Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam menciptakan manusia-
manusia yang berkualtas. Pendidikan juga dipandang sebagai sarana untuk melahirkan insan-
insan yang cerdas, kreatif, terampil, bertanggung jawab, produktif dan berbudi pekerti luhur.
Rendahnya kualitas pendidikan dapat diartikan sebagai kurang berhasilnya proses
pembelajaran. Jika dianalisis secara makro penyebabnya bisa dari siswa, guru, sarana dan
prasarana pembelajaran yang digunakan. Juga minat dan motivasi siswa yang rendah, kinerja
guru yang kurang baik serta sarana dan prasarana yang kurang memadai, akan menyebabkan
kurang berhasilnya instruksional. Proses pembelajaran yang kurang berhasil dapat
menyebabkan siswa kurang berminat untuk belajar. Minat siswa yang kurang ditunjukkan
dari kurangnya aktivitas belajar, interaksi dalam proses pembelajaran dan persiapan siswa
dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Sekolah sebagai wahana pendidikan formal mempunyai tujuan untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa, oleh karena itu mempersiapkan sekolah dengan segala sarana maupun
prasarana pendidikan seperti perbaikan kurikulum, peningkatan kualitas guru dan
peningkatan pelayanan perpustakaan sekolah merupakan pekerjaan yang utama selain
pekerjaan-pekerjaan yang lainnya.
Kurikulum yang telah perbaharui menyarankan agar kegiatan pengajaran tidak hanya
datang satu arah dari guru saja, melainkan multi arah, begitu juga sumber pembelajaran juga
dapat dari mana saja dan apa saja terlebih dalam era sekarang ini. Dalam komunikasi multi
arah guru harus aktif merencanakan, memilih, membimbing, dan menganalisa berbagai
kegiatan yang dilakukan siswa, sebaliknya siswa diharapkan untuk aktif terlebih mental
2

maupun emosional. Proses belajar yang harus dilakukan siswa untuk mendapatkan
keterampilan, menemukan, mengelola, menggunakan, dan mengkomunikasikan hal-hal yang
telah ditemukan merupakan hasil belajar yang diharapkan. Guru sebagai pendidik harus
menguasai bermacam-macam metode mengajar, yaitu pembelajaran tidak hanya dilakukan
dikelas dengan proses pembelajaran yang cenderung siswa dibelajarkan, akan tetapi guru
dapat memvariasikan pembelajaran dengan menugaskan siswa untuk melaksanakan proses
proses pembelajaran.
Menyusun Silabus dan RPP merupakan salah satu tugas pokok dan fungsi guru
dalam kegiatan proses pembelajaran. Namun, kenyataannya, dalam membuat Silabus dan
RPP ini guru memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Keberbedaan kemampuan guru
dalam menyusun Silabus dan RPP itu sebenarnya sangat dipengaruhi oleh wawasan yang
dimilikinya terutama dalam bidang kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik.
Jika seorang guru sudah dapat menyusun Silabus dan RPP dengan baik dan benar
sesuai dengan kaidah-kaidah / petunjuk-petunjuk yang telah diatur oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP) sebenarnya telah mencerminkan bahwa guru tersebut sudah
memiliki kompetensi pedagogik dan kompetensi sosial sebab pada Silabus dan RPP termuat
secara detail aktifitas-aktifitas yang akan dilakukan oleh guru bersama.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, masalah dalam
penulisan karya ilmiah ini dapat dirumuskan sebagai berikut; Implementasi bahan ajar dari
tenaga pendidik kepada pserta didik dalam pengembangan kurikulum 2013 di SMK Negeri 1
Tengaran.


3

1.3. Tujuan Penulisan
Melalui penulisan karya ilmiah ini, maka tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai
berikut :
1. Mengetahui efektifitas penyampaian materi dari master teacher terhadap guru.
2. Mengetahui penyampaian informasi terhadap penerapan kurikulum 2013.
3. Meningkatkan mutu hasil belajar dan pembelajaran siswa.

