Anda di halaman 1dari 123

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diberlakukannya Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah dan Undang-undang nomor 33 tahun 2004 tentang
pertimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah ,
ternyata membawa banyak perubahan baik berupa tantangan sekaligus
berbagai kesempatan bagi daerah. Perubahan yang berlangsung cepat ini
ternyata membawa permasalahan baru karena kewenangan pemerintah Daerah
seketika menjadi sangat luas dan krusial. Daerah di tuntut untuk mandiri
dalam waktu yang singkat. Perubahan dalam sistem dan tata kerja
pemerintahan menjadikan daerah dituntut untuk berkompetisi sekaligus
bertahan hidup dengan mengendalikan berbagai potensi yang ada, dan
berbagai keterbatasannya yang mengharuskan Pembangunan Daerah untuk
terarah agar efektif dan efisien.
Pembangunan kesehatan yang terlaksana di Kabupaten Purwakarta
tidak terlepas dari tujuan Pembangunan Nasional. Melalui Visi Dinas
Kesehatan Masyarakat Mandiri untuk Hidup Sehat maka Dinas Kesehatan
Kabupaten Purwakarta mengarahkan pelayanan kesehatan melalui
pemberdayaan masyarakat untuk hidup sehat secara mandiri.
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya fasilitasi agar masyarakat
tahu, mau dan mampu untuk hidup sehat berdasarkan potensi yang
dimilikinya, salah satu wujud pemberdayaan masyarakat adalah tumbuh dan
berkembangnya Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat (UKBM).
Pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
dapat diwujudkan dengan terbentuknya Kabupaten Siaga di Kabupaten
Purwakarta.
Sebelum terbentuknya kabupaten siaga diperlukan perencanaan dan
evaluasi terhadap program-program yang telah dilaksanakan maupun yang
akan dilaksanakan. Agar perencanaan dan evaluasi program lebih terarah
2
maka penyusunan perencanaan dan evaluasi program pelayanan kesehatan
harus didasarkan atas data atau fakta yang akurat, relevan dan tersedia tepat
waktu. Data dan informasi yang diperlukan harus dihasilkan dari suatu sistem
informasi yang terpercaya. Informasi yang dihasilkan harus memberikan dasar
pertimbangan bagi para pengambil keputusan di berbagai jenjang administrasi
untuk merumuskannya menjadi kebijakan organisasi atau menentukan
intervensi program sesuai permasalahan yang ingin diselesaikan.
Salah satu produk penting dari sitem informasi kesehatan adalah buku
Profil Kesehatan, mulai tahun 2002 lalu, profil kesehatan dapat digunakan
senbagai sarana penyedia data dan informasi dalam rangka evaluasi tahunan
kegiatan-kegiatan dan pemantauan pencapaian Visi Dinas Kesehatan
Kabupaten Purwakarta.

B. Dasar Hukum
Yang menjadi landasan hukum dari penyusunan Buku Profil
Kesehatan Kabupaten/kota adalah:
a. Kepmenkes dan Kesos RI Nomor 582 tahun 2001tentang penyusunan
Profil Kesehatan Kabupaten/Kota
b. Kepmenkes Nomor 1202 tahun 2003 tentang Indikator Indonesia Sehat
2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi sehat dan
Kabupaten/Kota sehat.
c. Kepmenkes RI Nomor 1457 tahun 2003 tentang Standar Pelayanan
Minimal dalam Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota
d. Kepmenkes RI Nomor 1797 tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan
Profil Kesehatan Kabupaten/Kota.

C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan Buku profil Kesehatan Kabupaten
Purwakarta tahun 2010 adalah untuk:
a. Memberikan gambaran tentang Purwakarta yang tidak hanya memuat
upaya pelayanan kesehatan saja tetapi juga di bidang kesehatan seperti
3
demografi/kependudukan, keadaan dan pertumbuhan ekonomi termasuk
tingkat pendidikan serta keadaan dan perkembangan lingkungan baik
lingkungan fisik maupun biologik.
b. Menggambarkan tingkat pencapaian derajat kesehatan melalui inidikator
angka kematian bayi, angka kematian ibu, angka harapan hidup dan status
gizi masyarakat. Melalui angka-angka ini juga diharapkan dapat
menggambarkan keberhasilan upaya-upaya kesehatan yang telah
dilakukan selama tahun 2010.
c. Menyajikan informasi tentang pencapaian indikator standar Pelayanan
Minimal bidang Kesehatan
d. Memberi gambaran tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh
sektor diluar kesehatan untuk menunjang keberhasilan pencapaian visi
kabupaten Purwakarta.


















4
BAB II
GAMBARAN UMUM KABUPATEN PURWAKARTA

A. Visi dan Misi
a. Visi Pemerintah Kabupaten Purwakarta
Untuk mewujudkan Purwakarta Digjaya serta didorong dengan
itikad ngawujudkeun Purwakarta Nagri Raharja, berikut visi misi
Kabupaten Purwakarta tahun 2008-2013 sebagai arah utama pembangunan
jangka menengah:
Visi:
PURWAKARTA BERKARAKTER
Misi:
1. Mengembangkan pembangunan berbasis religi dan kearifan lokal,
yang berorientasi pada keunggulan pendidikan, kesehatan, pertanian,
industri, perdagangan dan jasa.
2. Mengembangkan infrastruktur wilayah yang berbasis nilai-nilai
kearifan lokal dan berorientasi pada semangat perubahan kompetensi
global.
3. Meningkatkan keutuhan lingkungan baik hulu maupun hilir, fisik
maupun sosial.
4. Mengembangkan struktur pemerintahan yang efektif, yang berorientasi
kepada kepuasan pelayanan publik, pengembangan potensi
kewirausahaan birokrasi yang berorientasi kemakmuran rakyat.

b. Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta
Dinas Kesehatan tidak bisa terlepas dan merupakan bagian yang
tidak dapat dipisahkan dari pembangunan daerah dan pembangunan
kesehatan secara nasional , dengan demikian visi pembangunan Kesehatan
Daerah Kabupaten Purwakarta tahun 2008-2013.
PURWAKARTA SEHAT, MANDIRI dan BERKARAKTER

5
Pembangunan Kesehatan Purwakarta sehat, mandiri dan berkarakter:
Sehat artinya:
meningkatnya derajat kesehatan masyarakat ditandai dengan
meningkatnya status kesehatan masyarakat.
Upaya tersebut dicapai melalui meningkatnya:
1. Umur harapan hidup,
2. Menurunnya kasus kematian ibu dan bayi,
3. Meningkatnya status gizi masyarakat,
4. Menurunnya kasus penyakit baik penyakit menular maupun tidak
menular dan
5. Tersedianya pelayanan kesehatan yang merata, bermutu dan
terjangkau oleh lapisan masyarakat.

Mandiri artinya:
Masyarakat mampu mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi serta
mampu menjaga dan memelihara kesehatannya diri sendiri, keluarga
dan lingkungannya.
Kemandirian masyarakat merupakan upaya pemanfaatan potensi lokal
dan kemampuan masyarakat dalam :
1. Menjaga dan memelihara kesehatan diri, keluarga dan
lingkungannya. Hal ini ditandai dengan peningkatan perilaku hidup
bersih dan sehat (phbs),
2. Keluarga sadar gizi (kadarzi),
3. Meningkatnya kewaspadaan dini dan surveilan penyakit di
masyarakat,
4. Meningkatnya kualitas pelayanan posyandu,
5. Terciptanya lingkungan sehat bagi masyarakat serta terlindunginya
seluruh masyarakat oleh jaminan kesehatan.
Upaya tersebut dicapai melalui: peningkatan promosi kesehatan,
pemberdayaan kesehatan masyarakat, terselenggaranya desa dan
masyarakat siaga, penguatan surveilans epidemiologi dan Sistem
6
Kewaspadaan Dini (SKD), dan penyehatan lingkungan serta perluasan
jaminan kesehatan masyarakat (JAMKESMAS) dan jaminan
kesehatan daerah (JAMKESDA).

Berkarakter artinya:
mencerminkan kekuatan dan potensi masyarakat sesuai dengan
karakter dan kearifan budaya serta pemanfaatan secara maksimal
potensi lokal yang berbasis religi, budaya dan kekhasan Kabupaten
Purwakarta
Upaya tersebut dicapai melalui sinergitas dan integritas dengan
pembangunan daerah yang berwawasan kesehatan.
Hal ini ditandai dengan tersusunnya perencanaan pembangunan
kesehatan, adanya master plan pengembangan puskesmas,
laboratorium kesehatan dan masterplan Sistem Informasi Kesehatan.
Kesimpulan: Mewujudkan masyarakat Purwakarta yang mandiri
untuk hidup sehat sesuai dengan karakter dan kearifan budaya serta
pemanfaatan secara maksimal potensi lokal dalam mendukung
penyelenggaraan Pembangunan yang berwawasan kesehatan

Untuk mencapai visi pembangunan kesehatan daerah tersebut,
maka Dinas Kesehatan yaitu:
Menjadi Dinas Kesehatan sebagai Pendorong Masyarakat Mandiri untuk
Hidup Sehat menuju Purwakarta Sehat, Mandiri dan Berkarakter.
Prinsip dasar menjaga kesehatan Masyarakat
PAIT DAGING PAHANG TULANG = mulus awak, langka katerap
panyakit
JAUH TINU BALAI, PAREK KANA REJEKI = jauh tina cocoba,
digawe segut, deukeut kana rejeki,
GINULUR KARAHAYUAN, GINANJAR KAWILUJENGAN= hirup
pinuh kabagjaan sarta kasalametan

7
Grand Strategi (Langkah menuju Purwakarta Digjaya)
1. Pendidikan Gratis Sampai Tingkat SLTA Bagi Masyarakat Miskin
2. Pembebasan Biaya Pembelian Buku Sekolah dan Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Baca Tulis Al Quran Bagi Siswa TK, SD,
SLTP dan SLTA yang Beragama Islam.
3. Pelayanan KTP, Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran Gratis Bagi
Seluruh Masyarakat Dengan Sistem Pelayanan Di Tingkat Desa dan
Kelurahan.
4. Pembangunan Puskesmas Rawat Inap Di Seluruh Kecamatan.
5. Peningkatan Kesejahteraan Guru dan Pegawai Melalui Insentif
Kehadiran, Serta Peningkatan Kesejahteraan Kepala Desa, Aparatur
Desa, Bamusdes, LPM, Linmas, Hansip, Kadus, RW, RT, DKM, dan
Guru Ngaji Melalui Otomi Desa dan Kelurahan
6. Pengembangan dan Pelebaran jalan Hotmix Serta listrik Sampai
Pelosok Pedesaan, Membuat/Mengoptimalkan Jalur Tembus Cikao
Bandung-Babakancikao, Kiarapedes-Cibatu, Pasawahan-Pondoksalam,
Pasawahan-Purwakarta, Pondoksalam-Bojong, Wanayasa-
Pondoksalam, Bojong-Darangdan, Campaka-Cibatu-Bungursari,
Membuka Pintu Tol Sawit, Serta Pelebaran Jalan Sawit-Wanayasa.
7. Pengembangan Air Bersih dan Irigasi Pedesaan Secara menyeluruh
dan Mengoptimalkan Sungai Ciherang untuk Irigasi Pengairan
Pondoksalam-Pasawahan, Suangai Cikao untuk Irigasi Pengairan
Bojong-Darangdan-Jatiluhur, dan sungai Cimunjul untuk Irigasi
Pengairan Purwakarta-Babakan Cikao,. Pengembangan Irigasi
Cilamaya untuk Pertanian Kiarapedes-Wanayasa-Cibatu-Campaka-
Bungursari, SertaMengoptimalkan Fungsi Bendungan Cirata dan
Jatiluhur untuk Pertanian Masyarakat Maniis, Plered, Tegalwaru,
Sukatani, Sukasari dan Jatiluhur dengan Pola Integrasi Kehutanan,
PEngairan, Perikanan, Pertanian, Peternakan dan Pariwisata
8. Pengembangan Kawasan Terpadu Kecamatan Bungursari,
Pengembangan Tata Kota dan Tata Bangunan Yang Yang
8
Beridentifikasi Purwakarta, Renovasi Bangunan Tua, Pengembangan
Halaman Stasiun, Penyempurnaan Situ Buleud, Penataan Alun-alun,
Integrasi Bangunan Pemerintah, Serta Pemberian Perlindungan Yang
Menyeluruh Terhadap Keberadaan dan Kualitas Pedagang Serta Pasar
Tradisional.
9. Pengembangan Investasi dengan Menyiapkan Tanah untuk Industri
dengan Sistem Sewa yang Disiapkan oleh Pemerintah Daerah.

17 Prinsip Kahuripan di Kabupaten Purwarkarta:
1. Di bidang pendidikan, dilakukan penguatan nilai-nilai lokal (al-insan
al-kamil)
2. Integrasi pendidikan dasar dan tingkat pertama
3. Integrasi pendidikan kejuruan dan industri
4. Peningkatan kualitas pendidikan mempertimbangkan beban kebutuhan
masyarakat, utamanya untuk dikdas dan SLTP
5. Membangun sinergitas akademisi dan birokrasi dalam perencanaan
pembangunan
6. Di bidang Ekonomi, peningkatan optimalisasi potensi ekonomi
kerakyatan
7. Peningkatan perlindungan keutuhan lingkungan baik hulu maupun hilir
8. Penguatan basis pertanian organisme dengan integrasi potensi
pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan pariwisata
9. Membangun kekuatan teknologi tepat guna dengan mengembangkan
sumber energi alam
10. Mengembangkan jaringan jalan, arsitektur rumah, penataan
perkantoran dan prasarana lain berbasis nilai kearifan lokal.
11. Mengembangkan struktur pemerintahan yang efektif berorientasi
kepada kepuasan pelayanan publik.
12. Membangun kekuatan hukum yang memberikan perlindungan
menyeluruh terhadap masyarakat
9
13. Di bidang investasi, dibukanya areal zona industri maupun kawasan
industri kemudahan bagi investasi negara dengan pelaku industri
14. Bidang transportasi, perlu optimalisasi sarana transportasi darat dan air
15. Perlu dibangunnya sarana pelayanan puskesmas yang memadai di
seluruh kecamatan, dengan tujuan mendekatkan pelayanan kepada
masyarakat dengan pola kemitraan.
Prinsip :pait daging pahang tulang, jauh tinu balai, parek kana rejeki,
ginulur karahayuan, ginanjar kawilujengan.
16. Mengembalikan kewibawaan danau Cirata dan Jatiluhur sebagai
sumber kehidupan.
17. Mewujudkan otonomi desa, dimana desa jadi sentral pembangunan

c. Misi Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta:
1. Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang merata, bermutu, terjangkau
oleh masyarakat.
2. Mendorong untuk mewujudkan lingkungan yang sehat bagi
masyarakat.
3. Mewujudkan upaya perlindungan masyarakat agar bebas dari masalah-
masalah penyakit.
4. Mendorong untuk mewujudkan perilaku yang proaktif dan mandiri
untuk memelihara kesehatan bagi masyarakat.
Tujuan:
1. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
berkualitas
2. Meningkatkan sumber daya kesehatan yang akuntabel, berkualitas, dan
merata
3. Meningkatkan upaya pemberantasan dan pengendalian penyakit,
penguatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan Kejadian Luar
Biasa (KLB) maupun penyakit yang berpotensi KLB
4. Meningkatkan kualitas lingkungan dalam mendorong terwujudnya
lingkungan hidup yang sehat dan layak bagi masyarakat
10
5. Menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat
Sasaran:
1. Meningkatkan indeks kesehatan melalui :
Peningkatan angka harapan hidup;
Penurunan tingkat kematian bayi dan kematian ibu melahirkan,
peningkatan status gizi masyarakat;
2. Pembangunan puskesmas rawat inap di seluruh kecamatan sebagai
salah satu upaya peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan.
Arah dan sasaran mencapai sasaran:
1. Meningkatnya Pembangunan Daerah Berwawasan Kesehatan
2. Meningkatnya pelayanan kesehatan pada sarana pelayanan dasar yang
merata, bermutu dan terjangkau oleh masyarakat
3. Meningkatnya pelayanan kesehatan rujukan yang rasional, berjenjang
dan bermutu sesuai standar pelayanan kesehatan dan indikasi medis,
kesehatan khusus dan matra serta upaya kesehatan pengembangan
lainnya
4. Meningkatnya ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang
merata, aman, bermutu dan terjangkau
5. Meningkatnya upaya percepatan penurunan kematian ibu, bayi dan
balita termasuk akibat masalah gizi
6. Meningkatnya kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan yang tersebar
merata pada setiap jenjang pelayanan
7. Meningkatnya kualitas sarana prasarana kesehatan
8. Meningkatnya sistem pengamatan, pencegahan dan kewaspadaan dini
terhadap penyakit





11
B. Situasi Keadaan Umum
Kabupaten Purwakarta dikenal sebagai kabupaten yang memiliki
posisi strategis berada pada daerah segi tiga emas atau jalur utama lalu lintas
yang menghubungkan Jakarta sebagai ibu kota Negara Republik Indonesia,
Bandung sebagai ibu kota Propinsi Jawa Barat, dan Cirebon sebagai pintu
gerbang utara menuju Kabupaten/Kota lain di Propinsi Jawa Tengah.
Perkembangan terakhir dengan dibangunnya jalan Tol Cipularang
diperkjrakan aksesibilitas ke Kabupaten Purwakarta akan meningkat.
Kabupaten Purwakarta merupakan bagian dari wilayah Propinsi Jawa Barat
yang terletak di bagian tengah belahan utara Jawa Barat diantara 10730'-
10740' Bujur Timur dan 625'-645' Lintang Selatan. Secara administratif,
Kabupaten Purwakarta mempunyai batas wilayah sebagai berikut:
a. Bagian Barat dan sebagian wilayah Utara berbatasan dengan Kabupaten
Karawang
b. Bagian Utara dan sebagian wilayah Timur berbatasan dengan Kabupaten
Subang
c. Bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung
d. Bagian Barat Daya berbatasan dengan Kabupaten Cianjur
Luas wilayah Kabupaten Purwakarta 971,72 Km2 atau sekitar 2,81%
dari luas wilayah Propinsi Jawa Barat. Ditinjau dari aspek geografis, letak
Kabupaten Purwakarta dibagi atas beberapa wilayah, yaitu Bagian Utara,
Barat, Selatan dan Timur. Wilayah Bagian Utara mencakup Kecamatan
Campaka, Bungursari, Cibatu, Purwakarta, Babakan Cikao, Pasawahan,
Pondoksalam, Wanayasa, dan Kiarapedes dengan ketinggian antara 25-500 m
dari atas permukaan laut (dpi). Wilayah Barat meliputi Kecamatan Jatiluhur
dan Sukasari dimana bagian terbesar merupakan permukaan air danau Ir. H.
Juanda mempunyai ketinggian 107 m dpi, sedangkan tanah daratan di
sekitarnya berada pada ketinggian sekitar 400 m dpi. Kabupaten Purwakarta
bagian Selatan dan Timur wilayahnya meliputi Kecamatan Plered, Maniis,
Tegalwaru, Sukatani, Darangdan dan Bojong dengan ketinggian lebih dari 200
12
m dpi. Suhu rata-rata mencapai 23 C - 32C dengan curah hujan 1.413 mm-
4.501 mm.
Pengembangan wilayah sesuai peruntukannya sebagaimana ditetapkan
dalam Renstra Propinsi Jawa Barat, Kabupaten Purwakarta dijadikan pusat
produksi dengan kegiatan utamanya Agro Industri, pemukiman, pariwisata,
pertambangan dan pertanian serta penetapan kawasan Cikopo-Cikampek
sebagai Pusat Kegiatan Wilayah dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi
Jawa Barat.
Dewasa ini, Pemerintah Kabupaten Purwakarta tengah berupaya
menarik minat investor untuk menanamkan investasinya di Kawasan Industri
seluas 2.000 Ha dan Zona Industri seluas 3.000 Ha di Kota Bukit Indah. Untuk
keperluan pariwisata telah pula dikembangkan Kawasan Pariwisata Alam dan
Iptek di Jatiluhur.
Pada tahun 2001 Wilayah Kabupaten Purwakarta dimekarkan dari 11
Kecamatan menjadi 17 Kecamatan, sedangkan banyaknya kelurahan dan desa
tetap 9 kelurahan dan 183 desa. Namun demikian, beberapa desa mengalami
perubahan wilayah administrasi kecamatannya. Pembagian desa menurut
klasifikasi terdiri dari 36 desa merupakan desa swadaya dan 156 desa
termasuk klasifikasi desa swakarya. Sampai tahun 2009 tidak ada desa atau
kelurahan dengan klasifikasi swasembada. Dari 192 desa/kelurahan terbagi
lagi menjadi 524 Dusun, 1.152 RW dan 3.244 RT. Kabupaten Purwakarta
terbagi kedalam 3 Wilayah Pengembangan Pembangunan sebagaimana dapat
dilihat pada tabel 2.1 berikut ini.








13
Tabel 2.1
Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintah Kabupaten Purwakarta
NO KECAMATAN
JUMLAH
KEL/DESA
WPP
1 1. Purwakarta 9 Kel/1 Desa PURWAKARTA
2. Babakan Cikao 9 Desa (WPP I)
3. Campaka 10Des
4. Cibatu 10 Desa
5. Bungursari 10 Desa
6. Jatiluhur 10 Desa
7. Sukasari 5 Desa

2 1. Plered 16 Desa PLERED
2. Darangdan 15 Desa (WPP II)
3. Tegalwaru 13 Desa
4. Sukatani 14 Desa
5. Maniis 8 Desa

3 1. Pasawahan 12 Desa PASAWAHAN
2. Pondoksalam 11 Desa (WPP III)
3. Kiarapedes 10 Desa
4. Wanayasa 15 Desa
5. Bojong 14 Desa

Jarak kecamatan dari ibu kota kabupaten bervariasi, jarak terdekat
yaitu Kecamatan Purwakarta dengan jarak 1 Km dan jarak terjauh adalah
Kecamatan Maniis dengan jarak 41 Km. Sedangkan jarak antar kecamatan
terjauh yaitu jarak antara Kecamatan Bojong dan Kecamatan Sukasari sejauh
60 Km dan jarak terdekat sepanjang 4 Km terdapat antara Kecamatan Sukatani
dengan Kecamatan Plered.

C. Keadaan Penduduk
a. Pertumbuhan Penduduk
Menurut data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Purwakarta
jumlah penduduk Kabupaten Purwakarta pada tahun 2006 bertambah
menjadi 798.218 jiwa sedangkan tahun 2007 jumlah penduduk Kabupaten
Purwakarta berdasarkan Suseda yang diterbitkan oleh BPS Kabupaten
Purwakarta berjumlah 783.131. Pada tahun 2008 jumlah penduduk
14
Kabupaten Purwakarta meningkat menjadi 809.962 berdasarkan Data
Suseda yang diterbitkan oleh Provinsi Jawa Barat sedangkan pada tahun
2009 penduduk Kabupaten Purwakarta berdasarkan hasil proyeksi dari
Badan Pusat Statistik Kabupaten Purwakarta sebanyak 845.509 sedangkan
pada tahun 2010 dilaksanakan Sensus Penduduk, dari hasil tersebut
didapat jumlah penduduk sebesar 852.512 yang terdiri dari penduduk laki-
laki sebanyak 436.082 jiwa dan perempuan sebanyak 416.439 jiwa.
Dengan demikian penduduk perempuan lebih sedikit dari pada penduduk
laki-laki dengan selisih sebesar 4.71%. Laju pertumbuhan penduduk tahun
2010 sebesar 1.99%.
Grafik 2.1
Pertambahan Jumlah Penduduk Kabupaten Purwakarta
Tahun 2006 sampai dengan 2010

Sumber: Badan Pusat Statistis kabupaten Purwakarta, tahun 2010
Dilihat dari komposisi penduduk menurut kelompok umur di
Kabupaten Purwakarta pada tahun 2010 adalah 9.99% pada kelompok
umur 0-4 tahun, 20.39% pada kelompok umur 5-14 tahun, 49.67% pada
kelompok umur 15-44 tahun, 15.47% pada kelompok umur 45 - 64 tahun
dan 4.48% pada kelompok umur 65 tahun keatas dengan Ratio Beban
Ketergantungan sebesar 53.50%. Sex ratio pada tahun 2010 adalah 104.71
798218
783131
809962
845509
852512
740000
760000
780000
800000
820000
840000
860000
2006 2007 2008 2009 2010
15
artinya penduduk laki-laki lebih banyak 4.71% dari pada penduduk
perempuan.

b. Persebaran dan Kepadatan Penduduk.
Permasalahan utama kependudukan di Kabupaten Purwakarta
adalah persebaran penduduk yang tidak merata. Hal ini berkaitan dengan
daya dukung lingkungan yang tidak seimbang antara satu Kecamatan
dengan Kecamatan lainnya. Kepadatan penduduk Kabupaten Purwakarta
pada tahun 2010 sebesar 877 per km
2
.
Bila kepadatan penduduk setiap kecamatan dibandingkan, maka
kecamatan dengan kepadatan tertinggi adalah Kecamatan Purwakarta
(6.674 jiwa per km
2
) dan terendah Kecamatan Sukasari (157 jiwa per
km2). Selanjutnya dapat dilihat pada grafik 2.2
Grafik 2.2
Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan
Di Kabupaten Purwakarta Tahun 2010


Jumlah rumah tangga tahun 2009 tercatat ada 224.959 KK untuk
tahun 2010 data jumlah KK belum tersedia, menurut hasil registrasi
pertengahan tahun 2004, 215 rumah tangga diantaranya adalah
6674
2246
1115 1095
1029
950 937
885
689 666 651
603 597
459 475 433
157
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
7000
8000
16
berkewarganegaraan asing dengan jumlah jiwa 475 orang dimana sebagian
besar kewarganegaraan India sebanyak 433 orang tersebar di Kecamatan
Jatiluhur, Purwakarta dan Babakan Cikao, sedangkan kewargaan Cina
sebanyak 38 orang di Kecamatan Purwakarta dan kewarganegaraan Jepang
sebanyak 4 orang. Jumlah rata-rata jiwa per rumah tangga 3.76. Rata-rata
jiwa perkecamatan bervariasi dengan rata-rata tertinggi di Kecamatan
Sukatani sebesar 4.2 dan rata-rata terendah 3.5 di Kecamatan Campaka,
Babakancikao dan Cibatu.

c. Angka Kesuburan (Total Fertility Rate)
Tingkat kesuburan atau TFR (Total Fertility Rate) Kabupaten
Purwakarta dapat digambarkan sebagai berikut:
Grafik 2.3
Angka TFR Kabupaten Purwakarta tahun 1998 s/d 2004


Angka kesuburan Kabupaten Purwakarta secara berangsur setiap
tahun mengalami penurunan dari 2.57 pada tahun 1998 menjadi 2.02 pada
tahun 2001. Pada tahun 2003 dan 2004 terjadi peningkatan, pada tahun
2003 angka TFR meningkat menjadi 2,08 dan pada tahun 2004 mencapai
2.42 walaupun demikian peningkatan yang terjadi masih lebih rendah bila
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
2.57
2.49
2.01 2.02 2.02
2.08
2.42
17
dibandingkan dengan tahun 1998. Selama kurun waktu 2000-2005 TFR
Kabupaten Purwakarta diproyeksikan pada kisaran 2,11 dan untuk tahun
2005-2010 TFR Kabupaten Purwakarta diproyeksikan mencapai angka
2,01. Angka kesuburan Kabupaten Purwakarta tahun 2004 lebih tinggi dari
angka Propinsi Jawa Barat, angka kesuburan rata-rata Propinsi Jawa Barat
tahun 2004 hanya mencapai 2.32.

d. Angka Kelahiran Kasar (CBR) dan Usia Perkawinan Pertama
Angka kelahiran kasar Kabupaten Purwakarta tahun 2004 menurut
perhitungan BPS dan UNFPA adalah 22.93. Dari perhitungan yang sama
diketahui juga perkiraan jumlah kelahiran di Kabupaten Purwakarta
sebanyak 18.079 orang.
Usia wanita pada saat perkawinan pertama dapat berpengaruh pada
resiko melahirkan. Semakin muda usia perkawinan pertama semakin besar
resiko yang dihadapi bagi keselamatan ibu maupun anak, hal ini
dikarenakan belum siapnya alat reproduksi dan belum siapnya mental
untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Data tentang status perkawinan
perempuan usia 10 tahun keatas di Kabupaten Purwakarta dari Suseda
2009 dengan gambaran belum kawin 203.192 orang (30,97%), kawin
401.106 orang (61,14%), cerai hidup 15.160 (2,31%) dan cerai mati
36.574 (5,58%). Data lain di Kabupaten Purwakarta tentang perempuan
dengan status perkawinan menurut kelompok umur selengkapnya dapat
dilihat pada tabel 2.2. berikut ini:








18
Tabel 2.2
Persentase Perempuan dengan Status Perkawinan Di Kabupaten
Purwakarta 2009
Golongan Jumlah
15-19 tahun 3.35
20 - 24 tahun 14.36
25-29 tahun 16.98
30 - 34 tahun 18.10
35 - 39 tahun 19.59
40 - 44 tahun 13.80
45-49 tahun 13.82
Jumlah 100
Sumber: BPS, Suseda. 2009.
Dari tabel diatas dapat diketahui 19.59% perempuan di Kabupaten
Purwakarta dengan status perkawinan pada usia 35 - 39 tahun, diikuti usia
30 - 34 tahun sebesar 18.10%.

