diyakinkan bahwa salah satu
penyebab anemia adalah defisiensi zat besi (Arisman, 2004).

d. Budaya
Faktor sosial budaya setempat juga berpengaruh pada terjadinya
anemia. Pendistribusian makanan dalam keluarga yang tidak
berdasarkan kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan
anggota keluarga, serta pantangan-pantangan yang harus diikuti
oleh kelompok khusus misalnya ibu hamil, bayi, ibu nifas
merupakan kebiasaan-kebiasaan adat-istiadat dan perilaku
masyarakat yang menghambat terciptanya pola hidup sehat di
masyarakat.
10

2) Faktor tidak langsung
a. Kunjungan Antenatal Care (ANC)
Antenatal Care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama
pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Kasus
anemia defisiensi gizi umumnya selalu disertai dengan malnutrisi
infestasi parasit, semua ini berpangkal pada keengganan ibu untuk
menjalani pengawasan antenatal. Dengan ANC keadaan anemia ibu
akan lebih dini terdeteksi, sebab pada tahap awal anemia pada ibu
hamil jarang sekali menimbulkan keluhan bermakna. Keluhan
timbul setelah anemia sudah ke tahap yang lanjut (Arisman, 2004).

b. Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang
mampu hidup diluar rahim. Paritas >3 merupakan faktor terjadinya
anemia. Hal ini disebabkan karena terlalu sering hamil dapat
menguras cadangan zat gizi tubuh ibu (Arisman, 2004).

c. Umur
Ibu hamil pada usia terlalu muda (<20 tahun) tidak atau belum siap
untuk memperhatikan lingkungan yang diperlukan untuk
pertumbuhan janin. Di samping itu akan terjadi kompetisi makanan
antar janin dan ibunya sendiri yang masih dalam pertumbuhan dan
adanya pertumbuhan hormonal yang terjadi selama kehamilan.
Sedangkan ibu hamil di atas 35 tahun lebih cenderung mengalami
anemia, hal ini disebabkan karena pengaruh turunnya cadangan zat
besi dalam tubuh akibat masa fertilisasi (Arisman, 2004).

d. Dukungan Suami
Dukungan suami adalah bentuk nyata dari kepedulian dan tanggung
jawab suami dalam kehamilan istri. Semakin tinggi dukungan yang
diberikan oleh suami pada ibu untuk mengkonsumsi tablet besi
11

semakin tinggi pula keinginan ibu hamil untuk mengkonsumsi
tablet besi.

3) Faktor Langsung
a. Pola konsumsi tablet besi (Fe)
Penyebab anemia defisiensi zat besi dikarenakan kurang masuknya
unsur zat besi dalam makanan, kebutuhan ibu hamil akan zat besi
meningkat untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah
sebesar 200-300%. Perkiraan jumlah zat besi yang perlu ditimbun
selama hamil ialah 1.040 mg. Dari jumlah ini, 200 mg Fe tertahan
oleh tubuh ketika melahirkan dan 840 mg sisanya hilang. Sebanyak
300 mg besi ditransfer ke janin, dengan rincian 50-75 mg untuk
pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah sel darah
merah, dan 200 mg lenyap ketika melahirkan. Jumlah sebanyak ini
tidak mungkin tercukupi hanya dengan melalui diit. Karena itu,
suplementasi zat besi perlu sekali diberlakukan, bahkan pada
wanita yang bergizi baik (Arisman, 2004). Survey Depkes terhadap
program kesehatan ibu (1994) menemukan baru sekitar 14% wanita
hamil memperoleh tablet besi sebanyak lebih kurang 90 tablet
(jumlah yang seharusnya didapat selama hamil, 90 tablet);
sementara 86% tidak sama sekali. Wanita hamil yang berusia <20
tahun atau >35 tahun, paritas tinggi, dan berpendidikan rendah,
umumnya tidak pernah mengenal tablet Fe selama hamil.
Konsumsi tablet Fe dikategorikan menjadi baik (konsumsi tablet Fe
lebih dari atau sama dengan 90 tablet) dan kurang (konsumsi tablet
Fe kurang dari 90 tablet (Arisman, 2004).

b. Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi seperti TBC, cacing usus, dan malaria juga
penyebab terjadinya anemia karena menyebabkan terjadinya
12

peningkatan penghancuran sel darah merah dan terganggunya
eritrosit.

c. Perdarahan
Penyebab anemia besi juga dikarenakan terlampau banyaknya besi
keluar dari badan misalnya perdarahan (Wiknjosastro, 2007).

2.1.6 Tanda dan Gejala Anemia Defisiensi Besi
Menurut Arisman (2010) tanda dan gejala anemia defisiensi besi biasanya
tidak khas dan sering tidak jelas seperti pucat, mudah lelah, berdebar, takikardia,
dan sesak nafas. Kepucatan dapat diperiksa pada telapak tangan, kuku, dan
konjungtiva.
Tanda dan gejala anemia pada kehamilan menurut Varney, H. (2007)
adalah :
1) Letih, sering mengantuk, malas
2) Pusing, lemah
3) Nyeri kepala
4) Luka pada lidah
5) Kulit pucat
6) Membran mukosa pucat (konjungtiva)
7) Bantalan kuku pucat
8) Tidak ada nafsu makan, mual, dan muntah

2.1.7 Klasifikasi Anemia menurut WHO
1) Tidak anemia : Hb > 11 g/dl
2) Anemia ringan : Hb 9- < 11 g/dl
3) Anemia sedang : Hb 7- < 9 g/dl
4) Anemia berat : Hb < 7 g/dl

Pemeriksaan darah minimal dilakukan dua kali selama kehamilan yaitu
pada trimester I dan III dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil
13

mengalami anemia maka dilakukan pemberian preparat Fe sebanyak 90 tablet
pada ibu-ibu hamil di puskesmas (Manuaba, 2010).

2.1.8 Pengaruh Anemia Pada Kehamilan dan Janin
Menurut Manuaba (2010) pengaruh anemia pada kehamilan dan janin
adalah:
1) Pengaruh anemia pada kehamilan
a. Bahaya selama kehamilan: dapat terjadi abortus, persalinan prematur,
hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi,
ancaman dekompensasi kordis (Hb <6 g%), mola hidatidosa, hiperemesis
gravidarum, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD).
b. Bahaya saat persalinan: gangguan his, kala pertama berlangsung lama, kala
dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan
tindakan operasi kebidanan, kala uri dapat diikuti retensio plasenta,
perdarahan pospartum karena atonia uteri, kala empat dapat terjadi
perdarahan pospartum sekunder dan atonia uteri.
c. Pada kala nifas: terjadi sub-involusi uteri menimbulkan perdarahan
pospartum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang,
terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan, anemia kala
nifas, mudah terjadi infeksi mammae.

