Anda di halaman 1dari 61

59

BAB IV
PEKERJAAN YANG DIAMATI

Proyek Apartment Nifarro yang berada di Kalibata direncanakan akan
dibangun dengan 22 lantai dan 2 lantai basement. Pekerjaan yang dikerjakan oleh
PT Hutama Karya sebagai kontraktor utama meliputi pekerjaan struktur pada
apartment tower B dan pekerjaan finishing pada Apartment tower A. Pekerjaan
struktur meliputi pekerjaan kolom, pekerjaan balok, pekerjaan pelat lantai,
pekerjaan shearwall, dan pekerjaan drop panel sedangkan untuk pekerjaan
finishing meliputi pekerjaan pemasangan hebel, plesteran, acian dan pekerjaan
finishing lainnya.
Pada awal kedatangan praktikan datang di lokasi praktek kerja lapangan,
apartment tower B sudah terlaksana hingga 4 lantai dan 2 basement. Selama
praktikan melaksanakan praktek kerja lapangan di Apartment Nifarro pekerjaan
yang diamati adalah sebagai berikut:
1. Pekerjaan Bekisting Pelat, Shear wall, Kolom
2. Pekerjaan Penulangan Pelat, Shear wall, Kolom
3. Pekerjaan Pengecoran
4. Pekerjaan Logistik
5. Pekerjaan Quantity Surveyor
6. Pekerjaan Quality Control

4.1 Pekerjaan Bekisting
Pekerjaan bekisting merupakan pekerjaan pembuatan cetakan beton segar
yang sesuai dengan cetakan dan desain rencana. Bekisting terdiri dari dua bagian
yakni acuan dan perancah yang bersifat sementara. Dikatakan sementara karena
pada akhirnya bekisting akan dibongkar apabila beton sudah dapat
mempertahankan bentuk dan posisinya.
Dalam pekerjaan bekisting terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni:

Bekisting harus dibuat dan dipasang sesuai dengan bentuk, ukuran dan
posisi seperti yang disyaratkan pada gambar kerja.
60

Bekisting harus cukup kuat untuk memikul tekanan atau beban yang
diakibatkan oleh beton basah, beban pelaksanaan dan beban-beban lainnya.
Bekisting harus cukup kaku (stabil) artinya harus dapat menghasilkan
bentuk yang tetap bagi struktur beton sesuai yang direncanakan.
Perencanaan bekisting harus didasarkan oleh kemudahan pemasangan,
kemudahan pembongkaran, kecepatan pemasangan dan biaya yang efisien.
Sambungan bekisting harus baik sehingga tidak rusak/bocor pada saat
pelaksanaan pengecoran dan juga tidak merusak beton.
Bahan bekisting harus terbuat dari bahan yang tidak menyerap air semen
dan juga tidak merusak beton.
Pemasangan bekisting harus benar-benar sesuai dengan gambar rencana
baik secara vertical maupun horizontal

Dalam praktek kerja lapangan di proyek Apartment Nifarro ini, praktikan
mengamati beberapa proses pelaksanaan bekisting, antara lain: bekisting pelat,
bekisting shear wall, dan bekisting kolom.

4.1.1 Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai
Dalam proyek Apartment Nifarro di Kalibata ini, ada hal unik dalam
proses pencetakan beton pelat lantai yaitu bekistingnya yang menggunakan
system Table Form. Table Form sendiri berbentuk seperti meja datar yang
ditopang oleh rangkanya dan mudah untuk dibongkar pasang sehingga
mempercepat proses pelaksanaannya.
Pelat lantai dari Apartment Nifarro adalah pelat lantai yang typical tiap
lantainya dimana mulai dari bentuk sampai penulangannya sama, hanya ada
beberapa lantai saja yang dibuat berbeda karena fungsinya yang berbeda pula.
Jadi bekisting pelat nya pun dapat di pakai secara beulang-ulang. Pekerjaan
struktur Apartment Nifarro dibagi menjadi 3 zone dan yang kami amati ini
adalah bekisting pelat lantai pada zone 1 nya. Jadi setelah bekisting zone 1
selesai maka pelaksanaan bekisting pada zone 2 baru bisa dilaksanakan.
Begitupun dengan zone 3 nya.
61

Adapun pekerja yang terlibat dalam membuat bekisting pelat Table Form
ini terdiri dari: tiga orang pekerja, satu operator Tower crane, dan satu orang
pelaksana.
Proses pembuatan bekisting pelat dibagi menjadi 2 tahap, yaitu proses
perakitan di tempat fabrikasi bekisting dan proses perakitan di lokasi
pengecorannya.
Untuk tahap pertama, baja horizontal berupa profil lip channel dipasang
double sebagai alas lalu rangka vertical dan diagonalnya dipasang diantara
profil lip channel tersebut kemudian diskrup hingga rangka vertical dan
diagonalnya kaku tidak goyang lagi.

Gambar 4.1.1 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto: Baja Horizontal Profil Lip Channel Bawah

Gambar 4.1.2 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto: Baja Diagonal Profil Hollow

62


Gambar 4.1.3 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto:Skrup Penyambung Baja Horizontal dan Diagonal

Setelah itu bagian atas rangka diagonal dan vertikalnya pun diapit kembali
dengan double lip chanel berikutnya.

Gambar 4.1.4 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto: Baja Horizontal Profil Lip Channel Atas

Setelah terakit dua rangka yang sudah terbentuk, dua rangka tersebut di
rangkai menjadi seperti kaki meja dengan diberi perkuatan crossbrace dengan
lebar 2 meter. Selanjutnya setelah rangka Table Form selesai, dipasang lah
profil lip channel searah lebar rangka Table Form nya sebagai dudukan
multiply yang nanti dipasang.
63


Gambar 4.1.4 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto: Rangka Table Form

Jarak antar profil lip channel adalah 30 cm. Agar profil lip chanel tetap
pada posisinya, profil lip channel pun di jepit menggunakan semacam tie rod
yang dipasang menjepit vertical profil. Sampai pada proses ini tahap pertama
selesai.


Gambar 4.1.5 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto: Jarak Antar Profil

Setelah tahap pertama selesai, tahap kedua dapat dilaksanakan. Table
Form yang sudah dirakit dibawah kemudian dibawa keatas menuju tempat
lokasi pembekistingan dengan diangkat menggunakan tower crane.
30cm
64


Gambar 4.1.6 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto: Mobilisasi Table Form oleh Tower crane

Sampai di lokasi, dua orang pekerja lalu memasang multiply diatas
profil lip channel dan di atur hingga multiply datar. Setelah multiply
ditempatkan diatas rangka Table Form, multiply nya pun dibaut dengan
menggunakan bor listrik.


Gambar 4.1.7 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto: Pemasangan Multiply pada Rangka Table Form

Selesai multiply terpasang, Table Form pun diangkat kembali
menggunakan Tower crane agar staff penahan rangka Table Form dapat
dipasang. Staff ini berfungsi untuk memberikan ketinggian pada bekisting pelat
65

nya adapun dibawah staff diberi jackbase untuk mengatur ketinggian dan
kedataran Table Formnya.