D. Keadaan Ekonomi
a. Tingkat Pendapatan
Angka pendapatan perkapita diperoleh dengan cara membagi
Produk Domestik Regional Bruto dengan jumlah penduduk pertengahan
tahun. Angka pendapatan per kapita ini sangat sulit didapatkan sehingga
angka yang dipakai pada Profil kali ini menggunakan data proyeksi dari
kutipan RPJMD Kabupaten Purwakarta 2008 - 2013. Dengan melihat
grafik 2.4 di bawah akan terlihat bahwa perkembangan data pendapatan
per kapita dari tahun ke tahun terus meningkat sehingga pada tahun 2010
didapat data pendapatan perkapita sebesar 14.68 juta.





19
Grafik 2.4
Perkembangan Pendapatan Perkapita Kabupaten Purwakarta
Tahun 2006 s/d 2010 (dalam jutaan rupiah)

Sumber: RPJMD Kabupaten Purwakarta 2008 - 2010.
Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Purwakarta berdasarkan
harga konstan mencapai titik tertinggi pada tahun 1994 sebesar 12,63%.
Namun akibat krisis ekonomi yang terjadi sejak Juli 1997 keadaan
perekonomian Kabupaten Purwakarta terpuruk sampai -11,69% pada tahun
1998 akibat krisis moneter. Laju pertumbuhan ekonomi mulai membaik
pada tahun 2000 mencapai 3,02%. Kemudian dari tahun ke tahun
perekonomian di Kabupaten Purwakarta terus ditingkatkan dari berbagai
sektor hingga pada tahun 2010 Laju Pertumbuhan Ekonomi mencapai
5.98%.







11.02
12.28
12.87
13.77
14.68
0
2
4
6
8
10
12
14
16
2006 2007 2008 2009 2010
PDRB Perkapita
20
Grafik 2.5
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Purwakarta
Tahun 2005 -2010

Sumber: BPS, Kabupaten Purwakarta 2009.
Menurut data hasil Suseda tahun 2009 sebagian besar penduduk
Kabupaten Purwakarta bergerak dalam lapangan usaha pertanian 30,08%
dan urutan selanjutnya adalah di bidang Perdagangan 21,87%, industri
19,40%, dan Jasa 12,70%. Lapangan usaha pertanian masih menjadi
pilihan hidup, namun demikian seiring berkembangnya industri maka di
sektor ini dan pendukungnya seperti perdagangan dan jasa mulai diminati.
Keadaan ini didukung dengan adanya daerah industri yang dapat menyerap
banyak tenaga kerja selain sentral industri rakyat seperti keramik dan
genteng di Plered dan industri tekstil. Adanya pengembangan daerah
pariwisata alam dan air serta jaring terapung di Waduk Jatiluhur dan Cirata
menjadikan daerah di sekitarnya merupakan sentral lapangan usaha dan
jasa. Pada tabel berikut disajikan persentase penduduk menurut lapangan
usaha/mata pencaharian :



3.51
3.46
3.15
3.85
3.93
5.98
0
1
2
3
4
5
6
7
2005 2006 2007 2008 2009 2010
LPE
21
Tabel 2.3
Persentase Penduduk Menurut Lapangan Usaha/Mata Pencaharian
Di Kabupaten Purwakarta Tahun 2009
NO
LAPANGAN USAHA/ MATA
PENCAHARIAN
%
1 Pertanian 30,08
2 Industri 19,40
3 Perdagangan 21,87
4 Jasa 12,70
5 Lainnya 15,94
Sumber: BPS, Suseda Jawa Barat 2009

b. Penduduk Miskin
Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Purwakarta menurut hasil
Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) dari Badan Pusat Statistik
Kabupaten Purwakarta pada Bulan September tahun 2008 sebanyak
59.175 KK, sedangkan untuk jumlah jiwa miskin tercatat 207.058
(berdasarkan quota Jamkesmas). Untuk tahun 2009 BPS tidak mengadakan
pendataan ulang untuk KK miskin dan Jiwa miskin.
Jumlah KK atau Rumah Tangga dan jiwa miskin per kecamatan
dapat dilihat secara lengkap pada tabel berikut:











22
Tabel 2.4
Jumlah KK (RTS) dan Jiwa Miskin Sasaran PPLS per Kecamatan ' Di
Kabupaten Purwakarta Bulan September Tahun 2008
No Kecamatan
Jumlah
Penduduk
PPLS 2008
Jumlah
RTS +
RTS
Tambahan
Rumah
Tangga
Sasaran
(RTS)
Anggota,
Rumah
Tangga
Sasaran
(Jiwa)
RTS
Tambahan
1 Purwakarta 147.754 6.448 21.668 285 6.733
2 Campaka 37.302 2.285 6.256 43 2.328
3 Jatiluhur 59.063 3.424 10.641 100 3.524
4 Plered 70.070 7.612 28.042 144 7.756
5 Sukatani 62.865 5.030 17.689 154 5.184
6 Darangdan 58.966 4.576 14.367 25 4.601
7 Maniis 29.695 2.798 8.949 30 2.828
8 Tegalwaru 45.351 3.584 11.914 15 3.599
9 Wanayasa 38.765 3.981 13.674 45 4.026
10 Pasawahan 39.325 2.491 7.408 50 2.541
11 Bojong 44.984 3.581 11.943 18 3.599
12 Babakancikao 40.068 3.006 8.185 46 3.052
13 Bungursari 41.469 2.170 5.885 46 2.216
14 Cibatu 26.581 1.933 5.342 27 1.960
15 Sukasari 14.690 1.562 4.513 5 1.567
16 Pondoksalam 27.324 2.780 8.756 133 2.913
17 Kiarapedes 25.690 1.914 6.255 91 2.005
Kabupaten 809.962 59.175 191.497 1.257 60.432
Sumber: BPS, Kabupaten Purwakarta 2008.

Pada tahun 2008 berdasarkan hasil PPLS didapat data KK miskin
sangat bervariasi, dengan kisaran 15.89% di Kecamatan Purwakarta dan
44.65% di Kecamatan Plered.



23
E. Keadaan Pendidikan
Persentase penduduk umur 10 tahun keatas menurut izajah tertinggi
yang dimiliki di Kabupaten Purwakarta pada tahun 2009 dapat dilihat pada
tabel 2.5 sebagai berikut:
Tabel 2.5
Persentase Penduduk Umur 10 tahun Keatas Menurut Izajah Tertinggi yang
Dimiliki, di Kabupaten Purwakarta Tahun 2009
No Tingkat Pendidikan
Persentase
Laki-laki Perempuan Total
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Tidak punya ijazah
SD/MI sederajat
SLTP/ MTs sederajat
SLTA sederajat
SM kejuruan
Perguruan Tinggi
26,65
32,70
15,63
9,51
11,32
4,19
31,92
35,37
16,84
9,50
4,14
2,22
29,25
34,01
16,23
9,51
7,78
3,22
JUMLAH 100 100 100
Sumber: BPS, Suseda Jawa Barat 2009
Dari tabel 2.5 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk
Kabupaten Purwakarta umur 10 tahun keatas telah menamatkan Pendidikan
Dasar (34,01%), namun tidak diikuti dengan jumlah penduduk yang
berpendidikan Perguruan Tinggi hanya 3,22%. Demikian juga persentase
penduduk yang tidak punya ijazah SD masih tinggi 29,25%.
Dari data SUSEDA 2009 untuk angka kemampuan baca dan menulis
(Angka Melek Huruf) di Kabupaten Purwakarta sebesar 94,32%. Angka melek
huruf perempuan masih lebih rendah dibanding dengan laki-laki. AMH
perempuan sebesar 91,77%, sementara untuk laki-laki 96,90%. Kaum
perempuan yang tidak dapat baca latin dan huruf lainnya di Kabupaten
Purwakarta mencapai 8.23% dan pada kaum laki-laki 3,10%. Ketertinggalan
kaum perempuan ini dikarenakan kaum perempuan mempunyai kesempatan
yang terbatas dalam menuntut ilmu dibanding laki-laki, umumnya kaum
perempuan disiapkan untuk jadi ibu rumah tangga. Sedangkan untuk angka
Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di Kabupaten Purwakarta pada tahun 2008
sebesar 7,71 tahun (berdasarkan data suseda)sedangkan untuk tahun 2009 dari
data suseda tidak didapat data rata-rata lama sekolah. Tahun 2009 berdasarkan
24
data Bappeda (Badan Perencanaan Daerah) Kabupaten Purwakarta rata-rata
lama sekolah sebesar 7,08 tahun. Untuk data angka siswa yang melanjutkan
jenjang pendidikan dari SMP ke SMA/sederajat pada tahun 2008 di
Kabupaten Purwakarta dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.6
Angka Melanjutkan Siswa dari SMP ke SMA di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2008
No Tingkat Lanjutan % Lanjutan Ket.
1 Melanjutkan ke SMA 36,21 %
2 Melanjutkan ke SMK 30,52 %
3 Melanjutkan ke MA 1,88%
4 Melanjutkan ke Paket C 0,53 %
5 Melanjutkan ke Pontren 2,16%
JUMLAH 71,30%
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta Tahun 2008
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa tingkat lanjutan siswa
SMP/sederajat ke SMA/sederajat dan lainnya di Kabupaten Purwakarta adalah
sebanyak 71,30%, artinya masih banyak siswa yang tidak melanjutkan ke
jenjang berikutnya yaitu sebesar 28,70% dengan berbagai macam alasan dan
pertimbangan termasuk masalah kemampuan ekonomi masyarakat. Sedangkan
data tahun 2009 dan 2010 tidak tersedia.











25
BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN

A. Umur Harapan Hidup (E
0
)
Umur Harapan Hidup waktu lahir merupakan salah satu indikator
derajat kesehatan yang digunakan secara luas. Tinggi rendahnya Umur
Harapan Hidup dapat menggambarkan taraf kesejahteraan hidup suatu daerah,
termasuk pelayanan kesehatan masyarakat di daerah tersebut. Pada Grafik 3.1
dapat dilihat perkembangan Umur Harapan Hidup Kabupaten Purwakarta
hasil perhitungan BPS Kabupaten Purwakarta berdasarkan data-data yang
diolah oleh BPS dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 untuk keperluan
perhitungan IPM Kabupaten, dengan hasil sebagai berikut:
Grafik 3.1
Angka Harapan Hidup di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2006 s/d 2010

Sumber: RPJMD Kabupaten Purwakarta Tahun 2010
Pada Grafik 3.1 di atas dapat diketahui bahwa Angka Harapan Hidup
menunjukan peningkatan yang signifikan, dari 65.90 tahun pada tahun 2006
meningkat hingga mencapai 68.06 pada tahun 2010. Peningkatan AHH ini
memberi indikasi bahwa telah terjadi peningkatan taraf kesehatan masyarakat
65.90
66.56
67.06
67.56
68.06
64.50
65.00
65.50
66.00
66.50
67.00
67.50
68.00
68.50
2006 2007 2008 2009 2010
AHH
26
yang diikuti dengan semakin besarnya kesadaran masyarakat akan pentingnya
hidup sehat.

B. Kematian
a. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi adalah jumlah kematian bayi di bawah usia satu
tahun pada setiap 1000 kelahiran hidup. AKB merupakan salah satu indikator
untuk mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara. Angka
Kematian Bayi di Kabupaten Purwakarta terus mengalami penurunan
sebagaimana digambarkan pada grafik berikut ini:
Grafik 3.2
Perkembangan Angka Kematian Bayi Di Kabupaten Purwakarta
Tahun 1995 s/d Tahun 2004

Sumber: Susenas, 2004
Pada tahun 2000 AKB Kabupaten Purwakarta 66.63 per 1000
kelahiran hidup turun menjadi 66,07 per 1000 kelahiran hidup pada tahun
2001 dan pada tahun 2003 turun lagi menjadi 58.64 per 1000 kelahiran hidup.
Tetapi pada tahun 2004 terjadi penurunan angka kematian hingga mencapai
56.83 per 1000 kelahiran hidup . Dari hasil perhitungan lain diperoleh angka
74.33
72.67
69
66.48
64.05
66.33 66.07
64.13
58.64
56.83
0
10
20
30
40
50
60
70
80
1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
Tahun
27
kematian bayi seperti menurut BPS dan Balitbangda (tahun 2003) yang
menghitung AKB melalui pendekatan wilayah. Untuk wilayah Pantura
(Purwakarta, Karawang dan Subang) sebesar 57.61 per 1000 KH. Sedangkan
BPS dan UNFPA melakukan perhitungan AKB dengan pemisahan jenis
kelamin pada kelompok laki-laki 48.00 per 1000 KH dan perempuan 36.01 per
1000 KH. Angka ini sudah berada di bawah rata-rata angka AKB Provinsi
Jawa Barat untuk laki-laki 52.00 per 1000 KH dan perempuan 39.01 per 1000
KH.
Penurunan AKB secara bermakna dari berbagai hasil pengumpulan
data ini menunjukan bahwa penurunan AKB akan berakibat langsung terhadap
semakin bertambahnya Angka Harapan Hidup penduduk Kabupaten
Purwakarta yang menurut perhitungan sementara telah mencapai 66.72 tahun
pada tahun 2004.
Hasil SUSENAS 2001 melaporkan AKB di Indonesia dengan
memperbandingkan dengan data SUSENAS 1995 dan 1998 untuk
merefleksikan dampak pada awal masa krisis ekonomi, sebagai berikut:
Grafik 3.3
AKB di Indonesia Tahun 1995,1998, dan 2001
(per 1000 KH)

Sumber: Susenas, 2001
0
10
20
30
40
50
60
1995 1998 2001
60
49
51
AKB
28
Pendekatan lain yang dapat dipergunakan untuk melihat taraf
kesehatan bayi adalah dengan melihat data perkembangan jumlah kematian
bayi di Kabupaten Purwakarta. Disisi lain jumlah kematian bayi juga dapat
menggambarkan sisi pelayanan kesehatan yaitu pelayanan persalinan dan
kesehatan ibu dan anak yang belum optimal dan gambaran dari keadaan
masyarakat, terutama karena faktor seperti pendidikan rendah, status gizi ibu,
sosial ekonomi dan status perempuan (gender). Menurut data laporan program
KIA/KB, perkembangan jumlah kematian bayi digambarkan sebagai berikut:
Grafik 3.4
Jumlah Kematian Bayi di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2006 s/d 2010

Berdasarkan Grafik 3.4 diatas dapat dilihat bahwa jumlah kematian
bayi dari tahun ke tahun cenderung meningkat, dari tahun 2006 dengan jumlah
kasus 65 bayi hingga puncaknya pada tahun 2009 yaitu 160 kasus tetapi pada
tahun sekarang (2010) kematian bayi dapat diturunkan menjadi 142 bayi yang
terdiri dari kematian neonatus 90 kasus (63.38%) dan 52 kematian bayi
(36.62). Adapun penyebab kematian neonatus terdiri dari: BBLR (35 kasus),
Asfiksia (32 kasus), Tetanus neonatorum (2 kasus), Infeksi (1 kasus), masalah
laktasi (3 kasus) dan Lain-lain (17 kasus). Sedangkan kematian bayi
disebabkan oleh ISPA dan Diare.
65
86
128
160
142
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
2006 2007 2008 2009 2010
29
b. Angka Kematian Balita (AKABA)
Grafik 3.5
AKABA di Indonesia Tahun 1995, 1998, dan 2001 (per 1000 KH)

Sumber: Susenas, 2001
Angka Kematian Balita (0-4 tahun) adalah jumlah anak yang
meninggal sebelum mencapai umur 5 tahun per 1000 kelahiran hidup. Sampai
saat ini belum ada angka kematian balita yang khusus di Kabupaten
Purwakarta. Angka yang diperoleh dari hasil SUSENAS 2001 yang
mencerminkan AKABA tingkat nasional sebagaimana tertuang pada grafik
diatas.
Menurut laporan hasil SUSENAS 2001 Angka Kematian Balita di
Indonesia merefleksikan perubahan pada masa awal krisis ekonomi dengan
membandingkan dengan data hasil SUSENAS 1995 dan 1998, sedangkan
AKABA ditinjau menurut kawasan hasil SUSENAS 2001 untuk kawasan
Jawa dan Bali, adalah 68 per 1000 KH. Angka ini turun dari 79 per 1000 KH
pada tahun 1995 dan angka ini naik dari 60 per 1000 KH tahun 1998.
Adapun kasus kematian balita di Kabupaten Purwakarta meningkat
dari tahun 2009 sebanyak 15 kasus menjadi 22 kasus pada tahun 2010 yang
rata-rata disebabkan oleh diare dan penyakit bawaan seperti Jantung, dll.

0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
1995 1998 2001
81
65
68
AKBA
30
c. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)
Angka kematian Ibu Bersalin atau Maternal Mortality Rate (MMR)
menunjukan banyaknya ibu hamil atau ibu bersalin yang meninggal pada tiap
1000 kelahiran hidup. Angka ini berguna untuk menggambarkan status gizi
dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan
kesehatan, terutama ibu pada saat hamil, melahirkan dan masa nifas.
Sampai saat ini belum ada angka kematian ibu yang khusus untuk
tingkat Kabupaten maupun Provinsi, angka yang ada diperoleh berdasarkan
pada angka kematian ibu menurut SKRT tahun 1992 sebesar420 per 100.000
kelahiran hidup. Selanjutnya AKI untuk Provinsi Jawa Barat yang didapat dari
berbagai survey dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini:
Tabel 3.1
Angka Kematian Ibu Maternal Berdasarkan Beberapa Penelitian di Jawa
Barat
PENELITIAN /SURVEI TAHUN AKI/100.000 KH
1. Pencatatan 12 RS
2. Ujung Berung (Unpad)
3. SKKRT1980
4. Kab. Sukabumi (Unpad)
5. SKRT 1986
6. SKRT1992
7. SKRT1995
1977-1980
1978-1980
1980
1982
1986
1992
1995
370
170
150
450
450
420
373

Hasil perhitungan yang dilaksanakan oleh BPS dan Balitbangda
berdasarkan pendekatan wilayah, diperoleh AKI untuk wilayah Pantura tahun
2003 adalah 411.02 per 100.000 KH. Sedangkan hasil perhitungan BPS dan
UNFPA untuk AKI di Kabupaten Purwakarta tahun 2004 sebesar 243.07 per
100.000 KH.
Pendekatan lain yang dapat dipergunakan untuk melihat taraf
kesehatan ibu adalah dengan melihat data perkembangan jumlah kematian ibu
hamil, bersalin dan nifas (Maternal Mortality Rate) di Kabupaten Purwakarta
menurut data laporan program KIA/KB, sebagai berikut:

31
Grafik 3.6
Perkembangan Jumlah Kematian Ibu Maternal di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2006 s/d 2010

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa jumlah kematian maternal
cenderung meningkat. Walaupun kematian ibu dari tahun 2006 sampai 2007
tidak menunjukan peningkatan yang signifikan tetapi pada tahun 2009
meningkat sangat tajam yaitu hingga mencapai 33 kasus, pada tahun 2010
kasus kematian bayi berhasil diturunkan kembali. Dari jumlah tersebut 8 kasus
diantaranya meninggal pada saat kehamilan, 10 orang ibu pada saat
melahirkan dan 9 orang ibu meninggal pada masa nifas.
Penyebab kematian ibu yaitu perdarahan 10 orang (37.04%), hipertensi
4 orang (14.81%), infeksi 1 orang (3.70%) dan Lain-lain 12 orang (44.44%).
Penyebab kematian ibu maternal tertinggi disebabkan karena perdarahan.







22
25 25
33
27
0
5
10
15
20
25
30
35
2006 2007 2008 2009 2010
32
Tabel 3.2
Faktor Penyebab Kematian Ibu Maternal di Kabupaten Purwakarta Tahun
2006 sampai dengan 2010
Kasus 2006 2007 2008 2009 2010
a. Perdarahan 12 11 11 17 10
b. Eklamsi 6 3 6 0 0
c. Hipertensi 0 0 0 4 4
d. Infeksi 1 3 1 3 1
e. Lain-lain 3 8 7 9 12
Jumlah 22 25 25 33 27
Sumber: Laporan Program KIA, Tahun 2010

d. Angka Kematian Kasar (AKK)
Angka Kematian Kasar di Kabupaten Purwakarta tahun 2004 menurut
hasil penelitian BPS dan UNFPA menunjukan AKK pada laki-laki lebih besar
(7.17) dibanding perempuan (5.54). Artinya kaum perempuan mempunyai
daya tahan/daya juang yang lebih baik untuk kelangsungan hidupnya
dibanding laki-laki atau dengan kata lain kualitas hidup wanita sedikit lebih
baik dibanding laki-laki. Angka kematian kasar untuk laki-laki dan perempuan
6.36. Lebih jelasnya digambarkan dengan grafik sebagai berikut:
Grafik 3.7
Angka Kematian Kasar (CDR) Kabupaten Purwakarta Dibedakan Atas
Jenis Kelamin Laki-laki dan Perempuan Tahun 2004

Sumber: BPS, UNFPA 2004
0
2
4
6
8
Laki-laki Perempuan Total
7.17
5.54
6.36
33
C. Kesakitan
a. Keluhan Gangguan Kesehatan dan Keluhan Sakit
Suseda 2007 memberikan gambaran kesakitan di masyarakat menurut
keluhan gangguan kesehatan yang dialami anggota rumah tangga dan keluhan
sakit selama satu bulan terakhir, hal ini lebih mengarah pada persepsi
masyarakat mengenai apa yang dirasakan oleh badannnya selama satu bulan
terakhir, sebagaimana grafik dibawah ini:
Grafik 3.8
Persentase Penduduk yang Mengalami Keluhan Kesehatan
Selama Satu Bulan Terakhir, Suseda 2007

Sumber: BPS, Suseda 2007
Masyarakat Kabupaten Purwakarta yang mengeluhkan adanya
gangguan kesehatan sebesar 38.24% pada perempuan dan 36.43% laki-laki
selama satu bulan terakhir. Angka keluhan pada kelompok perempuan lebih
besar dibandingkan pada laki-laki, artinya laki-laki masih memiliki daya tahan
tubuh yang lebih baik dibandingkan kelompok perempuan. Sedangkan dalam
Suseda 2008 tidak didapat data mengenai masyarakat yang mengeluh adanya
gangguan kesehatan selama satu bulan terakhir. Dari hasil penelitian lain yang
dilakukan oleh badan UNDP pada tahun 1999 melaporkan bahwa persentase
penduduk Kabupaten Purwakarta yang mengalami masalah kesehatan
0
10
20
30
40
50
60
70
Laki-laki Laki-laki Perempuan Perempuan
Ya
34
sebanyak 38%. Angka ini lebih tinggi dari angka rata-rata Provinsi Jawa Barat
sebesar 22,2%. Sedangkan untuk angka kesakitan Kabupaten Purwakarta
menurut badan UNDP sebesar 20%. Angka kesakitan inipun lebih tinggi dari
rata-rata Provinsi Jawa Barat sebesar 12,8%.
Menurut Suseda 2009 dari mereka yang melaporkan keluhan sakit di
Kabupaten Purwakarta ternyata panas, batuk, pilek, Asma/sesak napas,
diare/buang air, sakit kepala, sakit gigi merupakan keluhan utama yang
dikeluhkan masyarakat. Keragaman keluhan kesehatan di Kabupaten
Purwakarta dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 3.3
Persentase Keluhan Panas, Batuk, Piiek, Asma, Diare, Sakit Kepala, Sakit
Gigi dan Lainnya di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2009
Jenis keluhan sakit
%
Ya Tidak
Panas 14.91 85.09
Batuk 13.90 86.10
Pilek 15.23 84.77
Asma/Napas Sesak/Cepat 2.46 97.54
Diare / buang air 2.14 97.86
Sakit Kepala Berulang 7.77 92.23
Sakit Gigi 2.36 97.64
Lainnya 13.09 86.91
Sumber: BPS, Suseda 2009
Rasa sakit yang paling banyak dikeluhkan oleh masyarakat di
Kabupaten Purwakarta selama satu bulan terakhir yaitu panas (14.91%), batuk
(13.90%) dan pilek (15.23%). Dengan demikian keluhan rasa sakit yang
paling banyak dikeluhkan oleh masyarakat adalah penyakit saluran
pernapasan, hal ini perlu diwaspadai terutama pada anak balita karena keluhan
panas, batuk, pilek lebih banyak menyerang pada anak balita. Oleh sebab itu
sanitasi lingkungan disekitar pemukiman masyarakat harus lebih ditingkatkan.