2) Bahaya anemia terhadap janin, sekalipun tampaknya janin mampu menyerap
berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan anemia akan mengurangi
kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam rahim. Akibat anemia dapat terjadi gangguan dalam
bentuk: abortus, kematian intrauterin, persalinan prematuritas tinggi, berat
badan lahir rendah, kelahiran dengan anemia, dapat terjadi cacat bawaan, bayi
mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal, dan inteligensia rendah.



14

2.1.9 Cara Pencegahan Anemia
Menurut Arisman (2004) sejauh ini ada empat pendekatan dasar
pencegahan anemia defisiensi zat besi, keempat pendekatan tersebut adalah:
a) Memberikan tablet atau suntikan zat besi
b) Peningkatan asupan zat besi melalui makanan.
c) Pengawasan penyakit infeksi
d) Fortifikasi makanan pokok dengan zat besi

Sedangkan menurut Waryana (2010) cara pencegahan anemia yaitu:
1) Selalu menjaga kebersihan dan mengenakan alas kaki setiap hari
2) Istirahat yang cukup
3) Makan makanan yang bergizi dan banyak mengandung Fe, misalnya: daun
pepaya, kangkung, daging sapi, hati ayam dan susu.
4) Ibu hamil harus dengan rutin memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali
selama hamil untuk mendapatkan tablet besi (Fe) dan vitamin yang, serta
makan makanan yang bergizi 3 kali sehari, dengan porsi 2 kali lipat lebih
banyak.

2.1.10 Pengobatan Anemia Pada Kehamilan
Bagi penderita anemia karena kekurangan zat besi, sebaiknya
mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, seperti bayam, juga makanan
yang banyak mengandung vitamin C, seperti jeruk, tomat, mangga, dan
sebagainya sebab kandungan asam askorbat dan vitamin C bisa meningkatkan
penyerapan zat besi.
Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1
gr/dl/bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan
50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).
Bagi pasien yang tidak bisa mentolerir besi melalui mulut dapat
menerimanya melalui injeksi vena atau dengan suntikan ke dalam otot (Atikah,
2011). Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan
15

pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data-data dasar kesehatan
umum calon ibu tersebut.
Dalam pemeriksaan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium,
termasuk pemeriksaan feses sehingga diketahui adanya infeksi parasit (Manuaba,
2010).

2.2 Kehamilan
2.2.1 Definisi Kehamilan
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari
spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila
dihitung dari fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung
dalam waktu 40 minggu (Prawirohardjo, 2008).
Menurut Prawirohardjo (2008) kehamilan terbagi akan 3 trimester yaitu:
1) trimester pertama berlangsung dalam 12 minggu (minggu ke-1 hingga ke-12).
2) trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27).
3) dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40).
Ketika seorang wanita dikatakan hamil, perubahan fisiologi tubuh turut
berubah sehingga kebutuhan gizinya juga berubah (Waryana, 2010), seorang
wanita memerlukan asupan gizi lebih banyak. Kekurangan gizi selama kehamilan
bisa menyebabkan anemia (Waryana, 2010).

2.2.2 Kebutuhan Zat Besi Pada Ibu Hamil
Kebutuhan akan zat besi selama trimester I relatif sedikit yaitu 0,8 mg
sehari yang kemudian meningkat tajam selama trimester II dan III yaitu 6,3 mg
sehari (Arisman, 2010). Khusus masa kehamilan, terutama trimester III,
merupakan masa kritis dimana kebutuhan akan zat besi meningkat. Jika zat besi
dalam darah kurang maka kadar hemoglobin akan menurun yang mengakibatkan
gangguan pertumbuhan janin. Beberapa penelitian menyatakan bahwa kadar Hb
ibu hamil trimester akhir dan tingginya angka anemia pada trimester III dapat
mempengaruhi berat badan lahir.
16

Pada masa tersebut kebutuhan zat besi tidak dapat diandalkan dari menu
harian saja. Walaupun menu hariannya mengandung zat besi yang cukup, ibu
hamil tetap perlu tambahan tablet besi atau vitamin yang mengandung zat besi.
Zat besi bukan hanya penting untuk memelihara kehamilan. Ibu hamil yang
kekurangan zat besi dapat menimbulkan perdarahan setelah melahirkan, bahkan
infeksi, kematian janin intra uteri, cacat bawaan dan abortus.
Bumil yang anemia akan melahirkan bayi yang anemia pula, yang dapat
menimbulkan disfungsi pada otaknya dan gangguan proses tumbuh kembang otak.
Selanjutnya, maka bumil dianjurkan mengkonsumsi zat besi sebanyak 60-100
mg/hari (Waryana, 2010).

2.3 Tablet Fe
2.3.1 Pengertian Tablet Fe
Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat di dalam
tubuh manusia dan hewan, yaitu sebanyak 3-5 gram didalam tubuh manusia
dewasa. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial didalam tubuh sebagai alat
angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagai alat angkut elektron
didalam sel, dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim didalam jaringan
tubuh (Almatzier, 2003).

2.3.2 Fungsi Zat Besi
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi
menstruasi dengan perdarahan seanyak 50-80 cc setiap bulan dan kehilangan zat
besi sebesar 30 sampai 40 mg. Disamping itu, kehamilan memerlukan tambahan
zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah
merah janin dan plasenta (Manuaba, 2010).
Menurut Almatsier (2002) fungsi dari zat besi adalah:
1) Sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan
2) Sebagai alat angkut elektron pada metabolisme energi
3) Sebagai enzim pembentuk kekebalan tubuh dan sebagai pelarut obat-obatan

17

2.3.3 Sumber Makanan Yang Mengandung Zat Besi
Makanan yang banyak mengandung zat besi adalah daging hewan. Di
samping banyak mengandung zat besi, serapan zat besi dari sumber makanan
tersebut sebesar 20-30%. Sayangnya sebagian besar penduduk di negara yang
sedang berkembang tidak mampu menghadirkan bahan makanan tersebut di meja
makan. Ditambah dengan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat
mengganggu penyerapan zat besi (kopi dan teh) secara bersaman pada waktu
makan menyebabkan serapan zat besi semakin rendah (Arisman, 2010). Sumber
zat besi diantaranya makanan hewani, seperti daging, ayam, dan ikan. Sumber
lainnya adalah telur, sereal, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan beberapa jenis
buah (Almatsier, 2003).
Menurut Almatsier (2003) kandungan besi beberapa bahan makanan dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.1 Nilai besi berbagai bahan makanan (mg/100 gram)











