Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN STUDI KASUS

GIZI DALAM DAUR KEHIDUPAN


ACARA 4
ANAK






DISUSUN OLEH :
SHIFT 2/KELOMPOK 6
NAMA:
1. Ceria Ciptanurani (12/329203/KU/14975)
2. Irlan Awalia Sabrini (12/329204/KU/14976)
3. Hafidz Nursadewa Alif (12/329209/KU/14980)
4. Hanifah Wulandari (12/329217/KU/14988)
ASISTEN:
1. ....................., S.Gz
2. Nadia Hanun, S.Gz

LABORATORIUM GIZI
PROGRAM STUDI GIZI KESEHATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014

2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Mahasiswa memahami gizi anak.
b. Mahasiswa dapat melakukak penilaian status gizi anak.
c. Mahasiswa dapat membuat preskripsi diet pada anak.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat menyebutkan zat gizi apa saja yang esensial pada anak.
b. Mahasiswa dapat menjelaskan akibat defisiensi zat gizi tertentu pada anak.
c. Mahasiswa daat mendemonstrasikan penilaian status gizi pada anak dengan
metode antropometri, biokimia, fisik-klinis, dan asupan.
d. Mahasiswa dapat menghitung kebutuhan gizi anak.
e. Mahasiswa dapat menyediakan susunan menu yang dirancang untuk memenuhi
kebutuhan anak.

B. Tinjauan Pustaka
Anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena mereka adalah generasi
penerus bangsa. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan kualitas anak-anak saat ini.
Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis
dan berkesinambungan tumbuh kembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung
dari pemberian nutrisi dengan kualitas dengan kuantitas yang baik serta benar. Namun
demikian, orang tua dituntut untuk menyediakan makanan anak-anaknya dalam jumlah
cukup dan memenuhi persyaratangizi (Khomsan, 2002).
Anak sekolah menurut definisi WHO (World Health Organization) yaitu
golongan anak yang berusia antara 7-15 tahun , sedangkan di Indonesia lazimnya anak
yang berusia 7-12 tahun. Sedangkan menurut UU No. 20 tahun 2002 tentang
Perlindungan anak dan WHO yang dikatakan masuk usia anak adalah sebelum usia 18
tahun dan yang belum menikah. American Academic of Pediatric tahun 1998
memberikan rekomendasi yang lain tentang batasan usia anak yaitu mulai dari fetus
(janin) hingga usia 21 tahun. Batas usia anak tersebut ditentukan berdasarkan
pertumbuhan fisik dan psikososial, perkembangan anak, dan karakteristik kesehatannya.
Pembagian golongannya meliputi:
3

1. Taman kanak-kanak (pra sekolah usia 4-6 tahun)
2. sekolah dasar 7-12 tahun
3. remaja 13-18 tahun
Menurut Dwijayanti (2013) pertumbuhan dan perkembangan anak anak
dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
1. balita toddler (usia 2 3 tahun).
2. usia prasekolah (usia 3 5 tahun)
3. usia sekolah (usia 5 10 tahun).
Anak harus mendapat cukup energi dan nutrien dalam setiap tahapan
tersebut agar tercapai potensi pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
Pertumbuhan selama masa masa kanak kanak berjalan dengan tetap tetapi
tidak secepat selama masa bayi dan remaja. Saat mencapa usia sekolah, berat
badannya harus dua kali lebih berat dari berat badannya saat berusia 1 tahun.
Penurunan kecepatan pertumbuhan biasanya disebabkan oleh berkurangnya nafsu
makan dan asupan makanan pada balita dan anak usia prasekolah.
Keadaan gizi yang baik dapat dicapai dengan memperhatikan pola konsumsi
makanan, agar nutrisi tercukupi tubuh harus mendapat asupan beberapa zat gizi penting
seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air. Zat zat gizi ini harus ada
agar pertumbuhan dan fungsi tubuh berjalan dengan baik, namun tubuh tidak dapat
menghasilakan zat zat tersebut sendiri dalam jumlah cukup sehingga harus didapat
dari makanan. Pola konsumsi makanan harus memperhatikan nilai gizi makanan dan
kecukupan zat gizi yang dianjurkan. Hal tersebut dapat ditempuh dengan penyajian
hidangan bervariasi dan kombinasi.
Kebiasaan makan bervariasi pada setiap tahapan perkembangan anak,
khususnya pada anak usia sekolah. Anak usia sekolah memiliki sifat lebih mandiri.
Pemenuhan kebutuhan nutrisi anak kelompo usia ini harus seimbang dengan kebutuhan
anak untuk mengambil keputusan dan menerima teman sebaya. Anak usia sekolah
menghabiskan lebih banyak waktunya di sekolah, jauh dari orang tua, dan sering kali
hanya mendapat sedikit pengawasan pada waktu makan siang. Selain itu, pengaruh
teman sebaya sangatlah besar, sama halnya dengan pajanan terjadap berbagai jenis
makanan dan kebiasaan makan. Anak dalam usia ini mulai membuat pilihan sendiri
mengenai apa yang ingin di makannya (Dwijayanti, 2013).