1.4 Manfaat Penelitian
Penulisan karya ilmiah ini diharapkan memberi manfaat yang luas, baik bagi penulis
sendiri maupun pembaca umumnya;
1. Bagi penulis ;
Sebagai tugas perkuliahan pada mata kuliah Pengembangan Kurikulum, penulisan karya
ilmiah ini banyak memberi manfaat, baik langsung maupun tidak langsung, diantaranya
penulis mendapatkan pengetahuan dan wawasan mengenai kesiapan guru yang
memegang peranan sangat penting dalam penerapan dari perubahan kurikulum dari
KTSP ke kurikulum 2013. Disamping itu penulis merasa dilatih untuk menulis dan
menjadikannya sebagai bahan referensi dan kajian untuk meningkatkan pembelajaran
disekolah.
2. Bagi pembaca ;
Tidak jauh beda dari yang penulis sampaikan diatas, diharapkan melalui tulisan ini dapat
memberikan pemahaman mengenai seberapa efektif peranan master teacher dalam
penyampaian materi kepada guru, dan implementasi pembelajaran dari guru kepada
peserta didik di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Tengaran.


4

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengembangan Kurikulum
2.1.1 Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan
oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan
diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan
perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang
pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.
Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan
dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat
mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan
pembelajaran secara menyeluruh.
Salah satu fungsi kurikulum ialah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang
pada dasarnya kurikulum memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling
berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut.
Komponen merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak
bisa dipisahkan satu sama lainnya, sebab kalau satu komponen saja tidak ada atau tidak
berjalan sebagaimana mestinya.
Banyak pengertian tentang kurikulum, berikut mnurut beberapa ahli:
1. Hilda Taba: Kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran, yang disusun
dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran serta
perkembangan individu
5

2. Daniel Tanner & Laurel Tanner : Pengalaman pembelajaran yang terencana dan
terarah, yang disusun melalui proses rekonstruksi pengetahuan dan pengalaman
yang sistematis di bawah pengawasan lembaga pendidikan agar pembelajar dapat
terus memiliki minat untuk belajar sebagai bagian dari kompetensi sosial
pribadinya.
3. Romine : Kurikulum mencakup semua temu permbelajaran, aktivitas dan
pengalaman yang diikuti oleh anak didik dengan arahan dari sekolah baik di dalam
maupun di luar kelas.
4. Murray Print. : Kurikum didefinisikan sebagai semua ruang pembelajaran
terencana yang diberikan kepada siswa oleh lembaga pendidikan dan pengalaman
yang dinikmati oleh siswa saat kurikulum itu terapkan.
5. UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 19
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,
tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan
siswa. Dengan program itu, para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga terjadi
perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan
pembelajaran. Dengan kata lain, sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa yang
Para ahli berbeda pendapat dalam menetapkan komponen-komponen kurikulum. Ada
yang mengemukakan 5 komponen kurikulum dan ada yang mengemukakan hanya 4
komponen kurikulum. Untuk mengetahui pendapat para ahli mengenai komponen kurikulum
berikut Subandiyah (1993: 4-6) mengemukakan ada 5 komponen kurikulum, yaitu: (1)
6

komponen tujuan; (2) komponen isi/materi; (3) komponen media (sarana dan prasarana); (4)
komponen strategi dan; (5) komponen proses belajar mengajar.
Sementara Soemanto (1982) mengemukakan ada 4 komponen kurikulum, yaitu: (1)
Objective (tujuan); (2) Knowledges (isi atau materi); (3) School learning experiences
(interaksi belajar mengajar di sekolah) dan; (4) Evaluation (penilaian). Pendapat tersebut
diikuti oleh Nasution (1988), Fuaduddin dan Karya (1992), serta Nana Sudjana (1991: 21).
Walaupun istilah komponen yang dikemukakan berbeda, namun pada intinya sama yakni: (1)
Tujuan; (2) Isi dan struktur kurikulum; (3) Strategi pelaksanaan PBM (Proses Belajar
Mengajar), dan: (4) Evaluasi.

2.1.2 Pengembangan Kurikulum 2013
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa pembentukan.
Pemerintah Negara Indonesia yaitu antara lain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk
mewujudkan upaya tersebut, Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat (3) memerintahkan
agar Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Perwujudan dari amanat Undang-
Undang Dasar 1945 yaitu dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang merupakan produk undang-undang pendidikan
pertama pada awal abad ke-21. Undang-undang ini menjadi dasar hukum untuk membangun
pendidikan nasional dengan menerapkan prinsip demokrasi, desentralisasi, dan otonomi
pendidikan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus 1945, undang-undang tentang sistem pendidikan nasional telah mengalami beberapa
kali perubahan.

