Anda di halaman 1dari 14

KRITERIA KEBERHASILAN SUATU PROYEK

MAKALAH MANAJEMEN PROYEK


Diajukan untuk memenuhi persyaratan kelulusan
Matakuliah TI-4806 Manajemen Proyek


Disusun oleh:
Nama: Andrian Irawan
NIM: 1410003





DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO
INSTITUT TEKNOLOGI HARAPAN BANGSA
BANDUNG
2014

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Implementasi ilmu manajemen proyek sudah ada sejak ribuan tahun yang
lalu. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya piramida raksasa di kota
Mesir. Piramida yang secara umum merupakan sebuah bangunan yang berfungsi
sebagai makam raja-raja dan juga sebagai sarana tempat peribadahan, merupakan
bukti yang paling menakjubkan dari penerapan ilmu manajemen proyek pada
masa lalu. Pembangunan piramida yang tidak dilakukan sembarangan
membuktikan bahwa desain dari setiap sudut bangunan diperhitungkan dengan
sangat teliti. Pembangunan piramida ini tidak mungkin dapat terlaksana jika tidak
ada orang yang melakukan perencanaan, pengorganisasian dan menggerakkan
para pekerja serta melakukan pengontrolan dalam pembangunannya.[2]
Saat ini hampir disetiap perusahaan atau organisasi melaksanakan
manajeman proyek. Mereka yang tergabung dalam proyek diarahkan kepada suatu
tujuan perencanaan proyek, tentu saja ini merupakan tugas dari seorang manajer
proyek. Tugas dan kegiatan pada setiap proyek jumlahnya cukup banyak, oleh
sebab itu setiap kegiatan harus dirinci dan diperhatikan. Artinya setiap aktifitas
proyek punya tenggang waktu, dan biasanya satu sama lainnya kadang berurut
meskipun terkadang beberapa proyek saling menyilang pada suatu event yang
akan dilaksanakan. Proses manajemen proyek secara general dikelompokkan
menjadi lima kategori yaitu inisiasi, perencanaan, pemantauan & pengendalian,
eksekusi dan penutupan.[1]
Pelaksanaan manajemen proyek yang sukses diukur dari pencapaian tujuan
proyek. Sebuah proyek dikatakan berhasil apabila proyek tersebut bisa selesai
tepat waktu, sesuai antara biaya dan kualitas yang diinginkan. Untuk menentukan
keberhasilan proyek, pertama-tama perlu dibuat beberapa kriteria keberhasilan
proyek. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan dari suatu proyek. Hasil
dari makalah ini adalah informasi mengenai kriteria keberhasilan proyek, faktor-
faktor yang menentukan keberhasilan suatu proyek dan upaya untuk membuat
suatu proyek berhasil.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat ditetapkan rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana suatu proyek bisa berhasil?
2. Apa faktor-faktor yang menentukan keberhasilan suatu proyek?
3. Bagaimana upaya untuk membuat suatu proyek berhasil?

1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui dan mempelajari kriteria
keberhasilan proyek, faktor-faktor yang menentukan keberhasilan suatu proyek
dan upaya untuk membuat suatu proyek berhasil.

1.4. Batasan Masalah
Hal-hal yang menjadi batasan dari makalah ini adalah:
1. Dalam makalah ini hanya fokus membahas tentang keberhasilan suatu
proyek dan tidak membahas tentang kegagalan suatu proyek.

1.5. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan ini adalah terdiri atas lima bab, masing-masing bab
berisi:

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah,
tujuan penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA
Bab ini membahas definisi dan jenis-jenis proyek, manajemen proyek dan siklus
proyek.



BAB III PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang kriteria keberhasilan proyek dan upaya untuk
membuat suatu proyek berhasil.

BAB IV FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN PROYEK
Bab ini menjelaskan tentang faktor-faktor yang menentukan keberhasilan suatu
proyek.

BAB V PENUTUP
Bab ini menjelaskan kesimpulan tentang hasil penelitian yang dilakukan serta
saran-saran yang digunakan sebagai bahan pengembangan ke depan.




