Gambar 4.1.8 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto: Pemasangan Staff


Gambar 4.1.9 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto: Table Form Sudah Terpasang Staff, Jackbase dan Cross

Ada yang unik untuk bekisting pelat lantai Apartment Nifarro ini,
karena penggunaan bekisting Table Form ini tidak keseluruhan, sebagian masih
digunakan bekisting konvensional dengan menggunakan scaffolding sebagai
rangkanya dan balok-balok kayu sebagai dudukan multiplynya.
66


Gambar 4.1.10 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto: Bekisting Scaffolding

Setelah semua bekisting lantai terpasang, maka pelaksana
pembekistingan mulai mengecek bekisting yang telah terpasang. Bila
ditemukan ada yang aneh atau tidak wajar maka pelaksana pun menyuruh
pekerja untuk memperbaiki bekisting tersebut. Sambil pelaksana bekisting
memeriksa bekisting yang terpasang. Pelaksanaan penulangan pelat lantai pun
dilakukan.

Gambar 4.1.11 Pelaksanaan Bekisting Pelat Lantai
Foto: Pengecekan Bekisting oleh Supervisor

4.1.2 Pekerjaan Bekisting Shear wall
Dalam pekerjaan struktur di proyek Apartment Nifarro termasuk
didalamnya pekerjaan dinding geser atau shear wall yang dikerjakan.
Pelaksanaan pekerjaan shear wall dikerjakan untuk dinding core tangga,
dinding area core tangga, dan dinding core lift. Jadi tidak semua dinding
dikerjakan sebagai dinding geser (shear wall).
67

Pekerjaan bekisting shear wall dilaksanakan setelah pekerjaan penulangan
telah selesai dilaksanakan. Bekisting shear wall merupakan bekisting yang
terbentuk atas panel-panel praktis yang hanya tinggal ditopang sekur lalu
bagian bawah dan atas sekur tersebut di pasang jackbase untuk mengatur
kevertikalan dari bekisting shear wall tersebut. Pekerja yang terlibat dalam
pekerjaan bekisting terdiri atas 1 pelaksana bekisting, 1 operator TC dan 7
pekerja,
Pemasangan bekisting shear wall tergolong sederhana, panel bekisting
yang sudah ada diangkat menuju lokasi pembekistingan menggunakan Tower
crane.

Gambar 4.1.12 Pelaksanaan Bekisting shear wall
Foto: Mobilisasi Bekisting shear wall

Operator TC yang berkoordinasi dengan pekerja dibawah menggunakan
HT kemudian memposisikan bekisting tersebut pada posisinya.

Gambar 4.113. Pelaksanaan Bekisting shear wall
Foto: Pemasangan Bekisting shear wall
68

Sesampainya di lokasi, bekisting yang sudah berada pada posisinya
kemudian dipasang tie rod apabila di kedua sisi dinding sudah terpasang
bekisting. Selesai dipasang tie rod, bekisting yang terpasang ditopang
menggunakan sekur pada bagian atas dan bagian bawah bekisting agar
bekisting tetap kokoh pada posisinya.

Gambar 4.1.14 Pelaksanaan Bekisting Shear wall
Foto: Pemasangan Sekur dan Tie Rod

Bila pada shear wall terdapat opening-an maka opening-an tersebut
dipasang bekisting tambahan agar pada saat pengecoran beton tidak keluar dari
opening-an tersebut. Bekisting tambahan tersebut hanya terbuat dari triplek dan
kaso yang terpasang menjadi panel sederhana, lalu untuk menopang bekisting
tambahan ini digunakan kaso.

Gambar 4.1.15 Pelaksanaan Bekisting Shear wall
Foto: Pemasangan Bekisting Untuk Opening
69

Setelah semua bagian dinding dipasang bekisting, maka surveyor
mengechek kembali apakah bekisting sudah terpasang secara vertikal atau tidak
dengan menggunakan theodolite.


Gambar 4.1.16 Pelaksanaan Bekisting Shear wall
Foto: Pengecekan Oleh Surveyor

Apabila bekisting sudah selesai, dan telah mendapatkan persetujuan dari
pelaksana maka bekisting sudah siap untuk dilaksanakan pengecoran.

4.1.3 Pekerjaan Bekisting Kolom
Pada proyek Apartment Nifarro ini sitem bekisting yang digunakan untuk
kolom adalah system MESA. System MESA adalah bekisting dengan
menggunakan material baja sehingga bekisting dapat dipakai berulang kali
dengan masa pakai yang cukup lama. Dengan menggunakan system MESA,
proses pelaksanaan bekisiting kolom dapat dengan mudah dipasang dan
dibongkar kembali.
Pelaksanaan bekisting kolom dimulai dengan merakit terlebih dahulu
bekisting di lokasi fabrikasi bekisting. Untuk satu buah kolom dibutuhkan 2
buah sisi bekisting berbentuk siku yang kemudian dirangkai sesuai dengan
dimensi kolom yang dibutuhkan. Namun bekisting yang dirangkai di sini
masih belum kuat dalam menyatukan 2 sisi bekisting kolom karena pada saat
penempatan kolom di tulangan kolom, bekisting masih harus dibuka guna
mempermudah proses memasukkan bekisting ke tulangan kolom.
70


Gambar 4.1.17 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Bekisting Kolom yang Telah Terakit

Setelah bekisting selesai dirangkai, bekisting-bekisting tersebut di
tempatkan di lokasi yang dapat dijangkau oleh tower crane agar pada saat
dibutuhkan nanti bekisting kolom dapat langsung diangkat menggunakan tower
crane menju lokasi pengecoran.


Gambar 4.1.18 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Penempatan Bekisting Kolom

71


Gambar 4.1.19 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Penempatan Bekisting Kolom

Saat proses pemasangan bekisting akan dilaksanakan yang tentu proses
penulangan kolom juga sudah selesai dikerjakan, maka bekisting kemudian
diangkut menuju lokasi pemasangan menggunakan tower crane. Operator
tower crane pun berkoordinasi dengan pekerja yang berada dibawah
menggunakan HT guna memudahkan pelaksanaan pengangkutan.
Di lokasi pemasangan bekisting, pekerja memberikan marking berupa
garis hitam sebagai petunjuk batas bekisting yang nantinya akan dipasang.
Pemberian marking tersebut berfungsi untuk mencegah kesalahan penempatan
bekisting sehingga kolom tetap lurus dengan kolom lain dan selimut beton
rencana dapat dicapai.
Bekisting kolom pun diangkat menuju lokasi pemasangan dan ditempat
kan tepat diatas tulangan kolom yang siap dipasang bekisting.Kemudian
dengan koordinasi pelaksana bekisting dengan operator tower crane bekisting
diturunkan perlahan sehingga bekisting masuk sebagian tulangan.
Setelah bekisting sudah masuk tulangan sebagian maka bekisting
dilonggarkan pengikatnya agar bekisting lebih mudah untuk masuk kedalam
tulangan.
72


Gambar 4.1.20 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Pemasangan Bekisting Kolom


Gambar 4.1.21 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Pemasangan Bekisting Kolom

Bersama-sama 4 orang pekerja menarik bekisting hingga bekisting
menyentuh permukaan lantai lalu menempatkan bekisting pada marking yang
sudah dibuat sebelumnya.
73


Gambar 4.1.22 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Pemasangan Bekisting Kolom


Gambar 4.1.23 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Pemasangan Bekisting Kolom

Seusai penempatan bekisting kolom pada tempatnya selesai, maka pekerja
kemudian memasang tierod sepanjang tinggi bekisting kolom.
74


Gambar 4.1.24 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Memasang Tie Rod Pada Bekisitng Kolom


Gambar 4.1.25 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Bekisting Kolom yang Sudah Terpasang Tie Rod

Lalu untuk memperkokoh kedudukan bekisting maka dipasanglah sekur
vertical sebanyak 4 buah pada tiap sisi bekisting. Pekerja men-setting sekur
vertical hingga didapatkan bekisting kolom yang kokoh dan tegak.
75