7

Pendidikan nasional, sebagai salah satu sektor pembangunan nasional dalam upaya
mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai
pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara
Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif
menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Makna manusia yang berkualitas, menurut
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu manusia
terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung
jawab. Oleh karena itu, pendidikan nasional harus berfungsi secara optimal sebagai wahana
utama dalam pembangunan bangsa dan karakter.
Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan
proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa
depan, yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan
negara Indonesia sepanjang jaman.
Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu
unsur yang bisa memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses
berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa
kurikulum, yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai
instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu
dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; dan (2) manusia terdidik yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri; dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi merupakan salah satu
8

strategi pembangunan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Landasan Penyempurnaan Kurikulum:
1. Landasan Yuridis
Secara konseptual, kurikulum adalah suatu respon pendidikan terhadap kebutuhan
masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda bangsanya. Secara pedagogis,
kurikulum adalah rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik
mengembangkan potensi dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai
dengan kemampuan dirinya untuk memiliki kualitas yang diinginkan masyarakat dan
bangsanya. Secara yuridis, kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang didasarkan kepada
dasar filosofis bangsa dan keputusan yuridis di bidang pendidikan. Landasan yuridis
kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, Undang-undang nomor 20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005,
dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2006 tentang Standar
Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006
tentang Standar Isi.
2. Landasan Filosofis
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (UU RI
nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Untuk mengembangkan dan
membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, pendidikan berfungsi
mengembangkan segenap potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab (UU RI nomor
9

20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Berdasarkan fungsi dan tujuan
pendidikan nasional maka pengembangan kurikulum haruslah berakar pada budaya bangsa,
kehidupan bangsa masa kini, dan kehidupan bangsa di masa mendatang. Pendidikan berakar
pada budaya bangsa. Proses pendidikan adalah suatu proses pengembangan potensi peserta
didik sehingga mereka mampu menjadi pewaris dan pengembang budaya bangsa. Melalui
pendidikan berbagai nilai dan keunggulan budaya di masa lampau diperkenalkan, dikaji, dan
dikembangkan menjadi budaya dirinya, masyarakat, dan bangsa yang sesuai dengan zaman
dimana peserta didik tersebut hidup dan mengembangkan diri. Kemampuan menjadi pewaris
dan pengembang budaya tersebut akan dimiliki peserta didik apabila pengetahuan,
kemampuan intelektual, sikap dan kebiasaan, keterampilan sosial memberikan dasar untuk
secara aktif mengembangkan dirinya sebagai individu, anggota masyarakat, warganegara, dan
anggota umat manusia. Pendidikan juga harus memberikan dasar bagi keberlanjutan
kehidupan bangsa dengan segala aspek kehidupan bangsa yang mencerminkan karakter
bangsa masa kini. Oleh karena itu, konten pendidikan yang mereka pelajari tidak semata
berupa prestasi besar bangsa di masa lalu tetapi juga hal-hal yang berkembang pada saat kini
dan akan berkelanjutan ke masa mendatang. Berbagai perkembangan baru dalam ilmu,
teknologi, budaya, ekonomi, sosial, politik yang dihadapi masyarakat, bangsa dan umat
manusia dikemas sebagai konten pendidikan. Konten pendidikan dari kehidupan bangsa masa
kini member landasan bagi pendidikan untuk selalu terkait dengan kehidupan masyarakat
dalam berbagai aspek kehidupan, kemampuan berpartisipasi dalam membangun kehidupan
bangsa yang lebih baik, dan memosisikan pendidikan yang tidak terlepas dari lingkungan
sosial, budaya, dan alam. Lagipula, konten pendidikan dari kehidupan bangsa masa kini akan
memberi makna yang lebih berarti bagi keunggulan budaya bangsa di masa lalu untuk
digunakan dan dikembangkan sebagai bagian dari kehidupan masa kini. Peserta didik yang
mengikuti pendidikan masa kini akan menggunakan apa yang diperolehnya dari pendidikan
10