Menurut Waryana (2010) faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi Fe
yaitu:
1) Bentuk Fe
Besi-hem yang merupakan bagian dari hemoglobin dan mioglobin yang
terdapat dalam daging hewan dapat diserap dua kali lipat daripada besi-nonhem
yang berasal dari makanan nabati.
18

2) Asam organik
Vitamin C dan asam sitrat sangat membantu penyerapan besi-nonhem dengan
merubah bentuk feri menjadi fero.
3) Asam fitat, asam oksalat dan tanin
Ketiga jenis zat tersebut dapat mengikat Fe sehingga menghambat
penyerapannya. Namun pengaruh negatif ini dapat dikurangi dengan
mengkonsumsi vitamin C.
4) Tingkat keasaman lambung
Keasaman lambung dapat meningkatkan daya larut besi.
5) Kebutuhan tubuh
Jika tubuh kekurangan Fe atau kebutuhan meningkat maka penyerapannya juga
akan meningkat. Maka ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi zat besi sebanyak
60-100mg/hari (Nestle).

2.3.4 Konsumsi Tablet Fe
Pada trimester II dan III, faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya
anemia kehamilan adalah konsumsi tablet zat besi dan kadar hemoglobin pada
trimester sebelumnya. Konsumsi tablet besi sangat berpengaruh terhadap kejadian
anemia khususnya pada trimester II, trimester III dan masa nifas. Hal ini
disebabkan kebutuhan zat besi pada masa ini lebih besar dibanding trimester I dan
memungkinkan pentingnya tablet besi untuk mencegah terjadinya anemia pada
kehamilan dan nifas (Notobroto, 2003).

2.3.5 Kepatuhan Ibu Hamil Meminum Tablet Fe
Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh yang berati taat. Kepatuhan adalah
tingkat pasien melakukan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan dokter
atau oleh orang lain (Arisman, 2004 ). Ketidakpatuhan ibu hamil meminum tablet
zat besi dapat mencerminkan seberapa besar peluang untuk terkena anemia.
Pemberian informasi tentang anemia akan menambah pengetahuan mereka
tentang anemia karena pengetahuan memegang peranan yang sangat penting
sehingga ibu hamil patuh meminum zat besi (Arisman, 2004).
19


2.3.6 Kebutuhan Zat Besi Selama Hamil
Kebutuhan akan zat-zat selama kehamilan yang meningkat, ditujukan
untuk memasok kebutuhan janin dalam pertumbuhan (pertumbuhan janin
memerlukan banyak sekali zat besi), pertumbuhan plasenta, dan peningkatan
volume darah ibu, jumlahnya enzim 1000 mg selama hamil. Kebutuhan zat besi
selama trimester I relatif sedikit, yaitu 0,8 mg sehari, yang kemudian meningkat
tajam selama trimester II dan III, yaitu sekitar 6,3 mg sehari. Untuk memenuhi
kebutuhan zat besi ini dapat diambil dari cadangan zat besi serta peningkatan
adaptif dalam jumlah presentase zat besi yang terserap melalui saluran cerna.
Namun jika cadangan zat besi sangat sedikit atau tidak ada sama sekali sedangkan
kandungan dan serapan zat besi dalam dan dari makanan sedikit, maka pemberian
suplemen sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan zat besi ibu hamil
(Arisman, 2004).
Pemberian zat besi dimulai setelah rasa mual dan muntah hilang, satu
tablet sehari selama minimal 90 hari. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg (zat
besi 60 mg dan asam folat 500 mg) (Salmah,et al, 2006).

2.3.7 Efek Samping Terapi Tablet Fe Pada Ibu Hamil
Konsumsi suplemen oral zat besi dapat menyebabkan mual, muntah, kram
lambung, nyeri ulu hati, dan konstipasi (kadang-kadang diare). Namun derajat
mual yang ditimbulkan oleh setiap preparat tergantung pada jumlah elemen zat
besi yang diserap. Takaran zat besi diatas 60 mg dapat menimbulkan efek
samping yang tidak dapat diterima pada ibu hamil sehingga terjadi ketidakpatuhan
dalam pemakaian obat jadi tablet zat besi dengan dosis rendah lebih cenderung
diminum daripada dosis tinggi. Bagi banyak wanita dosis rendah sudah memadai
(Soejordan, 2003).


20

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Kerangka Teori
Pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, nilai, dan sebagainya akan
melatarbelakangi/mempengaruhi tindakan/perilaku seseorang. Perilaku
mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap derajat kesehatan mayarakat.
Sikap merupakan reaksi atau respons terhadap seseorang yang masih tertutup
terhadap suatu stimulus atau obyek. Apabila penerimaan perilaku baru atau
adopsi perilaku melalui proses yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan
sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting).
Pengetahuan adalah dasar bagi terjadinya perubahan perilaku, termasuk
perilaku kesehatan. Sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan
dan pengetahuan seseorang. Sebaliknya, sikap mempengaruhi timbulnya suatu
perubahan perilaku, termasuk perilaku kesehatan. Demikian pula tenaga kesehatan
dan asupan nutrisi turut berperan serta dalam mempengaruhi angka kejadian
anemia pada ibu hamil.
Maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan, sikap, perilaku, asupan
nutrisi dan tenaga kesehatan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap status
anemia pada ibu hamil di wilayah kerja puskemas Kalijaga Permai. Berdasarkan
teori tersebut di atas maka peneliti mengadopsinya dalam membuat kerangka
konsep penelitian sebagai berikut.