Gambar 4.1.26 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Memasang Sekur pada Bekisting Kolom


Gambar 4.1.27 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Beberapa Bekisting Kolom yang Telah Terpasang

Sebagai pekerjaan terakhir dipasanglah oleh pekerja unting-unting guna
memeriksa kembali ketegakkan bekisting kolom sebelum bekisting kolom
diperiksa kembali oleh pelaksana bekisting.
76


Gambar 4.1.28 Pelaksanaan Bekisting Kolom
Foto: Memasang Unting-Unting Pada Bekisting

4.2 Pekerjaan Penulangan
Dalam pekerjaan struktur yang meliputi pekerjaan pelat, kolom, balok, dan
lain-lain utamanya menggunakan konstruksi beton. Namun sebagaimana diketahui
bahwa beton kuat untuk menahan gaya tekan namun sangat lemah terhadap gaya
tarik. Untuk mengatasi masalah tersebut diberilah tulangan yang dimaksudkan
agar beton kuat menahan gaya tarik sehingga lahirlah beton bertulang. Dalam
proses pembuatan beton bertulang maka yang pertama dilaksanakan adalah
pekerjaan penulangan/pembesian.
Pekerjaan penulangan/pembesian adalah pekerjaan merangkai besi-besi
tulangan yang dirangkai sedemikian rupa sehingga tulangan tersebut mampu
menahan gaya tarik yang nanti akan terjadi pada struktur beton tersebut. Bentuk
tulangan yang dirangkai pun mengikuti bentuk konstruksi beton yang
direncanakan. Selain gaya tarik, tulangan pada beton juga berfungsi untuk
menahan gaya geser dan momen torsi yang timbul akibat beban-beban yang
bekerja pada konstruksi beton tersebut. Oleh karena itu perencanaan dan
pelaksanaan penulangan/pembesian harus dilakukan dengan spesifikasi teknis dan
gambar kerja, RKS dan Aanvulling yang telah direncanakan oleh perencana
struktur dalam hal:


77

Ukuran diameter baja tulangan
Kualitas baja tulangan
Kuantitas baja tulangan
Penempatan/pemasangan baja tulangan

Dalam praktek kerja lapangan di proyek Apartment Nifarro ini, praktikan
mengamati beberapa proses pelaksanaan penulangan, antara lain: penulangan
pelat, penulangan shear wall, dan penulangan kolom.

4.2.1 Pekerjaan Penulangan Pelat Lantai
Pada pelaksanaan penulangan pelat dilakukan setelah semua zone selesai
di bekisting. Sama dengan pengerjaan bekisting nya, pelaksanaan penulangan
pelat juga dibagi menjadi 3 zone. Saat zone 1 mulai perakitan tulangan, maka
zone 2 dan 3 dapat di gunakan sebagai tempat sementara untuk menaruh
tulangan.
Pelaksanaan penulangan pelat dimulai dari fabrikasi tulangan di tempat
fabrikasi besi yang berada di bawah. Proses fabrikasi besi dikerjakan oleh 2
orang tukang besi. Tulangan dipotong-potong sesuai kebutuhan yang
diperlukan kemudian di bentuk dengan mesin bar bending.

Gambar 4.2.1 Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai
Foto: Pemotongan dan Pembentukan Tulangan Pelat Lantai



78

Selain itu proses fabrikasi juga dapat dilakukan di lokasi penulangan
berlangsung.

Gambar 4.2.2 Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai
Foto: Pemotongan dan Pembentukan Tulangan Pelat Lantai

Setelah proses fabrikasi tulangan selesai dikerjakan, maka operator TC melalui
tower crane mengangkut tulangan-tulangan tersebut untuk dibawa ke lokasi
pelaksanaan penulangan . Koordinasi antara operator TC dengan orang yang
berada di bawah pun harus terjaga agar tidak terjadi hal yang membahayakan
nantinya. Setelah sampai pada lokasi pelaksanaan, tulangan diturunkan dan
didrop sementara di zone yang belum dilaksanakan penulangannya. Oleh 9
orang pekerja dan 1 pelaksana, tulangan-tulangan tersebut lalu dirakit sesuai
dengan shop drawing detail penulangan pelat.


Gambar 4.2.3 Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai
Foto: Perakitan Tulangan Berdasarkan Shop drawing
79

Tulangan pokok bagian bawah adalah tulangan yang paling pertama
dirakit, lalu di bawah tulangan diberi beton tahu agat ketebalan selimut beton
terjaga.

Gambar 4.2.4 Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai
Foto: Pemasangan Beton Tahu


Gambar 4.2.5 Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai
Foto: Beton Tahu yang Terpasang

Dalam proses perakitan tulangan, yang dilakukan adalah mempetakan
dahulu tulangan tersebut pada posisinya masing-masing baru setelah itu diikat
dengan kawat bendrat.

80


Gambar 4.2.6 Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai
Foto: Merakit Tulangan Pelat Lantai

Setelah tulangan pokok bawah terpasang dipasanglah tulangan ceker
ayam untuk menopang tulangan pokok bagian atas.


Gambar 4.2.7 Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai
Foto: Tulangan ceker Ayam yang Terpasang

Selanjutnya tulangan pokok atas pun dipasang. Selesai semua tulangan
terpasang, pelaksana pembesian mengecek tulangan terpasang dengan gambar
shop drawing. Beliau mengecek lagi kelengkapan tulangan yang terpasang.
Setelah pengecekan dari pelaksana selesai, pengecekan oleh QC ( Quality
81

Control ) PT Hutama Karya dilakukan, lalu pengecekan terakhir dilakukan oleh
MK proyek Apartment Nifarro PT Artefak Arkindo.


Gambar 4.2.8 Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai
Foto: Pengecekan Tulangan Terpasang

Dalam pengecekan oleh MK ini, pelaksana pembesian pun ikut
mengecek kembali bersama, pengecekan ini lebih detail dari pada pengecekan
sebelumnya. Bila ditemukan ketidaksesuaian dengan Shop drawing yang ada ,
maka MK pun mengkroscek kembali dengan pelaksana apakah ketidaksesuaian
tersebut masih dapat ditoleransi atau tidak.
Selesai dari pengecekan dari MK Artefak Arkindo ini, maka MK baru
mengizinkan untuk dilakukan pengecoran atau tidak. Bila sudah mendapatkan
izin pengecoran, maka lokasi penulangan tadi siap untuk dilaksanakan
pengecoran.

82


Gambar 4.2.9 Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai
Foto: Tulangan Pelat Lantai yang Terpasang


Gambar 4.2.10 Pelaksanaan Penulangan Pelat Lantai
Foto: Tulangan Pelat Lantai yang Terpasang

4.2.2 Pekerjaan Penulangan Shear Wall
Pekerjaan penulangan shear wall dibagi menjadi dua tahap yakni,
fabrikasi tulangan dan perakitan tulangan.
Tahap pertama, tulangan shear wall di kerjakan oleh 2 tukang besi dan 3
pekerja. Pekerjaan fabrikasi dikerjakan di lantai dasar dengan mengerjakan
pemotongan besi dan pembendingan besi. Pekerjaan dimulai dengan
memotong-motong besi tulangan 12 meter menjadi beberapa bagian sesuai
panjang yang dibutuhkan dengan menggunakan mesin bar cutter.
83


Gambar 4.2.11 Pelaksanaan Penulangan Shear Wall
Foto: Proses Pemotongan Baja Tulangan

Selesai tulangan dipotong menjadi ukuran yang dibutuhkan, maka
tulangan tersebut mulai di bending dengan mesin bar bending satu persatu
sampai tulangan yang dibutuhkan selesai.

