Anda di halaman 1dari 13

POLAROGRAFI

A. Pendahuluan
Polarografi merupakan metode analisis yang didasarkan pada peristiwa polarisasi dalam
elektrolisis. Sebagaimana diketahui bahwa polarisasi terjadi pengutupan pada elektroda yang
menyebabkan laju kuat arus (i) yang makin berkurang. Metode Gravimetri mulai dikenalkan oleh
Jaroslav Heyrovsky (1922). Polarografi merupakan suatu metode analisis yang didasarkan pada
prinsip elektrolisis pada elektroda mikro tetes air raksa. Selanjutnya teknik polarografi ini
dijadikan dasar bagi pengembangan metode Voltametri. Atau dapat dikatakan metode
Polarografi merupakan sub bagian Voltametri dengan menggunakan elektroda kerja elektroda
tetes merkuri (dropping mercury electrode, DME).
Polarografi dan Voltametri adalah suatu teknik elektroanalisis yang memperoleh informasi dari
analit berdasarkan kurva arus-potensial {i = f(E)}, dengan melakukan pengukuran arus listrik (i)
sebagai fungsi potensial (E) yang diberikan.
B. Prinsip Dasar Hubungan Arus dan Konsentrasi
Dasar dari polarografi adalah elektrolisis dari suatu larutan yang mengandung analit eletroaktif,
artinya zat-zat yang dapat dioksidasi secara listrik (electro oxidable) dan yang dapat direduksi
secara listrik (electro reductible) pada elektroda tetes air raksa. Misalnya dalam larutan
mengandung ion logam, Mnt, maka akan terjadi reaksi reduksi secara listrik :
Mnt + ne + Hg (s) = M (Hg)
Perpindahkan materi yang berlangsung di dalam larutan pada umumnya dapat terjadi dengan 3
cara :
1. Perpindahan secara migrasi
Materi yang bermuatan, karena adanya gaya tarik menarik elektrostatik, maka materi bermuatan
bergerak menuju kutub dengan muatan yang berlawanan, yakni kation-kation menuju katoda dan
anion-anion menuju anoda.
2. Perpindahan secara difusi
Partikel-partikel mengalir dari daerah yang lebih rapat (pekat) menuju daerah yang lebih
renggang (cucu).
3. Perpindahan secara konveksi
Pengaruh temperatur dan goyangan atau pengadukan menyebabkan partikel berpindah dari
tempat ke tempat lain.
Dari ketiga jenis perpindahan tersebut menyebabkan laju perpindahan massa yang berimplikasi
pada besarnya arus total (itot) yang terjadi
it = arus total
it = im + id + ik im = arus migrasi
id = arus difusi
ik = arus konveksi
Dalam polarografi, diusahakan agar arus yang terukur adalah semata-mata berasal dari arus
difusi saja, maka im dan ik harus dihilangkan atau diperkecil. Arus konveksi dapat dikurangi
dengan cara melakukan percobaan tanpa pengadukan dan arus migrasi dikurangi atau ditekan
dengan penggunakan elektrolit pendukung.
Selanjutnya dengan menganggap, hanya arus difusi saja yang ada, untuk luas elektroda sebesar
S, besarnya rapat arus (I) adalah :
I =
Menurut hukum Fick tentang difusi, kecepatan difusi adalah sebanding dengan gradien
konsentrasi, yang dinyatakan sebagai :

atau
I = n F D
i = n F S D
x = jarak dari permukaan elektroda
D = koefisien difusi
Secara skematis difusi partikel pada permukaan elektroda dapat digambarkan sebagai berikut :
Co = konsentrasi analit pada tubuh larutan
Ce = konsentrasi analit pada permukaan elektroda
S = tebal lapisan difusi
Bila (Co-Ce) adalah penurunan konsentrasi analit pada lapisan difusi (s), dan elektroda berada
pada keadaan keseimbangan dinamik, maka harga dapat diganti dengan , sehingga persamaan
menjadi :
i = n F S D
Dengan penggunaan E pada elektroda yang divariasikan, maka harga i menjadi naik dan
menyebabkan konsentrasi analit pada permukaan elektroda (Ce) menjadi menurun, sehingga Co
dianggap jauh lebih besar dari Ce, maka
i=
Sebenarnya lapis difusi bukan merupakan tebal yang konstan, tetapi berubah sesuai gradien
konsentrasi . Misalkan ada dua satuan jarak dari permukaan elektroda yaitu dan x (x + dx). Flux
materi pada permukaan elektroda per satuan luar (fo) dapat dirumuskan sebagai