BAB 2 KAJIAN PUSTAKA
2.1. Definisi dan Jenis-Jenis Proyek
Proyek adalah suatu kegiatan yang bersifat sementara yang dilaksanakan
untuk menghasilkan produk dan jasa yang unik.[1] Sifat proyek yang sementara
menunjukkan bahwa proyek memiliki awal dan akhir yang pasti. Akhir proyek
tercapai ketika tujuan proyek telah dicapai atau ketika proyek dihentikan karena
tujuannya tidak akan atau tidak dapat dipenuhi / ketika kebutuhan untuk proyek
tersebut tidak ada lagi.
Tantangan utama sebuah proyek adalah mencapai tujuan proyek dengan
menyadari adanya batasan-batasan yang telah dipahami sebelumnya. Pada
umumnya batasan-batasan itu adalah ruang lingkup pekerjaan, waktu pekerjaan
dan anggaran pekerjaan. Perubahan terhadap salah satu faktor akan
mempengaruhi faktor yang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita lihat berbagai jenis kegiatan
proyek. Jenis-jenis kegiatan proyek tersebut secara garis besar terkait dengan
pengkajian aspek ekonomi, keuangan, permasalahan lingkungan, desain
engineering, marketing, manufaktur, dan lain-lain. Namun, pada kenyataannya,
kita tidak dapat membagi-bagi proyek pada satu jenis tertentu saja, kerena pada
umumnya kegiatan proyek merupakan kombinasi dari beberapa jenis kegiatan
sekaligus. Akan tetapi, jika ditinjau dari aktivitas yang paling dominan yang
dilakukan pada sebuah proyek, maka kita dapat mengkategorikan proyek sebagai
berikut: [2]
1. Proyek Engineering Kontruksi
Aktivitas yang paling dominan yang dilakukan dalam proyek ini adalah
pengkajian kelayakan, desain engineering, pengadaan dan konstruksi.
2. Proyek Engineering Manufaktur
Aktivitas proyek ini meliputi seluruh kegitan yang bersifat untuk
menghasilkan produk baru.
3. Proyek Pelayanan Manajemen
Aktivitas utama dalam proyek ini adalah merancang sistem informasi
manajemen, merancang program efisiensi dan penghematan, diversifikasi,
penggabungan dan pengambilalihan, memberikan bantuan emergency
untuk daerah yang terkena musibah, merancang strategi untuk mengurangi
kriminalitas dan penggunaan obat-obat terlarang dan lain-lain.
4. Proyek Penelitian dan Pengembangan.
Aktivitas utama yang dilakukan dalam pelaksanaan proyek ini meliputi
melakukan penelitian dan pengembangan suatu produk tertentu.
5. Proyek Kapital
Aktivitas yang dilakukan dalam proyek ini biasanya digunakan oleh
sebuah badan usaha atau pemerintah, misalnya pembebasan tanah,
penyiapan lahan, pembelian material.

2.2. Manajemen Proyek
Manajemen proyek adalah penerapan pengetahuan, keterampilan,
perangkat dan teknik pada suatu aktivitas proyek untuk memenuhi kebutuhan atau
tujuan suatu proyek.[1] Manajer proyek adalah orang yang ditugaskan oleh
perusahaan/organisasi untuk mencapai tujuan proyek.[1] Peran manajer proyek
berbeda dari manajer fungsional atau manajer operasi. Seorang manajer proyek
harus dapat berkomunikasi dengan pemilik, pengguna, tim pelaksana, dan
lingkungan sekitar. Kemampuan teknis, mampu mengambil suatu keputusan yang
tepat, serta dapat memberikan laporan kepada atasan juga harus dimiliki oleh
seorang manajer proyek.
Proses manajemen proyek dikelompokkan ke dalam lima kategori yang
dikenal sebagai Project Management Process Groups:[1]
Proses Inisiasi
Proses ini dilakukan untuk mendefinisikan sebuah proyek baru atau fase baru dari
sebuah proyek yang sudah ada dengan memperoleh ijin untuk memulai proyek
atau fase.
Proses Perencanaan
Proses ini dibutuhkan untuk menetapkan ruang lingkup proyek, menyempurnakan
tujuan dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan bahwa
proyek ini dilakukan untuk dicapai.
Proses Eksekusi
Proses ini dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditetapkan dalam
rencana manajemen proyek untuk memenuhi spesifikasi proyek.
Proses Pemantauan dan Pengendalian
Proses ini dibutuhkan untuk track, review, dan mengatur kemajuan dan kinerja
proyek; mengidentifikasi daerah-daerah di mana perubahan rencana diperlukan;
dan memulai perubahan yang sesuai.
Proses Penutupan
Proses ini dilakukan untuk menyelesaikan semua kegiatan di semua Process
Groups untuk secara resmi mengakhiri proyek atau fase.