Gambar 4.2. 12 Pelaksanaan Penulangan Shear Wall
Foto: Proses Bending Baja Tulangan

Setelah proses bending selesai, tulangan kemudian diangkut menggunakan
tower crane menuju lantai 1 untuk selanjutnya di rakit.
Sesampainya di lantai 1 oleh 3 orang pekerja tulangan tersebut kemudian
dirakit sesuai dengan shop drawing yang ada. Tulangan utama digantungkan
dengan penggantung lalu kemudian sengkang dimasukkan kedalam tulangan
utama tersebut lalu diikat dengan bendrat.
84


Gambar 4.2.13 Pelaksanaan Penulangan Shear Wall
Foto: Proses Perakitan Tulangan Shear Wall

Setelah tulangan utama shear wall selesai dikerjakan maka dipasanglah
tulangan horizontal dan vertikal yang berada di antara tulangan utama shear
wall tadi.

Gambar 4.2.14 Pelaksanaan Penulangan Shear Wall
Foto: Proses Perakitan Tulangan Shear Wall

Selesai dengan perakitan tulangan shear wall , operator TC menggunakan
tower crane kembali membawa tulangan shear wall menuju lokasi penulangan
yang berada di lantai atas.
85


Gambar 4.2.15 Pelaksanaan Penulangan Shear Wall
Foto: Tulangan Shear Wall yang Telah Terakit

Di lantai atas sudah menunggu 4 orang pekerja yang akan segera
menyambung tulangan shear wall dengan tulangan shear wall lantai bawah
yang sudah di over lapping sepanjang 40D.

Gambar 4.2.16 Pelaksanaan Penulangan Shear Wwall
Foto: Penyambungan Over Lapping Tulangan Shear Wall

Tulangan shear wall yang baru pun di posisikan tepat di atas tulangan
overlapping tadi kemudian diturunkan perlahan dengan koordinasi melalui HT
antara pekerja dengan operator TC.
86


Gambar 4.2.17 Pelaksanaan Penulangan Shear Wall
Foto: Penyambungan Over Lapping Tulangan Shear Wall

Setelah proses penyambungan tulangan selesai, maka tulangan spandrel
pada opening-an pun di pasang. Dua orang pekerja yang melaksanakan
pekerjaan ini.

Gambar 4.2.18 Pelaksanaan Penulangan Shear Wall
Foto: Pemasangan Tulangan Spandrell

Pemasangan spandrel dimulai dengan memasang tulangan utama atas
kedalam bagian tulangan shear wall , lalu sengkang dimasukkan lalu di beri
jarak antar sengkangnya. Sengkang yang sudah dipetakan jarak-jaraknya
kemudian diikat dengan bendrat.
87


Gambar 4.2.19 Pelaksanaan Penulangan Shear Wall
Foto: Pemasangan Tulangan Spandrell

Selesai semua tulangan shear wall terpasang, pekerja memasang beton
tahu untuk menjaga ketebalan selimut beton.

Gambar 4.2.20 Pelaksanaan Penulangan Shear Wall
Foto: Beton Tahu yang Terpasang

Selesai semua tulangan terpasang, pelaksana pembesian mengecek
tulangan terpasang dengan gambar shop drawing. Beliau mengecek lagi
kelengkapan tulangan yang terpasang. Setelah pengecekan dari pelaksana
selesai, pengecekan oleh QC ( Quality Control ) PT Hutama Karya dilakukan,
lalu pengecekan terakhir dilakukan oleh MK proyek Apartment Nifarro PT
Artefak Arkindo.
88


Gambar 4.2.21 Pelaksanaan Penulangan Shear Wall
Foto: Pengecheckan tulangan oleh MK

Dalam pengecekan oleh MK ini, pelaksana pembesian pun ikut
mengecek kembali bersama, pengecekan ini lebih detail dari pada pengecekan
sebelumnya. Bila ditemukan ketidaksesuaian dengan shop drawing yang ada ,
maka MK pun mengkroscek kembali dengan pelaksana apakah ketidaksesuaian
tersebut masih dapat ditoleransi atau tidak.

4.2.3 Pekerjaan Penulangan Kolom
Pekerjaan penulangan kolom dibagi menjadi dua tahap yakni, fabrikasi
tulangan dan perakitan tulangan.
Tahap pertama, tulangan kolom di kerjakan oleh 2 tukang besi dan 3
pekerja. Pekerjaan fabrikasi dikerjakan di lantai dasar dengan mengerjakan
pemotongan besi dan pembendingan besi. Pekerjaan dimulai dengan
memotong-motong besi tulangan 12 meter menjadi beberapa bagian sesuai
panjang yang dibutuhkan dengan menggunakan mesin bar cutter.
89


Gambar 4.2.22 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Proses Pemotongan Baja Tulangan

Selesai tulangan dipotong menjadi ukuran yang dibutuhkan, maka
tulangan tersebut mulai di bending dengan mesin bar bending satu persatu
sampai tulangan yang dibutuhkan selesai.


Gambar 4.2.23 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Proses Bending Baja Tulangan
90


Gambar 4.2.24 Pelaksanaan Penulanga Kolom
Foto: Tulangan Sengkang Hasil Bending-an

Setelah proses bending selesai, tulangan kemudian diangkut menggunakan
tower crane menuju lantai 1 untuk selanjutnya di rakit.
Sesampainya di lantai 1 oleh 3 orang pekerja tulangan tersebut kemudian
dirakit sesuai dengan shop drawing yang ada.

Gambar 4.2.25 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Pekerja Merakit Tulangan Kolom

91

Tulangan utama digantungkan dengan penggantung lalu kemudian
sengkang dimasukkan kedalam tulangan utama tersebut lalu diikat dengan
bendrat.


Gambar 4.2.26 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Perakitan Tulangan Kolom

Gambar 4.2.27 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Memasang Tulangan dengan Penggantung

Setelah tulangan utama kolom selesai dikerjakan maka dipasanglah
tulangan peminggang sebagai pengaku/penguat kolom karena dimensi
tingginya kolom yang terlalu besar ( h/b terlalu besar ).
92


Gambar 4.2.28 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Memasang Tulangan Peminggang Kolom

Selesai dengan perakitan tulangan kolom , operator TC menggunakan
tower crane kembali membawa tulangan kolom menuju lokasi penyambungan
tulangan yang berada di lantai atas untuk di drop sementara.


Gambar 4.2.29 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Men-drop Tulangan Kolom
Baru setelah di drop didekat lokasi pemasangan tulangan oleh pekerja
posisi tulangan kolom kembali disetting agar siap untuk dipasang.
93


Gambar 4.2.30 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Mengangkat Tulangan Kolom

Di lantai atas sudah menunggu 4 orang pekerja yang akan segera
menyambung tulangan kolom dengan tulangan kolom lantai bawah yang sudah
di over lapping sepanjang 40D.

Gambar 4.2.31 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Over Lapping Tulangan Kolom

94


Gambar 4.2.32 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Penyambungan Over Lapping Tulangan Kolom

Tulangan Kolom yang baru pun di posisikan tepat di atas tulangan
overlapping tadi kemudian diturunkan perlahan dengan koordinasi melalui HT
antara pekerja dengan operator TC.