Anemia pada ibu hamil
Asupan nutrisi
Sikap
Tenaga kesehatan
Perilaku
Pengetahuan
21

3.2 DEFINISI OPERASIONAL
3.2.1 Nama ibu dan suami
Adalah panggilan yang digunakan responden dalam bermasyarakat.

3.2.2 Usia Ibu dan Suami
Adalah ulang tahun terakhir ibu/suami pada bulan dan tahun
dilaksanakannya penelitian, dalam hal ini responden dikelompokkan berdasarkan
patokan usia ibu paling muda dan paling tua, yaitu:
a. 15-19 tahun
b. 20-35 tahun
c. 36-45 tahun

3.2.3 Pendidikan Ibu dan Suami
Adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang pernah diikuti ibu/suami.
a. tidak sekolah
b. SD
c. SMP
d.SMA
e. S1

3.2.4. Pekerjaan Ibu dan Suami
Adalah pekerjaan utama yang dilakukan ibu/suami sehari-hari untuk
mendapatkan penghasilan. Dalam hal ini responden dikelompokan berdasarkan:
a. Tidak bekerja (IRT)
b. Petani
c. Buruh
d. Wiraswasta
e. Pegawai negeri
f. Pegawai swasta
22

3.2.5 Penghasilan Per Kapita
Adalah penghasilan per kapita keluarga per bulan. Dalam penelitian ini
diambil patokan Rp 600.000,-/bulan yaitu standar kecukupan masyarakat
Kabupaten Cirebon dalam memenuhi kebutuhan pokoknya per kapita per bulan:
a) 100 ribu-300 ribu : sangat rendah
b) 300 ribu-500 ribu : rendah
c) 500 ribu-1 juta : menengah
d) 1 juta : tinggi
3.2.6 Pengetahuan
Adalah pengetahuan responden yang tinggal di wilayah kerja puskesmas
Kalijaga Permai yang dinilai melalui penilaian jawaban responden atas
pertanyaan-pertanyaan kategori pengetahuan dalam kuesioner.
Cara ukur : survei
Alat ukur : kuesioner
Skala : nominal

3.2.7 Sikap
Adalah sikap responden yang tinggal di wilayah kerja puskesmas Kalijaga
Permai, yang dinilai melalui penilaian jawaban responden atas pertanyaan-
pertanyaan kategori sikap dalam kuesioner.
Cara ukur : survei
Alat ukur : kuesioner
Skala : nominal

3.2.8 Perilaku
Adalah perilaku responden yang wilayah kerja puskesmas Kalijaga
Permai, yang dinilai melalui penilaian jawaban responden atas pertanyaan-
pertanyaan kategori perilaku dalam kuesioner.
Cara ukur : survei
Alat ukur : kuesioner
Skala : nominal
23


3.2.9 Asupan Nutrisi
Adalah asupan nutrisi, yaitu makanan, minuman dan suplemen yang
dikonsumsi ibu hamil selama masa kehamilannya, yang dinilai melalui penilaian
jawaban responden atas pertanyaan-pertanyaan kategori sikap dalam kuesioner.
Cara ukur : survei
Alat ukur : kuesioner
Skala : nominal

3.2.10 Tenaga kesehatan
Adalah peran serta/kegiatan yang telah dilakukan tenaga kesehatan untuk
mengurangi jumlah anemia pada ibu hamil.
Cara ukur : survei
Alat ukur : kuesioner
Skala : nominal

3.3.Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif, yaitu rancangan
studi epidemiologi yang mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan dalam
masyarakat.

3.4. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross
sectional, yaitu rancangan studi epidemiologi yang mengambil sampel dari satu
populasi di wilayah tertentu pada waktu tertentu dan menggunakan kuesioner
sebagai alat pengumpul data.

3.5. Instrumen Penelitian
Instrumen pokok penelitian ini, dengan menggunakan kuesioner. Jumlah
pertanyaan dalam kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini seluruhnya
adalah 40 buah yang dibagi menjadi empat kategori yaitu:
24

1. Pengetahuan, terdiri dari 8 pertanyaan.
2. Sikap, terdiri dari 8 pertanyaan.
3. Perilaku, terdiri dari 8 pertanyaan.
4. Asupan nutrisi, terdiri dari 8 pertanyaan.
5. Tenaga kesehatan, terdiri dari 8 pertanyaan.

3.6. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di laboratorium puskesmas Kalijaga Permai mulai 13
maret 2013 11 juli 2013 selama berlangsungnya program internship.

3.7. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah ibu hamil yang tinggal di wilayah kerja
Puskesmas Kalijaga Permai.
Sampel dari penelitian ini yaitu ibu hamil yang mengalami anemia (Hb
<11 g/dl) yang tinggal di wilayah kerja puskesmas Kalijaga Permai, dengan
jumlah sampel minimal sebanyak 30 orang.

3.8 Kriteria Pemilihan Subjek
Kriteria pemilihan subjek terdiri dari kriteria inklusi dan eksklusi.
Tujuannya adalah agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya.
Kriteria inklusi adalah kriteria yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi
yang dapat diambil sebagai sampel. Sedangkan kriteria eksklusi adalah ciri-ciri
anggota populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel (Notoadmodjo, 2010).

3.8.1 Kriteria Inklusi
Ibu hamil dengan umur kehamilan 1-9 bulan dan tinggal di dalam
wilayah kerja puskesmas Kalijaga Permai.
Ibu hamil dengan umur kehamilan 1-9 bulan yang sudah pernah
memeriksakan Hb minimal 1 kali pada trimester 1 dan atau 3 dengan
kadar Hb dibawah 11 g/dl.

25

3.8.2 Kriteria Eksklusi
Ibu hamil yang tinggal di luar wilayah kerja puskesmas Kalijaga
Permai.
Tidak kooperatif.
kadar Hb > 11 g/dl
Belum pernah memeriksakan Hb saat kehamilan.

3.9 Sumber Data
1. Data Primer
Data Primer didapatkan dari hasil wawancara langsung secara terpimpin
yang dilakukan oleh penulis terhadap responden saat responden datang ke
puskesmas untuk memeriksakan kadar Hb. Pertanyaan-pertanyaan
diajukan secara lisan dengan berpedoman pada kuesioner yang telah
dipersiapkan sebelumnya.

2. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari pihak lain, serta publikasi ilmiah, majalah, jurnal,
dan sebagainya. Pada mini project ini data sekunder didapatkan dari
Library Search (Studi Kepustakaan), yaitu penelitian secara teoritis guna
mendapat teori yang diperlukan sebagai landasan bagi penyusunan mini
project ini.

