Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

BIOFARMASETIKA

NATRIUM FENITOIN INJEKSI SEBAGAI
BI OPHARMACEUTI CAL CLASSI FI CATI ON SYSTEM
(BCS) KELAS 2










Disusun Oleh :
MUHAMMAD HAFIZH (I21112003)
PURYANTO (I21112006)
SUNTORO (I21112071)


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
2014

ii


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas terstruktur mata
kuliah Biofarmasetika berupa makalah yang berjudul Natrium Fenitoin Injeksi
Sebagai Biopharmaceutical Classification System (Bcs) Kelas 2 dalam rangka
memenuhi aspek penilaian.
Dalam pengerjaan makalah ini tentunya beberapa kendala penulis hadapi.
Namun akhirnya makalah dapat diselesaikan. Dalam hal ini penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Andhie Fahrurroji M.Sc., Apt selaku dosen pengajar,
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini yang tidak
dapat disebutkan satu persatu.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dalam upaya meningkatkan
nilai dan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat konstruktif /membangun demi kesempurnaan makalah ini.


Pontianak, 21 Maret 2014



Penyusun







iii

DAFTAR ISI

JUDUL Halaman
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................... 1
BAB II DASAR TEORI ..................................................................................... 3
2.1Definisi BCS (Biopharmaceutical Classification System) ............................. 3
2.2 Tujuan dan Koncep BCS ............................................................................... 3
2.3 Klasifikasi BCS ............................................................................................. 4
2.4 Faktor-faktor yang Memengaruhi BCS ......................................................... 5
BAB III PEMBAHASAN ................................................................................... 7
BAB IV PENUTUP ............................................................................................ 15
3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... vii
1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sifat kelarutan dan permeabilitas obat juga merupakan factor yang
mempengaruhi proses absorbsi. Agar suatu obat dapat diabsorsi, pertama
sekali obat tersebut harus dapat terlarut (terdispersi molekuler) dalam cairan
dimana obat tersebut akan diabsorpsi. Di dalam banyak kasus, kecepatan
disolusi atau waktu yang dibutuhkan untuk obat melarut dalam cairan
pencernaan menjadi kecepatan pembatas (rate-limiting step) dari proses
absorbsi. Hal Ini berlaku untuk obat yang diberikan dalam bentuk sediaan
padat oral seperti tablet, kapsul atau suspensi, seperti halnya juga untuk obat
yang diberikan secara intramuskular dalam bentuk granul atau suspensi.
Ketika kecepatan disolusi merupakan rate-limiting step, maka kecepatan
disolusi juga akan mempengaruhi absorpsi. Akibatnya, kecepatan disolusi
dapat mempengaruhi onset, durasi dan intensitas respon, dan mengontrol
keseluruhan bioavailabilitas obat dari suatu sediaan.
Sistem klasifikasi biofarmasetik (biopharmaceutical Classification
System, BCS) mengelompokkan obat dalam kelompok yang didasarkan pada:
kelarutan, permeabilitas dan kecepatan disolusi in vitro. Klasifikasi sistem ini
dapat digunakan untuk menjustifikasi persyaratan-persyaratan penelitian in
vitro (sediaan) obat yang melarut secara cepat, mengandung bahan aktif yang
sangat larut dan sangat permeable. Sistem klasifikasi biofarmasetik
diperkenalkan melalui sebuah metode untuk mengidentifikasi situasi yang
mungkin mengikuti uji disolusi in vitro yang digunakan untuk memastikan
bioekivalensi dalam ketidakhadiran studi bioekivalensi klinik secara nyata.
Pada dasarnya pendekatan secara teori menyatakan, kelarutan dan
permeabilitas intestinal diidentifikasi sebagai karakteristik pengobatan utama
yang mengontrol absorpsi. Dalam klasifikasi biofarmasetik tersebut telah
membagi beberapa senyawa menjadi empat kelas berdasarkan permeabilitas
dan kelarutan. Sistem klasifikasi ini berguna dalam memprediksi efek
2

transporter penghabisan dan serapan pada penyerapan lisan maupun di tingkat
postabsorption sistemik setelah pemberian dosis oral dan intravena.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apakah BCS itu?
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi BCS?
3. Bagaimana cara mengatasi masalah kelarutan pada obat BCS 2 dalam hal ini
phenytoin ?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui klasifikasi obat dalam BCS
2. Untuk mengatasi permasalahan obat golongan BCS 2 yaitu phenytoin
