Gambar 4.2.33 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Penyambungan Over Lapping Tulangan Kolom
95


Gambar 4.2.34 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Penyambungan Over Lapping Tulangan Kolom

Setelah proses penyambungan tulangan selesai, 2 orang pekerja kembali
memastikan apakah tulangan sengkang yang terpasang pada kolom sudah
lengakap terpasang atau belum. Bila belum, maka pekerja tersebut memasang
tulangan yang kurang dengan persedian tulangan yang telah disediakan.


Gambar 4.2.35 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Memasang Tulangan yang Belum Lengkap

96

Selesai semua tulangan terpasang, pelaksana pembesian mengecek
tulangan terpasang dengan gambar shop drawing. Beliau mengecek lagi
kelengkapan tulangan yang terpasang. Setelah pengecekan dari pelaksana
selesai, pengecekan oleh QC ( Quality Control ) PT Hutama Karya dilakukan,
lalu pengecekan terakhir dilakukan oleh MK proyek Apartment Nifarro PT
Artefak Arkindo.

Gambar 4.2.36 Pelaksanaan Penulangan Kolom
Foto: Pengecheckan tulangan oleh MK

Dalam pengecekan oleh MK ini, pelaksana pembesian pun ikut
mengecek kembali bersama, pengecekan ini lebih detail dari pada pengecekan
sebelumnya. Bila ditemukan ketidaksesuaian dengan Shop drawing yang ada ,
maka MK pun mengkroscek kembali dengan pelaksana apakah ketidaksesuaian
tersebut masih dapat ditoleransi atau tidak.

4.3 Pekerjaan Pengecoran
Pada proyek pembangunan Apartment Nifarro ini, sesuai dengan
perencanaannya material yang digunakan untuk pekerjaan struktur yaitu beton
bertulang. Adapun struktur tersebut di kelompokan menjadi dua tahap,yakni
struktur vertical dan struktur horizontal. Yang termasuk kedalam struktur vertical
ini antara lain, yaitu kolom, shear wall, core wall, dan core lift. Dan yang
termasuk dalam struktur horizontal, yaitu balok, plat lantai, dan drop panel.
Pada proses pelaksanaan pengecoran ini haruslah sangat diperhatikan
setiap prosedur-prosedurnya. Hal tersebut sangatlah penting mengingat struktur
97

dan finishingnya berpengaruh dari hasil pengecoran tersebut. Dalam hal ini
pelaksana pengecoran sangat berperan penting dalam proses ini.
Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan sebelum proses pengecoran :
Persiapan lapangan
Sebelum dilaksanakan pengecoran, haruslah mempersiapkan zone
atau bagian struktur yang akan di cor. Pada proyek Apartment
Nifarro ini, pada struktur plat lantai nya di bagi menjadi zone A,
zone B, dan Zone C.
Pemasangan Pembesian/Penulangan
Setelah lapangan atau daerah zone yang sudah siap, maka tahapan
berikutnya yaitu pemasangan tulangan-tulangan sesuai
perencanaan. Pada pemasangan besi pun perlu diperhatikan
kelurusan dan kepresisian nya terutama pada struktur vertical
(kolom, shear wall, dan core).


Gambar 4.3.1 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Pemasangan Penulangan

Perakitan Bekisting
Setelah besi tulangan sudah terpasang semua sesuai dengan yang di
rencanakan oleh konsultan perencana, tahapan selanjutnya yaitu
pemasangan bekisting. Bekisting untuk plat lantai pada proyek
Apartment Nifarro ini yaitu Table Form, dan untuk bekisting
98

struktur vertical nya menggunakan Papan Panel. Pada pemasangan
bekisting pun perlu diperhatikan kelurusan dan kepresisian nya
terutama pada struktur vertical (kolom, shear wall, dan core). \


Gambar 4.3.2 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Perakitan Bekisting

Check List oleh MK pengawas PT Artefak Arkindo.
Setelah tulangan terpasang sesuai gambar rencana, tim MK dari PT
Artefak Arkindo mengecek keseluruhan pekerjaan yang ada
dilapangan terutama masalah pembesian, karena sangat riskan jika
terjadi pengurangan pembesian.


Gambar 4.3.3 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Pengecheckan tulangan oleh MK

99

Pembersihan kotoran sisa-sisa pembesian dan pembekistingan
Pembersihan sisa-sisa dan kotoran yang terdapat pada lokasi yang
akan di cor menggunakan compressor. Guna dari kompresor
tersebut ialah untuk menghempaskan kotoran-kotoran kecil, seperti
punting rokok,serpihan-serpihan kayu,kertas, dll.


Gambar 4.3.4 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Pembersihan Lapangan dengan Blower
Proses pengecoran struktur secara umum
Pada proyek ini, pengecoran dilakukan in cast atau cor ditempat.
Beton yang digunakan untuk proyek Apartment Nifarro ialah beton
ready mix yang di order dari PT. Adhimix Precast Indonesia.
Spesifikasi beton yang dipesan yaitu sesuai dari perencanaan
kekuatan bahan.
Spesifikasibetonl yang dipesan :
Nilai slum yang direncanakan yaitu 16 -1 +3 serta kekuatan yang
direncanakan .
Adapun kebutuhan-kebutuhan pada proses pengecoran struktur
Tower B pada Apartment Nifarro ini ialah sbb :






100

Bahan :
Beton segar yag telah dipesan (ready mix)

Gambar 4.3.4 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Mobil Ready Mix
Alat :
Truck mixer
Bucket
Tower crane
Vibrator
101


Tenaga kerja :
4 - 6 orang pekerja
1 orang pengawas lapangan


Gambar 4.3.6 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Pekerja yang Melaksanakan Pengecoran


Gambar 4.3.5 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Alat-Alat Pengecoran
102

Langkah Kerja :

Langkah awal yang pertama dilakukan dalam pelaksanaan
pengecoran adalah menguji ready mix yang dipesan apakah sudah
sesuai dengan spesifikasi yang direncanakan. Pengujian yang
dilakukan adalah dengan melakukan uji slump sehingga didapatkan
nilai slump yang ditentukan.


Gambar 4.3.7 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Pengujian Slump

Selain uji slump, pengujian yang harus dilakukan adalah
pengujian kuat tekan di laoratorium uji kuat tekan beton.
Pengujian ini berfungsi untuk mengetahui apakah Fc yang
didapatkan sesuai dengan Fc yang disyaratkan. Benda uji untuk
pengujian kuat tekan beton adalah benda uji silinder dengan
diameter 15 cm dan tinggi 30 cm.


Gambar 4.3.8 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Pembuatan Benda Uji
103

Selesai beton segar dibuatkan benda uji, maka beton ready
mix sudah siap untuk pengecoran. Ready mix dituangkan ke
dalam bucket yang sudah dikaitkan pada tower crane.


Gambar 4.3.9 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Memasukkan Beton ke Dalam Bucket

Setelah bucket terisi penuh oleh beton, maka bucket
kemudian diangkut ke lokasi pengecoran berlangsung.

Gambar 4.3.10 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Mengangkat Bucket dengan Tower Crane

Sesampainya di lokasi pengecoran, 1 pekerja lalu naik ke
atas bucket sebagai operator bucket yang bertugas mengalirkan
beton ready mix dari outlet bucket. Kemudian betonpun
dituangkan secara perlahan sehingga tidak terjadi penumpukan
beton.
104



Gambar 4.3.11 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Menuangkan Ready Mix

Saat mengalirkan beton dari bucket, beton tidak dituangkan
keseluruhan namun sebagian untuk mencegah penumpukan
beton yang telah disebutkan tadi
Setelah itu, beton yang telah dituangkan kemudian
digetarkan dengan vibrator agar mortar tersebut merata dan
tidak menimbulkan rongga pada kolom.