3.10 Pengolahan Data
1. Pengetahuan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden dinilai melalui
penilaian jawaban responden atas pertanyaan-pertanyaan yang
berhubungan dengan pengetahuan dalam kuesioner yang berjumlah 8
pertanyaan yang diberi nilai tertentu. Nilai tertinggi dari masing-masing
pertanyaan adalah 10, sedangkan nilai terendah adalah 0. Total nilai adalah
80. Setelah nilai dari tiap soal dijumlahkan maka responden kemudian
dikelompokkan menjadi 3 kategori tingkat pengetahuan, yaitu:
26

Tabel 3.1. Kategori Pengetahuan
Kategori Pengetahuan Nilai
Kurang < 30
Cukup 31 60
Baik > 60

2. Sikap
Untuk mengetahui tingkat sikap responden dinilai melalui penilaian
jawaban responden atas pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan
sikap dalam kuesioner yang berjumlah 8 pertanyaan yang diberi nilai
tertentu. Nilai tertinggi dari masing-masing pertanyaan adalah 10,
sedangkan nilai terendah adalah 0. Total nilai adalah 80. Setelah nilai dari
tiap-tiap soal dijumlahkan maka responden kemudian dikelompokkan di
dalam 3 kategori, yaitu:

Tabel 3.2. Kategori Sikap
Kategori Sikap Nilai
Kurang < 30
Cukup 31 60
Baik > 60

3. Perilaku
Untuk mengetahui tingkat perilaku responden dinilai melalui penilaian
jawaban responden atas pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan
perilaku dalam kuesioner yang berjumlah 8 pertanyaan yang diberi nilai
tertentu. Nilai tertinggi dari masing-masing pertanyaan adalah 10,
sedangkan nilai terendah adalah 0. Total nilai adalah 80. Setelah nilai dari
tiap-tiap soal dijumlahkan maka responden kemudian dikelompokkan di
dalam 3 kategori, yaitu:


27

Tabel 3.3. Kategori Perilaku
Kategori Perilaku Nilai
Kurang < 30
Cukup 31 - 60
Baik > 60

4. Asupan Nutrisi
Untuk mengetahui tingkat asupan nutrisi responden dinilai melalui
penilaian jawaban responden atas pertanyaan-pertanyaan yang
berhubungan dengan asupan nutrisi dalam kuesioner yang berjumlah 8
pertanyaan yang diberi nilai tertentu. Nilai tertinggi dari masing-masing
pertanyaan adalah 10, sedangkan nilai terendah adalah 0. Total nilai adalah
80. Setelah nilai dari tiap-tiap soal dijumlahkan maka responden kemudian
dikelompokkan di dalam 3 kategori, yaitu:

Tabel 3.4. Kategori Asupan Nutrisi
Kategori Asupan Nutrisi Nilai
Kurang < 30
Cukup 31 - 60
Baik > 60

5. Tenaga Kesehatan
Untuk mengetahui peranan tenaga kesehatan dalam mengurangi angka
anemia pada ibu hamil dinilai melalui penilaian jawaban responden atas
pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan peranan tenaga
kesehatan dalam mengurangi angka anemia pada ibu hamil dalam
kuesioner yang berjumlah 8 pertanyaan yang diberi nilai tertentu. Nilai
tertinggi dari masing-masing pertanyaan adalah 10, sedangkan nilai
terendah adalah 0. Total nilai adalah 80. Setelah nilai dari tiap-tiap soal
dijumlahkan maka responden kemudian dikelompokkan di dalam 3
kategori, yaitu:
28

Tabel 3.5. Kategori Perilaku
Kategori Perilaku Nilai
Kurang < 30
Cukup 31 - 60
Baik > 60


3.11 Penyajian Data
Hasil perolehan dan pengolahan data disajikan dalam bentuk tabel disertai
dengan pembahasannya.





29

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Lokasi penelitian ini adalah wilayah kerja puskesmas Kalijaga Permai
yang secara administratif terletak di kelurahan Kalijaga, kecamatan Harjamukti.
Secara geografis luas wilayah kerja puskesmas ini adalah 425,75 km
2
.Wilayah
kerja puskesmas Kalijaga mencakup 15 RW dan 111 RT yaitu:

Tabel 4.1.1 wilayah kerja puskesmas kalijaga
RW Jumlah RT Jarak dari puskesmas
RW 01 10 2 km
RW 02 7 1,5 km
RW 03 6 2 km
RW 04 4 2,5 km
RW 05 4 3 km
RW 06 5 3,5 km
RW 07 6 3,5 km
RW 08 5 4 km
RW 09 7 1,5 km
RW 10 6 2,5 km
RW 11 9 0,5 km
RW 12 6 0,1 km
RW 13 15 1,5 km
RW 14 10 1,5 km
RW 15 9 2 km

Puskesmas Kalijaga Permai ini membawahi penduduk yang berjumlah
26.262 jiwa, dengan mata pencaharian sebagian besar adalah pegawai swasta.
Batas-batas wilayah kerja puskesmas Harjamukti:
o Batas Utara: Kelurahan Kecapi
o Batas Selatan : Kelurahan Argasurya
o Batas Bara: Kabupaten Cirebon
o Batas Timur: Kelurahan Harjamukti

30

Puskesmas Kalijaga Permai memiliki 1 puskesmas pembantu yaitu PUSTU
Kebon Pelok yang terletak di RW 02, serta 24 posyandu yang tersebar di wilayah
kerja.

4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Identitas Responden
Berikut ini disajikan tabel-tabel yang memuat distribusi jawaban
responden atas pertanyaan-pertanyaan kategori identitas dalam kuosioner.

Tabel 4.2.1.1 Umur Ibu

Tabel 4.2.1.2 Umur Ayah

Tabel 4.2.1.3 Pendidikan Ibu
Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)
Tidak bersekolah 0 0
SD 11 36,7
SMP 9 30
SMA 6 20
Sarjana 4 13,3
Total 30 100



Kelompok umur
(tahun)
Jumlah Persentase (%)
15-19 tahun 4 13,3
20-35 tahun 21 70
36-45 tahun 5 16,7
Total 30 100
Kelompok umur
(tahun)
Jumlah Persentase (%)
15-19 tahun 0 0
20-35 tahun 16 53,3
36-45 tahun 14 46,7
Total 30 100
31

Tabel 4.2.1.4 Pendidikan Ayah
Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)
Tidak bersekolah 0 0
SD 7 23,3
SMP 11 36,7
SMA 9 30
Sarjana 3 10
Total 30 100

Tabel 4.2.1.5 Pekerjaan ibu
Pekerjaan Jumlah Persentase (%)
Tidak bekerja 27 90
Petani 0 0
Buruh 0 0
Wiraswasta 2 3,3
Pegawai Negeri 0 0
Pegawai swasta 1 6,7
Total 30 100

Tabel 4.2.1.6 Pekerjaan Ayah
Pekerjaan Jumlah Persentase (%)
Tidak bekerja 0 0
Petani 0 0
Buruh 15 50
Wraswasta 9 30
Pegawai Negeri 1 3,3
Pegawai swasta 5 16,7
Total 30 100

Tabel 4.2.1.7 Tingkat Penghasilan
Tingkat Penghasilan Jumlah Persentase (%)
100-300 ribu 7 23,3
300-500 ribu 4 13,3
500-1 juta 13 43,4
>1 juta 6 20
Total 30 100