4

BAB II
ISI
A. Studi Kasus
Pada praktikum ini kami mewawancarai seorang responden berinisial R.
Seorang anak laki laki berumur 8 tahun (kelas 2 SD) anak ketiga dari tiga bersaudara,
dengan kakak pertama perempuan (SMA kelas 2) dan kakak kedua laki laki (SMP kelas
2). Responden tinggal bersama orangtua dan kedua kakaknya, orangtua R memiliki
usaha toko kelontong di rumah dan Bapak responden bekerja di pabrik rokok Gudang
Garam. R merupakan anak yang aktif dengan aktivitas sedang, dalam kesehariannya
karena kebiasaannya yang setiap pulang sekolah langsung main setelah dijemput dari
sekolah dan baru pulang setelah sore hari. Tapi R juga merupakan seorang anak yang
pemalu terbukti saat kami melakukan wawancara R tidak banyak menjawab pertanyaan
yang kami ajukan padanya. R hanya tersenyum dalam menanggapi pertanyaan yang
kami berikan dan membisikan jawaban kepada Ibunya. Keadaan fisik R terlihat sehat
walaupun badannya kurus bila dibandingkan dengan anak yang seumuran dengannya. R
merupakan anak yang memunyai nafsu makan yang rendah dan senang bermain setelah
pulang sekolah hingga sore hari. Kebiasaan tidur R adalah tidur kurang lebih pukul 21.00,
bangun pukul 06.15 dan biasanya jika R terbangun tengah malam akan meminta minum
susu. R tidak pernah tidur siang. R merupakaan anak yang mendapatkan ASI eksklusif, R
di berikan MP-ASI setelah umur 6 bulan, tapi selalu muntah saat setiap kali dicoba
diberikan MP-ASI dan hingga umur 1 tahun R hanya mengkonsumsi MP-ASI.

B. Data Subjektif:
1. Biodata:
Nama Responden : Anak R
Usia : 8 tahun
Jenis Kelamin : Laki - laki
Nama Orangtua : T dan U
Alamat : Sinduadi, Sleman, Yogyakarta
Sosial Ekonomi :
a. Penghasilan Keluarga : Rp 1000.000,-
b. Asal Daerah Responden : Sleman Yogyakarta
c. Asal Daerah Orangtua : Sleman Yogyakarta