ketika mereka telah menyelesaikan pendidikan 12 tahun dan berpartisipasi penuh sebagai
warganegara. Atas dasar pikiran itu maka konten pendidikan yang dikembangkan dari
warisan budaya dan kehidupan masa kini perlu diarahkan untuk memberi kemampuan bagi
peserta didik menggunakannya bagi kehidupan masa depan terutama masa dimana dia telah
menyelesaikan pendidikan formalnya. Dengan demikian sikap, keterampilan dan
pengetahuan yang menjadi konten pendidikan harus dapat digunakan untuk kehidupan paling
tidak satu sampai dua dekade dari sekarang. Artinya, konten pendidikan yang dirumuskan
dalam Standar Kompetensi Lulusan dan dikembangkan dalam kurikulum harus menjadi dasar
bagi peserta didik untuk dikembangkan dan disesuaikan dengan kehidupan mereka sebagai
pribadi, anggota masyarakat, dan warganegara yang produktif serta bertanggungjawab di
masa mendatang.
3. Landasan Teoritis
Kurikulum dikembangkan atas dasar teori pendidikan berdasarkan standar dan teori
pendidikan berbasis kompetensi. Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang
menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal hasil belajar yang berlaku untuk setiap
kurikulum. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan.
Standar Kompetensi Lulusan tersebut adalah kualitas minimal lulusan suatu jenjang atau
satuan pendidikan. Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan (PP nomor 19 tahun 2005). Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan
menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD, SMP, SMA, SMK.
Standar Kompetensi Lulusan satuan pendidikan berisikan 3 (tiga) komponen yaitu
kemampuan proses, konten, dan ruang lingkup penerapan komponen proses dan konten.
Komponen proses adalah kemampuan minimal untuk mengkaji dan memproses konten
menjadi kompetensi. Komponen konten adalah dimensi kemampuan yang menjadi sosok
manusia yang dihasilkan dari pendidikan. Komponen ruang lingkup adalah keluasan
11

lingkungan minimal dimana kompetensi tersebut digunakan, dan menunjukkan gradasi antara
satu satuan pendidikan dengan satuan pendidikan di atasnya serta jalur satuan pendidikan
khusus (SMK, SDLB, SMPLB, SMALB). Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk
bersikap, menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk melaksanakan suatu tugas di
sekolah, masyarakat, dan lingkungan dimana yang bersangkutan berinteraksi. Kurikulum
dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik untuk
mengembangkan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun
kemampuan tersebut. Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik
yang menggambarkan manusia dengan kualitas yang dinyatakan dalam SKL. Kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU nomor 20 tahun 2003; PP nomor 19 tahun 2005).
Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang dirancang baik dalam bentuk
dokumen, proses, maupun penilaian didasarkan pada pencapaian tujuan, konten dan bahan
pelajaran serta penyelenggaraan pembelajaran yang didasarkan pada Standar Kompetensi
Lulusan. Konten pendidikan dalam SKL dikembangkan dalam bentuk kurikulum satuan
pendidikan dan jenjang pendidikan sebagai suatu rencana tertulis (dokumen) dan kurikulum
sebagai proses (implementasi). Dalam dimensi sebagai rencana tertulis, kurikulum harus
mengembangkan SKL menjadi konten kurikulum yang berasal dari prestasi bangsa di masa
lalu, kehidupan bangsa masa kini, dan kehidupan bangsa di masa mendatang. Dalam dimensi
rencana tertulis, konten kurikulum tersebut dikemas dalam berbagai mata pelajaran sebagai
unit organisasi konten terkecil. Dalam setiap mata pelajaran terdapat konten spesifik yaitu
pengetahuan dan konten berbagi dengan mata pelajaran lain yaitu sikap dan keterampilan.
Secara langsung mata pelajaran menjadi sumber bahan ajar yang spesifik dan berbagi untuk
dikembangkan dalam dimensi proses suatu kurikulum. Kurikulum dalam dimensi proses
12

adalah realisasi ide dan rancangan kurikulum menjadi suatu proses pembelajaran. Guru
adalah tenaga kependidikan utama yang mengembangkan ide dan rancangan tersebut menjadi
proses pembelajaran. Pemahaman guru tentang kurikulum akan menentukan rancangan guru
(Rencana Program Pembelajaran/RPP) dan diterjemahkan ke dalam bentuk kegiatan
Pembelajaran. Peserta didik berhubungan langsung dengan apa yang dilakukan guru dalam
kegiatan pembelajaran dan menjadi pengalaman langsung peserta didik. Apa yang dialami
peserta didik akan menjadi hasil belajar pada dirinya dan menjadi hasil kurikulum. Oleh
karena itu proses pembelajaran harus memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didik
untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi hasil belajar yang sama atau lebih tinggi dari
yang dinyatakan dalam Standar Kompetensi Lulusan. Kurikulum berbasis kompetensi adalah
outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada
pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Demikian pula penilaian hasil belajar dan
hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Keberhasilan kurikulum diartikan
sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh
peserta didik.
Karakteristik kurikulum berbasis kompetensi adalah:
(1) Isi atau konten kurikulum adalah kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk
Kompetensi Inti (KI) mata pelajaran dan dirinci lebih lanjut ke dalam KompetensI
Dasar (KD).
(2) Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi
yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata
pelajaran
(3) Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk
suatu mata pelajaran di kelas tertentu.
13

(4) Penekanan kompetensi ranah sikap, keterampilan kognitif, keterampilanpsikomotorik,
dan pengetahuan untuk suatu satuan pendidikan dan mata pelajaran ditandai oleh
banyaknya KD suatu mata pelajaran. Untuk SD pengembangan sikap menjadi
kepedulian utama kurikulum.
(5) Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris kompetensi bukan konsep, generalisasi,
topik atau sesuatu yang berasal dari pendekatan disciplinarybased curriculum atau
content-based curriculum.
(6) Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling
memperkuat dan memperkaya antar mata pelajaran.
(7) Proses pembelajaran didasarkan pada upaya menguasai kompetensi pada tingkat yang
memuaskan dengan memperhatikan karakteristik konten kompetensi dimana
pengetahuan adalah konten yang bersifat tuntas (mastery). Keterampilan kognitif dan
psikomotorik adalah kemampuan penguasaan konten yang dapat dilatihkan.
Sedangkan sikap adalah kemampuan penguasaan konten yang lebih sulit
dikembangkan dan memerlukan proses pendidikan yang tidak langsung.
(8) Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi, bersifat formatif dan
hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan
kompetensi pada tingkat memuaskan (Kriteria Ketuntasan Minimal/KKM dapat
dijadikan tingkat memuaskan).





14

2.2 Pendidik dalam Pembelajaran
2.2.1 Pengertian dan Peran Pendidik
Menurut Undang-Undang Republik Indnoneia Pasal 1 Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional mengatakan bahwa Pendidik adalah tenaga kependidikan yang
berkualifikasi guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur,
fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam
menyelenggarakan pendidikan. Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas
merencanakan dan melakanakan prose pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada mayarakat,
terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 14 tahun 2005, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, mmbimbing, meengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan
peraturan peerundang-undangan.
Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan
sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta
menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Oleh karena tugas dan
kedudukan yang dibebankan pada guru, maka guru wajib memiliki kualifikasi akademik,
kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh
melalui pendidikan profesi.
15

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Kadarmanta
Baskara Aji, "Kurikulum eksekusinya di tangan guru. Karenanya guru berperan besar dalam
implementasinya,". Menurutnya, peran guru dalam mengaplikasikan kurikulum baru memang
dibutuhkan saat ini. Sebab kurikulum yang diterapkan pada peserta didik dibuat tidak hanya
oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) namun juga banyak pihak,
termasuk para guru. Maka dari itu, untuk mensukseskan penerapan kurikulum tersebut, guru
menjadi faktor yang paling dominan untuk dilaksanakan. Para pendidik itulah yang
mengetahui perkembangan ilmu dan perubahan materi kurikulum yang dibutuhkan.
Kurikulum tidak bisa stagnan dan harus terus disempurnakan sesuai dengan perkembangan
zaman.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 74 Tahun 2008, tentang guru pasal
1 ayat 1 menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan guru adalah pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kata profesional pada defenisi tentang guru
sebagaimana yang telah dijelaskan di atas menunjukkan bahwa seorang guru wajib memiliki
kompetensi profesional sesuai dengan peraturan menteri pendidikan nasional no 16 tahun
2007.
Selain kompetensi profesional, kalimat yang menyatakan bahwa tugas utama guru
dalam defenisi guru pada PP No 74 Tahun 2008 adalah mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik mengandung makna bahwa
guru dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogik sebagaimana yang telah diatur pada
permendiknas nomor 16 tahun 2007.

16

2.2.2 Peran Pendidik dalam kurikulum 2013
Menurut Murray Printr peran guru dalam kurikulum adalah sebagai berikut :
Pertama, sebagai implementers, guru berperan untuk mengaplikasikan kurikulum
yang sudah ada. Dalam melaksanakan perannya, guru hanya menerima berbagai kebijakan
perumus kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum guru dianggap sebagai tenaga teknis
yang hanya bertanggung jawab dalam mengimplementasikan berbagai ketentuan yang ada.
Akibatnya kurikulum bersifat seragam antar daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh
karena itu guru hanya sekadar pelaksana kurikulum, maka tingkat kreatifitas dan inovasi guru
dalam merekayasa pembelajaran sangat lemah. Guru tidak terpacu untuk melakukan berbagai
pembaruan. Mengajar dianggapnya bukan sebagai pekerjaan profesional, tetapi sebagai tugas
rutin atau tugas keseharian.
Kedua, peran guru sebagai adapters, lebih dari hanya sebagai pelaksana kurikulum,
akan tetapi juga sebagai penyelaras kurikulum dengan karakteristik dan kebutuhan siswa dan
kebutuhan daerah. Guru diberi kewenangan untuk menyesuaikan kurikulum yang sudah ada
dengan karakteristik sekolah dan kebutuhan lokal. Hal ini sangat tepat dengan kebijakan
KTSP dimana para perancang kurikulum hanya menentukan standat isi sebagai standar
minimal yang harus dicapai, bagaimana implementasinya, kapan waktu pelaksanaannya, dan
hal-hal teknis lainnya seluruhnya ditentukan oleh guru. Dengan demikian, peran guru sebagai
adapters lebih luas dibandingkan dengan peran guru sebagai implementers.
Ketiga, peran sebagai pengembang kurikulum, guru memiliki kewenganan dalam
mendesain sebuah kurikulum. Guru bukan saja dapat menentukan tujuan dan isi pelajaran
yang disampaikan, akan tetapi juga dapat menentukan strategi apa yang harus dikembangkan
serta bagaimana mengukur keberhasilannya. Sebagai pengembang kurikulum sepenuhnya
17

guru dapat menyusun kurikulum sesuai dengan karakteristik, visi dan misi sekolah, serta
sesuai dengan pengalaman belajar yang dibutuhkan siswa.
Keempat, adalah peran guru sebagai peneliti kurikulum (curriculum researcher).
Peran ini dilaksanakan sebagai bagian dari tugas profesional guru yang memiliki tanggung
jawab dalam meningkatkan kinerjanya sebagai guru. Dalam melaksanakan perannya sebagai
peneliti, guru memiliki tanggung jawab untuk menguji berbagai komponen kurikulum,
misalnya menguji bahan-bahan kurikulum, menguji efektifitas program, menguji strategi dan
model pembelajaran dan lain sebagainya termasuk mengumpulkan data tentang keberhasilan
siswa mencapai target kurikulum. Metode yang digunakan oleh guru dalam meneliti
kurikulum adalah PTK dan Lesson Study.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah metode penelitian yang berangkat dari masalah yang
dihadapi guru dalam implementasi kurikulum. Melalui PTK, guru berinisiatif melakukan
penelitian sekaligus melaksanakan tindakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Dengan demikian, dengan PTK bukan saja dapat menambah wawasan guru dalam
melaksanakan tugas profesionalnya, akan tetapi secara terus menerus guru dapat
meningkatkan kualitas kinerjanya.
Sedangkan lesson study adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru/
sekelompok guru yang bekerja sama dengan orang lain (dosen, guru mata pelajaran yang
sama / guru satu tingkat kelas yang sama, atau guru lainya), merancang kegiatan untuk
meningkatkan mutu belajar siswa dari pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru
dari perencanaan pembelajaran yang dirancang bersama/sendiri, kemudian di observasi oleh
teman guru yang lain dan setelah itu mereka melakukan refleksi bersama atas hasil
pengamatan yang baru saja dilakukan.
18

Adapun uraian mengenai kompetensi pedagogik sebagaimana yang telah diatur oleh
permendiknas nomor 16 tahun 2007 adalah sebagai berikut:
1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural,
emosional, dan intelektual
2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran / bidang
pengembangan yang diampu
4. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan
pembelajaran
6. Menfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimiliki
7. Berkomunikasi secara aktif, ematik, dan santun dengan peserta didik
8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran
10. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran
Adapun yang dimaksud dengan kompetensi profesional menurut permendiknas no 16
tahun 2007 adalah sebagai berikut :
1. Menguasai materi, struktur konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
19

2. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran / bidang
pengembangan yang diampu .
3. Mengambangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
4. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan
reflektif .
5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan
mengembangkan diri.












20


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Standar penilaian di SMK N 1 Tengaran
3.1.1 Penilaian Kompetensi Sikap
Sikap bermula dari perasaan yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam
merespon sesuatu/objek. Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: afektif, kognitif, dan
konatif/perilaku. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau
penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan
seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk
berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap.
Daftar deskripsi:
Sikap Deskripsi
Sikap spiritual adalah menghargai dan menghayati ajaran
agama yang dianut
Sikap sosial
1. Jujur adalah perilaku dapat dipercaya dalam
perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
2. Diiplin adalah tindakan yang menunjukkan perilaku
tertib dan patuh pada berbagai ketentuan
dan peraturan
3. Tanggungjawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya,
21

yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri
sendiri, masyarakat, lingkungan (alam,
sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang
Maha Esa
4. Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai
keberagaman latar belakang, pandangan,
dan keyakinan
5. Santun atau Sopan adalah bekerja bersama-sama dengan orang
lain untuk mencapai tujuan bersama dengan
saling berbagi tugas dan tolong menolong
secara ikhlas
6. Percaya diri adalah sikap baik dalam pergaulan baik
dalam berbahasa maupun bertingkah laku.
Norma kesantunan bersifat relatif, artinya
yang dianggap baik/santun pada tempat dan
waktu tertentu bisa berbeda pada tempat
dan waktu yang lain

Pada SMK N 1 Tengaran, kompetensi sikap spiritual mengacu pada KI-1:
Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya, sedangkan kompetensi sikap
sosial mengacu pada KI-2: Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung
jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

22


Tahapan Penilaian kompetensi sikap:
a) Pendidik menginformasikan tentang kompetensi sikap yang akan dinilai.
b) Pendidik mengembangkan instrumen penilaian
c) Pendidik memberi penjelasan tentang kriteria penilaian
d) Memeriksa dan mengolah hasil penilaian
e) Hasil penilaian diinformasikan kepada masing-masing peserta didik
Lanjutan Tahapan Penilaian:
a) Pembinaan dan pengembangan
b) Buat grafik perkembangannya dan nilai akhir
3.1.2 Penilaian Kompetensi Pengetahuan
Penilain potensi intelektual yang terdiri dari tahapan mengetahui, memahami,
menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi (Anderson & Krathwohl, 2001).
Seorang pendidik perlu melakukan penilaian untuk mengetahui pencapaian kompetensi
pengetahuan peserta didik. Penilaian terhadap pengetahuan peserta didik dapat dilakukan
melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan. Kegiatan penilaian terhadap pengetahuan tersebut
dapat juga digunakan sebagai pemetaan kesulitan belajar peserta didik dan perbaikan proses
pembelajaran. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013
tentang Standar Penilaian Pendidikan dalam lampirannya menuliskan bahwa untuk semua
mata pelajaran di SMP, Kompetensi Inti yang harus dimiliki oleh peserta didik pada ranah
pengetahuan adalah memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)
23

berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait
fenomena dan kejadian tampak mata.
a. Pengetahuan Faktual
Berisi konvensi (kesepakatan) dari elemen-elemen dasar berupa istilah atau simbol
(notasi) dalam rangka memperlancar pembicaraan dalam suatu bidang disiplin ilmu
atau mata pelajaran (Anderson, L. & Krathwohl, D. 2001). Pengetahuan faktual
meliputi aspek-aspek pengetahuan istilah, pengetahuan khusus dan elemen-elemennya
berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber
informasi, dan sebagainya.
b. Pengetahuan Konseptual
Memuat ide (gagasan) dalam suatu disiplin ilmu yang memungkinkan orang untuk
mengklasifikasikan sesuatu objek itu contoh atau bukan contoh, juga
mengelompokkan (mengkategorikan) berbagai objek. Pengetahuan konseptual
meliputi prinsip (kaidah), hukum, teorema, atau rumus yang saling berkaitan dan
terstruktur dengan baik (Anderson, L. & Krathwohl, D. 2001). Pengetahuan
konseptual meliputi pengetahuan klasifikasi dan kategori, pengetahuan dasar dan
umum, pengetahuan teori, model, dan struktur.
c. Pengetahuan Prosedural
Adalah pengetahuan tentang bagaimana urutan langkah-langkah dalam melakukan
sesuatu. Pengetahuan prosedural meliputi pengetahuan dari umum ke khusus dan
algoritma, pengetahuan metode dan teknik khusus dan pengetahuan kriteria untuk
menentukan penggunaan prosedur yang tepat (Anderson, L. & Krathwohl, D. 2001).


24

Teknik dan instrumen penilaian
Indikator pencapaian kompetensi pengetahuan dijabarkan dari Kompetensi Dasar (KD)
yang merupakan jabaran dari Kompetensi Inti (KI) di setiap mata pelajaran. Penyusunan
instrumen penilaian ditentukan oleh kata kerja operasional yang ada di dalam KD dan
indikator pencapaian kompetensi yang dirumuskan. Kata kerja operasional pada indikator
juga dapat digunakan untuk penentuan item tes (pertanyaan/soal) (Morrison, et.al., 2011):
Kompetensi Teknik Bentuk Instrumen
Pengetahuan
Tes Tulis PG, Isian, Jawaban singkat, menjodohkan, benar-
salah, uraian
Tes Lisan Daftar pertanyaan
Penugasan Lembar penugasan (PR, kliping)

3.1.3 Penilaian Kompetensi Keterampilan
Penilaian pencapaian kompetensi keterampilan merupakan penilaian yang dilakukan
terhadap peserta didik untuk menilai sejauh mana pencapaian SKL, KI, dan KD khusus
dalam dimensi keterampilan. SKL dimensi keterampilan untuk satuan pendidikan tingkat
SMP/MTs/SMPLB/Paket B adalah lulusan memiliki kualifikasi kemampuan pikir dan tindak
yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan yang dipelajari
disekolah dan sumber lain sejenis (Permendikbud 54 tahun 2013 tentang SKL). SKL ini
merupakan tagihan kompetensi minimal setelah peserta didik menempuh pendidikan selama
3 tahun atau lebih dan dinyatakan lulus.
25

Cakupan penilaian dimensi keterampilan meliputi keterampilan peserta didik yang
dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori. Keterampilan ini
meliputi: keterampilan mencoba, mengolah, menyaji, dan menalar. Dalam ranah konkret
keterampilan ini mencakup aktivitas menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan
membuat. Sedangkan dalam ranah abstrak, keterampilan ini mencakup aktivitas menulis,
membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang. Pada setiap akhir tahun pelajaran,
sesuai dengan Permendikbud Nomor 68 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum SMP-MTs, kompetensi inti keterampilan (KI-4), yang menjadi tagihan di masing-
masing kelas.
















26

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam lingkungan sekolah,
kegiatan belajar selain perlu didukung sarana dan prasarana yang memadai, tetapi juga peran
seorang pendidik mampu menyampaikan dan mengimplementasikan pengembangan
kurikulum 2013 sesuai dengan tugas guru yaitu:
1. Sebagai implementer kurikulum.
2. Sebagai adapter kurikulum.
3. Sebagai pengembang kurikulum.
4. Sebagai peneliti kurikulum.







27

DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Standar Nasional Pendidikan, 2007. Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang
Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.Jakarta
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 74 Tahun 2008