4.2.2 Pengetahuan Responden
Berikut ini disajikan tabel-tabel yang memuat distribusi jawaban
responden atas pertanyaan-pertanyaan kategori pengetahuan dalam kuosioner.
32

Tabel 4.2.2.1 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Definisi Tablet Zat
Besi
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Tablet tambah darah yang berwarna merah 24 80
Tablet untuk kekebalan tubuh 5 16,7
Tablet penambah nafsu makan 0 0
Tablet untuk menjaga stamina tubuh 1 3,3
Tablet yang menyebabkan mual dan muntah 0 0
Total 30 100

Tabel 4.2.2.2 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Berapa Kali Periksa
Hb Selama Kehamilan
Jawaban Jumlah Persentase (%)
1 15 50
2 8 26,7
3 6 20
4 1 3,3
5 0 0
Total 30 100

Tabel 4.2.2.3 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Kapan Harus
Memeriksakan Hb
Jawaban Jumlah Persentase (%)
3 bulan pertama 11 36,7
3 bulan kedua 3 10
3 bulan terakhir 5 16,7
3 bulan pertama dan 3 bulan terakhir 9 30
Setiap bulan 2 6,6
Total 30 100

33

Tabel 4.2.2.4 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Gejala Anemia Pada
Ibu Hamil
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Lemah, letih, lesu, lunglai, lelah (5L) 25 83,4
Mual dan muntah 0 0
Ngidam 0 0
Susah tidur 4 13,3
Tidak ada gejala yang dirasakan 1 3,3
Total 30 100

Tabel 4.2.2.5 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Akibat Anemia Pada
Ibu Hamil
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Kematian janin 22 73,4
Berat badan bayi sesuai (normal) 6 20
Usia kehamilan cukup bulan 0 0
Melahirkan secara normal 1 3,3
Tidak bisa punya anak lagi 1 3,3
Total 30 100

Tabel 4.2.2.6 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Cara Mencegah
Terjadinya Anemia
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Memeriksakan tekanan darah secara rutin 6 20
Mengonsumsi tablet Fe dan makan makanan
mengandung zat besi
23 76,7
Melakukan vaksinasi TT selama kehamilan 0 0
Banyak olahraga 0 0
Sering minum kopi dan teh 1 3,3
Total 30 100

34

Tabel 4.2.2.7 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Dosis Tablet Zat Besi
Yg Dibutuhkan Supaya Terhindar Dari Anemia
Jawaban Jumlah Persentase (%)
1 tablet sehari berturut-turut selama
minimal 90 hari
25 83,3
2 tablet sehari 5 16,7
3 tablet sehari 0 0
4 tablet sehari 0 0
Jika ingat 0 0
Total 30 100

Tabel 4.2.2.8 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Waktu Pemberian
Tablet Zat Besi
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Trimester I 18 60
Trimester II 4 13,4
Trimester III 6 20
Trimester IV 1 3,3
Jika tidak mengalami gejala anemia
tidak perlu tablet zat besi
1 3,3
Total 30 100

Tabel 4.2.2.9 Distribusi Pengetahuan Responden
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Baik 8 26,7
Cukup 16 53,3
Kurang 6 20
Total 30 100

Setelah dilakukan perhitungan jumlah nilai masing-masing responden,
didapatkan lebih banyak responden yang termasuk dalam kategori pengetahuan
35

cukup yaitu sebanyak 16 responden (53,3%), 8 responden (26,7%) dengan
pengetahuan yang baik, dan yang termasuk dalam kategori pengetahuan kurang
sebanyak 6 responden (20%).
Sebagian besar dari ibu hamil di wilayah kerja puskesmas kalijaga permai
kota cirebon mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai faktor faktor yang
mempengaruhi status anemia pada ibu hamil.

4.2.3 Sikap Responden
Berikut ini disajikan tabel-tabel yang memuat distribusi jawaban
responden atas pertanyaan-pertanyaan kategori sikap dalam kuosioner.

Tabel 4.2.3.1 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Setiap ibu hamil
harus mengkonsumsi tablet zat besi pada masa kehamilan.
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Setuju 30 100
Tidak setuju 0 0
Total 30 100

Tabel 4.2.3.2 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Konsumsi tablet zat
besi dapat memperbaiki pembentukan Hb dalam tubuh dalam waktu relatif
cepat
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Setuju 29 96,7
Tidak setuju 1 33,3
Total 30 100

Tabel 4.2.3.3 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Ibu hamil sebaiknya
minum tablet zat besi dengan dosis 1 tablet setiap hari
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Setuju 25 83,3
Tidak setuju 5 16,7
36

Total 30 100

Tabel 4.2.3.4 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Efek samping yang
dirasakan ibu hamil pada saat mengkonsumsi tablet besi dapat diatasi
dengan menghentikan mengkonsumsi tablet tersebut untuk selanjutnya
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Setuju 15 50
Tidak setuju 15 50
Total 30 100

Tabel 4.2.3.5 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Ibu hamil dianjurkan
untuk meminum tablet zat besi bersamaan dengan kopi/teh untuk
mengurangi mual akibat efek samping yang ditimbulkan tablet tersebut
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Setuju 7 23,3
Tidak setuju 23 76,7
Total 30 100

Tabel 4.2.3.6 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Kebutuhan zat besi
pada wanita hamil lebih sedikit dibandingkan dengan wanita yang tidak
hamil
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Setuju 11 36,7
Tidak setuju 19 63,3
Total 30 100

Tabel 4.2.3.7 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Ibu hamil yang
mengkonsumsi tablet besi secara teratur sangat besar efeknya bagi
pertumbuhan janinnya
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Setuju 26 86,7
37

Tidak setuju 4 13,3
Total 30 100

Tabel 4.2.3.8 Distribusi Jawaban Responden Mengenai Sayur-sayuran dan
buah-buahan dapat menggantikan tablet zat besi
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Setuju 15 50
Tidak setuju 15 50
Total 30 100

Tabel 4.2.3.9 Distribusi sikap responden
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Baik 14 46,7
Cukup 13 43,3
Kurang 3 10
Total 30 100

Setelah dilakukan perhitungan jumlah nilai masing-masing responden,
didapatkan lebih banyak responden yang termasuk dalam kategori sikap baik yaitu
sebanyak 14 responden (46,7%), 13 responden (43,3%) dengan sikap yang cukup,
dan yang termasuk dalam kategori sikap kurang sebanyak 3 responden (10%).
Sebagian besar dari ibu hamil di wilayah kerja puskesmas kalijaga permai
kota cirebon mempunyai sikap yang baik mengenai faktor faktor yang
mempengaruhi status anemia pada ibu hamil.