3

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Definisi BCS
BCS (Biopharmaceutical Classification System) atau sistem
klasifikasi biofarmasetika adalah suatu model eksperimental yang mengukur
permeabilitas dan kelarutan suatu zat dalam kondisi tertentu. Sistem ini dibuat
untuk pemberian obat secara oral. Untuk melewati studi bioekivalen secara in
vivo, suatu obat harus memenuhi persyaratan kelarutan dan permeabilitas
yang tinggi.
Bioavaibilitas obat merupakan salah satu parameter yang dapat
digunakan untuk menilai efektifitas suatu sediaan farmasi. Kecepatan disolusi
dan waktu tinggal obat dalam saluran cerna merupakan faktor yang dapat
mempengaruhi bioavaibilitas. Sistem dispersi padat dan sistem penghantaran
obat mukoadhesif merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk
mengatasi permasalahan kecepatan disolusi dan waktu tinggal obat dalam
saluran cerna.

2.2 Tujuan dan Konsep BCS
Tujuan dari BCS adalah :
1. Untuk meningkatkan efisiensi pengembangan obat dan proses peninjauan
dengan merekomendasikan strategi untuk mengidentifikasi uji
bioekivalensi.
2. Untuk merekomendasikan kelas pelepasan cepat dari bentuk sediaan
padat oral yang secara bioekivalensi dapat dinilai berdasarkan uji disolusi
in vitro.
3. Untuk merekomendasikan suatu metode untuk klasifikasi yang sesuai
dengan disolusi bentuk sediaan dengan karakteristik kelarutan dan
permeabilitas produk obat.


4

2.3 Klasifikasi BCS
BCS (Biopharmaceutical Classification System) atau sistem
klasifikasi biofarmasetika diklasifikasikan menjadi empat kelas, diantaranya
adalah :
1. Kelas I (Permeabilitas tinggi, Kelarutan tinggi)
Misalnya Metoprolol, Diltiazem, Verapamil, Propranolol. Obat
kelas I menunjukkan penyerapan yang tinggi dan disolusi yang tinggi.
Senyawa ini umumnya sangat baik diserap. Senyawa Kelas I
diformulasikan sebagai produk dengan pelepasan segera, laju disolusi
umumnya melebihi pengosongan lambung.
Oleh karena itu, hampir 100% penyerapan dapat diharapkan jika
setidaknya 85% dari produk larut dalam 30 menit dalam pengujian
disolusi in vitro dalam berbagai nilai pH, oleh karena itu data
bioekivalensi in vivo tidak diperlukan untuk menjamin perbandingan
produk.
2. Kelas II (Permeabilitas tinggi, Kelarutan rendah)
Misalnya Fenitoin, Danazol, Ketokonazol, asam mefenamat,
Nifedipine. Obat kelas II memiliki daya serap yang tinggi tetapi laju
disolusi rendah. Dalam disolusi obat secara in vivo maka tingkat
penyerapan terbatas kecuali dalam jumlah dosis yang sangat tinggi.
Penyerapan obat untuk kelas II biasanya lebih lambat daripada kelas I
dan terjadi selama jangka waktu yang lama. Korelasi in vitro-in vivo
(IVIVC) biasanya diterima untuk obat kelas I dan kelas II.
Bioavailabilitas produk ini dibatasi oleh tingkat pelarutnya. Oleh
karena itu, korelasi antara bioavailabilitas in vivo dan in vitro dalam
solvasi dapat diamati.
3. Kelas III (Permeabilitas rendah, Kelarutan tinggi)
Misalnya Simetidin, Acyclovir, Neomycin B, Captopril.
Permeabilitas obat berpengaruh pada tingkat penyerapan obat, namun
obat ini mempunyai laju disolusi sangat cepat. Obat ini menunjukkan
variasi yang tinggi dalam tingkat penyerapan obat. Karena pelarutan
5