Pada saat dt ada beda flux dari fx menjadi f(x + dx) di bagian lain dari bidang, maka

Persamaan diferensial orde kedua ini dapat diselesaikan menurut difusi linier semi infisit, yang
menghasilkan hubungan
Bila disubstitusikan pada persamaan i = n F S D , maka

Apabila dipelajari lebih lanjut pada elektroda tetes air raksa yang diskemakan berikut, ada suatu
keadaan dimana tetes air raksa tumbuh dan kemudian jatuh serta diperbaharui lagi dengan bentuk
yang baru.
Bila waktu hidup air raksa adalah dan waktu tetesnya adalah t, maka volume tetesan adalah
V = r3
dengan v = volume Hg yang mengalir (dalam satuan C3/detik)
r = jari-jari pada saat
Dengan menganggap bahwa difusi terjadi adalah difusi planar pada elektroda S, maka
S = 4 r2 = 4 = k (m)2/3
m = masa tetes Hg (dalam gr/detik)
= kecepatan Hg
k = tetapan
sehingga besarnya arus i
i = k n F D1/2 . (m . )2/3 .
atau i = k n D1/2 m 2/3 1/6 Co
k, k = adalah tetapan
Keadaan ini adalah besarnya arus pada saat tepat tetesan akan jatuh. Dengan menggunakan
harga-harga yang ada pada elektroda merkuri dan adanya fluktuasi waktu hidup dari tetesan dan
adanya masalah Inersia, Ilkovie memberikan koreksi terhadap persamaan di atas menjadi

id = 607 . n D1/2 m 2/3 1/6 Co

Dari persamaan tersebut tampak bahwa besarnya arus difusi berbanding lurus dengan konsentrasi
analit dalam larutan (Co).
Untuk tujuan analisis kualitatif maupun kuantitatif kita dapat mengukur polarogram analit.
Sebagai contoh suatu sampel yang mengandung ion Cd2+ setelah diukur akan mempunyai
polarogram sebagai berikut :
Untuk menentukan kuantitatif analit dalam sampel maka perlu dibandingkan dengan zat standar.
Dengan membandingkan besarnya arus difusi, maka zat analit dapat dihitung melalui
perbandingan id dan konsentrasi secara grafik polarogram yang dihasilkan adalah sebagai berikut
D. Instrumentasi Polarografi
1. Mercury Elektroda (Elektroda Merkuri)
Elektroda merkuri merupakan elektroda kerja dalam sistem polarografi, disamping 2 elektroda
yang lain yaitu elektroda pembanding (Ag/AgCe atau kolonel jenuh) dan elektroda pembantu
(Auxiallary elektroda) (Pt atau Au). Ketiga elektroda ditempatkan dalam satu tabung yang
mengandung analit. Adapun bentuk skema elektroda tersebut adalah sebagai berikut :
2. Potensiostat
Potensiostat merupakan bagian instrument yang terdiri dari rangkaian listrik yang berguna untuk
menjaga potensial dan mengatur potensial tetap pada nilai tertentu.
Secara sederhana
3. Alat pembaca (Readout)
Pada prinsipnya polarografi adalah mengukur arus yang keluar akibat pemberian potensial
tertentu. Alat ukur yang paling sederhana adalah mikroampermeter. Pada perkembangannya
pembacaan arus secara digital bahkan komputerise.
E. Hal-hal Pendukung pada Polarografi
1. Pelarut dan elektrolit pendukung
Elektrolit pendukung berfungsi untuk menekan arus migrasi, mengontrol potensial agar tahanan
larutan dikurangi serta menjaga kekuatan ion total yang konstal. Polarografi dapat dilakukan
pada fase air dan fase organik. Pada fase air biasanya digunakan elektrolit pendukung garam-
garam seperti KCl, KNO3, NH4Cl dan NH4NO3.
Pada polarografi dengan fase organik (seperti : asetonitril, propilen karbonat, dimetil formamid,
dimetil sulfoksid dan alkohol) biasanya dipakai elektrolit pendukung garam tetra alkil amonium.
Sedangkan buffer (seperti asetat, fostat atapun sitrat) digunakan apabila pH larutan sangat perlu
untuk dikontrol.
2. Pengusir Oksigen
Oksigen dapat mengalami reduksi dalam dua tahap, yaitu
O2 + 2H+ + x = H2O2 E = -0,1 Volt
H2O2 + 2H+ + x = 2H2O E = -0,9 Volt
Apabila polarografi digunakan untuk analisis spesi zat yang mempunyai nilai potensial reduksi
sekitar 0,1 Volt dan 0,9 Volt, maka adanya oksigen akan mengganggu pengukuran. Oleh
sebab itu diperlukan zat pengusir gas oksigen. Umumnya untuk kasus ini digunakan gas nitrogen
untuk mengusir gas oksigen.
Berbeda dengan metode ini, deteksi elektrokimia, seperti polarografi, menawarkan sensitivitas
dan selektivitas tinggi untuk logam yang mudah teroksidasi atau tereduksi dengan instrumentasi
yang sederhana dan modal dan operasional biaya yang murah. Sekarang, penerapan polarografi
tidak terbatas untuk toksisitas merkuri.
Elektrokimia pada cair / cair (L / L) antarmuka pada umumnya mempelajari transfer
muatan (ion dan muatan) antarmuka antara dua larutan elektrolit yang tidak bercampur dan
reaksi kimia yang terkait. Berdasarkan properti khusus antarmuka antara dua larutan elektrolit
tidak bercampur, penggunaan pelarut organik yang sesuai dengan toksisitas rendah untuk
pengganti merkuri beracun adalah bidang baru bagi pemantauan logam berat.
Square-wave voltametri merupakan salah satu teknik voltmetri yang memiliki
keunggulan dari metode voltmetri yang lain. Keunggulannya antara lain penyediaan cuplikan
yang sederhana dan waktu analisis yang cepat. Penyediaan cuplikan yang biasa dilakukan hanya
pelarutan tanpa pemekatan dan pemisahan unsur-unsur mayornya, sehingga dapat mengurangi
kesalahan dengan batas deteksi 10 ug/L dengan peralatan yang tidak begitu mahal. Dengan
metode voltmetri ini dimungkinkan mempelajari spesi kimia dari logam berat yang tidak bias di
lakukan dengan metode lain. Mirceski dan Scholz [15] mempelajari elektrokimia dari pasangan
redoks yodium / iodida pada pengaturan tiga fasa organik cair (larutan) elektroda grafit pada
proses elektrokimia reversibel dengan menggunakan Square-wave voltametri sebagai metode
elektro kimia
Dalam makalah ini, metode sederhana pemantauan ion tembaga secara tidak langsung
dirancang dengan menyelidiki reaksi elektrokimia yodium pada antarmuka L / L dengan
Square-wave voltametri. Berbeda dari penelitian Mirceski dan Scholz, elektroda komposit baru
dipilih sebagai elektroda kerja, yang dibuat dengan memasukkan kawat Pt elektroda ke sebuah
mikropipet. Pelarut organik yang mengandung ekstraks yodium disuntikkan ke pipet, sehingga
antarmuka L/ L didukung dengan menetapkan pipet hanya pada permukaan larutan di
bawahnya. Xie et al. telah mempelajari perilaku elektrokimia yodium menggunakan berbagai
jenis elektroda, dan menganalisa dengan cara voltametri siklik. Penelitian ini memilki
keunggulan dari penelitian yang dilakukan oleh Xie et al dari dua aspek. Pertama, dengan
menggunakan square-wave voltametri untuk mengganti voltametri siklik, waktu analisis
berkurang secara drastis dan ketajaman bentuk puncak kurva membuat lebih mudah untuk
pembacaan puncak dan pendeteksian kuantitatif lebih nyata dibandingkan dengan voltametri
siklik. Kedua, dalam proses ekstraksi, maka volume pelarut organik lebih sedikit dibandingkan
volume larutan stok air yang berisi triiodida, atau paling tidak sama.
LANDASAN TEORI
2.1. Voltametri
Voltametri adalah salah satu metode elektroanalitik dimana informasi mengenai analit
diperoleh dari pengukuran arus sebagai fungsi potensial yangditerapkan. Sel voltametri terdiri
dari tiga elektroda yang dimasukkan kedalam larutan yang mengandung analit dan elektrolit
nonreaktif berlebih yang disebut elektrolit pendukung (Skoog, West and Holler, 1996).
Teori dasar voltametri adalah polarografi. Polarografi merupakan metode analisis yang
menggunakan teknik potensial terkontrol dengan pengukuran arus yang dihasilkan. Reaksi yang
terjadi adalah :
O + n e R
Dimana O dan R merupakan bentuk analit dalam keadaan oksidasi dan reduksi, e adalah elektron
yang terlibat dalam reaksi dan n menunjukkan jumlah electron yang terlibat dalam reaksi
tersebut.
Secara termodinamika potensial elektroda dapat digunakan untuk menentukan jenis
(analisa kualitatif) dan jumlah (analisa kuantitatif) reaksi yang terjadi berdasarkan persamaan
Nernst :

E = E
0
- 2,303 log - - E pembanding..[1]

Dimana Eo adalah potensial standar reaksi redoks yang terjadi, R adalah tetapan gas mutlak, T
adalah temperatur (K), n adalah jumlah elektron yang terlibat dalam reaksi, ared dan aoks
masing-masing adalah aktivitas bahan dalam keadaan reduksi dan oksidasi dan F adalah bilangan
Faraday. Arus yang dihasilkan dari reaksi redoks tersebut dinamakan arus Faradik, karena
mengikuti hukum Faraday (1 mol bahan memberikan n x 96487 Coulomb listrik).
Dalam voltametri digunakan tiga elektroda yang dicelupkan dalam larutan elektrolit.
Yang pertama adalah eletroda kerja, elektroda ini memiliki berbagai bentuk dan ukuran
tergantung penggunaannya. Biasanya berbentuk pelat kecil atau piringan kecil konduktor yang
dipres dan diletakkan dalam batang (rod) material inert, misalnya teflon. Konduktor yang biasa
digunakan adalah logam inert, seperti platina, emas, glassy carbon atau grafit, semikonduktor
indium dioksida, maupunlogam yang dilapisi oleh raksa.
Elektroda kedua merupakan elektroda referensi (biasanya berupa kalomel jenuh atau
Ag/AgCl), yang memiliki potensial tetap selama eksperimen berlangsung. Elektroda yang ketiga
disebut elektroda pembantu. Elektroda ini berupa kabel platinum yang fungsinya tersedia hanya
untuk mengalirkan listrik yang berasal dari sumber sinyal melalui larutan menuju elektroda kerja
(Skoog et. al, 1998).
Arus akan mengalir ketika potensial pada elektroda kerja cukup negatif untuk terjadinya
reaksi reduksi, atau potensial cukup positif untuk terjadinya reaksi oksidasi. Pada potensial
dimana arus mulai mengalir berhubungan dengan Eo untuk tiap pasangan reaksi, hal ini disebut
sinyal analitik kualitatif. Besarnya arus berhubungan dengan konsentrasi analit yang bereaksi
pada elektroda, ini disebut sinyal analitik kuantitatif.
Ada tiga mekanisme aliran arus yang muncul pada sistem, yaitu :
a) Konveksi, yaitu aliran arus yang disebabkan oleh pengadukan, density gradient atau karena
gradien temperatur dalam larutan.
b) Elektromigrasi, yaitu aliran arus karena perpindahan kation menuju katoda dan anion menuju
anoda. Ketika arus mengalir, muatan dibawa oleh ion melalui larutan berdasarkan nilai
transference number-nya.
c) Difusi, yaitu aliran arus yang berhubungan dengan gradien konsentrasi. Analit akan mengalir
secara spontan dari daerah berkonsentrasi tinggi menuju ke konsentrasi rendah.
Arus konveksi dapat diminimalkan dengan cara menghilangkan pengadukan dan
pengukuran dilakukan pada temperatur yang tetap. Arus elektromigrasi tidak dapat dihindari,
karena ketika arus mengalir, muatan harus dibawa melalui larutan. Arus akan dibawa oleh
spesies yang yang memiliki transference number tertinggi dan hal ini bergantung pada mobilitas
dan konsentrasi. Jika suatu garam inert dengan konsentrasi tinggi ditambahkan dalam larutan,
misalnya KCl, maka muatan akan dibawa oleh ion garam ini, sehingga arus elektromigrasi dapat
diminimalkan. Garam inert yang ditambahkan disebut elektrolit pendukung, harus memiliki
konsentrasi 50 sampai 100 kali lebih tinggi dari konsentrasi analit. Arus yang berhubungan
dengan reaksi analit adalah arus difusi (Kennedy, 1990).
Pada potensial tertentu larutan elektrolit pendukung mengalami proses oksidasi-reduksi.
Dengan adanya proses ini akan mempengaruhi voltamogram yang dihasilkan. Oleh karena itu
diperlukan daerah potensial tertentu untuk menghindari interferensi dari larutan elektrolit
pendukung (Skoog et. al, 1998).
2.2 Metode pengukuran
Dalam voltametri, variabel sinyal eksitasi potensial memberi kesan terhadap sel yang
mengandung mikroelektroda. Sinyal eksitasi ini merupakan karakteristik respon arus berdasarkan
metoda yang digunakan. Ada beberapa jenis sinyal eksitasi, pertama linear scan biasa digunakan
pada polarography dan hydrodynamic voltammetry. Differential pulse digunakan dalam
differential pulse polarography. Square wave digunakan dalam square wave voltammetry dan
triangular digunakan dalam cyclic voltammetry (Skoog, et. al, 1998)
SWV (square wave voltammetry)
Square wave voltammetry dan differential pulse voltammetry keduaya digunakan untuk analisis
kualitatif dan kuantitatif. Metode ini mengambil keuntungan dari timing sampel ke computer
berulang kali pada dua titik relative terhadap waktu penerapan tegangan square wave untuk
electroda. Perbedaan antara dua nilai arus
diplotkan sebagai fungsi dari aplikasi potensial DC. Hasil yang diperoleh adalah puncak dari
voltammetryc wave , sesuai dengan aktivitas elektro dari spesies pada sel elektrokimia.


METODOLOGI
3.1. Alat dan bahan
Semua garam digunakan sebagai elektrolit pendukung digunakan sebagai dibeli dan
semua bahan kimia yang digunakan di sini adalah tinggi secara analitis . Larutan berair disiapkan
dalam dideionisasi air. pelarut organik dijenuhkan dengan air deionisasi sebelum percobaan.
Sebuah larutan stok triiodida ditentukan secara iodometri. Beberapa larutan yodium dalam
pelarut organik (metil isobutyl keton (MIBK)) adalah disiapkan dengan ekstraksi yodium dari
larutan stok triiodida dalam air jenuh MIBK. Semua percobaan elektrokimia dilakukan di
temperatur kamar (25 1) C dengan elektrokimia analizer (CHI832b, Chenhua, Shanghai,
Cina), spectra UV-VIS diukur dengan UV-VIS (Unico UV-2102, Unico (Shanghai) Instrumen
Co Ltd, Shanghai, Cina).
3.2. Prosedur Eksperimental
Sebuah sel tiga elektroda konvensional digunakan, dalam penelitian ini dengan
menggunakan elektroda kalomel jenuh (SCE) sebagai elektroda pembanding (E = 0,241 V
versus elektroda hidrogen standar) dan platinum elektroda sebagai elektroda bantu. Elektroda
kerja adalah kawat platina (d = 0.1mm) disegel dalam kapiler klasik (d = 1,0 mm). Sebelum
semua percobaan, kawat platina itu direndam kedalam 1 mol / L H2SO4 untuk diaktifkan
selama percobaan voltametri siklik. Setelah aktivasi, itu dipoles dengan kulit domba,
dibersihkan berturut-turut dengan alkohol dan aseton, kemudian dikeringkan dengan hair drier.
Setelah itu, 20 ~ 40 uL dari MIBK mengandung yodium yang disuntikkan ke dalam pipet
dengan menggunakan microsyringe, dan elektrode kawat platina direndam ke dalamnya.
Kemudian elektroda digabungan segera dan diset hanya pada permukaan larutan. Diagram
skematik dari perakitan eksperimental ditunjukkan dalam Gambar 1. antarmuka cair / cair
antara fasa air dan organik fasa didukung seperti terlihat pada bagian 5 dari Gambar 1 (yang sel
bekerja dan area antarmuka dari 0.8 mm
2
). Selama percobaan Square-wave voltammetri, baik
distorsi signifikan atau perubahan warna dari fase organic telah diamati. Daerah antarmuka
hanya berpengaruh pengukuran arus, dimana kedua posisi respon (Potensial puncak) dan bentuk
tidak terpengaruh.
4.2. Penentuan Kuantitatif yodium
Larutan stok triiodida dibuat dengan I
2
dan KI, dan setelah penyelidikan penulis
berkesimpulan bahwa puncak arus tidak berubah bila menggunakan perbandingan mol I
2
dan KI
yang berbeda. Sehingga larutan dengan perbandingan mol antara I
2
dan KI adalah 1:0,8 dipilih
dan di encerkan menjadi konsentrasi yang berbeda.
Voltamogram square-wave dari berbagai konsentrasi yodium dalam larutan stok
triiodida yang dipilih di atas disajikan pada Gambar 3 (a). Mekanisme oksidasi yodium pada
permukaan elektroda dapat dijelaskan sebagai dalam literature 16. Puncak arus secara langsung
sebanding dengan konsentrasi I
2
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 (b). Koefisien
proporsionalitas 0,9970. Jadi wajar menyarankan bahwa penentuan kuantitatif Cu
2+
secara tidak
langsung adalah layak.
4.3. Penentuan kuantitatif Cu
2+

Seperti diketahui, sebuah analit pengoksidasi ditambahkan kedalam I- berlebih untuk
memproduksi yodium dan kemudian yodium dititrasi dengan larutan standar tiosulfat [17].
Dalam metode ini, indikator dan larutan standar disiapkan. Di sini, metode pengukuran kadar
yodium dalam larutan adalah ditingkatkan. Yodium disiapkan menurut kimia reaksi sebagai
berikut:
2Cu2 + 5I- + 2CuI (s) + I3
Kemudian berbagai konsentrasi yodium diekstraksi ke MIBK. ekstraksi pelarut adalah
teknik pemisahan yang baik didasarkan pada prinsip bahwa zat terlarut dapat mendistribusikan
sendiri dalam suatu rasio tertentu antara dua pelarut yang tidak saling larut, salah satu yang
biasanya air dan pelarut organik lainnya. Metode ini banyak digunakan karena, kecepatan
kesederhanaan, dan penerapan terhadap konsentrasi analit rendah. The voltamogram persegi-
gelombang dari yodium disiapkan dengan reaksi dari 0,02 mol / L Cu2 + dan berbagai
konsentrasi I-dalam elektrolit netral diperoleh dan hubungan antara konsentrasi I-dan puncaknya
saat ini ditunjukkan pada Gambar 4. Arus puncak meningkat seiring dengan jumlah-yang
meningkat dari I ketika konsentrasi I-kurang dari 0,8 mol / L dan tinggal hampir tak berubah
ketika konsentrasi I-lebih tinggi dari 0,8 mol / L. Kemudian kesimpulan dibuat bahwa arus
puncak adalah invariabel ketika jumlah I-digunakan cukup berlebih . Jadi Penelitian ini memilih
1 mol / L KI sebagai penurun untuk menghasilkan yodium dengan konsentrasi yang berbeda Cu2
+. Voltamogram persegi-gelombang dari yodium disiapkan dengan reaksi berbagai konsentrasi
Cu2 + dan 1mol/LI- dalam elektrolit netral ditunjukkan pada Gambar 5 (a). Arus puncak adalah
berbanding lurus dengan konsentrasi Cu2 + seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5 (b).
Proporsionalitas koefisien adalah 0,9983. Batas deteksi untuk penentuan Cu2 + tidak langsung
ditemukan menjadi 5 10-4 mol / L, dan konsentrasi berkisar hingga 1 10-2 mol / L
memberikan linier membatasi respon yang versus konsentrasi..
konduktometri
Konduktometri adalah salah satu metoda analisa kimia kuantitatif berdasarkan daya hantar listrik
suatu larutan. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan konsentrasi ion di
dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion di dalam larutan ion
yang mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar. Kelebihan ini meliputi biaya
yang rendah. Voltmeter dan elektroda jauh lebih murah dibandingkan dengan instrumen-
instrumen ilmiah yang paling modern (Basset, 1994:615). Gambar I.3 Alat konduktometri
(Sulaeman, Suparto, Eviati, 2005) Berdasarkan hukum Ohm bahwa arus listrik I (ampere) yang
mengalir dalam sebuah konduktor berbanding lurus dengan gaya gerak listrik E (volt) dan
berbanding terbalik dengan hambatan R (ohm) dari konduktor(Basset, 1994:615). I=E/R (1)
Sehingga daya hantar listrik mempunyai satuan ohm-1 . Bila arus listrik dialirkan dalam suatu
larutan yang mempunyai dua elektroda, maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus dengan
luas permukaan elektroda (A) dan berbanding terbalik dengan jarak kedua elektroda (I) (Basset,
1994:615). G = l/R = k (A / l) (2) Kemampuan suatu zat terlarut untuk mengantarkan arus listrik
disebut daya hantar ekivalen (^) yang didefinisikan sebagai daya hantar suatu gram ekivalen zat
terlarut di antara dua elektroda dengan jarak kedua elektroda adalah 1 cm. yang dimaksud
dengan berat ekivalen adalah berat molekul dibagi jumlah muatan negatif atau positif. Volume
larutan (cm3) yang mengandung satu gram ekivalen zat terlarut diberikan oleh (Basset,
1994:616); V=1000/C (3) Dengan C adalah konsentasi (ekivalen per cm3), bilangan 1000
menunjukan 1 liter = 1000 cm3. Volume juga dapat dinyatakan sebagai kali luas (A) dan jarak
kedua elektroda (1) (Basset, 1994:616). V=I A (4) Dengan I sama dengan 1 cm; V=A=1000/C
(5) Subtitusi persamaan ini ke dalam persamaan G diperoleh; G=1/R=1000k/C (6) Daya hantar
ekivalen pada larutan encer diberi simbol yang harganya tertentu untuk setiap ion (Basset,
1994:616). Dalam pengukuran daya hantar listrik diperlukan sumber listrik, sel untuk meyimpan
larutan dan jembatan (rangkaian elektronik) untuk mengukur tahanan larutan. Berikut adalah
penjelasan hal-hal yang diperlukan dalam pengukuran daya hantar listrik (Basset, 1994:617); 1)
Sumber listrik Hantaran arus DC (Direct Current) melalui larutan merupakan proses Faraday,
yaitu oksidasi dan reduksi terjadi pada kedua elektroda. Sedangkan arus AC (Alternating
Current) tidak memerlukan arus elektro kimia pada elektroda-elektrodanya. Dalam hal ini, aliran
arus listrik bukan akibat proses Faraday. Perubahan karena proses Faraday dapat merubah sifat
listrik sel, maka pengukuran konduktometri didasarkan pada arus non Faraday atau arus AC. 2)
Tahanan jembatan Jembatan Wheatstone merupakan jenis alat yang digunakan untuk pengukuran
daya hantar. 3) Sel Salah satu bagian konduktometer adalah sel yang terdiri dari sepasang
elektroda yang terbuat dari bahan yang sama. Biasanya elektroda berupa logam yang dilapisi
logam platina untuk menambah efektifitas permukaan elektroda.
II. TEORI DASAR
Prinsip kerja dari konduktometri ini adalah sel hantaran dicelupkan kedalam larutan ion
positif dan negative yang ada dalam larutan menuju sel hantaran menghasilkan sinyal listrik
berupa hambatan listrik larutan. Hambatan listrik dikonversikan oleh alat menjadi hantaran listrik
larutan.
Konduktometri adalah suatu metoda analisi yang berdasarkan kepada pengukuran daya
hantar listrik yang dihasilkan oleh sepasang elektroda inert yang mempunyai luas penampang
(A) dan jarak tertentu (d). Daya hantar listrik tersebut merupakan fungsi konsentrasi dari larutan
elektrolit yang di ukur. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion di dalam
larutan ion yang mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar.
Daya hantar listrik (G) merupakan kebalikan dari tahanan (R), sehingga daya hantar
listrik mempunyai satuan ohm-1 . Bila arus listrik dialirkan dalam suatu larutan mempunyai dua
elektroda, maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus dengan luas permukaan elektroda (A)
dan berbanding terbalik dengan jarak kedua elektroda (l).
G = l/R = k (A / l)
dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm
-1
cm
-1


Daya Hantar Ekivalen (Equivalen Conductance)
Kemampuan suatu zat terlarut untuk menghantarkan arus listrik disebut daya hantar
ekivalen (^) yang didefinisikan sebagai daya hantar satu gram ekivalen zat terlarut di antara dua
elektroda dengan jarak kedua electroda 1cm. Yang dimaksud dengan berat ekuivalen adalah
berat molekul dibagi jumlah muatan positif atau negatif. Contoh berat ekivalen BaCl2 adalah
BM BaCl2 dibagi dua. Volume larutan (cm3) yang mengandung satu gram ekivalen zat terlarut
diberikan oleh,
V = 100 / C
dengan C adalah konsentrasi (ekivalen per cm-3), bilangan 1000 menunjukkan 1 liter = 1000
cm3. Volume dapat juga dinyatakan sebagai hasil kali luas (A) dan jarak kedua elektroda (1).
V= l A
Dengan l sama dengan 1 cm ,
V = A = 100 / C
Substitusi persamaan ini ke dalam persamaan G diperoleh,
G = 1/R = 1000k/C
Daya hantar ekivalen (^) akan sama dengan daya hantar listrik (G) bila 1 gram ekivalen larutan
terdapat di antara dua elektroda dengan jarak 1 cm.
^ = 1000k/C
Daya hantar ekivalen pada larutan encer diberi simbol yang harganya tertentu untuk setiap ion.

Pengukuran Daya Hantar Listrik
Pengukuran daya hantar memerlukan sumber listrik, sel untuk menyimpan larutan dan
jembatan (rangkaian elektronik) untuk mengukur tahanan larutan.

1. Sumber listrik
Hantaran arus DC (misal arus yang berasal dari batrei) melalui larutan merupakan proses
faradai, yaitu oksidasi dan reduksi terjadi pada kedua elektroda. Sedangkan arus AC tidak
memerlukan reaksi elektro kimia pada elektroda- elektrodanya, dalam hal ini aliran arus listrik
bukan akibat proses faradai. Perubahan karena proses faradai dapat merubah sifat listrik sel,
maka pengukuran konduktometri didasarkan pada arus nonparaday atau arus AC.

2. Tahanan Jembatan
Jembatan Wheatstone merupakan jenis alat yang digunakan untuk pengukuran daya
hantar.

3. Sel
Salah satu bagian konduktometer adalah sel yang terdiri dari sepasang elektroda yang
terbuat dari bahan yang sama. Biasanya elektroda berupa logam yang dilapisi logam platina
untuk menambah efektifitas permukaan elektroda.