Gambar 4.3.12 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Menggetarkan Hasil Pengecoran dengan Vibrator

Lanjutkan penuangan dan penggetaran dengan vibrator
sampai didapat volume kolom yang diinginkan.

105


Gambar 4.3.13 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Menuangkan Ready Mix

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengecoran
karena alat vibrator bersifat bergetar maka hal yang perlu
diperhatikan adalah pada saat pemadatan dilakukan, alat vibrator tersebut
tidak boleh terlalu lama mengenai besi tulangan yg berada dalam beton,
karena bisa terjadi pergeseran besi tulangan.
Pada proyek ini, pelepasan bekisting untuk struktur vertical yakni
setelah 24 jam setelah pengecoran dan untuk struktur horizontal bisa
dilepas setelah umur 10 hari setelah pengecoran
Proses curing (perawatan beton) dilakukan dengan cara disiram air
dengan menggunakan selang dan dilakukan sebanyak 3 kali sehari pada
cuaca normal. Namun jika cuaca hujan proes curing hanya dilakukan 1 kali
sehari.

Gambar 4.3.14 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Prose Perawatan Hasil Pengecoran (Curing)
106

Permasalahan-permasalahan yang sering terjadi pada saat
pengecoran antara lain :
1. Sering terlambatnya armada ready mix akibat kemacetan
2. Cuaca buruk yang terjadi sehingga proses pengecoran pun harus
ditunda atau dihentikan jika saat berlangsungnnya pengecoran
3. Beton keropos akibat pemadatan tidak merata
4. Kekurangan beton sehingga ada daerah yang tidak di cor


Gambar 4.3.15 Pelaksanaan Pengecoran
Foto: Hasil Pengecoran yang Tidak Rampung
4.4 Pekerjaan Logistik
Logistic adalah bagian yang menangani semua pengadaan barang yang
digunakan dalam proyek, disebut juga administrasi gudang. Bagian tersebut juga
menangani semua barang yang ada di gudang, baik itu barang masuk dari supplier
maupu barang keluar yang langsung digunakan di proyek.
Tanggung jawab dari logistic antara lain:
Melakukan seleksi terhadap calon rekanan.
Menerima dan meneliti permintaan barang.
Meminta penawaran dari rekanan dengan mencantumkan persyaratan mutu
dan K3 yang harus dipenuhi.
Mencatat data penawaran dari rekanan.
Mengusulkan rekanan yang akan dipakai termasuk peninjauan aspek K3-
nya
107

Melaksanakan pengadaan barang sesuai dengan batasan wewenang yang
ditentukan.
Membuat Daftar Rekanan Terpakai atas rekanan yang dipakai di proyek
Melakukan penilaian terhadap kinerja rekanan.

Tugas dari logistic adalah sebagai berikut:
Melakukan pembelian barang langsug/alat sesuai dengan tingkatan proyek
dengan mengambil pemasok yang sudah termasuk dalam Daftar Pemasok
Terseleksi (DPT) dan atas persetujuan kepala cabang
Menyediakan tempat yang layak dan memlihara dengan baik barang
langsung maupun barang/alat yang dipasok pelanggan.
Memberi label keterangan pada setiap barang yang disimpannya untuk
menghindari kesalahan penggunaan.
Mengelola penyediaan bahan/material dalam jumlah yang cukup/memadai
pada waktu diperlukan dengan biaya murah, sesuai persyaratan mutu serta
tidak melampaui Rencana Anggaran Pengeluaran (RAP)
Membuat/menyusun laporan yang telah ditetapkan perusahaan dan
laporan lain yang sehubungan dengan tugasnya.
Membuat berita acara penerimaan/penolakan material setelah
pengontrolan kualitas oleh Quality Control dan kuantitas
Menyusun laporan-laporan yang dikeluarkan perusahaan
Mencari/mensurvei daa jumlah bahan-bahan beserta harganya dari supplier
perorangan
Berkoordinasi dengan bagian teknik dan pelaksana dalam pengiriman
material
Mengamankan aktiva perusahaan (bahan/material persediaan dan
menginventarisir)
Memelihara bukti-bukti kerja



108

Kerangka proses logistic/administrasi gudang proyek gedung
Apartment Nifarro Tower B dalam rangka pengadaan barang dari supplier
sampai dengan penggunaan barang di lapangan ditunjukkan pada diagram
di bawah ini:

Gambar 4.4.1 Kerangka Proses Logistik



> Permintaan material dari pelaksana dengan pekerjaan terkait
> SPB, Persetujuan Cost Control dan disetuji Project Manager
> Resume Penerimaan
> Resume Pengeluaran
GUDANG
> Inventarisasi material
> Buku Harian Gudang - Penerimaan
> Buku Harian Gudang - Pengeluaran
> Stock material
LAPORAN
> Proses PO disetujui Project Manager
> Pelaksanaan Order Material
KEDATANGAN MATERIAL
> Cek material petugas guadng & QC ( Quality Control )
> Standar Mutu, Kualitas, Jumlah
> Barang diterima petugas gudang
SPB ( Surat Permintaan Barang )
PO ( Porchace Order )
> Penawaran Harga
109

4.5 Pekerjaan Quantity Surveyor
Quantity Surveyor pada perusahaan kontraktor bertugas menghitung
volume dan kebutuhan material bangunan yang digunakan untuk melaksanakan
pekerjaan proyek pembangunan baik itu gedung maupun infrastruktur.
Adapun tugas dan tanggug jawab Quantity Surveyor, antara lain:
Melaksanakan evaluasi, perhitungan ulang volume pekerjaan dan harga
satuan pekerjaan.
Melaksanakan Value Engineering dalam upaya mendapatkan hasil lebih
Memberikan / membuat data untuk proses perolehan dan negosiasi barang
dan jasa ( Sub Kontraktor dan Suplier)
Memeriksa dan mengevaluasi opnamepekerjaan mandor maupun Sub
Kontraktor
Menyajikan data-data volume pekerjaan kebutuhan material dan
sebagainya secara lengkap dan sistematis.
Menghitung dan memproses pekerjaan tambahan dan kurang.

4.5.1 Menghitung kebutuhan tulangan lantai 9
Pada Proyek Apartment Nifarro ini, Kami ditugaskan oleh pembimbing di
proyek yang menjabat sebagai Quantity Surveyor. Untuk menghitung
kebutuhan tulangan kolom, balok , shear wall, spandrel, dan plat lantai yang
akan digunakan pada pekerjaan struktur Tower B Apartemen Nifarro lantai 9.
Adapun cara-cara yang diajarkan untuk menghitung kebutuhan kolom tersebut
adalah :
1. Dengan menggunakan cara manual yaitu melihat gambar tulangan satu-
persatu membacanya dengan teliti. Lalu gambar tulangan berdasarkan
gambar kerja yang ada, selanjutnya banyaknya sesuaikan dengan
kebutuhan proyek, kemudian masukan data tersebut ke form bestat, cara
ini sangat teliti karena harus memasukan datanya satu persatu, contoh
perhitungan terlampir di lampiran .
2. Perhitungan kebutuhan tulangan dengan menggunakan software, pada
perhitungan dengan software ada dua software yang digunakan yaitu
autolist dan microsoft excel.
110