2. Riwayat makan
a. Kebiasaan makan:
5

Responden memiliki kebiasaan makan sebanyak 3 kali sehari. Responden
memiliki kebiasaan makan pagi (sarapan) dan minum susu, serta minum air putih
setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Responden lebih suka main setelah
pulang sekolah, tanpa makan siang terlebih dahulu Jika sang Ibu tidak memintanya
untuk makan dan atau menyuapinya saat makan, R jarang mau untuk makan kalau
dirinya tidak benar benar merasa lapar. R juga lebih senang jajan seperti sate,
cilok, siomay (jajan keliling) dan makan snack ringan, mi gelas sebagai selingan
yang dijual di toko orangtuanya jika Ibu responden tidak menyuruh dan atau
menyuapi makan. Responden termasuk anak yang memiliki nafsu makan kurang.
Tapi respoden juga mengkonsumsi suplemen seperti vitcom atau sakatonik anak
sesuai permintaannya.
b. Makanan yang disukai maupun tidak disukai:
Responden sangat menggemari makanan nasi goreng, hampir setiap malam
responden meminta orangtuanya untuk membelikan nasi goreng dan kemudian di
makan bersama dengan kakaknya karena porsinya yang cukup banyak. Responden
juga gemar makan sayur, buah, ayam, nugget, tempe, kentang goreng dan telor
(hampir setiap hari) serta makan dengan cita rasa pedas. Sedangkan makanan
yang kurang disukai seperti sayur terong, jipang, dan tahu. Untuk persiapan makan
Ibu responden lebih sering beli sesuai selera dan permintaan, tapi memasak
nasinya sendiri. Selain itu responden juga gemar mengkonsumsi air es yang
ditambahkaan dengan nutrisari.
c. Makanan pantangan: tidak ada pantangan dalam mengkonsumsi makanan.
d. Makanan yang menimbulkan alergi: responden tidak memiliki riwayat alergi
terhadap makanan apapun.

3. Riwayat penyakit
Responden kami jarang sakit dan tidak memiliki riwayat penyakit khusus
seperti asma, diare, atau tifus. Responden juga belum pernah sakit cacar padahal
kakak responden telah terkena cacar. Namun responden juga pernah mengalami sakit
seperti demam, batuk, dan pilek. Penyakit tersebut didapatkan karena responden
senang mengkonsumsi minuman teh instan seperti teh sisri dan juga aktivitas (main)
responden yang hampir setiap pulang sekolah.

C. Data Objektif:
1. Antropometri :
Berat badan : 21,2 kg
6

Tinggi badan : 122 cm
LILA : 16,5 cm
Lingkar Kepala : 50 cm
2. Biokimia : -
3. Fisik Klinik :
Konjungtiva Mata : merah
4. Dietary :
Tanggal : Senin, 7 April 2014

Tabel 2. Tabel Hasil Food Recall 24 Jam
Waktu Makan Menu Makanan
Banyaknya
URT
Berat
(gram)
Makan Siang
Nasi
Oseng daun pepaya
Sambal gereh pindang
Es nutrisari
1 centong
2 sdm
1 bh sdg
1 gls
100
20
40
200
Selingan Pagi
Cilok
Chiki - chiki Rp 500
20 bj
2 bungkus
170
60
Sarapan
Nasi
Telor goreng:
Telor
Minyak goreng
Susu
Gula
5 sdm

1 btr
1 sdm
1 gls
1 sdm
50

50
5
200
13
Makan Malam
Nasi Goreng:
Nasi
Telur
Ayam
Babat
Sosis
Ati ayam
Minyak
Daun bawang
Kubis
Timun
Air putih

1 gls
1 btr
1/8 ptg sdg
1/8 ptg sdg
ptg sdg
1 bh sdg
7 sdt
1 bh sdg
1/8 gls
gls
1 gls

200
50
5
5
25
30
35
10
12,5
25
200
Selingan Siang
Snack
Sate
Lontong
Nutrisari
2 bgks
2 tusuk
ptg
1 gls
50
20
50
200

Tabel 3. Tabel Persentase Pemenuhan Zat Gizi Makro Berdasarkan Recall 24 Jam
Dibandingkan AKG 2013
7

Energi (kal) Protein (g) Lemak (g) KH (g)
Asupan
Kecukupan (AKG)
% Pemenuhan % % % %

D. Asesmen
1. Antropometri:
Berat badan : 21,2 kg
Tinggi badan : 122 cm
LILA : 16,5 cm
Lingkar Kepala : 50 cm
Dari hasil pengukuran antropometri didapatkan


2. Biokimia
Dalam assesment ini, pemeriksaan kami tidak melakukan pemeriksaan
biokimia, dan responden juga tidak mempunyai hasil pemeriksaan laboratorium. Hal ini
dikarenakan

3. Fisik Klinik
4. Dietary

8

DAFTAR PUSTAKA
Khomsan,A. (2002) Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Rajagrafindo Persada : Jakarta.