35
b. Pola Penyakit Rawat Jalan dari Laporan Puskesmas
Angka kesakitan meliputi pola penyakit, penyakit menular dan
penyakit tidak menular baik yang global maupun yang spesifik. Seringkali
tidak mudah menghitung morbiditas penyakit, data yang tersedia baru
menggambarkan jumlah kasus yang ditemukan dari fasilitas pelayanan
kesehatan milik pemerintah saja, sedangkan dari fasilitas kesehatan swasta
belum masuk ke dalam sistem pelaporan sehubungan masih terbatasnya akses
perolehan data. Berikut ini akan digambarkan pola penyakit rawat jalan
menurut golongan umur 0-28 hari, 29 hari - < 1 tahun, 1-4 tahun, 5-44 tahun,
45-64 tahun dan >= 65 tahun.
a) Pola Penyakit di Puskesmas Golongan Umur 0-28 hari
Tabel 3.4
Sepuluh Penyakit Utama Rawat Jalan Puskesmas Golongan Umur 0-28 Hari
di Kabupaten Purwakarta, Tahun 2010
No. Nama Penyakit
Penderita
Jumlah %
1 Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut 223 40.55
2 Broncho Pneumonia 105 19.09
3 Dermatitis 76 13.82
4 Demam yang tidak diketahui sebabnya 57 10.36
5 Diare dan Gastroenteritis 17 3.09
6 Konjungtivitis 7 1.27
7 Skabies 2 0.36
8 Penyakit lainnya 63 11.45
Jumlah 550 100

Pola penyakit golongan umur 0-28 hari dari fasilitas rawat jalan
puskesmas masih didominasi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh
mikroorganisme seperti ISPA, Broncho Pneumonia dan Diare.

b) Pola Penyakit di Puskesmas Goiongan Umur 29 hari - < 1 tahun
Pada tabel 3.5 dibawah ini digambarkan pola penyakit dari rawat jalan
puskesmas pada goiongan umur 29 hari - < 1 tahun. Pada goiongan umur ini
36
pola penyakit didominasi oleh penyakit infeksi mikroorganisme seperti ISPA,
Diare dan Broncho Pneumonia. Selengkapnya digambarkan sebagai berikut:
Tabel 3.5
Sepuluh Penyakit Utama Rawat Jalan Puskesmas
Golongan Umur 29 hari - < 1 tahun di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2010
No. Nama Penyakit
Penderita
Jumlah %
1 Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut 5,537 44.75
2 Diare dan Gastroenteritis 4,448 19.79
3 Broncho Pneumonia 1,887 15.25
4 Dermatitis 889 7.19
5 Demam yang tidak diketahui sebabnya 660 5.33
6 Demam Tifoid dan Paratifoid 222 1.79
7 Konjungtivitis 193 1.56
8 Skabies 34 0.27
9 Campak 30 0.24
10 Tuberkulosis paru klinis 30 0.24
11 Penyakit Lainnya 442 3.57
JUMLAH 12.372 100

c) Pola Penyakit di Puskesmas Golongan Umur 1-4 Tahun











37
Tabel 3.6
Sepuluh Penyakit Utama Rawat Jalan Puskesmas
Golongan Umur 1-4 Tahun di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2010
No. Nama Penyakit
Penderita
Jumlah %
1 Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut 12,712 45.48
2 Diare dan Gastroenteritis 4,503 16.11
3 Broncho Pneumonia 3,095 11.07
4 Dermatitis 2,047 7.32
5 Demam yang'tidak diketahui sebabnya 1,332 4.77
6 Penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal 492 1.76
7 Konjungtivitis 395 1.41
8 Penyakit Gusi, jaringan Periodontal dan tulang alweolar 393 1.41
9 Demam Paratifoid 337 1.21
10 Otitis Media Supurativa 239 0.86
11 3enyakit lainnya 2.404 8.60
JUMLAH 27.949 100

Pada tabel 3.6 diatas digambarkan pola penyakit dari rawat jalan
puskesmas pada golongan 1-4 tahun. Pada golongan umur ini pola penyakit
didominasi oleh penyakit infeksi mikroorganisme seperti ISPA dan Diare.

d) Pola Penyakit di Puskesmas Golongan Umur 5-44 Tahun









38
Tabel 3.7
Sepuluh Penyakit Utama Rawat Jalan Puskesmas
Golongan Umur 5-44 Tahun di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2010
No. Nama Penyakit
Penderita
Jumlah %
1 Penyakit Infeksi Saluran Pemafasan Atas Akut 46,003 34.70
2 Diare dan Gastroenteritis 23,384 17.64
3 Penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal 11,619 8.77
4 Dispepsia . 10,262 7.74
5 Dermatitis 9,759 7.36
6 Demam yang tidak diketahui sebabnya 4,010 3.03
7 Konjungtivitis 3,340 2.52
8 Penyakit Gusi, jaringan Periodontal dan tulang alweolar 3,289 2.48
9 Broncho Pneumonia tidak spesifik 2,328 1.76
10 Hipertensi Primer (essensial) 1,943 1.47
11 Penyakit lainnya 16.621 12.53
JUMLAH 132.558 100

Pada tabel 3.7 digambarkan pola penyakit dari rawat jalan puskesmas
pada golongan umur 5-44 tahun. Pada golongan umur ini pola penyakit
didominasi oleh penyakit infeksi mikroorganisme seperti ISPA, diare dan
gastroenteritis dan penyakit pulpa dan jaringan periapikal.

e) Pola Penyakit di Puskesmas Golongan Umur 45-64 Tahun
Pada tabel 3.8 dibawah ini digambarkan pola penyakit dari rawat jalan
puskesmas pada golongan umur 45-64 tahun. Pada golongan umur ini pola
penyakit didominasi oleh penyakit ISPA, Hipertensi, dan Tukak lambung.





39
Tabel 3.8
Sepuluh Penyakit Utama Rawat Jalan Puskesmas
Golongan Umur 45-69 Tahun di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2010
No. Nama Penyakit
Penderita
Jumlah %
1 Penyakit Infeksi Saluran Pemafasan Atas Akut 16,342 24.65
2 Diare dan Gastroenteritis 12,880 19.42
3 Dispepsia 9,698 14.63
4 Hipertensi Primer (essensial) 6,544 9.87
5 Dermatitis 3,209 4.84
6 Rematisme 2,349 3.54
7 Diabetes Melitus 1,997 3.01
8 Demam yang tidak diketahui sebabnya 1,564 2.36
9 3enyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal 1,510 2.28
10 Penyakit Gusi, jaringan Periodontal dan tulang alweolar 1,456 2.20
11 Penyakit lainnya 8.759 13.20
JUMLAH 66.308 100

f) Pola Penyakit di Puskesmas Golongan Umur 70 Tahun
Tabel 3.9
10 Penyakit Utama Rawat Jalan Puskesmas
Golongan Umur 70 Tahun di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2010
No. Nama Penyakit
Penderita
Jumlah %
1 Penyakit Infeksi Saluran Pemafasan Atas Akut 1,760 25.88
2 Diare dan Gastroenteritis 1,001 14.72
3 Hipertensi Primer (essensial) 976 14.35
4 Dispepsia 948 13.94
5 Rematisme 409 6.01
6 Dermatitis 353 5.19
7 Diabetes Melitus 194 2.85
8 Demam yang tidak diketahui sebabnya 128 1.88
9 Penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal 108 1.59
10 Tuberkulosis paru klinis 99 1.46
11 Penyakit lainnya 825 12.13
JUMLAH 6.801 100

40
Pada tabel 3.9 diatas digambarkan pola penyakit dari rawat jalan
puskesmas pada golongan umur => 65 tahun. Pada golongan umur ini pola
penyakit didominasi oleh penyakit ISPA, Hipertensi dan Diare.

c. Pola Penyakit Rawat Jalan dari Rumah Sakit di Kabupaten
Purwakarta
a) Pola Penyakit Rawat Jalan di Rumah Sakit Menurut Semua
Golongan Umur
Tabel 3.10
Pola 10 Penyakit Terbanyak Penderita Rawat Jalan Di Rumah Sakit Untuk
Semua Golongan Umur Di Kabupaten Purwakarta Tahun 2009-2010
2009 2010
No Jenis Penyakit Jumlah % No Jenis Penyakit Jumlah %
1 Tuberkulosis Paru 6.035 18,79 1 Infeksi saluran
napas bagian atas
akut
11.863 15,49
2 Diare dan
Gastroenteritis
5.005 15,58 2 Dispepsia 4.729 6,17
3 Hipertensi esensial
(primer)
3.848 11,98 3 Tuberkulosis Paru 4.649 6,07
4 Gastritis 3.465 10,79 4 Diare dan
Gastroenteritis
4.264 5,57

5 Infeksi saluran
napas bagian atas
akut
2.728 8,49 5 Infeksi kulit dan
jaringan subkutan
2.196 2,87
6 Demam Berdarah
Dengue
1.331 4,14 6 Demam thypoid
dan parathypoid
1.615 2,11
7 Penyakit pulpa dan
periapikal
1.006 3,13 7 Penyakit telinga
dan prosesus
mastoid
1.210 1,58
8 Thypoid 940 2,93 8 Cedera 838 1,09
9 Bronchopneumonia 759 2,36 9 Bronchopneumon
ia
803 1,05
10 Infeksi kulit dan
jaringan subkutan
439 1,37 10 Hipertensi
esensial(primer)
781 1,02
11 Lain-lain 6.559 20,42 11 Lain-lain 43.655 56,99
Jumlah 32.115 100 Jumlah 76.603 100
Sumber: Rumah Sakit Kab. Purwakarta, 2010. (Data Diolah)
41
Pada tabel 3.10 diatas dapat diketahui bahwa urutan pertama 10 besar
penyakit rawat jalan di rumah sakit Kabupaten Purwakarta yaitu tuberkulosis
paru merupakan penyakit yang paiing tinggi pada tahun 2009, pada tahun
2010 pun penyakit tuberkulosis paru masih berada pada urutan ke tiga. Pada
tahun 2009 maupun 2010 penyakit yang dominan adalah penyakit infeksi.

b) Pola Penyakit Rawat Inap di Rumah Sakit Menurut Semua Gol.
Umur
Pola 10 penyakit terbanyak rawat inap pada semua golongan umur di
rumah sakit Kabupaten Purwakarta keadaan tahun 2010, masih didominasi
oleh penyakit infeksi seperti Diare dan Gastroenteritis dan DBD. Untuk lebih
jelasnya lihat tabel 3.11 berikut ini:
Tabel 3.11
Pola 10 Penyakit terbanyak Penderita Rawat Inap di Rumah Sakit Untuk
Semua Golongan Umur di Kabupaten Purwakarta Tahun 2009-2010
2009 2010
No Jenis Penyakit Jumlah % No Jenis Penyakit Jumlah %
1 Diare dan 1.494 15,38 1 Diare dan 2.284 9,43
Gastroenteritis Gastroenteritis
2 Demam Berdarah
Dengue
1.212 12,48 2 Demam Berdarah
Dengue
988 4,08
3 Tuberkulosis Paru 550 5,66 3 Tuberkulosis Paru 831 3,43
4 Demam thypoid dan 461 4,75 4 Demam thypoid dan 798 3,30
parathypoid parathypoid
5 Hipertensi esensial 419 4,31 5 Hipertensi esensial 768 3,17
(primer) (primer)
6 Bronchopneumonia 375 3,86 6 Bronchopneumonia 692 2,86
7 Demam Dengue 288 2,97 7 Janin dan bayi baru
lahir yang dipengaruhi
oleh faktor penyulit
kehamilan dan
persalinan
691 2,85
8 Infeksi saiuran napas
bagian atas akut
223 2,30 8 Dispepsia 618 2,55
9 Gastritis 204 2,10 9 Viral/bacterial infection 593 2,45
10 Demam yang sebabnya
tak diketahui
198 2,04 10 Penyakit saluran kemih 436 1,80
11 Lain-lain 4.289 44,16 11 Lain-lain 15.518 64,08
Jumlah 9.713 100 Jumlah 24.217 100
Sumber: Rumah Sakit Kab. Purwakarta, 2010 (Data Diolah)
42
Melihat data pola penyakit rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit
pada semua golongan umur ternyata tidak berbeda jauh dengan pola penyakit
di Puskesmas yaitu masih didominasi oleh penyakit-penyakit karena infeksi
mikroorganisme. Hal ini menunjukkan masih banyaknya penyakit yang
disebabkan oleh infeksi mikroorganisme yang berhubungan dengan kondisi
lingkungan, perilaku hidup sehat dan kerentanan tubuh.

d. Pola Penyakit yang Diamati
a) Penyakit Menular
(a) Penyakit Menular Bersumber Binatang
Malaria
Pada tahun 2010 penyakit malaria positif sebanyak 57
kasus (6.68 per 100.000 penduduk) dan 10 kasus malaria klinis
(1.17 per 100.000 penduduk). Dimana kasus yang terjadi di 8
Kecamatan yaitu Kecamatan Jatiluhur 3 kasus, Plered 12 kasus,
Sukatani 18 kasus, Darangdan 4 kasus, Maniis 8, Tegalwaru
12, Pasawahan 7 dan sukasari 1 dari 67 kasus tersebut yang
diobati hanya penyakit malaria positif saja sebanyak 57 kasus.
Penyakit malaria ini merupakan penyakit impor bukan terjadi
di Purwakarta, walaupun demikian perlu diwaspadai karena
vektor penyebabnya diwilayah Purwakarta pun ada. Sedangkan
hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) pada tahun 2007
penyakit malaria di Kabupaten Purwakarta berdasarkan hasil
diagnosa tenaga kesehatan sebesar 0,1% dan berdasarkan
diagnosa gejala penyakit malaria mencapai 0,15%.

Demam Berdarah Dengue (DBD)
Pada tahun 2009 terdapat 968 orang penderita DBD
dengan angka insiden 114.49 per 100.000 penduduk sedangkan
pada tahun 2010 menurun sangat drastis. Berdasarkan laporan
yang diterima Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta
43
sebanyak 300 kasus dengan angka insiden mencapai 35.20 per
100.000 penduduk. Penyebaran kasus DBD erat kaitannya
dengan meningkatnya mobilitas penduduk, yang ditunjang
dengan semakin baiknya sarana transportasi, sehingga nyamuk
penular (vektor) DBD tersebar luas baik di rumah, lingkungan
pemukimam, sekolah maupun tempat-tempat umum.
Peningkatan kasus DBD yang begitu tajam harus
diwaspadai karena kasus DBD ini tersebar diseluruh kecamatan
di Kabupaten Purwakarta terutama di daerah perkotaan dengan
jumlah kasus Puskesmas Purwakarta sebanyak 48 kasus,
Puskesmas Munjuljaya 66 kasus dan Puskesmas Koncara 40
kasus.

Filariasis
Pada tahun 2002 Dinas Kesehatan Prop. Jawa Barat
bersama Depkes RI melaksanakan survei Mikrofilaria di
Kecamatan Tegalwaru dengan hasil negatif. Pada tahun 2005
kasus filariasis ditemukan 16 kasus, pada tahun 2006 dan 2007
menurun menjadi hanya 10 kasus Filariasis di Kecamatan
Tegalwaru sedangkan pada tahun 2008 hanya 3 kasus baru
filariasis yang ditemukan di Kabupaten Purwakarta. Selama ini
kasus filariasis hanya ditemukan di Kacamatan Tegalwaru
tetapi pada tahun 2008 tersebar di 3 kacamatan yaitu
Kecamatan Purwakarta, jatiluhur dan Sukatani, pada tahun
2009 kasus filariasis hanya ditemulan 1 kasus yaitu di
Kecamatan Plered dan tahun 2010 ditemukan 4 kasus yaitu
Kecamatan Purwakarta 1 kasus, Jatiluhur 1 kasus dan
Tegalwaru 2 kasus.



44
(b) Penyakit Menular Langsung
Penyakit Diare
Penyakit Diare bersifat endemis. Hal ini berhubungan
langsung dengan kondisi sanitasi lingkungan dan hygiene
perorangan serta pengelolaan makanan. Jumlah kasus Diare
yang dilaporkan oleh puskesmas di Kabupaten Purwakarta
untuk semua golongan umur pada tahun 2010 adalah 14.964
penderita dengan angka insiden 17.56 per 1.000 penduduk.
Kasus diare menurun bila dibanding tahun 2009 adalah 25.445
penderita dengan angka insiden 30.09 per 1.000 penduduk.
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007, 4.9% terdiagnosa
diare oleh tenaga kesehatan sedangkan menurut diagnosa gejala
terdapat 10,2% dinyatakan menderita diare.

Penyakit Pneumoni
Pada tahun 2010 jumlah penyakit pneumoni dari
laporan puskesmas sebanyak 4.103 penderita balita yang
ditangani, angka ini sedikit meningkat dari 4.100 penderita
pada tahun 2009. Berdasarkan hasil diagnosa dalam kegiatan
Riskesdas tahun 2007 terdapat 8,5% anak balita yang
terdiagnosa ISPA dan 1,1% terdiagnosa pneumonia. Tetapi
berdasarkan diagnosa gejala terdapat 27.1% terdiagnosa ISPA
dan 1.8% pneumonia. Di Provinsi Jawa Barat ISPA tertinggi di
Kabupaten Karawang, sedangkan Pneumonia tertinggi di
Kabupaten Cirebon.

Penyakit Kusta
Pada tahun 2009 penyakit kusta di Kabupaten
Purwakarta terdapat 4 kasus penderita kusta type PB dan type
MB sebanyak 14 penderita hingga jumlah seluruhnya sebanyak
45
28 orang, sedangkan pada tahun 2010 hanya 28 kasus yang
terdiri dari 2 kasus type PB dan 26 kasus type MB.

Penyakit Tuberkulosis Paru (Tb. Paru)
Pada tahun 2010 jumlah penyakit Tb Paru klinis dari
laporan puskesmas sebanyak 4.173 penderita, Tb Paru positif
sebanyak 472 penderitan. Jumlah penderita Tb paru positif
menurun jika dibandingkan tahun 2009 yaitu sebesar 499
penderita, dari jumlah tersebut semua penderita diobati
sedangkan penderita yang dinyatakan sembuh mencapai
92,59%. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007 penyakit Tb.
Paru Kabupaten Purwakarta menempati tiga prevalensi
tertinggi di Jawa Barat berdasarkan diagnosa gejala yaitu
sebesar 2.3% sedangkan menurut hasil diagnosa oleh tenaga
kesehatan yaitu sebesar 1.0% saja yang menderita Tb.Paru .

Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS
Pada tahun 2009 penderita IMS sebanyak 162 penderita
sedangkan pada tahun 2010 menurun menjadi 39 penderita.
Mengingat bahanyanya penyakit IMS maka Dinas Kesehatan
tidak boleh berhenti untuk memberikan penyuluhan . baik
kepada remaja maupun masyarakat mengenai bahayanya gaya
hidup freesex.
Penderita HIV/AIDS terdapat sebanyak 25 kasus pada
tahun 2010 kasus HIV/AIDS meningkat lebih dari 6 kali lipat
jika dibandingkan dengan tahun 2009 yang hanya 4 kasus
HIV/AIDS ditemukan di Kabupaten Purwakarta. Hal ini
menuntut kewaspadaan dari Dinas Kesehatan karena penyakit
ini belum bisa disembuhkan dan dapat dengan mudah menular
kepada pasangan hidup bahkan kepada anak dari ibu yang
terinfeksi HIV/AIDS.
46
(c) Penyakit PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi)
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari Puskesmas, maka
gambaran kasus penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi
pada tahun 2010, dapat diuraikan sebagai berikut :
Penyakit Difteri
Penyakit difteri merupakan salah satu penyakit yang
banyak menyerang anak-anak, terutama anak yang belum
mendapatkan imunisasi. Pada tahun 2008 sampai 2010 di
Kabupaten Purwakarta tidak ditemukan penyakit difteri.

Penyakit Pertusis
Penyakit pertusis merupakan salah satu penyakit yang
banyak menyerang anak-anak, terutama anak yang belum
mendapatkan imunisasi. Pada tahun 2003 berdasarkan laporan
dari puskesmas ditemukan 1 penderita penyakit Pertusis,
dengan demikian maka terdapat 0.13 penderita per 100.000
penduduk. Sampai tahun 2009 sampai tahun 2010 tidak
ditemukan penderita penyakit pertusis di Kabupaten
Purwakarta.

Penyakit Tetanus
Penyakit Tetanus merupakan penyakit yang menyerang
anak-anak dan dewasa, terutama anak yang belum
mendapatkan imunisasi. Sampai dengan tahun 2010 tidak
terdapat kasus tetanus dari laporan puskesmas.

Penyakit Tetanus Neonatorum (TN)
Penyakit Tetanus Neonatorum adalah penyakit yang
menyerang bayi/neonatal. Upaya pencegahan penyakit TN
telah dilakukan melalui imunisasi pada ibu hamil, serta
47
pelatihan bagi paraji. Pada tahun 2009 ditemukan 4 kasus TN
dengan angka insiden sebesar 0,47 per 100.000 penduduk dan
tahun 2010 kasus TN meningkat menjadi 3 kasus dengan angka
inciden 0,35 per 100.000 penduduk.

Penyakit Poliomielitis dan Lumpuh layuh / Acute Flaccid
Paralysis (AFP)
Penyakit Poliomielitis merupakan salah satu penyakit
yang dapat dicegah dengan imunisasi, pemantauan terhadap
kasus poliomielitis dilaksanakan dengan surveilans AFP, sesuai
dengan tahapan eradikasi polio. Tahun-tahun sebelumnya kasus
AFP fluktuatif tetapi pada tahun 2006 sampai dengan sekarang
tahun 2009 kasus AFP tetap yaitu 2 kasus dengan angka
insiden sebesar 0.87 per 100000 penduduk dibawah usia 15
tahun sedangkan tahun 2010 penyakit AFP meningkat menjadi
4 kasus dengan angka inciden 0,57 per 100000 penduduk
dibawah usia 15 tahun.

Penyakit Campak
Penyakit Campak merupakan salah satu penyakit yang
banyak menyerang anak-anak, terutama anak yang belum
mendapatkan imunisasi dan status gizinya kurang. Pada tahun
2009 kasus campak sebanyak 50 kasus dengan angka insiden
5.91 per 100.000 penduduk, tahun 2010 kasus campak
meningkat sangat tajam hingga mencapai 208 kasus dengan
angka inciden 24.40 per 100.000. Kasus penyakit campak
sering kali terjadi pada anak berumur dibawah 4 tahun. Dengan
melihat peningkatan penyakit campak yang sangat melambung
tinggi di Kabupaten Purwakarta, hal ini menuntut kinerja
petugas kesehatan khususnya dalam imunisasi campak
48
sehingga setiap anak bisa mampunyai kekebalan terhadap
penyakit ini.
Berdasarkan Riskesdas 2007 di Kabupaten Purwakarta
terdapat 1,3% terdiagnosa campak sedangkan berdasarkan
diagnosa gejala terdapat 2,2%. Meskipun sudah di bawah
prevalensi Nasional namun Purwakarta termasuk tiga
Prevalensi tertinggi di Jawa Barat Penyakit campak ini masih
perlu diwaspadai karena di Indonesia masih terdapat kantong-
kantong penyakit campak sehingga tidak jarang terjadi KLB
campak.

Penyakit Hepatitis
Penyakit Hepatitis merupakan penyakit yang dapat
menyerang semua golongan umur. Pencegahan dilakukan
dengan imunisasi Hepatitis B. Pada tahun 2004 ditemukan 1
penderita (0.13 per 100.000 penduduk) dari laporan Puskesmas
dan 6 penderita (0.78 per 100.000 penduduk) dari laporan
Rumah Sakit, sampai tahun 2009 tidak ditemukan kasus
hepatitis B baik dari laporan Puskesmas, tetapi pada tahun 2010
penyakit Hepatitis B ditemukan mencapai 38 kasus dari laporan
Puskesmas (4.45 per 100.000 penduduk). Penyakit hepatitis ini
mempuanyai gejala seperti mual, muntah, tidak napsu makan,
nyeri perut sebelah kanan atas, kencing warna air teh serta kulit
dan mata berwarna kuning. Di Kabupaten Purwakarta terdapat
0,4% terdiagnosa hepatitis dan 1,0% berdasarkan diagnosa
gejala, angka ini didapat berdasarkan hasil Riskesdas tahun
2007.



49
(d) Penyelenggaraan Penyelidikan epidemiologi dan
penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan gizi buruk
Pada tahun 2010 terdapat 5 macam Kejadian Luar Biasa
yang terjadi di Kabupaten Purwakarta, yaitu Tetanus Neonatorum,
keracunan makanan, HFMD (Hand Foot Mouth Desease), malaria
dan campak, dengan rincian sebagai berikut:
KLB Tetanus Neonatorum terjadi di 2 kecamatan yaitu
Kecamatan Wanayasa (Desa Taringgultonggoh dan Wanayasa)
dan Kecamatan Sukasari (Desa Kutamanah). Jumlah penderita
sebanyak 3 orang dengan kematian penderita 2 orang (CFR
66.67%)
KLB Keracunan makanan terdiri dari 4 jenis keracunan yaitu :
1. Keracunan makanan (hajatan/syukuran) terjadi di
Kecamatan Sukatani (Desa Pasirmunjul).
2. Keracunan jamur terjadi di Desa Nangewer Kecamatan
Darangdan.
3. Keracunan makanan (hajatan/syukuran) terjadi di Desa
Sindangsari Kecamatan Bojong.
4. Keracunan jajanan es doger di sekolah SDN I Cijantung,
Desa Cijantung Kecamatan Sukatani. Jumlah penderita dari
Keempat jenis keracunan tersebut sebanyak 175 orang.
KLB HFMD terjadi di Desa Cibogohilir Kecamatan Plered
dengan jumlah penderita 6 orang.
KLB Malaria terjadi di Desa Nagasari Kecamatan Pasawahan
dengan jumlah penderita 13 orang tanpa kematian.
KLB Campak terjadi di Kecamatan Plered (Desa Citeko,
Cibogogirang dan Rawasari), Desa Warungjeruk Kecamatan
Tegalwaru, Kelurahan Sindangkasih Kecamatan Purwakarta
dan Desa Sindanglaya Kecamatan Sukatani, dengan jumlah
penderita yang terjangkit sebanyak 172 orang dengan kematian
sebanyak 1 orang (CFR 0.58%).
50
Kejadian KLB di 19 desa dengan jumlah penderita
mencapai 369 orang, semua desa ditangani dalam waktu > 24 jam
dengan cakupan 100%.

b) Penyakit Tidak Menular
(a) Kesehatan Gigi
Menurut hasil penelitian prevalensi penyakit karies gigi
masyarakat di Provinsi Jawa Barat rata-rata 78,9%. Sedangkan
untuk prevalensi penyakit periodontal di masyarakat Jawa Barat
rata-rata 85,7%. Dari penelitian yang sama dikatakan bahwa
prevalensi karies lebih besar di perkotaan di banding di daerah
pedesaan. Hal ini bisa dihubungkan dengan pola makan di
perkotaan yang lebih banyak mengkonsumsi makanan yang
mengandung gula. Sedangkan prevalensi penyakit periodontal
lebih tinggi di pedesaan dari pada perkotaan. Hal ini dapat
dikaitkan dengan perilaku kebiasaan menggosok gigi di
masyarakat yang belum baik dan merupakan faktor penyebab
terjadinya penyakit pada gusi dan jaringan periodontal.
Hasil upaya pelayanan kesehatan gigi di Kabupaten
Purwakarta dari tahun 2006 sampai 2010 dari laporan SP3
Puskesmas dapat digambarkan pada tabel berikut ini :
Tabel 3.12
Upaya Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Di Kabupaten
Purwakarta Tahun 2006 s/d 2010
Tahun
Jumlah Tumpatan
Gigi Tetap
Jumlah
Pencabutan Gigi
Tetap
Total T/C
2006 1.095 3.662 4.757 0.30
2007 1.128 2.570 3.698 0.44
2008 1.524 3.512 5.036 0.43
2009 1.621 3.532 5.153 0.46
2010 1.449 3.541 4.990 0.41

51
Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa pelayanan
kesehatan gigi dan mulut dari tahun 2005 sampai tahun 2009
terjadi peningkatan tetapi tahun 2010 menurun walaupun
penurunannya tidak signifikan, hal ini menggambarkan
pengetahuan dan perhatian masyarakat akan arti pentingnya
kesehatan gigi dan mulut meningkat didukung pula oleh
meningkatnya perilaku masyarakat untuk bisa menjaga kebersihan
dan kesehatan gigi terutama dengan cara menggosok gigi secara
teratur. Pada tahun 2009 pelayanan kesehatan gigi yang meliputi
tindakan terhadap tumpatan gigi tetap dan pencabutan gigi tetap
sebanyak 5.153 dan pada tahun 2009 meningkat hingga mencapai
4.990.
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007, masyarakat
Kabupaten Purwakarta yang mengalami masalah gigi dan mulut
sebanyak 30,2%, yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi
sebanyak 29,1%, sedangkan masyarakat yang sudah hilang seluruh
gigi asli sebesar 0,6%. Masalah kesehatan gigi dan mulut lebih
banyak diderita oleh perempuan (26,5%) dibandingkan oleh laki-
laki (24,1%), hal ini sesuai dengan data yang menerima perawatan
dari tenaga medis gigi lebih banyak diterima oleh perempuan
dibandingkan laki-laki. Tetapi data hilang seluruh gigi asli lebih
banyak pada laki-laki (0,7%) dibandingkan pada perempuan
(0,6%).
Jenis perawatan/pengobatan kesehatan gigi yang pernah
diterima oleh masyarakat diantaranya : pengobatan gigi,
penambalan/pencabutan/bedah gigi, pemasangan gigi
lepasan/tiruan, konseling perawatan/kebersihan gigi dan lainnya.
Penduduk yang mendapatkan pengobatan gigi dalam 12 bulan
terakhir di Kabupaten Purwakarta sebanyak 89,9%, yang menerima
penambalan/pencabutan/bedah gigi sebanyak 37,0%, pemasangan
gigi lepasan/tiruan sebesar 2,5%, yang mendapatkan konseling
52
perawatan/kebersihan gigi sebesar 13,4% dan lainnya sebesar
0,9%.

(b) Kecelakaan Lalu Lintas
Kejadian kecelakaan lalu lintas selama tahun 2010 menurut
keterangan dari POLRES Purwakarta tercatat ada 120 kasus
kejadian kecelakaan dengan jumlah korban meninggal 80 orang
(36.70%), korban luka berat ada 61 orang (27.98%) dan luka
ringan ada 77 orang (35.32%).

(c) Status Gizi
Secara umum status gizi masyarakat sudah mengalami
peningkatan, antara lain karena keberhasilan Program Upaya
Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) melalui pelayanan gizi di
posyandu. Namun dampak dari krisis moneter yang terjadi masih
mempengaruhi pola konsumsi masyarakat sehingga derajat
kesehatan dan status gizi masyarakat belum membaik. Masalah
utama gizi masyarakat di Indonesia masih diwarnai masalah
Kurang Energi Protein (KEP), Gangguan Akibat Kekurangan
Yodium (GAKY), Anemia Gizi Besi (AGB) dan Kekurangan
Vitamin A (KVA).
Kurang Energi Protein (KEP)
Status gizi balita dinilai berdasarkan Berat Badan /
Umur pada saat tertentu (BB/U) dibandingkan dengan standar
WHO-NCHS, dan diperoleh status gizi. Dari hasil kegiatan
Bulan Penimbangan Balita pada Bulan Agustus 2009 diperoleh
status gizi balita sebagai berikut:




53
Tabel 3.13
Status Gizi Anak Balita di Kabupaten Purwakarta Tahun 2006 s/d 2010
No
Status Gizi
Balita
Tahun
2005
(%)
2006
(%)
2007
(%)
2008
(%)
2009
(%)
1 Gizi Buruk 0.88 0.65 1.21 0.84 0.86
2 Gizi Kurang 7.00 10.36 8.60 8.26 5.63
3 Gizi Baik 91.26 87.01 88.57 89.41 92.20
4 Gizi Lebih 0.86 2.01 1.63 1.49 1.31

Pada tabel 3.13 diatas terlihat bahwa anak balita dengan
gizi baik pada tahun 2010 meningkat dari 92.20% tahun 2009
menjadi 88.57%. Peningkatan ini diikuti dengan menurunnya
persentase anak balita gizi kurang dari 8.26% menjadi 5.63%
dan gizi lebih dari 1.49% menjadi 1.31% akan tetapi gizi buruk
terjadi peningkatan sebesar 0.02% dari 0.84% menjadi 0.86%.
Data hasil Bulan Penimbangan Balita pada Bulan Agustus 2010
merupakan hasil penghitungan Berat Badan dibagi dengan
Umur anak, anak balita dengan status gizi buruk dan status gizi
kurang merupakan prioritas garapan yang harus ditangani
dengan baik.
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007 gizi buruk
pada anak balita mencapai 3,6%, gizi kurang sebesar 8,5%, gizi
baik hanya mencapai 85,0% dan gizi lebih mencapai 2,9%.
Dengan melihat data diatas diperlukan adanya kewaspadaan
karena capaian gizi buruk dan gizi lebih berada diatas cakupan
program di Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta.





54
Grafik 3.9
Gambaran Status Gizi Balita di Kabupaten Purwakarta
Hasil Butan Penimbangan Balita Bulan Agustus 2010

Gambaran keadaan status gizi anak balita adalah
gambaran status gizi sesaat (akut) pada waktu dilakukan
pengukuran dengan patokan berat badan dibanding umur
(BB/U), sedangkan untuk melihat perjalanan masukan (intake)
gizi jangka panjang (kronis) dapat dilihat dari hasil pengukuran
tinggi badan dibanding dengan umur (PB/U) pada anak baru
masuk sekolah SD/MI, yang dilaksanakan di 16 kecamatan
dengan jumlah murid 99.597 dan yang diukur berjumlah
19.535 (19.61%), dengan hasil sebagai berikut :
Grafik 3.10
Gambaran Status Gizi Anak Baru Masuk Sekolah (TB-
ABS) di Kabupaten Purwakarta Tahun 2004

1.31
0.86
5.63
92.2
Buruk
Kurang
Baik
Lebih
0
20
40
60
80
Sangat Pendek Pendek Normal
9.8
17
73.1
55
Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa tinggi badan
pada anak baru masuk sekolah didominasi oleh anak dengan
tinggi badan yang normal yaitu mencapai 73.1%, hal ini
menunjukan status gizi anak baru masuk sekolah baik. Data ini
dari tahun 2005 sampai sekarang tidak tersedia data yang
terbaru.
Indikator TB/U menggambarkan status gizi yang
sifatnya kronis, artinya sebagai akibat dari keadaan yang
beriangsung lama seperti kemiskinan, perilaku pola asuh yang
tidak tepat, sering menderita penyakit secara berulang karena
higiene dan sanitasi yang kurang baik. Pada tahun 2007 (hasil
Riskesdas) data Kabupaten Purwakarta sangat pendek sebesar
12,0%, pendek 18,7% dan normal 69,3%, hal ini menuntut
kewaspadaan tenaga kesehatan karena balita pendek dan sangat
pendek berada diatas 20%.
Dalam penentuan status gizi bisa ditentukan juga
dengan indikator BB/TB, indikator ini dapat menggambarkan
status gizi yang bersifat akut sebagai akibat dari keadaan yang
beriangsung dalam waktu yang pendek, seperti menurunnya
nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare. Hasil
Pendataan Gizi Buruk Balita pada tahun 2008 didapat hasil
kurus 23,02%, sangat kurus 25,18% dan normal 51,80%.
Sedangkan hasil Riskesdas pada tahun 2007 anak balita yang
sangat kurus sebesar 3,0%, kurus 4,4%, Normal 86,1% dan
gemuk 6,4%.
Hasil pendataan Riskesdas tahun 2007 dapat
disimpulkan bahwa prevalensi balita menurut tiga indikator
yaitu BB/U (gizi buruk dan gizi kurang) sebesar 12,1%, TB/U
(pendek) sebesar 30,7% dan BB/TB (kurus) sebesar 7,4%.
Dengan melihat hasil tersebut Kabupaten Purwakarta tidak
mengalami masalah gizi yang bersifat akut maupun kronis.
56
Kekurangan Vitamin A (KVA)
Prevalensi Xeroftalmi di Jawa Barat 0,11%. Angka ini
telah jauh menurun dari keadaan tahun 1978 sebesar 1,55%,
sehingga penurunan prevalensi xeroftalmi bukan merupakan
prioritas masalah gizi lagi.
Pemberian kapsul vitamin A pada anak balita
dimaksudkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak balita
dan mempertahankan pencapaian angka prevalensi Xeroftalmi.
Hasil penelitian menunjukan 50 % status Vitamin A dalam
serum darah anak rendah, sehingga program distribusi vitamin
A harus disertai dengan peningkatan konsumsi makanan alami
sumber vitamin A.
Sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa
menggambarkan tingkat prevalensi Xeroftalmi di
Kabupaten/Kota.

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)
Dari hasil Survei Pemetaaan GAKY terakhir tahun
1996, Kabupaten Purwakarta merupakan Kabupaten endemis
ringan dengan prevalensi GAKYsebesar 10,1 %. Kecamatan
Bojong merupakan daerah endemis berat dengan prevalensi
36,8 % Kecamatan Pasawahan merupakan daerah endemis
sedang dengan prevalensi 26,0% dan Kecamatan Darangdan
merupakan daerah endemis ringan dengan prevalensi 19,7%
Kecamatan Bojong dan Pasawahan menjadi lokasi distribusi
kapsul yodium (endemis sedang ke berat).
Hasil pemetaan GAKY terakhir pada tahun 2003
Kabupaten Purwakarta termasuk kedalam Kabupaten dengan
endemis berat dengan prevalensi GAKY 30,1%. Upaya
penanggulangan GAKY meliputi jangka panjang dan jangka
pendek. Upaya jangka panjang berupa peningkatan konsumsi
57
garam beryodium melalui pemantauan garam, sedangkan upaya
jangka pendek berupa pemberian kapsul minyak beryodium di
daerah endemis sedang dan berat.
Pada tahun 2007 diadakan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas), dalam kegiatan ini dilakukan tes cepat garam
beriodium dengan menggunakan kit tes cepat (garam ditetesi
larutan tes) apabila hasil tes berwarna biru/ungu tua berati
garam tersebut mengandung cukup iodium (S: 30 ppm KIO3),
bila berwarna biru/ungu muda berarti garam tersebut tidak
cukup iodium (^ 30 ppm KIO3) dan bila hasil tes tidak
berwarna berarti garam tersebut tidak ada iodiumnya.
Berdasarkan hasil tes tersebut Rumah Tangga di
Kabupaten Purwakarta yang mempunyai garam yang cukup
iodium sebesar 50,9%. Bila dilihat dari karakteristik responden
tingkat pendidikan kepala keluarga tidak mempengaruhi
terhadap penggunaan garam beriodium. Bila dilihat dari jenis
pekerjaan ibu yang tidak bekerja lebih tinggi menggunakan
garam beriodium dibandingkan ibu /kepala keluarga yang
bekerja sebagai PNS/Polri/TNI, wiraswasta/swasta,
petani/nelayan/buruh dan lainnya. Masyarakat yang tinggal
diperkotaan lebih banyak menggunakan garam beriodium
dibandingkan masyarakat yang tinggal dipedesaan.

Anemia Gizi Besi
Anemia gizi besi pada kelompok ibu hamil masih
merupakan masalah yang cukup besar di Kabupaten
Purwakarta. Hasil Penelitian FKM-UI tahun 1997 di seluruh
Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat diperoleh hasil rata-rata
prevalensi anemia Jawa Barat 62,2%. Prevalensi Anemia
Kabupaten Purwakarta 58,4%. Kabupaten Purwakarta termasuk
ke dalam 23 Kabupaten/kota dengan Prevalensi tinggi (>40%).
58
Dari penelitian yang sama, rata-rata konsumsi tablet besi oleh
ibu hamil baru mencapai 60 tablet, belum mencapai yang
disyaratkan yaitu 90 tablet.
Hasil penelitian terakhir melalui Survei Anemia dan
KEK pada Ibu hamil di Provinsi Jawa Barat kerjasama antara
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Puslitbang Gizi,
Bogor tahun 2002. Prevalensi Anemia Gizi ibu hamil di
kabupaten Purwakarta telah turun menjadi 41.43%. Sementara
itu, dari penelitian yang sama diperoleh angka Prevalensi
Bumil KEK Kabupaten Purwakarta sebesar 43.10%. Walaupun
Prevalensi anemia telah turun dari 58,4 menjadi 41,43% namun
tetap berada pada kelompok Kabupaten dengan prevalensi
Anemia tinggi.

Kecamatan Bebas Rawan Gizi
Pada tahun 2010 dari 17 kecamatan, hanya 9 kecamatan
yang bebas rawan gizi (52.94%). Dengan demikian masih
banyak daerah di Kabupaten Purwakarta yang belum bebas
rawan gizi. Pemantauan kecamatan rawan gizi dilaksanakan
melalui Tim SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi)
yang sudah terbentuk sampai tingkat kecamatan.










59
BAB IV
SITUASI UPAYA KESEHATAN
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan
diantaranya adalah memberikan penyuluhan kesehatan, menyediakan berbagai
fasilitas kesehatan, juga program dana kesehatan untuk masyarakat miskin. Upaya
kesehatan yang sudah dilakukan meliputi : peningkatan kesehatan lingkungan
sekitar masyarakat baik pemukiman maupun tempat umum, pelayanan kesehatan
dasar yang biasanya dilakukan di Puskesmas dan pelayanan kesehatan rujukan
yang dilaksanakan oleh rumah sakit baik pemerintah maupun swasta.
A. Peningkatan Kesehatan Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi
kesehatan masyarakat. Seperti yang dikemukakan oleh Teorinya H.L. Blum
bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi kesehatan yaitu Lingkungan,
Perilaku, Pelayanan Kesehatan dan Genetik. Lingkungan mempunyai peran
yang sangat besar terhadap angka morbilitas dan mortalitas yang berpengaruh
terhadap derajat kesehatan yang pada akhirnya akan mempengaruhi
perkembangan IPM (Indeks Pembangunan Manusia).
Kualitas lingkungan fisik dan biologik sangat dipengaruhi oleh
aktifitas dan perilaku manusia. Faktor lingkungan yang penting menyangkut
ketersediaan air bersih, fasilitas sanitasi, keadaan lingkungan pemukiman
termasuk kualitas udara dan tanah. Lingkungan fisik dan biologik yang tidak
baik akan membawa dampak terhadap kesehatan terutama mengakibatkan
tingginya kasus penyakit infeksi karena mikroorganisme. Keadaan lingkungan
yang berkaitan langsung dengan masalah kesehatan, meliputi penyediaan air,
jamban, pembuangan air limbah dan sampah.
a. Air Bersih
Cakupan pemakaian air bersih di Kabupaten Purwakarta pada
tahun 2004 cakupan air bersih hanya mencapai 63,21% hal ini dikarenakan
adanya sarana air bersih yang rusak dan tidak bisa digunakan, pada tahun
2005 dilakukan perbaikan pada sarana air bersih dan adanya pembangunan
sarana air bersih percontohan maka cakupan sarana air bersih meningkat
60
mencapai 65,37%. Pada tahun 2007 cakupan air bersih di Kabupaten
Purwakarta sebesar 74.99%, pada tahun 2008 cakupan air bersih
meningkat hingga mencapai 81,27% hal ini didukung dengan semakin
meningkatnya pengetahun masyarakat akan kesehatan. Tahun 2009 data
cakupan air bersih meningkat kembali dengan peningkatan sebesar 2.46%
jika dibandingkan dengan tahun 2008 tetapi pada tahun 2010 cakupan air
bersih menurun kembali sebesar 3.5% dari tahun lalu. Perkembangan
cakupan air bersih selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada grafik 4.1
di bawah ini:

Grafik 4.1
Perkembangan Cakupan Air Bersih Kabupaten Purwakarta
Tahun 2006 s/d 2010

Menurut WHO, jumlah pemakaian air bersih rumah tangga per
kapita sangat terkait dengan resiko kesehatan masyarakat berhubungan
dengan higiene. Berdasarkan hasil kegiatan Riskesdas pada tahun 2007
Kabupaten Purwakarta hampir seluruhnya dapat memenuhi kebutuhan air
bersih dengan baik karena masyarakat di Kabupaten Purwakarta sudah
dapat memenuhi kebutuhan air dalam kategori akses dasar (20,4%), akses
menengah (37,8%) dan akses optimal (37,2%).
66.51
74.99
81.27
83.73
80.27
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
2006 2007 2008 2009 2010
61
Begitu pula berdasarkan prediksi PDAM Kabupaten Purwakarta
sudah bisa memenuhi kebutuhan air bersih dengan cukup baik karena
PDAM memprediksikan bahwa kebutuhan jumlah air bersih perorangan
perhari 30 liter dan hampir seluruh masyarakat di Kabupaten Purwakarta
sudah bisa memenuhi kebutuhan air bersihnya diatas 30 liter.
Akses masyarakat terhadap air bersih pun sangat baik, berdasarkan
hasil Riskesdas jarak untuk dapat menjangkau air bersih kurang dari 1 km
(96,2%) dengan waktu tempuh kurang dari 30 menit (96,7%). Dalam
ketersediaan air bersih di Kabupaten Purwakarta masih ada masyarakat
kesulitan mendapatkan air bersih pada musim kemarau sebesar 25,1% dan
sulit sepanjang tahun sebesar 2% oleh sebab itu pada musim kemarau
perlu diwaspadai karena ada potensial yang cukup besar untuk terjadinya
penyakit akibat higiene yang kurang baik diantaranya penyakit diare, kulit
dan lain-lain.
Pada grafik 4.2 berikut ini digambarkan persentase rumah tangga
di Kabupaten Purwakarta dan fasilitas sarana air minum berdasarkan hasil
Suseda 2009, sebagai berikut:
Grafik 4.2
Persentase Rumah Tangga dan Fasilitas Sarana Air Bersih di
Kabupaten Purwakarta Tahun 2009

Sumber: BPS, Suseda Provinsi Jawa Barat 2009
0
10
20
30
40
50
60
Sendiri Bersama Umum Tidak ada
58.12
32.17
9.71
0
62
Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa umumnya rumah tangga
di Kabupaten Purwakarta (58.12%) telah memiliki sarana air bersih
sendiri. Sebanyak 32.17% rumah tangga memiliki sumber air bersih secara
bersama-sama. Rumah tangga yang menggunakan fasilitas umum sebesar
9.71% dan tidak ada rumah tangga yang tidak mempunyai fasilitas air
bersih di rumah tangganya. Sementara itu persentase rumah tangga
berdasarkan jenis sumber air minum yang dipergunakan dapat
digambarkan pada tabel 4.1 berikut ini:
Tabel 4.1
Persentase Rumah Tangga dan Sumber Air Minum
Di Kabupaten Purwakarta Tahun 2009
No Sumber Air Bersih Tahun 2009 (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Air Kemasan/lsi (Jiang
Ledeng
Pompa
Sumur Terlindungi
Sumur Tak Terlindungi
Mata Air Terlindungi
Mata Air Tak Terlindungi
Lainnya
6.52
8.54
19.42
13.05
38.09
4.44
9.94
0.00
JUMLAH 100
Sumber: BPS, Suseda Provinsi Jawa Barat 2009
Dari tabel 4.1 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar
penduduk memperoieh air bersih dari Sumur Tak terlindungi (38.09%) dan
masih ada masyarakat yang menggunakan sumber air minum dari Mata
Air Tak Terlindungi sebesar 9.94%, Hal ini memerlukan kewaspadaan dari
pemerintah Kabupaten Purwakarta terhadap 40.01% masyarakat yang
masih menggunakan sumber air minum yang tak terlindungi karena
sumber air tersebut berpotensial sangat besar terhadap timbulnya penyakit
saluran pencernaan diantaranya diare, muntaber, disentri, dll.




63
Tabel 4.2
Persentase Rumah Tangga dan Sumber Air Minum
Di Kabupaten Purwakarta Tahun 2007
No Sumber Air Bersih (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Air Kemasan
Leding Eceran
Leding Meteran
Sumur Bor/Pompa
Sumur Terlindungi
Sumur Tak Terlindungi
Mata Air Terlindungi
Mata Air Tak Terlindungi
Air Sungai
Air Hujan
Lainnya
2.5
7.3
2.5
18.3
18.8
29.0
2.3
17.6
0.3
0.8
0.5
JUMLAH 100
Sumber Riskesdas, Provinsi Jawa Barat 2007
Berdasarkan hasil Riskesdas dapat dilihat bahwa masyarakat yang
menggunakan sumber air bersih berasal dari sumur tak terlindungi sebesar
29.0% dan mata air tidak terlindungi sebesar 17.6%. Bila dibandingkan
dengan hasil Suseda Provinsi Jawa Barat tahun 2008 hasil Riskesdas lebih
tinggi 6,59% masyarakat menggunakan sumber air bersih yang tidak
terlindungi.
Sebagian besar masyarakat di Kabupaten Purwakarta
menggunakan tempat penampungan air yang tertutup (81.7%), hal ini
sangat baik karena dapat mencegah dari pencemaran air dan tempat
bersarangnya nyamuk dan hampir semua masyarakat di Kabupaten
Purwakarta pengolahan air minum dengan cara dimasak terlebih dahulu.
Sementara itu, jarak sumber air minum terhadap penampungan
tinja terdekat merupakan indikator tingkat pencemaran air minum oleh
bakteri coli. Sumber air bersih berdasarkan jarak terdekat ke sumber
penampungan tinja dapat diketahui sebagai berikut:



64
Grafik 4.3
Pesentase Jarak Air Bersih dengan Penampungan Tinja
Di Kabupaten Purwakarta Tahun 2009

Sumber: BPS, Suseda Provinsi Jawa Barat 2009
Dari data diatas dapat diketahui bahwa pada umumnya jarak
sumber air minum dengan penampungan tinja terdekat yang memenuhi
syarat yaitu >10M dengan persentase 39.44%, jarak terdekat <10M ada
39.89% sedangkan rumah tangga yang tidak tahu jarak masih cukup
banyak yaitu 20.69%. Artinya 60.58% rumah tangga sumber air bersihnya
kurang/tidak terlindung dari pencemaran bakteri tinja.
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007 masyarakat Kabupaten
Purwakarta hanya 46,9% yang dapat akses terhadap air bersih. Masyarakat
yang masuk ke dalam kategori akses terhadap air bersih dimana
masyarakat bisa mendapatkan air bersih 20 liter/orang/hari dari sumber
terlindung dalam jarak 1 km atau waktu tempuh kurang dari 30 menit.
Bagi masyarakat yang belum akses terhadap air bersih (53,1%) perlu
diwaspadai karena secara langsung ketidakaksesan terhadap air bersih
akan mempengaruhi higiene perorangan.


39.87
39.44
20.69
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
<=10m >10m Tidak Tahu
Jarak
65
b. Jamban Keluarga
Ketersediaan jamban keluarga yang memenuhi syarat di tingkat
keluarga sangat erat kaitannnya dengan resiko penularan penyakit
khususnya penyakit infeksi saluran pencernaan. Perkembangan cakupan
jamban keluarga di Kabupaten Purwakarta dari tahun 2006 sampai tahun
2010 digambarkan sebagaimana terlihat pada grafik berikut ini:
Grafik 4.4
Perkembangan Cakupan Jamban Keluarga
Di Kabupaten Purwakarta Tahun 2006 s/d 2010

Pada grafik tersebut diatas terlihat bahwa peningkatan cakupan
jamban sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 cakupan jamban
keluarga meningkat terus hingga mencapai 74.20% tetapi pada tahun 2008
cakupan jamban keluarga menurun sebesar 2.11%, hingga cakupan jamban
keluarga hanya sebesar 72.09% di tahun 2008, seiring dengan
meningkatnya pengetahuan masyarakat sehingga masyarakat mulai
menggunakan sarana air bersih bukan hanya di daerah perkotaan tetapi
sampai ke daerah pedesaan maka masyarakatpun mulai munggunakan
jamban keluarga di rumahnya masing-masing. Dengan demikian cakupan
jamban keluarga tahun 2009 meningkat secara signifikan hingga mencapai
83,06% angga cakupan ini meningkat sebesar 10.97% jika dibandingkan
69.88
74.2
72.09
83.06
79.63
60
65
70
75
80
85
2006 2007 2008 2009 2010
66
dengan tahun 2008. Pada tahun 2010 cakupan jamban keluarga menurun
hingga mencapai 79.63, penurunan ini lebih disebabkan oleh petugas
kesehatan yang kurang aktif melakukan pemeriksaan ke rumah - rumah
penduduk.
Bila dilihat dari akses kepemilikan jamban keluarga hasil
pemeriksaan program Kesehatan Lingkungan di Kabupaten Purwakarta,
pada tahun 2010 keluarga yang diperiksa sebanyak 132.610 keluarga, dari
hasil pemeriksaan tersebut didapat 80.83% keluarga memiliki akses
terhadap jamban keluarga dan diperoleh 79.63% keluarga dengan jamban
yang sehat.
Berdasarkan hasil Suseda tahun 2009 dapat diketahui rumah tangga
di Kabupaten Purwakarta berdasarkan fasilitas tempat buang air besar,
sebagaimana ditampilkan pada grafik berikut ini:
Grafik 4.5
Persentase Rumah Tangga Berdasarkan Fasilitas Tempat Buang Air
Besar di Kabupaten Purwakarta

Sumber: Riskesdas 2007 dan BPS, Suseda Provinsi Jawa Barat 2009
Pada grafik di atas menggambarkan bahwa hasil Riskesdas maupun
hasil Suseda Provinsi Jawa Barat tidak jauh berbeda. Sebagian besar
masyarakat Kabupaten Purwakarta sudah mempunyai fasilitas tempat
67
buang air besar sendiri. Berdasarkan data di atas masih perlu diwaspadai
karena hasil Riskesdas (20,2%) dan hasil Suseda (12.05%) masyarakat
tidak ada fasilitas tempat buang air besar, angka hasil Riskesdas berada
diatas angka Jawa Barat (15,4%) sedangkan hasil suseda Provinsi Jawa
Barat terjadi peningkatan perilaku pola hidup bersih dan sehat, hal ini
terbukti dengan menurunnya angka masyarakat yang tidak mempunyai
tempat buang air besar dari 18,27% tahun 2008 menjadi 12,05% tahun
2009.
Grafik 4.6
Pesentase Rumah Tangga Berdasarkan Jenis Sarana BAB
di Kabupaten Purwakarta

Sumber: Riskesdas 2007 dan BPS, Suseda Provinsi Jawa Barat 2009
Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar rumah
tangga telah menggunakan sarana BAB jenis leher angsa, data hasil
Suseda lebih tinggi 3.68 dari hasil Riskesdas. Tetapi untuk data rumah
tangga yang menggunakan pelengsengan hasil Riskesdas lebih tinggi
3.49% dibandingkan hasil Suseda. Selanjutnya, tempat pembuangan akhir
tinja erat kaitannya dengan pencemaran air tanah dan dalam kaitannya
68
dengan pemakaian sumur sebagai sumber air bersih/air minum. Persentase
rumah tangga menurut tempat pembuangan akhir tinja di Kabupaten
Purwakarta dapat dilihat pada grafik berikut:
Grafik 4.7
Persentase Rumah Tangga Berdasarkan
Tempat Pembuangan Akhir Tinja
Di Kabupaten Purwakarta

Sumber: Hasil Riskesdas 2007 dan BPS, Suseda Provinsi Jawa Barat 2009
Berdasarkan data tersebut diatas dapat diketahui bahwa persentase
rumah tangga menggunakan Tangki/SPAL sebagai tempat pembuangan
akhir tinja telah mencapai 60.7%, hasil Riskesdas dan 74,26% hasil
Suseda 2009, dengan demikian angka hasil suseda terjadi peningkatan
13.54% dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan hasil suseda masyarakat
Kabupaten Purwakarta 25.74% masyarakatnya membuang tinja ke kolam,
kebun, sungai sawah tanah dan Lain-lain, hal ini potensil untuk terjadinya
pencemaran baik air maupun tanah sehingga dapat menjadi pemicu
terjadinya penyakit pencernaan. Dalam hal ini keberadaan lingkungan
yang sehat akan sangat dipengaruhi oleh tanggung jawab, kepemilikan dan
pemeliharaan sarana sanitasi.

c. Air Limbah Rumah Tangga
69
Sarana pembuangan air limbah merupakan salah satu persyaratan
dari rumah sehat. Perkembangan cakupan SPAL di Kabupaten Purwakarta
digambarkan seperti grafik berikut ini:
Grafik 4.8
Perkembangan Cakupan SPAL Di Kabupaten Purwakarta
tahun 2006 s/d 2010

Dari grafik diatas yang menggambarkan pencapaian cakupan
SPAL sampai tahun 2010 dapat dikatakan bahwa kepemilikan sarana
SPAL masih rendah bila dibanding dengan target , kepemilikan sarana
SPAL bam mencapai 67.68%pada tahun 2007 tetapi pada tahun 2008
kepemilikan SPAL sedikit menurun yaitu sebesar 0.02% sehingga angka
cakupan pada tahun 2008 menjadi 67.66% dan pada tahun 2009 angka
cakupan SPAL meningkat walaupun masih sangat kecil peningkatannya
yaitu sebesar 0.19% sehingga cakupan SPAL mencapai 67.85% akan
tetapi pada tahun 2010 cakupan SPAL mengalami penurunan. Cakupan
SPAL pada tahun 2010 sebesar 64.48% jika dibandingkan dengan cakupan
tahun 2009 angka ini mengalami penurunan sebesar 3.37% hal ini
disebabkan karena kurang aktifnya petugas kesehatan dalam menjalankan
pemeriksaan ke rumah - rumah. Hasil Susenas 2002-2004 hanya
menggambarkan persentase rumah tangga yang menggunakan SPAL
51.99
67.68 67.66 67.85
64.48
0
10
20
30
40
50
60
70
80
2006 2007 2008 2009 2010
70
sampai tingkat Provinsi saja, sedangkan data untuk tingkat kabupaten tidak
ada. Sebagai gambaran, di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2002 terdapat
41.97% rumah tangga telah melengkapi rumahnya dengan SPAL tertutup.
Sedangkan persentase rumah tangga dengan SPAL terbuka masih 42.43%.
Namun demikian persentase rumah tangga tanpa saluran air limbah
keluarga masih cukup tinggi yaitu 15.60%.
Berdasarkan hasil Riskesdas di Kabupatn Purwakarta hanya 46,1%
yang menggunakan saluran pembuangan air limbah secara tertutup, 41,8%
terbuka dan 12,1% tidak ada. Dengan melihat data tersebut 53,9% limbah
masyarakat berpotensial dapat mencemari lingkungan sekitar diantaranya
pencemaran udara, tanah dan air.
Berdasarkan hasil Riskesdas masyarakat yang sudah akses terhadap
sanitasi sebesar 57,2%, masyarakat dikategorikan akses terhadap sanitasi
dimana masyarakat memiliki jamban yang latrin dan tengki septik.

d. Penyehatan Perumahan
Setelah kebutuhan pangan dan sandang, maka perumahan
merupakan kebutuhan manusia lainnya yang harus terpenuhi. Kebutuhan
akan rumah sejalan dengan bertambahnya penduduk, dengan demikian
kebutuhan perumahan yang sehat semakin meningkat pula.
Permasalahan yang timbul dalam pendirian perumahan adalah
kurangnya pengadaan fasilitas sanitasi dasar serta kurangnya perhatian
terhadap pembangunan prasarana dan fasilitas lingkungan.
Kabupaten Purwakarta saat ini berkembang menjadi daerah
industri yang terpusat di Kecamatan Purwakarta, Babakancikao,
Bungursari, Campaka dan Jatiluhur. Dengan demikian Purwakarta
merupakan daerah tujuan para pencari kerja, yang pada akhirnya mereka
akan membutuhkan perumahan yang layak dan kondisi ini sulit dipenuhi
dengan kemampuan mereka yang terbatas.
71
Perkembangan cakupan rumah sehat di Kabupaten Purwakarta dari
tahun 2006 sampai tahun 2010 digambarkan sebagaimana terlihat pada
grafik berikut ini :
Grafik 4.9
Perkembangan Cakupan Rumah Sehat Di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2006 s/d 2010

Dari grafik 4.9 terlihat bahwa cakupan kepemilikan rumah sehat
yang memenuhi syarat di Kabupaten Purwakarta pada tahun 2008 sebesar
72.79%, pada tahun 2009 meningkat menjadi 73.23% akan tetapi pada
tahun 2010 cakupan rumah sehat menurun sebesar 4.76%. Penurunan ini
disebabkan karena petugas kesehatan terutama kesehatan lingkungan
kurang aktif dalam menjalankan pemeriksaan ke rumah -rumah. Persentase
rumah tangga berdasarkan luas lantai di Kab. Purwakarta menurut Suseda
2009, sebagian besar rumah (49.24%) dengan luas lantai 50-99 m2 dan
36.83% dengan luas lantai 20-49 m2. Selengkapnya digambarkan sebagai
berikut:
Grafik 4.10
Persentase Rumah Tangga Berdasarkan Luas Lantai
Di Kabupaten Purwakarta Tahun 2009
61.32
66.32
72.79
73.23
68.47
54
56
58
60
62
64
66
68
70
72
74
76
2006 2007 2008 2009 2010
72

Sumber: BPS, Suseda Provinsi Jawa Barat 2009
Untuk persentase jenis lantai terluas sebagian besar 97.81% bukan
tanah dan jenis lantai dengan tanah masih 2.19%. Sedangkan untuk jenis
dinding rumah terluas disebutkan sebagian besar rumah terdiri dari tembok
(78.14%), bambu (19.73%) dan jenis dinding yang terbuat dari kayu
(2.13%). Sedangkan rumah dengan berdasarkan jenis atap yang digunakan
terluas dengan menggunakan beton sebanyak 1.59%, Genteng 97.30%,
Sirap 0.17% dan lainnya sebesar 0.53%. Masyarakat Kabupaten
Purwakarta paling banyak menggunakan penerangan PLN sebesar 99.78%
dan pelita sentir/obor 0.22%.

B. Pelayanan Kesehatan Dasar
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang
sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat,
diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi.
a. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi
1) Cakupan Kunjungan Ibu hamil (K4).
Pemeriksaan kesehatan kepada ibu hamil merupakan hal yang
penting untuk dapat dilaksanakan kepada semua ibu hamil, oleh karena
4.25
36.83
49.24
7.14
2.54
0
10
20
30
40
50
60
<20 20-49 50-99 100-149 150+
73
itu dari sisi program kunjungan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan
kepada ibu hamil harus dapat dilaksanakan minimal 4 kali selama
kehamilannya atau dikenal dengan istilah K4. Kunjungan K4 di
Kabupaten Purwakarta tahun 2010 adalah 20.994 orang (88.43%) dari
sasaran ibu hamil sebanyak 23.740. Bila dibandingkan dengan target
sebesar 90%, maka hasil yang dicapai masih jauh dari target yang
diharapkan. Pencapaian K4 untuk tiap puskesmas bervariasi dengan
kisaran tertinggi 100.97% di Puskesmas Sukatani dan terendah 44.75%
di Puskesmas Sukasari. Dari 19 Puskesmas yang ada di Kabupaten
Purwakarta 11 puskesmas yang dapat mencapai target yaitu
Purwakarta, Munjuljaya, Campaka, Jatiluhur, Plered, Sukatani,
Darangdan, Maniis, Tegalwaru, Mulyamekar dan Cibatu, sedangkan 9
puskesmas lainnya dibawah 90%. Kondisi seperti ini harus menjadi
perhatian bagi para penyelenggara pelayanan kesehatan dikarenakan
semua desa sudah memiliki bidan. Harapan Pemerintah Kabupaten
Purwakarta dengan terus-menerus menyebar bidan baik PTT noaupun
PNS sehingga dapat meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan ibu,
bayi dan balita.
Hasil Riskesdas tahun 2007 Ibu yang mempunyai bayi di
Kabupaten Purwakarta sebesar 91,4% memeriksakan kehamilannya.
Angka ini masih berada di bawah angka Provinsi Jawa Barat yaitu
sebesar 95,0%. Adapun jenis pemeriksaan yang dilakukan adalah
pengukuran tinggi badan (26,4%), pemeriksaan tekanan darah (98,1%),
pemeriksaan tinggi fundus/perut (71,2%), pemberian tablet Fe
(84,9%), pemberian imunisasi TT (81,1%), penimbangan berat badan
(96,2%), pemeriksaan hemoglobin (9,4%) dan pemeriksaan urine (11,
3%).

2) Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Bidan atau Tenaga
Kesehatan yang Memiliki Kompetensi.
74
Dari sasaran ibu bersalin tahun 2010 sebanyak 22.628 orang,
18.992 orang maternal melahirkan dengan pertolongan tenaga
kesehatan dalam hal ini bidan. Cakupan persalinan dengan pertolongan
tenaga kesehatan sudah mencapai 83.93 %, pencapaian ini masih jauh
dari target yang telah ditentukan yaitu sebesar 85%. Pencapaian
persalinan oleh tenaga kesehatan untuk tiap puskesmas bervariasi
dengan kisaran tertinggi 97.40% di Puskesmas Munjuljaya dan
pencapaian terendah sebesar 41.63% di Puskesmas Sukasari. Ada 12
puskesmas yang mencapai target 85% yaitu Purwakarta, Munjuljaya,
Koncara, Jatiluhur, Plered, Sukatani, Tegalwaru, Pasawahan,
Maracang, Mulyamekar, Bungursari dan Cibatu, sedangkan 8
puskesmas lainnya dibawah 85%. Hal ini dikarenakan masih tingginya
kepercayaan masyarakat kepada dukun paraji, dengan alasan ekonomi
dan kurangnya kesiapan di tingkat keluarga serta alasan non teknis
lainnya. Jumlah persalinan yang ditolong oleh dukun paraji dan
lainnya tercatat sebanyak 2.605 dari jumlah seluruh persalinan.
Dalam kegiatan Riskesdas tahun 2007 dilakukan pengkajian
terhadap pemeriksaaan neonatus, pemeriksaan neonatus dilakukan
pada umur 0-7 hari dan umur 8-28 hari. Di Kabupaten Purwakarta
pemeriksaan terhadap neonatus yang berumur 0-7 hari baru mencapai
37,9% sedangkan untuk yang berumur 8-28 hari baru mencapai 32,8%.
Angka ini masih sangat jauh dari angka Provinsi Jawa barat,
pemeriksaan umur 0-7 hari (59,7%) dan umur 8-28 hari (40,1%).
Bila dibandingkan dengan hasil cakupan program, hasil
Riskesdas N2 (pemeriksaan pada umur 8-28 hari) hanya mencapai
32,8% sedangkan hasil cakupan program yang ada di dinas Kesehatan
N2 mencapai 80.16% pada tahun yang sama. Angka ini menunjukan
perbedaan yang sangat jauh sekali.
3) Ibu Hamil
pemantauan terhadap ibu hamil yang mempunyai resiko tinggi
sedini mungkin akan sangat membantu ibu hamil dan tenaga
75
pendorong dalam merencanakan kesiapan persalinan. Pemantauan
resiko pada ibu hamil selain oleh tenaga kesehatan secara medis, juga
dapat dilaksanakan oleh masyarakat dengan mengenali tanda-tanda
4unsur seperti ibu terlalu tua untuk hamil, terlalu sering hamil, jarak
kehamilan terlalu dekat dan ibu terlalu mudah menjalani kehamilan.
Jumlah ibu hamil dengan resiko tinggi sebanyak 2.037 orang dan yang
ditangani sebanyak 1.525 orang (74.86%), angka ini sudah mencapai
target yang diharapkan yaitu sebesar 70% dan hanya 512 (14%) ibu
hamil dengan resiko tinggi buruk ke tempat pelayanan kesehatan yang
lebih tinggi dalam hal ini rumah sakit.

4) Cakupan Kunjungan Neonatus
Kunjungan bayi baru lahir ke tenaga kesehatan sangat penting
agar kesamaan dan kelainan pada bayi dapat diketahui dan ditemukan
sedini mungkin serta dicairkan upayakan penyelesaiannya, terutama
pada dan 8-28 hari pertama setelah kelahiran (neonatus). Cakupan
kunjungan bayi neonatus (N2) berjumlah 21.001 bayi dari sasaran
sebanyak 22.797 denan cakupan 92.12%. Angka ini sudah mencapai
target yaitu 85%. Pencapaian kunjungan N2 untuk tiap Puskesmas
bervariasi dengan kisaran tertinggi 103.73% di Puskesmas Plered dan
terendah 45,13% di Puskesmas Sukasari. Terdapat 2 Puskesmas yang
mencapai target 85%, dan 4 puskesmas yang masih dibawah target.
Tahun 2010 cakupan kunjungan neonatus meningkat dari
87,14% tahun 2009 menjadi 92,12%, peningkatan ini dapat dicapai
karena semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang
kesehatan neonatal dan didukung dengan adanya peran serta aktif dari
petugas kesehatan terutama bidan desa dalam memberikan penyuluhan
maupun penanganan neonatal secara dini.



76
5) Cakupan Kunjungan Bayi
Kunjungan bayi ke sarana atau petugas kesehatan terus
dipantau melalui indikator kunjungan bayi 0-11 bin ke 12 kali (B 12)
yang dicacat dalam register kohort bayi. Kesadaran masyarakat untuk
memeriksakan bayinya ke sarana atau petugas kesehatan sudah
mencapai 18.130 bayi atau 83.94% dari jumlah sasaran bayi tahun
2010 sebanyak 21.600. Angka pencapaian ini masih hampir mencapai
target 85% oleh sebab itu diharapkan peran aktif dari petugas
kesehatan dapat lebih ditingkatkan lagi sehingga capaian tahun
berikutnya minimal sama dengan target. Pencapaian kunjungan B12
untuk tiap puskesmas bervariasi dengan kisaran tertinggi 108.30% di
Puskesmas maniis dan terendah 49.87% di Puskesmas Sukasari.
Terdapat 9 puskesmas yang mencapai target 85%, yaitu Munjuljaya,
Campaka, Jatiluhur, Plered, Sukatani, Darangdan, Maniis, Bungursari
dan Cibatu, sedangkan 11 puskesmas lainnya dibawah target.
Peningkatan kesadaran masyarakat melalui kegiatan pendidikan
dan promosi kesehatan yang berkesinambungan perlu dilaksanakan
secara intensif kalau perlu langsung kepada sasaran, terutama di 11
puskesmas yang cakupan B12 dibawah 85% kegiatan seperti ini
diharapkan akan meningkatkan cakupan di tahun mendatang.

6) Cakupan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) yang Ditangani
Masih tingginya prevalensi KEK (kurang energi kronis) pada
ibu hamil sebesar 41,3% (Penelitian FKM Ul kerjasama dengan Dinas
Kesehatan Provinsi. Jawa Barat, tahun 2003), menyebabkan bayi yang
dilahirkan dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram (BBLR)
mencapai 286 bayi dari jumlah kelahiran seluruhnya 21.339 bayi
dengan persentase 1.34%. Dari jumlah tersebut bayi dengan kasus
BBLR ditangani sebanyak 258 orang bayi (90.21%). Dengan demikian
target (95%) belum tercapai.
77
Dari hasil Riskesdas berat badan lahir <2.500 gram sebesar
16,3%, 2.500 - 3.999 gram mencapai 71,4% dan 4.000 gram
mencapai 12,2%. Hasil ini sangat berbeda dengan hasil cakupan
program.

b. Pelayanan Keluarga Berencana
Gerakan KB Nasional di Indonesia dilaksanakan antara lain
melalui unit-unit pelayanan di fasilitas kesehatan, baik pemerintah maupun
swasta. Keberhasilan program KB dapat diketahui dari beberapa indikator,
diantaranya pencapaian target KB baru, cakupan peserta KB aktif terhadap
PUS, dan persentase KB aktif metoda kontrasepsi efektif terpilih.
Menurut data Suseda 2009 persentase penduduk yang menikah
masih dibawah usia 18 tahun masih sangat banyak, hal ini perlu
diwaspadai sebab dengan adanya pernikahan masih di bawah umur itu
sangat beresiko terhadap alat reproduksi yang belum sempurna. Penduduk
yang menikah pada usia dibawah 15 tahun sebanyak 28.42%, usia 16
tahun 14.03%, usia 17-18 tahun sebanyak 27.94%, sedangkan yang
berusia 19-24 tahun sebanyak 25.22% dan yang menikah pada usia 25
tahun ke atas sebanyak 4.39%. Persentase penduduk perempuan di
Kabupaten Purwakarta berumur 15-49 tahun berstatus menikah dan
mengikuti program KB 53.89% dan yang tidak menggunakan alat KB
sebanyak46.11%.
Di Kabupaten Purwakarta pada tahun 2010 tercatat ada 171.412
pasangan usia subur (PUS). Dari jumlah tersebut 37.254 diantaranya
tercatat sebagai peserta KB Baru dengan cakupan 21.73%. Sedangkan
peserta KB Aktif ada 140.976 dengan cakupan 82.24%. Dengan demikian
target 65% tercapai. Cakupan perkecamatan sangat bervariasi dengan
kisaran tertinggi 119.45% di Kecamatan Bungursari dan terendah 64.17%
di Kecamatan Pasawahan. Hanya 1 Puskesmas yang tidak mencapai target
65% yaitu Puskesmas Pasawahan sedangkan 19 Puskesmas iainnya sudah
berada diatas target yang ditetapkan.
78
Tingkat penggunaan alat kontrasepsi KB jenis MKJP (metoda
kontrasepsi jangka panjang) seperti IUD, MOP/MOW, dan Implant masih
rendah. Umumnya akseptor KB lebih menyukai alat kontrasepsi jenin Non
MKJP seperti Suntik dan Pil KB. Selengkapnya digambarkan dengan
grafik berikut ini:
Grafik 4.11
Tingkat Penggunaan Alat Kontrasepsi KB Peserta KB Aktif
di Kabupaten Purwakarta tahun 2010

Alat KB suntik dan pil masih menjadi pilihan utama PUS dengan
persentase 47.62% dan 33.00% dan yang paling sedikit menggunakan alat
KB MOW/MOP sebanyak 3.07%. Sedangkan berdasarkan data Suseda
Provinsi Jawa Baral selengkapnya dapat dilihat pada grafik berikut ini:








0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
7.83
3.07
4.61
47.62
33
3.86
79
Grafik 4.12
Persentase Penduduk Perempuan Usia 15-49 Tahun Berstatus Kawin
Dan Alat/Cara KB yang Sedang Digunakan
di Kabupaten Purwakarta tahun 2009

Sumber: 6PS, Suseda Provinsi Jawa Barat, 2009
Berdasarkan hasil Suseda pun alat KB Suntik dan Pil masih
menjadi pilihan utama ber-KB yaitu sebesar 50.32% dan 35.17%. Dengan
melihat data tersebut tergambar secara jelas bahwa data hasil Suseda sama
dengan hasil capaian program bahwa alat KB yang paling banyak
digunakan oleh perempuan berstatus kawin di Kabupaten Purwakarta yaitu
suntik dan pil walaupun dengan hasil persentase yang berbeda.

c. Pelayanan Kesehatan Anak Prasekolah dan Usia Sekolah
Pemerintah sangat konsen dengan tumbuh kembang balita, karena
dari sisi program setiap bayi seiain diberikan pelayanan dasar seperti
Imunisasi, ASI eksklusif, pengukuran berat badan dan lingkar kepala,
kapsul vitamin A, dan bimbingan asupan gizi, juga perkembangan
kesehatan bayi dari aspek pertumbuhan fisik maupun perkembangan
mentalnya dipantau melalui kohort bayi dan kartu tumbuh kembang.
Dalam tahap pemantauan inilah para petugas kesehatan sudah mulai
5.16
0.65
5.17
50.32
3.22
35.17
0.32
0
10
20
30
40
50
60
MOW MOP IUD Suntik Implant Pil Tradisional
80
merencanakan pembinaan tumbuh kembang balita secara terpadu baik di
posyandu dan BKB atau bahkan mungkin langsung terhadap ibu dan
balitanya di rumah.
1) Cakupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita/ Pra
Sekolah
Pada tahun 2010 pemantauan tumbuh kembang balita dari
aspek program kesehatan anak dan remaja dilaksanakan di seluruh
Puskesmas. Dari 6.723 balita yang ada telah dideteksi tumbuh
kembangnya sebanyak 6.316 balita dengan cakupan 93.95%. Bila
dibandingkan dengan target 70% angka ini sudah mencapai angka
target yang ditentukan.
2) Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat oleh
Tenaga Kesehatan atau Tenaga Teriatih/Guru UKS/Dokter Kecil
Pemantauan tumbuh kembang pada anak sekolah SD/MI
dilaksanakan merata di 20 puskesmas dengan frekuensi pemeriksaan
sebanyak 1 kali per tahun. Pada tahun 2010 telah dilaksanakan
pemeriksaan kesehatan murid SD/MI sebanyak 22.738 siswa dari
jumlah siswa SD/MI seluruhnya 24.639 siswa dengan cakupan
92.28%. Angka ini sudah mencapai target yang ditentukan (85%).
3) Cakupan Pelayanan Kesehatan Remaja
Pelayanan kesehatan pada remaja dilaksanakan melalui
kegiatan pemeriksaan kesehatan kepada murid SLTA sebanyak 14.499
siswa dari total siswa SLTA sebanyak 16.008 siswa dengan cakupan
90.37%. Jika dibandingkan dengan target sebesar 95% untuk tahun ini
hasil cakupan Pelayanan Kesehatan Remaja masih dibawah target yang
ditetapkan.

d. Pelayanan Imunisasi
Pelayanan imunisasi kepada bayi dimaksudkan untuk memberikan
kekebalan/imunitas kepada bayi dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah
81
dengan imunisasi, seiring menurunnya kekebalan alami yang didapat dari
pemberian ASI.
Jumlah sasaran bayi pada tahun 2010 seluruhnya berjumlah
21.600. Jumlah bayi dan jenis imunisasi yang diberikan selama tahun
2010:
Imunisasi BCG telah diberikan kepada 20.342 bayi dengan cakupan
94.18%,
Imunisasi DPT1 + HB1 telah diberikan kepada 20.892 bayi dengan
cakupan 96.72%.
Imunisasi DPT3 + HB3 telah diberikan kepada 20.077 bayi dengan
cakupan 92.95%.
Imunisasi Polio 4 telah diberikan kepada 19.238 bayi dengan cakupan
89.06%.
Imunisasi Campak telah diberikan kepada 20.131 bayi dengan cakupan
93.20%.
Tingkat Drop Out bayi yang diimunisasi mencapai 3.64%. Artinya
masih ada 3.64% bayi tidak mendapatkan imunisasi sampai tuntas dengan
berbagai alasan.
Pada kegiatan Riskesdas tahun 2007 dikaji juga mengenai
imunisasi yang diberikan kepada anak umur 12-23 bulan yang
menghasilkan data sebagai berikut : imunisasi BCG mencapai 71,0%,
Polio 3 hanya mencapai 53,7%, DPT3 sebesar 31,2%, HB 3 hanya
mencapai 30,6% dan imunisasi campak mencapai 72,0%. Semua data hasil
Riskesdas mengenai imunisasi ini masih berada di bawah data hasil
cakupan program.
Berdasarkan hasil pengkajian dalam Riskesdas didapat data anak
umur 12-23 bulan yang lengkap imunisasinya hanya mencapai 22,2%,
yang tidak lengkap sebesar 69,6% dan yang tidak imunisasi sama sekali
sebesar 8,2%. Hal ini menuntut kewaspadaan bagi tenaga kesehatan karena
anak yang tidak lengkap imunisasi dan yang tidak melaksanakan imunisasi
sama sekali lebih dari 50%, dengan demikian potensial terjangkitnya
82
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Difteri, Pertusis, Tetanus,
tetanus Neonatorum, Campak, AFP dan Hepatitis B) sangat besar pada
anak usia balita.
Jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Purwakarta ada 192. Dari
jumlah tersebut 172 desa/kelurahan telah mencapai UCI, dengan demikian
terdapat 89.58% desa telah mencapai UCI. Angka ini masih jauh dari
target yang ditetapkan sebesar 95%.

e. Gizi
1) Pemantauan Pertumbuhan Balita
(a) Balita yang Naik Berat Badannya
Salah satu ukuran keberhasilan penimbangan balita di
posyandu adalah dengan indikator N/D, yaitu balita yang
ditimbang dan naik berat badannya dibandingkan dengan jumlah
seluruh balita yang datang ditimbang. Jumlah balita yang naik
berat badannya ada 49.526 orang dari 62.118 orang balita yang
datang ditimbang, maka cakupan N/D dapat dihitung sebesar
79.73%. Meskipun petugas kesehatan dan kader di Posyandu sudah
bekerja dengan maksimal tetapi target yang diharapkan belum
tercapai yaitu sebesar 75%. Pencapaian per puskesmas bervariasi
dengan kisaran tertinggi 91.44% di Puskesmas Plered dan terendah
58.85% di Puskesmas Bojong. Terdapat 12 puskesmas yang
mencapai target 75% dan hanya 8 puskesmas yang berada dibawah
Target.
(b) Balita Bawah Garis Merah (BGM)
Kelompok balita dengan berat badan di bawah garis merah
(BGM). adalah kelompok yang harus diperhatikan dan
diperlakukan dengan baik, balita pada kelompok ini mengalami
masalah dalam kesehatan dan asupan gizinya. Jumlah BGM di
Kabupaten Purwakarta ada 1.207 orang atau 1.94% dari jumlah
83
sasaran balita yang ditimbang di Posyandu. Angka ini masih dalam
batas toleransi yang diisyaratkan sebesar 16%.

2) Pelayanan Gizi
(a) Cakupan Balita Mendapat Kapsul Vitamin A 2 Kali Pertahun
Pemberian kapsul Vitamin A kepada balita selain
dimaksudkan untuk memberikan asupan vitamin A pada bayi, dan
anak balita juga dimaksudkan untuk meningkatkan daya tahan
tubuh bayi, baiita dari kejadian Diare dan ibu nifas setelah
persalinan. Dari jumlah 55.546 sasaran seluruh balita di Kabupaten
Purwakarta telah diberikan kapsul Vitamin A sebanyak 2 kali
kepada 53.354 balita dengan cakupan pemberian 96.05%. Angka
ini sudah melebihi target 85%. Pencapaian per puskesmas
bervariasi dengan kisaran tertinggi di Puskesmas Purwakarta,
Munjuljaya, Jatiluhur, Sukatani, Darangdan, Bojong, Bungursari,
Cibatu, Sukasari dan Pondoksalam sebesar 100.00% sedangkan
terendah 63.91% di Puskesmas Maniis.
Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukan hasil yang sangat
jauh sekali dibandingkan hasil cakupan program di Dinas
Kesehatan Kabupaten Purwakarta. Seperti yang terlihat diatas hasil
cakupan program menunjukan hasil hampir seratus persen anak
balita sudah mendapatkan kapsul vitamin A 2 kali setahun yaitu
pada Bulan Februari dan Agustus. Tetapi hasil Riskesdas
Kabupaten Purwakarta anak balita yang menerima Vitamin A
hanya 67,9% dan masih banyak yang tidak menerima kapsul
Vitamin A sebesar 32,1%.

(b) Cakupan Ibu Hamil Mendapat 90 Tablet Fe
Pemberian tablet besi kepada ibu hamil sebanyak 90 tablet
selama kehamilan merupakan kebijakan strategis yang harus
diambil dikarenakan menurut penelitian terakhir angka prevalensi
84
anemia pada ibu hamil mencapai 41,43% (Penelitian FKM Ul
kerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, tahun
2003) dan dengan demikian Kabupaten Purwakarta termasuk ke
dalam kelompok kabupaten dengan prevalensi anemia berat. Dari
seluruh jumlah sasaran ibu hamil 23.740 orang, 22.971 orang
diantaranya telah mengkonsumsi tablet besi sebanyak 30 tablet
(Fe1) pada pemberian pertama saat kontak dengan petugas
kesehatan dengan cakupan pemberian 96.76%. Sedangkan untuk
pemberian 90 tablet (Fe3) besi pada saat pemeriksaan ke tiga kali
telah dilaksanakan kepada 21.452 ibu hamil dengan cakupan
pemberian 90.36%. Angka pencapaian Fe3 sudah mencapai target
85%. Pencapaian perpuskesmas bervariasi dengan kisaran tertinggi
105.77% di Puskesmas Sukatani dan terendah 39.50% di
Puskesmas Sukasari. Sebanyak 15 Puskesmas mencapai target 85%
dan 5 Puskesmas lainnya belum mencapai target 85%.

(c) Cakupan Wanita Usia Subur yang Mendapat Kapsul Yodium
Di Kabupaten Purwakarta terdapat 3 Kecamatan endemis
GAKY yaitu Bojong, Pondoksalam dan Pasawahan.
Pendistribusian Kapsul Yodium diprioritaskan kepada Wanita Usia
Subur di Kecamatan dengan prevalensi GAKY sedang ke berat
yaitu di Kecamatan Bojong, Pondoksalam dan Pasawahan. Jumlah
desa endemis GAKY di tiga kecamatan sebanyak 37 desa dengan
jumlah WUS sebanyak 27.693 orang. Pada tahun 2007 sampai
tahun 2010 tidak ada kegiatan pemberian kapsul yodium pada
WUS.

(d) Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASl pada Bayi
Bawah Garis Merah dari Keluarga Miskin
Pemberian Makanan pendamping ASl (MP-ASI) kepada
bayi BGM dari keluarga miskin dimaksudkan untuk memberikan
85
kecukupan asupan Gizi agar mempunyai kekuatan untuk melawan
penyakit infeksi dan kelangsungan tumbuh kembang anak. Pada
tahun 2010 ditemukan 109 bayi BGM dari keluarga miskin, dari
jumlah tersebut hanya 9 orang yang diberi MP ASl (8.26%).

(e) Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan
Dari 20 balita dengan status gizi buruk yang ditemukan di
Kabupaten Purwakarta dengan indikator BB/TB. Dari jumlah
tersebut semuanya mendapatkan perawatan di sarana pelayanan
kesehatan baik Puskesmas maupun Rumah Sakit.

f. Penyelenggaraan Promosi Kesehatan
1) Perilaku Sehat
(a) Rumah Tangga Sehat
Jumlah rumah tangga di Kabupaten Purwakarta 220.760
KK, dari jumlah tersebut telah dikaji PHBS sebanyak 209.299 KK.
Dari hasil kajian diperoleh 114.034 KK dikategorikan termasuk
KK sehat dengan persentase 54.48%. Angka ini belum bisa
mencapai target sebesar 60%. Dari tahun ke tahun kegiatan PHBS
belum mencapai target yang ditentukan, dengan melihat data
tersebut menuntut peran aktif petugas kesehatan terutama petugas
PHBS dalam memberikan penyuluhan tentang PHBS maupun
mengadakan pendataan PHBS.
(b) Bayi yang Mendapat ASI Eksklusif
Pemberian ASI eksklusif (cukup ASI saja) kepada bayi
selama 6 bulan pertama dalam kehidupannya di Kabupaten
Purwakarta tercatat sebanyak 1.664 bayi dari jumlah sasaran bayi
seluruhnya 21.600 bayi dengan cakupan 7.70%. Angka ini sangat
jauh dari target 70%. Pencapaian per puskesmas bervariasi dengan
kisaran tertinggi hanya 21.61% di Puskesmas Mulyamekar dan
terendah 4.64% di Puskesmas Kiarapedes. Pemberian ASI Ekslusif
86
pada bayi sulit untuk mencapai target, hal ini menuntut tenaga
kesehatan terutama petugas Promkes untuk lebih mempromosikan
tentang pentingnya ASI eksklusif bagi bayinya karena akan sangat
mempengaruhi terhadap daya tahan tubuh bayi dan dapat
meningkatkan kecerdasan. Dan yang lebih penting lagi bahwa tidak
ada makan terbaik buat bayi selain ASI.

(c) Desa dengan Garam Beryodium Baik
Dari jumlah 37 desa di Kecamatan endemis sedang ke berat
diketahui jumlah desa dengan garam beryodium baik terdapat di:
Kecamatan Bojong dari 14 desa yang ada terdapat 12 desa
dengan garam beryodium baik (kadar yodium 30-40 ppm).
Kecamatan Pasawahan dari 12 desa yang ada semua desa
dengan garam beryodium baik (kadar yodium 30-40 ppm).
Kecamatan Pondoksalam dari 11 desa yang ada terdapat 10
desa dengan garam beryodium baik (kadar yodium 30-40 ppm).
Dengan demikian dari 37 desa di daerah endemis GAKY
terdapat 34 desa dengan kadar garam baik (kadar yodium 30-40
ppm) dengan persentase 91.89%. Angka ini sudah melampaui
target 70%. Dari tahun 2007 sampai tahun 2010 tidak dilakukan
pendataan kembali mengenai garam yodium di Kabupaten
Purwakarta.

2) Posyandu
Jumlah posyandu di Kabupaten Purwakarta ada 968 unit. Dari
hasil telaah kemandirian posyandu didapat hasil sebagai berikut:
Jumlah posyandu pratama ada 129 buah dengan persentase 13.33%
Jumlah Posyandu madya ada 316 buah dengan persentase 32.64%
Jumlah Posyandu purnama ada 434 buah dengan persentase
44.83%
Jumlah Posyandu mandiri ada 89 buah dengan persentase 9.19%
87
Jumlah posyandu purnama dan mandiri ada 523 buah dengan
persentase 54.03% dari seluruh posyandu. Angka ini masih dibawah
target, target yang harus dicapai pada tahun 2010 sebesar 65%.

3) Penyuluhan Kesehatan
Penyuluhan kesehatan dilakukan oleh Petugas Penyuluh dari
Puskesmas, adapun Seksi promosi Kesehatan di Dinas Kesehatan
Kabupaten Purwakarta sebagai koordinatomya. Topik penyuluhan
yang dilaksanakan pada tahun 2010 yaitu :
1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Penyuluhan mengenai PHBS dilaksanakan sebanyak 521 kali atau
22.50%, adapun Puskesmas yang paling banyak melaksanakan
penyuluhan PHBS yaitu Puskesmas Koncara sebanyak 45 kali
dalam setahun, Puskesmas Purwakarta dan Plered sebanyak 42 kali
dalam setahun. Sedangkan Puskesmas yang paling sedikit
melaksankan penyuluhan PHBS adalah Puskesmas Wanayasa,
Kiarapedes, Tegalwaru, Maniis dan Sukasari sebanyak 12 kali
dalam sehatun.
2. ASI Ekslusif
Penyuluhan dengan topik Asi Ekslusif dilaksanakan sebanyak 284
kali dalam setahun oleh Puskesmas. Puskesmas Munjuljaya,
Koncara dan Campaka melaksankan penyuluhan Asi Ekslusuf
sebanyak 24 kali dalam setahun, Puskesmas Purwakarta 20 kali
dalam setahun sedangkan puskesmas lainnya hanya 12 kali dalam
setahun.
3. Gizi/Garam Beriodium/Vit A
Penyuluhan mengenai Gizi/Garam beriodium/Vit A dilaksanakan
sebanyak 270 kali selama satu tahun di Kabupaten Purwakarta.
Puskesmas Purwakarta dan Koncara melaksankan penyuluhan
Gizi/Garam beriodium/Vit A sebanyak 24 kali dalam setahun,
Puskesmas Munjuljaya 18 kali dalam setahun dan 17 puskesmas
88
lainnya hanya melaksanakan penyuluhan Gizi/Garam
beriodium/Vit A sebanyak 12 kali dalam setahun.
4. AIDS/Narkoba
Penyuluhan dengan topik AIDS/Narkoba di Kabupaten Purwakarta
dilaksanakan sebanyak 250 kali dalam satu tahun. Puskesmas
Munjuljaya dan Koncara melaksanakan penyuluhan AIDS/Narkoba
sebanyak 24 kali dalam setahun, Puskesmas Purwakarta 22 kali, 13
Puskesmas melaksanakan Penyuluhan AIDS/Narkoba sebanyak 12
kali dan 4 puskesmas hanya 4 kali.
5. KIA/lmunisasi/Lansia
Penyuluhan KIA/lmunisasi/Lansia di Kabupaten Purwakarta
selama tahun 2010 dilaksanakan sebanyak 435 kali. Puskesmas
Purwakarta melaksanakan penyuluhan KIA/lmunisasi/Lansia
sebanyak 35 kali dalam setahun, Puskesmas Munjuljaya dan
Bojong 32 kali, 11 puskesmas 24 kali dan 6 puskesmas 12 kali.
6. Bahaya Rokok
Penyuluhan terhadap bahaya merokok dilaksanakan sebanyak 408
kali selama tahun 2010. Puskesmas yang paling banyak
melaksanakan penyuluhan bahaya merokok yaitu Puskesmas
Purwakarta, Cibatu, Pasawahan, Darangdan dan Plered sebanyak
36 kali, 4 puskesmas 24 kali dan 11 puskesmas 12 kali.
7. Kesehatan Lingkungan
Penyuluhan kesehatan lingkungan dilakukan sebanyak 147 kali
selama setahun. Puskesmas Koncara, Cibatu, Sukatani dan Plered
melaksanakan penyuluhan sebanyak 12 kali, Puskesmas
Munjuljaya 9 kali, sedangkan 15 puskesmas lainnya hanya
melaksanakan penyuluhan sebanyak 6 kali.
Pada tahun 2010 Puskesmas yang terbanyak melaksanakan
penyuluhan dengan berbagai topik yaitu Puskesmas Cibatu sebanyak
190 kali penyuluhan selama satu tahun. Sedangkan yang paling sedikit
89
melaksanakan penyuluhan yaitu Puskesmas Tegalwaru, Maniis dan
Sukasari sebanyak 72 kali penyuluhan dalam satu tahun.

g. Pelayanan Kesehatan Jiwa
Pelayanan terhadap pasien gangguan jiwa dapat dimonitor melalui
jumlah kunjungan pasien gangguan jiwa ke sarana pelayanan kesehatan
pada tahun 2010 yang terdiri dari:
Jumlah kunjungan ke Puskesmas sebanyak 2.973 kunjungan
Jumlah kunjungan ke Rumah Sakit Bayu Asih sebanyak 2.003
kunjungan sedangkan dari rumah sakit swasta hanya Rumah Sakit
Etaham yang melaporkan kunjungan pasien gangguan jiwa yaitu
sebesar 22 kunjungan.
Jumlah seluruh kunjungan pasien gangguan jiwa ada 4.998
kunjungan, sedangkan jumlah seluruh kunjungan ke sarana kesehatan
sebanyak 630.195 kunjungan, maka persentase kunjungan pasien
gangguan jiwa mencapai 0.79%. Bila dibandingkan dengan jumlah
penduduk tahun 2010 sebesar 852.312 jiwa, maka cakupan kunjungan
pasien jiwa hanya 0.59%. Angka ini jauh lebih rendah dari target 3%.
Hasil Riset Kesehatan Dasar 2007 menunjukan prevalensi
gangguan mental emosional di Provinsi Jawa Barat sebesar 20% lebih
tinggi dibandingkan prevalensi Nasional (11,6%) dan untuk Kabupaten
Purwakarta angkanya lebih besar dari angka Provinsi Jawa Barat.
Prevalensi gangguan mental emosional di Kabupaten Purwakarta
sebesar 31,9%.

h. Pelayanan Kesehatan Usia lanjut
Pra usila dan usila merupakan kelompok rentan yang perlu
mendapat perhatian. Jumlah pra usila dan usila akan terus bertambah, oleh
karena itu pemeriksaan kesehatan terhadap kelompok ini akan lebih mudah
bila tergabung dalam kelompok posbindu. Jumlah pra usila seluruhnya
112.790 orang, dari jumlah tersebut sebanyak 6.993 orang mendapat
90
pelayanan kesehatan dengan persentase 6.20%. Sedangkan dari sasaran
usila sebanyak 33.167 orang, telah dilayani pemeriksaan kesehatannya
sebanyak 3.618 orang dengan persentase 10.91%. Dengan demikian dari
seluruh sasaran pra usila dan usila yang berjumlah 145.957 orang telah
dilayani pemeriksaan kesehatannya sebanyak 10.611 orang dengan
cakupan pemeriksaan 7.27%. Angka ini masih sangat jauh dari target 65%.

C. Pelayanan Kesehatan Rujukan
1. Pelayanan Pengobatan/Perawatan
a. Cakupan Rawat Jalan
Kunjungan pasien rawat jalan ke sarana pelayanan kesehatan
yang tercatat di puskesmas ada 345.973 kunjungan dan ke rumah sakit
baik pemerintah maupun swasta di Kabupaten Purwakarta ada 241.333
kunjungan. Jumlah kunjungan rawat jalan ke puskesmas dan rumah
sakit seluruhnya berjumlah 587.306 kunjungan. Jumlah ini bila
dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 2010 mencapai 68.91%.
Angka ini sudah mencapai target 12%.
b. Cakupan Rawat Inap
Kunjungan pasien rawat inap yang tercatat di rumah sakit baik
pemerintah maupun swasta di Kabupaten Purwakarta sebanyak 42.889.
Jumlah ini bila dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 2010
mencapai 5.03%. Angka ini sudah melampaui target 1.20%. Mutu
pelayanan di rumah sakit dapat dilihat pada tabel berikut ini:








91
Tabel 4.3
Gambaran BOR, LOS, TOI, BTO, GDR, dan NDR Ruang Rawat
Inap Rumah Sakit di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2010
No Nama Rumah Sakit BOR LOS TOI GDR NDR
1 RS. Bayu Asih 62.2 4.0 2.4 22.6 11.1
2
RS. Bantuan 03.08.03
Gunung Putri
88.9 3.0 0.4 0.0 0.0
3 RS. Efarina Etaham 66.6 5.6 2.8 28.1 8.6
4 RS. Amira 37.4 4.0 6.6 9.0 4.2
5 RS. Ibu dan Anak Asri 59.2 2.6 1.8 3.4 2.0
6 RS. Thamrin 48.8 3.1 3.2 5.9 5.3
7 RS. Bhakti Husada 8.0 2.2 25.7 7.7 0.8
8 RS. Holistic 32.8 6.5 13.4 42.4 29.3
9 RS. Khusus Rama Hadi 25.8 3.0 8.7 16.4 14.4

Pada tahun 2010 pemanfaatan tempat tidur (BOR) yang paling
tinggi di Rumah Sakit Bantuan Gunung Putri yaitu sebesar 88.9%.
Tingkat hunian di Rumah Sakit Gunung Putri tinggi disebabkan
jumlah tempat tidur buat pasien rawat inapnya sangat sedikit sekali,
yaitu berjumlah 23 unit tempat tidur. Dari 6 rumah sakit hanya Rumah
Sakit Bantuan Gunung Putri dan Efarina Etahan yang angka BOR-nya
sudah berada dalam parameter yang ditentukan (70-85%). Bila dilihat
dari tabel di atas angka BOR untuk Rumah Sakit Bhakti Husada masih
sangat rendah sekali hal ini dikarenakan bahwa Rumah Sakit tersebut
belum lama berdiri.
Semua Rumah Sakit di Kabupaten Purwakarta angka rata-rata
lama perawatan (LOS) belum ada yang sesuai dengan parameter yang
ditentukan yaitu 7-10 hari. Rata-rata lama perawatan di seluruh rumah
sakit baik rumah sakit pemerintah maupun swasta selama 2 sampai 5
hari hal ini menunjukan bahwa masih tingginya angka pasien pulang
paksa atas permintaan sendiri. Hanya Rumah Sakit Holistic yang
angka LOS-nya hampir mendekati parameter yang ditentukan yaitu 6.5
hari.
92
Untuk indikator TOI (kosongnya tempat tidur sampai terisi
lagi) yang paling cepat terisi lagi adalah Rumah Sakit Bantuan Gunung
Putri, bahkan dengan melihat angka TOI (0,4) rumah sakit ini tidak
pernah ada tempat tidur yang kosong selalu terisi penuh setiap hari.
Dengan melihat angka BOR dan TOI rumah sakit ini disarankan untuk
menambah tempat tidur yang baru karena pemanfaatan tempat tidurnya
sudah sangat tinggi hal ini dikarenakan Rumah Sakit ini selain banyak
dimanfaatkan oleh keluarga tentara yang bertugas di Kabupaten'
Purwakarta, rumah sakit ini juga menerima pasien yang berasal dari
masyarakat biasa.
Rumah Sakit Bhakti Husada kekosongan tempat tidur sampai
terisi kembali yaitu mencapai 25 - 26 hari, hal ini dikarenakan rumah
sakit ini belum lama berdiri dan belum begitu dikenal masyarakat.
Sedang Rumah Sakit Holistic kekosongan tempat tidur sampai terisi
kembali mencapai 13-14 hari karena rumah sakit ini lebih dikenal
sebagai rumah sakit tradisional yang menggunakan obat - obatan
herbal sedangkan rumah sakit umumnya belum lama berdiri sehingga
belum dikenal masyarakat. Pasien yang memanfaatkan fasilitas rumah
sakit ini lebih banyak dari luar daerah.
Rumah Sakit Efarina Etaham, Rumah Sakit Ibu dan Anak Asri
dan Rumah Sakit Bayu Asih kekosongan tempat tidur antara 1-3 hari
(sudah berada dalam nilai parameter yang ditentukan yaitu 1-3 hari),
hal ini dikarenakan Rumah Sakit Efarina Etaham dan rumah sakit
Bayu Asih selain menerima pasien umum rumah sakit tersebut juga
menerima pasien yang kurang mampu (Jamkesmas).
Nilai indikator GDR untuk melihat gambaran pasien yang
keluar mati dibandingkan dengan seluruh pasien yang keluar hidup dan
mati dengan nilai parameter GDR ditentukan sebesar 3-4%. Rumah
Sakit Gunung Putri nilai GDR-nya 0.0% artinya selama tahun 2010
tidak ada kematian di rumah sakit ini. Rumah Sakit Ibu dan Anak Asri
3.4%, dengan demikian rumah sakit ini nilai GDR-nya sudah berada
93
dalam parameter yang ditentukan. Sedangkan untuk 7 rumah sakit
lainnya nilai GDR-nya masih sangat tinggi yaitu mencapai 5.9% -
42.4% artinya secara umum kualitas pelayanan dalam perawatan
kepada pasien pada tujuh rumah sakit tersebut harus dievaluasi
kembali. Pelayanan perawatan yang diberikan pada pasien selama ini
dan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap tingginya nilai GDR
untuk terus diperbaiki. Secara Umum Rumah Sakit harus dapat
meningkatkan mutu pelayanan terhadap pasien dengan optimal.
Nilai Indikator NDR (jumlah kematian pasien yang meninggal
kurang dari 48 jam), parameter yang ditentukan untuk indikator ini
sebesar <2,5%. Untuk indikator inipun hanya Rumah Sakit Gunung
Putri dan Rumah Sakit Ibu dan anak Asri yang nilai NDR-nya <2,5%
yaitu sebesar 0.0% dan 2.0%. Sedangkan rumah sakit yang lainnya
nilai NDR masih jauh diatas nilai NDR yang telah ditetapkan. Hal ini
menuntut keterampilan paramedis maupun medis di rumah sakit
tersebut harus ditingkatkan lagi sehingga mampu menangani pasien
cepat, tepat sesuai dengan Protap yang telah ditentukan dalam
penanganan pasien dengan berbagai keluhan dan cara penanganan
yang berbeda.

2. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Penunjang Rujukan
a. Akses Terhadap Ketersediaan Darah dan Komponen yang Aman
Untuk Menangani Rujukan Ibu Hamil dan Neonatus.
Pada tahun 2007 diketahui data ibu maternal yang
mendapatkan darah sebanyak 1.873 orang dan neonatus yang
mendapatkan darah sebanyak 9 orang. Sedangkan tahun 2008 jumlah
ibu maternal (hamil, melahirkan dan nifas) yang mendapat darah
sebanyak 1.820 ibu dan neonatus sebanyak 13 orang. Untuk tahun
2009 dan 2010 tidak didapat data ketersediaan darah baik untuk ibu
maternal maupun neonatus.

94
b. Ibu Hamil Resiko Tinggi/Komplikasi yang Ditangani
Dari jumlah ibu hamil dengan resiko tinggi yang ditangani
sebanyak 1.525 ibu dari 2.037 ibu yang mengalami komplikasi dengan
capaian sebesar 74.86%. Dengan demikian target 60% sudah bisa
dicapai.
c. Neonatal Resiko Tinggi/Komplikasi yang Ditangani
Jumlah sasaran neonatal seluruhnya ada 22.797 neonatal. Dari
jumlah tersebut ditemukan 198 kasus neonatal yang mempunyai resiko
tinggi akan tetapi neonatal yang ditangani dan dirujuk hanya 180
neonatal dengan resiko tinggi dengan capaian 90.91%.
d. Pelayanan Gawat Darurat
Sarana Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Purwakarta
berjumlah 140 unit, dari jumlah tersebut sarana pelayanan kesehatan
yang dilengkapi dengan sarana kegawatdaruratan hanya mencapai
57.14%. Angka ini masih jauh dari target pada SPM sebesar 80%.

D. Perilaku Masyarakat
Pencapaian pembangunan kesehatan di bidang perilaku masyarakat
belum bisa banyak diungkapkan karena terbatasnya data dan informasi
perilaku masyarakat yang bisa diperoleh dari sistem pencatatan dan pelaporan
rutin yang tersedia. Data yang akan diungkapkan disini lebih banyak
menampilkan data-data hasil Suseda 2009 tingkat Provinsi Jawa Barat dan
Kabupaten Purwakarta.
a. Ketersediaan Jaminan Pembiayaan/Asuransi Kesehatan
Ketersediaan jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan dalam
Suseda 2005 merujuk pada keikutsertaan penduduk menjadi anggota
asuransi atau mempunyai jaminan pembiayaan untuk keperluan rawat
jalan atau rawat inap. Di Kabupaten Purwakarta gambaran ketersediaan
jaminan pembiayaan kesehatan digambarkan pada grafik berikut ini:


95
Grafik 4.13
Penduduk Berdasarkan Ketersediaan Jaminan Pembiayaan
Kesehatan di Kabupaten Purwakarta, Tahun 2005

Sumber: BPS, Suseda 2005
Dari data diatas dapat diketahui bahwa jaminan pembiayaan
kesehatan terbanyak adalah Astek/Jamsostek (8.57%) diikuti Askes
(5.32%), Kartu Sehat (7.32%), dan Perusahaan (0.56%). Dilain pihak kita
lihat persentase swadaya masyarakat melalui JPKM baru mencapai 0%.
Ketersediaan Kartu Sehat memang disediakan oleh pemerintah untuk
kelompok yang rentan masalah kesehatan, terutama keluarga miskin.
Adapun keluarga miskin berdasarkan quota BPS sudah 100%
mempunyai kartu jamkesmas sedangkan keluarga miskin yang tidak
dicakup jamkesmas untuk berobat bias menggunakan SKTM (Surat
Keterangan Tidak Mampu) dari kelurahan atau desa, sehingga masyarakat
miskin sudah bisa menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan baik
pelayanan dasar maupun rujukan dengan gratis dari pemerintah.
Sedangkan Hasil Riskesdas 2007 perawatan kesehatan Rawat Inap
sumber pembiayaan meliputi Askes/Jamsostek 16,3%, Askeskin/SKTM
8,2%, Dana Sehat 1,0 %, dibayar Sendiri/Keluarga 64,3% dan Lain-lain
5.32
8.57
0.56
0.00
0.28
7.20
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
Askes Jamsostek Perusahaan JPKM Dana Sehat Kartu Sehat
96
(diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain diluar tersebut)
16,3%.

b. Pengobatan Sendiri
Upaya pengobatan sendiri tanpa datang ke fasilitas kesehatan atau
memanggil dokter/petugas kesehatan, merupakan upaya anggota rumah
tangga untuk menyembuhkan atau meringankan keluhan kesehatan.
Umumnya masyarakat langsung mencari pengobatan sendiri terhadap
keluhan kesehatan yang dideritanya dari 292.024 orang yang mengeluhkan
rasa sakit sebesar 73.86% masyarakat mencari pengobatan sendiri dan
masyarakat yang tidak mengobati sendiri keluhannya ada 26.14%. Pada
grafik 4.14 terlihat persentase penduduk yang mengeluh sakit satu bulan
terakhir dan berusaha mencari pengobatan sendiri:
Grafik 4.14
Persentase Penduduk yang Menjalani Pengobatan Sendiri
di Kabupaten Purwakarta, Tahun 2009

Sumber: Suseda Provinsi Jawa Barat tahun 2009



0
10
20
30
40
50
60
70
80
Ya Tidak
73.86
26.14
Pengobatan Sendiri
97
c. Pertolongan Persalinan
Penolong kelahiran merupakan salah satu indikator kesehatan
terutama yang berkaitan dengan tingkat kesehatan ibu dan anak serta
pelayanan kesehatan secara umum. Dilihat dari sisi kesehatan ibu dan
anak, persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan seperti dokter dan
bidan dianggap lebih baik dari yang ditolong oleh bukan tenaga kesehatan
seperti dukun, keluarga atau lainnya. Menurut hasil Suseda 2009 penolong
pertama dan terakhir persalinan di Kabupaten Purwakarta digambarkan
sebagai berikut:
Tabel 4.4
Persentase Penolong Pertama dan Terakhir dari Kelahiran Di Bawah
5 Tahun di Kabupaten Purwakarta, Tahun 2009
Tenaga Penolong Penolong Pertama Penolong Terakhir
Dokter 0.09 7.69
Perawat 38.21 42.95
Dukun Bayi 52.92 48.99
Lainnya 0.78 0.37
Sumber: Suseda Provinsi Jawa Barat, tahun 2009
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa untuk penolong pertama
persalinan masyarakat lebih banyak memilih dukun bayi (52.92%)
dibanding ke dokter dan perawat. Keadaan ini hampir sama dengan
kondisi keputusan terakhir untuk menentukan pertolongan persalinan yaitu
ke dukun (48.99%) dan ke perawat (42.95%) sedangkan ke dokter sebesar
7.69%.

d. Pemberian ASI Eksklusif
Air Susu Ibu berperan sangat penting dalam menjaga dan
mempertahankan kesehatan kelangsungan hidup bayi. Di Indonesia, yang
dimaksud ASI Eksklusif adalah anjuran pemberian ASI saja tanpa
pengganti ASI ataupun makanan tambahan selama 6 bulan pertama
kehidupan bayi. Di Kabupaten Purwakarta sekitar 1.632 bayi (11.32%)
98
dilaporkan telah menjalani ASI eksklusif. Data dari laporan Suseda 2009
menyebutkan persentase pemberian ASI telah mencapai 92.01%.
Sementara itu pemberian ASI setidaknya dilanjutkan sampai bayi
mencapai usia 2 tahun di Kabupaten Purwakarta telah mencapai 37.30%
dan 19.13% lagi menyusui hingga usia mencapai 18-23 bulan sebagaimana
digambarkan pada grafik sebagai berikut:
Grafik 4.15
Persentase Lama Pemberian ASI di Kabupaten Purwakarta
Berdasarkan hasil Suseda 2009

Sumber: Suseda Provinsi Jawa Barat, Tahun 2009

e. Kemandirian Posyandu
Dalam upaya menurunkan angka kematian balita dan angka
kelahiran di tingkat masyarakat telah lama dikembangkan suatu
pendekatan keterpaduan KB-kesehatan, yang dalam pelaksanaannya di
tingkat desa dilaksanakan melalui Pos Pelayanan Terpadu. Di Kabupaten
Purwakarta pada tahun 2010 terdapat 968 posyandu dan semua desa sudah
memiliki posyandu dengan ratio 5 sampai 6 posyandu perdesa dan ratio
kader terhadap posyandu ada 4 sampai 5 kader per posyandu. Artinya
secara fisik masyarakat telah memiliki kemudahan akses ke Posyandu.
0
5
10
15
20
25
30
35
40
0 1-5 6-11 12-17 18-23 24+
1.34
14.81
12.43
15
19.13
37.3
99
Keadaan seperti ini merata di setiap desa/kelurahan. Pengelolaan posyandu
oleh masyarakat juga bisa digunakan untuk mengukur tingkat peran serta
masyarakat terhadap penyelenggaraan posyandu yang dinilai dari tingkat
kemandirian posyandu di wilayahnya. Hasil telaah kemadirian posyandu
pada tahun 2010 sebanyak 434 (44.83%) posyandu dengan strata
Posyandu Purnama dan ada 89 posyandu (9.19%) dengan status mandiri.
Dengan demikian baru 523 posyandu (54.03%) dari seluruh posyandu
yang ada dengan status
Purnama dan mandiri. Sementara itu, menurut Susenas 2002 di
Provinsi Jawa Barat kunjungan balita (0-4 thn) ke posyandu mencapai
79,48%.

E. Pelayanan Kesehatan
Berobat jalan adalah kegiatan atau upaya anggota masyarakat yang
mempunyai keluhan kesehatan untuk memeriksakan diri dan mendapatkan
pengobatan dengan mendatangi tempat pelayanan kesehatan modern atau
tradisional tanpa menginap, termasuk mendatangkan petugas kesehatan ke
rumah.
a. Kunjungan Rawat Jalan ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Informasi berobat jalan atau' kunjungan ke fasilitas pelayanan
kesehatan masyarakat dapat dipergunakan untuk mengetahui pemanfaatan
pelayanan kesehatan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan.









100
Grafik 4.16
Kunjungan Pasien Berobat Jalan ke Puskesmas
Menurut Jenis Pelayanan yang Dibutuhkan
di Kabupaten Purwakarta Tahun 2010

Dari semua yang berkunjung ke puskesmas untuk berobat jalan,
relatif banyak dimanfaatkan adalah pelayanan di Balai Pengobatan Umum
sebesar 69.40%, berikutnya adalah pelayanan KIA dengan persentase
12.5%, diikuti oleh kunjungan BP Gigi sebesar 8.34%. Kunjungan ke KB
hanya mencapai 3.68% dan pelayanan lainnya 6.08%. Jumlah kunjungan
ke puskesmas dan puskesmas pembantu pada tahun 2009 adalah 303.209
kunjungan dengan persentase 35.86% dari jumlah penduduk. Sedangkan
tahun 2010 kunjungan ke Puskesmas meningkat menjadi 345.973
kunjungan dengan persentase 40.59%.







0
10
20
30
40
50
60
70
BP Umum KIA KB BP Gigi Lain-lain
69.4
12.5
3.68
8.34
6.08
101
Grafik 4.17
Kunjungan Rawat Jalan ke Puskesmas
Di Kabupaten Purwakarta Tahun 2006 s/d 2010

Informasi mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan dari
berbagai fasilitas kesehatan dan swasta serta perorangan dapat diketahui
dari hasil Suseda 2007, bahwa kunjungan ke praktek dokter/Poliklinik
menempati urutan pertama dengan persentase 37.14%, berikutnya adalah
kunjungan ke praktek tenaga kesehatan sebesar 28.40%, puskesmas dan
puskesmas pembantu sebagai fasilitas pelayanan dasar dan rujukan dengan
persentase 23.89%. Kunjungan ke Rumah Sakit umumnya hanya
dimanfaatkan untuk pelayanan kesehatan spesialis dan rujukan (5.83%)
terutama untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilayani di fasilitas pelayanan
kesehatan dasar dan untuk kunjungan ke fasilitas kesehatan lainnya dengan
persentase sebesar 4.74%. Sedangkan untuk kunjungan ke fasilitas
kesehatan pada tahun 2009 dan 2010 tidak didapat datanya. Persentase
Penduduk Kabupaten Purwakarta yang berobat jalan menurut fasilitas
yang dikunjungi selengkapnya digambarkan pada grafik berikut ini.



222632
278932
273133
303209
345973
0
50000
100000
150000
200000
250000
300000
350000
400000
2006 2007 2008 2009 2010
102
Grafik 4.18
Persentase Penduduk yang Berobat Jalan Menurut Fasilitas
Pengobatan yang Dikunjungi 1 Bulan Terakhir
Di Kabupaten Purwakarta, Tahun 2007

Sumber: Suseda 2007
Jumlah kunjungan rawat jalan ke rumah sakit di Kabupaten
Purwakarta dapat diketahui sebagaimana digambarkan grafik berikut:
Grafik 4.19
Kunjungan Rawat Jalan ke Rumah Sakit
di Kabupaten Purwakarta Tahun 2010

0
10
20
30
40
5.83
37.14
23.85
28.4
4.74
Kunjungan
0
10000
20000
30000
40000
50000
60000
70000
80000
90000
RS. Bayu
Asih
RS.
Efariana
Etaham
RS.
Batuan
Gunung
Putri
RS. Ibu
dan Anak
Asri
RS. Amira RS.
Thamrin
RS. Bhakti
Husada
RS.
Holistic
RS.Khusus
Rama
Hadi
80785
47820
6456
34676
11318
36949
7182
10901
5246
103
Kunjungan yang paling banyak yaitu ke Rumah Sakit Bayu Asih
hal ini menunjukan bahwa masyarakat di Kabupaten Purwakarta lebih
banyak menggunakan Rumah Sakit Pemerintah dibandingkan dengan
Rumah Sakit Swasta. Kunjungan rawat jalan ke Rumah Sakit Bayu Asih
sebesar 80.785 orang selama tahun 2010.

b. Kunjungan Rawat Inap ke Fasilitas Peiayanan Kesehatan
Rawat inap dalam 1 tahun terakhir adalah upaya penyembuhan di
suatu unit peiayanan kesehatan modem atau tradisional dimana responden
harus menginap minimal 1 hari. Menurut laporan dari rumah sakit di
Kabupaten Purwakarta digambarkan sebagaimana grafik berikut:
Grafik 4.20
Kunjungan Rawat Inap di Rumah Sakit
Di Kabupaten Purwakarta tahun 2010


Jumlah kunjungan rawat inap pada tahun 2010 paling banyak yaitu
ke Rumah Sakit Bayu Asih sebesar 14.548 kunjungan, hal ini ditunjang
dengan adanya Jamkesmas dimana masyarakat miskin dapat menggunakan
fasilitas kesehatan baik rawat inap maupun rawat jalan dengan gratis.

0
2000
4000
6000
8000
10000
12000
14000
16000
RS. Bayu
Asih
RS.
Efariana
Etaham
RS.
Batuan
Gunung
Putri
RS. Ibu
dan Anak
Asri
RS. Amira RS.
Thamrin
RS. Bhakti
Husada
RS.
Holistic
RS.Khusus
Rama
Hadi
14548
11100
1056
4778
4964
5796
1235
949
1469
104
BAB V
SUMBER DAYA KESEHATAN

A. Pendayagunaan Tenaga Kesehatan
Pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dan pelayanan rujukan di
rumah sakit sangat ditentukan oleh ketersediaan tenaga kesehatan meliputi
jenis tenaga dan ratio setiap jenis tenaga terhadap penduduk. Jumlah tenaga
kesehatan di Kabupaten Purwakarta dari fasilitas kesehatan milik pemerintah
seperti Puskesmas dan Puskesmas Pembantu, Dinas Kesehatan dan Rumah
Sakit pada tahun 2010 berjumlah 1.853 orang. Tenaga kesehatan
dikategorikan menjadi 7 kategori sebagaimana diatur dalam PP No. 32/1996,
sebagai berikut:
1. Tenaga medis meliputi dokter (umum dan spesialis) dan dokter (gigi,
umum dan spesialis)
2. Tenaga keperawatan meliputi perawat dan bidan
3. Tenaga kefarmasian meliputi apoteker, analis farmasi dan asisten apoteker
4. Tenaga Kesehatan masyarakat meliputi epidemiology kesehatan,
entomolog kesehatan, mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan,
administrator kesehatan, dan sanitarian.
5. Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien
6. Tenaga keterafisian fisik meliputi fisioterafis, okuterafis dan terafis wicara
7. Tenaga keteknisian medis meliputi radiografer, radioterafis, teknisi gigi,
teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisen, otorik
prostetik, teknisi transfusi dan perekam medis.
Jumlah dan persentase perjenis tenaga kesehatan di Kabupaten
Purwakarta keadaan tahun 2010 disajikan pada tabel berikut ini:





105
Tabel 5.1
Jumlah Tenaga Kesehatan Per Kategori Tenaga di Kabupaten Purwakarta
Tahun 2010
No. Jenis Tenaga
Unit Kerja
Dinas
Kesehatan
%
Rumah
Sakit
% Puskesmas % Jumlah %
A Tenaga Kesehatan
1. Tenaga Medis 3 3.03 173 7.61 69 10.53 245 8.10
2. Tenaga Keperawatan 12 12.12 818 36.00 389 59.39 1.219 40.28
3. Tenaga Kefarmasian 3 3.03 64 2.82 12 1.83 79 2.61
4. Tenaga Kes. Masyarakat 31 31.31 12 0.53 5 0.77 48 1.59
5. Tenaga Gizi 3 3.03 83 3.65 12 1.83 98 3.24
6. Sanitarian 5 5.05 4 0.18 14 2.14 23 0.76
7. Keteknisan Medis 1 1.01 99 4.36 10 1.53 110 3.64
8. Keteknisan Fisik 0 0.00 31 1.36 0 0.0 31 1.02
Jumlah 58 58.59 1.284 56.51 511 78.02 1.853 61.24
B Tenaga Non Kesehatan 41 41.41 988 43.49 144 21.98 1.173 38.76
Jumlah Seluruhnya 99 100 2.272 100 655 100 3.026 100
Sumber : Dinas Kesehatan Kab Purwakarta Tahun 2010
Penyebaran tenaga kesehatan di Kabupaten Purwakarta sebagian besar
69.29% bekerja di rumah sakit baik rumah sakit pemerintah maupun swasta,
27.58% bekerja di Puskesmas yang meliputi Puskesmas Induk dan Puskesmas
pembantu dan hanya 3.13% saja yang bekerja di Dinas Kesehatan.
Ratio tiap jenis tenaga kesehatan yang diperlukan dibanding penduduk
dapat diketahui sebagai berikut:
Terdapat 28 - 29 orang tenaga medis diantara 100.000
Terdapat 143 -144 orang tenaga perawat diantara 100.000 penduduk
Terdapat 9-10 orang tenaga farmasi diantara 100.000 penduduk
Terdapat 5-6 orang tenaga kesehatan masyarakat diantara 100.000
penduduk
Terdapat 11-12 orang tenaga gizi diantara 100.000 penduduk
Terdapat 2-3 orang tenaga sanitasi diantara 100.000 penduduk
Terdapat 12 - 13 orang tenaga Keteknisan medis diantara 100.000
penduduk
Terdapat 3-4 orang tenaga Keteknisan fisik diantara 100.000 penduduk
106
Dengan demikian di Kabupaten Purwakarta terdapat 217-218 orang
tenaga Kesehatan diantara 100.000 penduduk. Selengkapnya dapat dilihat
pada tabel berikut ini:
Tabel 5.2
Ratio Tenaga Kesehatan Per Kategori Tenaga Per 100.000 Penduduk di
Kabupaten Purwakarta Tahun 2010
No. Jenis Tenaga
Jumlah
Tenaga
Ratio Per 100.000
Penduduk
1 Medis 245 28.74
2 Perawat & Bidan 1.219 143.02
3 Farmasi 79 9.26
4 Gizi S8 11.50
5 Keteknisan Medis 110 12.90
6 Sanitasi 23 2.70
7 Kesehatan Masy 48 5.63
8 Keteknisan Fisik 31 3.64
Jumlah 1.853 217.41

Mengingat keterbatasan yang ada, maka pemenuhan tenaga kesehatan
di Kabupaten Purwakarta tidak bisa dipenuhi oleh Daerah secara keseluruhan
tetapi harus dipenuhi dari luar Daerah. Pada tahun 2008 khusus untuk tenaga
bidan dapat merekrut dari dalam daerah walaupun jumlahnya masih sangat
kecil sekali sedangkan untuk tenaga kesehatan yang lainnya belum bisa.
Langkah lainnya adalah melalui kerja sama dengan Pemerintah
Kabupaten/Kota sekitarnya yang memiliki institusi pendidikan khusus
kesehatan melalui kontrak daerah atau sejenisnya.
Disisi lain peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masih
menghadapi kendala terbatasnya tenaga kesehatan dalam mengikuti diklat
teknis maupun fungsional sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Umumnya pelatihan sesuai tupoksi dilaksanakan atas dasar permintaan
Dinas/Badan dari tingkat yang lebih tinggi, pelaksanaan latihan di tingkat
kabupaten sangat kurang karena keterbatasan tenaga pengajar/narasumber,
107
tempat praktek, dan juga dikarenakan belum tersedianya badan yang
mengelola pendidikan teknis khusus kesehatan.
1. Tenaga Kesehatan di Puskesmas
Jumlah tenaga di Puskesmas sebanyak 655 orang yang terdiri dari
78.02% tenaga kesehatan dan 2198% tenaga non kesehatan. Tenaga
Kesehatan di Puskesmas terdiri dari Tenaga Medis sebanyak 69 orang
(10.53%), tenaga keperawatan 389 orang (59.39%), tenaga kefarmasian
sebanyak 12 orang (1.83%), tenaga kesehatan masyarakat sebanyak 5
orang (0.77%) tenaga gizi sebanyak 12 orang (1.83%), tenaga sanitarian
sebanyak 14 orang (2.14%) dan tenaga keteknisan medis sebanyak 10
orang (1.53%).
Tenaga kesehatan di Puskesmas secara rinci dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 5.3
Jumlah Tenaga Kesehatan yang Bekerja di Puskesmas Kabupaten
Purwakarta Tahun 2010
No. Jenis Tenaga
Jumlah
Tenaga
%
Tenaga Kesehatan 511 78.02
1 Medis 69 10.53
2 Perawat & Bidan 389 59.39
3 Farmasi 12 1.83
4 Kesehatan Masy 5 0.77
5 Gizi 12 1.83
6 Sanitasi 14 2.14
7 Keteknisan Medis 10 1.53
8 Keteknisan Fisik 0 0.00
Tenaga Non Kesehatan 144 21.98
Jumlah 655 100

a) Tenaga Medis
Tenaga medis yang bekerja di puskesmas sebanyak 69 orang
yang terdiri dari dokter umum sebanyak 48 orang (69.57%) dan dokter
gigi sebanyak 21 orang (30.43%).

108
Tabel 5.4
Jumlah Tenaga Dokter Umum dan Dokter Gigi serta
Rasio Terhadap Penduduk Dirinci Berdasarkan Puskesmas
di Kabupaten Purwakarta Tahun 2010
No.
Nama
Puskesmas
Jumlah
Penduduk
Jumlah
Dokter
Umum
Rasio
Dokter
Umum/
Penduduk
Jumlah
Dokter
Gigi
Rasio
Dokter
Gigi/
Penduduk
1 Purwakarta 52.409 5 1 : 10.482 2 1 : 26.205
2 Munjuljaya 66.288 2 1 : 33.144 1 1 : 66.288
3 Koncara 47.023 2 1 :23.112 1 1 :47.023
4 Campaka 40.838 3 1 : 13.613 1 1 :40.838
5 Jatiluhur 61.866 2 1 : 30.933 1 1 :61.866
6 Plered 70.703 3 1 :23.568 1 1 :70.703
7 Sukatani 63.527 3 1 :21.176 2 1 : 31.764
8 Darangdan 59.668 2 1 :29.834 1 1 : 59.668
9 Maniis 31.024 3 1 : 10.341 1 1 : 31.024
10 Tegalwaru 44.174 3 1 : 14.725 0 0
11 Wanayasa 38.956 3 1 : 12.985 0 0
12 Pasawahan 40.461 1 1 :40.461 1 1 :40.461
13 Bojong 44.694 2 1 :22.347 1 1 :44.694
14 Maracang 27.899 1 1 :27.899 1 1 : 27.889
15 Mulyamekar 19.387 3 1 : 6.462 2 1 : 9.694
16 Bungursari 51.929 2 1 :25.965 2 1 :25.965
17 Cibatu 26.820 4 1 : 6.705 1 1 :26.820
18 Sukasari 14.417 2 1 : 7.209 0 0
19 Pondoksalam 26.301 1 1 :26.301 1 1 :26.301
20 Kiarapedes 23.928 1 1 :23.928 1 1 :23.928
Jumlah 852.312 48 1 :17.757 21 1 :40.586

Rasio dokter terhadap jumlah penduduk di wilayah kerja
Puskesmas Kabupaten Purwakarta paling tinggi yaitu di Puskesmas
Pasawahan yaitu 1 : 40.461 yang artinya 1 orang dokter melayani
40.461 orang penduduk. Hal ini sungguh sangat ironis karena tidak
mungkin satu orang dokter melayani penduduk yang begitu banyak,
apalagi Pasawahan termasuk daerah pedesaan yang dukungan sarana
kesehatan swasta yang sangat sedikit sekali dan masyarakatnya sendiri
mempunyai latar belakang yang kurang diantaranya pendidikannya
109
rendah, daya beli dan kemampuannya secara ekonomi juga rendah
sehingga masyarakat hanya mengandalkan Puskesmas sebagai sarana
pelayanan kesehatan.
Rasio Dokter umum terhadap penduduk yang paling rendah
yaitu di Puskesmas Mulyamekar yaitu 1 : 6.462. Puskesmas
Mulyamekar berada pada wilayah yang sangat mudah dijangkau,
walaupun Puskesmas ini bukan puskesmas perkotaan tetapi
wilayahnya berbatasan dengan Kecamatan Purwakarta. Hal ini
menunjukan bahwa akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
sangat mudah baik ke balai pengobatan swasta, rumah sakit
pemerintah maupun swasta dan lain-lain.
Berdasarkan hasil rasio dokter umum terhadap jumlah
penduduk terdapat 12 puskesmas yang berada di atas rasio kabupaten,
hal ini menunjukan bahwa persebaran dokter yang bekerja di
Puskesmas masih belum merata. Sehingga mempengaruhi terhadap
beban kerja dokter di setiap Puskesmas menjadi sangat jauh berbeda.
Persebaran dokter gigi di Kabupaten Purwakarta sangat tidak
merata, hal ini dapat dilihat dari masih adanya Puskesmas yang tidak
mempunyai dokter gigi. Sehingga Puskesmas yang tidak mempunyai
dokter gigi program kesehatan gigi dan mulutnya tidak bisa berjalan
dengan baik.
Puskesmas Sukasari tidak mempunyai dokter gigi bahkan
perawat gigipun tidak ada hal ini akan sangat berdampak pada
kesehatan penduduk di Puskesmas Sukasari terutama kesehatan gigi
dan mulut. Sedangkan di Puskesmas Tegalwaru dan Wanayasa
walaupun tidak mempunyai dokter gigi tetapi program kesehatan gigi
dan mulut masih bisa berjalan karena masih ada perawat gigi yang
bekerja di puskesmas tersebut, oleh karena itu hasil cakupan program
kesehatan gigi dan mulut sangat rendah sekali.


110
b) Tenaga Keperawatan
Jumlah tenaga keperawatan di Puskesmas sebanyak 389 orang
yang terdiri dari jumlah perawat sebanyak 129 (33.16%) sedangkan
jumlah bidan sebesar 260 orang (66.84%). Persebaran perawat dan
bidan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.5
Jumlah Tenaga Perawat dan Bidan serta
Rasio Terhadap Penduduk Dirinci Berdasarkan Puskesmas
di Kabupaten Purwakarta Tahun 2010
No.
Nama
Puskesmas
Jumlah
Penduduk
Jumlah
Perawat
Rasio
Perawat/
Penduduk
Jumlah
Bidan
Rasio
Bidan/
Penduduk
1 Purwakarta 52.409 6 1 : 8.735 6 1 : 8.735
2 Munjuljaya 66.288 6 1 : 11.048 6 1 : 11.048
3 Koncara 47.023 5 1 : 9.405 6 1 : 7.837
4 Campaka 40.838 4 1 : 10.210 14 1 :2.917
5 Jatiluhur 61.866 7 1 :8.838 19 1 : 3.256
6 Plered 70.703 10 1 : 7.070 18 1 : 3.928
7 Sukatani 63.527 6 1 : 10.588 20 1 : 3.176
8 Darangdan 59.668 8 1 : 7.461 19 1 : 3.140
9 Maniis 31.024 6 1 : 5.170 9 1 : 3.447
10 Tegalwaru 44.174 8 1 : 5.522 15 1 : 2.945
11 Wanayasa 38.956 5 1 : 7.791 19 1 : 2.050
12 Pasawahan 40.461 7 1 : 5.780 15 1 : 2.697
13 Bojong 44.694 3 1 : 14.898 14 1 :3.192
14 Maracang 27.899 4 1 : 6.975 7 1 : 3.986
15 Mulyamekar 19.387 6 1 : 3.231 7 1 :2.770
16 Bungursari 51.929 8 1 :6.491 14 1 : 3.709
17 Cibatu 26.820 7 1 : 3.831 15 1 : 1.788
18 Sukasari 14.417 6 1 :2.403 12 1 : 1.201
19 Pondoksalam 26.301 8 1 : 3.288 12 1 : 2.192
20 Kiarapedes 23.928 9 1 :2.659 13 1 : 1.841
Jumlah 852.312 129 1 :6.607 260 1 : 3.278





111
Berdasarkan hasil rasio di atas untuk jumlah perawat terhadap
jumlah penduduk yang paling tinggi di Puskesmas Bojong Yaitu 1 :
14.898 yang artinya 1 orang perawat harus melayani 14.898 penduduk
dan yang paling rendah yaitu di Puskesmas Sukasari yaitu 1 : 2.403
artinya 1 orang perawat hanya melayani 2.403 orang penduduk.
Sedangkan rasio jumlah bidan terhadap jumlah penduduk yang
paling tinggi yaitu di Puskesmas Munjuljaya yaitu 1 : 11.048. Wilayah
kerja Puskesmas Munjuljaya berada di Pusat Kota Kabupaten
Purwakarta, dimana mempunyai jumlah dan kepadatan penduduk yang
sangat tinggi. Meskipun disetiap kelurahan dan desa sudah mempunyai
bidan tetap rasionya tinggi sehingga diharuskan adanya penambahan
bidan untuk Puskesmas yang rasio bidannya masih tinggi terutama
Puskesmas Munjuljaya, Purwakarta dan Koncara. Sedangkan yang
paling rendah yaitu di Puskesmas Sukasari yaitu 1 : 1.201 yang artinya
1 orang bidan hanya melayani 1.201 penduduk.
Untuk melihat persebaran Bidan di Kabupaten Purwakarta
dapat dilihat dari tabel berikut ini:














112
Tabel 5.6
Jumlah Bidan Puskesmas dan Bidan Desa serta
Rasio Bidan Desa Terhadap Desa Dirinci Berdasarkan Puskesmas
di Kabupaten Purwakarta Tahun 2010
No.
Nama
Puskesmas
Jumlah
Kelurahan
/ Desa
Jumlah
Bidan
Puskesmas
Jumlah
Bidan
Desa
Rasio Bidan
Desa/ Desa
1 Purwakarta 3 2 4 1.33
2 Munjuljaya 4 1 5 1.25
3 Koncara 3 1 5 1.66
4 Campaka 10 3 11 1.10
5 Jatiluhur 10 3 16 1.60
6 Plered 16 3 15 0.94
7 Sukatani 14 1 19 1.36
8 Darangdan 15 1 18 1,20
9 Maniis 8 1 8 1.00
10 Tegalwaru 13 1 14 1.08
11 Wanayasa 15 2 17 1.13
12 Pasawahan 12 1 14 1.17
13 Bojong 14 0 14 1.00
14 Maracang 6 1 6 1.00
15 Mulyamekar 3 2 5 1.66
16 Bungursari 10 2 12 1.20
17 Cibatu 10 4 11 1.10
18 Sukasari 5 3 9 1.80
19 Pondoksalam 11 0 12 1.09
20 Kiarapedes 10 2 11 1.10
Jumlah 192 34 226 1.18

Pada tahun 2010 semua desa sudah mempunyai bidan bahkan
ada beberapa desa yang mempunyai 2 bidan desa, dengan demikian
kesehatan ibu dan anak seharusnya dapat ditingkatkan. Hal ini dapat
dilihat dari kesehatan ibu maternal yaitu cakupan K4 (88.43%) dan
persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan (83.93%) yang semuanya
masih berada dibawah target. Berdasarkan data tersebut masih 11.57%
dari ibu hamil tidak memeriksakan kehamilannya kepada bidan dan
16.07% ibu bersalin tidak melaksanakan persalinannya di tenaga
kesehatan (bidan).
113
Bila dilihat data rasio jumlah bidan per desa sebesar 1.18, hal
ini menunjukan bahwa sudah semua desa mempunyai Bidan Desa
bahkan ada beberapa desa yang jumlah bidannya lebih dari satu.

2. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit
Jumlah tenaga yang bekerja di rumah sakit sebesar 2.272 yang
terdiri dari tenaga kesehatan 1.284 (56.51%) dan tenaga non kesehatan 988
(43.49%). Data Tenaga di Rumah Sakit dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.7
Jumlah Tenaga Kesehatan yang Bekerja di Rumah Sakit Kabupaten
Purwakarta Tahun 2010
No. Jenis Tenaga
Jumlah
Tenaga
%
Tenaga Kesehatan 1.284 56,51
1 Medis 173 7.61
2 Perawat & Bidan 818 36.00
3 Farmasi 64 2.82
4 Kesehatan Masyarakat 12 0.53
5 Gizi 83 3.65
6 Sanitasi 4 0.18
7 Keteknisan Medis 99 4.36
8 Keteknisan Fisik 31 1.36
Tenaga Non Kesehatan 988 43.49
Jumlah 2.272 100

Data tabel di atas berasal dari 9 rumah sakit yaitu Rumah Sakit
Bayu Asih, Rumah Sakit Bantuan Gunung Putri, Rumah Sakit Efarina
Etaham, Rumah Sakit Amira, Rumah Sakit Khusus ibu, Anak Asri dan
Rumah Sakit Thamrin, Rumah Sakit Holisyic dan Rumah Sakit Khusus
Bedah Rama Hadi. Dimana jumlah medis yang bekerja di Rumah Sakit
sebesar 7.61-%, Perawat 36.00%, Kefarmasian 2.82%, Kesmas 0.53%,
Gizi 3.65%, Sanitarian 0.18%, Keteknisan Medis 4.36% dan Keteknisan
Fisik 1.36%.
114
Tenaga yang bekerja di Rumah Sakit lebih didominasi oleh tenaga
perawat hal ini diperlukan untuk melaksanakan perawatan pada pasien
yang harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit.

3. Tenaga Kesehatan di Dinas Kesehatan
Tenaga yang bekerja di Dinas Kesehatan sebanyak 99 orang yang
terdiri dari tenaga kesehatan sebesar 58 orang (58.59%), dan tenaga non
kesehatan sebesar 41 (41.41%). Tenaga kesehatan yang bekerja di Dinas
Kesehatan Kabupaten Purwakarta lebih didominasi oleh tenaga kesehatan
masyarakat yaitu sebesar 31 orang (31.31%) dan keperawatan sebesar 12
orang (12.12%). Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.8
Jumlah Tenaga Kesehatan yang Bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten
Purwakarta Tahun 2010
No. Jenis Tenaga
Jumlah
Tenaga
%
Tenaga Kesehatan 58 58.59
1 Medis 3 3.03
2 Perawat & Bidan 12 12.12
3 Farmasi 3 3.03
4 Kesehatan Masyarakat 31 31.31
5 Gizi 3 3.03
6 Sanitasi 5 5.05
7 Keteknisan Medis 1 1.01
8 Keteknisan Fisik 0 0.00
Tenaga Non Kesehatan 41 41.41
Jumlah 99 100

B. Pendayagunanan Sarana Kesehatan
Kehadiran sarana pelayanan kesehatan swasta baik berbentuk badan
maupun perorangan dimungkinkan karena kemampuan Pemerintah dalam
penyediaan infrastruktur maupun sarana dan prasarana kesehatan terbatas,
dengan demikian masyarakat mempunyai banyak pilihan dalam
mengkonsumsi pelayanan kesehatan sesuai keperluannya. Dilain pihak dengan
115
banyaknya sarana pelayanan kesehatan akan terjadi persaingan ketat dan sehat
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Sarana kesehatan milik pemerintah terdiri dari 1 unit Badan RSUD
Bayu Asih Purwakarta, 1 unit Rumah Sakit Bantuan Gunung Putri, 20
puskesmas dan 50 puskesmas Pembantu, sedangkan puskesmas keliling
jumlahnya ada 21 unit dan 17 unit Polindes. Ratio puskesmas pembantu
dibanding puskesmas 1: 2,50. Artinya terdapat rata-rata 2-3 puskesmas
pembantu di setiap puskesmas. Sedangkan ratio puskesmas dengan penduduk
1 : 42.615, artinya 1 puskesmas melayanai 42.615 penduduk dan ratio
puskesmas pembantu dibanding penduduk 1 : 17.046, artinya 1 puskesmas
pembantu melayani 17.046 penduduk.
Sarana pelayanan kesehatan lain seperti Balai pengobatan/klinik ada
91 buah, Rumah Bersalin 18 unit, Apotek43 unit, laboratorium 9 unit dan
optikal 14 unit. Jumlah tempat praktek perorangan tenaga medis seperti dokter
umum ada 53 orang, dokter gigi 31 dan 150 praktek bidan.
Ditingkat masyarakat terdapat 968 posyandu yang dilayani oleh 3.886
kader dengan ratio posyatidu dibanding kader 1 : 4.01, artinya terdapat 4-5
orang kader pada setiap posyandu.

C. Pembiayaan Kesehatan Kabupaten
Kemampuan Pemerintah Daerah dalam pembiayaan program-program
kesehatan masih terbatas, hal ini terlihat dari ratio anggaran kesehatan untuk
tahun 2010 dibandingkan dengan Total APBD secara keseluruhan sebagai
berikut:
a. Ratio total biaya program-program kesehatan yang dikelola Dinas
Kesehatan (tanpa badan RSUD Bayu Asih) dari sumber anggaran APBD
Kabupaten, sebagai berikut:
% 80 . 3 % 100
717 . 736 . 982 .
755 . 451 . 414 . 37 .
x
Rp
Rp

116
b. Ratio total biaya program-program kesehatan yang dikelola Dinas
Kesehatan dan Badan RSUD Bayu Asih Purwakarta dari berbagai sumber
anggaran termasuk APBD Kabupaten, sebagai berikut:
% 50 . 8 % 100
710 . 717 . 736 . 982 .
114 . 757 . 504 . 83 .
x
Rp
Rp

Dari kedua perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa ratio anggaran
program-program pelayanan kesehatan yang dikelola Dinas Kesehatan yang
bersumber dari anggaran APBD Kabupaten dibandingkan dengan total
anggaran APBD Kabupaten baru mencapai 3.80%. Sedangkan total anggaran
kesehatan yang dikelola oleh Dinas Kesehatan dan Badan RSUD Bayu Asih
Purwakarta dari berbagai sumber bila dibandingkan dengan total anggaran
APBD Kabupaten sudah mencapai 8.50%. Hal ini menunjukan bahwa
anggaran kesehatan berbagai sumber belum sesuai dengan kesepakatan
Bupati/Walikota se-Indonesia persentase anggaran kesehatan hendaknya bisa
mencapai 10-15% dari total anggaran APBD Kabupaten/Kota.
Meskipun demikian masih ada beberapa kegiatan yang telah
dilaksanakan belum dapat mencapai hasil yang optimal, disamping kendala
dari segi manajemen pelayanan dan kualitas Sumber Daya Manusia yang
belum merata dan Profesional.
Bila penduduk Purwakarta 852.312 jiwa dan besarnya anggaran
kesehatan tahun 2010 mencapai Rp, 83.504.757.114,- maka besarnya biaya
kesehatan perkapita tahun 2010 sudah mencapai Rp. 97.974,-. Angka ini
berada di bawah standar biaya kesehatan perkapita WHO sebesar Rp. 306.000
perkapita.
Menurut data Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) tahun 2001 yang
diambil dari data KOR Propinsi Jawa Barat menyebutkan bahwa biaya
kesehatan mencapai 7% dari total seluruh pengeluaran keluarga, sedangkan
untuk Kabupaten Purwakarta mencapai 6% dari total seluruh pengeluaran
keluarga.
Kekurangan dana kegiatan diharapkan dapat di tanggulangi melalui
upaya menjalin kemitraan dengan badan nasional maupun international
117
melalui pemerintah Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, seperti Program
Kesehatan Ibu dan Anak dengan anggaran dari GAVI. Ditingkat Kabupaten
jalinan kemitraan juga perlu terus dikembangkan tidak hanya dengan
Pemerintah Daerah dan Lingkungan Sektoral, tetapi juga dengan
mengembangkan peran serta aktif masyarakat melalui Program Upaya
Kesehatan Masyarakat Bersumber Daya Masyarakat Perlu juga
dipertimbangkan peran swasta dan kelompok potensial di tingkat masyarakat
agar mulai berperan secara aktif dalam penyelesaian masalah-masalah
kesehatan sesuai bidangnya masing-masing sebagai wujud kemandirian
masyarakat di bidang pelayanan kesehatan.





















118
BAB VI
KESIMPULAN

A. Upaya peningkatan pembangunan manusia Kabupaten Purwakarta tampak
mengalami peningkatan dari tahun 2009 ke tahun 2010. IPM tahun 2008 dan
tahun 2009 masuk dalam klasifikasi menengah atas (IPM antara 66,00 -
79,99), dalam kurun waktu satu tahun terjadi kenaikkan nilai IPM sebesar 0.08
persen. Meningkatnya nilai IPM Kabupaten Purwakarta ini tidak terlepas dari
kontribusi ketiga komponen IPM. Hasil ini diperoleh dengan berdasar pada
perhitungan masing-masing komponen IPM seperti Angka Harapan Hidup
(AHH), Angka Melek Huruf (AMH) dengan rata-rata lama sekolah (mean
years schooling). Perkembangan IPM Kabupaten Purwakarta dalam kurun
waktu 3 tahun terakhir mengalami peningkatan dimana IPM pada tahun 2008
sebesar 70.91 dan pada tahun berikutnya yaitu tahun 2009 meningkat 73.27
dan tahun 2010 IPM meningkat lagi menjadi 74.84.
B. Derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Purwakarta saat ini terus
mengalami peningkatan bersamaan dengan terus berkembangnya potensi
Pembangunan Daerah. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan :
Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2004 turun menjadi 56.83 per 1000
Kelahiran hidup dari 58.64 per 1000 KH pada tahun 2003. Tapi hasil
perhitungan lain BPS dan UNFPA turun dari 49.17 menjadi 48.00 per
1.000 KH pada kelompok laki-laki dan dari 36.89 menjadi 36.01 per 1.000
KH pada kelompok perempuan. Angka ini berada dibawah rata-rata Jawa
Barat 52.00 per 1.000 KH pada kelompok laki-laki dan 39.01 per 1.000
KH pada kelompok perempuan. Walaupun angka kematian terjadi
kenaikan tetapi persentase gizi buruk balita meningkat dari angka 0,73%
menjadi 0.84 (dibawah 5%).
Karena dari hasil penelitian sebelumnya tidak tersedia Angka Kematian
Ibu (AKI) untuk Kabupaten/Kota maka sebagai pembanding digunakan
AKI Propinsi Jawa Barat hasil perhitungan SKRT tahun 1992 sebesar 420
per 1000 KH. AKI Kabupaten Purwakarta telah turun menjadi 411.02 per
119
100.000 KH pada tahun 2003 hasil perhitungan BPS & Balitbangda Jawa
Barat. Sementara itu, hasil perhitungan lain menurut BPS dan UNFPA
2003 menunjukan adanya peningkatan AKI Kabupaten Purwakarta
menjadi 467,84 per 100.000 KH sedangkan pada tahun 2004 menurun
kembali menjadi 243.07 per 100.000 kelahiran hidup.
Angka Harapan Hidup Kabupaten Purwakarta berdasarkan hasil
pengolahan Susenas menunjukkan angka yang terus meningkat. Dari tahun
ke tahun angka harapan hidup Kabupaten Purwakarta menunjukan
peningkatan yang signifikan, hingga pada tahun 2009 angka harapan hidup
Kabupaten Purwakarta mencapai 67.56 dan pada tahun 2010 meningkat
kembali menjadi 68.06. Kondisi ini memberikan indikasi umum bahwa
telah terjadi peningkatan taraf kesehatan masyarakat, walaupun
sebenarnya harus dikaji lagi lebih mendalam faktor-faktor apa saja yang
sebenarnya mempengaruhi kenaikan ini. Secara umum faktor yang bisa
mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat tersebut antara lain semakin
memadainya pelayanan kesehatan, semakin terpenuhinya kondisi makanan
bergizi yang dikonsumsi masyarakat, keadaan sanitasi dan lingkungan
perumahan yang semakin membaik, serta semakin besarnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat.
C. Pola penyakit rawat jalan di puskesmas masih didominasi oleh penyakit
infeksi karena mikroorganisme seperti Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut,
Diare, Pneumonia dan dermatitis, sedangkan pola penyakit rawat jalan di
rumah sakit didominasi ISPA, TB. Paru, dispepsia dan Diare dan
Gastroenteritis sedangkan untuk rawat inap penyakit yang mendominasi
adalah Diare dan gastroenteritis, DBD dan TB. Paru.
D. Secara umum penyakit-penyakit menular pada tahun 2010 terjadi penurunan
jika dibandingkan pada tahun 2009. Penyakit DBD menurun menjadi 300
kasus dari 968 kasus pada tahun 2009, hal ini menunjukan adanya perbaikan
sanitasi lingkungan terutama lingkungan pemukimandan selalu diadakannya
fogging oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta setiap adanya laporan
penyakit DBD. Penyakit pneumonia sedikit meningkat dari 4.100 pada tahun
120
2009 menjadi 4.103 tahun 2010. Penyakit TB. Paru pun terjadi penurunan dari
499 pada tahun 2009 menjadi 472 pada tahun 2010. Hanya insiden terhadap
penyakit diare juga menurun dari 30.09 per 1.000 penduduk pada tahun 2009
menjadi 17.56 per 1.000 penduduk pada tahun ini. Kejadian kasus diare sangat
dipengaruhi oleh kondisi sanitasi lingkungan dan hygiene perorangan serta
pengelolaan makanan.
E. Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti Pertusis,
Tetanus, Difteri dan Hepatitis pada tahun ini tidak diketemukan kasusnya.
Tetapi untuk penyakit Tetanus Neonatorum terdapat 3 kasus, penyakit AFP
terdapat 4 kasus di Kabupaten Purwakarta atau sebesar 0.57 per 100.000
penduduk di bawah usia 15 tahun. Sedangkan untuk penyakit campak
berjumlah 208 pada tahun ini, dengan demikian kasus campak meningkat
sangat tajam dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 50 kasus, oleh
karena itu program imunisasi terutama pada usia bayi perlu ditingkatkan lagi.
F. Perkembangan penyakit terutama penyakit menular tidak dapat dilepaskan
dari kondisi lingkungan yang ada di masyarakt itu sendiri. Kondisi lingkungan
yang baik akan sangat mempengaruhi terhadap penurunan kasus-kasus
penyakit menular di masyarakat. Pada tahun 2010 ini kasus penyakit menular
secara umum terjadi penurunan, kondisi ini berbanding terbalik dengan
keadaan kesehatan lingkungan pada tahun 2010 mengalami penurunan.
Cakupan air bersih menurun dari 83.73% tahun 2009 menjadi 80.27%,
cakupan rumah sehat dari 73.23% meningkat menjadi 68.47%, cakupan SPAL
dari 67.85% tahun 2009 menjadi 64.48% dan cakupan jamban dari 83.06%
menjadi 79.63%. Dengan demikian kegiatan kesehatan lingkungan harus lebih
ditingkatkan kembali dan adanya pelatihan/refresing petugas mengenai
kesehatan lingkungan.
G. Pesentase gizi buruk balita sebesar 0.86% angka ini masih berada di bawah
toleransi gizi buruk balita yaitu sebesar 5%. Walau demikian masih perlu
diwaspadai karena persentase gizi buruk ini meningkat jika dibandingkan
tahun lalu yaitu 0.84 menjadi 0.86 dan balita dengan status gizi kurang yang
masih cukup tinggi yaitu sebesar 5.63% bila penanganan yang kurang baik
121
terhadap gizi kurang akan berpotensial terjadinya penurunan status gizi
menjadi gizi buruk.
H. Tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar dilihat dari jumlah kunjungan
rawat jalan ke puskesmas pada tahun 2010 meningkat mencapai 345.973
kunjungan atau 40.59% dari jumlah penduduk. Fasilitas pelayanan kesehatan
di Puskesmas paling banyak digunakan yaitu BP umum sebesar 69.40%
kunjungan selama setahun, pelayanan BP Gigi dengan persentase 8.34%,
diikuti oleh kunjungan KIA sebesar 12.50%. Kunjungan ke KB hanya
mencapai 3.68% dan pelayanan lainnya 6.08%. Sedangkan untuk pelayanan
kesehatan rujukan dilakukan oleh Rumah Sakit Pemerintah maupun Rumah
Sakit Swasta. Adapun tingkat pemanfaatan rumah sakit masih didominasi oleh
rumah sakit pemerintah yaitu RSUD Bayu Asih walaupun rumah sakit swasta
mulai banyak bermunculan menawarkan fasilitas pelayanan dan kenyamanan
yang lebih baik. Kunjungan rawat jalan ke Rumah Sakit dari 241.333
kunjungan, 80.785 kunjungan ke Rumah Sakit Bayu Asih selama satu tahun
sedangkan kunjungan rawat inap dari 42.889 kunjungan, 14.548 kunjungan ke
Rumah Sakit Bayu Asih.
I. Secara umum kinerja sektor kesehatan dari unit Dinas Kesehatan dan
jajarannya yang dimonitor dari pencapaian cakupan program dalam SPM
terhadap target telah mencapai titik stagnan/statis dengan kecenderungan
mulai menurun. Hal ini terlihat jelas dengan masih banyaknya pencapaian
program kesehatan yang lebih rendah dari target sebagai mana tuntutan UW &
SPM bidang kesehatan tahun 2010. Hal ini bisa dimengerti karena upaya yang
dilakukan belum maksimal sedangkan masyarakat mulai jenuh dengan pola
intervensi program yang sama/rutin. Langkah berikutnya adalah mencari
terobosan baru dengan meperhatikan kebutuhan program dari sisi sasaran dan
memperbaiki manajemen pelayanan kesehatan beserta rujukan serta
meningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalisme tenaga kesehatan.
J. Pelayanan kesehatan di luar gedung masih terfokus pada pelayanan komunitas
yang sifatnya public goods dan sisi lain yang berbasis institusi belum tergarap
122
secara sungguh-sungguh, seperti pembinaan terhadap industri dan tenaga
kerja, tempat-tempat umum, sarana tempat ibadah dan sebagainya.
K. Kinerja pelayanan di rumah sakit ditentukan melalui beberapa indikator
pelayanan rumah sakit diataranya : BOR rumah sakit yang paling banyak
dimanfaatkan tempat tidurnya adalah Rumah Sakit Bantuan Gunung Putri
yaitu sebesar 88.9% dan Rumah Sakit Bhakti Husada paling kecil yaitu
sebesar 8.0%, TOI yang paling baik di Rumah Sakit Bantuan Gunung Putri
yaitu sebesar 0,4 hari sedangkan yang paling lama terisi yaitu di Rumah Sakit
Bhakti Husada yaitu sebesar 25.7 hari, LOS semua rumah sakit belum ada
yang sesuai dengan parameter yang telah ditentukan (0-7 hari), hal ini
menunjukan masih banyaknya pasien pulang paksa atas keinginan sendiri,
hanya Rumah sakit Bantuan Gunung Putri yang angka GDR dan NDR sudah
sesuai dengan nilai parameter yang ditentukan yaitu 0.0%,.
L. Besaran anggaran pelayanan kesehatan yang bersumber dari anggaran APBD
Kabupaten dan dikelola oleh Dinas Kesehatan baru mencapai 4.59% dari total
APBD Kabupaten, idealnya anggaran kesehatan mampu menyerap 10%
sampai 15%. Walau demikian tenaga kesehatan harus mampu memberikan
pelayanan kesehatan paripuma yang disertai dengan upaya-upaya kesehatan
yang berkelanjutan guna mewujudkan kemandirian masyarakat di bidang
kesehatan.
M. Di bidang ketenagaan ratio tenaga kesehatan dibanding jumlah penduduk yang
harus dilayani masih jauh, kondisi saat ini dari setiap 100.000 penduduk hanya
terdapat 217 sampai 218 orang tenaga kesehatan. Dengan kondisi seperti ini
pelayanan kesehatan kepada masyarakat sulit dapat dilaksanakan secara
optimal, belum lagi sebagian dari tenaga kesehatan adalah tenaga dengan
status pekerja tidak tetap yang setiap saat bisa diputus kontraknya dan petugas
yang telah lama mengabdi banyak yang memasuki masa pensiun. Dilain
pihak, insfrastruktur kesehatan yang dibangun oleh pemerintah dan pihak
swasta sudah mendekati ratio yang mendekati kesesuaian dengan jumlah
pendududk yang harus dilayani, misalnya 1 puskesmas melayani 42.615
penduduk dari ketetapan 30.000 penduduk, 1 puskesmas pembantu melayani
123
17.046 dari ketetapan 15.000 penduduk. Kedepan sumber daya tenaga
kesehatan akan menjadi isu sentral di bidang pelayanan kesehatan.