Autolips
Autolips adalah pengaplikasian penggunaan micsoft visual basic
untuk autocad. Sehingga auto cad bisa menggunakannya untuk
menghitung volume, luasan dan keliling. Caranya adalah masukan
program autolist tadi dengan mengketik kata perintah CUI, klik kanan
lalu pilih upload, pilih program autolisp tadi seperti, area ( untuk
menghitung panjang, keliling, dan luasan), word( untuk menghitung
banyaknya kata), dan autolisp lainya yang masing-masing memliki
fungsi yang berbeda.
Setelah mengupload sesuai kebutuhan kita gunakan poliline dan
meniban gambar yang kita buat dengan poliline stelah itu pilih zone,
enter lalu pilih area untuk menghitung luasan dan length untuk
menghitung keliling atau panjang
Microsoft excel
Dengan memasukan rumus yang dibuat sebelumya, sesuai
kebutuhan. Pada pengoprasian di microsoft excel kita harus berhati-hati
memasukan rumus dan data, karena akan berakibat fatal jika salah
memasukan rumusnya dan mengakibatkan kesalahan pada semua
hitungan kebutuhan tulangan.
Agar lebih jelas menghitung dengan Microsoft excel, contoh
perhitungan terlampir pada bab lampiran.
Metode Rasio
Sebenernya menghitung kebutuhan tulangan dengan cara ini
kurang efektif karena ini hanya membandingkan dengan kebutuhan
tulangan pada lantai sebelumnya. Yaitu dengan cara berat besi total
pada lantai berikutnya dibagi dengan volume beton total pada lantai
yang dihitung. Sebaikya metode ini digunakan pada saat darurat atau
hanya untuk perkiraan awal saja. Perhitungan dengan metode ini tingkat
ketelitiannya hanya 20% saja. Jadi lebih baik dalam menghitung
kebutuhan tulangan yaitu dengan metode yang manual yaitu dengan
form bestat,namun cara manual ini terbilang cukup lama kalau tidak
111

terbiasa. Maka dari itu haruslah kita pintar-pintar menggabungkan cara
manual dan cara rumus dengan software.

4.5.2 Menghitung kebutuhan volume pekerjaan dinding pada ruang
owner dan ruang marketing
Dalam menghitung volume pekerjaan,cara yang digunakan tidaklah jauh
berbeda dengan menghitung kebutuhan tulangan. Ada dua cara yang dapat
dilakukan untuk menghitung volume dinding ruang owner dan ruang
marketing, yaitu dengan cara manual dan dengan menggunakan software.
1. Dengan cara manual, pertama buatlah tabel, lihat gambar yang mau kita
hitung volumenya, lalu hitung lah volume gambar tersebut. telitilah dalam
membaca gambar, kemudian masukan data yang kita hitung ke tabel yang
telah kita buat. Jangan lupa tandai gambar yang sudah kita hitung agar kita
tidak menghitungnya kembali
2. Dengan menggunakan Microsoft excel dan autolisp,untuk autolisp caranya
sama saja seperti menghitung kebutuhan tulangan diatas. Hanya saja
terletak terletak perbedaan dari pilihan gambar yang akan dicari
volumenya, dan pembacaan gambarnya, selebihnya sama. Sedangkan
untuk microsoft excel terletak dari pembuatan rumus yang kita buat
selebihnya sama.contoh perhitungan terlampir pada bab lampiran.
4.6 Pekerjaan Quality Control
Bagian ini sangat penting dalam suatu proyek dimana kualitasdari
pekerjaan tergantungdari Quality Control. Quality Control menjamin kualitas
pekerjaan yang baik sesuai dengan spesifikasi, gambar kerja dan standar
perusahaan. Dalam tugasnya, Quality Control dibantu oleh asisten
pelaksana/surveyor.

Tanggung jawab dari Quality Control adalah sebagai berikut:
Membuat request untuk pemeriksaan dan/atau pengetesan barang bersama
Konsultan/Owner untuk dapat diberikan status.
112

Membuat request kepada konsultan untuk dilakukan pemeriksaan dan/atau
pengetesan terhadap pelaksanaan pekerjaan tersebut untuk dapat diberikan
status.
Membuat surat instruksi kepada pelaksana/Sub kontraktor/Supplier apabila
terdapat penyimpangan pelaksana/pengadaan yang akan mempengaruhi
mutu pekerjaan.
Menyampaikan instruksi lisan atau tertulis yang dikeluarkan oleh Direksi
Proyek ke Project Manager dengan tembusan Site Manager.
Memelihara bukti-bukti kerja.

Tugas dari Quality Control adalahsebagai berikut:
Membantu Project Manager untuk menjamin kualitas pekerjaan yang baik,
sesuai dengan spesifikasi gambar kerja dan standar perusahaan.
Membuat laporan-laporan tertulis berupa chek list foto-foto pekerjaan
ataupun deviation report lainnya yang menyangkut Quality Control kepada
Project Manager dan Project Director.
Melakukan monitoring terhadap kualitas pekerjaan untuk disesuaikan
dengan spesifikasi pekerjaan, baik itu untuk struktur maupun finishingnya.
Pekerjaan check list bertujuan untuk memeriksa dan mengetahui suatu
prestasi dari pekerjaan yang dilakukan. Umumnya pekerjaan check list ini wajib
hukumnya pada pelaksanaan konstruksi, karena dengan adanya check list ini,
pelaksanaan pekerjaan struktur maupun pekerjaan arsitektur dapat terpantau
dengan baik. Pekerjaan check list merupakan bagian dari pekerjaan Quality
Control, dimana pada QC biasanya terdapat tim check list yang bertugas
melakukan check list.

4.6.1 Melakukan check list pekerjaan arsitektur lantai 18 Apartment
Nifarro Tower A.
Pak Anthony selaku Quality Control (arsitek) menugaskan kami untuk
membantu pekerjaanya yaitu checklist kelengkapan dan prestasi pekerjaan
finishing ruangan kamar di lantai 18 pada tower A Apartment Nifarro.
Tahapan-tahapan yang dilakukan untuk melakukan pekerjaan check list yaitu
113

pertama-tama kita harus menyiapkan data-data berupa table dan gambar denah
yang akan menjadi acuan daerah atau ruangan yang akan ditinjau dengan cara
check list. Setelah data-data lengkap, kami langsung menuju lokasi ruangan
kamar Apartment Nifarro Tower A lantai 18 dengan kamar no 01, 03, 05, 06,
07, dan 08. Disana kami dibimbing langsung oleh pak Anthony, beliau
mengajarkan cara melakukan check list. Ruangan pertama yang kami amati
yaitu kamar No 01, kamar ini ber tipe 1 dengan ukuran yang kecil. Kamar tipe
1 hanya ada 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 ruangan utama, dan dapur. Untuk
melakukan check list pada kamar ini, kami melihat data-data yang berisikan
item untuk diperiksa pekerjaanya. Cukup banyak item-item yang diamati,
diantaranya : semua dinding ruangan, plafond, shadow line, lantai, kaca, pintu,
WC, dll. Pengecekan setiap item haruslah dilakukan secara teliti dan diamati
secara berulang-ulang agar hasil nya dapat menjadi laporan kepada QC
Manager untuk bisa mengetahui prestasi pekerjaan dan mengetahui apakah ada
material-material yang mungkin akan di order kembali. Hasil check list juga
haruslah memiliki bukti berupa data foto, karena akan dipertanggung jawabkan
hasilnya dirapat internal dan rapat bersama owner. Setelah ruangan demi
ruangan kami amati dan kami lakukan check list, kami pun memberikan hasil
nya kepada pak Anthony.
Pada proses check list, kami menemukan sedikit kendala-kendala. Diantara
kendala yang kami amati ialah ruangan cukup gelap sehingga ada item yang
sangat sulit untuk dianalisa kekurangannya. Namun hal itu tidakalah
berdampak besar buat kami, karena dengan menggunakan cahaya dari
handphone cukup untuk menerangi. Masalah selanjutnya ialah ada nya item
yang sulit kami analisa karena tidak tahunya nama item tersebut, kemudian
karena tingkat kerusakan item itu berberda, sulit bagi kami menentukan apakah
item tersebut perlu diperbaiki atau kah item tersebut perlu diganti. Karena hal
tersebut kami sering sekali bertanya kembali ke pak Anthony yang
mengakibatkan pekerjaan kami sedikit memerlukan waktu yang lama. Data
check list dapat dilihat pada bab lampiran.


114

4.7 Studi Kasus
Dalam suatu proyek konstruksi pasti ada saja hal yang tidak sama dengan
teori yang dipelajari oleh praktikan selama menimba ilmu di kegiatan akademik
kampus. Dengan adanya praktek kerja lapangan ini, praktikan mendapatkan
beberapa studi kasus yang sekiranya dapat menjadi pengetahuan baru guna
menambah wawasan praktikan sendiri. Beberapa studi kasus yang dimaksud
antara lain:
1. Pelat Lantai yang Melendut

Gambar 4.7.1 Studi Kasus
Foto: Pelat yang Melendut


Gambar 4.7.2 Studi Kasus
Foto: Pelat yang Melendut

Sebab:
Penyebab pelat lantai yang melendut karena terjadinya
penumpukan beton segar saat proses pengecoran dilaksanakan, lalu
115

bekisting pelat yang tidak kuat dalam menahan penumpukan beton segar
tersebut akhitnya melendut. Hal ini dikarenakan terlalu kuat pompa beton
yang digunakan untuk pengecoran sehingga pekerja yang melaksanakan
tidak berdaya dalam mengatur pompa tersebut. Kurangnya pekerja juga
menyebabkan peristiwa tersebut dapat terjadi, bila saat itu terdapat cukup
pekerja maka masalah tersebut mungkin dapat diatasi.
Solusi:
Pelat yang melendut tersebut tidak dapat lagi diperbaiki. Salah satu
cara yang dapat dilakukan adalh dengan membobok pelat tersebut. Namun
dengan mempertimbangkan segi biaya, tenaga dan waktu maka pelat yang
melendut dibiarkan sepeti tersebut karena nantinya akan tertutup juga oleh
pemasangan plafond.

2. Pengecoran yang Tidak Rampung


Gambar 4.7.3 Studi Kasus
Foto: Pengecoran yang Tidak Rampung

Gambar 4.7.4 Studi Kasus
Foto: Pengecoran yang Tidak Rampung
116


Sebab:
Beberapa jam setelah proses pengecoran pelat lantai zone 2
dilaksanakan, kami mencoba meninjau langsung ke lapangan guna melihat
hasil pengecoran. Di salah satu sisi kami melihat pengecoran yang tidak
selesai. Penyebabnya adalah kurangnya ready mix yang dipesan.
Kesalahan terjadi pada saat penghitungan kebutuhan volume beton zone
tersebut oleh bagian logistic.
Solusi:
Yang harus dilakukan adalah dengan mengecor kembali bagian
yang belum rampung tersebut bersamaan dengan pelaksanaan pengecoran
zone lainnya. Hal ini guna meminimalisir biaya yang dikeluarkaan terkait
dengan biaya mobilisasi beton ready mix.
Dampak yang ditimbulkan dari penambalan pengecoran tersebut
adalah kemungkinan besar terjadinya kebocoran di daerah tersebut
sehingga harus di proofing.

3. Kolom Komposit yang Tidak Wajar


Gambar 4.7.5 Studi Kasus
Foto: Over Lapping Kolom Komposit
Over lapping
117



Gambar 4.7.5 Studi Kasus
Foto: Bagian Kolom Komposit yang Aneh

Di lantai atap tower A Apartment Nifarro terdapat pekerjaan
arsitektur yaitu finishing atap Crown. Atap Crown adalah atap yang
terangkai atas rangka-ranga baja lalu dilapisi oleh ACP (Alumunium
Composite Panel) yang kemudian ditopang oleh kolom baja komposit.
Namun tampak luar salah satu kolom baja komposit tersebut ada yang
tidak wajar. Yaitu antara beton bawah dan atas ada overlapping sehingga
terlihat seperti patah.
Menurut analisa kami, beton 1 merupakan selimut untuk kolom
baja sedangkan beton 2 sebagai dudukan dari base plate dari kolom baja
tersebut.
Sebab:
Penyebab dari adanya overlapping tersebut dikarenakan oleh
proses pengecoran yang tidak bersamaan pada beton 1 dan beton 2. Beton
2 dilaksanakan terlebih dahulu untuk proses pengerjaan base plate. Setelah
base plate dan kolom baja terpasang, maka kolom baja tersebut di selimuti
oleh beton 1 untuk mencegah terjadinya korosi. Namun pada saat
1
2
118

Pekerjaan Struktur
1. Bore Pile
2. Tie Beam
3. Shear Wall
4. Balok
5. Kolom
6. Drop Panel
7. Pelat Lantai
8. Core Lift
Pekerjaan Arsitektur
1. Pekerjaan Lantai
2. Pekerjaan Dinding
3. Pekerjaan Kusen
4. Pekerjaan Plafond
5. Pekerjaan Pengecatan
6. Pekerjaan Railing
7. Pekerjaan Composite Panel
8. Pekerjaan Lanscape
9. Pekerjaan Utilitas
Pekerjaan Mep
1. Pekerjaan Listrik (Electrical)
2. Pekerjaan Elektronik (Electronic)
3. Pekerjaan Lift (Elevator)
4. Pekerjaan Genset
5. Pekerjaan Pemipaan Dan Sanitari
6. Pekerjaan Fire Fighting
7. Pekerjaan Tata Udara
pemasangan bekisting beton 1 terjadi kesalahan sehingga tidak sejajar
dengan beton 2 yang sudah ada sebelumnya.

Solusi:
Untuk menambah nilai estesi dari kolom tersebut maka pada saat
proses finishing bagian yang over lapping diberi plesteran sehingga tidak
terdapat lagi overlapping tersebut.

4.8 Lingkup Pekerjaan
Dalam proyek pembangunan Apartment Nifarro Kalibata pekerjaan-
pekerjaan yang dilaksanakan meliputi:





















119

4.9 Tugas Yang Diberikan
Selama melaksanakan praktek kerja lapangan di Apartment Nifarro
Kalibata, praktikan diberikan tugas-tugas seperti di bawah ini:
1. Menghitung volume pos satpam.
2. Menghitung volume pembesian balok lantai basement.
3. Menghitung volume pekerjaan Ruang Owner & Marketing Office .
4. Merekapitulasi Site Instruction arsitek dan struktur Apartment Nifarro.
5. Merekapitulasi gambar struktur map T6 dan T10.
6. Menghitung volume pembesian lantai 9 Apartment Nifarro tower B.
7. Menghitung volume pembesian lantai 11 Apartment Nifarro tower B.
8. Quality Control arsitektur unit kamar lantai 18 Apartment Nifarro tower A.
9. dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sudah terlampir dalam kegiatan harian.