4.2.4 Perilaku Responden
Berikut ini disajikan tabel-tabel yang memuat distribusi jawaban
responden atas pertanyaan-pertanyaan kategori perilaku dalam kuosioner.


38

Tabel 4.2.4.1 Distribusi Jawaban Responden Mengenai periksa kandungan
sesuai jadwal
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 25 83,3
Tidak 5 16,7
Total 30 100

Tabel 4.2.4.2 Distribusi Jawaban Responden Mengenai pernah
memeriksakan Hb selama kehamilan
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 30 100
Tidak 0 0
Total 30 100

Tabel 4.2.4.3 Distribusi Jawaban Responden Mengenai memeriksa Hb 2x
saat hamil
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 13 43,3
Tidak 17 56,7
Total 30 100

Tabel 4.2.4.4 Distribusi Jawaban Responden Mengenai konsumsi suplemen
zat besi secara rutin
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 20 66,7
Tidak 10 33,3
Total 30 100

Tabel 4.2.4.5 Distribusi Jawaban Responden Mengenai tidur siang minimal 1
jam dan tidur malam minimal 8 jam selama kehamilan
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 17 56,7
39

Tidak 13 43,3
Total 30 100

Tabel 4.2.4.6 Distribusi Jawaban Responden Mengenai penghentian
konsumsi teh dan kopi selama mengkonsumsi tablet zat besi
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 12 40
Tidak 18 60
Total 30 100

Tabel 4.2.4.7 Distribusi Jawaban Responden Mengenai bekerja terlalu keras
saat hamil
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 8 26,7
Tidak 22 73,3
Total 30 100

Tabel 4.2.4.8 Distribusi Jawaban Responden Mengenai pernah konsultasi
mengenai kehamilan pada tenaga kesehatan
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 26 86,7
Tidak 4 13,3
Total 30 100

Tabel 4.2.4.9 Distribusi Perilaku Responden
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Baik 11 36,7
Cukup 14 46,7
Kurang 5 16,6
Total 30 100

40

Setelah dilakukan perhitungan jumlah nilai masing-masing responden,
didapatkan lebih banyak responden yang termasuk dalam kategori perilaku cukup
yaitu sebanyak 14 responden (46,7%), 11 responden (36,7%) dengan perilaku
yang baik, dan yang termasuk dalam kategori perilaku kurang sebanyak 5
responden (16,6%).
Sebagian besar dari ibu hamil di wilayah kerja puskesmas kalijaga permai
kota cirebon mempunyai perilaku yang cukup mengenai faktor faktor yang
mempengaruhi status anemia pada ibu hamil.

4.2.5 Asupan Nutrisi Responden
Berikut ini disajikan tabel-tabel yang memuat distribusi jawaban
responden atas pertanyaan-pertanyaan kategori Asupan Nutrisi dalam kuosioner.

Tabel 4.2.5.1 Distribusi Jawaban Responden Mengenai konsumsi lauk pauk
yang mengandung zat besi seperti hati, daging, ikan minimal 3x dalam
seminggu
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 18 60
Tidak 12 40
Total 30 100

Tabel 4.2.5.2 Distribusi Jawaban Responden Mengenai konsumsi sayur yang
mengandung zat besi seperti kangkung, bayam, daun singkong, daun pepaya
minimal sehari sekali
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 7 23,3
Tidak 23 76,7
Total 30 100


41

Tabel 4.2.5.3 Distribusi Jawaban Responden Mengenai konsumsi khusus
untuk ibu hamil
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 18 60
Tidak 12 40
Total 30 100

Tabel 4.2.5.4 Distribusi Jawaban Responden Mengenai konsumsi
teh/kopi/soda/alkohol selama kehamilan
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 13 43,3
Tidak 17 56,7
Total 30 100

Tabel 4.2.5.5 Distribusi Jawaban Responden Mengenai konsumsi buah-
buahan yang mengandung vitamin seperti jeruk, tomat, pepaya, apel
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 22 73,3
Tidak 8 26,7
Total 30 100

Tabel 4.2.5.6 Distribusi Jawaban Responden Mengenai frekuensi makan
teratur (3x sehari) selama kehamilan
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 23 76,7
Tidak 7 23,3
Total 30 100

Tabel 4.2.5.7 Distribusi Jawaban Responden Mengenai meminum tablet Fe
sebelum tidur dapat mengurangi mual
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 12 40
42

Tidak 18 60
Total 30 100

Tabel 4.2.5.8 Distribusi Jawaban Responden Mengenai tidak boleh makan
obat sembarangan tanpa konsultasi ke dokter
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 29 96,7
Tidak 1 3,3
Total 30 100

Tabel 4.2.5.9 Distribusi asupan nutrisi responden
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Baik 13 43,3
Cukup 11 36,7
Kurang 6 20
Total 30 100

Setelah dilakukan perhitungan jumlah nilai masing-masing responden,
didapatkan lebih banyak responden yang termasuk dalam kategori asupan nutrisi
baik yaitu sebanyak 13 responden (43,3%), 11 responden (36,7%) dengan asupan
nutrisi yang cukup, dan yang termasuk dalam kategori asupan nutrisi kurang
sebanyak 6 responden (20%).
Sebagian besar dari ibu hamil di wilayah kerja puskesmas kalijaga permai
kota cirebon mempunyai asupan nutrisi yang cukup.

4.2.6 Tenaga kesehatan
Berikut ini disajikan tabel-tabel yang memuat distribusi jawaban
responden atas pertanyaan-pertanyaan kategori tenaga kesehatan dalam kuosioner.