yang cepat, variasi ini disebabkan perubahan permeabilitas membran
fisiologi dan bukan faktor bentuk sediaan tersebut. Jika formulasi tidak
mengubah permeabilitas atau waktu durasi pencernaan, maka kriteria
kelas I dapat diterapkan.
4. Kelas IV (Permeabilitas rendah, Kelarutan rendah)
Misalnya taxol, hydroclorthiaziade, furosemid. Senyawa ini
memiliki bioavailabilitas yang buruk. Biasanya mereka tidak diserap
dengan baik dalam mukosa usus. Senyawa ini tidak hanya sulit untuk
terdisolusi tetapi sekali didisolusi, sering menunjukkan permeabilitas
yang terbatas di mukosa GI. Obat ini cenderung sangat sulit untuk
diformulasikan.

2.4 Faktor-faktor yang Memengaruhi BCS
Faktor-faktor yang mempengaruhi BCS diantaranya adalah :
1. Laju disolusi
Dalam pedoman ini, suatu produk obat dikatakan cepat melarut
jika tidak kurang dari 85% dari jumlah berlabel bahan obat larut dalam
waktu 30 menit, menurut US Pharmacopeia (USP) alat disolusi I pada
100 rpm (atau alat disolusi II pada 50 rpm) dalam volume 900 ml atau
kurang di setiap media seperti HCl 0,1 N atau cairan lambung buatan
tanpa enzim, larutan buffer pH 4,5, larutan buffer pH 6,8 atau cairan usus
buatan tanpa enzim.
2. Kelarutan
Tujuan dari pendekatan BCS adalah untuk menentukan
kesetimbangan kelarutan suatu obat dalam kondisi pH fisiologis. Profil
kelarutan terhadap pH suatu obat uji harus ditentukan pada 37 1oC
dalam media air dengan rentang pH 1-7,5. Kondisi pH untuk penentuan
kelarutan dapat didasarkan pada karakteristik ionisasi obat uji. Misalnya,
ketika pKa obat berada di kisaran 3-5, kelarutan harus ditentukan pada
pH = pKa, pH = pKa +1, pH = pKa-1, dan pada pH = 1 dan 7,5. Minimal
dilakukan tiga kali percobaan. Larutan buffer standar yang dijelaskan
6

dalam USP dapat digunakan dalam studi kelarutan. Jika buffer ini tidak
cocok untuk alasan fisik atau kimia, larutan penyangga lainnya dapat
digunakan. PH larutan harus diverifikasi setelah penambahan obat untuk
buffer.
3. Permeabilitas
Permeabilitas didasarkan langsung pada tingkat penyerapan usus
suatu obat pada manusia atau tidak langsung pada pengukuran laju
perpindahan massa melintasi membran usus manusia.Suatu obat
dikatakan sangat permeabel ketika tingkat penyerapan pada manusia
adalah 90% atau lebih dari dosis yang diberikan, berdasarkan pada
keseimbangan massa atau dibandingkan dengan dosis pembanding
intravena.





7

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Fenitoin
3.1.1 Farmakokinetik
Absorpsi fenitoin yang diberikan per oral berlangsung lambat,
sesekali tidak lengkap; 10% dari dosis oral diekskresikan bersama tinja
dalam bentuk utuh. Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam 3 12
jam. Bila dosis muatan (loading dose) perlu diberikan, 600 800 mg,
dalam dosis terbagi 8 12 jam, kadar efektif plasma akan tercapai
dalam waktu 24 jam. Pemberian fenitoin secara IM, menyebabkan
fenitoin mengendap di tempat suntikan kira-kira 5 hari, dan absorpsi
berlangsung lambat. Fenitoin didistribusi ke berbagai jaringan tubuh
dalam kadar yang berbeda-beda. Setelah suntikan IV, kadar yang
terdapat dalam otak, otot skelet dan jaringan lemak lebih rendah
daripada kadar di dalam hati, ginjal dan kelenjar ludah.
Pengikatan fenitoin oleh protein, terutama oleh albumin
plasma kira-kira 90%. Pada orang sehat, termasuk wanita hamil dan
wanita pemakai obat kontrasepsi oral, fraksi bebas kira-kira 10%
sedangkan pada pasien dengan penyakit ginjal, penyakit hati atau
penyakit hepatorenal dan neonatus fraksi bebas rata-rata di atas 5,8
12,6 %. Fenitoin terikat kuat pada jaringan saraf sehingga kerjanya
bertahan lebih lama; tetapi mula kerja lebih lambat daripada
fenobarbital. Biotramsformasi terutama berlangsung dengan cara
hidroksilasi oleh enzim mikrosom hati. Metabolit utamanaya ialah
derivat parahidroksifenil. Biotransformasi oleh enzim mikrosom hati
sudah mengalami kejenuhan pada kadar terapi, sehingga peninggian
dosis akan sangat meningkatkan kadar fenitoin dalam serum secara
tidak proporsional. Oksidasi pada satu gugus fenil sudah
menghilangkan efek antikonvulsinya. Sebagian besar metabolit fenitoin
diekskresikan bersama empedu, kemudian mengalami reabsorpsi dan
biotransformasi lanjutan dan diekskresi melalui ginjal. Di ginjal,
8

metabolit utamanya mengalami sekresi oleh tubuli, sedangkan bentuk
utuhnya mengalami reabsorpsi.

3.1.2 Indikasi
Fenitoin merupakan obat pilihan pertama untuk serangan
tonik-klonik, tonik atonik dan parsial (kompleks dan sederhana) dan
juga dapat untuk serangan mioklonik. Obat ini merupakan kontra
indikasi untuk serangan umum lena, tetapi kadang-kadang bermanfaat
untuk mengobati serangan lena atipik. Obat ini dapat digunakan untuk
mengobati epilepsi oleh berbagai etiologi dan pada berbagai umur,
tetapi barangkali sebaiknya dihindarkan sebagai obat pilihan pertama
pada wanita muda karena alasan efek samping kosmetik dan
teratogenisitas. Ada sejumlah bukti yang menarik bahwa obat ini
terutama bermanfaat untuk epilepsi simthomatik. Fenitoin merupakan
obat yang sulit digunakan karena kadar dosis serum yang non linier dan
indeks terapinya yang sempit; pengukuran kadar serum obat perlu
dilakukan pada banyak pasien.
Banyak ahli penyakit saraf di Indonesia lebih menyukai
penggunaan fenobarbital karena fenitoin memiliki batas keamanan yang
sempit; efek samping dan efek toksik, sekalipun ringan, sifatnya cukup
mengganggu terutama pada anak. Fenitoin juga bermanfaat terhadap
bangkitan parsial kompleks.
Indikasi lain fenitoin ialah untuk neuralgia trigeminal, dan
aritmia jantung. Fenitoin juga digunakan pada terapi renjatan listrik
(ECT), untuk menringankan konvulsinya, dan bermanfaat pula terhadap
kelainan ekstrapiramidal iatrogenik.

3.2 Penyiapan Sampel Natrium Fenitoin Injeksi
Larutan sampel disusun menggunakan silikon bebas suntik di
bangku bersih, dan disimpan pada 25 C. contoh larutan untuk pengukuran
mikropartikel larut dibuat dengan menempatkan 0,5 ml natrium fenitoin
9

injeksi (50 mg / ml) dalam botol sampel kaca dan menambahkan 1.5, 4.5,
atau 9,5 ml larutan natrium klorida isotonik, untuk membuat 4 -, 10 -, dan
pengenceran 20 kali lipat. sampel lainnya dibuat dengan menyuntikkan 5 atau
10 ml natrium fenitoininjeksi (50 mg / ml) ke dalam kantong infus yang
mengandung 100 ml natrium klorida isotonik.

10

3.3 Pengukuran mikropartikel larut menggunakan cahaya mengaburkan
counter partikel
Metode yang digunakan pada dasarnya sama dengan Test 'partikel
larut materi untuk injeksi dengan metode 1. Cahaya mengaburkan jumlah
partikel test 'dijelaskan dalam Edisi ke-15 dari Jepang Pharmacopoeia (2006)
[8]. Semua prosedur dilakukan di bangku bersih. Jumlah dan ukuran
mikropartikel ditentukan menggunakan counter mengaburkan partikel cahaya
KL-04 (Rion Co, Ltd). Ambang batas ukuran mikropartikel 1.3, 2.0, 5.0,
10.0, 20.0, 25.0, 40.0, 50.0, dan 100,0 m. itu volume masing-masing sampel
adalah 2 ml untuk pengenceran 4 kali lipat, 5 ml untuk pengenceran 10 kali
lipat, dan 10 ml untuk 20 kali lipat dilusi. Sampel pertama dibuang dan mean
nilai tiga sampel dihitung. semua instrumen dicuci dengan air untuk injeksi
untuk menghilangkan mikropartikel larut berasal dari perangkat. gas
gelembung dalam larutan sampel dihilangkan dengan berdiri selama 2 menit.
Jumlah mikropartikel larut dalam diencerkan solusi diukur segera
setelah pengenceran dan 3, 6, atau 24 jam kemudian, untuk evaluasi infus
cairan set dengan filter yang berbeda, jumlah mikropartikel larut diukur
segera setelah pengenceran. Hasil untuk evaluasi infus cairan set dengan filter
yang berbeda dievaluasi sesuai dengan kriteria untuk jumlah maksimum dari
larut mikropartikel dalam edisi ke-15 dari Jepang Farmakope. Untuk
persiapan injeksi diberikan pada volume lebih dari 100 ml, jumlah ditoleransi
larut mikropartikel dengan diameter 10 m atau lebih besar adalah 25 atau
kurang, sedangkan mikropartikel dengan diameter 25 m atau lebih besar
adalah 3 atau kurang, per ml.

3.4 Evaluasi set infus cairan dengan filter yang berbeda
Lima ml fenitoin natrium injeksi (50 mg / ml)disuntikkan ke 100 ml
natrium klorida isotoniksolusi dalam kantong infus menggunakan jarum
suntik silikon bebasdi bangku bersih. Cairan infus dibiarkan menetesoleh
gravitasi pada laju alir 15 ml / menit melalui tigaberbeda infus set (satu
dengan tidak ada filter sejalan, satudengan filter in-line dari 5 m ukuran
11

pori, dan satu dengan filter in-line dari 0,2 m ukuran pori). Cairan infus
dikumpulkan melalui outlet di kaca partikel bebasgelas (10 ml) segera setelah
persiapan, dan jumlah mikropartikel tidak larut dalam setiap cairan diukur
sesuai dengan metode yang dijelaskan pada bagian 2.3. di atas. Laju aliran
diasumsikan 15 ml / menit ketika 0.2-m penyaring set benar-benar terbuka;
fenitoin akan kemungkinan besar akan segera diendapkan jika pH adalah
dikurangi oleh karbon dioksida di udara pada sampling. Yang pertama 20 ml
dibuang untuk menghilangkan pengaruh mikropartikel larut yang berasal dari
infus set.

3.5. Perubahan tergantung waktu mikropartikel larut dalam larutan
diencerkan
Solusi fenitoin natrium injeksi (50 mg / ml), diencerkan 4 -, 10 -, dan
20-kali lipat oleh isotonik natrium klorida solusi, disimpan pada 25 C.
Jumlah larut mikropartikel dalam setiap solusi diukur segera setelah
pencampuran dan 3, 6 dan 24 jam kemudian. tabel 1 menunjukkan jumlah
mikropartikel tidak larut dengan diameter 10 um dan 25 m per 2 ml
dalam 4 kali lipat pengenceran, per 5 ml dalam pengenceran 10 kali lipat, dan
per 10 ml dalam pengenceran 20 kali lipat. Jumlah larut mikropartikel dengan
diameter 10 m dalam 20 kali lipat pengenceran secara signifikan lebih
besar dari jumlah di pengenceran lainnya. Tidak ada perbedaan yang
signifikan antara jumlah mikropartikel tidak larut dalam 4 - pengenceran dan
10 kali lipat. Jumlah larut mikropartikel dalam pengenceran 4 kali lipat
mengalami penurunan sebesar6 jam, tetapi meningkat lagi setelah 24 jam,
sedangkan jumlah dalam 10 - dan pengenceran 20 kali lipat mengalami
penurunan sebesar 3 jam, tetapi meningkat lagi dengan 6 jam. Jumlah larut
mikropartikel dengan diameter 25 m tidak signifikan dipengaruhi oleh
tingkat pengenceran. The pH dari 4 -, 10 - dan 20-kali lipat pengenceran
adalah 10.72, 10.24, dan 9,97, masing-masing. PH hampir tidak berubah
selama Periode 24-jam. Perlu dicatat bahwa pH dari 10 -,dan pengenceran 20
kali lipat berdua di bawah 10,71, pH di mana pengendapan fenitoin terjadi
12

ketika 0,65 ml asam klorida 0,1 M ditambahkan ke 5 ml fenitoin natrium
injeksi,sementara tidak ada endapan bisa dilihat dengan mata telanjang.
Mikropartikel yang paling larut yang ditemukan di 20 kali lipat
pengenceran karena pengendapan fenitoin terjadi terutama pada pH rendah.
Hal ini sesuai dengan prediksi teoritis kelarutan berdasarkan pH pengukuran
yang menunjukkan bahwa pengendapan fenitoin terjadi ketika pengenceran
adalah 10,6 kali lipat. Hasil ini menunjukkan bahwa ketidakcocokan dalam
injeksi obat-obatan, yang sulit untuk menentukan dengan telanjang mata,
dapat dievaluasi dengan menggunakan mengaburkan partikel cahaya counter.
Jumlah mikropartikel larut segera setelah pengenceran lebih besar dari
jumlah 3 jam setelah persiapan sampel. Alasan utama untuk ini tampaknya
menjadi gas gelembung yang tersisa dalam sampel larutan. Sementara upaya
yang dilakukan untuk menghilangkan gas gelembung dalam larutan sampel
dengan mendiamkannya selama 2 menit, ini tidak akan menghilangkan
semua gelembung gas, yang akan membutuhkan waktu pendiaman selama
30-60 menit etanol dan propilen glikol mengganggu pergerakan film
diantarmuka antara gas dan cairan karena peningkatan viskositas pada
permukaan gelembung yang disebabkan oleh gugus hidrofob (-CH3),
sehingga meningkatkan stabilitas gelembung gas. Oleh karena itu, jumlah
yang lebih besar mikropartikel larut segera setelah pengenceran mungkin
karena adanya gelembung gas.
Pengukuran ini mikropartikel larut disarankan bahwa penggunaan 4
- atau pengenceran 10 kali lipat, yang memiliki lebih rendah jumlah
mikropartikel larut dari 20 kali lipat pengenceran, lebih aman, dan bahwa
adalah lebih baikuntuk mengelola solusi dalam 3 jam pertama setelah
pengenceran.
Hasil untuk mengukur mikropartikel larut menunjukkan bahwa
begitu banyak mikropartikel ada di diencerkan larutan. Dan dari hasil
penentuan fenitoin menggunakan HPLC, penurunan konsentrasi fenitoin
kurang, karena tingkat endapan masih di bawah 5% lebih lama. Hasil ini
menunjukkan bahwa lebih encer solusi masih dapat digunakan jika
13

mikropartikel diendapkan dihapus menggunakan filter di muka. Namun infus
diatur dengan filter 0,2 m sangat mahal, oleh karena itu jumlah
mikropartikel larut dengan diameter dari 10 m dan / atau 25 m setelah
melewati masing-masing Filter diukur untuk mengevaluasi set infus dengan 5
m filter yang dikembangkan untuk intravena perifer menetes.
Lima ml fenitoin natrium injeksi (50 mg / ml) disuntikkan ke 100 ml
natrium klorida isotonik larutan dalam kantong infus menggunakan jarum
suntik silikon bebas di bangku bersih. Cairan infus diizinkan untuk menetes
melalui tiga berbeda infus set: satu dengan tidak ada sejalan filter, satu
dengan filter sejalan dari ukuran pori 5- m, dan satu dengan filter sejalan
ukuran pori 0.2 m itu cairan infus dikumpulkan menjadi partikel-bebas 10-
ml tabung kaca segera setelah persiapan, dan jumlah mikropartikel larut
diukur menurut metode yang dijelaskan dalam bahan dan metode, bagian 2.3.
Gambar. 4 menunjukkan hasil pengukuran mikropartikel dari larut dengan
diameter 10 m dalam setiap solusi. Jumlah mikropartikel larut dengan
diameter 10 m dalam pengenceran 20 kali lipat itu menurun secara
signifikan dengan melewati 5 - atau 0,2 m menyaring. Tidak ada perbedaan
yang signifikan antara dua ukuran pori. Mikropartikel larut dengan diameter
dari 25 m tidak terdeteksi dalam penelitian ini. Biaya infus set dengan
filter 5 m Jepang relatif rendah, menjadi 1,7 kali harga no-filter infus set dan
0,2 kali dari infus diatur dengan filter 0,2 m. 5 m Filter menghilangkan
mikropartikel larut sambil menjaga diinginkan laju alir. Oleh karena itu,
penggunaan sepotong medis peralatan aman dan praktis.



14

















15

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah sebagai
berikut :
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara jumlah mikropartikel
larut dalam pengenceran 4 kali lipat (ditulis dalam Lembar Informasi Obat)
dan pengenceran 10 kali lipat. Administrasi pengenceran 10 kali lipat
selama 5 menit atau lebih adalah cara praktis terbaik untuk menghindari
peredaran darah dan gangguan pernapasan yang disebabkan oleh intravena
cepat infus.
Sebagai pengendapan fenitoin dapat terjadi ketika pH injeksi
Fenitoin natrium lebih rendah, penggunaan dari infus set dengan filter 5 m
direkomendasikan untuk administrasi larutan encer fenitoin natrium injeksi.
vii

DAFTAR PUSTAKA

Bethlehem, 2011,Biopharmaceutical Classification System and Formulation
Development, Technical Brief.

Dash, Vikash., & Kesari, Asha, 2011, Role of Biopharmaceutical Classification
System In Drug Development Program, Journal of Current Pharmaceutical.

Reddy, Kumar., & Karunakar, 2011. Biopharmaceutics Classification System: A
Regulatory Approach, Dissolution Technologies.

Sutriyo., Rachmat, Hasan, & Rosalina, Mita, 2007,Pengembangan Sediaan
dengan Pelepasan Dimodifikasi Mengandung Furosemid sebagai Model
zat aktif Menggunakan Sistem Mukoadhesif, Majalah Ilmu Kefarmasian.

Wagh P., Millind., & Patel, Jatis, 2010,Biopharmaceutical Classification System:
Scientific Basis for Biowaiver Extensions, International Journal of
Pharmacy and Pharmaceutical sciences.

Anda mungkin juga menyukai