Mengelola sebuah proyek biasanya mencakup, tetapi tidak terbatas pada:
Mengidentifikasi kebutuhan
Mengatasi berbagai kebutuhan, keprihatinan dan harapan para stakeholder
dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek
Menyiapkan, memelihara dan mengatur komunikasi antara para
stakeholder yang bersifat aktif, efektif dan kolaboratif
Mengelola stakeholder dalam memenuhi kebutuhan proyek dan
menciptakan hasil akhir proyek
Menyeimbangkan batasan proyek yang mencakup, tetapi tidak terbatas
pada Scope, Quality, Schedule, Budget, Resources, Risks

2.3. Siklus Proyek
Siklus proyek adalah serangkaian fase yang proyek lewati melalui dari
inisiasi sampai penutupan. Fase umumnya berurutan, nama dan nomornya
ditentukan oleh manajemen dan kebutuhan kontrol dari organisasi atau organisasi
yang terlibat dalam proyek, sifat dari proyek itu sendiri, dan area dari aplikasi.
Semua proyek dapat dipetakan ke struktur siklus proyek umum seperti pada
Figure 2-8. [1]














Sebuah proyek dapat dibagi menjadi sejumlah fase. Sebuah fase proyek
adalah kumpulan kegiatan proyek secara logis terkait yang berujung pada
penyelesaian satu atau lebih tujuan proyek. Fase dapat menekankan proses dari
proses manajemen proyek tertentu, tetapi kemungkinan bahwa sebagian besar atau
semua proses akan dieksekusi dalam beberapa bentuk di setiap fase. Tahapan
proyek biasanya diselesaikan secara berurutan, tetapi dapat tumpang tindih dalam
beberapa situasi proyek. Struktur fase memungkinkan proyek tersegmentasi
menjadi bagian-bagian untuk kemudahan manjemen, perencanaan, dan
pengendalian. Jumlah fase, kebutuhan untuk fase, dan tingkat kontrol diterapkan
tergantung pada ukuran, kompleksitas, dan dampak potensial dari proyek.









BAB 3 PEMBAHASAN
3.1. Kriteria Keberhasilan Proyek
Karena proyek bersifat sementara, keberhasilan proyek harus diukur dalam
hal menyelesaikan proyek dengan batasan ruang lingkup, waktu, biaya, kualitas,
sumber daya, dan risiko yang disetujui antara manajer proyek dan stakeholder.
Untuk memastikan realisasi manfaat untuk proyek yang dilakukan, masa uji
(seperti soft launch layanan) bisa menjadi bagian dari total waktu proyek sebelum
menyerahkannya ke operasi permanen. Keberhasilan proyek harus dirujuk ke
baseline terakhir yang disetujui oleh stakeholder yang berwenang. Manajer proyek
bertanggung jawab dan akuntabel untuk menetapkan batas-batas realistis dan
dapat dicapai untuk proyek dan untuk menyelesaikan proyek dalam baseline
disetujui.
Kesuksesan suatu proyek diukur dari ketepatan waktu penyelesaian
sebagaimana dijadwalkan, tidak melebihi dana yang dianggarkan, spesifikasi
(kualitas) yang disyaratkan terpenuhi, serta memuaskan kebutuhan konsumen.
Faktor yang terakhir sering terlupakan, bahwa apabila proyek tersebut tidak dapat
memberikan kepuasan kepada konsumen, maka sebenarnya proyek tersebut tidak
bisa dikatakan sukses. Bahkan menurut Shenhar, Levy & Dvir (1997), kesuksesan
proyek termasuk diukur dari sejauh mana keberhasilannya secara komersial dan
kontribusi yang diberikannya terhadap pengembangan pasar atau teknologi
baru.[3]

3.2 Upaya untuk Membuat Suatu Proyek Berhasil
Upaya-upaya untuk membuat suatu proyek berhasil adalah:
Mendefinisikan proyek dengan rinci
Pilih proses yang sesuai yang diperlukan untuk memenuhi tujuan proyek
Gunakan pendekatan yang didefinisikan yang dapat disesuaikan untuk
memenuhi persyaratan
Membangun dan memelihara komunikasi dan keterlibatan dengan
stakeholder yang sesuai
Mematuhi persyaratan untuk memenuhi kebutuhan dan harapan
stakeholder
Melakukan estimasi biaya, waktu dan sumber daya yang tepat
Seimbangkan batasan scope, schedule, budget, quality, resources, dan risk
untuk menghasilkan produk tertentu, layanan, atau hasil
Mengelola resiko proyek sehingga bisa mencegah resiko yang ada




























BAB 4 FAKTOR-FAKTOR PENENTU
KEBERHASILAN PROYEK
4.1 Faktor-Faktor yang Menentukan Keberhasilan Proyek
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu proyek hampir
umum bagi semua perusahaan. Namun prioritas dan pentingnya faktor mungkin
berbeda dari perusahaan ke perusahaan yang lain berdasarkan budaya mereka,
wilayah, struktur organisasi, lingkungan dan bisnis utama yang mereka
hadapi. Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan dari suatu proyek adalah :
Manajer Proyek
Manajer proyek menyelesaikan pekerjaan melalui tim proyek dan
stakeholder lainnya. Manajer proyek yang efektif memerlukan
keseimbangan keterampilan etika, interpersonal, dan konseptual yang
membantu mereka menganalisis situasi dan berinteraksi dengan tepat.
Tim Proyek
Tim proyek mencakup manajer proyek dan kelompok individu yang
bertindak bersama-sama dalam melakukan pekerjaan proyek untuk
mencapai tujuannya. Tim proyek mencakup manajer proyek, staf
manajemen proyek, dan anggota tim lain yang melaksanakan pekerjaan
tapi yang tidak harus terlibat dengan manajemen proyek. Tim ini terdiri
dari individu-individu dari kelompok yang berbeda dengan pengetahuan
subyek tertentu atau dengan keahlian khusus yang ditetapkan untuk
melaksanakan pekerjaan proyek. Struktur dan karakteristik dari sebuah tim
proyek dapat sangat bervariasi.
Stakeholder
Stakeholder dapat berdampak positif atau negatif pada tujuan proyek,
proyek dapat dirasakan oleh para stakeholder sebagai memiliki hasil yang
positif atau negatif. Sebagai contoh, para pemimpin bisnis dari masyarakat
yang akan mendapatkan keuntungan dari proyek perluasan industri akan
melihat manfaat ekonomi yang positif bagi masyarakat dalam bentuk
pekerjaan tambahan, infrastruktur pendukung, dan pajak. Dalam kasus
stakeholder dengan harapan positif untuk proyek tersebut, kepentingan
mereka yang terbaik dilayani dengan membuat proyek sukses. Sebaliknya,
kepentingan stakeholder terkena dampak negatif, seperti pemilik rumah di
dekatnya atau pemilik usaha kecil yang mungkin kehilangan properti,
dipaksa untuk pindah, atau menerima perubahan yang tidak diinginkan
dalam lingkungan lokal, dilayani dengan menghambat kemajuan proyek.
Kepentingan stakeholder yang terkena dampak negatif dapat
mengakibatkan kemungkinan peningkatan kegagalan, penundaan, atau
konsekuensi negatif lainnya terhadap proyek.
Tata Kelola Organisasi
Keberhasilan proyek dapat dinilai berdasarkan seberapa baik produk atau
jasa yang dihasilkan mendukung tata kelola organisasi, penting bagi
manajer proyek untuk memiliki pengetahuan tentang kebijakan dan
prosedur tata kelola organisasi/perusahaan yang berkaitan dengan subyek
produk atau jasa (misalnya, jika suatu organisasi telah mengadopsi
kebijakan yang mendukung praktik keberlanjutan dan proyek meliputi
pembangunan gedung kantor baru, manajer proyek harus menyadari
persyaratan keberlanjutan yang berhubungan dengan konstruksi
bangunan.)
Pengguna
Walaupun proyek sudah diselesaikan dengan tepat waktu dan tepat biaya,
suatu proyek masih dapat gagal memenuhi harapan penggunanya.
Proyek itu sendiri









BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang telah dilakukan maka dapat diambil
kesimpulan bahwa:
1. Suatu proyek bisa dikatakan berhasil jika ketepatan waktu penyelesaian
sesuai dengan yang dijadwalkan, tidak melebihi dana yang dianggarkan,
spesifikasi (kualitas) yang disyaratkan terpenuhi, serta memuaskan
kebutuhan konsumen.
2. Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan suatu proyek adalah manajer
proyek, tim proyek, stakeholder, tata kelola organisai, pengguna dan
proyek itu sendiri.
3. Upaya untuk membuat suatu proyek berhasil bisa dilihat lebih jelas pada
BAB 3.

5.2 Saran
Saran untuk pengembangan makah ini adalah:
1. Hubungan antar faktor-faktor yang menentukan keberhasilan suatu proyek.














DAFTAR PUSTAKA
[1] Project Management Institute. 2013. A guide to the Project Management Body
of Knlowledge (PMBOK Guide). Fifth Edition. Newtown Square: Project
Management Institute
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_proyek
[3] http://usbi.ac.id/node/339

Anda mungkin juga menyukai