43

Tabel 4.2.6.1 Distribusi Jawaban Responden Mengenai penjelasan mengenai
anemia atau kurang darah dari tenaga kesehatan
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 17 56,7
Tidak 13 43,3
Total 30 100

Tabel 4.2.6.2 Distribusi Jawaban Responden Mengenai penjelasan dan
diskusi mengenai makanan yang mengandung zat besi selama kehamilan
dari tenaga kesehatan
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 18 60
Tidak 12 40
Total 30 100

Tabel 4.2.6.3 Distribusi Jawaban Responden Mengenai penjelasan dari
tenaga kesehatan mengenai cara mencegah anemia atau kurang darah
selama masa kehamilan
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 14 46,7
Tidak 16 53,3
Total 30 100

Tabel 4.2.6.4 Distribusi Jawaban Responden Mengenai motivasi dari tengaga
kesehatan untuk memeriksakan kehamilan secara rutin
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 29 96,7
Tidak 1 3,3
Total 30 100


44

Tabel 4.2.6.5 Distribusi Jawaban Responden Mengenai deteksi dini anemia
dengan memeriksakan darah (Hb) secara rutin
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 25 83,3
Tidak 5 16,7
Total 30 100

Tabel 4.2.6.6 Distribusi Jawaban Responden Mengenai manfaat tenaga
kesehatan di puskesmas dalam menjaga kesehatan ibu hamil
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 30 100
Tidak 0 0
Total 30 100

Tabel 4.2.6.7 Distribusi Jawaban Responden Mengenai pengertian dan dapat
melakukan apa yang dijelaskan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan
dan menjaga kesehatan ibu hamil
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 27 90
Tidak 3 10
Total 30 100

Tabel 4.2.6.8 Distribusi Jawaban Responden Mengenai pemberian buku
Kontrol KIA dan stiker ibu hamil di rumah
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Ya 30 100
Tidak 0 0
Total 30 100




45

Tabel 4.2.6.9 Distribusi Tenaga Kesehatan
Jawaban Jumlah Persentase (%)
Baik 13 43,3
Cukup 15 50
Kurang 2 6,7
Total 30 100

Setelah dilakukan perhitungan jumlah nilai masing-masing responden, didapatkan
lebih banyak responden yang termasuk dalam kategori tenaga kesehatan cukup
yaitu sebanyak 15 responden (50%), 13 responden (43,3%) baik, dan yang
termasuk dalam kategori tenaga kesehatan kurang sebanyak 2 responden (6,7%).
Sebagian besar dari ibu hamil di wilayah kerja puskesmas kalijaga permai
kota cirebon merasakan adanya manfaat tenaga kesehatan yang cukup


46

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja puskesmas kalijaga
permai kota cirebon tentang faktor-faktor yang mempengaruhi status anemia pada
ibu hamil, dapat disimpulkan bahwa:
1. Sebanyak 26,7% responden menunjukkan pengetahuan yang baik, 53,3%
dengan pengetahuan yang cukup dan 20% menunjukkan pengetahuan yang
buruk.
2. Sebanyak 46,7% responden menunjukkan sikap yang baik, 43,3% dengan
sikap yang cukup dan 10% menunjukkan sikap yang buruk.
3. Sebanyak 36,7% responden menunjukkan perilaku yang baik, 46,7%
dengan perilaku yang cukup dan 16,6% menunjukkan perilaku yang
buruk.
4. Sebanyak 43,3% responden menunjukkan asupan nutrisi yang baik, 36,7%
dengan asupan nutrisi yang cukup dan 20% menunjukkan asupan nutrisi
yang buruk.
5. Sebanyak 43,3% responden mengatakan bahwa tenaga kesehatan
mempunyai pengaruh yang baik, 50% mengakatan cukup dan 6,7%
mengakatan buruk.
6. Sebanyak 23,3% responden berpenghasilan sangat rendah, Sebanyak
13,3% responden berpenghasilan rendah, Sebanyak 43,4% responden
berpenghasilan menengah, dan Sebanyak 20% responden berpenghasilan
tinggi.

5.2 Saran
Dalam upaya untuk memecahkan masalah dan menurunkan angka status
anemia pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas kalijaga permai kota cirebon,
maka beberapa saran yang mungkin dapat dijadikan masukan yaitu:
47

1. Melakukan penyuluhan berkala tentang cara-cara mencegah anemia pada
ibu hamil Penyuluhan yang dilakukan meliputi cara pengolahan,
penjelasan dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti oleh
masyarakat, memberikan penyuluhan dengan menarik, bisa dalam bentuk
ceramah dan tanya jawab / diskusi, peragaan, atau gambar menarik.
2. Penelitian dilakukan dengan waktu yang lebih lama, dana dan tenaga
kerja yang cukup, serta dengan jumlah objek penelitian yang lebih
banyak sehingga hasil penelitian akan lebih signifikan.


48

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Nurhaeni. 2008. Panduan Lengkap Kehamilan Dan Kelahiran Sehat.
Jogjakarta : AR Group

Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka
Aksara

Almatsier S. 2002 . Prinsip DasarIlmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Arisman. 2004. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC 2010. Gizi Dalam
Daur Kehidupan. Jakarta. EGC

Endah Puji Astuti. 2011. Jurnal KTI Hubungan Antara Pritas dengan AnemiaPada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Bandarharjo Semarang.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis
Data. Jakarta : Salemba Medika

Istiarti, Tinuk. 2000. Menanti Buah Hati. Jogjakarta : Media persindo

Manuaba, IBG. 2010. Ilmu Kebidanan penyakit Kandungan dan KB untuk
Pendidikan Bidan Edisi 2. Jakarta: EGC

Nourita Mega Fratika. 2011. Jurnal KTI Hubungan antara Pengetahuan tentang
Anemia, Pendidikan Ibu , Konsumsi tablet besi dengan kadar Hemoglobinpada
ibu hamil trimester III di RB Bakti Ibu Kota Semarang.

Notoatmodjo. S. 2002. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rhineka Cipta
2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rhineka Cipta
2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Manusia. Jakarta: Rhineka Cipta
49

2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Proverawati, Atikah.2011. Anemia dan Anemia kehamilan. Yogyakarta : Nuha
Medika

Prawirohardjo. 2008. Ilmu kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo

Riyanto, A . 2011. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta : Nuha
Medika

Saefudin, A. B. (2002). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Kesehatan. Jakarta : JNPKKR POGI dan Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo

Siska Lailita Puspita Sari. 2011. Jurnal KTI faktor yang berpengaruh dengan
tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia di bidan praktek swasta Yohana
Triani Bandarharjo Kota Semarang.

Soebroto,I., 2009. Cara mudah mengatasi problem Anemia. Yogyakarta: Bangkit

Soe, Jordan. 2003. Farmakologi Kebidanan. Jakarta : EGC

Tarwoto dan Warsidar. 2007. Anemia pada Ibu Hamil. Jakarta: Trans Info Medika

Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan kebidanan, Edisi 4, Volume 1. Jakarta :
EGC

Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta : Pustaka Rihma

50

Wawan, A dan Dewi M. 2010. Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Manusia.
Jogjakarta : Nuha Medika

Widyastuti. 2002. Safe Motherhood Pendidikan Kebidanan. Jakarta. EGC

Wiknjosastro. 2007. Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo